Anda di halaman 1dari 32

TUGAS MATA KULIAH

ALAT BANTU PRODUKSI

PRESS TOOL TUTUP POWER SUPLAY

Disusun :
Muhammad Septianto ( 13 )
Hening Krisna A ( 8 )
Sulis Ahmadi H ( 20 )
Kelas ME 3A

JURUSAN TEKNIK MESIN


POLITEKNIK NEGERI SEMARANG
2014/2015

Teknik Mesin
Politeknik Negeri Semarang

PERHITUNGAN DAN PEMILIHAN BAHAN


1. Pemilihan Bahan
Dalam pembuatan tutup power suplay ini produk yang di hasilkan diharapkan
ringan, kuat, dan harga yang relatif murah Dalam perancangan ini dipilih pelat Spcc-sd
yang memiliki spesifikasi sebagai berikut:
Jenis pelat

= Spcc-sd

Tebal pelat

= 0,4 (mm)

Tegangan tarik maksimum

= 362,970 (N/mm2)
( PT Essar Indonesia : SNI 07 3567 BJDC SR)

2. Presstool Sistem Compound


Benda yang akan dibuat dengan presstool sistem compound adalah sebagai berikut :

Gambar 2.1. Gambar tutup power suplay

Presstool Jenis Compound adalah salah satu jenis presstool yang terdiri dari satu station
namun terdapat lebih dari satu proses pengerjaan. Proses pengerjaan dilakukan secara
serempak. Presstool jenis ini memiliki kelebihan dan kekurangan sebagai berikut :
Kelebihan :

Dapat dilakukan beberapa proses secara bersamaan sehingga proses berjalan lebih
cepat.

Kerataan dari produk lebih terkontrol karena hanya sekali proses.

Ketelitian hasil produk mudah dicapai karena proses berjalan secara serentak.

Kekurangan :

Konstruksi lebih rumit karena terdiri dari beberapa proses.

Dengan beberapa proses pengerjaan, alat cenderung lebih mudah rusak.

Biaya perawatan lebih besar.

Berikut adalah proses pembuatan tutup power suplay.

Gambar 2.2 Layout proses pembuatan

3. Perhitungan Bentangan
Ukuran bentangan material produk harus ditentukan berdasarkan ukuran produk
Tutup Power Suplay yang direncanakan sehingga dapat memperkecil material pada stock
strip yang terbuang.

Gambar 3.1. Ukuran bentangan tutup ower suplay


Menentukan ukuran bentangan
Rumus yang digunakan untuk menentukan bentangan produk adalah:
(

Jika

(D.Eugene Ostergaard, 1963: 26)

maka .
3

Jika

, maka

Untuk

maka.

Keterangan:
Radius bending

Tebal daerah bending

Sudut bending

Tebal pelat

Panjang pelat yang mengalami bending

Panjang pelat yang tidak mengalami bending

Perhitungan :
A=(R+X)
A = ( 0,4 + 0,33 . 0,4)
A = 0,532 . 1,57
A = 0,83524
2A = 1.67 mm

Jadi ukuran bentangan adalah :

Panjang Bentangan : 146 mm

Lebar Bentangan : 9,2 + 1,67 + 85,2 + 9,2 = 105,27 mm

Tebal = 0,4 mm

4. Perhitungan Clearance
Clearance adalah kelonggaran antara punch dan die yang diizinkan. Besarnya clearance
tergantung dari jenis dan tebal material. Alternatif clearance betujuan untuk menentukan
jenis mana yang paling tepat dalam proses pengerjaan produk agar proses yang terjadi
antara punch dan die menghasilkan produk sesuai yang direncanakan. Clearance yang ada
dalam rancang bangun ini adalah clearance untuk proses pemotongan dan clearance untuk
proses pembentukan.
4.1.Clearance Proses Pemotongan
4

Clearance adalah kelonggaran (celah) antara punch dan die saat terjadi
pemotongan, yaitu pada sisi potong punch. Besarnya clearance tergantung dari tebal pelat
dan jenis material yang digunakan.
Clearance yang digunakan untuk proses pemotongan adalah sebagai berikut:

Gambar 4.1. Grafik Clearance


(Wilson, 1984: 175 176 )
Group I

: Rata-rata clearance 4,5 % dari ketebalan material, disarankan untuk


piercing dan blanking. Jenis bahan campuran alumunium.

