Anda di halaman 1dari 25

Menguak Mitos dan Legenda dalam Balutan Industri Budaya

Eka Nada Shofa Alkhajar


Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sebelas Maret

Abstract
Nowdays, culture industry is one of very interesting subject. The
exploration and elaboration about it has been the subject of intense
debate over last few decades. We can say that culture industry now
become a phenomena. The culture industry concept is a thesis proposed
by Adorno and Horkheimer of the Frankfurt school. It contends that
culture industries exist to enforce (and reinforce) the capitalist ethos. Of
course, we cant separate this studies from several terms like commodity,
capitalism and pop culture because its related each other. This paper try
to describe how culture industry influence many aspects in our life
especially in both of myths and legends. There is a great formula in
capitalism that everything in our world can be exchanged into various of
commodities which can sell to the market.
Keywords: culture industry, commodity, myth, legend, capitalism, market
Pendahuluan
Dewasa ini industri budaya (culture industry) kian menyeruak
sebagai fenomena. Berbagai sisi kehidupan manusia sepertinya tidak
dapat lepas dari infiltrasi fenomena tersebut. Termasuk di dalamnya
adalah mengenai mitos atau legenda yang masih merupakan enigma pun
tak luput darinya. Secara jujur kalau kita ingin menilik lebih ke dalam
nampaknya industri budaya telah merasuk jauh ke segenap relung serta
sendi dunia realitas kita baik dalam makna sesungguhnya atau sekedar
metafisika.

Makna

dari

mitos (myth) itu sendiri adalah suatu cerita, pendapat atau anggapan
dalam konteks sebuah kebudayaan yang dianggap memiliki kebenaran
mengenai suatu ihwal yang pernah ada pada masa dahulu namun
kebenaran itu sendiri masih diragukan atau belum tentu benarnya.
Mitos berasal dari kata mutos (Yunani) yang berarti cerita atau sejarah
berisi dongeng yang dibentuk serta diriwayatkan mengenai masa lalu.

Dalam hal ini dapat berupa cerita dewa, pahlawan di masa lalu, kejayaan
orang masa lampau, mengenai asal usul alam semesta dan sebagainya
(Alkatiri, 1998: 2-6).
Senada dengan Alkatiri, J.A. Coleman dalam The Dictionary of
Mythology (2007) mengungkapkan bahwa mitos dapat berarti suatu kata,
cerita, pembicaraan dan sebagainya. Biasanya cerita yang dimaksud
bergulir secara lisan dari satu orang ke orang lain, dari generasi ke
generasi, berkisah mengenai pahlawan, tentang dewa-dewa atau pun
berkaitan dengan ide penciptaan. Beberapa dari mitos terekam dalam
catatan tertulis sehingga dapat diketahui hingga saat ini (Coleman, 2007:
7).
Chusmeru pernah mengungkapkan bahwa proses bergulirnya suatu
pesan melalui lisan atau dari mulut ke mulut yang dikenal sebagai
komunikasi

lisan/gethok

tular/word

of

mouth

dalam

terminologi

komunikasi termasuk dalam bentuk komunikasi non media (Alkhajar,


2010). Sementara itu, W.J.S. Poerwadarminta merinci bahwa legenda
(legend) merupakan cerita dari zaman dahulu yang bertalian dengan
peristiwa-peristiwa sejarah (Poerwadarminta, 1995: 578).
Beberapa kalangan tertentu menganggap bahwa legenda lebih dari
sekedar cerita sejarah masa lampau
mempunyai

suatu

kesakralan

berkaitan

karena hal tersebut dinilai


dengan

suatu

pantangan,

larangan, kewajiban dan sebagainya. Sebagian besar legenda memang


menceritakan sejarah. Dimana dapat berubah asal muasal suatu hal,
tempat, peristiwa atau mengenai kejayaan seseorang yang hidup di masa
lalu.

Proses

penyebaran

secara lisan atau word of mouth ini memungkinkan adanya suatu distorsi
berupa penambahan dalam cerita yang ada bahkan dapat berbeda sama
sekali dengan cerita pada awalnya karena adanya penambahan unsur
ataupun karakter dalam jalan cerita seriring dengan perubahan zaman
yang bergulir baik dalam mitos ataupun legenda.
Namun walau bagaimana pun, mitos dan legenda tersebut tetap
dapat tersampaikan dari generasi ke generasi karena adanya suatu alat
yakni bahasa. Oleh karena itu, mitos dan legenda dapat dikatakan sama

tuanya dengan bahasa. Tercatat manusia mulai mengenal bahasa kirakira sejak 300.000 sampai 200.000 tahun Sebelum Masehi (SM).
Sementara bahasa secara lengkap mulai digunakan kira-kira 35.000
tahun SM (Nurudin, 2007: 45). Beberapa mitos maupun legenda
senantiasa dipertahankan karena mampu memberikan suatu pelajaran
atau pesan teladan yang baik bagi kehidupan sehari-hari.
Beberapa pandangan menjelaskan bahwa
antara mitos dan legenda harus dibedakan. Akan tetapi dalam konteks
budaya yang senantiasa dinamis, kedua hal tersebut sering bersilang
sengkarut satu dengan lainnya dalam artian dalam mitos terdapat
legenda demikian pula sebaliknya. Sehingga fokus dari tulisan ini adalah
dalam konteks menguak infiltrasi dari industri budaya kepada berbagai
mitos dan legenda yang sudah jelas ataupun masih samar-samar
kebenarannya. Namun, satu hal yang pasti dalam industri budaya
bukanlah suatu perkara penting apakah itu mitos dan legenda itu benar
atau tidak. Hal yang utama dalam industri budaya adalah apakah hal-hal
tersebut dapat dijual dan laku di pasar atau tidak (Garnham, 1990;
Sussman, 1997; Mosco, 2009).
Menyelami Industri Budaya
Nicholas Garnham dalam tulisannya On the Cultural Industries
(1997), menjelaskan bahwa industri budaya merujuk pada institusiinstitusi dalam masyarakat yang mengolah moda khusus produks dan
organisasi korporasi guna memproduksi dan menyebarkan simbol-simbol
dalam bentuk benda-benda dan jasa budaya sebagai suatu komoditas
(Garnham, 1997).

Senada dengan Garnham, Fiske mengurai bahwa

industri budaya memproduksi repetoir barang-barang ataupun jasa


dengan harapan menarik khalayak dan menyertakan khalayak sebagai
konsumen komoditas tersebut (Storey, 2007: 32). Dengan kata lain, ada
suatu komodifikasi terhadap berbagai mitos atau legenda dari manusiamanusia yang dapat dikatakan misterius tersebut. Bentuk komodifikasi
itu dapat berupa film, game, novel, buku, serial televisi sampai pada
berbagai

pertunjukkan

hiburan

bahkan

pariwisata.

Merujuk

pada

pendapatnya Gerald Sussman (1997), hal ini merupakan sebuah industri

baru yang melakukan komodifikasi terhadap segala sesuatu (Sussman,


1997: 34-35).

