Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Menurut kamus deglutasi atau deglutition diterjemahkan sebagai proses memasukkan
makanan kedalam tubuh melalui mulut the process of taking food into the body through the
mouth. Proses menelan merupakan suatu proses yang kompleks, yang memerlukan setiap
organ yang berperan harus bekerja secara terintegrasi dan berkesinambungan. Dalam proses
menelan ini diperlukan kerjasama yang baik dari 6 syaraf cranial, 4 syaraf servikal dan lebih
dari 30 pasang otot menelan. Pada proses menelan terjadi pemindahan bolus makanan dari
rongga mulut ke dalam lambung. Secara klinis terjadinya gangguan pada deglutasi disebut
disfagia yaitu terjadi kegagalan memindahkan bolus makanan dari rongga mulut sampai ke
lambung.

Neurofisiologi Menelan
Proses menelan dapat dibagi menjadi 3 fase yaitu fase oral, fase faringeal dan fase
esophageal.

Esofagitis Erosif by Nurul Hasanah

Page 1

Fase Oral
Pada fase oral ini akan terjadi proses pembentukan bolus makanan yang dilaksanakan oleh
gigi geligi, lidah, palatum mole, otot-otot pipi dan saliva untuk menggiling dan membentuk
bolus dengan konsistensi dan ukuran yang siap untuk ditelan. Proses ini berlangsung secara
di sadari.
Pada fase oral ini perpindahan bolus dari ronggal mulut ke faring segera terjadi, setelah
otot-otot bibir dan pipi berkontraksi meletekkan bolus diatas lidah. Otot intrinsik lidah
berkontraksi menyebabkan lidah terangkat mulai dari bagian anterior ke posterior. Bagian
anterior lidah menekan palatum durum sehingga bolus terdorong ke faring.
Bolus menyentuh bagian arkus faring anterior, uvula dan dinding posterior faring sehingga
menimbulkan refleks faring. Arkus faring terangkat ke atas akibat kontraksi m. palato
faringeus (n. IX, n.X dan n.XII)
Jadi pada fase oral ini secara garis besar bekerja saraf karanial n.V2 dan nV.3 sebagai
serabut afferen (sensorik) dan n.V, nVII, n.IX, n.X, n.XI, n.XII sebagai serabut efferen
(motorik).

Fase Faringeal
Fase ini dimulai ketika bolus makanan menyentuh arkus faring anterior (arkus
palatoglosus) dan refleks menelan segera timbul. Pada fase faringeal ini terjadi :
1. m. Tensor veli palatini (n.V) dan m. Levator veli palatini (n.IX, n.X dan n.XI)
berkontraksi menyebabkan palatum mole terangkat, kemudian uvula tertarik keatas
dan ke posterior sehingga menutup daerah nasofaring.
2. m.genioglosus (n.XII, servikal 1), m ariepiglotika (n.IX,nX) m.krikoaritenoid lateralis
(n.IX,n.X) berkontraksi menyebabkan aduksi pita suara sehingga laring tertutup.
3. Laring dan tulang hioid terangkat keatas ke arah dasar lidah karena kontraksi
m.stilohioid, (n.VII), m. Geniohioid, m.tirohioid (n.XII dan n.servikal I).
4. Kontraksi m.konstriktor faring superior (n.IX, n.X, n.XI), m. Konstriktor faring
inermedius (n.IX, n.X, n.XI) dan m.konstriktor faring inferior (n.X, n.XI)
menyebabkan faring tertekan kebawah yang diikuti oleh relaksasi m. Kriko faring
(n.X)
Esofagitis Erosif by Nurul Hasanah

Page 2

5. Pergerakan laring ke atas dan ke depan, relaksasi dari introitus esofagus dan dorongan
otot-otot faring ke inferior menyebabkan bolus makanan turun ke bawah dan masuk
ke dalam servikal esofagus. Proses ini hanya berlangsung sekitar satu detik untuk
menelan cairan dan lebih lama bila menelan makanan padat.

Pada fase faringeal ini saraf yang bekerja saraf karanial n.V.2, n.V.3 dan n.X sebagai
serabut afferen dan n.V, n.VII, n.IX, n.X, n.XI dan n.XII sebagai serabut efferen.