Group II

: Rata-rata clearance 6 % dari ketebalan material, disarankan untuk piercing


dan blanking. Jenis bahan campuran alumunium, kuningan, baja rol dingin
dan stainless steel lunak.

Group III

: Rata-rata clearance 7,5 % dari ketebalan material, disarankan untuk


piercing dan blanking. Baja rol dingin, stainless steel lunak dan stainless
steel menengah.

Bahan yang digunakan untuk membuat tutup power suplay adalah Pelat Spcc-sd
dan masuk dalam Group II, sehingga besarnya clearance pemotongan dapat dihitung
dengan rumus :

Us = 6 % x t

(Wilson, 1984 : 175- 176 )

Keterangan :
Us = Clearance die terhadap punch

(mm)
5

= Tebal pelat

(mm)

dari rumus diatas diperoleh clearance pemotongan sebesar :


Us = 6 % x t
= 0,06 x 0,4
= 0,024 [mm]

4.2. Clearance Proses Pembentukan


Untuk clearance proses pembentukan digunakan rumus :
Us = (1,08 - 1,1) x t

(Donalson, dkk., 1983:772)

Besarnya clearance pembentukan pada perancangan ini adalah


Us = 1,1 x t
Diketahui tebal pelat = 0,4 (mm)
Us = 1,1 x 0,4 = 0,44 (mm)
Jadi clearance proses pembentukan adalah 0,44 (mm)

5. Perhitungan Gaya Proses Pemotongan


Dalam rancang bangun Presstool produk Tutup power suplay bahan yang
digunakan adalah pelat Spcc-sd tebal 0,4 (mm), dengan t maksimum 362,970 (N/mm2).
Gaya pemotongan yang terjadi yaitu lanzing, banding, notching dan parting.
Untuk menentukan besarnya gaya pemotongan yang terjadi dihitung dengan
menggunakan rumus sebagai berikut :
Fp= 0,8 x U x s x t

(Luchsinger,1984:112)

Keterangan :
Fp = Gaya potong

(N)

U = Keliling potong

(mm)

(mm)

= Tebal pelat

t = Tegangan tarik maksimal bahan

(N/mm2)

5.1. Noching 1

Gambar 5.1. Layout proses noching 1

= 2 ( 33 + 33 + 10 )
= 152 [mm]

Fp

= 0,8 .U . s . t
= 0,8 152 0.4 370
= 17996,8 [N]

5.2.

Pearcing 1

Gambar 5.2. Layout proses pearching 1

=4( .D)
=4( .5)
= 62,83 [mm]

Fp

= 0,8 . U . s . t
= 0,8 62,83 0,4 370
= 7439,07 [N]

5.3.

Pearcing 2
7

Gambar 5.3. Layout proses pearching 2

=8.[( .

. D1 ) + ( .

. D2 ) + ( 2 . l ) ]

=8.[( .

. 48 ) + ( .

. 32 ) + ( 2 . 8 ) ]

= 379,32 [mm]
Fp

= 0,8 . U . s . t
= 0,8 379,32 0,4 370
= 44911,4 [N]

5.4.

Pearcing 3

Gambar 5.4. Layout proses pearching 3

=8.[( .

. D1 ) + ( .

. D2 ) + ( 2 . l ) ]

=8.[( .

. 68 ) + ( .

. 52 ) + ( 2 . 8 ) ]

= 504,99 [mm]
Fp

= 0,8 . U . s . t
= 0,8 504,99 0,4 370
= 59790,8 [N]

5.5.