Dalam

Websters

New

World Encyclopedia (1992), komodifikasi sendiri berasal dari bahasa


Inggris comodification dimana akar kata tersebut adalah comodity
yakni something produced for sale. Komoditas merupakan suatu objek.
Sementara, komodifikasi itu sendiri adalah prosesmeminjam uraian
dari Mosco (2009) adalah suatu cara dimana kapitalisme berupaya
mengakumulasi modal (capital). Singkat kata, adalah suatu transformasi
atau perubahan dari nilai fungsi atau guna menjadi nilai tukar.
Kapitalisme

sendiri

menurut

Karl Marx merupakan suatu sistem ekonomi yang memungkinkan


beberapa individu menguasai sumberdaya produksi vital yang mereka
gunakan untuk meraih keuntungan maksimal (Sanderson, 1993: 169;
Bungin, 2001: 29). Akan tetapi tidak hanya itu, kapitalisme sebagai mode
of production kini telah masuk ke berbagai ranah kehidupan baik politik,
sosial, budaya dan sebagainya.
Bahkan Francis Fukuyama dalam tesisnya mengatakan bahwa
setelah kapitalisme dan demokrasi liberal muncul serta berkembang
maka hal ini merupakan tahap akhir dari proses penciptaan ide dalam
sejarah. Dengan kata lain, ke depan tidak akan ada ide baru. Tidak ada
lagi peristiwa-peristiwa dan kemajuan-kemajuan besar lain di dunia ini
yang dipandang penting untuk dicatat dalam majalah, surat kabar, radio,
televisi dan media massa atau elektronik lainnya. Kapitalisme maupun
demokrasi liberal Amerika Serikat sebagaimana diurai Fukuyama akan
menjadi panutan di dunia dan dengan demikian berakhirlah sejarah
dunia. Akan tetapi tesis ini sebenarnya sudah patut dimuseumkan apalagi
dalam memahami peradaban kontemporer karena sejarah sejatinya
merupakan siklus yang terus berputar (Fukuyama, 1992; Fukuyama dan
Huntington, 2005: 7-8). Tentu kita bersama mengetahui bahwa Amerika
Serikat kini sedang mengalami permasalahan dalam ekonominya dimana
China kini merupakan kreditor terbesar bagi negara adidaya tersebut.
Kritik terhadap Industri Budaya
Salah satu tulisan Theodor Adorno dan Max Hokheimer

berjudul The Culture IndustryEnlightenment as Mass Deception


dalam Dialectic of Enlightenment (1972) mengungkapkan kritiknya
mengenai industri budaya. Sebagai penganut aliran kritis mazhab
Frankfurt, mereka menilai bahwa kini kebudayaan didominasi berbagai
komoditas yang diproduksi oleh industri budaya dimana komoditaskomoditas

yang

kebutuhan

untuk

dihasilkan

oleh

menyadari

industri

nilainya

di

budaya
pasaran

diarahkan

oleh

dimana

motif

keuntungan menentukan berbagai bentuk budaya yang akan dijual


(Adorno dan Hokheimer, 1972; Adorno, 1991: 86-87).
Adorno dan Hokheimer menilai bahwa kapitalisme dalam era
modern menyediakan dan mengadakan industrialisasi terhadap semua
hal termasuk waktu luang dan area budaya kehidupan yang tidak pernah
diperhatikan produk kapitalis sebelumnya dimana kapitalisme didorong
oleh logika mencari dan kemudian memenuhi pasar-pasar baru (Inglis,
1990: 114). Dari sini akan dihasilkan suatu budaya massa atau budaya
populer

yang

merupakan

produk

nyata

dari

pencerahan

semu

kapitalisme. Pencerahan semu adalah pencerahan melalui komoditas dan


komodifikasi seluruh aspek kehidupan (Piliang, 1999: 32-33).
Budaya Populer (Pop Culture)
Komoditas-komoditas

yang

diproduksi

dan

dilemparkan

kepada khalayak perlahan tapi pasti akan menjadi budaya massa atau
budaya populer yang sangat menjanjikan peluang pelipat gandaan
kapital dari budaya populer itu sendiri. Apalagi budaya populer itu sudah
merasuk dan hidup di tengah-tengah khalayak. Hal yang diperlukan
kapitalisme hanyalah memproduksi ulang dengan berbagai variasi yang
berbeda untuk kemudian dijual kembali kepada khalayak. Dalam arti
diproduksi dan direproduksi untuk mencari nilai lebih dari nilai tukar
(exchange-value) (Piliang, 1999: 33).
Salah

satu

alat

ampuh

dalam

upaya

penyebaran budaya populer ini adalah media massa. Merujuk pada


pandangan Stuart Hall, media massa merupakan instrumen yang penting
dari kapitalisme abad ke-20 bahkan hingga saat ini (Lury, 1998: 62-63).
Ini tidak lepas bahwa media massa dengan berbagai bentuknya,

meminjam istilah Jean Baudrillard dalam In the Shadow of the Silent


Majorities (1983)media mempunyai logika sendiri dalam menangkap
realitas. Realitas disini tentunya adalah berbagai mitos ataupun
legenda ada maupun berkembang dalam masyarakat. Hal ini tidak dapat
dipungkiri karena realitas tersebut telah masuk ke dalam sebuah industri
budaya (culture industry) (Alkhajar, 2010).
Dominic Strinati mengingatkan bahwa budaya populer harus
dipandang sebagai sekumpulan genre, teks, citraan dan representasi
yang bermacam-macam dan bervariasi yang dapat dijumpai dalam
berbagai media (Strinati, 2009: 77). Secara lebih mudah mitos dan
legenda yang ada dapat dikatakan merupakan suatu teks sehingga
kalaupun harus membaca setidaknya kita tengah membaca suatu teks
populer. Dan tidak dapat ditutupi, para penggemar adalah bagian paling
tampak dari khalayak teks dan praktik budaya populer (Storey, 2007:
157).

Sementara itu, Henry Jenkins mengatakan salah satu

ciri utama yang menandai moda pemberian (makna) budaya penggemar


dalam teks-teks media adalah dengan melihat cara penggemar menarik
teks mendekati ranah pengalaman hidup mereka, peran yang dimainkan
melalui pembacaan kembali dalam budaya penggemar dan proses yang
dengannya informasi program dimasukkan ke dalam interaksi sosial yang
terus menerus (Jenkins, 1992: 53; Storey, 2007: 162-163). Sebagaimana
diuraikan Jenkins:
Teks ditarik mendekat bukan agar penggemar bisa dimiliki olehnya
melainkan

sebaliknya

agar

penggemar

bisa

lebih

penuh

memilikinya. Hanya dengan mengintegrasikan isi media kembali


dalam kehidupan sehari-hari, hanya dengan keterlibatan yang karib
dengan makna dan materinya, para penggemar bisa mengonsumsi
fiksi dan menjadikannya sebagai sumber daya yang aktif (Jenkins,
1992: 62).
Dalam Bond and Beyond (1987), Tony Bennett dan Janet Woollacott
mengurai bagaimana cara-cara budaya industri memproduksi dan
mereproduksi suatu figur melalui teks dan praktik budaya secara

beragam.

Bennett

dan

Woollacott

secara

lebih

jauh

hendak

mengeksplorasi mengapa dan bagaimana teks-teks tersebut mampu


menciptakan daya tarik. Melalui cara-cara yang berbeda dengan alasanalasan yang berbeda serta memastikan popularitasnya akan terus
berlangsung (Bennett dan Woollacott, 1987: 20). Sehingga tidak heran
apabila kerap diciptakan semisal festival tahunan yang berkaitan dengan
suatu mitos atau legenda tertentu di berbagai belahan dunia ini. Dalam
konteks contoh di sini adalah Festival Robin Hood, Peringatan Kematian
Man In the Iron Mask dan sebagainya.
Kaitan Khalayak dan Teks Populer
Sebagaimana

dikutip

dari

Storey

(2007:

8),

Lawrence

Grossberg (1992) menyimpulkan secara apik mengenai kaitan khalayak


dan teks popular. Ia menuliskan bahwa:
Kita harus mengakui bahwa sebagian besar hubungan antara
khalayak dan teks popular adalah hubungan yang aktif dan
produktif. Makna teks tidak diberikan pada beberapa rangkaian
kode yang tersedia secara terpisah dimana kita bisa
mengonsultasikannya kapan saja kita sempat. Sebuah teks tidak
menyandang politik atau maknanya sendiri yang telah ada di dalam
dirinya sendiri; tak ada teks yang mampu menjamin efek apa yang
akan terjadi. Orang-orang terus-menerus bersusah payah, bukan
semata-mata menyimak dengan apa makna sebuah teks, tetapi
untuk membuat sesuatu yang terkait dengan kehidupan,
pengalaman, kebutuhan serta hasrat mereka sendiri menjadi
bermakna. Teks yang sama bermakna berbeda bagi orang yang
berbeda tergantung pada bagaimana teks itu diinterpretasikan.
Dan orang yang berbeda punya sumber daya interpretatif yang
berbeda sebagaimana mereka punya kebutuhan yang berbeda.
Sebuah teks hanya dapat bermakna sesuatu dalam konteks
pengalaman dan situasi khalayaknya. Yang tak kalah penting, teks
tidak mendefinisikan bagaimana teks-teks itu digunakan atau
fungsi-fungsi apa yang bisa dijalankan sebelumnya. Teks-teks dapat
mempunyai kegunaan yang berbeda bagi orang yang berbeda
dalam konteks yang berbeda Bagaimana sebuah teks yang
spesifik digunakan, bagaimana teks itu diinterpretasikan,
bagaimana ia berfungsi bagi khalayaknyasemua ini terkait erat
lewat pergumulan khalayak yang terus-menerus guna memahami
dirinya sendiri dan dunianya, bahkan lebih dari itu, mewujudkan
tempat yang lebih baik bagi dirinya sendiri di dunia (Grossberg,
1992: 52-53).