Bolus dengan viskositas yang tinggi akan memperlambat fase faringeal,


meningkatkan waktu gelombang peristaltik dan memperpanjang waktu pembukaan sfingter
esofagus bagian atas. Bertambahnya volume bolus menyebabkan lebih cepatnya waktu
pergerakan pangkal lidah, pergerakan palatum mole dan pergerakan laring serta
pembukaan sfingter esofagus bagian atas. Waktu Pharyngeal transit juga bertambah sesuai
dengan umur.
Kecepatan gelombang peristaltik faring rata-rata 12 cm/detik. Mc.Connel dalam
penelitiannya melihat adanya 2 sistem pompa yang bekerja yaitu :
1. Oropharyngeal propulsion pomp (OOP) adalah tekanan yang ditimbulkan tenaga lidah
2/3 depan yang mendorong bolus ke orofaring yang disertai tenaga kontraksi dari
m.konstriktor faring.
2. Hypopharyngeal suction pomp (HSP) adalah merupakan tekanan negatif akibat
terangkatnya laring ke atas menjauhi dinding posterior faring, sehingga bolus terisap ke
arah sfingter esofagus bagian atas. Sfingter esofagus bagian atas dibentuk oleh
m.konstriktor faring inferior, m.krikofaring dan serabut otot longitudinal esofagus
bagian superior.
Fase Esofageal
Pada fase esofageal proses menelan berlangsung tanpa disadari. Bolus makanan turun lebih
lambat dari fase faringeal yaitu 3-4 cm/ detik.
Fase ini terdiri dari beberapa tahapan :
1. Dimulai dengan terjadinya relaksasi m.kriko faring. Gelombang peristaltik primer
terjadi akibat kontraksi otot longitudinal dan otot sirkuler dinding esofagus bagian

Esofagitis Erosif by Nurul Hasanah

Page 3

proksimal. Gelombang peristaltik pertama ini akan diikuti oleh gelombang peristaltik
kedua yang merupakan respons akibat regangan dinding esofagus.
2. Gerakan peristaltik tengah esofagus dipengaruhi oleh serabut saraf pleksus mienterikus
yang terletak diantara otot longitudinal dan otot sirkuler dinding esofagus dan
gelombang ini bergerak seterusnya secara teratur menuju ke distal esofagus.
Cairan biasanya turun akibat gaya berat dan makanan padat turun karena gerak peristaltik
dan berlangsung selama 8-20 detik. Esophagal transit time bertambah pada lansia akibat
dari berkurangnya tonus otot-otot rongga mulut untuk merangsang gelombang peristaltik
primer.

Peranan Sistem Saraf Dalam Proses Menelan


Proses menelan diatur oleh sistem saraf yang dibagi dalam 3 tahap :
1. Tahap afferen/sensoris dimana begitu ada makanan masuk ke dalam orofaring langsung
akan berespons dan menyampaikan perintah.
2. Perintah diterima oleh pusat penelanan di Medula oblongata/batang otak (kedua sisi)
pada trunkus solitarius di bag. Dorsal (berfungsi utuk mengatur fungsi motorik proses
menelan) dan nukleus ambigius yg berfungsi mengatur distribusi impuls motorik ke
motor neuron otot yg berhubungan dgn proses menelan.
3. Tahap efferen/motorik yang menjalankan perintah

1.2. Anatomi Esofagus

Esofagus adalah suatu tabung otot yang terbentang dari hipofaring (Cervikal 6) sampai ke
lambung (Torakal 11) dengan panjang 23-25 cm pada dewasa. Esofagus pada awalnya
berada di garis tengah kemudian berbelok ke

kiri dan kembali ke tengah

setinggi

mediastinum (T7) kemudian berdeviasi ke kiri ketika melewati hiatus diafragma.


Lengkunganesof agus dilihat dari sisi anteroposterior mengikuti lengkungan dari vertebra
torakal. Perkembangan esophagus dimulai pada minggu keempat pembuahan, dimana pada
minggu tersebut terbentuk suatu diverticulum laringotrakea pada bagian ventral dari foregut.
Divertikulum tersebut terus berkembang ke arah kaudal kemudian akan dipisahkan dari
tabung laringotrakea oleh septum trakeoesofageal. Rekanalisasi dari tabung esophagus ini
Esofagitis Erosif by Nurul Hasanah

Page 4

terus berkembang sampai minggu ke delapan. Pada esofagus normal terdapat 3 penyempitan
yaitu pada pertemuan antara faring dan esofagus (Cervikal 6 atau 15 cm dari incisivus atas),
pada
persilangan arkus aorta dan bronkus kiri (Torakal 4-5 atau setinggi 25 cm dari incisivus
atas) dan pada hiatus diafragma (Torakal 10 atau 40 cm dari incisivus atas. Lumen
esofagus mempunyai diameter yang berbeda pada tiap-tiap lokasi serta mempunyai
kemampuan elastisitas yang tinggi. Ukuran diameter lumen esofagus

pada masing-

masing penyempitan.

