Anda di halaman 1dari 12

OSTEOARTHRITIS

http://himapspdfkunlam.blogspot.com/2011/12/osteoarthritis.html

Definisi
Osteoartitis (OA) merupakan penyakit sendi degeneratif, dimana keseluruhan struktur
dari sendi mengalami perubahan patologis. Ditandai dengan kerusakan tulang rawan (kartilago)
hyalin sendi, meningkatnya ketebalan serta sklerosis dari lempeng tulang, pertumbuhan osteofit
pada tepian sendi, meregangnya kapsula sendi, timbulnya peradangan, dan melemahnya otot
otot yang menghubungkan sendi. (Felson, 2008)
Epidemiologi
Insiden OA lutut di Amerika Serikat mengenai sekitar 240 per 100.000 penduduk
pertahun. Sulit untuk memperkirakan prevalensi dari osteoarthritis karena tidak ada kriteria pasti
untuk menegakkan diagnosis. Berdasarkan usia, OA lutut mengenai 5% populasi yang berusia
lebih dari 26 tahun, 17% usia 45 tahun ke atas, dan 20% usia 60 tahun ke atas. Berdasarkan
penelitian tahun 2004, OA (pada semua sendi) terdiagnosis pada 11,1 juta pasien rawat jalan, dan
diperkirakan pada tahun 2005 9,3 juta orang dewasa mempunyai gejala OA. OA dapat
menyerang semua sendi, namun predileksi yang tersering adalah pada sendi-sendi yang
menanggung beban berat badan seperti panggul, lutut, dan sendi tulang belakang bagian lumbal
bawah.
Faktor Resiko
Hal-hal yang dapat menjadi faktor risiko timbulnya OA antara lain :
1. Usia
Semakin bertambahnya usia, resiko terjadinya penyakit sendi semakin besar. Pada usia tua terjadi
perubahan pada rantai proteoglikan dan kandungan air pada tulang rawan. Perubahan struktur
tulang rawan sendi menyebabkan perubahan vaskularisasi pada tempat tersebut sehingga aliran
darah ke sendi menurun. Penurunan aliran darah ini menyebabkan proses perbaikan tulang rawan
sendi menjadi lambat.

2. Jenis Kelamin
Berdasarkan penelitian, insiden OA lutut lebih tinggi pada wanita di banding pria. Pada usia
diatas 45 tahun OA lutut mengenai 6%-13% laki-laki sedangkan pada wanita angka kejadiannya
lebih tinggi yaitu 7%-19%.
3. Obesitas
Berat badan turut berperan dalam patogenesis dan patofisiologi OA lutut terutama dalam
perkembangan penyakit ke derajat yang lebih tinggi. Peningkatan berat badan menyebabkan
peningkatan beban yang disokong sendi. Dalam keadaan normal, gaya berat badan akan melalui
medial sendi lutut dan diimbangi otot paha bagian lateral, sehingga resultan jatuh pada bagian
sentral sendi lutut. Pada keadaan obesitas resultan gaya bergeser ke medial. Beban yang diterima
sendi lutut menjadi tidak seimbang, sehingga lutut menjadi varus (menjauhi sumbu tubuh).
4. Suku Bangsa
Berdasarkan penelitian OA pada sendi paha (hip joint) sering mengenai orang kulit hitam dan
orang Asia. Sedangkan di Amerika OA sering mengenai penduduk asli Amerika (indian)
daripada orang kulit putih. Hal ini berkaitan dengan perbedaan cara hidup dan frekuensi kelainan
kongenital dan pertumbuhan.
5. Genetik
Adanya mutasi dalam gen prokolagen II dan gen-gen struktural lain untuk unsur-unsur tulang
rawan sendi seperti kolagen tipe IX dan XII, protein pengikat atau proteoglikan diduga berperan
dalam terjadinya OA lutut.
6. Cedera Sendi, Pekerjaan, dan Olahraga
Pekerjaan berat dengan pemakaian satu sendi secara terus menerus, seperti tukang pahat dan
pemetik kapas, meningkatkan resiko terjadinya OA. Cedera seperti robekan meniskus dan
ketidakstabilan ligamen menyebabkan kerusakan pada tulang rawan sendi, sehingga beresiko
terjadi OA.
7. Kelainan Pertumbuhan