Akan tetapi media massa sebagai agen utama penyebaran budaya


populer berupa teks populer tidak lepas dari kritik Noam Chomsky. Salah
satu pemikir kenamaan ini mengatakan bahwa fakta berupa teks
populer yang disajikan media massa dapat berarti hanyalah hasil
rekonstruksi dan tidak sepenuhnya merupakan fakta yang sebenarnya.
Karena itu sebagaimana diungkapkan Denis McQuail, harus disadari
bahwa media massa merupakan alat ampuh dalam perebutan makna
sekaligus

memiliki

kekuatan

maha

dahsyat

dalam

mempengaruhi

masyarakat (McQuail, 2002; Chomsky, 2005). Namun proses penyebaran


berbagai teks tersebut tentunya kian dipermudah dengan adanya
globalisasi yang menurut Anthony Giddens mempunyai berbagai dimensi
pengaruh apalagi globalisasi telah menyebabkan dunia berada di luar
kendali kita (runaway world) serta merombak cara hidup kita secara
besar-besaran (Giddens, 2004: xiv-xvi).

Dalam industri budaya, tidak

peduli apakah mitos dan legenda itu adalah realitas yang berasal dari
yang nyata atau bahkan hanya fiksi dan fantasi dalam pijakan dasar
teksnya. Yang paling utama adalah teks tersebut laku dijual dan mampu
menjadi sumber kesenangan. Hal ini senada sebagaimana pernah
diungkapkan Ien Ang bahwa fiksi dan fantasi adalah sumber kesenangan
sebab ia menempatkan realitas dalam selingan karena ia membangun
solusi imajiner bagi kontradiksi-kontradiksi nyata (Ang, 1985; Bennett,
et.al, 1986; Ashley (ed), 1989; Bennett, (ed), 1990).
Sementara

itu,

John

Fiske

(1987)

berpendapat bahwa komoditas budaya yang memunculkan budaya massa


setidaknya tersebar dalam dua ekonomi sekaligus yakni ekonomi
finansial dan ekonomi kultural. Ekonomi finansial terutama menaruh
perhatian pada nilai tukar, sedangkan ekonomi kultural terutama
berfokus pada nilai gunamakna, kesenangan dan identitas sosial.
Dimana interaksi antara dua ekonomi ini senantiasa berlangsung secara
kontinu. Komoditas budaya yang berupa teks-teks tadi dapat dijual
sekaligus menjadi sebentuk makna dan kesenangan bagi khalayak
setelah terlebih dahulu tentunya melalui proses logika ekonomi. Fiske
menegaskan bahwa semua itu terletak pada khalayak yang melakukan

konsumsi (Storey, 2007: 31-32).


Membaca budaya popular berkaitan dengan
konsumsi. Ideologi konsumerisme seakan menjadi pencarian yang tiada
akhir dan tak mengenal habisnya. Setidaknya janji yang dibuatnya adalah
bahwa konsumsi merupakan jawaban dari semua masalah kita, konsumsi
akan membuat kita utuh kembali, konsumsi akan membuat kita penuh
kembali, konsumsi akan membuat kita lengkap lagi, konsumsi akan
mengembalikan kita pada kondisi imajiner yang diliputi kebahagiaan
(Fiske, 1989).
Mitos dan Legenda Sebagai Komoditas
Berikut ini akan disajikan suatu lacakan yang akan
memberikan gambaran betapa industri budaya telah merubah berbagai
hal menjadi semacam komoditas budaya populer yang tentu saja
berkaitan dalam rangka menceburkan diri dalam rimba ataupun lautan
kapitalisme. Beberapa mitos dan legenda ini dapat dikatakan hingga saat
ini senantiasa diawetkan, diproduksi ulang, dikemas, hingga dapat
menjadi sebentuk komoditas yang laris dan laku untuk dijual. Semisal
menjadi sebuah potensi wisata, festival ataupun produk-produk industri
budaya seperti serial televisi, film, lagu, komik, kartun, game, dan
sebagainya (Garnham, 1990; OConnor, 2000; Hesmondhalgh, 2002: 12).
Jack the Ripper
Anda tentu pernah mendengar nama Jack the Ripper. Mendengar
sosok

ini

pikiran

kita

tentu

akan

melayang

pada

kisah

misteri

pembunuhan sadis di London yang belum pernah terungkap hingga saat


ini. Deskripsi kesadisan dari peristiwa itu dapat dilihat dari kondisi
korban yang mengenaskan seperti sayatan pada rahang, isi perut dan
organ-organ yang terburai, tusukan di tubuh, leher bahkan kemaluan
merupakan bukti betapa kejamnya pelaku dalam menghabisi para
korbannya (Kelly, 1973; Saputra, 2010).
Akibatnya berbagai spekulasi pun menyelimuti kasus ini. Ada
yang menyebut hal itu dilakukan oleh kelompok agama tertentu sampai
tudingan kepada orang Yahudi. Aroma magis dan mistik pun tidak jauh
dari misteri ini karena korban dibunuh tanpa meninggalkan jejak yang

berarti. Seolah menghilang dalam kabut malam kelam ketika itu. Namun,
apabila ditinjau dari sisi kriminologi, kasus ini merupakan fakta
perubahan masyarakat sosial yakni perubahan dari masyarakat agraris
menuju masyarakat industri yang selalu memunculkan tipe kejahatan
baru. Tidak dapat dipungkiri, Jack the Ripper pun kini telah menjadi
legenda.
resmi

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari situs


polisi

metropolitan

London,

www.met.police.uk

(2011).

Pembunuhan dilakukan secara beruntun dalam rentang waktu 3 April


1888 hingga 13 Februari 1891. Sementara, jumlah korban sebanyak 11
orang. Pembunuhan secara acak tanpa pola ditambah tidak ada jejak
berarti membuat kasus ini tak terungkap. Bahkan tidak ada yang
mengetahui identitas sejati dari pelaku pembunuhan spesialis wanita
tuna susila tersebut hingga saat ini. Teka-teki siapa Jack The Ripper
masih senantiasa segar dalam memori kolektif segenap warga di
berbagai belahan dunia ini.

Kisah

Jack The Ripper memang demikian menarik perhatian sejak dahulu


bahkan hingga masa kini. Sutradara terkenal sekaliber Alfred Hitchcock
pun pernah mengangkat perihal tokoh misterius ini dalam filmnya
dimana terbukti mendatangkan sukses pertama baginya. Film tersebut
berjudul The Lodger yang dirilis pada tahun 1926. Sebuah film misteri
yang berkisah tentang Jack the Ripper (Anom, 2003).
Demikian pula dengan Albert Hughes
dan Allen Hughes yang menyutradai film From Hell (2001). Film ini
merupakan versi terbaru dari Hollywood tentang Jack The Ripper, yang
jati dirinya masih mengundang kontroversi hingga saat ini. Jack the
Ripper, pembunuh serial pertama yang dikenal dunia yang menjadikan
pelacur-pelacur London sebagai mangsanya seakan menjadi ruang
eksplorasi

dalam

membentuk

komoditas

karena

memang

tersedia

demikian luas (Inglis, 1990).


