Anda di halaman 1dari 8

DIAGNOSA : NYERI AKUT/ KRONIS

Tujuan : Melaporkan nyeri hilang/ terkontrol, Mengungkapkan metode yang memberikan


penghilangan, Mendemonstrasikan penggunaan intervensi trapeutik (misalnya ketermpilan
relaksasi, modifikasi perilaku) untuk menghilangkan nyeri.
Intervensi
Rasional
Kaji adanya keluhan nyeri, catat lokasi,
Membantu menentukan pilihan intervensi dan
lamanya serangan, factor pencetus/ yang

memberikan dasar evaluasi terhadap terapi.

memperberat. Minta pasien untuk menetapkan


pada skala 0-10
Pertahankan tirah baring selama fase akut.

Tirah baring dalam posisi yang nyaman

Letakkan pasien pada posisi semi fowler

memungkinkan pasien untuk menurunkan

dengan tulang spinal, pinggang dan lutut dalam spasme otot, menurunkan penekanan pada
keadaan fleksi: posisi terlentang dengan atau

bagian tubuh tertentu dan memfasilitasi

tanpa meninggikan kepala 10-30o atau pada

terjadinya reduksi dari tonjolan diskus.

posisi lateral.
Gunakan logroll (papan) selama melakukan

Menurunkan fleksi, perputaran, desakan pada

perubahan posisi.
Bantu pemasangan brace/ korset.

daerah belakang tubuh.


Berguna selama fase akut dari rupture diskus
untuk memberikan sokongan dan membatasi
fleksi/ terplintir. Pengunaan dalam jangka
panjang dapat menambah kelemahan otot dan

Batasi aktivitas selama fase akut sesuai dengan

lebih lanjut menyababkan degeneratif.


Menurunkan gaya gravitasi dan gerak yang

kebutuhan.

dpat menghilangkan spasme otot dan


menurunkan edema dan tekanan pada struktur

Letakkan semua kebutuhan, termasuk bel

sekitar diskus intervetebralis yang terkena.


Menurunkan resiko peregangan otot saat

panggil dalam batas yang mudah dijangkau/

meraih.

diraih oleh pasien.


Instruksikan pasien untuk melakukan teknik

Memfokuskan perhatian pasien, membantu

relaksasi/ visualisasi.

menurunkan tegangan otot dan meningkatkan


proses penyembuhan.

Instruksikan/ anjurkan untuk melakukan

Menghilangkan atau mengurangi stress pada

mekanika tubuh/ gerakan yang tepat.


Berikan kesempatan untuk berbicara/

otot dan mencegah trauma lebih lanjut.


Ventilasi rasa takut/ cemas dapat membantu

mendengar masalah pasien.

untuk menurunkan factor-faktor stres selama


dalam keadaan sakit dan dirawat. Kesempatan
untuk memberikan informasi/ membetulkan
informasi yang kurang tepat.

.Kolaborasi :
Berikan tempat tidur ortopedik atau letakkan

Memberikan sokongan dan menurunkan fleksi

papan dibawah kasur atau matras.


Berikan obat sesuai dengan kebutuhan :

spinal, yang menurunkan spasme.

Relaksan otot, seperti diazepam

Merlaksasikan otot dan menurunkan nyeri

(Valium), karisoprodol (Soma),


metkarbamol (Robaxin).
NSAID, seperti ibuprofen (Motrin,

Menurunkan edema, tekanan pada akar saraf.

Advil), diflurisal (Dolobid), ketoprotein Catatan : suntikan epidural atau gabungan obat
(Orudis), meklofenamat (Meclomen).

antiinfalamasi dapat dicoba jika intervensi lain


tidak mampu untuk menghilangkan nyeri.

Analgetik, seperti asetaminofen

Perlu untuk menghilangkan nyeri sedang

(Tylenol) dengan kodein, meperidin

sampai berat.

(Demerol), hidrokodon (Vicodin),


butorpanol (Stadol).
Pasang penyokong fisik seperti brace lumbal

Songkongan anatomis/ struktur berguna untuk

kolar servikal.

meurunkan ketegangan/ spasme otot dan

Pertahankan traksi jika diperlukan.

menurunkan nyeri.
Pemindahan berat badan dari bagian diskus
yang terkena, meningkatkan pemisahan
interveterbral dan memungkinkan lesatan

Konsultasikan dengan ahli terapi fisik.

diskus tersebut untuk menggerakan saraf.