Kelainan seperti Perthes disease dan dislokasi kongenital paha (congenital dislocation of the
hip)merupakan faktor resiko terjadinya OA pada usia muda.
8. Faktor Lain
Tingginya kepadatan tulang
Peda beberapa penelitian menyebutkan bahwa kepadatan tulang yang tinggi tidak membantu
mengurangi benturan beban yang diterima oleh tulang rawan sendi sehingga tulang rawan
menjadi mudah robek.
Klasifikasi
Osteoartritis dibagi menjadi dua, yaitu OA primer dan OA sekunder. OA primer penyebabnya
tidak diketahui (idiopatik) dan tidak berhubungan dengan kelainan sistemik. Sedangkan OA
sekunder disebabkan oleh kelainan endokrin, inflamasi, metabolik, kelinan pertumbuhan dan
herediter, jejas makro dan mikro, dan imobilisasi yang terlalu lama.
Tanda dan Gejala
1. Nyeri sendi
Gejala klinik yang paling menonjol adalah nyeri. Nyeri pada osteoartritis sendi lutut, biasanya
mempunyai irama diurnal; nyeri akan menghebat pada waktu bangun tidur dan sore hari. Selain
itu, nyeri juga dapat timbul bila banyak berjalan, naik dan turun tangga atau bergerak tiba-tiba.
Nyeri yang belum lanjut biasanya akan hilang dengan istirahat, tetapi pada keadaan lanjut, nyeri
akan menetap walaupun penderita sudah istirahat. Ada tiga tempat yang dapat menjadi sumber
nyeri, yaitu sinovium, jaringan lunak sendi dan tulang. Nyeri sinovium dapat terjadi akibat reaksi
radang yang timbul akibat adanya debris dan kristal dalam cairan sendi. Selain itu juga dapat
terjadi akibat kontak dengan rawan sendi pada waktu sendi bergerak. Kerusakan pada jaringan
lunak sendi dapat menimbulkan nyeri, misalnya robekan ligamen dan kapsul sendi, peradangan
pada bursa atau kerusakan meniskus. Nyeri yang berasal dari tulang biasanya akibat rangsangan
pada periosteum karena periosteum kaya akan serabut-serabut penerima nyeri. Selain itu rasa
nyeri dipengaruhi oleh keadaan psikologik pasien, sehingga dianjurkan untuk melakukan
evaluasi psikologik dalam penatalaksanaan penderita osteoartritis.
OA : peningkatan aktivitas fibrogenik dan penurunan aktivitas fibrinolitik

Penumpukan trombus dan kompleks lipid pada pembuluh darah subkondral


Iskemia dan nekrosis jaringan
Pelepasan mediator kimia seperti inteleukin (IL) dan prostaglandin (PG)
Nyeri
2. Hambatan gerakan sendi
Konsentris : seluruh arah gerakan dan eksentris : salah satu arah gerakan saja
3. Kaku sendi merupakan gejala yang sering ditemukan, tetapi biasanya tidak lebih dari 30
menit. Kaku sendi biasanya muncul pada pagi hari atau setelah dalam keadaan inaktif.
4. Krepitus juga sering ditemukan. Krepitus merupakan gesekan kedua permukaan tulang
sendi pada saat sendi digerakkan atau secara pasif dimanipulasi. Krepitus dapat
ditemukan tanpa disertai rasa nyeri, tapi biasanya berhubungan dengan nyeri yang
tumpul.
5. Kadang-kadang ditemukan pembengkakan sendi akibat efusi cairan sendi.
6. Pada keadaan lanjut, dapat ditemukan deformitas sendi lutut, misalnya genu varum
maupun genu valgus. Bila sudah ditemukan instabilitas ligamentum, hal ini menunjukkan
kerusakan yang progresif dan prognosis yang buruk
Gambaran radiologik osteoartritis pertama kali diperkenalkan oleh Kellgren dan Lawrence pada
tahun 1957 dan akhirnya diambil oleh WHO pada tahun 1961
Derajat OA lutut (kellgren and lawrence)
0 tidak ada gambaran OA
1 meragukan, dengan gambaran sendi normal, terdapat osteofit minim
2 OA minimal dengan osteofit pada 2 tempat, tidak terdapat sklerosis dan kista subkondral, celah
sendi baik.
3 OA moderat, osteofit moderat, deformitas ujung tulang, dan terdapat penyempitan celah sendi
4 OA berat, osteofit besar

