Anda di halaman 1dari 9

AGROINTEK Volume 7, No.

2 Agustus 2013

57

PERANCANGAN ULANG TATA LETAK FASILITAS PRODUKSI


PABRIK TAHU SRIKANDI JUNOK BANGKALAN
Muh. Faishol, Sri Hastuti, Millatul Ulya
Program Studi Teknologi Industri Pertanian Fakultas Pertanian UTM
Korespondensi : Jl. Raya Telang Kamal Bangkalan, Madura.

ABSTRACT
Industrial problems not only in how much investment should be planted, production
and marketing procedures but requires planning production facilities covering the location of
facilities planning and design of facilities. Facility design is important to get the best layout in
the transport of materials so that the production process takes place quickly. This study aimed
to redesign the layout of factory production facilities from the Srikandis Tofu industry at the
district of Bangkalan to be more effective. This design based on the connectivity of production
process flow and the distance of material removal. The method used in this study is Blocplan
method. Best layout results using Blocplan produce 1.00 layout score and 5-6 distance
proximity to the exchange boiler room and the room soaking.
Keywords: facility design, layout, Blocplan Method
PENDAHULUAN
Perkembangan industri berdampak
pada persaingan industri yang cukup ketat.
Persaingan industri memerlukan strategi dari
segala aspek termasuk aspek produk, proses
dan jadwal.Permasalahan industry tidak hanya
menyangkut seberapa besar investasi yang
harus ditanam, prosedur produksi dan
pemasaran hasil produksi namun memerlukan
perencanaan
fasilitas
yang
meliputi
perencanaan
lokasi
fasilitas
maupun
rancangan fasilitas. Perancangan fasilitas
meliputi perancangan system fasilitas, tata
letak pabrik dan system penanganan material
(pemindahan bahan).
Perancangan fasilitas mempunyai
keterkaitan yang sangat erat antara rancangan
fasilitas yang satu dengan rancangan fasilitas
lainnya sehingga dalam proses perancangan
fasilitas harus dilakukan seefisien mungkin.
Salah satu yang termasuk dalam perancangan
fasilitas adalah tata letak. Tata letak yang baik
adalah tata letak yang dapat menangani
system material handling secara menyeluruh
(Wignjosoebroto, 1996). Sistem material
handling yang kurang baik akan mengganggu
kelancaran proses produksi.
Secara umum industri banyak
mengalami kendala dalam hal jarak
pemindahan bahan baku (material handling)
yang kurang efisien, seperti pada proses

produksi yang terdapat aliran pemindahan


bahan yang berpotongan (cross movement)
dikarenakan tata letak mesin yang kurang
teratur. Tata letak mesin yang tidak teratur
dan jarak antar ruangan produksi yang cukup
jauh dapat mengakibatkan proses produksi
terganggu sehingga dapat memperlambat
proses produksi. Penerapan model atau
simulasi tata letak diharapkan dapat
membantu manajemen dalam melakukan
analisis terhadap rencana penataan ulang (relayout) fasilitas produksi di masa yang akan
datang.
Pabrik tahu Srikandi adalah salah
satu pabrik tahu yang berlokasi di kota
Bangkalan dengan tata letak fasilitas produksi
cukup bagus dilihat dari penempatan fasilitas
beberapa tahapan proses produksi seperti
penyaringan, penggumpalan dan pencetakan
yang ditempatkan dalam satu ruangan
sehingga dapat mempercepat proses produksi.
Tata letak fasilitas produksi pabrik tahu
Srikandi juga memiliki kekurangan seperti
pada penempatan ruang perendaman setelah
ruang penggilingan yang tidak sesuai dengan
aliran proses produksi sehingga perpindahan
bahan (material handling) terganggu dengan
adanya jarak dan aliran proses produksi yang
terpotong. Aliran proses produksi yang bagus
memerlukan tata letak dan perancangan
fasilitas produksi yang tidak mengganggu
proses produksi lainnya dan tidak ada

