Anda di halaman 1dari 35

BAB II

KONSEP DASAR

A. Pengertian
Carsinoma adalah pertumbuhan baru yang ganas terdiri dari sel-sel
epitel yang cenderung mempengaruhi jaringan sekitar dan menimbulkan
metastasis. (Kamus Saku Kedokteran Dorland : 1998).
Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut
rahim sebagai akibat adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan
merusak jaringan normal di sekitarnya. (FKUI : 2000).
Kanker leher rahim adalah kanker yang terjadi pada serviks uterus atau
pada leher rahim, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan
pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim dengan senggama atau
vagina. (Megadhana : 2004).
Kanker serviks adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam leher rahim
atau serviks (bagian terendah dari rahim

yang menempel pada puncak

vagina). (dr.Azis www.medicastore.com : 2008).

Gb 1. Ca Serviks

B. Anatomi Fisiologi
Anatomi alat kandungan dibedakan menjadi 2 yaitu genetalia eksterna
dan genetalia interna.
1. Genetalia Eksterna

Gb. 2 Anatomi Genetalia Eksterna

a. Monsveneris
Bagian yang menonjol meliputi bagian simfisis yang terdiri dari
jaringan lemak, daerah ini ditutupi bulu pada masa pubertas.
b. Vulva
Adalah tempat bermuara system urogenital. Di sebelah luar vulva
dilingkari oleh labio mayora (bibir besar) yang ke belakang menjadi
satu dan membentuk kommisura posterior dan perineum. Di bawah
kulitnya terdapat jaringan lemak seperti yang ada di monsveneris.
c. Labio mayora
Labio mayora (bibir besar) adalah dua lipatan besar yang membatasi
vulva, terdiri atas kulit, jaringan ikat, lemak dan kelenjar sebasea. Saat
pubertas tumbuh rambut di monsveneris dan pada sisi lateral.
d. Labio minora
Labio minora (bibir kecil) adalah dua lipatan kecil diantara labio
mayora, dengan banyak kelenjar sebasea. Celah diantara labio minora
adalah vestibulum.
e. Vestibulum
Vestibulum merupakan rongga yang berada diantara bibir kecil (labio
minora), muka belakang dibatasi oleh klitoris dan perineum, dalam
vestibulum terdapat muara-muara dari liang senggama (introetus
vagina), uretra, kelenjar bartholini dan kelenjar skene kiri dan kanan.

f. Himen (Selaput Dara)


Lapisan tipis yang menutupi sebagian besar dari liang senggama,
ditengahnya berlubang supaya kotoran menstruasi dapat mengalir
keluar, letaknya mulut vagina pada bagian ini, bentuknya berbedabeda ada yang seperti bulan sabit, konsistensi ada yang kaku & yang
lunak, lubangnya ada yang seujung jari, ada yang dapat dilalui satu
jari.
g. Perineum
Terbentuk dari korpus perineum, titik temu otot-otot dasar panggul,
yang ditutupi oleh kulit perineum.

2. Genetalia Interna

Gb. 3 Anatomi Genetalia Interna

a. Vagina
Tabung yang dilapisi membran dari jenis epitelium bergaris, khusus
dialiri banyak pembuluh darah dan serabut saraf. Panjangnya dari
vestibulum sampai uterus 7 cm. Merupakan penghubung antara
introetus vagina dan uterus. Dinding depan liang senggama (vagina) 9
cm, lebih pendek dari dinding belakang. Pada puncak vagina sebelah
dalam berlipat-lipat disebut rugae.
b. Uterus
Organ yang tebal, berotot berbentuk buah pir, terletak didalam pelvis
antara rectum dibelakang dan kandung kemih di depan, ototnya
disebut miometrium. Uterus terapung didalam pelvis dengan jaringan
ikat dan ligament. Panjang uterus 7 cm, lebar 5 cm, tebal 2 cm.
Berat 50 gr, dan berat 30-60 gr.
Uterus terdiri dari:
1) Fundus uteri (dasar rahim)
Bagian uterus yang terletak antara pangkal saluran telur. Pada
pemeriksaan

kehamilan,

perabaan

fundus

uteri

dapat

memperkirakan usia kehamilan.


2) Korpus uteri
Bagian uterus yang terbesar pada kehamilan, bagian ini berfungsi
sebagai tempat janin berkembang. Rongga yang terdapat pada
korpus uteri disebut kavum uteri atau rongga rahim.

10

3) Serviks uteri
Ujung serviks yang menuju puncak vagina disebut porsio,
hubungan antara kavum uteri dan kanalis servikalis disebut ostium
uteri internum.
Lapisan-lapisan uterus, meliputi:
1) Endometrium (epitel, kelenjar, jaringan dan pembuluh darah).
Merupakan lapisan dalam uterus yang mempunyai arti penting
dalam siklus haid. Seorang wanita pada masa reproduksi, pada
kehamilan

endometrium

akan

menebal,

pembuluh

darah

bertambah banyak hal ini diperlukan untuk memberi makanan


pada janin.
2) Miometrium (lapisan otot polos).
Tersusun sedemikian rupa sehingga dapat mendorong isinya
keluar pada waktu persalinan. Sesudah plasenta lahir akan
mengalami pengecilan sampai ke ukuran normal sebelumnya.
3) Lapisan Serosa (Peritonium viseral). Terdiri atas ligamentum yang
menguatkan uterus, yaitu :
a) Ligamentum kardinale kiri dan kanan, mencegah supaya
uterus tidak turun.
b) Ligamentum sakro uterinum kiri dan kanan, menahan uterus
supaya tidak banyak bergerak.
c) Ligamentum rotundum kiri dan kanan, menahan uterus agar
tetap dalam keadaan antofleksi.

