Anda di halaman 1dari 14

Yosaphat, Filsafat dan Eksistensi

FILSAFAT DAN EKSISTENSI EKSTRAKURIKULER


DAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
)
Yosaphat Haris Nusarastriya
Abstrak : Filsafat adalah bidang yang sangat luas dan berisi hal-hal yang mendasar,
asas-asas dan prinsip-prinsip sedangkan ilmu (pendidikan) selain berisi hal-hal yang
mendasar dan asas-asas serta prinsip juga berisi hal-hal yang operasional dan
implementatif baik itu yang menyangkut kurikulum, isi pembelajaran metode dan
komonen yang lain. Ketika membicarakan pendidikan dari kacamata filsafat, maka
tidak bisa dilepaskan dengan filsafat pendidikan. Begitu juga jika berbicara
mengenai ekstrakurikuler dari sisi filsafat maka tidak bisa dilepaskan dari filsafat
pendidikan. Ekstrakurikuler merupakan bagian yang tak terpisahkan dari tujuan
pendidikan. Sedangkan Pendidikan Kewarganegaraan merupakan bagian dari
intrakurikuler sebagai kurikulum yang menjadi bagian penting dalam pendidikan
formal di sekolah. PKn terdiri dari hal-hal substantif tapi juga berhubungan dengan
hal-hal yang sifatnya memperluas dan terkait dengan sikap yang bersifat terukur
karena bersifat operasional implementatif. Pkn yang termasuk dalam intrakurikuler
dapat berhubungan langsung dengan ekstrakurikuler. Karena kesemuanya itu
merupakan bagian-bagian yang tidak terpisahkan dengan tujuan pendidikan. Dengan
demikian ekstrakurikuler eksistensinya melekat dalam satuan pendidikan baik
ditinjau dari sudut filosofi maupun paedagogis.
Kata Kunci : filsafat, filsafat pendidikan filsafat ekstrakurikuler, eksistensi
ekstrakurikuler dan PKn
PBIBA

A. Pendahuluan
Ada tiga hal penting yang harus
dibahas jika mencermati judul di atas yaitu,
pertama aspek filosofis dari ekstrakurikuler,
yang biasanya mencerminkan hal-hal yang
bersifat abstrak, dasar, dan prinsip-prinsip
umum kaitannya dengan ekstrakurikuler
dengan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).
Dan kedua, tentang PKn perlu dikemukakan
karakter, tujuan dan fungsinya yang dalam
tulisan ini akan diungkapkan hubungannya.
Ketiga, bahasan mengenai eksistensi
(keberadaan) yang akan menyangkut hal-hal
yang menentukan ada-nya ekstrakurikuler
dalam realitas yang terjadi dalam dunia
pendidikan dari dulu sekarang dan yang
akan datang. Sesuatu yang berkaitan dengan
eksistensi biasanya terjadi di dalam ruang
dan waktu.
)

Oleh karena itu tulisan ini akan


dimulai dari yang umum dahulu yaitu
tentang aspek filsafat dari ekstrakurikuler
atau tinjauan filosofis tentang ekstrakurikuler,
b a r u ke m ud i a n t e n t a ng e ks i s t e n s i
ekstrakurikuler di dunia pendidikan
persekolahan kaitannya dengan PKn. Dalam
membahas aspek filosofisnya, di sini tidak
bisa dilepaskan dengan filsafat pendidikan
karena ekstrakurikuler sendiri merupakan
bagian dari kurikulum yang dilaksanakan
sekolah. Disamping itu kontribusi dari teori
dan konsep dalam psikologi perkembangan
juga sangat besar.
II. Tinjauan Filosofis Ekstrakurikuler
a. Filsafat Umum
Berbicara mengenai filsafat adalah
berbicara tentang hal-hal yang sifatnya

Yosaphat Haris Nusarastriya adalah dosen FKIP Jurusan PPKn Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga

145

145

Prospektus, Tahun IX Nomor 2, Oktober 2011

mendasar, hakiki, dan bersifat metafisis.


Berbeda dengan ilmu jika membicarakan
sesuatu hal, ilmu pendekatannya adalah
rasional dan empiris. Sedangkan ciri yang
paling khas dalam filsafat tidak hanya
berhenti pada rasional dan empiris tetapi
sampai pada hal yang bersifat metafisis (dari
kata metafisika). Mungkinkah berbicara
ekstrakurikuler yang lebih konrit dan praktis
serta terjadi dalam kegiatan yang bersifat
ketrampilan? Filsafat tentu akan tidak lepas
dari pembahasannya mengenai pendidikan
baik dari aspek filsafat pendidikannya
sendiri maupun dari teori-teori terutama dari
psikologi perkembangan.
Filsafat sendiri dapat dibagi menjadi
filsafat umum yang terdiri dari bidang
metafisika/ontologi, aksiologi, epistemologi,
logika, estetika dan etika. Metafisika/
ontologi membahas tentang realitas yangada atau hakikat yang-ada. Dalam bidang
inilah diperoleh jawaban dari para filsuf
mengenai apa hakikat yang-ada ini. Ada
yang menjawab ide (dari kaum idealisme/
roh), ada yang menjawab materi (dari kaum
materilisme). Apa realitas yang-ada?
dalam filsafat dijawab dengan tiga hal
penting yaitu : Tuhan, manusia dan alam.
Selanjutnya aksiologi adalah bidang yang
membahas tentang hakikat nilai. Epistemologi
adalah bidang dalam filsafat yang membahas
tentang hakikat pengetahuan. Logika, bidang
filsafat yang membahas tentang berpikir.
Etika, bidang yang membahas tingkah laku
manusia dilihat dari baik dan buruk.
Estetika bisang filsafat yang membicarakan
tentang hakikat keindahan.
Skema :1
Bidang yang
melihat dari
sudut hakikat

Mempelajari azasazas, teori dan sesuatu


yang mendasar lainnya

Filsafat
Bidangbidang
meliputi :
Metafisika
Aksiologi
Epistemologi
Logika
Etika
Estetika

Cabang-cabang
meliputi :
Filsafat
Pendidikan
Filsafat Hukum
Filsafat Sosial
Filsafat Politik
dsb