58

Perancangan ulang tata letak (Muh Faishol, dkk)

hambatan dalam aliran bahan yang


menyebabkan perpindahan bahan terganggu
karena adanya aliran proses produksi yang
terpotong.
Beberapa
metode
yang bisa
digunakan dalam merancang tata letak seperti
algoritma CORELAP, CRAFT dan Blocplan.
Salah satu alternatif yang digunakan untuk
mendukung system perancangan fasilitas
produksi adalah metode Blocplan. Metode
Blocplan
dipilih
karena
system
pengoperasiannya yang mudah dan sederhana
serta dapat mempertimbangkan pertukaran
lokasi ruangan berdasarkan keterkaitan pada
aliran proses kerja produksi sehingga dapat
memaksimalkan proses material handling dan
tidak ada aliran proses produksi yang
berpotongan (cross movement) (Supardi,
2006). Tujuan penelitian ini adalah untuk
merancang ulang tata letak fasilitas produksi
pabrik tahu Srikandi Bangkalan yang lebih
efektif dari pada rancangan awal dilihat dari
hubungan aliran proses produksi dan jarak
perpindahan bahan.
NAMA OBYEK
NOMOR PETA
DIPETAKAN OLEH
TANGGAL DIPETAKAN

METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di pabrik
tahu Srikandi Bangkalan dimulai pada bulan
Maret 2013 sampai bulan Juni 2013. Tahapan
penelitian ini dimulai dari pengenalan kondisi
awal tata letak fasilitas dan peta proses
operasi pembuatan tahu. Data yang
dikumpulkan berupa tata letak pabrik, fasilitas
produksi, aliran bahan dalam proses produksi,
derajat hubungan aktivitas antar ruangan dan
peralatan pemindahan bahan (material
handling) yang digunakan. Pengolahan data
dilakukan dengan software Blocplan. Analisis
data yang dilakukan pada penelitian ini
dengan metode Blocplan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Peta Proses Operasi Pembuatan Tahu
Peta proses operasi adalah catatan
yang digunakan untuk merencanakan dan
menganalisis aliran barang dan langkahlangkah proses dalam bentuk tabel. Peta
proses operasi pada pembuatan tahu Srikandi
dapat dilihat pada gambar 1.

PETA PROSES OPERASI


: Tahu
: 1
: Muhammad Faishol
: 23-Juni-2013

Kedelai

8 jam
Merendam
(Ember)

5 menit
Menggiling
(Mesin giling)

7 menit
Merebus
(Sumur uap)

5 menit
Menyaring
(Kain belacu)

5 menit
Menggumpalkan
(cuka)

5 menit
6

RINGKASAN
KEGIATAN
Operasi
Menunggu

Total

JUMLAH
5

Mencetak
(Papan kayu)

WAKTU (Menit)
27

480

507

Gambar 1. Peta Proses Operasi Pembuatan Tahu Srikandi

AGROINTEK Volume 7, No.2 Agustus 2013

59

EVALUASI TATA LETAK AWAL


Pabrik tahu Srikandi adalah salah
satu pabrik tahu yang berlokasi di kota
Bangkalan dengan tata letak fasilitas produksi
cukup bagus dilihat dari penempatan beberapa
tahapan proses produksi seperti penyaringan,
penggumpalan
dan
pencetakan
yang
ditempatkan dalam satu ruangan sehingga
dapat mempercepat proses produksi. Susunan
aliran fasilitas produksi sebelum perbaikan
kurang teratur karena terdapat ruang fasilitas
produksi yang tidak sesuai aliran produksi
seperti gudang bahan baku dengan ketel uap
dan penggilingan dengan perendaman
sehingga dapat menyebabkan aliran proses
produksi
terpotong
dan
terjadinya
kesimpangsiuran.
Hasil pengamatan yang dilakukan
terhadap tata letak awal fasilitas produksi
pabrik tahu Srikandi Bangkalan terdapat
beberapa kelemahan yaitu:
1
Ruangan 1 (gudang bahan baku)
dengan letak kurang strategis karena
ditempatkan berjauhan dengan ruangan
2 (proses perendaman) dan ruangan 3
(penggilingan) sehingga menyulitkan
proses pemindahan bahan baku dari
gudang bahan baku ke tempat
perendaman dan tidak sesuai aliran
proses produksi.
2
Ruangan 2 (ketel uap) dengan letak
kurang strategis karena terlalu dekat
dengan rangkaian aliran proses
produksi. Ruangan 2 (ketel uap) harus