Diameter Lumen Esofagus

Lokasi

Diameter Transversa

Diameter AP

(mm)

(mm)

Krikofaring

23

17

Arkus aorta

24

Bronkus kiri

23

17

Diafragma

23

23

19

Dinding esofagus terdiri dari 4 lapisan dari dalam ke luar yaitu lapisan mukosa,
submukosa, lapisan otot dan lapisan fibrosa. Pada lapisan mukosa terdapat epitel gepeng
bertingkat tidak berkeratin, lapisan submukosa terdapat serabut kolagen yang tebal dan
serabut elastin serta kelenjer mukus dan plexus Meissner. Lapisan otot terdiri dari otot
polos dan otot lurik. Pada sepertiga atas esofagus terdapat otot lurik dan sepertiga bawah
terdapat otot polos, sedangkan sepertiga tengah terdapat campuran otot polos dan otot
lurik. Otot bagian dalam mempunyai serat sirkuler sedangkan bagian luar mempunyai
serat longitudinal. Serat sirkuler pada bagian bawah esofagus menebal membentuk
spingter kardia. Plexus Myentericus Auerbach terdapat di antara kedua lapisan otot ini.
Esofagus diperdarahi oleh cabang tiroidea inferior dari trunkus tiroservikalis, dari aorta t
orakalis desenden, cabang gastrikus sinistra dari arteri celiac dan dari cabang phrenikus
inferior sinistra dari aorta abdominal. Esofagus dipersarafi oleh serabut parasimpatis yang
Esofagitis Erosif by Nurul Hasanah

Page 5

berasal dari nervus vagus dan serabut simpatis dari trunkus simpatikus.Aliran limfe dari
esofagus segmen servikal, torakal dan abdominal, masuk ke kelenjer servikal dalam,
kelenjer mediastinum posterior dan kelenjer gastrikus.

Fisiologi Esofagus
Fungsi esofagus selain sebagai saluran makan, juga dalam proses menelan. Terdapat 3
fase proses menelan yaitu fase oral (bucal), fase faringeal dan fase esophageal. Pada fase
oral, makanan yang masuk ke dalam mulut dikunyah, dilubrikasi oleh saliva dan dirubah
menjadi bolus kemudian didorong masuk ke faring dengan bantuan elevasi lidah ke
palatum. Fase faringeal dimulai bila bolus makanan ini telah berkontak dengan mukosa
faring. Adanya reflek akan mendorong bolus memasuki orofaring, laringofaring dan
terus ke esofagus. Pada saat ini hubungan ke nasofaring, rongga mulut dan laring akan
tertutup.
Setelah makanan masuk ke esofagus, spingter atas esofagus akan tertutup dan dengan
gerakan peristaltik akan mendorong bolus makanan ke bawah. Sebelum peristaltik ini
sampai di bagian bawah esofagus, spingter bawah akan berelaksasi sehingga dapat
menyebabkan lewatnya cairan ke lambung. Gerakan peristaltik pada bagian bawah
esofagus akan mendorong bolus makanan ke lambung kemudian menutup spingter
bawah esofagus, fase ini disebut fase esofageal. Spingter atas esofagus berfungsi dalam
proses menelan sedangkan spingter bawah berfungsi mencegah terjadinya refluks cairan
lambung ke esofagus.

Esofagitis Erosif by Nurul Hasanah

Page 6

BAB II
PEMBAHASAN

Esofagitis Erosif
Esofagitis erosif ialah peradangan di esophagus yang disebabkan oleh luka bakar karena
zat kimia yang bersifat korosif misalnya asam kuat, basa kuat dan zat organic. Zat kima yang
tertelan dapat bersifat toksik atau korosid. Zat kimia yang bersifat korosif akan menimbulkan
kerusakan pada saluran yang dilaluinya, sedangkan zat kimia yang bersifat toksik hanya
menimbulkan gejala keracunan bila telah diserap oleh darah.

