Anda di halaman 1dari 6

Mengenal Kucing Di Sekitar Kita

Selasa, 20 Oktober 2009 03:00 Muhammad Abduh Tuasikal Hukum Islam -


Thoharoh Maksud
judul pada posting kali ini bukanlah untuk sekedar mengenal kucing,
namun kita akan lebih jauh meninjau hewan yang satu ini dari sabda
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga bermanfaat.

Dari Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫ت‬
ِ ,َ.‫ا‬012
0 3‫ْ وَا‬68ُ 9ْ :َ;
َ <
َ 9ِ.‫ا‬012
0 3‫< ا‬
َ =ِ ,َ>?0 ‫ ِإ‬B
ٍ C
َ Dَ Eِ ْFG
َ 9ْ 3َ ,َ>?0 ‫ِإ‬
“Kucing itu tidaklah najis. Sesungguhnya kucing merupakan hewan
yang sering kita jumpai dan berada di sekeliling kita. ” (HR. At Tirmidzi, Abu Daud, An Nasa’i, Ibnu
Majah, Ad Darimi, Ahmad, Malik. Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil no. 173 mengatakan bahwa
hadits ini shohih)

Sebab Abu Qotadah menyebutkan hadits di atas telah dipaparkan sebelum penyebutan hadits ini.
Dalam riwayat Abu Daud diceritakan dari Kabsyah binti Ka’ab bin Malik (dia adalah istri dari anak Abu
Qotadah, yaitu menantu Abu Qotadah). Wanita ini mengatakan bahwa Abu Qotadah pernah masuk
ke rumah, lalu dituangkanlah air wudhu padanya. Kemudian tiba-tiba datanglah kucing. Bejana air
wudhu lantas dimiringkan, lalu kucing itu minum dari bejana tersebut. Abu Qotadah pun melihat
wanita tadi merasa heran padanya. Abu Qotadah mengatakan, “Apakah engkau heran (dengan
tingkahku), wahai anak saudaraku?” Wanita tersebut lantas menjawab, “Iya.” Setelah itu, Abu
Qotadah menyebutkan hadits di atas.

:: Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari hadits di atas ::

Pelajaran Pertama

Kucing adalah binatang yang suci, namun haram untuk dimakan. Ada suatu kaedah: “Segala hewan
yang haram dimakan termasuk hewan yang najis.” Namun, dalam penjelasan Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam ini, ada pula hewan yang tidak dikatakan najis yang menyelisihi kaedah tadi. Kucing
memang pada asalnya najis karena kucing haram untuk dimakan. Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam memberikan alasan yang tidak kita temui pada hewan lainnya yaitu karena kucing adalah
hewan yang biasa kita temui di sekitar kita.

Jadi, faedah dari hadits ini: semua hewan yang haram dimakan dihukumi najis kecuali hewan yang
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hukumi suci dengan alasan yang tidak ditemui pada hewan
lainnya.

Pelajaran kedua

Kucing memang tidak najis. Namun apakah ini berlaku secara umum? Jawabannya: Tidak. Kucing
memang tidak najis pada: air liurnya, segala sesuatu yang keluar dari hidungnya, keringat, bekas
minum dan bekas makannya. Namun, pada kotoran dan kencing dari hewan tersebut tetap dihukumi
najis. Begitu pula darahnya dihukumi najis. Alasannya, karena kotoran, kencing dan darah pada
hewan yang haram dimakan juga dihukumi najis. Jadi, segala sesuatu yang berasal dari bagian
dalam tubuh dari hewan yang haram dimakan dihukumi najis, seperti kencing, kotoran, darah,
muntahan dan semacamnya.

Pelajaran ketiga

Jika kucing minum dari suatu wadah yang berisi air –sebagaimana diceritakan sebab Abu Qotadah
menyebutkan hadits ini-, maka air tadi tidak dihukumi najis, baik kucing tersebut meminumnya dalam
jumlah sedikit ataupun banyak. Alasannya, karena air yang ada di bejana Abu Qotadah tadi hanya
sedikit yang digunakan untuk berwudhu.