dijauhkan dari semua rangkaian aliran


proses produksi karena kondisi ruangan
2 akan menimbulkan hawa panas, asap,
bau sehingga terhindar dari kontaminasi
silang
dan
tidak
mengganggu
kenyamanan dan keselamatan pekerja.
Ruangan 3 (perendaman) letaknya tidak
sesuai dengan aliran bahan proses
produksi, ruangan 3 (perendaman)
sebaiknya ditukar dengan ruangan 2
(penggilingan) untuk memudahkan
proses pemindahan bahan baku dan
mengikuti aliran proses produksi.

Peta Keterkaitan Aktivitas (Activity


Relationship Chart/ARC)
Peta keterkaitan aktivitas (Activity
Relationship Chart/ARC) digunakan untuk
menganalisis
tingkat
hubungan
atau
keterkaitan aktivitas dari suatu ruangan
dengan ruangan lainnya (activity relationship
chart) (Muther, 1955). Peta keterkaitan
aktivitas dapat menghubungkan aktivitasaktivitas secara berpasangan sehingga semua
aktivitas akan diketahui tingkat hubungannya
dan dapat membantu untuk mengetahui suatu
ruangan perlu didekatkan atau dijauhkan dari
ruangan lainnya. Peta keterkaitan aktivitas
awal fasilitas produksi pabrik tahu Srikandi
Bangkalan dibuat berdasarkan penilaian
kualitatif aktivitas hubungan antar ruangan
seperti terlihat pada Gambar 2.

Warna kedekatan

Keterangan
Mutlak didekatkan

Gudang bahan baku


O

II

Sangat penting didekatkan

Ketel uap

III
i

O
I

8
2
U

O
U
E

IV

kode
A
E

Penting didekatkan

Biasa/ cukup
Tidak penting didekatkan

O
U

Tidak boleh berdekatan

V
O
I
4

O
U
U
X

4,5
4,5

U
I

1,2
4

A
U

U
U

A
I

1.2,3
7

8
-

2,3

Perendaman

Produk jadi

1,2
8

VI
A
E

Penyaringan dan
pencetakan

Penggilingan

U
X
U
4,5
8

U
U
8
-

Kode Alasan
1
2

Keterangan
Urutan aliran kerja
Aliran material

Menggunakan tenaga kerja yang sama

Bising, panas, bau, debu, kotor (sumber


kontaminan)

Kode

Keselamatan

Keterangan

Gudang bahan baku

II
III

Penggilingan

IV
V
VI

Ketel uap
Perendaman
Penyaringan dan
pencetakan
Produk jadi

Gambar 2. Peta Keterkaitan Aktivitas (ARC) Fasilitas Produksi

60

Perancangan ulang tata letak (Muh Faishol, dkk)

Perbaikan Fasilitas Produksi Pabrik Tahu


Srikandi Bangkalan
Pembuatan
perbaikan
fasilitas
produksi pabrik tahu Srikandi Bangkalan
hampir sama dengan pembuatan ARC awal
dan hanya berbeda pada penempatan urutan
ruangan. Gambar ARC perbaikan fasilitas
produksi pabrik tahu Srikandi Bangkalan
dapat dilihat pada Gambar 3.
Diagram Keterkaitan Aktivitas (Activity
Relationship Diagram/ARD)
Menurut Tompkins (1996), activity
relationship diagram (ARD) adalah suatu
teknik yang digunakan untuk mendapatkan
gambaran tentang tata letak ruangan terhadap
ruangan lainnya. Tabel lembar kerja (work
sheet) keterkaitan aktivitas pabrik tahu
Srikandi dapat dilihat pada Tabel 2.
abel
2 menunjukkan semua data dari hasil ARC