11

d) Ligamentum latum kiri dan kanan, ligamentum yang meliputi


tuba.
e) Ligamentum infundibulo pelvikum, ligamen yang menahan
tuba fallopi.
c. Ovarium
Merupakan kelenjar berbentuk kenari, terletak kiri dan kanan uterus
dibawah tuba uterina dan terikat disebelah belakang oleh ligamentum
latum uterus.
Ovarium mempunyai 3 fungsi:
1) Memproduksi ovum
2) Memproduksi hormon estrogen
3) Memproduksi progesterone
d. Tuba Falopi
Tuba fallopi dilapisi oleh epitel bersilia yang tersusun dalam banyak
lipatan sehingga memperlambat perjalanan ovum ke dalam uterus.
Sebagian sel tuba mensekresikan cairan serosa yang memberikan
nutrisi pada ovum.
Tuba falopi disebut juga saluran telur terdapat 2 saluran telur, kiri dan
kanan. Panjang kira-kira 12 cm tetapi tidak berjalan lurus. Pada ujungujungnya terdapat fimbria, untuk memeluk ovum saat ovulasi agar
masuk ke dalam tuba.
(Tambayong : 2002)

12

C. Etiologi
1. Endogen (berasal dari dalam tubuh)
a. Hormon penunda kehamilan
Sering disebut estrogen, salah satu faktor yang biasa mempermudah
terjadi kanker adalah wanita yang terpapar dengan hormon estrogen.
Jadi semakin lama wanita terpapar estrogen semakin tinggi resiko
terjadi kanker.
b. Faktor genetik
Didalam keluarga yang pernah menderita kanker serviks ataupun jenis
kanker yang lain lebih berpengaruh untuk terjadi kanker pada anggota
keluarga yang lain.
2. Eksogen (berasal dari luar tubuh)
a. Karsinoma kimiawi
Contohnya : Alkohol, obat (pil KB)
b. Fisika
Contohnya: Radiasi ionisasi, sinar X
c. Makanan yang mengandung bahan pengawet, formalin, termasuk
bahan karsinogenik
Contohnya : bakso, makanan kaleng, dsb.
3. Gaya Hidup
a. Kehidupan seksual dengan ganti-ganti pasangan
Dengan seringnya berganti-ganti pasangan, virus herpes tipe 2 yang
merupakan salah satu faktor penyebab kanker serviks dapat ditularkan

13

melalui hubungan kelamin, jadi kehidupan dengan ganti-ganti


pasangan sangat berisiko terjadi kanker serviks.
b. Tidak Sirkumsisi
Hubungan seksual dengan pria belum sunat beresiko terkena kanker
serviks. Hal ini disebabkan smegma pada laki-laki yang belum disunat
akan menumpuk yang mengakibatkan tempat kuman bersarang.
c. Kawin / senggama pada usia kurang dari 17 tahun
Uterus perempuan usia kurang 20 tahun belum sempurna, sehingga
sperma yang pertama kali mengenai leher rahim pada usia kurang dari
20 tahun mempunyai pengaruh yang cukup besar untuk terjadi kanker
rahim.
d. Persalinan yang berulang / banyak anak
Semakin sering melahirkan, semakin sering terjadi disstres, tekanan,
menimbulkan luka pada organ reproduksi terutama uterus,serviks, dan
vagina. Hal tersebut yang menyebabkan karsinoma serviks.
4. Penyakit
Peradangan Ca.Serviks yang menahun dan hygiene yang kurang baik.
Contoh peradangan disebabkan oleh: Streptococcus, Neisseria Gonorhoe,
Virus Herpes Simpleks tipe 2, Human Pappiloma Virus (HPV)
5. Lingkungan
Adanya pencemaran lingkungan yang mengandung karsinoma.

14

D. Patofisiologi
Faktor penyebab radang pada serviks adalah infeksi dari virus yang
diakibatkan karena hygiene yang kurang baik, hubungan seksual pada usia
dini, dengan frekuensi sering. Dapat juga dikarenakan jumlah kelahiran yang
banyak.
Karsinoma serviks invasif dapat menginvasi atau meluas ke dinding
vagina, dan ke dalam jaringan paraservikal. Dan invasi ke kelenjar getah
bening dan pembuluh darah menyebabkan metastasis ke bagian tubuh yang
jauh.
Tidak ada tanda atau gejala yang spesifik untuk kanker serviks. Namun
pada karsinoma invasif dapat menyebabkan sekret vagina atau perdarahan
vagina. Walaupun perdarahan adalah gejala yang signifikan, perdarahan tidak
selalu muncul saat awal, sehingga kanker dapat sudah dalam keadaan lanjut
pada saat diagnosis. Jenis perdarahan vagina yang paling sering adalah
pascacoitus atau bercak antara menstruasi.
Bersamaan dengan tumbuhnya tumor, gejala yang muncul kemudian
adalah nyeri punggung bagian bawah atau nyeri tungkai akibat penekanan
saraf lumbosakralis, frekuensi berkemih yang sering dan mendesak, hematuria
dan perdarahan rectum.
(Sylvia A: 2005)