Satu hal yang pasti jualan utama dari film ini adalah sosok Jack The
Ripper. Eksplorasi semacam ini ditenggarai tidak akan berhenti bahkan
hingga masa yang akan datang karena memang Jack The Ripper sudah
termasuk apa yang dinamakan industri budaya yang memang mencoba

mencari hal-hal baru untuk diangkat, diproduksi atau direproduksi ulang


untuk mencari nilai lebih dari nilai tukar (exchange-value) (Piliang, 1999:
33).

Pernyataan Jack the Ripper mungkin

benar bahwa Satu hari orang-orang akan menengok ke belakang dan


berkata, akulah yang melahirkan abad ke-20. Tidak dapat dipungkiri
kisah enigma mengenai Jack The Ripper ini pun telah menjadi sebuah
budaya populer di kalangan masyarakat yang bertahan dari masa ke
masa.
Lalu bagaimana perihal Jack The Ripper masa kontemporer ini.
Menilik realitas kekinian, akan sangat menarik untuk kita mengikuti
liputan wartawan Kompas, Sarie Febriane yang dimuat Kompas, Minggu,
30 Mei 2010 pada rubrik Tren Perjalanan. Liputan perjalanan Febriane,
mengungkapkan bahwa setelah dua abad kisah pembunuhan berantai
yang sadis tersebut legenda Jack The Ripper yang mendunia masih
membius dan hal ini kemudian dikemas dengan baik menjadi obyek
wisata. Nampaknya pemerintah Kota London demikian melek terhadap
potensi emas yang ada pada kawasan ataupun cerita Jack The Ripper ini.
Wisata mengerikan bermodal kisah suram di masa lampau menjadi salah
satu komoditas pariwisata London. Promosi wisata jenis itu juga
terpampang di bus-bus. Sebagai contoh, kekejian dan kengerian menjadi
atraksi turis di The London Dungeon, yang dibuka sejak 1976.
Di

museum

kekejian

di

The

London

Dungeon di Tooley Street ini fantasi kengerian telah dikomodifikasi.


Sadisme, kekejian, kengerian, betul-betul dieksplorasi menjadi komoditas
pariwisata. Museum ini menyajikan atraksi kisah-kisah berdarah di
London dari masa lampau dengan efek khusus. Hanya dengan uang 22,5
pounds (Rp. 309.100) khalayak dapat menyelami berbagai kisah sadis,
seperti Jack The Ripper, Sweeney Tod, hingga Bloody Mary. Kisah suram
dan mengerikan di masa lampau menjadi komoditas pariwisata yang
dikelola serius.
Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan Adorno (1991: 86-87)
bahwa

komoditas-komoditas

yang dihasilkan

oleh

industri

budaya

diarahkan oleh kebutuhan untuk menyadari nilainya di pasaran dimana


motif keuntungan menentukan berbagai bentuk budaya yang akan dijual.
Man in The Iron Mask
Demikian halnya dengan Man in The Iron Mask. Identitas
sesungguhnya dari sosok misterius bertopeng besi dari Perancis ini
hingga kini masih menjadi pertanyaan. Kisah mengenai sosok manusia
misterius ini berasal dari masa rezim pemerintahan Louis XIV (16431715). Pada masa itu kekuasaan raja bersifat mutlak (absolute and
unquestioned). Sebagaimana terekam dalam ungkapan Louis XIV begitu
terkenal:

Letat,

cest

moi!

(negara

adalah

saya).

Raja

dapat

memenjarakan siapapun sekehendak hatinya dan pada masanya banyak


orang yang dipenjarakan baik karena intrik politik, kritik yang dirasa
tidak pantas ataupun alasan-alasan lain (Yanne, 1993; The Straight Dope,
2011).

Perihal

informasi mengenai pria penuh misteri tersebut pertama kali ditemukan


dalam buku catatan Lieutenant Etienne du Junca, seorang pejabat
Penjara Bastille (Oktober 1690-September 1706). Menurut Theodore
M.R. von Keler, catatan du Junca merupakan sumber yang paling penting
dan utama berkaitan dengan informasi pengelolaan Penjara Bastille pada
masa Louis XIV (von Keler, 1923).
Berbagai kemungkinan telah ditemukan akan tetapi
tidak jarang cerita mengenainya merupakan gabungan dari berbagai
cerita lain yang saling bertautan dan dapat dikatakan berasal lebih dari
satu cerita atau tokoh. Salah satu karya yang sering dijadikan pijakan
adalah Alexandre Dumas, Man In The Iron Mask (2002). Sebuah novel
yang dijadikan acuan bagi berbagai film di Eropa dan Amerika mengenai
sosok misterius ini. Namun, sayangnya banyak hal dalam novelnya yang
merupakan fiktif dan rekaan Dumas semata. Sebagai contoh, film Man In
The Iron Mask (1998). Film ini sutradarai oleh Randall Wallace, dengan
aktor utama Leonardo DiCaprio. Film ini meraih total pendapatan di
seluruh dunia sebesar 182.968.902 dollar AS merupakan film yang
terinspirasi dari sosok misterius tersebut.
Kini mitos seputar tahanan bertopeng hidup hari ini dalam

film, buku, drama, dan puisi. Oleh karena itu, ketenarannya melampaui
fakta-fakta sejarah. Meminjam istilah, Jean Baudrillardkisah tahanan
bertopeng telah berubah menjadi hiperrealitas (realitas semu) dan
merupakan sebuah lahan subur untuk menggerakkan industri budaya
karena mitos tersebut hingga saat ini masih merupakan enigma dan yang
paling utama adalah senantiasa memancing rasa penasaran publik
sehingga laku untuk dijual (Alkhajar, 2007).
Tidak hanya itu, mitos mengenai topeng besi telah merasuk dalam
imajinasi populer publik. Di akhir tahun 1700, saat revolusi meletus,
ketidakpuasan terhadap berbagai hak istimewa para bangsawan dan
berbagai tirani menemukan simbol perlawanan pada tahanan bertopeng
yang tidak pernah diketahui identitasnya hingga akhir hayatnya.
Penjaranya, Bastille, telah menjadi simbol utama dari tirani dan
penindasan.

Revolusi

Perancis

terjadi tahun 1789 dimana rakyat menjebol penjara Bastille yang


merupakan lambang monarki absolut pemimpin pemerintahan para raja
(Louis) berlanjut dengan putusnya kepada raja sekeluarga di alat
pemenggal kepala (guillotine), yang sesungguhnya dipersiapkan untuk
lawan-lawan politik raja Perancis. Seluruh keluarga raja dieksekusi pada
musim dingin tahun 1972-1973 (Syafiie dan Azikin, 2007: 45; Wilde,
2011).

Mitos manusia bertopeng besi ini juga

menjadi alat legitimasi pemerintah Perancis pada masa pemerintahan


Napoleon Bonaparte. Dimana ada teori yang berkembang bahwa saat
dipenjara pria bertopeng tersebut sempat menikah dan menjadi seorang
ayah dari seorang bayi. Dalam kondisi mengandung istrinya berpindah ke
Corsica dan melahirkan seorang anak laki-laki di sana. Perempuan
tersebut memberikan nama: Napoleon Bonaparte. Oleh karena itu,
Napoleon Bonaparte merupakan keturunan langsung yang sah dari Raja
Perancis karenanya ia memiliki hak ilahi untuk menggulingkan monarki.
Banyak pihak yang mengatakan bahwa teori ini cenderung mengada-ada
dan sekedar sebagai alat legitimasi penguasa Perancis ketika itu (The
Straight Dope, 2011).