dengan memberi penilaian kualitatif terhadap


alasan kedekatan ruangan. Pembuatan work
sheet bertujuan agar data yang diperoleh dari
hasil analisis ARC bisa tersusun lebih
sistematis dan memudahkan dalam pembuatan
template
diagram.
Template
diagram
keterkaitan aktivitas pabrik tahu Srikandi
Bangkalan dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar ini menunjukkan semua data yang
telah dikelompokkan dalam work sheet
kemudian dimasukkan pada acitvity template
kecuali kode huruf U karena dianggap tidak
memberi pengaruh apa-apa terhadap aktivitas
ruangan. Tiap-tiap template akan menjelaskan
ruangan dan hubungannya dengan aktivitas
ruangan yang lain. Template hanya
memberikan penjelasan hubungan aktivitas
antara rungan satu dengan ruangan lainnya
dan mengenai skala luas ruangan tidak perlu
diperhatikan.

Warna kedekatan

Ketel uap

II

Gudang bahan baku


U
E

III
U
U

O
I

8
-

O
U
E

IV

Keterangan

kode

Mutlak didekatkan

Sangat penting didekatkan

Penting didekatkan

Biasa/ cukup
Tidak penting didekatkan

O
U

Tidak boleh berdekatan

V
8
-

4
2

O
U

1,2,3

O
I

VI
O

Penggilingan

Penyaringan dan
pencetakan

O
U
X

O
X

i
I

A
A

1,2

Perendaman

4,5
-

A
I

4
-

A
U

1,2

U
U

4,5
8

U
U

O
U
X

Kode Alasan
1
2

4,5
8

8
-

Menggunakan tenaga kerja yang sama

Bising, panas, bau, debu, kotor (sumber


kontaminan)

Kode

1.2,3
7

Produk jadi

Aliran material

Keterangan
Urutan aliran kerja

Keselamatan

Keterangan

Ketel uap

II
III

Gudang bahan baku

IV
V
VI

Perendaman
Penggilingan
Penyaringan dan
pencetakan
Produk jadi

Gambar 3. Perbaikan Fasilitas Produksi Pabrik Tahu Srikandi Bangkalan


Tabel 2. Lembar Kerja (work sheet) keterkaitan aktivitas perbaikan pabrik tahu Srikandi
No
1
2
3
4
5
6

Ruangan
Ketel uap
Gudang bahan baku
Perendaman
Penggilingan
Penyaringan dan pencetakan
Produk jadi

A
2,3
1,2
-

E
1,2
-

Derajat Kedekatan
I
O
3
3
1,2,3
-

U
-

X
4,5
-

AGROINTEK Volume 7, No.2 Agustus 2013

A-

E-

61

A-

E-1,2

X-4,5

I-

E-

E-

I 1,2,3

O-

A-

E-

X-

5
Penyaringan dan
pencetakan

O-

3
Perendaman

O 1,2,3,6

4
Penggilingan

I-

I3

O3

E-

2
Gudang bahan baku

1
Ketel Uap

A 1,2

A 2,3

O-

6
Produk jadi

I-

O-

Gambar 4. Template diagram keterkaitan aktivitas pabrik tahu Srikandi Bangkalan

Gambar 5. Diagram Keterkaitan Fasilitas Produksi Pabrik Tahu Srikandi Bangkalan


Hasil pembuatan template diagram
aktivitas selanjutnya dibuat dengan cara
menyusun ulang derajat kedekatan aktivitas
yang dikombinasikan dengan memberi garisgaris atau kode warna yang telah distandarkan
terhadap setiap aktivitas ruangan yang ada.
Diagram keterkaitan aktivitas (ARD) fasilitas
produksi di pabrik tahu Srikandi Bangkalan
dapat dilihat pada Gambar 5. Diagram dibuat
dengan cara memberi garis-garis antar
ruangan dengan melihat hubungan kedekatan
aktivitas antar ruangan.
Analisis
Menggunakan
Metode
BLOCPLAN
Metode Blocplan menggunakan data
kualitatif diagram keterkaitan aktivitas
(Activity Relationship Chart/ARC) serta jarak
perpindahan material dan ukuran bangunan
yang akan ditempati oleh fasilitas. Metode
Blocplan mempunyai kemampuan untuk