Apa
relevansinya
bidang ini
kaitannya dengan
bahasan
dalam
tulisan ini? Relevansinya yaitu
ketika membahas hakikat pendidikan
termasuk mengenai kurikulum (ekstra
kurikuler) pasti akan sampai pada
pertanyaan mengenai hakikat manusia yang
merupakan subyek pendidikan itu. Ketika
berbicara mengenai kepribadian, tentu tidak
bisa dilepaskan dengan etika dan estetika.
Ketika
membahas
program-program
ekstrakurikuler yang menyangkut kegiatan
seni, berpikir kritis, olah raga, karya tulis,
kegiatan sosial, kegiatan yang berkaitan
dengan alam (cinta alam/lingkungan), ini
semua dapat dihubungkan dengan dasardasar dan prinsip-prinsip filosofisnya entah
yang berhubungan dengan bidang metafisika,
aksiologi, epistemologi, logika, etika, estetika.
B. Filsafat Pendidikan
Disamping
filsafat umum, ada
filsafat khusus yaitu filsafat yang berkaitan
dengan ilmu-ilmu yang ada misalnya: filsafat
hukum, filsafat politik, filsafat sosial,
filsafat kebudayaan, filsafat bahasa,
filsafat pendidikan dsb. Untuk kepentingan
ini hanya akan diuraikan tentang filsafat
pendidikan saja yang langsung berhubungan
dengan ekstrakurikuler. Bagaimana dan Apa
yang dimaksud dengan filsafat pendidikan
itu? Menurut Barnadib (2002:1-2)
Filsafat Pendidikan penting dipelajari
karena dalam ilmu pendidikan terdapat asasasas, teori, dasar, dan pengertian pengertian
lain yang sejenis, yang kejelasannya dapat
diperoleh melalui filsafat. Kejelasan itu
perlu berasal
dari
filsafat
karena
pemahaman pengertian-pengertian yang
dimaksud memerlukan renungan secara
rasional. Hal ini diperlukan karena
pengertian-pengertian
yang
dimaksud

146

Yosaphat, Filsafat dan Eksistensi

merupakan terobosan dari alam pikir


manusia yang tidak terikat oleh ruang dan
waktu. Dengan demikian, secara teoritis
dapat dikatakan bahwa pendidikan dengan
basis filsafat ini mempunyai kedudukan
yang strategis. Filsafat adalah salah satu
cabang ilmu-ilmu yang ada dan bermuara
pada hakikat. Hakikat adalah hal terpenting
dari sesuatu yang terdiri atas pengertian
yang sifatnya abstrak. Abstrak berarti tidak
konkrit atau tidak dapat dihayati dengan
pancaindera. (Barnadib, 2002:4)
Dalam Filsafat Pendidikan ada
beberapa aliran yang begitu terkenal pertama
yaitu Perenialisme yang berpendapat bahwa
tugas pendidikan adalah mempersiapkan anak
didik ke arah kemasakan (kematangan).
Matang
dalam
arti
berkembang
akal/pikirannya.
Perenialis
tidak
m e ng e s a m pi n gk a n memorisasi, tapi
memorisasi diperlukan agar benih-benih
tersebut berada dengan baik dalam jiwa anak
didik sebelum dapat berakar dan tumbuh.
Perenialis sangat menghargai pengalaman
yang tidak langsung, meskipun tidak
mengesampingkan pengalaman langsung
diyakini pula bahwa agar mata pelajaranmata pelajaran yang diterima anak didik
dapat mencapai integrasi diperlukan adanya
pengalaman langsung. Pengalaman langsung
diperlukan untuk mempelajari kebutuhan riil
manusia. (Barnadib, 1997:78).
Kedua, Progresivisme yang percaya
pada anggapan tentang adanya kemampuan
manusia untuk mengadakan perubahanperubahan. Aliran ini mengatakan bahwa
tugas utama pendidikan ialah meningkatkan
kecerdasan karena kecerdasan mempunyai
peranan utama dan menentukan bagi
perkembangan anak didik. Disamping itu
pendekatan terhadap anak didik perlu
menyeluruh, meliputi jiwa-badan dan
lingkungan sekitarnya. Pengalaman merupakan
sarana utama bagi manusia untuk
mengetahui adanya realita dan ini ada pada
manusia karena manusia mempunyai
kemampuan-kemampuan yang lebih tinggi
kualitasnya dibanding dengan makhlukmakhluk yang lain.

Ketiga, Essensialisme menghendaki


agar landasan-landasan pendidikan adalah
nilai-nilai esensial yaitu yang telah teruji
oleh waktu, bersifat menuntun secara turuntemurun dari zaman ke zaman. Landasan ini
dihasilkan dari sifat eklektik dengan titik
berat pada idealisme dan realisme modern.
Filsafat apa yang dianut oleh bangsa
sangat ditentukan oleh jawaban atas
pertanyaan tentang siapa dan bagamana bangsa
itu. Amerika sebagai bangsa memiliki
falsafahnya sendiri yang khas sebagaimana
yang tercermin dalam kehidupan bangsa
Amerika. Misalnya falsafah kebebasan dan
sikap pragmatis di Amerika sangat menonjol.
Begitu juga bangsa Indonesia yang memiliki
filsafat Pancasila telah menempatkannya
sebagai landasan dalam pendidikan yang
menjiwai kebijakan dan pelaksanaan
pendidikan termasuk dalam kegiatan
ektrakurikuler. Dalam hal ini Barnadib
(2002:) mengatakan Pendidikan di Indonesia
berdasarkan Pancasila. Pancasila merupakan
nilai-nilai dasar yang sifatnya abstrak dan
akan menjadi konkrit ketika diwujudkan
dalam tindakan.

Skema : 2

Bagian filsafat Pancasila yang


paling penting untuk diperhatikan kaitannya
dengan pendidikan khususnya kegiatan
ekstrakurikuler ialah tentang pandangannya
mengenai manusia yang oleh Notonagoro

147

147

Prospektus, Tahun IX Nomor 2, Oktober 2011

disebut mono dualis atau mono pluralis.