Raja Arthur
Kisah mengenai Raja Arthur yang dapat dikatakan
penuh dengan mitologi pun tidak luput dari pandangan industri budaya
dimana berbagai kisah yang sesungguhnya belum jelas ini pun tetap
merupakan komoditas yang potensial untuk digarap yang tentunya akan
menghasilkan keuntungan. Apalagi banyak orang yang tertarik dan
penasaran terhadap Raja Arthur yang misterius dan legendaris ini. Hal
terlihat jelas dari berbagai studi yang berkaitan dengannya (Castleden,
2000; Higham, 2002).
Dengan adanya peluang besar tersebut, industri budaya pun segera
melakukan pekerjaannya. Hasil komodifikasi pun dilakukan semisal
dalam bentuk novel, buku, film, film animasi ataupun program siaran
radio tentunya dengan pijakan yang berkisar pada mitologi Raja Arthur.
Sebut saja T.H. White, seorang penulis hebat yang mencoba mengangkat
kembali kisah klasik Raja Arthur dalam novelnya The Sword in the Stone
(1938). Kisah mengenai masa kecil Raja Arthur ini disajikannya demikian
memikat yang mana telah mengkombinasikan antara elemen legenda,
sejarah, fantasi dan humor. White berhasil menghidupkan kembali
mengenai Raja Arthur dalam novelnya menjadi demikian hidup, fantastis
dan terlihat nyata. Ia berhasil menggiring pembaca untuk menyelami ke
zaman

pertengahan

dan

mengungkapkan

cerita

lama

ini

melalui

pendekatan yang baru dan menyenangkan bahkan banyak pengamat


yang memberikan apresiasi atas karya White ini. Selanjutnya Walt Disney
mengadopsi cerita White untuk membuat film animasi dengan judul yang
sama yang dirilis pada tanggal 25 Desember 1963. Film ini merupakan
film animasi ke-18 dari rangkaian film animasi klasik Walt Disney, yang
juga merupakan film animasi terakhir yang dirilis di saat Walt Disney
masih hidup. Selain itu, BBC pun mengadopsinya ke dalam program
radio (http://arthurianadventure.com/sword_in_the_stone.htm, diakses 20
Mei 2011; http://www.bbc.co.uk/programmes/b00gd7mk, diakses 21 Mei
2011).

Tidak berhenti di sini, Marion Zimmer Bradley

menulis novel yang berkaitan dengan mitologi seputar Raja Arthur


berjudul The Mists of Avalon (1982). Novel fantasi ini pun menjadi

bestseller dan diadopsi ke dalam sebuah mini seri di Turner Network


Television (TNT) yang merupakan American TV Channel pada tahun 2001
dengan sutradara berkebangsaan Jerman, Uli Edel. Dimana sang
sutradara pernah memenangi Bavarian Film Award (1989) dan Golden
Globes dalam kategori Best Mini-Series or Motion Picture Made for TV
(1997) (Bianco, 2011). Sementara itu, film animasi yang relatif baru
berjudul Quest for Camelot (1998) juga telah diproduksi Warner Bros
Animations yang menceritakan kisah seorang wanita muda bernama
Kayley yang ingin menjadi seorang ksatria dari Meja Bundar di Camelot
seperti ayahnya Sir Lionel.
Ceritanya lagi-lagi mengangkat kaitan kisah Raja Arthur yakni
Ksatria dan Meja Bundar. Pada layar lebar, pesona Raja Arthur pun
seakan tidak memudar setidaknya beberapa judul film dengan berbagai
angle, setting dan cerita berbeda bahkan dapat terbilang tidak ada yang
konsisten. Namun sekali lagi tentunya logika industri budaya tidak
memandang penting arti konsistensi ataupun kebenaran suatu kisah
klasik (mitologi) dimana yang ada hanyalah mengakumulasi modal dan
membuat komoditas yang dapat diterima oleh pasar. Di antara film-film
tersebut adalah: Film Excalibur (1981), karya John Boorman, yang
mengangkat kembali legenda Raja Arthur dan Ksatria Meja Bundar
merupakan hasil adopsi kisah yang ditulis Thomas Malory, Le Morte
d'Arthur pada abad ke-15. Produksi film ini menghabiskan dana sebesar
$ 11.000.000 akan tetapi menjadi box office dan meraup keuntungan
sebesar

34.967.437

(http://boxofficemojo.com/movies/?

page=main&id=excalibur.htm, 20 Juni 2011).


Tidak berhenti sampai di situ, tepatnya 14 tahun kemudian muncul
film First Knight (1995). Film yang disutradarai Jerry Zucker ini pun
diilhami legenda Raja Arthur. Tercatat beberapa pemain bintang yang
bermain dalam film tersebut antara lain: Richard Gere sebagai Lancelot,
Julia Ormond sebagai Guinevere, dan Sean Connery sebagai Raja Arthur.
Film ini berhasil mendapatkan domestik bruto $ 37.600.435 dan $
90.000.000

di

mendapatkan

pasar
$

luar

negeri,

127.600.435

secara
di

keseluruhan,
seluruh

film

ini

dunia

(http://boxofficemojo.com/movies/?id=firstknight.htm,
2011).

diakses

20

Juni

Kemudian film King Arthur (2004). Film dengan

durasi 140 menit ini cukup menarik untuk membangkitkan rasa


penasaran mengenai sejarah mengenai kekaisaran Inggris. Walaupun
dalam beberapa tokoh semisal Lancelot dan Guinevere dalam film ini
ditampilkan dengan karakter yang berbeda dengan berbagai legenda
yang ada. Terobosan sang produser Jerry Bruckheimer, sekali lagi
mengangkat film yang berkisah mengenai Raja Arthur dan Ksatria Meja
Bundar. Film ini dibintangi antara lain oleh Clive Owen, Keira Knightley,
Hugh Dancy dan Ioan Gruffudd. Apabila di film-film mengenai Raja
Arthur dan Ksatria Meja Bundar senantiasa beraroma sihir dan mistis.
Dalam film ini angle yang diambil dapat dikatakan berbeda karena
merujuk pada salah satu sejarah asal mula legenda Arthurian yakni
Artorius Castus, pemimpin pasukan Sarmatian Romawi yang ditugaskan
di Inggris. Lalu bagaimana dengan pendapatan yang didapat dari film
ini? Dapat ditebak hasilnya luar biasa. Pendapatan secara domestik
mencapai $ 51.882.244 dan $ 151.685.613 di pasar luar negeri, secara
keseluruhan

film

ini

mendapatkan

(http://boxofficemojo.com/movies/?id=kingarthur.htm,
2011).

203.567.857
diakses

20

Juni

Gelimang potensi kapital dari legenda Raja Arthur ini

dapat dikatakan senantiasa siap untuk diproduksi dan reproduksi ulang


dalam balutan industri budaya. Reinkarnasinya nampaknya tidak akan
berhenti sampai di sini. Dan faktanya benar, sebagaimana diungkapkan
Stuart Heritage dalam The Guardian, bahkan baru-baru ini reinkarnasi
dari kisah Raja Arthur ini kembali bangkit. Tepatnya pada program
televisi Camelot (Heritage, 2011).

Sepertinya

logika

industri budaya untuk senantiasa mengemas kisah Raja Arthur menjadi


komoditas tidak akan pernah ada habisnya. Sepertinya, jawaban apakah
Raja Arthur merupakan legenda atau rekaman sejarah yang nyata akan
tetap tersimpan dan menjadi milik masa lalu, hingga dunia dengan
segenap

pengetahuan

mampu

untuk

menyingkap

kabut

yang

menyelubungi sekaligus membuktikannya.