Program latihan/ peragangan yang spesifik
dapat menghilangkan spasme otot dan
menguatkan otot-otot punggung, ekstensor,
abdomen, dan otot quadrisep untuk

meningkatkan sokongan terhadap daerah


Pasang/ pantau penggunaan kantong pendingin

lumbal.
Meningkatkan sirkulasi pada daerah yang sakit,

atau pelembab, diatermia, ultrasound.

menghilangkan spasme, meningkatkan

Berikan intervensi tertentu pada pasca-

relaksasi pada pasien.


Menurunkan resijo terjadinya sakit/ kebocoran

prosedur mielografi jika perlu, seperti jaga

cairan spinal.

jangan sampai aliran cairan terlalu cepat, posisi


tidur datar atau ditinggikan 30o sesuai indikasi
selama beberapa jam.
Bantu dengan/ persiapan untuk pemasangan

Menurunkan stimulus dengan menghambat

TENS.
Rujuk ke klinik nyeri.

transmisi nyeri.
Upaya tim yang terkordinasi meliputi baik
terapi fisik maupun terapi psikologis dapat
mengatasi semua aspek yang mugkin
menyebabkan nyeri kronik dan memungkinkan
pasien untuk meningkatkan kreativitas dan
produktivitasnya.

DIAGNOSA KEPERAWATAN : KOPING, INDIVIDUAL TIDAK EFEKTIF/ KONFLIK


KEPUTUSAN
Tujuan : Mengidentifikasi tingkahlaku koping yang tidak efektif dan konsekuensi, Menunjukan
kewaspadaan dari koping pribadi/ kemampuan memecahkan masalah, Memenuhi kebutuhan
psikologis yang ditunjukan dengan mengekspresikan perasaan yang sesuai, identifikasi pilihan
dan penggunaan sumber-sumber, Membuat keputusan dan menunjukan kepuasan dengan pilihan
yang diambil.
Intervensi

Rasional

Mandiri :
Tinjau ulang patofisiologi yang mempengaruhi
pasien dan luasnya perasaan yang tidak
berdaya/ tanpa harapan/ kehilangan control
terhadap kehidupan tingkat ansietas.

Indikator dari tingkat disekuilibrium dan


kebutuhan akan intervensi untuk mencegah
atau mengatasi krisis.

Tetapkan hubungan terapeutik perawat-pasien.

Pasien mungkin akan leebih bebas dalam


konteks hubungan ini untuk menunjukan

perasaan tidak tertolong/ tanpa tenaga dan


untuk mendiskusikan perubahan yang
diperlukan dalam kehidupan pasien.
Catat ekspresi keragu-raguan, ketergantungan
kepada orang lain dan ketidakmampuan untuk
mengatasi AKS pribadi.

Mungkin menunjukan kebutuhan bersabdar


kepada orang lain untuk sementara waktu.
Pengenalan awal dan intervensi dapat
membantu pasien memperoleh kembali
ekulibrium.

Kaji munculnya kemampuan koping positif,


misalnya penggunaan teknik relaksasi
keinginan untuk mengekspresikan perasaan.

Jika individu memiliki kemampuan koping


yang berhasil dilakukan pada waktu lampau,
mungkina dapat digunakan sekarang untuk
mengatasi tegangan dan memelihara rasa
control individu.

Dorong pasien untuk berbicara mengenai apa


yng terjadi saat ini dan apa yang telah terjadi
untuk mengantisipasi perasaan tidak tertolong
dan ansietas.

Menyediakan petunjuk untuk membantu pasien


dalam mengembangkan kemampuan koping
dan memperbaiki ekuilibrium.

Perbaiki kesalahan konsep yang mungkin


dimiliki pasien. Menyediakan informasi
factual.

Membantu mengidentifikasi dan membenarkan


persepsi realita dan memungkinkan dimulainya
usaha pemecahan masalah.

Sediakan lingkungan yang tenang dan tidak


menstimulasi. Tentukan apa yang menjadi
kebutuhan pasien, dan menyediakannya jika
memungkinkan. Memberikan informasi yang
sederhana namun factual mengenai apa yang
dapat pasien harapkan dan ulangi sesuai
kebutuhan.