15

E. Klasifikasi Ca.Serviks menurut FIGO, 1978.


(Wiknjosastro : 1999).
Tingkat

Kriteria

Karsinoma In Situ (KIS) atau karsinoma intra epitel : membran


basalis masih untuh

Proses terbatas pada serviks walaupun ada perluasan ke korpus


uteri

Ia

Karsinoma mikro invasif : bila membran basalis sudah rusak


dan sel tumor sudah memasuki stroma tetapi sel tumor tidak
terdapat dalam pembuluh limfa atau pembuluh darah

Ib

Secara klinis sudah diduga adanya tumor yang menunjukkan


invasi ke dalam stroma serviks uteri

II

Proses keganasan sudah keluar dari serviks dan menjalar ke 2/3


bagian atas vagina, tetapi tidak sampai ke dinding panggul

II a

Penyebaran hanya ke vagina, parametrium masih bebas dari


infiltrat tumor

II b

Penyebaran ke parametrium, tetapi belum sampai ke dinding


panggul

III

Penyebaran telah sampai ke 1/3 bagian distal vagina atau ke


parametrium sampai ke dinding panggul

III a

Penyebaran sampai ke 1/3 bagian distal vagina tetapi tidak


sampai ke dinding panggul

16

III b

Penyebaran sampai ke dinding panggul, tidak ditemukan


infiltrasi antara tumor dengan dinding panggul

IV

Proses keganasan telah keluar dari panggul dan telah


melibatkan kandung kemih / rectum & terjadi metastasis ke
tempat yang jauh

IV a

Proses keganasan keluar dari panggul dan menginfiltrasi


mukosa rectum dan kandung kemih

IV b

Proses keganasan sampai penyebaran ke tempat jauh

F. Manifestasi Klinik
Keputihan merupakan gejala yang sering ditemukan. Getah yang keluar
dari vagina makin lama akan berbau busuk akibat infeksi dan nekrosis
jaringan. Perdarahan yang dialami setelah senggama (perdarahan kontak)
merupakan gejala karsinoma serviks (75-80%).
Perdarahan yang timbul akibat terbukanya pembuluh darah makin lama,
akan sering terjadi, juga diluar senggama (perdarahan kontak), pada usia
wanita lanjut atau sudah menopause sering terlambat memeriksakan diri ke
dokter. Perdarahan spontan saat defekasi perlu dicurigai adanya karsinoma
serviks tingkat lanjut. Adanya bau busuk yang khas memperkuat adanya
karsinoma.
Anemia akan menyertai sebagai akibat perdarahan per vaginam yang
berulang. Rasa nyeri akibat infiltrasi sel tumor ke serabut saraf. Gejala lain
yang timbul adalah gejala yang disebabkan oleh metastasis jauh. Sebelum

17

tingkat akhir, penderita meninggal akibat perdarahan yang eksesif, kegagalan


faal ginjal akibat infiltrasi tumor ke ureter sebelum masuk kandung kemih,
yang menyebabkan obstruksi total.
(Wiknjosastro : 1999).

G. Komplikasi
Komplikasi berkaitan dengan intervensi pembedahan sudah sangat
menurun yang berhubungan dengan peningkatan teknik-teknik pembedahan
tersebut. Komplikasi tersebut meliputi: fistula uretra, disfungsi kantung
kemih, emboli pulmonal, limfosit, infeksi pelvis, obstruksi usus besar, dan
fistula rektovaginal.
Komplikasi yang dialami segera saat terapi radiasi adalah reaksi kulit,
sistitis radiasi, dan enteritis. Komplikasi berkaitan pada kemoterapi tergantung
pada kombinasi obat yang digunakan. Masalah efek samping yang sering
terjadi adalah supresi sumsum tulang, mual dan muntah karena penggunaan
obat kemoterapi yang mengandung sisplatin.
(Gale Danielle : 2000)

H. Penatalaksanaan
Terapi karsinoma serviks dilakukan bila diagnosis telah dipastikan
secara histologik dan sudah direncanakan dengan matang oleh tim yang
sanggup melakukan rehabilitasi dan pengamatan lanjutan (Tim Onkologi /
Tim Kanker) sebagai berikut:

18

1. Radiasi
Radioterapi adalah penggunaan partikel energi tinggi untuk
menghancurkan sel-sel dalam pengobatan penyakit kanker. Sel mati adalah
akibat dari reaksi dalam sel yang menyebabkan perubahan DNA dan RNA,
mengurangi kemampuan sel untuk berfungsi. Jumlah kerusakan DNA dan
RNA sebuah sel tergantung dari radiosensivitas sel.
Terapi radiasi digunakan sendiri atau dalam kombinasi dengan
pembedahan, atau kemoterapi untuk mengatasi kanker. Tujuan dari
tindakan adalah kuratif, seperti pada kanker serviks, kulit, testis dan
kanker laring. Tujuan lain adalah mengontrol penyakit, baik jangka pendek
maupun jangka panjang, seperti pada tumor otak, kanker kandung kemih,
ovarium, dan kanker paru. Tindakan paliatif untuk meningkatkan kualitas
hidup dengan menghilangkan gejala dan mencegah komplikasi adalah
tujuan penting lainnya dari terapi.
Efek samping dari terapi radiasi terjadi ketika sel normal pada area
pengobatan sementara atau permanen ikut terkena. Efek samping yang
terjadi selama 6 bulan dirujuk sebagai efek samping akut yang terjadi
setelah 6 bulan disebut efek lanjut. Efek samping akut yang terjadi dalam
pembelahan sel kulit yang amat cepat, membrana mukosa, folikel rambut
dan sumsum tulang umumnya reversibel. Efek samping lanjut dalam sel
yang membelah secara lambat seperti sel-sel otot dan pembuluh darah
yang biasanya permanen. Secara teoritis efek samping yang dialami pasien
terbatas pada daerah terkena, akan tetapi seorang yang menerima radiasi

19

mungkin mengalami efek sistemik yang meliputi mual, anoreksia, dan


kelelahan. Gejala ini berhubungan dengan kerusakan sel kanker dan filtrasi
hasil-hasil yang melewati sel tubuh. Secara umum, kebanyakan pasien
mentoleransi terapi radiasi dengan baik.
(Galle, Danielle : 2000)

2. Kemoterapi
Penggunaan obat untuk menangani kanker disebut kemoterapi atau
agen antineoplastik. Obat ini utamanya untuk membunuh sel kanker dan
maenghambat

perkembangannya.