Monodualis karena manusia terdiri dari
kedudukan kodrat sebagai makhluk ciptaan
Tuhan dan makhluk yang berdiri sendiri
(kedirian/kepribadian). Sifat kodrad terdiri
dari individu dan sosial, serta susunan
kodrad sebagai makhluk yang berjiwa
(rohani) dan beraga (jasmani). Mono pluralis
karena manusia itu satu tetapi terdiri dari
beberapa unsur baik yang menyangkut
kedudukan, sifat, susunan kodradnya.
Oleh karena itu skema untuk
menjelaskan kaitan antara filsafat, filsafat
pendidikan dan ekdtrakurikuler menjadi
demikian:
Skema : 3

Skema : 4

Apa makna dan bagaimana memaknai


skema di atas dalam rangka membicarakan
ekstrakurikuler? Bisa dijelaskan demikian
bahwa kebijakan pendidikan dan kegiatan
didalamnya baik intra kurikuler maupun

ekstrakurikuler sedapat mungkin unsur-unsur


yang melekat pada manusia diperhatikan dan
menjadi dasar bagi pengembangan program
di sekolah sehingga peserta didik betul-betul
menuju sasaran yang telah ditetapkan sesuai
dengan hakikat pendidikan itu sendiri. Lalu
apa hakikat pendidikan itu?
C. Hakikat Pendidikan
Pendidikan yang dimaksud di sini
ialah pendidikan sekolah (formal) bukan
informal. Pendidikan ialah bantuan yang
diberikan orang dewasa kepada orang yang
belum dewasa, agar dia mencapai
kedewasaan. Bantuan yang diberikan oleh
pendidik itu berupa pendampingan, yang
menjaga agar anak didik belajar hal-hal
yang positip, sehingga sungguh-sungguh
menunjang perkembangan. (Winkel, W.S,
2009). Pendidikan adalah fenomena utama
dalam kehidupan manusia dimana orang
yang telah dewasa membantu pertumbuhan
dan perkembangan peserta didik untuk
menjadi dewasa. Pendidikan menjadi ilmu
bila pengetahuan tentang pendidikan itu
dipelajari dengan menggunakan kaidah
keilmuan. Langevel, M.J. (1965) : Pendidikan
ialah usaha untuk mencapai tingkat
kedewasaan secara susila. Pendidikan pada
akhirnya terarah Pada pengembangan manusia
seutuhnya baik dimensi fisik, intelektual,
sosial, emosional, etik dan religiusitasnya.
Kihadjar Dewantara (1966)
mengatakan bahwa pendidikan adalah usaha
kebudayaan, berazas keadaban, yaitu
memajukan hidup agar mempertinggi derajat
kemanusiaan. Pendidikan itu memelihara
hidup- tumbuh ke arah kemajuan.
Pendidikan juga salah satu usaha untuk
memberikan segala nilai-nilai kebatinan
yang ada dalam hidup rakyat yang
berkebudayaan kepada generasi baru tidak
hanya berupa pemeliharaan akan tetapi
juga dengan maksud memajukan serta
memperkembangkan kebudayaan, menuju ke
arah keluhuran hidup kemanusiaan.

148

Yosaphat, Filsafat dan Eksistensi

Dari beberapa pendapat dapat diambil


benang merah bahwa hakikat pendidikan
adalah sebuah proses perkembangan ,
pertumbuhan, perubahan ke arah kemajuan
peserta didik menuju pada kedewasaan dan
kemandirian baik secara intelektual, sosial,
emosional,fisik, etik dan religiusitasnya.
Pancasila sebagai pandangan hidup
bangsa, merupakan dasar dan sekaligus tujuan
yang ingin dicapai dalam melaksanakan
pendidikan. Kegiatan pendidikan ditujukan
untuk menghasilkan manusia seutuhnya,
manusia yang memiliki kepribadian yang
lebih baik, yaitu manusia di mana sikap dan
perilakunya dalam hidup bermasyarakat dan
bernegara dijiwai oleh nilai-nilai Pancasila.
Manusia seutuhnya, manusia yang menghayati
dan
sekaligus
mampu
mengamalkan
Pancasila, itulah merupakan manusia dewasa
yang diharapkan oleh bangsa Indonesia.
(Sadulloh, 2003:60).
Sementara itu di dalam UU RI No.
20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, Pasal 1
butir 1 dikemukakan bahwa pendidikan
diartikan sebagai ........... usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta ketrampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan
negara. Menurut Winataputra (2006)
tujuan demikian itu jika dianalisis akan
ditemukan empat pandangan mendasar
mengenai (1) adanya pengakuan terhadap
potensi individu; (2) adanya keyakinan
bahwa potensi itu dapat dikembangkan
melalui usaha sadar dan terencana; (3) adanya
keyakinan bahwa suasana belajar dan proses
pembelajaran merupakan wahana untuk
mengembangkan potensi itu; (4) adanya
harapan bahwa pengembangan potensi itu
dapat mewujud dalam bentuk berbagai
kualitas personal individu yang bermanfaat
dalam kehidupannya.

Secara substantif keseluruhan tujuan


pendidikan nasional (Pasal : 3) itu dapat
dikelompokkan menurut orientasinya ke
dalam empat kelompok pertama, dimensi
spiritual dan moral yaitu beriman bertaqwa
Kepada Tuhan Yang Maha Esa dan
berakhlak mulia; kedua, dimensi intelektual,
yaitu berilmu, cakap, dan kreatif; ketiga,
dimensi fisikal yakni sehat; dan keempat,
dimensi sosial-kultural, yakni mandiri,
demokratis, dan bertanggungjawab. Secara
konseptual normatif pendidikan di Indonesia
menerapkan prinsip confluent education
sebagaimana dapat dilihat dalam Houston
(1996) dalam bukunya Touch the Future
Teach. Prinsip tersebut mengembangkan
seluruh dimensi personal dan sosial individu
peserta didik. Konsep pendidikan seperti ini
secara filsafati bertolak dari pemikiran
reconstructed phylosophy of education
sebagaimana yang dikemukakan Brameld
(1965) yang secara sinergistik memadukan
kekuatan dari filsafat perenialisme,
essensialisme,
progressivisme
dan
social reconstructionisme.
Menurut Winatasaputra (2006) pilihan
pandangan filsafati ini secara sosial-politik
sangat sesuai dengan konsepsi manusia
Indonesia seutuhnya yang sampai saat ini
masih menjadi profil ideal-konseptual
manusia Indonesia yang harus diwujudkan
dan diperjuangkan secara terus menerus.
d. Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)
Pendidikan Kewarganegaraan atau
PKn merupakan bidang studi yang bersifat
multifaset dengan konteks lintas bidang
keilmuan. Namun secara filsafat keilmuan ia
memiliki ontology pokok ilmu politik
khususnya konsep political democracy
untuk aspek duties and rights of citizen
(Chreshore:1886). Dari ontology pokok
inilah berkembang konsep civics, yang
secara harafiah diambil dari bahasa latin
civicus yang artinya warga negara pada
jaman Yunani kuno, yang kemudian diakui
secara akademis sebagai embrionya civic
education, yang selanjutnya di Indonesia

