Anda di halaman 1dari 23

Bila suhu rendah dari suhu kesetimbangan

yH2OP = P*H2O(T) air akan mulai terkondensasi


Ini disebut dew point. Suhu dew point adalah suhu
dimana kesetimbangan tercapai yaitu saat pertama
kali mulai terjadi kondensasi
Pada suhu T dew point udara jenuh (humidity
100%)

yH2OP = P*H2O(Td)

Pada 1 atm:

(dew point temperature)

y = P*(Td)

Suhu dew point sering disebut suhu jenuh

Contoh dehidrasi: Silika gel digunakan untuk


mengabsorbsi 5.83 kg H2O dari udara basah
pada suhu 15o C dan 98.6 kPa. Udara kering
keluar dari dehidrator mempunyai volume
1000 m3 pada 20oC dan 108.0 kPa. Berapa
humidity relatif udara basah ?

Tahap1: Konversikan kg molar.

nwater = (5.83 kg) (1kgmol/18.02kg) = 0.324 kgmol

Tahap 2: Hitung jumlah mol udara pada aliran keluar.

nair = PV/RT = 44.3 kgmol

Tahap 3: Gunakan neraca massa untuk mendapatkan mol


air dan udara umpan. Kemudian tentukan fraksi mol air di
umpan

y = nwater/(nair+nwater)=0.324/(44.3+0.324)= 0.0073

Tahap 4: Dapatkan tekanan uap P*water (15oC) = 1.70 kPa

Langkah 5: Hitung humidity relatif.


hr = yP/P* = (0.0073)(98.6)/(1.70) = 0.42 atau
42% relative humidity

Suhu bola basah diukur ketika bola


termometer dibalut dengan kapas basah. Bola
dijaga tetap basah dan air akan terus
menguap dari permukaan. Suhu yang diukur
ketika itu disebut suhu bola basah.

Humidity Chart
Humidity chart sering disebut psychometric
chart adalah diagram kombinasi suhu-kom-

posisi, dan entalpikomposisi untuk sistem


udara-air.

Hukum kekekalan energi didasarkan pada tidak


ada energi yang tercipta dan dimusnahkan,
tetapi energi dapat berubah bentuk.

Defenisi

Sistem adalah sesuatu yang menjadi Pusat

perhatian. Komplemen dari sistem disebut


lingkungan.
Jadi,
bila
reaktor
dan
kandungannya adalah sistem yang sedang
dipelajari, maka lingkungan dipahami semua
yang ada kecuali reaktor dan.

Sistem terbuka zat dapat berpindah


kelingkungan
sistem tertutup zat tidak dapat berpindah
ke lingkungan.
Pada sistem tertutup jumlah massa tetap.
Untuk menerangkan kuantitaif sistem
diperlukan sifat-sifat yang dapat terukur
yang berlaku secara berterusan (sifat
makroskopik)
Contoh suhu, tekanan, volume spasifik,
dan lainnya.

Sifat makroskopis dapat dibagi dua:


Sifat ekstensif dimana berlaku sifat penambahan
atau perbandingan terhadap ukuran sistem
volume, massa dan kandungan energi.
Sifat intensif dimana sifat tersebut tidak tergantung
pada ukuran sistem suhu, tekanan, fraksi mol,
dan volume spesifik.

Bentuk Energi yang digambarkan dengan Massa

Hukum dasar kekekalan energi adalah: tidak ada


energi yang musnah atau tercipta, sehingga untuk
semua kasus berlaku:
Energi masuk ke sistem energi keluar ke lingkungan akumulasi energi
dari lingkungan
dari sistem
di dalam sistem

Apabila terjadi perpindahan energi dari lingkungan


ke sistem atau sebaliknya dihitung sebagai
perubahan energi antara keduanya yang dapat
dinyatakan juga dalam bentuk konversi energi

Energi Potensial
Energi yang tersimpan karena gravitasi dan tempat
kedudukan terhadap pusat bumi. Bila suatu zat
bermassa m melakukan kerja terhadap lingkungan,
maka:
W = -mg(z2 z1)