Namun, tidak berhenti pada ranah industri

budaya an sich, sosok legendaris Arthur pun kerap digunakan sebagai


alat yang bersinggungan dengan politik atau menjadi alat legitimasi.
Sebagai contoh adalah perihal penemuan makam Arthur oleh para
biarawan setidaknya memiliki daya tarik sendiri walaupun banyak
disanggah oleh berbagai pihak yang meyakini bahwa Arthur masih hidup
dan akan kembali suatu saat nanti.
Hal yang paling jelas adalah bahwa ada kemungkinan para
biarawan melakukan hal tersebut dengan motif untuk mengumpulkan
dana untuk membangun kembali Glastonbury. Sebagaimana tercatat
dalam sejarah, sebuah kebakaran hebat pada 1184 di Glastonbury
menghancurkan bangunan-bangunan biara. Sehingga penemuan makam
tersebut diharapkan dapat menarik uang dari para donatur kaya dan
para peziarah. Terbukti hingga kini para peziarah terus berdatangan
secara

berbondong-bondong

(Greene,

1992;

Michelsson,

2008:

3;

Koerner, 2011). Selain itu, bukan sesuatu yang tidak mungkin bahwa
Henry II menginginkan penguatan total keyakinan mengenai kembalinya
Arthur, yang mungkin telah diinisiasi oleh penemuan makam Arthur
dalam rangka merayakan kelahiran cucunya, Arthur of Brittany. Menilik
hal ini, Leslie Alcock mengatakan kemungkinan adanya latar belakang
politik dari ditemukannya makam Arthur tersebut (Alcock, 1971).
Studi

Elisabeth

Michelsson

(2008), setidaknya membuktikan bahwa legenda Arthur dan segala yang


berkaitan dengannya kerap digunakan sebagai alat legitimasi politik
bahkan belum berakhir ketika Inggris memasuki masa reformasi.
Beberapa raja Inggris yang menggunakannya sebagai legitimasi politik
antara lain Edward I, Edward III, Henry II, Henry VIII dan Henry Tudor
(Michelsson, 2008: 1-11). Michelsson juga mengurai bahwa konteks
historis dari penemuan makam Arthur dapat dikaitkan dengan fakta
bahwa pada abad ke-12, seabad setelah Norman Conquest of England,
generasi

dari

raja-raja

Inggris

membutuhkan

legitimasi

untuk

menjalankan pemerintahan mereka. Apalagi di daerah seperti para


pemimpin lokal Wales dan Cornwall tetap menentang adanya hegemoni
baru (Michelsson, 2008: 3).

Nostradamus
Michel

Nostradamus

(lahir

sebagai

Michel

de

Nostredame),

merupakan peramal Perancis abad ke-16. Julukan Sang Pelihat melekat


padanya karena dirinya dianggap mampu melihat ke masa depan.
Berbagai ramalannya yang dituangkan dalam karyanya The Centuries
menjadi rujukan bagi para pengikut yang percaya kepadanya dalam hal
untuk membaca masa depan (Smoley, 2006).
Nostradamus dipercaya telah meramalkan kematian Raja Henry II
dari Perancis, Ratu Elizabeth I naik tahta, wabah pes di London, kejayaan
serta keruntuhan Napoleon Bonaparte, lahirnya ahli ilmu kedokteran
yang sangat terkenal Louis Pasteur, meramalkan kelahiran Adolf Hitler
hingga Perang Dunia II. Bahkan masih banyak lagi ramalan-ramalan yang
diyakini oleh orang-orang yang antusias kepada karyanya serta para
pengikut yang percaya kepadanya benar-benar terjadi (Smoley, 2006).
Benar atau ramalan
tidaknya Nostradamus itu semua kembali kepada keyakinan personal
masing-masing. Namun yang pasti manusia misterius Nostradamus ini
tidak luput dari apa yang dinamakan industri budaya (culture industry)
yang melahirkan budaya populer (popular culture) (Strinati, 2009).
Betapa tidak, ramalan Nostradamus penulis abad ke-16 kini telah
menjadi bagian dari budaya populer abad ke-20 dan 21. Bahkan mungkin
sampai untuk masa-masa yang akan datang.
Setidaknya ratusan buku baik
itu fiksi maupun non fiksi berkaitan dengan dirinya telah beredar di
pasaran, begitu pun dengan kehidupan serta nubuatnya telah diangkat
kedalam

beberapa

film

sebut

saja

diantaranya:

Prophecies

of

Nostradamus: Catastrophe 1999 (1974); Nostradamus: The Man Who


Saw

Tomorrow

(1981)

serta

End

of

Days

(1999)

yang diilhami

ramalannya yakni konsep from the sky will come a great King of Terror
(http://en.wikipedia.org/wiki/Nostradamus_in_popular_culture, diakses 15
April 2011).

Tidak berhenti sampai di situ, karakter ataupun

perihal yang berkaitan dengan Nostradamus pun senantiasa mendapat

sorotan berbagai media sehingga tak heran apabila banyak ditemukan


dalam berbagai tayangan serial televisi, musik, komik hingga game.
Sehingga

dapat

dikatakan

perihal

Nostradamus

terus

mengalami

komodifikasi seiring dengan perjalanan waktu dan tentunya berkaitan


dalam

rangka

mengakumulasi

kepentingan

modal

(Mosco,

2009).

Sebagaimana diungkapkan Berger, media kerap memanipulasi


berbagai hal dengan pandangan-pandangan tertentu dimana dalam
budaya populer media cenderung menampilkan seolah-olah apa yang
menjadi keinginan massa. Hal utama yang menjadi perhatian adalah
bagaimana menjadikan segala sesuatu dapat dijual dan mendatangkan
exchange-value yang lebih banyak. Hal ini bukanlah sesuatu yang
mengagetkan

karena

media

merupakan

instrumen

penting

dari

kapitalisme (Berger, 1982: 63; Lury, 1998: 62-63).


Halnya yang paling terlihat dari bentuk komodifikasi
tokoh Nostradamus yakni meningkatnya jumlah penjualan buku dan
menjadi pencarian paling populer di internet. Hal ini menyusul adanya
serangan 11 September serta klaim yang beredar bahwa Nostradamus
telah meramalkan segala sesuatu yang terjadi. Khusus untuk buku,
amazon.com menayangkan rilis daftar buku terlaris (bestseller) yang
diperbaharui setiap jam, deretan teratas dapat ditebak adalah berkaitan
dengan ramalan Nostradamus. Berbagai propaganda yang ada seakan
menggiring orang untuk mendadak demam dan bersemangat untuk
kembali melihat ke abad 16 mengenai apa yang dikatakan Sang Pelihat.
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa data menunjukkan bahwa ramalan
Nostradamus kian masuk dalam penjualan terbaik mereka dimana
hampir semua judul terjual habis sehingga dapat dikatakan bahwa
ramalan Nostradamus merupakan budaya pop terbaik dari masa ke masa
(Lawson, 2001; Lemesurier, 2011).
Robin Hood
Tidak dapat dipungkiri bahwa legenda Inggris yang satu ini
demikian popular hingga saat ini. Catatan yang dianggap paling
komprehensif menceritakan mengenai dirinya ada dalam buku A Lytell
Geste of Robin Hode yang diterbitkan pada tahun 1489 (Gale Cengage

Learning, 2009: xxix). Akan tetapi, riwayat mengenai kehidupan sejati


dari Robin Hood sebenarnya masih menjadi pertanyaan.
Seorang peneliti sejarah,
David Baldwin mengatakan bahwa ia telah berhasil menemukan Robin
Hood yang sesungguhnya. Pandangan serta bukti lengkap mengenai
siapa Robin Hood menurut Baldwin terekam dalam bukunya ROBIN
HOOD: The English Outlaw Unmasked (2010). Baldwin mengatakan
bahwa kisah Robin Hood adalah sebuah misteri yang telah merasuk ke
dalam pikiran dan imajinasi orang. Beberapa individu yang telah
diidentifikasi sebagai Robin di masa lalu memang memiliki sesuatu untuk
dibicarakan akan tetapi hal tersebut tidak sepenuhnya meyakinkan.
Robin Hood merupakan karakter gabungan yang berasal dari berbagai
sumber lain yang dipinjam dan ditambahkan ke dalam legendanya. Ia
melanjutkan bahwa ada kemungkinan beberapa perbuatan penjahat yang
lain yang turut berkontribusi pada perjalanan kisah modern Robin Hood
(Baldwin, 2010).