149

149

Prospektus, Tahun IX Nomor 2, Oktober 2011

diadaptasi menjadi pendidikan


kewarganegaraan (PKn).
Skema : 5

UNESCO menyatakan bahwa belajar


pada abad 21 harus didasarkan kepada
empat pilar yaitu :
1.
Learning how to know
2.
Learning to do
3.
Learning how to live
together
4.
Learning to be
Keempat hal tersebut oleh UNESCO
disebut sebagai empat pilar belajar dari
manusia abad 21 untuk menghadapi arus
informasi dan kehidupan yang terus menerus
berubah. Arus informasi yang begitu cepat
berubah semakin lama semakin banyak
tidak mungkin lagi dikuasai oleh manusia
karena kemampuan otaknya yang terbatas.
Hal tersebut apabila diintroduksikan ke dalam
sistem nasional Indonesia dalam proses
pembelajaran PKn akan sangat sesuai dengan
tujuan nasional sebagaimana yang dimuat di
dalam Pembukaan UUD 1945 yang
berbunyi mencerdaskan kehidupan bangsa.
Hal itu berarti dunia pendidikan mempunyai
tanggung jawab yang strategis untuk ikut
mewujudkannya melalui proses belajar dan
mengajar di sekolah dari level yang paling
rendah sampai pendidikan tinggi.
1. Sebagai Kajian Ilmiah
Secara epistemologis, PKn sebagai
suatu bidang keilmuan merupakan

pengembangan dari salah satu dari lima


tradisi social studies yakni citizenship
transmission (Barr, Barrt dan shermis:
1978). Saat ini tradisi itu sudah berkembang
pesatmenjadi suatu body of knowledge yang
di dalamnya terdapat tiga domain
citizenship education yakni domain
akademis, domain kurikuler, dan domain
sosial cultural.
Ketiga domain itu satu sama lain
memiliki saling keterkaitan struktural dan
fungsional yang diikat oleh konsepsi civic
virtue and cultur yang mencakup civic
knowledge, civic disposition, civic skills, civic
confidence, civic commitment, dan civic
competence (CCE: 1998). Oleh karena itu
ontology PKn saat ini sudah lebih luas dari
pada embrionya sehingga kajian keilmuan
PKn, program kurikuler PKn, dan aktivitas
social-cultural PKn saat ini benar-benar
bersifat multifaset/multidimensional.
Naval, Print and Veldhuis (2002:
110) mengemukakan :
...draw not only upon traditional views
of civics and citizenship education,
characterised by learning about
government,
democratic
institutions, national allegiance, the
legal system, national constitutional
and political history, as well as the
responsibilities of citizens, but also
expand them in the context of a
globalising world where most countries
are now democracies. Furthermore,
learning about democratic citizenship
emphasises understanding democratic
principles and processes, broader
conceptualisations of national identity,
democratic values, citizen rights and
responsibilities
(including human,
social and political rights), global and
multiple citizenships, the rule of law
and judicial independence, all designed
to foster active, engaged, democratic
citizens.
Menurutnya civic education
memiliki kontribusi yang besar bagi
terwujudnya sistem demokratis. Begitu juga
Winataputra (2001) mengemukakan bahwa

150

Yosaphat, Filsafat dan Eksistensi

secara konseptual pendidikan


kewarganegaraan diyakini sebagai wahana
pendidikan demokrasi dengan tiga dimensi
konseptual yang interaktif yakni kajian
ilmiah kewarganegaraan, program kurikuler
kewarganegaraan, dan interaksi socialkultural kewarganegaraan. PKn Indonesia
yang minimal perlu dikembangkan menjadi
PKn yang moderate sehingga harus
berubah dari education about democracy
menjadi education in democracy
Pendidikan kewarganegaraan
diharapkan berperan sebagai (1) program
kurikuler dalam konteks pendidikan formal
dan non formal (2) program aksi sosialkultural dalam konteks kemasyarakatan dan
(3) sebagai bidang kajian ilmiah dalam
Wacana pendidikan dilakukan disiplin ilmu
pengetahuan sosial. Bila dicermati visi ini
mengandung dua dimensi yaitu (1) dimensi
substantive berupa muatan pembelajaran
(content and learning experiences). Content
yang dimaksud sebagaimana termuat dalam
standar isi mata pelajaran PKn (KTSP
tahun 2006) dan obyek telaah serta obyek
pengembangan (aspek ontology) dan
(2) dimensi proses berupa penelitian (yang
dilakukan di antaranya melalui penelitian
tindakan kelas, sehingga guru akan selalu
melakukan refleksi dalam setiap pembelajaran
yang dilakukannya) dan pembelajaran
(aspek epistemologi dan aksiologi).
Dalam bidang kajian ilmiah,
Pendidikan kewarganegaraan secara
epistemologis menurut Numan Soemantri
(1988) merupakan synthetic discipline atau
menurut Hartoonian (1992) sebagai
integrated knowledge system (Hartoonian:
1992), atau dikemukakan oleh Hahn dan
Torney-Purta : 1999, 2001) sebagai crossdisciplinary study atau istilahnya Derricot
and Cogan (1998) sebagai pendidikan multi
dimensional .
Secara pragmatis Pendidikan
Kewarganegaraan memiliki visi socio
pedagogis untuk mendidik warganegara
yang demokratis dalam konteks yang lebih
luas, yang mencakup konteks pendidikan
formal dan pendidikan non formal.
Sedangkan secara umum Pendidikan
Kewarganegaraan memiliki visi formalpedagogis untuk mendidik warga negara