Patologi
Basa kuat menyebabakan terjadinya nekrosis mencair (liquifatum necrosis). Secara histologik
dinding esophagus sampai lapisan otot seolah-olah mencair. Asam kuat yang tertekan akan
menyebabkan nekrosis menggumpal (coagulation necrosis). Secara histologik dinding
esophagus sampai lapisan otot seolah-olah menggumpal.
Zat organic misalnya lisol dan karbol biasanya tidak disebabkan kelainan yang hebat, hanya
terjadi edema di mukosa atau submukosa. Asam kuat menyebabkan kerusakan pada lambung
lebih berat disbanding kerusakan di esophagus, sedangkan basa kuat menimbulkan kerusakan di
esophagus lebih berat dari pada lambung.

Gambaran klinik
Keluhan dan gejala yang timbul akibat tertelan zat korosif tergantung pada jenis zat korosif,
konsentrasi zat korosif, jumlah zat korosif, lamanya kontak dengan dinding esophagus, sengaja
diminum dan dimuntahkan atau tidak.
Esofagitis korosif di bagi dalam 5 bentuk klinis berdasarkan beratnya luka bakar yang ditemukan
yaitu:
1. Esofagitis erosive tanpa ulserasi
Pasien mengalami gangguan menelan yang ringan. Pada esofagoskopi tampak mukosa
hiperemis tanpa disertai ulserasi.
2. Esofagitis erosive dengan ulserasi ringan.
Esofagitis Erosif by Nurul Hasanah

Page 7

Pasien mengeluh disfagia ringan pada esofagoskopi tampak ulkus yang tidak dalam yang
mengenai mukosa esophagus saja.
3. Esofagitis korosif ulserasi sedang.
Ulkus sudah mengenai lapisan otot. Biasanya ditemukan satu ulkus atau lebih (multiple).
4. Esofagitis korosif uleseratif berat tanpa komplikasi.
Terdapat pengelupasan mukosa serta nekrosis letaknya dalam, dan telah mengenai
seluruh lapisan esophagus. Keadaan ini jika dibiarkan akan menimbulkan striktur
esophagus.
5. Esofagitis korosif ulseratif berat dengan komplikasi.
Terdapat perforsi esophagus yang dapat menimbulkan mediastinitis dan peritonitis.
Kadang-kadang ditemukan tanda-tanda obstruksi jalan napas atas atau dan gangguan
keseimbangan asam basa.
Berdasarkan gejala perjalanan penyakitnya esofagitis korosif dibagi dalam 3 fase
yaitu fase akut, fase laten (intermediate) dan fase kronik (obstruktif).

Fase Akut
Keadaan ini berlangsung 1-3 hari. Pada pemeriksaan fisik, ditemukan luka bakar di
daerah mulut, bibir, faring dan kadang-kadang disertai perdarahan. Gejala yang ditemukan pada
pasien adalah disfagia yang hebat, odinofagia serta suhu badan yang meningkat. Gejala klinis
akibat tertelan zat organic dapat berupa perasaan terbakar di saluran cerna bagian atas, mual,
muntah, erosi pada mukosa, kejang otot, kegagalan sirkulasi dan pernafasan.
Fase Laten
Berlangsung selama 2-6 minggu. Pada fase ini keluhan pasien berkurang, suhu badan
menurun. Pasien merasa ia telah sembuh, sudah dapat menelam dengan baik akan tetapi
prosesnya sebetulnya masih berjalan terus dengan membentuk jaringan parut (sikatriks).
Fase Kronis
Setalah 1-3 tahun akan terjadi disfagia lagi oleh karena telah terbentuk jaringan parut,
sehingga terjadi striktur esophagus.

Esofagitis Erosif by Nurul Hasanah

Page 8

Diagnosis
Diagnosis ditegakan dari adanya riwayat tertelan zat korosif atau zat organic, gejala
klinis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan radiologic, pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan
esofagoskopi.