Tujuan

pengobatan

kemoterapi

tergantung pada jenis kanker dan fasenya saat didiagnosis. Beberapa


kanker mempunyai penyembuhan yang dapat diperkirakan atau dapat
sembuh dengan pengobatan kemoterapi. Dalam hal ini pengobatan
mungkin hanya diberikan untuk mencegah kanker yang kambuh ; ini
disebut pengobatan adjuvant. Kemoterapi diberikan untuk mengontrol
penyakit dalam periode waktu yang lama walaupun tidak mungkin
sembuh. Jika kanker menyebar luas dan dalam fase akhir, kemoterapi
digunakan sebagai paliatif untuk memberikan kualitas hidup yang lebih
baik.
Semua sel baik sel normal maupun sel kanker berjalan mengikuti
siklus sel. Agen kemoterapi bekerja pada fase siklus sel berbeda disebut
siklus sel spesifik. Kebanyakan agen kemoterapi paling efektif ketika selsel aktif sedang membelah. Ruginya, zat-zat ini tidak dapat membedakan,

20

mereka mempengaruhi sel sehat yang juga secara aktif ikut membelah,
seperti halnya folikel rambut, sel-sel yang berada sepanjang saluran
pencernaan,dan sel batang sumsum tulang.
Pengaruh pada sel yang sedang secara aktif membelah pada sel sehat
mengakibatkan banyak efek samping umum yang tampak dengan
kemoterapi yaitu rambut rontok, kerusakan mukosa gastrointestinal, dan
mielosupresi. Sel-sel normal dapat pulih kembali dari trauma yang
disebabkan oleh kemoterapi, jadi efek samping ini biasanya terjadi dalam
waktu singkat. Akan tetapi, sel-sel kanker sekali dirusak biasanya tidak
pulih kembali.
(Gale,Danielle : 2000)

3. Pembedahan
Pembedahan saja dapat digunakan dalam pengobatan kanker atau
digunakan kombinasi dengan pengobatan kemoterapi, terapi radiasi, dan
atau bioterapi. Pengobatan ini dapat mendahului prosedur pembedahan
untuk memperkecil tumor, membuatnya dapat dioperasi. Tindakan ini juga
digunakan untuk mengatasi penyakit mikrometastase. Terapi radiasi intraoperatif dan kemoterapi digunakan untuk mengatasi tumor residu dan area
darimana tumor tersebut diangkat. Kadang-kadang tindakan ini digunakan
setelah pembedahan untuk mengatasi penyakit residu atau untuk mencegah
kekambuhan.

21

Bedah krio (Cryosurgery) adalah penggunaan dari nitrogen cair


untuk membekukan jaringan, dan telah berhasil dalam penanganan kanker
prostat dan kanker hepar. Bedah elektro (electrosurgery) menggunakan
arus listrik untuk membunuh sel-sel kanker. Bedah kemo (chemosurgery),
sebuah teknik yang menggunakan kemoterapi topikal dan pengangkatan
jaringan kanker lapis demi lapis, adalah tindakan umum untuk kanker sel
skuamosa kulit. Bedah laser mengionisasi air dalam tampilan titik kecil
untuk menghancurkan sel-sel tumor. Jenis, atau jenis-jenis intervensi
pembedahan dimana pasien mengalaminya tergantung pada jenis kanker,
luasnya penyakit, tujuan tindakan, dan kesehatan umum pasien.
Pembedahan kadang-kadang digunakan dalam pencegahan kanker.
Sebagai contoh kanker testis telah dihubungkan dengan testis yang tidak
turun; Orchiopexy

yaitu prosedur untuk menurunkan testis kedalam

skrotum, dilakukan dengan harapan mencegah terjadinya kanker. Contoh


lain dari bedah pencegahan meliputi: kolektomi untuk kolitis ulseratif,
mastektomi untuk risiko tinggi kanker payudara, tiroidektomi untuk
mencegah kanker medula tiroid dan ooforektomi untuk kanker ovarium.
Fasilitasi tindakan dengan implantasi alat akses, lubang, pompa, atau
perangkat keras lainnya adalah alasan umum lainnya untuk melakukan
pembedahan. Perangkat keras digunakan untuk terapi radiasi internal yang
secara umum ditempatkan dalam ruang operasi lalu diisi dengan zat-zat
radioaktif setelahnya akses vaskuler multi-lumen. Alat ini memungkinkan
terapi dirumah tanpa adanya risiko infiltrasi intravena perifer. Contoh,