yang
demokratis
dalam
konteks
pendidikan formal. Di Indonesia PKn
memiliki visi formal-pedagogis yakni
sebagai mata pelajaran sosial dalam dunia
persekolahan dan Perguruan Tinggi yang
berfungsi sebagai wahana untuk mendidik
warga negara Indonesia yang Pancasilais.
Pendidikan
kewarganegaraan
sebagai suatu bentuk kajian lintas bidang
keilmuan pada dasarnya telah memenuhi
kriteria dasar-formal suatu disiplin (Dufty,
1987
dalam
Soemantri:1993)
yakni
mempunyai community of scholars, abody
of thinking, speaking, and writing, a methode
of approach to knowledge dan mewadahi
tujuan dan warisan system nilai (Somantri :
1993). PKn merupakan disiplin terapan
yang bersifat deskriptif-analitik, dan
kebijakan pedagosis. Jika dilihat dari
pandangan
Kuhn
(1966)
secara
paradigmatic,
pendidikan
kewarganegaraan sebagaimana dirumuskan
dalam desertasinya, menurut Winataputra
(2001) baru memasuki pre-paradigmatic
phase atau proto science.
Kor i dor akt ivi t a s da n s pi r i t
keilmuan ini dinilai sangat prospektif, yang
ditafsirkan oleh Winataputra (2001) sebagai
semangat sebagaimana yang ada dalam
idealisme Somantri (1993) yang intinya yaitu
semangat menggabungkan pesan akademis
social scientists dan pesan educators
dalam kegiatan pendidikan, penelitian, dan
pengabdian masyarakatnya, akan dapat
dikembangkan body of knowledge.
Sementara itu Winataputera dalam
desertasinya (2001) mengemukakan PKn
sebagai kajian lintas bidang keilmuan ,
yang secara substantif ditopang terutama
oleh ilmu politik dan ilmu-ilmu sosial, serta
humaniora, dan secara pedagogis diterapkan
dalam dunia pendidikan persekolahan dan
masyarakat. Brameld (1965) dalam
Winataputra (2009) mengemukakan bahwa
secara filosofik tubuh pengetahuan pendidikan
kewarganegaraan ini dilandasi oleh tilikan
reconstructed philosophy of education yang
secara adaptif mengakomodasikan tilikan
filsafat
pendidikan
perennialism,
essensialism,
progressivism
dan
reconstructionism.

151

151

Prospektus, Tahun IX Nomor 2, Oktober 2011

2. Pendidikan Kewaranegaraan Sebagai


Bagian dari Kurikulum Nasional
Secara historis epistemologis dan
pedagogis, pendidikan kewarganegaraan
sebagai program kurikuler dimulai dengan
diintroduksikannya mata pelajaran civics
dalam kurikulum SMA tahun 1962 yang
berisikan materi tentang pemerintahan
Indonesia berdasarkan Undang-Undang Dasar
1945 (Dept. P & K: 1962). Pada saat itu,
mata pelajaran Civics atau kewarganegaraan
pada dasarnya berisikan pengalaman belajar
yang digali dan dipilih dari disiplin ilmu
sejarah, ekonomi, geografi dan politik, pidato
presiden, deklarasi hak asasi manusia dan
pengetahuan tentang Perserikatan BangsaBangsa (Somantri, 1969:7)
Skema : 6

Winatasaputra, (2009)

Sejalan dengan telah terjadinya


perubahan paradigma makro konstitusional
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara Indonesia sesuai dengan UUD
1945 dengan segala amandemennya, telah
diundangkan UU No : 20 Tahun 2003
Tentang Sistem Pendidikan Nasional

menggantikan UU No. 2 Tahun 1989


Tentang Sistem Pendidikan Nasional khusus
berkenaan
dengan
Pendidikan
Kewarganegaraan di dalam UU Sidiknas No.
Tahun 2003 tersebut ditegaskan b a h w a
materi
kajian
pendidikan
kewarganegaraan wajib termuat baik dalam
kurikulum pendidikan dasar dan menengah
maupun kurikulum pendidikan tinggi. (vide
Ps:37).
Se baga i kur i kul um na s i ona l ,
kedudukan Pendidikan Kewarganegaraan
masuk dalam intra kurikuler. Sebagai unsur
intrakurikuler muatan PKn lebih didominasi
aspek pengetahuan (kognitif) meminjam
istilah Bloom sebagaimana ada di bawah
ini. Memang pendidikan yang ideal harus
memuat dan menjalankan tiga ranah
(kognitif, afektif dan psikomotorik)
e. Eksistensi Ekstrakurikuler
Ekstra kurikuler apabila dilihat dari
sisi filosofis maupun paedagogisnya melekat
pada kurikulum. Dalam kurikulum bisa
dibedakan antara yang substantif dan yang
eksistensial-operasional-implementatif,
antara yang mengandung kawasan kognitif
dan ada yang merupakan kawasan afektif
dan psikomotorik, antara yang kognitif dan
konatif, afktif dan sosial.
Ekstra kurikuler dibedakan dengan
yang intra kurikuler dan kokurikuler.
Bedanya antara ketiganya adalah sebagai
berikut :
Tabel : 1

Intra kurikuler
Kegiatan yang dilaksanakan yang
penj at ahan waktunya t el ah
ditentukan dalam struktur program.
Ini merupakan kegiatan belajarmengajar yang dilakukan siswaguru pada jam-jam pelajaran tiap
hari. Kegiatan ini dimaksudkan
untuk mencapai tujuan minimal
yang perlu dicapai oleh masingmasing mata pelajaran baik di
program inti maupun program

Ko kurikuler
Kegiatan yang dimaksudkan untuk
lebih mendalami dan menghayati
materi pengajaran yang telah
dipelajari pada kegiatan intra
kurikuler di dalam kelas maik
matapelejaran pada program inti
maupun program khusus.

Ekstra kurikuler
Kegiatan yang yang dimaksudkan
untuk memperluas pengetahuan
siswa, mengembangkan nilainilai atau sikap dan menerapkan
secara lebih lanjut pengetahuan
yang telah dipelajari siswa baik
untuk program inti maupun pilihan.
Kegiatan lebih ditekankan pada
kelompok dan dilakukan di luar
jam kelas

152

Yosaphat, Filsafat dan Eksistensi

khusus.

