Anda di halaman 1dari 6

5.

Jelaskan mekanisme regulasi


hipoosmotik dan regulasi hiperosmotik!
Regulasi hipoosmotik menghadapi dua masalah
fisiologik : (1) air cenderung keluar tubuh, sebab
kadar air dalam tubuh lebih tinggi daripada
mediumnya (2) zat terlarut cenderung masuk
kedalam tubuh,

Untuk menghadapi masalah tersebut, regulator


hipoosmotik harus:
(1) menghambat keluarnya air dari dalam tubuh
atau mempertahankan air yang ada di dalam tubuh,
sebaliknya terhadap zat terlarut, hewan harus
(2)berusaha mencegah masuknya garam kedalam
tubuh atau atau mengeluarkan kelebihan garam
yang masuk tubuh (Soewolo, 2000).

Regulator hiperosmotik menghadapi dua


masalah fisiologik :
(1) air cenderung masuk kedalam tubuh
hewan,sebab konsentrasi zat terlarut dalam
tubuh hewan lebih tinggi daripada dalam
mediumnya
(2) Zat terlarut cenderung keluar tubuh,sebab
konsentrasi di dalam tunuh lebih tinggi daripada
di luar tubuh

Untuk mengatasi masalah tersebut regulator


hiperosmotik harus :
(1) Mengurangi masuknya air kedalam tubuh
(meningkatkan impermeabilitas dinding tubuh)
atau mengeluarkan kelebihan air yang ada
dalam tubuh (lewat urin dan feses)
(2) Terhadap
zat
terlarut,
hewan
harus
memasukkan garam-garam ke dalam tubuh
(lewat
makan
dan
minum)
atau
mempertahankan zat terlarut yang ada di dalam
tubuhnya (Soewolo, 2000).

6. Mengapa hewan di darat menghadapi


permasalahan osmoregulasi yang lebih berat
daripada hewan yang hidup di air
Karena hewan darat cenderung mudah kehilangan
air dari dalam tubuhnya. Misalnya pada serangga
terjadi kehilangan air melalui penguapan. Selain itu,
hewan darat memperoleh air dari air minum dan
makanannya. Berbeda dengan hewan yang hidup di
air, mereka memperoleh air langsung dari
mediumnya yang lebih mudah untuk berpindah
kedalam tubuhnya untuk mempertahankan
keseimbangan dalam tubuhnya.

Untuk menghemat air, hewan darat melakukan


berbagai cara yang cukup bervariasi. Hewan
kelas reptil meliputi ular, kadal, buaya, kura-kura
memiliki kulit kering dan bersisik. Keadaan kulit
yang kering dan bersisik tersebut merupakan
cara beradaptasi yang baik terhadap kehidupan
darat, yakni agar tidak kehilangan banyak urin
(Isnaeni, 2006).