22

ommaya reservoir adalah satu alat yang memungkinkan pemberian


kemoterapi

pada

susunan

saraf

pusat,

dengan

demikian

dapat

menghilangkan kebutuhan yang begitu sering untuk melakukan pungsi


lumbal yang amat menyakitkan. Pompa yang tertanam telah digunakan
untuk memberikan kemoterapi melalui arteri secara langsung pada tumor
diatas waktu yang sangat panjang (contoh: infus arteri hepatik). Beberapa
model pompa yang berbeda, alat akses, dan kateter digunakan, dan ini
penting untuk merujuk ke protokol pelayanan ketika menggunakan
peralatan ini.
Pembedahan juga digunakan sebagai paliatif. Ketika pengobatan
tidak lagi memungkinkan, dan kenyamanan dan atau perbaikan kualitas
hidup adalah tujuannya, pembedahan dapat ditawarkan. Contohnya
meliputi, tetapi tidak terbatas pada, stabilisasi tulang untuk mencegah
fraktur; pengangkatan metastase tersendiri (mis., otak); menghilangkan
obstruksi jalan napas, usus, atau ureter, dan pengobatan kedaruratan
onkologis.

Pembuangan

cairan

dari

kantung

perikardium

yang

menyebabkan tamponade akan menjadi kedaruratan onkologis tersebut.


Pembedahan juga satu intervensi yang sering untuk mengontrol gejala
pada kanker tahap lanjut. Nyeri mungkin dapat diatasi dengan prosedur
saraf atau penempatan sebuah kateter spinal untuk memberikan obat.
Pembedahan onkologis telah menjadi satu hal yang khusus dalam
perawatan kanker, yang memberikan tantangan pada pemberi pelayanan
untuk memberikan perawatan yang unik untuk pasien-pasien mereka.
(Gale, Danielle : 2000)

23

I. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan Cytologi & Servical Smears
a. Grade 1 normal cell
b. Grade 2 beberapa cell yang tidak khas menginflamasi yang asli
c. Grade 3 cell tidak khas meragukan yang asli, displasia
d. Grade 4 cell tidak khas malignant
e. Grade 5 cell malignant yang sesungguhnya
Pap smears yang merupakan deteksi Ca, yang tradisional bila kurang
meyakinkan bisa ditunjang dengan pemeriksaan lain (hendaknya
dilakukan satu kali satu tahun / tiga tahun sekali).
2. Schiller Test
Vagina dan serviks dioleskan dengan solution dari lugol iodine, test
ini dapat dilakukan untuk mengetahui apakah lapisan tersebut normal /
tidak normal dan dapat menjadi acuan untuk biopsy.
Coloscopy:
Alat seperti mikroskop berpembesaran rendah dan dapat sumber cahaya
digunakan bila hasil pap smears (+), biasanya yang dinilai dalam
coloscopy:
a. Pola pembuluh darah
b. Jarak antar kapiler
c. Pola permukaan jarum
d. Kegelapan ringan
e. Batas-batas lesi

24

3. Enzyme Test
Produksi dari posphogluconate dehidrogonase dan enzyme lain termasuk
dalam carsinoma in situ dan kondisi malignant yang lain.
4. Biopsy pada serviks
Digunakan untuk menegakkan diagnosa, dilakukan bila:
a. Ulangan periksa sitologi pap smears grade 3, 4, 5
b. Ada lesi pada serviks
c. Schiller test ditemukan epitelium abnormal
d. Pada coloscopy pada anjuran untuk biopsy
e. Ada enzyme aktif dari serviks
5. Hitung darah lengkap
Penurunan Hb menunjukkan anemia kronis.

J. Pengkajian Fokus
Demografi terdiri dari biodata :
1. Umur

: - Usia 18 tahun, menikah muda, hamil dan melahirkan


usia muda.
- Usia >60 tahun

2. Sex

: Wanita

3. Lingkungan : - Merokok
- Sosial ekonomi rendah
- Pemajanan tahap Dietil Stil Bestrol (DES)
- Kondisi lingkungan yang terinfeksi

25

4. Riwayat kesehatan
a. Riwayat/ adanya faktor-faktor resiko
1) Aktifitas seksual usia muda
2) Kehamilan dan melahirkan secara dini
3) Sering melahirkan / multi paritas
4) Jumlah pasangan seksual yang meningkat
5) Status sosial ekonomi yang rendah
6) Merokok
7) Pemajanan terhadap Dietil Stil Bestrol (DES)
b. Pemeriksaan Fisik berdasar manifestasi klinis
1) Keputihan berbau busuk
2) Perdarahan (pasca coitus) atau bercak antara menstruasi
3) Gejala lanjut :
a) Nyeri punggung bagian bawah
b) Nyeri tungkai
c) Sering BAK
d) BAK disertai darah
e) Perdarahan rektum
c. Riwayat kesehatan sekarang
1) Mengidap virus HPV
2) Memiliki penyakit kanker
3) Infeksi pelvis

26

d. Riwayat kesehatan dahulu


1) Pernah mengidap virus HPV
2) Pernah memiliki penyakit kanker
3) Riwayat merokok
4) Riwayat hamil dan melahirkan usia muda
5) Multi paritas
e. Riwayat kesehatan keluarga
1) Riwayat kanker dalam keluarga
2) Riwayat pemakaian Dietil Stil Bestrol (DES) oleh Ibu selama
kehamilan

27

Faktor Predisposisi
- Hygiene buruk
- Hubungan seksual usia dini, frekuensi
sering
- Jumlah partus >>
- Gaya hidup berganti-ganti pasangan
- Pemakaian hormon penunda kehamilan
- Merokok