Skema : 7
f. Beberapa Teori Psikologi dalam
kaitannya dengan Pendidikan
Pkn sendiri sangat erat kaitannya
dengan aspek kognitif dan dalam proses
pengajaran memang lebih dominan dibanding
yang ranah afektif dan psikomotorik. Oleh
karena itu hal-hal yang belum tertampung di
PBM (yang menyangkut kawasan afektif
dan psikomotorik) akan lebih baik jika
diprogram dalam ekstrakurikuler. Namun
demikian pemogramannya perlu
memperhatikan aspek filosofis di atas maupun
teori-teori psikologi dan pendidikan di
Tabel:2bawah ini.

Teori Bloom mengenai Taksonomi Tujuan Pengajaran


Taksonomi tujuan
Taksonomi Tujuan Peng
Taksonomi tujuan peng ajaran pada
Peng ajaran pada kawasan
ajaran Pada Kawasan
kawasan Afektif
kognitif
Skema Psikomotorik
:8
1.Pengetahuan (knowledge)
1. Perception
1.
Penerimaan
2.Pemahaman (Comprehension)
2. Set
(Receiving/Attending)
3.Penerapan (Application)
3. Guaided Respond
2.
Penanggapan (Responding)
4.Analisis (Analysis)
4. Mechanism
Aspek
Jasmani
3.
Penilaian
(Valuing) 5. Complex
5.Sintesis (Synthesis)
Overt Respond
(Aspek
Pertumbuhan)
Pengorganisasian (Organanizing)
6.Evaluasi (Evaluation)
6. Adaptation
4.
Karaterisasi (Characterizing) Aspek
7. Origination
kognitif
Aspek konatif
Aspek afektif
Aspek sosial
Aspek motorik

Sedangkan Winkel W.S. (2009:19)


membahas hubungan antara pertumbuhan
dan perkembangan mental sebagai berikut:
Perkembangan kognitif meliputi
peningkatan pengetahuan serta pemahaman,
yang juga sering dsebut perkembangan
intelektual dan perluasan kemampuan
berbahasa, misalnya anak mulai mengenal
benda-benda tertentu yang dapat dipakai
sebagai tempat duduk. Kemudian dia mulai
mengerti bahwa ada variasi dalam ukuran,
bentuk, warna. Kemudian anak memperoleh
konsep tempat duduk yang disebutnya
sebagai kursi (Winkel, W.S. 2009).

Perkembangan

Perkembangan intelektual oleh para


psikolog semakin dikaitkan dengan cara
anak dalam berbagai tahap perkembangan
memperoleh informasi tentang dunia di
sekelilingnya dan dirinya sendiri, mengolah
informasi itu dan mengorganisasikannya
sehingga bermakna baginya.
Perkembangan konatif meliputi
penghayatan berbagai kebutuhan, baik
biologis maupun psikologis, dan penentuan
diri sebagai makhluk yang bebas dan

153

153

Prospektus, Tahun IX Nomor 2, Oktober 2011

rasional. Akan lahir pula berbagai motif,


yaitu suatu daya penggerak yang
memberikan arah pada beraneka aktivitas.
Misalnya penghayatan akan kebutuhan
untuk makan menimbulkan daya penggerak
untuk berbuat sesuatu, sehingga kebutuhan
akan makanan dapat dipenuhi. Demikian
pula
penghayatan
akan
kebutuhan
psikologis seperti rasa aman dan rasa
terlindung, akan menggerakkannya untuk
mengambil tindakan seperlunya. Makin
mendekati kedewasaan makin mantap pula
kemaauan seseorang untuk mengatur
kehidupannya sendiri.
Perkembangan afektif menyangkut
pemerkayaan alam perasaan. Kalau anak,
pada awal mula, hanya mengenal perasaan
senang atau perasaan tidak senang, lama
kelamaan dia akan mengalami berbagai
bentuk perasaan yang senang seperti rasa
puas, rasa gembira, rasa kagum. Demikian
pula rasa tidak senang akan mengalami
berbagai variasi seperti rasa takut, rasa
benci, rasa kesal, rasa marah. Suatu reaksi
perasaan akan disesuaikan dengan situasi
dan kondisi kehidupan. Perkembangan sosial
menyangkut kemampuan untuk bergaul secara
memuaskan dengan seluruh anggota keluarga,
semua teman di sekolah, serta warga
masyarakat. Perkembangan motorik meliputi
kemampuan untuk menggunakan otot-otot,
urat-urat dan persendian-persendian dalam
tubuh (Winkel, W.S. 2009).
Melihat beragamnya ekstra kurikuler
dan bakat serta minat peserta didik, maka
dalam tataran implementatif perlu sekali
memperhatikan
hal-hal
yang menjadi
kebutuhan dan aspek pengembangan dan
pertumbuhan serta kecerdasan peserta
didik/anak. Ada macam-macam kecerdasan
yang dikenal dalam psikologi perkembangan
dan
psikologi
pendidikan
serta
pengembangan kurikulum yaitu :
1. Kecerdasan Majemuk :
Tahun 1970-an hingga pertengahan
1980-an, Howaed Gardner dan tim peneliti

dari Universitas Harvard, mempopulerkan


apa yang disebut multiple intelligence
(kecerdasan majemuk). Dalam Frames of
Mind (1983) Gardner mengidentifikasi
tujuh jenis kecerdasan, dan dalam bukunya
Intelligence Reframed (1999) ia menambahkan
jenis kecerdasan ke-8, mencakup:
a). Kecerdasan verbal-linguistik
b). Kecerdasan matematis-logis,
c). Kecerdasan visual-spasial,
d). Kecerdasan Kinestetik-jasmani,
e). Kecerdasan musikal-ritmik,
f). Kecerdasan intrapersonal,
g). Kecerdasan interpersonal atau sosial,
h). Kecerdasan natural.
2. Kecerdasan Emosional (EI)
Setelah Gardner, wacana seputar
kecerdasan kembali mengguncang dunia
ketika istilah Emotional Intelligence (EI)
pertama kali diperkenalkan oleh pasangan
Peter Salovey dari Universitas Yale dan John
Mayor dari Universitas New Hampshire,
dan kemudian dipopulerkan oleh Daniel
Goleman (1995). Konon istilah EI itu sendiri
berakar pada konsep Social Intelligence
yang dipergunakan antara lain oleh E.L.
Thrndike tahun 1920-an.
Goleman menegaskan bahwa
kecerdasan emosi menetukan potensi kita
untuk mempelajari ketrampilan-ketrampilan
praktis yang didasarkan pada lima unsur:
a.
kesadaran diri
b.
motivasi diri
c.
pengaturan diri
d.
empati
e.
kecakapan dalam membina
hubungan sosial dengan orang lain
(ketrampilan sosial)
Kelima unsur yang disebutkan
Goleman pada intinya dibedakan dalam dua
macam kecakapan, yakni kecakapan pribadi
(meliputi menentukan bagaimana kita
mengelola diri sendiri), dan kecakapan
sosial
(menentukan
bagaimana
kita

154

Yosaphat, Filsafat dan Eksistensi

menangani suatu hubungan dengan orang

lain).