mengatur maksimum 20 fasilitas dalam suatu


tata letak. Hasil yang terbaik dengan
menggunakan metode Blocplan adalah tata
letak dengan skor tata letak yang paling tinggi
atau yang paling mendekati nilai 1,00
(Heragu, 1997).
Tata Letak Awal
Data
dari
diagram
diagram
keterkaitan aktivitas (ARC) yang telah dibuat,
kemudian akan dijadikan data masukan pada
program Blocplan. Input data awal dari ARC
dilakukan
terlebih
dahulu,
kemudian
dilakukan input ruangan secara manual sesuai
dengan posisi awal layout pabrik. Input
manual yang dilakukan bertujuan untuk
mengetahui skor layout awal yang akan
dibandingkan dengan skor layout perbaikan.
Gambar input data awal pada Blocplan dapat
dilihat pada Gambar 6.

62

Perancangan ulang tata letak (Muh Faishol, dkk)

Gambar 6. Derajat Kedekatan Aktivitas Awal

Gambar 7. Tata Letak Awal Secara Manual dengan Blocplan


Semua data yang telah dibuat dalam
ARC dimasukkan pada program Blocplan
sesuai aktivitas dan hubungan kedekatan antar
ruangan kemudian dilanjutkan dengan
mencari skor tata letak awal secara manual
seperti pada gambar 7. Gambar tersebut
menunjukkan hasil analisis dari layout awal
pabrik tahu Srikandi menggunakan Blocplan
didapatkan skor sebesar 0,64-1. Tata letak
awal menggunakan Blocplan, penempatan tata
letak ruangan sama seperti pada penempatan
aslinya.
Kelebihan Layout Awal
Kelebihan lay out awal pabrik tahu
Srikandi Bangkalan terdapat pada rancangan
fasilitas ruangan proses produksinya, pada
ruangan proses produksi terdapat tahapan
proses produksi tahu yang diletakkan dalam
satu ruangan proses produksi. Tahapantahapan proses produksi yang diletakkan
dalam satu ruangan meliputi tahapan
perebusan, penyaringan, pencampuran asam
cuka dan pencetakan tahu. Penggabungan

tahapan-tahapan proses produksi dalam satu


ruangan memberikan keuntungan lebih
cepatnya proses produksi untuk dilakukan
serta menghemat tenaga dengan mengurangi
jarak perpindahan bahan dari tahapan proses
satu ke tahapan proses lainnya.
Kekurangan Layout Awal
Kekurangan pada layout awal pabrik
tahu Srikandi Bangkalan terdapat pada
penempatan ruangan ketel uap yang terlalu
berdekatan dengan rangkaian proses produksi
sehingga menimbulkan ketidaknyamanan
terhadap pekerja karena hawa panas yang
ditimbulkan dari ketel uap. Jarak ruangan
ketel
uap
yang berdekatan dengan
penyaringan dan pencetakan serta ruangan
produk jadi dapat menimbulkan kontaminasi
akibat
keluarnya
debu
yang kotor.
Kekurangan pada layout awal juga terdapat
pada penempatan ruangan perendaman bahan
baku yang diletakkan setelah ruangan
penggilingan sehingga mengakibatkan back
tracking atau adanya aliran material yang

AGROINTEK Volume 7, No.2 Agustus 2013

kembali sehingga memperlambat proses


produksi dan tidak sesuai dengan aliran proses
produksi.
Tata Letak Hasil Perbaikan
Analisa terhadap layout perbaikan
menggunakan input data yang sama dengan
analisa layout awal dan hanya berbeda pada
input data ARC yang digunakan. Pencarian
lay out yang paling optimal dilakukan dengan
memilih single story layout menu pada menu

63

pilihan Blocplan karena hanya untuk mencari


perancangan satu macam layout. Tahapan
selanjutnya memilih automatic search menu
untuk mencari layout score tertinggi untuk
menentukan alternatif terbaik dengan cara
automatic search secara random dengan
mencari hasil yang optimal dan proses output
yang cepat. Hasil dari pencarian lay out
otomatis dengan 20 lay out diperoleh hasil
seperti pada Tabel 2.