Pelajaran keempat

Tidak ada beda apakah kucing tersebut memakan sesuatu yang najis (semacam bangkai) dalam
jumlah yang banyak atau sedikit. Kenapa? Karena kemutlaqan ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam tadi. Nabi ucapkan dalam bentuk umum: “Kucing tidaklah najis”. Sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam mencakup baik kucing tadi makan sesuatu yang najis beberapa saat tadi atau
sudah dalam waktu yang lama. Jadi tidak boleh dikatakan, “Tadi saya lihat kucing tersebut makan
tikus, lalu sekarang minum air dari bejana tersebut. Maka air ini kita hukumi najis.” Hal ini tidak
demikian.

Pelajaran kelima

Dari hadits ini, maka benarlah kaedah yang biasa disebutkan oleh para ulama: “Al masyaqqoh tajlibut
taisir (Karena adanya kesulitan, datanglah kemudahan)”. Allah telah meniadakan najis dari kucing
karena kesulitan yang diperoleh yang sulit kita hindari yaitu kucing adalah hewan yang selalu kita
temui dan berada di sekitar kita. Seandainya kucing dihukumi najis padahal dia sering meminum air,
susu atau memakan makanan yang ada di sekitar kita, maka ini akan sangat menyulitkan. Oleh
karena itu, karena adanya kesulitan semacam ini, datanglah kemudahan yaitu kucing tidaklah najis.

Pelajaran keenam

Najis yang sulit dihindari dimaafkan jika kita terkena najis tersebut. Sebagaimana pendapat sebagian
ulama yang menilai darah itu najis (padahal menurut pendapat yang lebih kuat, darah tidaklah najis),
mereka mengatakan: darah yang jumlahnya sedikit selain yang keluar dari kemaluan dan dubur
dimaafkan.

Pelajaran ketujuh

Tikus juga termasuk hewan yang suci, namun haram dimakan. Alasannya sama dengan kucing,
karena tikus adalah hewan yang sering kita jumpai dan berada di sekitar kita.

Pelajaran kedelapan

Penjelasan dalam hadits ini menunjukkan kepada kita bahwa Allah sangat menyayangi
makhluk-Nya. Di saat kita mendapatkan kesulitan dan sulit dihindari, Allah akhirnya memberi
keringanan kepada kita. Bisa dikatakan demikian karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
dalam hadits ini: “Kucing ini tidaklah najis. Sesungguhnya kucing merupakan hewan yang sering kita
jumpai dan berada di sekeliling kita”.

Jadi, syariat Islam dibangun di atas rahmat, kemudahan dan penuh toleran. Kaedah ini dapat pula
kita telusuri pada firman Allah:

[َ G
ْ \ُ 3ْ ‫ ا‬6ُ 8ُ Eِ ]ُ ^ِ[^ُ ,َ3‫ َ[ َو‬G
ْ 9ُ 3ْ ‫ ا‬6ُ 8ُ Eِ _ُ 0:3‫ُ^[ِ^ ُ] ا‬
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al
Baqarah: 185)

‫ج‬
ٍ [َ c
َ ْ<=ِ <
ِ ^d]3‫ ا‬eِ. ْ68ُ 9ْ :َ;
َ f
َ \َ g
َ ,َ=‫َو‬
“Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (QS. Al Hajj: 78)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

_ُ hَ :َi
َ j
0 ‫]ٌ ِإ‬c
َ ‫< َأ‬
َ ^d]3‫د ا‬0 ,َn^ُ ْ<3َ‫ َو‬، ٌ[G
ْ ُ^ <
َ ^d]3‫ن ا‬
0 ‫ِإ‬
“Sesungguhnya agama itu mudah. Tidak ada seorangpun yang membebani dirinya di luar
kemampuannya kecuali dia akan dikalahkan.” (HR. Bukhari no. 39)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menasehati para sahabat yang ingin menghardik Arab
Badui,