No Kecakapan Pribadi
1 A. Kesadaran diri
mencakup:
a. Kesadaran emosi
b. Penilaian diri
Percaya diri

Kecakapan Sosial
A. Empati mencakup:
a. Memahami orang
lain
b. Orientasi pelayanan
c. Mengembangkan
orang lain,
d. Mengatasi
keragaman,
e. Kesadaran politis,
2 B. Pengaturan
B. Ketrampilan sosial,
a. Pengendalian diri,
mencakup:
b. Sifat dapat
a. Pengaruh
dipercaya,
b. Komunikasi,
c. Kewaspadaan,
c. Kepemimpinan,
d. Adaptabilitas,
d. Katalisator
e. Inovasi,
perbahan,
e. Manajemen konflik
3 C. Motivasi
f. Kolaborasi dan
mencakup hal
kooperasi
berikut:
a. dorongan prestasi, g. Kemampuan tim,
b. komitmen inisiatif
c. optimisme
Disarikan dari : Memahami Ragam Kecerdasan
dalam Mengasah Paradigma Pembelajar: oleh Andrias
Harefa (2003)

3. Kecerdasan Adversity

No
1

Oleh Paul G. Stoltz (1977)


menawarkan konsep mengenai Adversity
Quotient (AQ) (Kecerdasan mengubah
hambatan menjadi peluang). Ini
dikembangkan berdasarkan penelitian sejumlah
ilmuwan dan diproses melalui lebih dari 500
kajian diseluruh dunia. Tiga cabang ilmu
yang dimanfaatkan ialah psikologi kognitif,
psikoneuroimunologi, dan neurofisiologi.
Ilustrasi yang digunakan ialah pendaki
gunung dengan membedakan AQ seseorang
ke dalam tiga jenis.
Stoltz menggambarkan hubungan
antara IQ, EQ dan AQ-nya sebagai segitiga
sama sisi, dan menempatkan AQ di puncak
segitiga tersebut. Sejumlah cara untuk
mengukur tingkat kecerdasan Adversity
seseorang. Dalam kaitannya dengan konsep
hierarki kebutuhan dar Abraham Maslow,
Stoltz mengatakan bahwa orang yang ber
AQ rendah (Quitters) selalu berkutat di
seputar soal pemenuhan kebutuhan
fisiologisnya (kebutuhan primer). Sementara
orang yang AQ-nya termasuk kategori
Campers mampu memenuhi kebutuhan atas
rasa aman (security) dan hanya yang ber
AQ-nya tinggi yang dapat memnuhi
kebutuhan aktualisasi dirinya, sehingga dapat
menjalani hidupnya secara utuh.

Kecerdasan Adversity (AQ)


Ada tiga jenis atau
jenjang AQ seseorang

Keterangan

Menggambarkan jenis orang yang bekerja hanya untuk hidup, sekedar


memenuhi kebutuhan fisiologisnya. Merka mudah menyerah bila
Quitters
mengalami sedikit kesulitan, menghindari tanggungjawab, mundur atau
berhenti.
Menggambarkan jenis orang yang relatif cepat puas bila ia telah berhasil
Campers
memenuhi kebutuhan rasa amannya. Dalam pendakian gunung, orang
macam ini berhenti di tengah dan membuat perkemahan
Menggambarkan jenis orang yang sukar terpuaskan sebelum ia mencapai
tujuan tertinggi, sampai di puncak gunung. Ia selalu berusaha untuk
Climbers
memenuhi segala kebutuhan sampai pada tingkat aktulisasi dirinya
Abraham Maslow. Orang yang tidak kenal menyerah.
Disarikan dari : Memahami Ragam Kecerdasan dalam Mengasah Paradigma Pembelajar:
oleh Andrias Harefa (2003)

4. Kecerdasan Spiritual

Soal Kecerdasan kembali menjadi


perbincangan di tahun 2000, setelah Danah

155

155

Prospektus, Tahun IX Nomor 2, Oktober 2011

Zohar dan Ian Marshall, Marsha Sinetar


serta sejumlah penulis buku
lainnya
mengangkat soal Spiritual Quotient atau
Spiritual Intellegence (SQ atau SI).
Kecerdasan spiritual ini ditawarkan sebagai
the ultimate intelligence yang menjadi
fondasi bagi pengembangan intelektual (IQ)
maupun emosi (EQ). Apa yang dimaksud
oleh Zohar dan Marshall tentang kecerdasan
spiritual adalah sebagai berikut : ...............
kecerdasan yang berada jauh di dalam diri
kita, di dalam jiwa kita, yang terhubung
dengan kearifan, melampaui ego kita,
melampaui pikiran sadar, suatu kecerdasan
yang tidak saja membuat kita mampu
mengenali nilai-nilai yang sudah ada
(existing
values),
tetapi
juga
memampukan kita untuk menemukan
nilai-nilai baru secara kreatif.
g. Kesimpulan
Filsafat Ekstrakurikuler sangat
berkaitan dengan filsafat umum maupun
filsafat khusus yaitu filsafat Pendidikan.
Secara umum filsafat memuat hal-hal yang
bersifat mendasar yang didalamnya merupakan
bidang metafisika, aksiologi, logika ,
epistemologi, etika dan estetika. Filsafat
pendidikan membicarakan tentang hakikat
pendidikan. Tentu ekstrakurikuler sendiri
merupakan salah satu bagian penting dari
keseluruhan bagian dalam pendidikan untuk
mencapai tujuan pendidikan. Ekstrakurikuler
berhubungan dengan mata pelajaran baik
yang inti maupun khusus. Pkn merupakan
bagian dari intrakurikuler yang sudah pasti
berhubungan dengan ekstrakurikuler. Oleh
karena itu kegiatan ekstrakurikuler baik secara
filosofis maupun paedagogis memiliki
eksistensi yang melekat di dalam kestuan
pendidikan. Antara aspek yang mendasar
dan asasi dalam pendidikan maupun secara
khusus dalam PKn merupakan satu kesatuan
dengan ekstrakurikuler yang sifatnya praktis
operasional implementatif. Sudah barang
tentu pada tataran implementatifnya
perlu memperhatikan teori dan konsep

dalam psikologi
pendidikan.