Menurunkan ansietas dan menyediakan control


bagi pasien selama situasi krisis.

Ijinkan pasien untuk mandiri pada awla dengan


melakukan kembali AKS mandiri bertahap,
perawatan diri dan aktivitas lainnya. Buat
kesempatan bagi pasien untuk membuat
keputusan mengenai keperawatan jika
memungkinkan, menerima pilihan untuk tidak
melakukannya.

Meningkatkan perasaan aman (pasien akan


mengetahui bahwa perawat akan
mengusahakan keamanan). Jika kontrol
tercipta, pasien akan memiliki kesempatan
untuk mengembangkan koping adaptif/
kemampuan memecahkan masalah.

Terima ekspresi verbal rasa marah, buat


batasan terhadap tingkah laku maladaptif.

Menunjukan rasa marah adalah proses yang


penting untuk resolusi rasa duka dan
kehilangan. Meskipun demikian, pencegahan

terhadap tindakan destruktif (seperti


memisahkan diri dari orang lain) akan
mempertahankan harga diri pasien.
Diskusikan perasaan menyalahkan diri sendiri/
proyeksi menyalahkan orang lain.

Ketika mekanisme ini dilindungi pada waktu


krisis, terdapat perasaan kounter-produktif dan
intensifikasi dari perasaan tidak tertolong dan
tanpa harapan.

Catat ekspresi ketidakmampuan untuk


menemukan arti kehidupan/ lasan untuk hidup,
perasaan sia-sia atau pengasingan terhadap
Tuhan.

Situasi krisis mungkin membangkitkan


pertanyaan mengenai kepercayaan spiritual
yang dapat mempengaruhi kemampuan untuk
berhadapan dengan situasi sekarang dan
rencana untuk masa depan.

Solusi pemecahan masalah untuk situasi


sekarang. Berikan informasi/ dukungan dan
memperkuat realita pada waktu pasien mulai
bertanya; lihatlah apa yang terjadi.

Membantu pasien/ orang terdekat untuk


mengilhami solusi yang mungkin (memberikan
pertimbangan pro dan kontra bagi setiap
masalah) meningkatkan perasaan control diri/
harga diri.

Identifikasi tingkah laku penanggulangan yang


baru, bahwa pasien menunjukan dan
memperkuat adaptasi positif.

Selama krisis koma, pasien mengembangkan


cara baru dalam menghadapi masalah, yang
dapat membantu resolusi situasi sekarang dan
juga krisis di masa depan.

DIAGNOSA KEPERAWATAN : RESIKO CIDERA YANG BERHUBUNGAN DENGAN


KEJANG BERULANG, KETIDAKTAHUAN TENTANG EPILEPSI DAN CARA
PENANGANAN SAAT KEJANG, PENURUNAN TINGKAT KESADARAN
Tujuan : Klien bebas dari cidera yang disebabkan oleh kejang dan penurunan kesadaran
Kriteria Hasil : Klien dan keluarga mengetahui pelaksanaan kejang, menghindari stimulus
kejang, melakukan pengobatan teratur untuk menurunkan intensitas kejang.
Intervensi

Rasional

Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga


secara penanganan saat kejang

Data dasar untuk intervensi selanjutnya.

Ajarkan klien dan keluarga tentang metode


mengontrol demam.

Orang tua dengan anak yang pernah


mengalami kejang demam harus diinstruksikan
tentang metode untuk mengontrol demam

(kompres dingin, obat antipiretik).


Anjurkan untuk kontrol pasca cidera kepala.

Cidera kepala merupakan salah satu penyebab


utama yang dapat dicegah melalui program
yang member keamanan yang tinggi dan
tindakan pencegahan yang aman, yaitu tidak
hanya dapat hidup aman, tetapi juga
mengembangkan pencegahan epilepsi akibat
cidera kepala.

Anjurkan keluarga agar mempersiapkan


Melindungi klien bila kejang terjadi.
lingkungan yang aman seperti batasan ranjang,
papan pengaman, dan alat suction selalu berada
dekat klien.
Anjurkan untuk menghindari rangsangan
cahaya yang berlebihan.

Klien sering mengalami peka rangsang


terhadap cahaya yang sangat silau.
Beberapa klien perlu menghindari stimulasi
fotik (cahaya menyilaukan yang kelap-klip,
menonton televise). Dengan menggunakan
kaca mata hitam atau menutup slah satu mata
dapat membantu mengontrol maslah ini.