Pearcing 4
8

Gambar 5.5. Layout proses pearcing 4

= [4.( x 2)] + 9 + 5 + 9 + 5
= 53,13 [mm]

Fp

= 0,8 . U . s . t
= 0,8 53,13 0,4 370
= 6290,5 [N]

5.6.

Pearcing 5

Gambar 5.6. Layout proses pearcing 5

=8.[( .

. 72 ) + 3,2 + 20 + 9.3 + 7,8 ]

= 548,59 [mm]
Fp

= 0,8 .U.s.t
= 0,8 548,59 0,4 370
= 64953,05 [N]

5.7.

Pearcing 6

Gambar 5.7. Layout proses pearcing 6

= 2 {[4.( x 8)] + 20 + 13,1 + 20 + 13,1}


= 333,46 [mm]

Fp

= 0,8 . U . s . t
= 0,8 333,46 0,4 370
= 39481,6 [N]

5.8.

Noching 2

Gambar 5.8. Layout proses noching 2

= 4 {[2.(

x 2)] + 1 }

= 15,56 [mm]
Fp

= 0,8 .U.s.t
= 0,8 15,56 0,4 370
= 1842,3 [N]

5.9.

Pearcing 7
10

Gambar 5.9. Layout proses pearcing 7

= 8 . ( x 2,5 )
= 62,83 [mm]

Fp

= 0,8 .U.s.t
= 0,8 62,83 0,4 370
= 7439,07 [N]

5.10. Pearcing 8

Gambar 5.10. Layout proses pearcing 8

= 2 . [ ( x 4 ) + 3 +3 ]
= 37,13 [mm]

Fp

= 0,8 .U.s.t
= 0,8 37,13 0,4 370
= 4396,1 [N]

5.11. Noching 3
11

Gambar 5.11. Layout proses noching 3

= 2 x 30
= 60 [mm]

Fp

= 0,8 . U . s . t
= 0,8 60 0,4 370
= 7104 [N]

6. Perhitungan Gaya Proses Pembentukan

12

Dalam rancang bangun Presstool produk Tutup power suplay, gaya pembentukan
yang terjadi adalah proses bending. Untuk menentukan besarnya gaya pembentukan yang
terjadi dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Fb= 0,4 x b x s x t

(Luchsinger,1984:112)

Keterangan :
Fb

= Gaya bending

(mm)

= Panjang bending

(mm)

= Tegangan tarik maksimal bahan

(N/mm2)

= Tebal pelat

(mm)

6.1. Bending

Gambar 6.1. Layout proses bending

Fb

= 0,4 x b x s x t

(Luchsinger,1984:112)

= 0,4 x (146x2) x 0,4 x 362,970


= 16957,95 (N)

7. Gaya Total Proses


13

Gaya total mesin diperoleh dari jimlah gaya seluruh proses dan gaya stripping, yaitu
sebagai berikut :
Tabel 7.1. Gaya Total Proses ( Ftp )
No

Proses pengerjaan

Gaya [N]

Notching 1

17996,8

Pearcing 1

7439,07

Pearcing 2

44911,4

Pearcing 3

59790,8

Pearcing 4

6290,5

Pearcing 5

64953,05

Pearcing 6

39481,6

Notching 2

1842,3

Pearcing 7

7439,07

10

Pearcing 8

4396,1

11

Gaya Bending

12

Noching 3

Jumlah

26904,59
7104
288549.28

8. Perhitungan Gaya Stripping


Gaya stripping adalah gaya yang timbul akibat adanya pegas stripping yang berfungsi
untuk menahan stock strip agar tidak bergeser sewaktu terjadi proses pemotongan dan
pembentukan dan juga digunakan agar stock strip tidak ikut terangkat saat punch naik.
Rumus yang digunakan :
Fs = (5%-20%) x Gaya Total

(Donalson, dkk, 1983 : 698)

Beberapa batasan umum tentang gaya stripper :


a.

Untuk material yang lunak, maka gaya yang dibutuhkan gaya stripper besar.

b.

Penggunaan clearance yang relatif kecil, diperlukan gayastripper yang besar.

c.