Kriteria Diagnosis dan Indeks Osteoartritis Sendi Lutut


Bila pada seorang penderita hanya ditemukan nyeri lutut, maka untuk diagnosis
osteoartrosis sendi lutut harus ditambah 3 kriteria dan 6 kriteria berikut, yaitu umur lebih dari 50
tahun, kaku sendi kurang dari 30 menit, nyeri tekan pada tulang, pembesanan tulang dan pada
perabaan sendi lutut tidak panas. Kriteria ini memiliki sensitifitas 95% dan spesifisitas 69%.
Bila selain nyeri lutut juga didapatkan gambaran osteofit pada foto sendi lutut, maka
untuk diagnosis osteoartrosis sendi lutut dibutuhkan 1 kriteria tambahan dan 3 kriteria berikut,
yaitu
umur lebih dari 50 tahun, kaku sendi kurang dari 30 menit dan krepitus. Kriteria ini mempunyai
sensitifitas 91% dan spesifisitas 86%.
Selain itu dikembangkan pula kriteria untuk menilai berat ringannya osteoartrosis sendi
lutut dengan menggunakan index.

Dengan sistem ini, maka bila indexnya 14, maka derajat osteoartrosisnya ekstrim berat; 1113,
sangat berat; 810, berat; 57, sedang dan 14, ringan.
Patogenesis
Sampai saat ini masih belum jelas, karena banyak faktor- faktor penyebab atau faktor-faktor
predisposisi yang mempengaruhinya. Perubahan-perubahan yang terjadi yaitu :
a. Kerusakan tulang rawan sendi
Dalam keadaan normal matrix tulang rawan berisi lebih kurang 80% air, 3,6% proteoglikan, 15%
kolagen dan sisanya mineral dan zat-zat organik lain serta kondrosit yang berfungsi membentuk
kolagen dan proteoglikan. Kadar kolagen dan proteoglikan ini yang menentukan agar matrix
tulang rawan berfungsi baik yaitu sebagai penahan beban dan peredam kejut.

Pada tahap awal kerusakan tulang rawan, terjadi penurunan kadar proteoglikan
sedangkan kadar kolagen masih normal. Hal ini terjadi karena proses destruksi melebihi
proses produksinya sehingga permukaan tulang rawan menjadi lunak secara lokal. Juga
kadar air menurun sehingga warna matrix menjadi kekuningan dan timbul retakan dan
mulai terbentuk celah.

Tahap kedua, celah makin dalam tetapi belum sampai ke perbatasan daerah subkondral.
Jumlah sel rawan mulai menurun, begitu juga kadar kolagen.

Tahap ketiga, celah makin dalam sampai ke daerah subkondral. Kista dapat menjadi
sangat besar dan pecah sehingga permukaannya menjadi tidak teratur.

Tahap keempat, serpihan rawan sendi yang terapung dalam cairan sendi akan difagosit
oleh sel-sel membran sinovia dan terjadilah reaksi radang. Sementara itu kondrosit mati,
proteoglikan dan kolagen tidak diproduksi lagi.

b. Pembentukan osteofit
Ada beberapa hipotesis mengenai pembentukan osteofit :
1) Akibat proliferasi pembuluh darah di tempat rawan sendi berdegenerasi.
2) Akibat kongesti vena yang disebabkan perubahan sinusoid sumsum yang tertekan oleh kista
subkondral.
3) Akibat rangsangan serpihan rawan sendi, maka akan timbul sinovitis sehingga tumbuh osteofit
pada tepi sendi, pada perlekatan ligamen atau tendon dengan tulang.
Pemeriksaan Radiologis
Pada penderita OA, dilakukannya pemeriksaan radiografi pada sendi yang terkena sudah cukup
untuk memberikan suatu gambaran diagnostik. Gambaran Radiografi sendi yang menyokong
diagnosis OA adalah :
a. Penyempitan celah sendi yang seringkali asimetris ( lebih berat pada bagian yang menanggung beban seperti lutut ).
b. Peningkatan densitas tulang subkondral ( sklerosis ).
c.