Tabel 2. Hasil layout score perbaikan menggunakan Blocplan secara automatic search
LAYOUT
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

LAYOUT
SCORE
0.74 -19
1.00 - 1
0.74 -19
1.00 - 1
0.95 -11
1.00 - 1
0.87 -16
1.00 - 1
1.00 - 1
0.95 -11
0.87 -16
1.00 - 1
1.00 - 1
0.87 -16
1.00 - 1
0.97 -10
0.92 -14
1.00 - 1
0.92 -14
0.95 -11

JARAK
KEDEKATAN
0.63 -19
49 -20
0.71 -12
17 -11
0.76 7
12 - 9
0.72 -11
22 -13
0.75 8
10 - 8
0.63 -18
39 -18
0.86 1
-7 - 5
0.82 4
-15 - 3
0.82 2
-15 - 1
0.67 -14
26 -14
0.66 -15
38 -16
0.82 2
-15 - 2
0.82 4
-15 - 3
0.66 -15
38 -17
0.71 -12
17 -10
0.59 -20
36 -15
0.75 9
18 -12
0.73 -10
5-6
0.78 6
10 - 7
0.65 -17
45 -19

Gambar 8. Layout Perbaikan Terpilih

PROD MOVEMENT
01
01
01
01
01
01
01
01
01
01
01
01
01
01
01
01
01
01
01
01

64

Tabel menunjukkan lay out score


terbesar hasil pencarian Blocplan secara
otomatis terdapat beberapa lay out score yang
nilainya sama (1.00-1) yaitu pada lay out
nomor 2, 4, 6, 8, 12, 13, 15 dan 18. Lay out
score yang dipilih dari lay out nomor 18
karena memiliki jarak kedekatan yang paling
pendek yaitu 5-6. Gambar lay out perbaikan
terpilih seperti pada Gambar 8.
Gambar 8 menunjukkan hasil
analisis dari layout perbaikan pabrik tahu
Srikandi menggunakan Blocplan dipilih pada
layout nomor 18 dengan layout score 1.00-1
dengan jarak kedekatan terpendek 56. Layout
perbaikan pada nomor 18 memiliki
score
lebih tinggi dibandingkan pada layout awal
yaitu 0.64-1. Penempatan ruangan pada layout
perbaikan mengalami perubahan setelah
dilakukan perbaikan, perubahan tata letak
terjadi pada ruangan ketel uap yang diletakkan
pada awal proses produksi untuk menghindari
hawa panas, asap dan debu kotor yang
menyebabkan kontaminasi silang terhadap
ruangan proses produksi dan ruangan produk
jadi. Perubahan tata letak juga terdapat pada
pemindahan ruangan perendaman sebelum
ruangan penggilingan untuk menyesuaikan
aliran bahan dan aliran proses produksi.
Kelebihan Lay out Perbaikan
Kelebihan dari lay out perbaikan
pabrik tahu Srikandi Bangkalan terdapat pada
penempatan ruangan ketel uap yang
diletakkan berjauhan dari ruangan peyaringan
dan pencetakan serta ruangan produk jadi,
ruangan ketel uap diletakkan berjauhan
dengan ruangan penyaringan dan pencetakan
dapat mengurangi atau menghindari terjadinya
kontaminasi dari debu kotor yang dihasilkan
serta mengurangi hawa panas yang dapat
mengganggu aktivitas pekerja dalam pabrik.
Ketel uap menghasilkan pencemaran berupa
padatan hidrokarbon yang membentuk asap
pekat dan menggumpal menjadi debu/partikel.
Hidrokarbon bereaksi dengan NO 2 dan O2
menghasilkan PAN (Peroxy Acetyl Nitrates).
Campuran PAN dengan gas CO dan O3
disebut kabut foto kimia (Photo Chemistry
Smog) yang dapat merusak tanaman dan akan
sangat berbahaya bila tercampur dalam
produk olahan pangan (Pudjiastuti, 2002).
Kelebihan lay out perbaikan juga
terdapat
pada
penempatan
ruangan