Punch dan die yang tajam akan memperkecil gaya stripper.


14

d.

Pengerjaan dengan kecepatan tinggi membutuhkan gayastripper yang besar.

Dalam pembuatan presstool produk penutup power suplay, material yang digunakan
dikategorikan sebagai material yang lunak dan clearance yang yang digunakan untuk
pekerjaan normal. Gaya yang akan digunakan diambil 10% dari gaya total, sehingga :
Fs

= 5% . 288549,28
= 14427,46 [N]

9. Perhitungan Kapasitas Mesin yang digunakan


Kapasitas mesin yang digunakan harus sesuai dengan gaya yang bekerja dari press tool
tersebut. Besar gaya yang bekerja pada press tool tersebut adalah jumlah dari gaya toyal
proses dengan gaya stripper.
Fm = Fpreses + Fstripper
Fmesin = Ftotal + Fstripper
= 288549.28 + 14427,46 = 302976,74 (N)

=mxg

= f / g = 302976,74 / 9,81 = 30884,47 (Kg) = 30,88 (Ton)

karena kapasitas mesin yang dibutuhkan adalah 30,88 (Ton), maka kita dapat
menggunakan mesin press dengan kapasitas 32 ton.
Dengan Spesifikasi :
Maximum Pressing Force

= 32 ton

Panjang Meja

= 609 mm

Lebar Meja

= 381 mm

Panjang Lubang

= 279 mm

Lebar Lubang

= 203 mm

10. Perhitungan Dimensi Die


15

Die adalah pelat pasangan punch berfungsi sebagai cetakan atau landasan saat
proses pemotongan maupun pembentukan. Die diikatkan pada pelat bawah.

Tabel 10.1. Hubungan tebal pelat dengan die


Tebal Pelat [mm]

Tebal Die [mm]

...s/d 1,5875

(19,05 s/d 25,4)

(1,5875 s/d 3,175)

(25,4 s/d 28,575)

(3,175 s/d 4,7625)

(28,575 s/d 34,925)

(4,7625 s/d 6,35)

(34,925 s/d 41,275)

> 6,35

(41,275 s/d 50,8)

(Donaldson, Lecain, Goold, 1983 : 678)

Dari table diatas maka kita dapat menentukan tebal die, yaitu :
Tebal bahan plat

= 0,4 [mm]

Maka tebal die

= 19,05 [mm] - 25,4 [mm]

Untuk perancangant press tool tutup power suplay ini, tebal die yang digunakan =
25,4 [mm] untuk menyesuaikan tinggi bending.

Panjang dan lebar die ditentukan dengan berdasarkan lebar stock strip ditambahkan
dengan jarak kritis (A). Besarnya jarak kritis (A) ditentukan berdasarkan tebal die yaitu :

Jarak Kritis (A) = (1,5-2) x Tebal die


(Frank W. Wilson, 1984 : 181)

Jarak Kritis (A)

= 1,5 x 25,4 [mm]


= 38,1 [mm]

Panjang die

= 2 . A + panjang proses
= 2 . 38,1 + 1082
= 1158,2 [mm]

Lebar die

= 2 . A + lebar stock strip


16

= 2 . 38,1 + 96
= 172,2 [mm]
Jadi dimensi die yang digunakan =
Panjang

= 1158,2

[mm]

Lebar

= 172,2

[mm]

Tebal

= 25,4

[mm]

Bahan die dipilih dari BOHLER Amutit S yang mempunyai tegangan tarik maksimum
640 [N/mm2].
terjadi
(

)
2

= 4,26 [N/mm ]
ijin
= 80 [N/mm2]
Karena terjadi < ijin maka konstruksi aman.