Bila tidak ada panas masuk atau keluar, maka:


E2 E1 = - W = mg(z2 z1)
Bila (z2 z1)> 0, maka energi dalam sistem akan
naik, dan kenaikan ini disimpan dalam bentuk
energi potensial, sehingga:
E = Ep

Energi Kinetik

Energi ini timbul karena ada gerak. Bila suatu patrikel


bermassa m dipercepat dari v1 ke v2 karena ada gaya dari
luar, maka akan ada usaha pada sistem yaitu:
x2

x2

dv
W F dx m dx
dt
x1
x1

Tetapi v = dx/dt atau dx = v dt, sehingga:


t2

dv
W v dx
dt
t1
- 1/2 mv 1 / 2 mv
2
2

2
1

Bila kerja ini berlangsung tanpa ada penambahan


panas pada sistem, maka:
E2 E1 = -W = mv22 mv12

Bila v2 > v1, maka energi sistem bertambah dan


kenaikan ini disimpan dalam bentuk energi kinetik
sehingga:
E = KE

Energi Dalam
Bila suatu sistem diam dan tidak ada perubahan
ketinggian tetapi sistem mengalami perubahan
volume, suhu dan tekanan, maka panas dan usaha
yang dipindahkan ke sistem ditampung sebagai energi
dalam, yaitu:
E2 E1 = Q W = U2 U1

Apabila ada perubahan ketinggan dan sistem bergerak


perubahan energi keseluruhan dalam sistem
menjadi:

E2 E1 = U2 U1 + ( mv22 - mv12) + (mgz2 mgz1)

Bila dikaitkan dengan ekspansi dalam suatu sistem


tertutup dan dinyatakan dalam persamaan neraca
hukum termodinamika pertama, maka persamaan
nergi dapat ditulis:
U KE + PE = Q W
Bila sistem tertisolasi maka berlaku:
Q=W=0
atau
E = Q W = 0
U + PE + KE = 0

Untuk sistem terisolasi yang ada hanya perubahan


ketinggian dan kecepatan maka berlaku:
PE + KE = 0

Persamaan Hukum Kekekalan Energi secara Umum

Persamaan hukum kekekalan energi diturunkan dari


hukum pertama termodinamika.
Perhatikan gambar 3.2
Ada satu aliran masuk 1 dengan ketinggian z1, dan satu
aliran keluar dengan ketinggian z2. Pada tengah sistem
ketinggian disebut z dan kecepatan gerakan v. Massa
masuk ke sistem dm1/dt dan keluar dm2/dt. Pada waktu
t total massa adalah m.
Fluida masuk (subscrib1) dan keluar (subscribe2)
mempunyai energi dalam U, suhu T, kecepatan v,
tekanan P dan volume persatuan massa V. Pada waktu t
sistem mempunyai energi dalam spesifik U, panas yang
ditambahkan ke sistem pada laju dQ/dt dan sistem
melakukan kerja ke lingkungan pada laju dW/dt.

Laju energi masuk ke dalam sistem:


(U1 + gz1 + v12)
Laju energi keluar dari sistem:
(U2 + gz2 + v22)
Total energi didalam sistem adalah:
(U + gz + v2)m
Bila energi kekal, maka:

(laju energi masuk) (laju energi keluar) = laju akumulasi energi

Laju akumulasi energi :

Laju energi masuk dan keluar sistem terdiri dari energi


masuk atau keluar yang berkaitan dengan massa dan
perpindahan panas dan usaha. Dalam hal ini panas
masuk ke sistem dan sistem melakukan usaha sebagai
output, sehingga:
Laju energi masuk = (U1 + gz1 + v12)

Laju energi keluar = (U2 + gz2 + v22)

Ganti kedua persamaan ini ke persamaan kekekalan


energi diperoleh:

Bila aliran masuk


persamaan menjadi:

dan

keluar

sistem

banyak,

maka

Persamaan ini adalah persamaan umum yang akan


dijadikan sebagai dasar pembentukan neraca energi
pada berbagai kasus.