Pemeriksaan laboratorium
Perasan pemeriksaan laboratorium sangat sedikit, kecuali bila terdapat tanda-tanda
gangguan elektorlit, diperlukan pemeriksaan elektrolit darah.
Pemeriksaan Radiologik
Foto rogten toraks postero-anterior dan lateral perlu dilakukan untuk mendeteksi adanya
mediastinitis atau aspirasi pneumonia.
Pemeriksaan rogten esofagus dengan kontras barium (esofagogram) tidak banyak
menunjukan kelaianan pada stadium akut. Esophagus mungkin terlihat normal. Jika ada
kecurigaan akan adanya perforasi akut esophagus atau lambung serta rupture esophagus akibat
trauma tindakan, esofagogram perlu dibuat. Esofagogram perlu dibuat setelah minggu kedua
untuk melihat ada tidaknya striktur esophagus dan dapat diulang seletah 2 bulan untuk evaluasi.
Pemeriksaan esofagoskopi
Esofagoskopi diperlukan untuk melihat adanya luka bakar di esophagus. Pada
esofagoskopi akan tampak mukosa yang hiperemis, edema dan kadang-kadang ditemukan ulkus.
Penatalaksanaan
Tujuan pemberian terapi pada esofagitis korosif adalah untuk mencegah pembentukan
striktur. Terapi esofagitis korosif dibedakan antara tertelan zat korosif dan zat organic. Terapi
esofagitis korosif akibat tertelan zat korosif dibagi dalam fase akut dan fase kronis. Pada fase
akut dilakukan perawatan umum dan terapi khusus berupa terapi medic dan esofagoskopi.
Perwatan umum
Perawatan umum dilakukan dengan cara memperbaiki keadaan umum pasien, menjaga
keseimbangan elektrolit serta menjaga jalan napas. Jika terdapat gangguan keseimbangan
elektrolit diberikan infuse aminofusin 600 2 botol, glukosa 10 % 2 botol, NaCl 0,9% +KCL 5
Meq/liter 1 botol. Untuk melindungi selaput lendir esophagus bila muntah dapat diberikan susu
atau putih telur. Jika zat korosif yang tertelan diketahui jenisnya dan terjadi sebelum 6 jam, dapat
Esofagitis Erosif by Nurul Hasanah

Page 9

dilakukan netralisasi (bila zat korosif basa kuat diberi susu atau air, dan bila asam kuat di beri
antasida.

Terapi Medik
Antibiotika diberikan selama 2-3 minggu atau 5 hari bebas demam. Biasanya diberikan
Penisilllin dosis tinggi 1 juta-1,2 juta unit/ hari. Kortikosteroid diberikan untuk mencegah
pembentukan fibrosis yang berlebihan. Kortikosteroid harus diberikan sejak hari pertama dengan
dosis 200-300 mg sampai hari ketiga. Setelah itu dosis diturunkan perlahan-lahan tiap 2 hari
(Tappering off). Dosis yang di pertahankan (maitanace dose) ialah 2 x 50 mg perhari. Analgesic
diberikan untuk mengurangi rasa nyeri. Morfin dapat diberikan, jika pasien sangat kesakitan.
Esofagoskopi
Biasanya dilakukan esofagoskopi pada hari ke tiga setelah kejadian atau bila luka bakar
di bibir, mulut dan faring sudah tenang. Jika pada waktu melakukan esofagoskopi di temukan
ulkus, esdofagoskop tidak boleh dipaksa melalui ulkus tersebut karena ditakutkan terjadi
perforasi. Pada keadaan demikian sebaikanya dipasang pipa hidung lambung (pipa nasogaster)
dengan hati-hati dan terus menerus (dauer) selama 6 minggu. Setelah 6 minggu esofagoskopi
diulang kembali. Pada fase kronik biasanya sudah terdapat striktur esophagus. Untuk ini
dilakukan dilatasi dengan bantuan esofagoskop. Dilatasi dilakukan sekali seminggu, bila keadaan
pasien lebih baik dilakukan sekali 2 minggu, setelah sebulan, sekali 3 bulan dan demikian
seterusnya sampai pasien dapat menelan makanan biasa. Jika selama 3 kali dilatasi hasilnya
kurang memuaskan sebaiknya dilakukan reseksu esophagus dan dibuat anastomosis ujung ke
ujung (end to end).
Komplikasi
Komplikasi esofagitis korosif dapat berupa syok, koma, edema laring, pneumonia
aspirasi, perforasi esophagus, mediastinitis dan kematian.

Esofagitis Erosif by Nurul Hasanah

Page 10

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Efiaty, dkk.2012.Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala
dan Leher Edisi ke Tujuh.Badan penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.hml
216
Bailey BJ, et al. Head & Neck Surgery: Otolaryngology. 4th ed. Lippincot Williams &
Wilkin;2006.
Cummings CW, et al. Cummings Otolaryngology Head & Neck Surgery. 4th Ed.
Philadelphia: Mosby Inc;2005.
Harrison TR, et al. Harrisons Principles of Internal Medicine. 17th Ed. McGrawHill;2008
Price, Sylvia, dkk. 1994. Patofisiologi Konsep Klinik, Proses-Proses Penyakit. Buku
Kedokteran EGC : Jakarta.

Esofagitis Erosif by Nurul Hasanah

Page 11