11. Baut Pengikat Die


Baut pengikat die adalah baut yang mengikat die dengan pelat bawah agar tidak bergeser
dari kedudukannya. Diameter baut pengikat die ini dapat ditentukan melalui table
dibawah ini.
Tabel 11.1. Standart Baut Pengikat Die
Baut yang

Panjang

Panjang Maksimum

Tebal Die

digunakan

minimum baut

Baut

(mm)

(mm)

(mm)

M5

15

50

10 18

M6

25

70

15 25

M8

40

90

22 32

M10

60

115

27 38

M12

80

150

> 35

Berdasarkan table diatas maka baut yang digunakan sebagai pengikat antara die dan pelat
bawah adalah baut M8 dari standart ACME dengan tipe CBB M8 L90.
12. Pegas Stripping

17

Untuk menentukan besarnya gaya yang harus diberikan oleh pegas stripping adalah
dengan cara membagi gaya stripping dengan jumlah pegas yang akan digunakan.
Fpg =
Keterangan :
Fst = Gaya stripper

(N)

Fpg = Gaya yang diberikan oleh setiap pegas

(N)

N = Jumlah pegas
Dalam kontruksi ini digunakan 8 pegas, jadi besarnya gaya setiap pegas adalah :
Fpg =

= 1803,43 (N)

Dengan hal ini pegas diambil dari standart pegas yang ada di pasaran yaitu standart
ACME dengan kode CSL 32% dengan data sbb :
Gaya normal (Fn)

= 2468 (N)

Panjang tekan Normal

= 34 (mm)

Panjang tekan bebas (lo)

= 50 (mm)

Defleksi normal (Sn)

= 16 (mm)

Diameter Luar (Do)

= 50 (mm)

Diameter dalam (Di)

= 25 (mm)

Diameter Panjang Pegas (d) = 12,5 (mm)

Gambar 12.1. Pegas stripper

Untuk mendapatkan gaya sebesar gaya stripper maka rumus defleksinya adalah :
Fn / Fp = Sn / Sp
Sp = Fp x Sn / Fn

Keterangan :
Fn

= Gaya pegas tertekan

[N]
18

Fpg

= Gaya pegas yang terjadi

[N]

Sn

= Defleksi yang diijinkan

[m]

Spg

= Defleksi yang terjadi

[m]

Defleksi pegas yang terjadi agar menghasikan gaya 2648 (N) adalah :
Sp = Fp x

= 1803,43 x

= 11,69 (mm)

Panjang pegas terpasang (Lp)


Lp = Lo Sp = 50 11,69 = 38,31 (mm)
Maka pegas stripping yang digunakan adalah dengan standar JIS B 5012 berkode SWB
50 50
V pegas

x (Do2 Di2) x tinggi pegas

x (502 252) x 50

= 73631,07 (mm3)
Pada kontruksi ini digunakan 8 pegas maka berat pegas stripper (Wpegas) :
Berat pegas (W) = 8 x V x x g
= 8 x 73631,07 x 7,85.10-6 x 9,81
= 45,36 (N)
Massa pegas (m) =
=
= 4,62 (kg)

13. Menentukan Dimensi Pelat Stripping


Gaya stripping adalah gaya yang ditimbulkan oleh pegas stripping. Gaya ini berfungsi
untuk menjepit stock strip agar tidak bergeser sewaktu proses pemotongan dan
pembentukan berlangsung dan untuk melepaskan jepitan pelat stripping pada punch.
Beban atau gaya yang bekerja dalam hal ini adalah gaya stripping (Fst) yaitu sebesar
14427,46 (N).

19

Gambar 13.1. Gaya yang Bekerja pada Pelat Stripper

Y =

(Ferdinand L Singer, 1995 : 300)

I =
h =

Keterangan:
Y

= Defleksi maksimal yang diijinkan (mm)

Fst

= Gaya stripping

(N)

= Jarak maksimal dua dukungan

(mm)

= Modulus elastisitas = 2,1 x 105

(N/mm2)

= Momen inersia

(mm4)

= Lebar Stripping

(mm)

= Tebal pelat stripping

(mm)

Berdasarkan rumus diatas, pelat Stripper dapat dihitung sebagai berikut:


Fs

= 14427,46 (N)

= 0,0254 (mm)

= 1158,2 (mm)

= 2,1 x 105 (N/mm2)

= 172,2 (mm)