Kista pada tulang

d. Osteofit pada pinggir sendi


e. Perubahan struktur anatomi sendi.
Pemeriksaan Laboratorium

Hasil pemeriksaan laboratorium pada OA biasanya tidak banyak berguna. Pemeriksaan darah
tepi masih dalam batas batas normal. Pemeriksaan imunologi masih dalam batas batas
normal. Pada OA yang disertai peradangan sendi dapat dijumpai peningkatan ringan sel
peradangan ( < 8000 / m ) dan peningkatan nilai protein.
Tatalaksana
Non Farmakologi
Tujuan penatalaksanaan osteoartritis s sendi lutut adalah untuk menghilangkan nyeri dan
peradangan, menstabilkan sendi lutut dan mengurangi beban pada sendi lutut. Penatalaksanaan
sebaiknya dilakukan pada stadium dini, terutama sebelum deformitas sendi dan instabilitas sendi
terjadi.
Untuk mengurangi beban pada sendi lutut, maka dalam melakukan aktifitas sehari-hari
disarankan untuk memperhatikan hal-hal berikut :
1. Jangan berjalan atau jogging sebagai pilihan olah raga.
Berenang dan bersepeda merupakan alternatifpilihan yang baik.
2. Hindari naik-turun tangga.
3. Duduk lebih baik daripada berdiri.
4. Duduk di kursi yang lebih tinggi lebih baik daripada duduk di sofa yang rendah.
5. Hindari berlutut dan jongkok.
6. Sebelum bangkit dan duduk, geserlah dudukan ke tepi kursi dengan posisi kaki di bawah
badan, kemudian gunakan tangan untuk mengangkat badan dan kursi.
Diet memegang peranan penting dalam penatalaksanaan penderita osteoantrosis sendi
lutut, terutama untuk menurunkan kelebihan berat badan penderita. Walaupun sampai saat ini
belum pernahditeliti penganuh penurunan berat badan terhadap nyeri lutut dan progresifitas
osteoartrosis sendi lutut, tetapi diharapkan beban terhadap sendi lutut akan berkurang. Evaluasi
psikologik sangat penting untuk diperhatikan, karena beratnya nyeri dan gangguan fungsional
berhubungan erat dengan keadaan psikologik penderita.

Terapi fisik memegang peranan yang sangat penting; latihan otot yang teratur akan
memperbaiki gangguan fungsional, mengurangi ketergantungan terhadap orang lain dan
mengurangi nyeri. Perbaikan tersebut mencapai 1025% pada rehabilitasi selama 24 bulan dan
dapat bertahan sampai 8 bulan setelah rehabilitasi. Terapi fisik dapat berupa pemanasan atau
pendinginan Pemanasan dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya diaterini, ultrasound,
sinar inframerah dan lain sebagainya. Pemanasan selama 1520 menit cukup efektif untuk
mengurangi nyeri dan kekakuan sendi.

Latihan-latihan otot yang dapat dilakukan untuk penderita osteoartrosis sendi hitut antara
lain adalahquadriceps setting exercise, straight leg raises, progressive resistive exercise (PRE)
dan hamstring exercise. Pada quadriceps setting exercise, pen- derita dalam posisi berbaring di
tempat tidur dengan lutut lurus, kemudian penderita disuruh menekan lututnya ke bawah.
Pertahankan selama 5 detik, kemudian istirahat selama 5 detik dan diulangi sampai 1015 kali.
Latihan ini dilakukan sebanyak 3 kali perhari, kemudian dapat ditingkatkan sampai 10 kali
sehari. Pada straight leg raises, penderita dalam posisi berbaring telen- tang. Bila tungkai kanan
yang akan dilatih, maka tungkai kiri dipertahankan lurus, kemudian tungkai kanan diangkat lurus
setinggi-tingginya, kemudian turunkan perlahan-lahan sampai kira-kira 6 inchi dari alas dan
pertahankan selama 5 detik, lalu istirahat 5 detik. Ulangi sampai 510 kali dan latihan dilakukan
23 kali sehari. Pada progressive resistive exercise (PRE), pen- denta dalam posisi duduk dengan
lutut dalam keadaan fleksi dan tungkai
bawah diberi beban. Kemudian lutut diekstensikan per-lahanlahan sampai tercapai ekstensi
maksimal dan pertahankan selama 5 detik, kemudian istirahat. Latihan diulangi sampai 10 kali
dan dilakukan 3 kali perhari. Padahamstring exercise, penderita dalam posisi berdini kemudian
lutut difleksikan 20 kali atau sampai penderita lelah.
Farmakologi