K. Pathway

Mukosa
serviks
rapuh

Ca Serviks
Serviks

Lendir >>

Krisis situasi
Pembesaran masa

Penatalaksanaan

Infiltrasi sel
ke serabut
saraf

Pembuluh
darah terbuka
Kemoterapi

Rontok

Stomatitis

Perub mukosa
oral

Gangguan
body image

Integumen

Mual

Alopecia

Disfagia
Resiko
deficit
volume
cairan

Anoreksia
Perubaha
n nutrisi <
kebutuha
n

Malas
makan

Nyeri

P. Saraf
Pembuluh

Peruba
darah
Hygiene vulva
han
Histamin
Pruritus, membr
buruk
ane
eritema
mukos
a kolon Perdarahan

Bau tidak
enak pada
vagina

post op

Gg.
Integrita
s

Perdarahan
pasca
coitus

Melalui pembuluh darah

Paru

Pelvic

Ginjal

Anemia

Efek
Muntah

Ansietas

Perdarahan

Histerektomi

Radiasi

Metastase

Fases cair, sering


defekasi

Diare

Port de entry
(pintu masuk

Resiko
tinggi
infeksi

Sekret berlebih

Imunitas
menurun

Pe
suplai O2

Nyeri

Intoleransi
aktifitas

Tidak mampu
membatukkan
secret

Resiko
tinggi
infeksi
Gg. rasa
nyaman :
Nyeri

Ketidakefektifan
bersihan jalan
nafas

Sumber : Sylvia: 2005


- Gale, Danielle: 2000

Perubahan
keb. seksual

Infiltrasi
tumor

Pe
tekanan intra
abdomen
Mual, muntah

Obstruksi total

Perubahan
eliminasi : BAK,
retensi,
inkontinensial

Perubahan
nutrisi:
Kurang dari
kebutuhan

28

L. Diagnosa Keperawatan
Menurut Lynda Juall Carpenito, 2001:
1. Ansietas berhubungan dengan ketidakpastian tentang hasil yang
diharapkan, keputusasaan.
2. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan keletihan sekunder terhadap
anemia karena kemoterapi.
3. Perubahan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
mual, muntah, anoreksia akibat proses penyakit & kemoterapi.
4. Gangguan rasa nyaman: Nyeri berhubungan dengan pembesaran masa,
histerektomi.
5. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan pruritus sekunder akibat
pengeringan kulit (efek radioterapi).
6. Diare berhubungan dengan perubahan membran mukosa kolon akibat
kemoterapi, histerektomi.
7. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan infeksi yang
berhubungan dengan obat anestesi yang diberikan selama pembedahan.
8. Gangguan body image berhubungan dengan alopecia.
9. Perubahan pola seksual berhubungan dengan proses penyakit kanker, efek
pengobatan kanker.
10. Perubahan pola eliminasi BAK: retensi urin, inkontinensia berhubungan
dengan proses penyakit atau intervensi pembedahan.

29

11. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan efek samping


kemoterapi, perdarahan akibat post op.
12. Resiko tinggi infeksi bserhubungan dengan imunitas menurun post op.

M. Intervensi
1.

Ansietas berhubungan dengan ketidakpastian dengan hasil yang


diharapkan, keputusasaan.
Tujuan

: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24


jam klien mempunyai koping yang positif.

Kriteria hasil

: Klien mengungkapkan kecemasan kepada perawat


ataupun keluarga, klien mengungkapkan kecemasan
berkurang.

Intervensi
a. Kaji tanda dan gejala adanya
ansietas

Rasional
a. Membantu dalam
mengidentifikasi besar
ringannya ansietas

b. Gunakan satu sistem pendekatan


yang tenang dan meyakinkan
c. Lakukan teknik mendengar aktif
d. Instruksikan teknik relaksasi
seperti latihan relaksasi,

b. Meningkatkan kepercayaan
terhadap lingkungan
c. Mendorong pengungkapan
perasaan klien
d. Meredakan ansietas

imajinasi, terapi musik


e. Bantu pasien menjelaskan
keputusannya pada anggota

e. Memberikan dukungan terhadap


keputusan pasien

keluarga yang lainnya


(Gale,Danielle : 2000 )

30

2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunitas menurun akibat post


op
Tujuan

: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24


jam tidak terjadi infeksi pada klien.

Kriteria Hasil : Tidak terjadi granulositopenia yaitu jumlah granulosit


absolut (AGC) dibawah 1000 sel/mm3, neutropenia
yaitu jumlah neutropil absolut (ANC) kurang dari 1000
sel/mm3
Intervensi
a. Pantau infeksi sistemik atau

Rasional
a. kekurangan neutropil selama

letak infeksi, tetap ingat

granulositopenia

bahwa tanda-tanda infeksi

menghambat kemampuan

(kemerahan, pus, inflamasi,

untuk melawan infeksi dan

hangat) berhubungan dengan

dapat menutupi tanda-tanda

kerja SDP, jadi tanda normal

infeksi.

infeksi mungkin tidak ada


b. Pantau SDP (Sel Darah Putih)
diferensiasi
Hitung AGC
( AGC = SDP total x [ % segment]
% lembaran

c. Pantau tanda-tanda vital

b. AGC dibawah 500 sel / mm3


menempatkan pasien pada
resiko berat terhadap infeksi.

c. Demam atau hipotermia

meliputi suhu setiap 4 jam dan

mungkin mengindikasikan

lebih sering lagi jika

munculnya infeksi pada

diperlukan

pasien granulositopenia.

d. Mulai terapi antibiotik dengan

d. Pasien granulositopenia dapat

segera setelah diperoleh kultur

mengalami sepsis dalam 12

yang perlu

jam demam tinggi jika tidak

31

diobati dengan antibiotik.