Akan

tetapi ia percaya ada satu orang mendasari banyaknya cerita-cerita yang


beredar di kemudian hari. Namanya Roger Godberd dan dia adalah
seorang penjahat yang aktif di akhir 1260-an. Banyak cerita-cerita
mengenai Robin Hood di masa awal yang diambil dari berbagai aktivitas
atau kisah Godberd seperti berburu rusa di hutan Sherwood, ditangkap
oleh Sheriff of Nottingham, dipenjarakan di Nottingham Castle dan
memiliki

bantuan

dari

seorang

ksatria

yang

ramah

yang

selalu

membantunya lolos dari jeratan hukum. Dan yang jelas ia merampok


gerejawan sama seperti Robin Hood yang legendaris itu. Baldwin
mengungkap bahwa kesamaan dalam kisah-kisah hidup mengenai
mereka menunjukkan bahwa salah satu karakter dapat didasarkan pada
yang lain (Baldwin, 2010; Parsons, 2011).
Untuk lebih dapat memperoleh gambaran lengkap mengenai kisah
dari tokoh ini tentu banyak literatur maupun film yang harus ditinjau
yang mana telah mengekalkan legenda Inggris ini tentu saja dalam
balutan industri budaya (culture industry). Ini senada sebagaimana
diungkapkan Chris Parsons bahwa legenda Robin Hood telah hinggap

dalam imajinasi produser film, penulis TV dan berbagai penulis selama


beberapa dekade. Terbukti berbagai film, serial televisi atau buku telah
diproduksi berkali-kali dan dikemas dengan berbagai kemasan komoditas
banyak beredar dalam upaya menggumpalkan modal mengambil inspirasi
dari tokoh legendaris tersebut. Bahkan adapula versi animasi Disney
sebelum baru-baru ini muncul reinkarnasi sang legenda yang dibintangi
Russell Crowe dalam peran utama film Robin Hood (2010) (Parsons,
2011).

Sulitnya mengidentifikasi kisah sebenarnya dari Robin

Hood juga disampaikan Professor Sir James Clarke Holt. Sejarawan


Inggris Abad Pertengahan secara sederhana pernah melontarkan suatu
pernyataan

sebagai

berikut:

Coba

tanya

kepada

audiens

yang

menghadiri perkuliahan pertanyaan-pertanyaan mengenai Robin Hood


tentu jawabannya akan mudah ditebak seperti ini. Siapa yang belum
pernah membaca, mendengar atau melihat kisah tentang Robin Hood?
Jawabannya: Tidak ada. Siapa yang pernah membaca cerita aslinya?
Jawabannya: Tidak ada. Holt menyimpulkan bahwa selama ini bahkan
hingga kini kisah mengenai Robin Hood telah mengalami proses
transmisi maupun transmutasi dari generasi ke generasi. Namun Holt
menyakini bahwa jawaban dari siapakah Robin Hood? Sudah tentu
jawabannya lebih dari satu (Holt, 1989; Wright, 2010).
Apapun kisahnya dan bagaimanapun
sejatinya yang utama dalam industri budaya adalah sesuatu itu menarik
untuk disajikan dan dijual guna menghadirkan dan mengakumulasi
kapital. Sebagai contoh, sekarang Hutan Sherwood yangnotabenenya
merupakan lokasi dimana Robin Hood berpetualangmencakup sekitar
450 hektar sudah sulap menjadi kompleks taman menawan serta berhasil
menarik sekitar 3/4 juta pengunjung dalam setahun dimana mereka
berbondong-bondong untuk menyaksikan pohon Mayor Oak. Di tempat
ini pula, setiap tahunnya pada bulan Agustus diadakan Festival Robin
Hood dalam rangka mengenang kembali semangat dari sang legenda
tersebut.
Kesimpulan

Industri budaya (culture industry) tidak dapat dipungkiri telah


merasuk ke dalam setiap sendi dan relung kehidupan manusia tidak
hanya yang bersifat realitas tetapi juga menyusup ke ranah ruang
metafisika. Industri budaya senantiasa berkaitan erat dengan budaya
populer yang muaranya berujung pada pengakumulasian modal (capital).
Dari hasil lacakan ini setidaknya diperoleh hasil bahwa industri budaya
senantiasa

mengolah

apapun

dalam

dimensi

kehidupan

manusia

termasuk mitos dan legenda menjadi suatu komoditas yang laku dijual
dan disukai pasar.

Selain itu, berkaitan dengan mitos dan legenda

ada beberapa aspek yang dapat digali secara lebih jauh ke depannya.
Salah satunya adalah berkaitan dengan pengaruh mitos dan legenda
tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Baik dalam konteks historis
ataupun kontemporer seperti masa kini. Betapa mitos dan legenda pun
tidak lepas dari ranah politik dimana hal-hal semacam itu kerap sekali
digunakan sebagai alat legitimasi penguasa atau atas nama kekuasaan.
Begitu pun, pada sisi sosial sebagai ranah yang menginspirasi berkaitan
dengan pelajaran dan pesan yang disampaikan atau dikonstruksikan di
dalamnya.

DAFTAR PUSTAKA
Adorno, Theodor W. and Max Horkheimer. 1972. Dialectic of
Enlightenment. New York: Herder
and Herder.
Adorno, Theodor W. 1991. The Culture Industry. London: Routledge.
Alcock, Leslie. 1971. Arthur's Britain, History and
Archeology. London: Penguin Press.
Alkatiri, Zeffry J. 1998. Manusia, Mitos dan Mitologi. Depok: Fakultas
Sastra Universitas
Indonesia.
Alkhajar, Eka Nada Shofa, Hiperealitas dalam Kehidupan Nyata,
Kompas, 31 Desember 2007.
Alkhajar, Eka Nada Shofa, Gethok Tular dan Pariwisata, Pelita, 21
Januari 2010.
Alkhajar, Eka Nada Shofa, Sinetron dalam Jeratan Industri Budaya,
Pelita, 29 April 2010.
Alkhajar, Eka Nada Shofa, Tanggung Jawab Sosial Media. Joglosemar, 8
Maret 2011.
Ang, Ien. 1985. Watching Dallas.
London: Methuen.
Anom, Andari

Karina. (2003, 27 Januari). Hitchcock Si Penabur Ketegangan.


Dipetik 20 Maret 2011 dari
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2003/01/27/FL/mbm.2003012
7.FL84520 .id.html.
Ashley, B. (ed.). 1989. The Study of Popular Fiction. London: Pinter.
Baldwin, David. 2010. ROBIN HOOD: The English Outlaw Unmasked. UK:
Amberley.
Bennett, Tony, et.al (ed). 1986. Popular