Penanganan terapi farmakologi melingkupi penurunan rasa nyeri yang timbul, mengoreksi gangguan yang timbul dan
mengidentifikasi manifestasi-manifestasi klinis dari ketidakstabilan sendi ( Felson, 2006 ).
a. Obat Antiinflamasi Nonsteroid ( AINS ), Inhibitor Siklooksigenase-2 (COX-2), dan Asetaminofen.
Untuk mengobati rasa nyeri yang timbul pada OA lutut, penggunaan obat AINS dan Inhibitor COX-2 dinilai lebih efektif daripada
penggunaan asetaminofen. Namun karena risiko toksisitas obat AINS lebih tinggi daripada asetaminofen, asetaminofen tetap
menjadi obat pilihan pertama dalam penanganan rasa nyeri pada OA. Cara lain untuk mengurangi dampak toksisitas dari obat
AINS adalah dengan cara mengombinasikannnya dengan menggunakan inhibitor COX-2 . Jika parecetamol atau NSAID topikal
tidak bisa meredakan nyeri pada pasien dengan OA, maka direkomendasikan untuk menggunakan analgesik opiod, dengan
mempertimbangkan resiko dan keuntungannya, terutama pada orang lanjut usia.

NICE clinical guideline 59 Osteoarthritis


1. Jika paracetamol atau topikal NSAID tidak efektif untuk meredakan nyeri, maka dapat
direkomendasikan untuk di ganti dengan oral NSAID/COX-2 inhibitor.
2. Jika paracetamol atau topical NSAID kurang efektif untuk meredakan nyeri, maka
direkomendasikan untuk menambahkan oral NSAID atau COX-2 inhibitor.
Semua jenis NSAID/COX-2 inhibitor oral mempunyai efek analgesik yang sama, tetapi
mempunyai perbedaan potensi toksisitas terhadap sistem gastrointestinal, hepar, dan kardiorenal. Jadi setiap pemberian NSAID maupun COX-2 inhibitor harus mempertimbangkan faktor
resiko yang meliputi usia, dan riwayat gangguan gastrointestinal (peptic ulcer, gastritis), hepar,

dan kardio-renal (GGA). Pada pasien OA yang mempunyai riwayat gangguan gastrointestinal
misalnya peptic ulcer, harus diberikan PPI atau H 2 blocker atau sukralfat untuk melindungi
mukosa lambung. Selain itu untuk mengurangi efek toksik NSAID, dapat juga menyarankan
pasien untuk minum banyak air putih dan memakan obat setelah makan. Pada pasien OA dengan
gangguan hepar maupun kardio-renal, sebaiknya dosis obat di kurangi untuk mengurangi efek
toksiknya
b. Analgesik Topikal
1. NSAID topikal harus dipertimbangkan untuk meredakan nyeri sebagai tambahan dari
terapi inti untuk penderita OA tangan dan lutut.
2. NSAID topikal dan atau paracetamol harus dipertimbangkan sebelum pemberian NSAID
oral, COX 2 inhibitor atau opioid.
3. Capsaicin topikal harus dipertimbangkan sebagai terapi tambahan untuk OA tangan dan
lutut

c. Chondroprotective Agent
Chondroprotective Agent adalah obat obatan yang dapat menjaga atau merangsang perbaikan dari kartilago pada pasien OA.
Obat obatan yang termasuk dalam kelompok obat ini adalah : tetrasiklin, asam hialuronat, kondroitin sulfat,
glikosaminoglikan, vitamin C, dan sebagainya.
d. Injeksi Intra-artikular
1. Injeksi kortikosteroid intraartikular dapat di rekomendasikan sebagai terapi tambahan untuk meredakan nyeri sedang
sampai berat.
2. Injeksi intraartikular hyaluronan tidak direkomendasikan sebagai terapi utama OA

Terapi pembedahan
Terapi ini diberikan apabila terapi farmakologis tidak berhasil untuk mengurangi rasa
sakit dan juga untuk melakukan koreksi apabila terjadi deformitas sendi yang mengganggu
aktivitas sehari hari.