Anda di halaman 1dari 4

SEKILAS ISO

ISO (International Organisation for Standardization) adalah sebuah badan pembuat standar
internasional yang terdiri dari berbagai organisasi standarisasi nasional. Kalau Indonesia seperti
BSN. ISO didirikan pada 23 Februari 1947. Organisasi ini mengeluarkan secara resmi standar
industri dan komersial seluruh dunia. Kantor pusatnya berada di Geneva, Swiss.

Walaupun ISO adalah sebuah NGO, namun kemampuannya dalam membuat standar
sering menjadi semacam hukum yang dipatuhi di seluruh dunia. ISO sendiri bertindak
seperti sebuah konsorsium yan mempunyai hubungan dekat dengan pemerintahan.
(http://sucofindo.wordpress.com/sekilas-iso/)

Organisasi Internasional untuk


Standardisasi
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Logo International Organization for Standardization


organisasi Internasional untuk Standardisasi (bahasa Inggris: International
Organization for Standardization disingkat ISO atau Iso) adalah badan penetap standar
internasional yang terdiri dari wakil-wakil dari badan standar nasional setiap negara. Pada
awalnya, singkatan dari nama lembaga tersebut adalah IOS, bukan ISO. Tetapi sekarang
lebih sering memakai singkatan ISO, karena dalam bahasa Yunani isos berarti sama
(equal). Penggunaan ini dapat dilihat pada kata isometrik atau isonomi.
Didirikan pada 23 Februari 1947, ISO menetapkan standar-standar industrial dan
komersial dunia. ISO, yang merupakan lembaga nirlaba internasional, pada awalnya
dibentuk untuk membuat dan memperkenalkan standardisasi internasional untuk apa saja.
Standar yang sudah kita kenal antara lain standar jenis film fotografi, ukuran kartu
telepon, kartu ATM Bank, ukuran dan ketebalan kertas dan lainnya. Dalam menetapkan
suatu standar tersebut mereka mengundang wakil anggotanya dari 130 negara untuk
duduk dalam Komite Teknis (TC), Sub Komite (SC) dan Kelompok Kerja (WG).
Meski ISO adalah organisasi nonpemerintah, kemampuannya untuk menetapkan standar
yang sering menjadi hukum melalui persetujuan atau standar nasional membuatnya lebih
berpengaruh daripada kebanyakan organisasi non-pemerintah lainnya, dan dalam
prakteknya ISO menjadi konsorsium dengan hubungan yang kuat dengan pihak-pihak
pemerintah. Peserta ISO termasuk satu badan standar nasional dari setiap negara dan
perusahaan-perusahaan besar.

ISO bekerja sama dengan Komisi Elektroteknik Internasional (IEC) yang bertanggung
jawab terhadap standardisasi peralatan elektronik.
Penerapan ISO di suatu perusahaan berguna untuk:

Meningkatkan citra perusahaan


Meningkatkan kinerja lingkungan perusahaan
Meningkatkan efisiensi kegiatan
Memperbaiki manajemen organisasi dengan menerapkan perencanaan,
pelaksanaan, pengukuran dan tindakan perbaikan (plan, do, check, act)
Meningkatkan penataan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan dalam
hal pengelolaan lingkungan
Mengurangi resiko usaha
Meningkatkan daya saing
Meningkatkan komunikasi internal dan hubungan baik dengan berbagai pihak
yang berkepentingan
Mendapat kepercayaan dari konsumen/mitra kerja/pemodal

Sejarah ISO 9000


Ditulis pada Nopember 29, 2007 oleh maskuntop
Selama Perang Dunia II, Terdapat beberapa masalah kualitas di berbagai industri high-tech di
Inggris, seperti pabrik mesiu misalnya. Sering terjadi ledakan di pabrik selama perakitan bom.
Solusi yang dipakai yaitu mensyaratkan pabrik untuk mendokumentasikan prosedur manufaktur
mereka dan membuktikan dengan merekam bahwa prosedur yang ada benar-benar diikuti. Nama
untuk standar tersebut adalah BS 5750. Ini dikenal sebagai standar managemen karena ini tidak
khusus untuk manufaktur. Tapi BS 5750 digunakan untuk mengatur Proses manufaktur.

Menurut Seddon, Pada tahun 1987, Pemerintah Inggris mengajak International


Organisation for Standardization untuk mengadopsi BS 5750 sebagai standar
internasional yaitu ISO 9000 (http://sucofindo.wordpress.com/2007/11/29/sejarah-iso9000/)

ISO 9001
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
ISO 9001 merupakan standar internasional di bidang sistem manajemen mutu. Suatu
lembaga/organisasi yang telah mendapatkan akreditasi (pengakuan dari pihak lain yang
independen) ISO tersebut, dapat dikatakan telah memenuhi persyaratan internasional
dalam hal manajemen penjaminan mutu produk/jasa yang dihasilkannya.