Culture and Social Relations. Milton Keynes: Open

University Press.
Bennett, Tony and
Janet Woollacott. 1987. Bond and Beyond. London: Mcmillan.
Bennett, Tony (ed.). 1990. Popular Fiction. London: Routledge.
Berger, Arthur Asa. 1982. Media Analysis Techniques. California: Sage
Publications.
Bianco, Robert. (2001, 13 Juli), Mists
Features Strong Women, Acting, USATODAY, diakses
21 Juni 2011
dari http://www.usatoday.com/life/television/2001-07-13-mists-of-avalon
-review.htm.
Bungin, Burhan. 2001. Imaji Media Massa. Yogyakarta: Jendela.
Castleden, Rodney. 2000. King Arthur: The Truth
Behind the Legend. London and New York:
Routledge.
Chomsky, Noam. 2005.
Kuasa Media, Terj. Nurhady Sirimorok. Yogyakarta: Pinus.
Coleman, J.A. 2007. The Dictionary of Mythology. London: Arcturus
Publishing Limited.
Dumas, Alexandre. 2002. Man In The
Iron Mask. McLean, VA: IndyPublish.com.
Febriane, Sarie.
Menyusuri Jejak "Jack The Ripper", Kompas, 30 Mei 2010.
Fiske, John. 1989. Reading Popular Culture. Boston, MA: Unwin Hyman.
Fukuyama, Francis. 1992. The End of History and the Last Man. New
York: Free Press.
Fukuyama, Francis dan Samuel P. Huntington.
2005. The Future of The World Order: Masa Depan Peradaban dalam
Cengkraman Demokrasi Liberal Versus Pluralisme, Cet. 2. Terj. Ahmad
FaridlMaruf. Yogyakarta: IRCiSoD.
Gale Cengage Learning. 2009. U.X.L Encyclopedia of World Mythology.
Detroit: Gale Cengage Learning
Garnham, Nicholas. 1990. Capitalism and
Communication: Global Culture and the Economics of
Information.
London: Sage.
Garnham, Nicholas. 1997. On The Cultural Industries, dalam Paul
Marris and Soe Torham(ed.), Media Studies: A Reader. Edinburg:
Edinburg University Press.
Giddens, Anthony. 2004.
RUNAWAY WORLD: Bagaimana Globalisasi Merombak Kehidupan Kita,
Cet. 2, Terj. Andry Kristiawan S. dan Yustina Koen S. Jakarta:
Gramedia.
Grossberg, Lawrence. 1992. Is There a Fan in
The House?: The Affective Sensibility of Fandom In L. Lewis (ed.), The
Adoring Audience: Fan Culture and Popular Media. London:
Routledge.
Heritage, Stuart. (2011, 11 Juni). King Arthur is back on TV in Camelot
but which is the best version?, The Guardian, diakses 20 Juni 2011
dari http://www.guardian.co.uk/culture/2011/jun/11/king-arthur-is-back-

on-tv-in-camelot.
Hesmondhalgh, David. 2002. The Cultural
Industries. London: Sage.
Higham, N.J. 2002.
King Arthur: Myth-Making and History. London and New York:
Routledge. Holt, James Clarke. 1989. Robin Hood. Revised edition.
London: Thames and Hudson.
http://en.wikipedia.org/wiki/Nostradamus_in_popular_culture, diakses 15
April 2011. http://www.allaboutpopularissues.org/nostradamusprophecy.htm, diakses 14 Juni 2011.
http://en.wikipedia.org/wiki/Norman_conquest_of_England, diakses 15
Juni 2011. http://en.wikipedia.org/wiki/Uli_Edel, diakses 21 Juni 2011.
http://en.wikipedia.org/wiki/The_Mists_of_Avalon, diakses 21 Juni 2011.
http://en.wikipedia.org/wiki/The_Mists_of_Avalon_%28TV_miniseries%29,
diakses 21 Juni 2011.
http://en.wikipedia.org/wiki/Turner_Network_Television, diakses 21 Juni
2011. http://en.wikipedia.org/wiki/Excalibur_%28film%29, diakses 20 Juni
2011. http://boxofficemojo.com/movies/?page=main&id=excalibur.htm,
diakses 20 Juni 2011. http://filmireland.net/2011/01/27/boormanhonoured-as-excalibur-hits-30/, diakses 20 Juni 2011.
http://boxofficemojo.com/movies/?id=firstknight.htm, diakses 20 Juni
2011. http://boxofficemojo.com/movies/?id=kingarthur.htm, diakses 20
Juni 2011. http://www.allaboutpopularissues.org/nostradamusprophecy.htm, diakses 20 April 2011.
http://arthurianadventure.com/sword_in_the_stone.htm, diakses 20 Mei
2011. http://www.bbc.co.uk/programmes/b00gd7mk, diakses 21 Mei
2011.
Inglis, Fred. 1990. Theory Media An
Introduction. Massachusetts: Basil Blackwell Inc.
Jenkins,
Henry. 1992. Textual Poachers. New York: Routledge.
Kellner, Douglas. 1995. Media Culture. London: Routlegde.
Kelly, Alexander Garfield. 1973. Jack the Ripper; A Bibliography and
Review of the Literature. London: Association of Assistant Librarians.
Koerner, Brendan I.
2011. Arthur, Arthur!: The once and future king is lost in the past,
diakses 15 Juni 2011 dari
http://www.usnews.com/usnews/doubleissue/mysteries/king.htm.
Lawson, Mark. (2001, 15 September). Nostradamus Tops the Best
Sellers, diakses 14 Juni 2011
dari
http://www.guardian.co.uk/books/2001/sep/15/september11.usa.
Lemesurier, Peter. (2011, 2 Maret). Nostradamus Facts, diakses 15 Juni
2011 dari http://nostradamusthefacts.blogspot.com/
Lury, Celia. 1998. Budaya Konsumen. Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia.
McQuail, Denis.
2002. Mass Communication Theory. London: Sage Publication.
met.police.uk. 2011. The Enduring Mystery of Jack the Ripper. Dipetik
25 April 2011 dari
http://www.met.police.uk/history/ripper.htm.
Mosco, Vincent. 2009.
The Political Economy of Communication. Second edition. London: Sage.
Nurudin. 2007. Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: RajaGrafindo
Persada.
OConnor, Justin. 2000. The Definitions of

Cultural Industries. The European Journal of Arts Education Vol. 2 No.


3, February, hal. 15-27. Diakses 12 Juni 2011. Tersedia dalam versi
online, <http://www.pedrobendassolli.com/pesquisa/icc1.pdf>.
Parsons, Chris. (2011, 2 April). Is this the grave of Robin Hood?
Historian claims farmer buried
in an unmarked tomb is the outlaw
behind the legend, diakses 16 Mei 2011 dari
http://www.dailymail.co.uk/news/article-1372334/Has-mysteryRobin-Hoods-identity -finally-solved-Historians-claim-farmer-led-bandhighwaymen.html.
Piliang, Yasraf Amir. 1999. Hiperrealitas Kebudayaan. Yogyakarta: LKIS.
Poerwadarminta, W.J.S. 1995. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Cet. ke14. Jakarta: Balai Pustaka. Sanderson, Stephen K. 1993. Sosiologi Makro,
Sebuah Pendekatan Terhadap Realitas Sosial (Jakarta:
Rajawali.
Saputra, Andi. (2010, 24 Februari). 122 Tahun Jack The Ripper, Mutilasi
yang Tak Pernah Terungkap. Dipetik 18 April 2011 dari
http://www.detiknews.com/read/2010/02/24/050723/1305501/10/122tahun-jack- the-ripper-mutilasi-yang-tak-pernah-terungkap.
Smoley, Richard. 2006. The Essential Nostradamus: Literal Translation,
Historical Commentary, and Biography. New York: Penguin Group Inc.
Storey, John. 2007. Pengantar
Komprehensif Teori dan Metode Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop.
Terj. Laily Rahmawati. Bandung: Jalasutra.
Strinati, Dominic. 2009. Popular Culture: Pengantar Menuju Teori
Budaya Populer. Terj. Abdul Muchid.
Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Sussman, Gerald. 1997.
Communication, Technology, and Politics in The Information Age.
Thousand Oaks, California: Sage Publications, Inc.
Syafiie, Inu Kencana dan Andi Azikin. 2007.
Perbandingan Pemerintahan. Bandung: Refika Aditama.
The
Straight Dope. 2011. Who was the Man in the Iron Mask?, diakses 18
Juni 2011 dari
http://www.straightdope.com/columns/read/2047/whowas-the-man-in-the-iron-mask.
Von Keler, Theodore M.R. 1923. The Mystery of The Iron Mask. Kansas:
Haldeman-Julius Company.
Websters New World Encyclopedia. 1992. New York: Prentice Hall.
Wilde, Robert. 2011. The Guillotine, diakses
25 Juni 2011 dari
http://europeanhistory.about.com/cs/frenchrevolution/a/Guillotine.htm.
Wright, Allen W. 2010. Search for a Real Robin Hood, diakses 17 Mei
2011 dari http://www.boldoutlaw.com/realrob/realrob2.html#other.
Yenne, Bill. 1993. 100 Events That Shaped World History. San Marino,
CA: Bluewood Books.