( Timoshenko, 1997 : 141)

sehingga ,
h

=
= 91,36 mm

Maka dimensi pelat stripper adalah :


Panjang

= 1158,2

(mm)

Lebar

= 172,2

(mm)

Tebal

= 91,36

(mm)

Berat pelat stripper (W) = V x x g


20

= (1158,2 x 172,2 x 91,36) x 7,85.

x 9,81

= 1403,17 (N)

Massa stripper (m)

=
=

= 143,03 (kg)

14. Menentukan Baut Stripper


Baut stripping merupakan baut pada pelat atas yang fungsinya sebagai dudukan pegas
stripper dan pengikat pelat stripper. Baut stripper mendapat beban dari berat pegas
stripper + berat pelat stripper + gaya pegas terpasang. Diameter baut dapat dihitung
dengan rumus :
F
d=

(Sularso, 1994 : 296)

Keterangan :
d

= diameter baut

(mm)

Fbaut

= gaya yang bekerja pada baut

(N)

= tegangan tarik maksimal bahan

= vaktor keamanan

= massa jenis bahan

(kg/mm3)

= 7,85.10-6

(untuk Steel)

= percepatan gravitasi

(m/s2)

F baut

(N/mm2)

= gaya stripper + W pelat stripper + W pegas stripper


= 14427,46 (N) + 1403,17 (N) + 45,36 (N)
= 15875,99 (N)

Baut stripper pada perancangan ini dengan jumlah 8 buah, maka:


Gaya untuk tiap baut =

= 1984,49 N
21

Baut diambil dari standar ACME dengan bahan SCM 435.


t = 120-140 (Kg/mm2) = 1178 1374 (N/mm2)
Faktor keamanan, v = 8 ( live load ).
d=

d=
d = 4,14 (mm)

Untuk keamanan kontruksi baut yang digunakan adalah M10, yaitu dengan nomor kode
CBB M10-L120
Volume baut (V)= /4 x d2 x t
= /4 x 102 x 80
= 6.283,185 (mm3)
Berat baut stripper (Wbs) = V x x g
= 6.283,185 x 7,85 x 106 x 9,81
= 0,483 (N)
Massa baut stripper (m) =
=
= 0,038 (kg)

15. Perhitungan ukuran Punch


Panjang punch dihitung dengan mempertimbangkan besarnya gaya buckling pada
masingmasing proses pengerjaan. Dalam perancangan ini panjang puch direncanakan 50
[mm]. Untuk menentukan besarnya gaya buckling pada punch dapat dicari dengan rumus:
22

F=

Bila diberi angka keamanan maka persamaan berubah menjadi :


L=

(Ferdinand L Singer ,1995 :300)

Keterangan :
F

= Gaya punch

= Modulus elastisitas

(N)

= 2,1 x 105

(N/mm2)

= Panjang punch maksimal

(mm)

= Momen inersia

(mm4)

= Angka keamanan (beban dinamis v = 8)

Dikarenakan banyaknya punch yang ada di rancangan press tool untuk membuat tutup
power suplay ini maka kami hanya akan mengambil sample dengan luasan permuakaan
terkecil untuk perhitungan menentukan panjang punch maksimal.
15.1. Perhitungan Pearcing 7 Punch

Gambar 15.1 perhitungan punch pearching 7

Momen Inersia :
Momen inersia terhadap sumbu X :
IX1 =

= 3005496 mm4

IX2 =

= 1319167,32 mm4

IX = IX1 - IX2 = 3005496 1319167,32 mm4


23

IX = 1686328,68 mm4
Momen inersia terhadap sumbu Y :
IY1 =

= 2853344 mm4

IY2 = IX2 = 1319167,32 mm4l


IY = IY1 IY2 = 2853344 1319167,32
IY = 1534176,68 mm4
Diperoleh momen inersia minimum sebesar 1686328,68 mm4
Jadi panjang maksimum punch ( panjang saat terjadi buckling ) adalah sebagai
berikut :
L

= 1236,86 mm

Jadi konstruksi aman karena panjang punch yang direncanakan adalah 50 mm.