ISO 22000
Management System
Berbicara standard keamanan (Food Safety Management System) ISO 22000, menurut
Praktisi Manajemen, Rudi Maulana MM, apakah motivasinya karena diwajibkan atau
karena untuk improvement system. Memang kerap dijumpai ada yang menggunakannya
karena diwajibkan oleh costumer-nya. Tapi itu pun masih baik. Sebab meski diwajibkan
maka minimal syarat-syarat minimumnya sudah dipenuhi atau minimal standard
keamanan itu ada. Yang tidak baik justru adalah perusahaan yang sengaja ber sikap tidak
melindungi costumer-nya.
Misalkan seperti yang sering kita lihat, dengar dan baca di sejumlah media elektronik
maupun cetak. Dimana sejumlah pelaku bisnis kerap tidak menghiraukan keamanan
costumer-nya demi keuntungan bisnisnya semata. Sebutlah beberapa produsen jamu yang
meracik jamunya dengan men cam pur kan bahanbahan kimia berbahaya didalamnya.
Atau sejumlah pelaku bisnis yang mencampurkan bahan-bahan kadaluarsa kedalam
produknya, lagi-lagi demi keuntungan semata. Sementara bagi costumer? Tinggal
menunggu akibatnya mulai dari keracunan sampai kehilangan nyawa.
Dijamin hal-hal demikian tidak akan lolos ISO 22000. ISO 22000 ini sebenarnya
mengunakan konsep yang sangat baik, bahkan di setiap prosesnya dirinci dengan baik.
Seperti proses yang dilakukan pada ISO 9000. Sehingga ketika kita menggunakan itu
sebagai salah satu guide line sebagai pelaksana manajemen itu akan terlihat ada
improvement-improvement prosesnya. Apalagi dengan standard Good Manufacturing
Practice (GMP) atau Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP).
Memang, tegas Rudi Maulana, sekarang belum sepenuhnya dapat dite rapkan seperti
itu karena masih banyak nya industri-industri kecil, sentra-sentra makanan dan minuman
kecil yang be-lum tersertikasi baik dengan standard HACCP atau GMP.
Perlu diketahui bahwa di bidang farmasi atau obat-obatan lebih banyak menggunakan
standard GMP atau di kalangan pemerintahan dikenal dengan apa yang dinamakan
Standard CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik). Sementara pada industri kosmetika
dikenal dengan Standard CPKB (Cara Pembuatan Kos metika yang Baik). Sedangkan
untuk industri jamu merujuknya ke industri farmasi dan pada industri pangan merujuk
pada HACCP.
Kemudian belakangan berkembang lagi lantaran HACCP saja dipandang tidak cukup.
Meski HACCP sebenarnya ditunjang juga dengan GMP, karena untuk menjalankan
sistem HACCP itu perlu di support dengan sistem manu facturing yang ter struk tur,
yang bersih, yang sehat dan aman, juga kan. Seperti aman, juga kan. Seperti harus
memiliki metal detec tor, harus punya alat-lat produksi yang be bas kontaminasi dan
seterusnya.

Dengan kata lain, sergah Rudi Maulana bahwa HACCP lebih berbicara pada horizontal
proses yaitu ketika dimulai dari row material sampai dengan pengolahan sampai delivery.
Itu kurang memadai dan dibutuhkan suatu sistem yang menjamin bahwa perusahaan itu
benar-benar melak sanakan keamanan pa ngan secara kontinyu. Kemudian harus
terintegrasi dengan sistem-sistem manajemen yang lain. Lalu ISO menge luarkan
standard apa yang disebut dengan ISO 22000 itu.
Dimana standard tersebut mengacu pula pada standard internasional juga sebagai
referensinya. Kalau perusahaan-perusahaan Indonesia sudah mengimplementasi kannya
ISO 22000 atau mengunakan standard GMP dengan standard internasional.

Sertifikat ISO 26000 CSR Diluncurkan Tahun 2010

Tanggal 16 November 2006 lalu menjadi hari bersejarah ditandatanganinya ISO 26000
oleh The UN Global Compact Office dengan The International Organization for
Standardization (ISO). Dimana dalam kerangka Millenium Development Goals
(MDGs), ISO 26000 akan menjadi persyaratan yang tak dapat ditawar lagi bagi
korporasi dunia menjelang 2010 nanti.
Meski masih dua tahun lagi, penerapan ISO 26000 belum banyak diketahui oleh
korporasi. Padahal ISO 26000 lahir dari empat issue hangat dunia yang kerap disebut
dengan The Global Compact, meliputi Human Rights, Labour Standards, Environments
dan Anti Corruptor.
Dari empat issue inilah dibuat Global Reporting Inisiative (GRI) yang menjadi standard
model pelaporan The Global Compact. Sekaligus sebagai penilai korporasi maupun
organisasi-organisasi yang telah menjalankan Tripple Bottom Line antara lain seperti
pembangunan ekonomi, sosial, serta lingkungan, untuk stakeholders dan dari
stakeholders, sejalan dengan pelaksanaan Good Corporate Governance (GCG).
(http://majalahquality.com/content/view/40/80/)