Perancangan ulang tata letak (Muh Faishol, dkk)

perendaman sebelum ruangan penggilingan


sehingga aliran bahan menuju penyaringan
dan pencetakan tidak terhambat dengan
adanya aliran bahan yang kembali.
Penempatan ruangan secara berurutan sesuai
aliran proses produksi dapat menghindari
kesimpangsiuran aliran material dan proses
produksi
menjadi
lebih
cepat
(Wignjosoebroto, 2009)
Kekurangan Layout Perbaikan
Kekurangan lay out perbaikan
terdapat pada modal produksi yang harus
dikeluarkan untuk memindahkan ruangan
ketel uap.
KESIMPULAN
Penelitian
ini dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut:
1 Rancangan usulan tata letak fasilitas
pabrik tahu srikandi menggunakan
Blocplan menghasilkan layout score 1.00
lebih tinggi daripada layout score
rancangan awal sebesar 0,64.
2 Tata letak fasilitas produksi pabrik tahu
Srikandi mengalami perubahan setelah
dilakukan perbaikan, perubahan tata letak
terjadi pada ruangan ketel uap yang
diletakkan diawal proses produksi untuk
menghindari hawa panas, asap dan debu
kotor yang menyebabkan kontaminasi
silang terhadap ruangan penyaringan dan
pencetakan serta ruangan produk jadi.
Perubahan tata letak juga terdapat pada
pemindahan
ruangan
perendaman
sebelum ruangan penggilingan untuk
menyesuaikan aliran bahan dan aliran
proses produksi.
DAFTAR PUSTAKA
Anglemier, E.1976. Amino Acids Peptides
and Protein. New York : Mercil
Decker Inc.
Apple, J. 1990. Tata Letak Pabrik dan
Pemindahan Bahan. Bandung :
Penerbit ITB
Assauri, S. 1980. Manajemen Produksi dan
Operasi.
Jakarta:
Universitas
Indonesia. Press.
Eko. 2010. Perancangan Ulang Tata Letak
Fasilitas Produksi di CV. Dimas

AGROINTEK Volume 7, No.2 Agustus 2013

Rotan Gatak Sukoharjo. [skripsi].


Bogor : Institut Pertanian Bogor.
Hadiguna S. 2008. Tata Letak Pabrik. Edisi
Pertama. Yogyakarta : Penerbit C.V
Andi Offset
Heragu S. 1997. Fasilities Design. Boston :
PWS Publishing
Koswara S. 1992. Teknologi Pengolahan
Kedelai. Jakarta : Pustaka Sinar
Harapan.
Muther R. 1955. Practical Plant Layout. New
York
:
McGraw-Hill
Book
Company.
Pudjiastuti W. 2002. Debu Sebagai Pencemar
yang Membahayakan Kesehatan
Kerja. Jurnal Kimia Lingkungan.
Purnomo H. 2004. Perencanaan dan
Perancangan
Fasilitas.
Edisi
Pertama.
Yogyakarta: Penerbit
Graha Ilmu
Radiyati and Santoso. 1992. Pengolahan
Kedelai. Subang: BPTTG Puslitbang
Fisika Terapan LIPI.
Tompkins J. 1990. Facilities Planning. Canada
: PWS Publishing.
Wignjosoebroto S. 2009. Tata Letak Pabrik
dan Pemindahan Bahan. Edisi
Ketiga.Surabaya : Penerbit Guna
Widya.

65