15.2. Perhitungan Bending Punch

Gambar 15.2. Blanking Punch

Momen Inersia :
Ix =

= 2750 mm4

Iy =

= 29947,5 mm4

Diperoleh momen inersia minimum sebesar 882mm4

24

Jadi panjang maksimum punch ( panjang saat terjadi buckling ) adalah sebagai
berikut :
L

= 99,48 mm

Jadi konstruksi aman karena panjang punch yang direncanakan adalah 50 mm.

16. Plat Bawah


Tebal Plate Bawah

Gambar 35. Pelat Bawah

Pelat ini berfungsi menahan beban yang dikenakan pada alat cetakan sewaktu proses
pembentukan berlangsung. Untuk panjang dan lebar dari plat bawah dapat dilihat tabel
spesifikasi mesin press. Untuk menghitung dimensi plat bawah yaitu dengan melihat
lubang meja mesin yang dipakai seperti dalam tabel mesin. Berdasarkan tabel, untuk
beban 32 ton panjang dan lebar plat bawah adalah 609 mm x 381 mm.
Sedangkan untuk tebal plat dihitung dengan menggunakan rumus berikut ini :

Y=

Keterangan :
Y

= Defleksi yang diijinkan (0,0254 mm)

Fb = Gaya Total Proses (N)


E

= Modulus Elastisitas (N/mm2)

Lp = Panjang Lubang ( 279 mm)


b

= Lebar Lubang ( 203 mm)

= Tebal Plat bawah ( mm )


25

= Momen Inersia

Y=

h =
h =
h = 69,56 mm
tinggi sebesar 69,56 mm merupakan tinggi antara pelat atas dan die, oleh sebab itu die
dalam hal ini ikut terdefgleksi akibat gaya total.
Maka untuk mencari tebal pelat bawah digunakan = H tebal die
Jadi tebal pelat bawah

= 69,59 mm 32 mm
= 32,67 mm diambil 35 mm

Maka tebal pelat bawah adalah 35 mm. Dimensi pelat bawah dengan standar OBI untuk
mesin press 32 ton adalah
Panjang Meja

= 609 mm

Lebar Meja

= 381 mm

Tebal meja

= 35 mm

Bahan dipakai ST 60.

17. Plat Atas


Tebal Plat Atas
Untuk menghitung pelat atas digunakan perhitungan sebagai berikut :
Tebal Pelat Atas

= 0,8 x Tebal Pelat Bawah

Dari perhitungan diatas maka tebal pelat atas :


ha = 0,8 x 35 mm
= 28 mm
Jadi ukuran pelat atas adalah :
26

Panjang Meja

= 609 mm

Lebar Meja

= 381 mm

Tebal meja

= 28 mm

Bahan dipakai ST 60.

18. Punch Holder Plate

Gambar 18. Punch Holder Plate


Plat pemegang punch berfungsi untuk mengikat dan memegang punch. Untuk
menentukan tebal plat pemegang punch, maka digunakan rumus sebagai berikut :
Y=
Keterangan :
Y

= Defleksi yang diijinkan (mm)

Fst = Gaya Stripper (N)


E

= Modulus Elastisitas (N/mm2)

Ls = Jarak dukungan pegas arah memanjang (mm)


b

= Jarak dukungan arah melebar (mm)

= Momen Inersia

Data :
Fst = 10995,103 N
Y

= 0,0254 mm

= 2,15 . 105 N/mm2

= 330,2 170 = 160,2 mm

= 305 70 = 235 mm

Momen Inersia Stripper :


27

I=
I = 107783.79 mm4
I

= 17,65 mm diambil 20 mm.

jadi ukuran stripper plate adalah :


Panjang

= 330,2 mm

Lebar

= 305 mm

Tebal

= 20 mm

Bahan plat dipilih ST 60.