e. Bantu pasien mengenai
kebersihan diri meliputi

e. Menurunkan kehadiran
organisme endogen.

mandi, kebersihan mulut, dan


perawatan perineal.
(Gale,Danielle: 2000)
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d mual, muntah,
anoreksia akibat proses penyakit dan kemoterapi
Tujuan

: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24jam


kebutuhan nutrisi klien terpenuhi

Kriteria Hasil : nafsu makan klien meningkat, tidak mual, muntah, BB


meningkat
Intervensi
a. Kaji masukan makanan dan
cairan yang disediakan
b. Anjurkan makan porsi kecil

Rasional
a. Memberikan informasi diet
harian untuk perencanaan
b. Mencegah mual

tapi sering
c. Timbang berat badan pasien
setiap minggu dengan

c. Memberikan informasi
mengenai berat badan

gunakan timbangan yang sama


d. Berikan antiemetik sebelum
kemoterapi
e. Instruksikan keluarga untuk
membantu pasien

d. Pencegahan mual dan muntah


membantu kelangsungan
pengobatan kemoterapi
e. Meningkatkan struktur

meningkatkan masukan

keluarga dan membantu

makanan.

pasien dalam mempertahankan


masukkan kalori
(Doenges: 2000)

32

4. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan keletihan sekunder terhadap


anemia akibat kemoterapi
Tujuan

: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24jam


kebutuhan aktifitas pasien terpenuhi

Kriteria Hasil : klien mengatakan peningkatan aktifitas, klien dapat


istirahat
Intervensi

Rasional

a. Kaji pola istirahat atau adanya

a. Menentukan data dasar untuk

keletihan pada pasien

membantu pasien dengan


keletihan

b. Anjurkan pasien untuk

b. Meningkatkan kontrol diri

mempertahankan pola tidur


atau istirahat sebanyak
mungkin
c. Bantu pasien merencanakan

c. Meningkatkan aktivitas

aktifitas yang berdasarkan

selama proses pencegahan

pola istirahat atau keletihan

keletihan

d. Anjurkan pasien untuk


merencanakan periode

d. Meningkatkan istirahat yang


adekuat

istirahat sesuai kebutuhan


sepanjang hari
(Gale,Danielle: 2000)

33

5. Resiko terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan efek


samping kemoterapi, perdarahan akibat post op
Tujuan

: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24


jam tidak terjadi dehidrasi pada klien

Kriteria Hasil : - Masukan cairan adekuat


- Membran mukosa lembab
- Tidak terjadi mual,muntah, diare
Intervensi
a. Pantau tanda-tanda vital,

Rasional
a. Pemasukan oral yang tidak

pemasukkan dan pengeluaran

adekuat dapat menyebabkan

sesuai kebutuhan

hipovolemi yang tandanya


meliputi takikardi, hipotensi
dan suhu tubuh meningkat
berhubungan dengan dehidrasi

b. Kaji jumlah dan frekuensi

b. Memberikan informasi untuk

defekasi atau muntah

perencanaan pemasukkan
cairan pengganti

c. Pantau kadar elektrolit sesuai


kebutuhan
d. Berikan suplemen elektrolit

c. Mual muntah, diare dapat


menurunkan elektrolit
d. Memperbaiki status elektrolit

yang diresepkan sesuai order


e. Kolaborasi dengan dokter
pemberian cairan parenteral

e. Membantu memenuhi
kebutuhan cairan
(Doenges: 2000)

34

6. Gangguan rasa nyaman: nyeri berhubungan dengan pembesaran masa,


histerektomi.
Tujuan

: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24jam


rasa nyaman pasien terpenuhi

Kriteria Hasil

: - klien mengungkapkan nyeri berkurang


- Ekspresi wajah klien tenang/rileks dan tidak menahan
sakit

Intervensi
a. Kaji nyeri meliputi faktor

Rasional
a. Mengetahui karakteristik nyeri

pencetus, kualitas, letak,


beratnya, lamanya nyeri
dirasakan
b. Bantu pasien untuk latihan

b. Mengurangi nyeri

relaksasi
c. Pantau tanda-tanda vital

c. Memberikan data mengenai

sebelum dan sesudah

respons pasien pada obat

pemberian analgesik
d. Kolaborasi pemberian

d. Mencegah kadar obat pada


darah yang tinggi

analgesik pada waktunya


terutama nyeri berat\
(Doenges: 2000)

7. Gangguan Integritas Kulit berhubungan dengan pruritus sekunder akibat


pengeringan kulit (efek samping radioterapi)
Tujuan

: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24jam


tidak terjadi kerusakan kulit yang berlebih

35

Kriteria Hasil : - klien ikut memelihara kulit


- Klien memperlihatkan integritas kulit yang baik
meliputi kulit utuh, tidak lecet, tidak ada luka, tidak
gatal/ pruritus/ eritema
Intervensi
a. Kaji integritas kulit

Rasional
a. Memberikan informasi
untuk merencanakan asuhan

b. Inspeksi daerah kulit yang


diradiasi

b. Meningkatkan identifikasi
dini terhadap kerusakan
kulit

c. Bersihkan daerah yang terbuka


dengan normal salin dan air,

c. Mencegah trauma lanjut


pada kulit yang diradiasi

pengeringan dengan udara atau


ditepuk
d. Instruksi pasien untuk
menghindari mencukur kulit

d. Mencegah iritasi lanjut dari


kulit yang telah rusak

yang iritasi, memakai pakaian


sempit, penggunaan deodoran,
parfum, aktivitas berat
(Gale,Danielle : 2000)

8. Diare berhubungan dengan perubahan membran mukosa kolon akibat


kemoterapi
Tujuan

: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24


jam tidak terjadi diare

Kriteria Hasil : frekuensi BAB 1-2 x sehari dengan konsistensi lembek.