<
َ ^ِ[G
d \َ =ُ ‫ا‬1ُq\َ hْ rُ ْ63َ‫ َو‬، <
َ ^ِ[G
d 9َ =ُ ْ6sُ qْ ِ\Eُ ,َt?0 uِ.َ
“Sesungguhnya kalian diutus untuk mendatangkan kemudahan. Kalian bukanlah diutus untuk
mendatangkan kesulitan.” (HR. Bukhari no. 6128)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

‫[ُوا‬wd Dَ rُ j
َ ‫[ُوا َو‬n
d Eَ ‫ َو‬، ‫[ُوا‬G
d \َ rُ j
َ ‫[ُوا َو‬G
d ^َ
“Berilah kemudahan, janganlah membuat sulit. Berilah kabar gembira, janganlah membuat orang lari.”
(HR. Bukhari no. 69)

Pelajaran kesembilan

Jika orang melihat sesuatu pada kita yang dirasa asing, maka hendaklah kita menghilangkan
keanehan yang dia anggap sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Qotadah tadi ketika Kabsyah
merasa aneh dengan apa yang dia lakukan.

Demikian apa yang kita kaji dan kita gali dari hadits ini. Semoga yang sedikit ini, bisa menambah ilmu
kita dan semoga bisa membuahkan amal sholeh.

Alhamdulillallahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa


‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Rujukan:

Fathu Dzil Jalali Wal Ikrom bisyarh Bulughil Marom, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin,
1/107-114, terbitan: Madarul Wathon Lin Nasyr.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel http://rumaysho.com

Pangukan, Sleman, 16 Shofar 1430 H

Tambahkan Komentar Baru


You are commenting as a Guest. Optional: Login below.
Tulis komentar anda disini.

Subscribe to all comments by email ▼

Subscribe to all comments by email


Do not subscribe to comments

Showing 10 of 13 comments

Urutan tampil Subscribe by email Subscribe by RSS

yudi 10/25/2009 07:59 AM

Bagaimana hukumnya jual beli kucing..? mohon jawabannya.. terima kasih


Flag

Muhammad Abduh Tuasikal 10/25/2009 01:32 PM in reply to yudi

Jual beli kucing adalah sesuatu yg diharamkan dan upahnya juga haram. Cara
memperoleh kucing tidak boleh melalui jalan jual beli. Boleh mendapatkannya dengan
hibah atau hadiah.

Lihat pembahasan kami pada link:


http://rumaysho.com/hukum-islam/muamalah/2033-j...
Flag

mohsiratas 10/25/2009 06:39 AM

pelajaran lainnya: boleh memelihara kucing tapi jangan pelihara kotoran dan kencingnya
sehingga baunya menggangu lingkungan kita......
Flag

ekas 10/24/2009 08:50 PM

Untunglah... karna sy dah tlanjur cinta ma kucing sy..


Flag

adisyuryadi 10/21/2009 08:45 AM

anak saya digigit dan dicakar kucing karena mengganggunya, adakah cara syar,i untuk
mengobatinya?
Flag

Muhammad Abduh Tuasikal 10/21/2009 08:46 AM in reply to adisyuryadi

Coba dengan air zam2, kalau punya.


Flag

adisyuryadi 10/21/2009 11:02 AM in reply to Muhammad Abduh


Tuasikal
syukron,
Flag

shohib 10/20/2009 06:58 PM

Masuk
Flag

kulithitam 10/20/2009 10:17 AM

Bulu kucing / (hewan yg disucikan) apa bila telah lepas dari tubuhnya (rontok) tetap duhukumi
najis. tolong dikasih penjelasan juga!
Flag

Muhammad Abduh Tuasikal 10/20/2009 10:39 AM in reply to kulithitam

Tetap dihukumi suci.


Flag

Tampilkan komentar selebihnya...

blog comments powered by Disqus

back to top

Artikel Lainnya:

Apakah Orang yang Bertaubat Wajib Mandi?


Artikel Sebelumnya:

10 Pelajaran dari Arab Badui yang Kencing di Masjid Nabi