Anjurkan mempertahankan tirah baring total


selama fase akut.

Mengurangi risiko jatuh/ terluka jika fertigo,


sinkope, dan ataksia terjadi.

Kolaborasi pemberian terapi; fenitoin


(Dilantin).

Terapi medikasi untuk menurunkan respon


kejang berulang.

DIAGNOSA KEPERAWATAN : KETAKUTAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN


KEMUNGKINAN KEJANG BERULANG
Tujuan : Setelah intervensi ketakutan klien hilang/ berkurang.
Kriteria : Mengenai perasaanya, dapat mengidentifikasi penyebab atau factor yang
mempengaruhinya dan menyatakan ketakutan berkurang/ hilang.
Intervensi

Rasional

Bantu klien mengekspresikan perasaan takut.

Ketakutan berkelanjutan memberikan dampak


psikologis yang tidak baik.

Lakukan kerjasama dengan keluarga.

Kerjasama klien dan keluarga sepenuhnya

penting. Mereka harus yakin terhadap manfaat


program yang ditetapkan. Harus ditekankan
bahwa medikasi antikonvulsan yang
diresepkan harus dikonsumsi secara terusmenerus dan bahwa ini bukan obat yang
membentuk kebiasaan. Medikasi ini dapat
dikonsumsi tanpa rasa takut tentang
ketergantungan obat selama bertahun-tahun
gunakan tanpa ketakutan akan ketergantungan
obat untuk beberapa tahun jika obat-obatan
tersebut diperlukan. Jika klien dibawah
pengawasan perawatan kesehatan dan
didampingi, maka klien melakukan instruksi
dengan taat.
Hindari konfrontasi.

Konfrontasi dapat meningkatkan rasa marah,


menurunkan kerjasama, dan mungkin
memperlambat penyembuhan.

Ajarkan kontrok kejang.

Kontrol kejang bergantung pada aspek


pemahaman dan kerjasama klien. Gaya hidup
dan lingkungan dikaji untuk mengidentifikasi
factor-faktor yang dapat mencetuskan kejang :
gangguan emosi, stressor lingkungan baru,
onset menstruasi pada klien wanita, atau
demam. Klien dianjurkan untuk mengikuti
gaya hidup rutin regular dan sedang, diet
(menghindari stimulant berlebihan), latihan dan
isntirahat. Gangguan tidur dapat menurunkan
ambang klien terhadap kejang. Aktivitas
sedang adalah terapi yang baik, tetapi
penggunaan energy yang berlebihan dapat
dihindari.

Beri lingkungan yang tenang dan suasana


penuh istirahat.

Mengurangi rangsangan eksternal yang tidak


perlu.

Kurangi stimulus ketegangan.

Keadaan tegang (ansietas, frustasi)


mengakibatkan kejang pada beberapa klien.
Pengklafikasian penatalaksanaan stress akan
bermanfaat. Oleh karena kejang diketahui oleh
asupan alkohol, maka kebiasaan ini harus

dihindari. Trapi paling efektif adalah mengikuti


rencana pengobatan untuk menghindari stimuli
yang mencetuskan kejang.
Tingkatkan kontrol sensasi klien.

Kontrol sensasi klien (dan dalam menurunkan


ketakutan) dengan cara memberikan informasi
tentang keadaan klien, menekankan pada
penghargaan terhadap sumber-sumber koping
(pertahanan diri) yang positif, membantu
latihan relaksasi dan teknik-teknik pengalihan,
serta memberikan respon balik yang positif.

Orientasikan klien terhadap prosedur rutin dan


aktivitas yang diharapkan.

Orientasi dapat menurunkan kecemasan.

Beri kesempatan kepada klien untuk


mengungkapkan ansietasnya.

Dapat menghilangkan ketegangan terhadap


kekhwatiran yang tidak diekspresikan.

Berikan privasi untuk klien dan orang terdekat.

Memberi waktu untuk mengekspresikan


perasaan, menghilangkan cemas, dan perilaku
adaptasi.
Adanya keluarga dan teman-teman yang dipilih
klien melayani aktivitas dan pengalihan
(misalnya membaca) akan menurunkan
perasaan trisolasi.