36

Intervensi

Rasional

a. Ambil feces untuk kultur dan

a. Memberikan informasi

sensitivitas

mengenai infeksi

b. Evaluasi sifat pengobatan yang

b. Mencegah penggunaan

mempunyai efek samping pada

obat-obatan yang dapat

gastrointestinal

menyebabkan diare

c. Anjurkan pasien untuk tidak

c. Mencegah iritasi usus

makan makanan yang

lanjut

membentuk gas dan makanan


pedas
d. Instruksikan untuk makan
makanan rendah serat, tinggi

d. Meningkatkan masukan
kalori

protein, tinggi kalori


(Gale,Danielle : 2000)

9. Gangguan body image berhubungan dengan alopecia


Tujuan

: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24


jam adanya peningkatan body image pada klien

Kriteria Hasil : pasien mengungkapkan pengertian terhadap bagaimana


kemoterapi menyebabkan alopecia atau perubahan pada
kulit.
Intervensi
a. Kaji rencana pengobatan

Rasional
a. Agen pengkelat, antimetabolik,

kemoterapi pasien terhadap

adriamicyn dan antibiotik dapat

obat-obat yang dapat

menyebabkan alopecia.

menyebabkan alopecia

37

b. Bantu pasien untuk


mendiskusikan perasaan

b. Memberikan cara pengungkapan


emosi

tentang perubahan citra tubuh


c. Dorong pasien mendapatkan

c. Membantu mempercantik dengan

rambut buatan selama rambut

mencocokkan warna dan model

masih belum tumbuh

rambut normal pasien.

d. Dorong pasien untuk

d. Kulit dan mata lebih beresiko

menggunakan metode

terhadap trauma berhubungan

pelindung kulit dan mata

dengan perubahan yang

seperti kacamata, topi bentuk

ditimbulkan akibat kemoterapi

khusus dan lain-lain.


(Gale,Danielle :2000)

10. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan infeksi yang


berhubungan dengan obat anestesi yang diberikan selama pembedahan
Tujuan

: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24


jam bersihan jalan nafas klien menjadi efektif

Kriteria Hasil : - Frekuensi nafas 16 24x/menit


- Tidak terjadi dipsnea/ sesak nafas
- Tidak ada bunyi nafas tambahan (wheezing/ mengi,
ronchi)
Intervensi
a. Kaji pola nafas, kemampuan
batuk klien
b. Kaji sekresi jalan nafas klien

Rasional
a. Mengetahui karakteristik pola
nafas
b. Mengetahui adanya infeksi atau

(misal: jumlah, warna,

peradangan dalam saluran

konsistensi dan bau)

pernafasan

38

c. Berikan posisi setengah duduk


(semi fowler)

c. Memberikan posisi
pengembangan paru yang
maksimal

d. Ajarkan teknik batuk efektif

d. Memfasilitasi batuk

e. Kolaborasi dengan dokter

e. Mengeluarkan sekret,

untuk pemberian obat

meningkatkan potensi jalan nafas

bronkodilator

dan pertukaran gas


(Doenges: 2000)

11. Perubahan pola eliminasi BAK: retensi, inkontinensia urin berhubungan


dengan proses penyakit atau intervensi pembedahan
Tujuan

: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x24


jam pola eliminasi BAK klien kembali normal

Kriteria Hasil : - klien mampu mengendalikan BAK


- Mendemonstrasikan penatalaksanaan pengeluaran urin
normal
Intervensi

Rasional

a. Pantau eliminasi urin meliputi: a. Mengetahui karakteristik urin dan


frekuensi, konnsistensi, bau,

pola berkemih

volume, dan warna


b. Pantau tanda dan dan gejala

b. Mencegah distensi kandung kemih

retensi urin meliputi tidak


berkemih dan adanya distensi
abdomen bawah
c. Beritahu klien atau keluarga
tentang tanda ISK, meliputi:

c. Memberikan informasi pada


keluarga tentang ISK

demam, nyeri sekitar panggul,


disuria, dan hematuria.

39

d. Anjurkan klien untuk minum


cairan sesuai advis dokter

d. Meningkatkan aliran urin yang


adekuat

(Doenges:2000)

12. Perubahan pola seksual berhubungan dengan proses penyakit kanker, efek
pengobatan kanker
Tujuan

: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24


jam perubahan pola seksual dapat diatasi

Kriteria Hasil : klien dan pasangan akan kembali mendapatkan kepuasan


dalam hubungan seksual
Intervensi
a. Ciptakan hubungan terapeutik
atas dasar saling percaya dan

Rasional
a. Meningkatkan komunikasi
terbuka

saling menghargai, berikan


privasi dan kepercayaan diri
klien.
b. Anjurkan klien untuk
mengungkapkan ketakutan dan

b. Memberikan klien pengetahuan


yang dibutuhkan

menanyakan masalah
c. Diskusikan bentuk alternatif

c. Meningkatkan ekspresi seksual

ekspresi seksual yang dapat


diterima pada klien sesuai
kebutuhan
d. Libatkan pasangan dalam
diskusi

d. Meningkatkan komunikasi
terbuka antara klien dan
pasangan seksual
(Gale, Danielle: 2000)

40