19. Holder Plate


Plate penahan digunakan untuk menahan kepala punch agar gay dari punch tidak
merusak pelat atas dan menahan dari gaya stripper. Untuk panjang dan lebar sama
dengan ukuran die.
Bahan pelat penahan diambil ST 37 dengan tegangan tarik 370 N/mm2, dengan
perhitungan berikut ini :

t =
Keterangan :

= Tegangan tarik bahan pelat penahan (N/mm2)

= Gaya Pembalik (N)

= Luas Penampang (mm2)

= Gaya Stripping + Gaya Total Proses


= 10995,103 N +

= 120946,133 N
A

=
28

= 326,88 mm2
A

= t . keliling plat penahan.

326,88 mm2

= t . 2 ( 330,2 + 302 ) mm

= 0,26 mm

Untuk pertimbangan keamanan, tebal plat dibuat dengan ukuran 3 mm sedang ukuran
panjang dan lebar disesuaikab dengan stripper plate.
Jadi ukuran holder plate adalah :
Panjang

= 330,2 mm

Lebar

= 305 mm

Tebal

= 3 mm

Bahan plat dipilih ST 37.

20. Stopper
Untuk menentukan langkah material sehingga didapatkan produkyang akurat dan sesuai
dengan yang diharapkan maka diperlukan stopper. Dimensi stopper disesuaikan dengan
kondisi cetakan.

21. Shank
Shank digunakan untuk memgang cetakan bagian atas dengan mesin press. Bentuk dan
ukuran shank tergantung dari bentuk holder yang ada pada msin press. Gaya terbesar
yang terjadi pada shank adalah gaya tekan yang dicari dengan perhitungan sebagai berikut
:

=
Keterangan :
29

= Tegangan maksimum bahan shank

= Angka Keamanan

= Gaya Proses (N)

dc = Diameter kritis shank


Bahan shank yang digunakan adalah ST 60 dengan = 600 N/mm - 750 N/mm.

Gambar 21. Shank

Maka :
dc = d2 =
=
= 32,82 mm
Pada sahnk gaya terebesar adalah gaya pada saat penekanan proses. Berdasarkan
pertimbangan ini maka ditentukan diameter kritis 32 mm. Dengan ukuran yang lain
menyesuaikan. Sedangakan untuk letak shank diasumsikan berada ditengah-tengah plat
karena mengikuti pencekaman pada mesin press.
30

22. Pillar
Pillar digunakan untuk mengarahkan pelat atas agar dapat bergerak naik turun dengan
lurus dabn bebas. Pillar pada umumnya terpasng mati (suaian sesak) dengan pelat bawah.

Gambar 22. Pillar


Diameter pillar dihitung dengan memperhatikan gaya total dari komponen yang
berhubungan dengan fungsi pillar itu sendiri :
Fh =
Y=
d=

Keterangan :
Fh

= Gaya horisontal karena berat alat bagian atas

Wca

= Berat alat bagian atas (822,446 N)

= Jumlah pillar

= Jarak antara pelat atas dan pelat bawah saat bekerja

= Jarak pillar terhadap titik pusat gaya

Li

= Tebal Plat Penahan + Tebal Punch holder plate + Panjang


pegas stripper tertekan + tebal stripper plate + Tebal die.
= 3 mm + 20 mm + 34 mm + 57 mm + 32 mm
= 146 mm

31

Jumlah pillar 4 buah.


X

=
= 269,25 m

Fh =
= 1516,74 N
Karena gaya horisontal ditumpu dengan 4 pillar, maka besarnya gaya tiap-tiap pillar
adalah :
Fh =
= 379,18 N/pillar
Maka diameter pillar adalah :
d=
d = 38,52 mm
dalam perancangan ini diambil bahan St 60 dengan diameter 40 x 215 mm.

23. Bush
Bush berfungsi sebagai pengarah pillar. Bush ini selalu mengalami gaya gesek guna
melindungi pillar dari keausan. Gahan bush dipilih dari kuningan dengan ukuran
menyesuaikan pillar. Bush akan mengalami kerusakan terlebih dahulu guna melindungi
pillar.

32