perkembangan

dan

Daftar Pustaka
Allen, J. (1960) The Role of Ninth Grade
Civics in Citizenship Education in
The high School Journal, 443:p.106111
Bahmueller, C.F. (1997) A Framework For
Teaching Democratic Citizenship:
An International Project In The
International Journal of Social
Education, 12.2
Barr,R.D., Barth, J.L., Shermis, S.S (1978)
The Nature of the Social Studies,
Palm Spring: An ETS Pablication.
Barnadib, (1997). Filsafat Pendidikan: Sistem
dan Metode, Yogyakarta, Penerbit
Andi
_______, Imam, (2002) Filsafat Pendidikan,
edisi pertama, Yogyakarta, Adicita
Karya Nusa.
Bramel, Theodore (1956), The Pattern of
Educational Phylosophy. New York:
The Max. Milland Company.
Branson. M.S (1998). The Role of Civic
Education, Calabasas: CEE.
Branson, Margaret S, dkk. (1999). Belajar
Civic Education dari Amerika, LKIS
kerja sama.
Boeree

C. George. (2009),
Metode
Pembelajaran
dan
Pengajaran,
Cetakan kedua, Ar-Ruzz Media,
Jogjakarta.

Butterworth, J. and Thwaites Geoff. (2005).


Thinking Skills, first edition, New
York, Cambridge University.
Budimansyah, Dasim, (2009). Inovasi
Pembelajaran Project Citizen, cetaan

156

Yosaphat, Filsafat dan Eksistensi

pertama, Bandung, Program Studi


Pendidikan
Kewarganegaraan
Sekolah Pasca Sarjana, Universitas
Pendidikan Indonesia.
_______, (2009). Pembelajaran Pendidikan
Kesadaran Kewarganegaraan
Multidimensional, cetakan kedua, PT.
Genesindo.
_______, (2008). Pembelajaran Pendidikan
Kesadaran Berkonstitusi, cetakan
kedua, Bandung, PT. Genesindo.
_______, (2008) Revitalisasi Pembelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan Melalui
Praktik Belajar Kewarganegaraan
(Project Citizen) Acta Civicus,
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan,
Vol.1.N0:2, April, 2008. P.115,
Bandung, Program Studi Pendidikan
Kewarganegaraan.
Budimansyah dan Karim Suryadi (2008)
PKN dan Masyarakat Multikultural,
PPS-PKN UPI
Chreshore (1886) Education in The Citizens
and Civics, Vol.VII, p.204
Cogan.,J.J., (1999) Developing The
Civic Society: The Role of Civic
Education, Bandung : CICED
Dufty, D .G. (1970) Designing Integrated
Course, dalam Teaching About
Society, Sydney : Rigby
Dewantara, Kihadjar (1961) Karya Ki Hadjar
De want ar a Bagi an Pe r t ama ,
Jogjakarta Majeli luhur Taman Siswa.
Dewantara, Kihadjar (1961) Karya Ki Hadjar
Dewantara Bagian kedua A,
Jogjakarta Majeli luhur Taman Siswa.
Estvan, F.J. (1968) Social Studies I Changing
World: Curriculum and Instrustion,
New York: Harcout, Brace and World.
Hartoonian, H. M. (1992) The Sociel Studies
and Project 2061: An Opportunities
for Harmony, dalam The Social
Studies, 83;4:160-163.

Hahn, C.L. dan Torney-Purta, J. (1999) The


IEA Civic Education Project: National
and International Perspectives, dalam
Social Education , 63,7:425-431
Hareva, A. (2003). Mengasah Paradigma
Pembelajar , cetakan pertama,
Yogyakarta,
Kuhn, T.S. (1970) The Structure of Scientific
Revolution, Chicago: The University
of Chicago Press
Langeveld,M.J. 1965. Pengantar Pedagogik
Teoritis. (terjem : I.P. Simanjuntak :
Beknopte Theoretische Paedagogiek)
Bandung : Bapemsi.
Peursen C.A. Van (1985) Strategi
Kebudayaan, Jogjakarta, Kanisius.
Quigley dkk, (1991) Civitas : A Frame work
for Civic Education, Calabasas :
Center for Civic Education
Ritzer G dan Goodman D.J (2008), Teori
Sosiologi Modern, Jakarta, Prenada,
Media Group.
Sadulloh, Uyoh dkk. (2010). Pedagogik, edisi
pertama, Bandung, Penerbit Alfabeta.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
20 Tahun 2003 Tentang Pendidikan
Nasional.
Winataputra, U.S. (1978) A Pilot Study of
The Implementation of The SMA
PMP: Curricullum in Bandung Area,
Sydney: Macquarie University (MA
Thesis)

157

157

Prospektus, Tahun IX Nomor 2, Oktober 2011

Winataputra, (2001). Jati diri Pendidikan


Kewarganegaraan Sebagai Wahana
Sistemik Pendidikan Demokrasi,
Bandung : Program Pasca Sarjana
UPI Bandung (Disertasi)
Winataputra, Udin. S. dan Budimansyah, D.
(2007).
Civic
Education:
Konteks Landasan, Bahan Ajar,
dan Kultur Kelas. Bandung: Sekolah
Pascasarjana.
Winataputra (2009) Profilling Civic
Competencies for Future School
Civic Education ALesson Learnt,
Presented in the International
Seminar, Civic Education In A
Globalisation Era, Desember 12,
2009, Gd IDB FPIPS UPI Bandung.
Winkel, W.S. (2009) Psikologi Pengajaran,
Yogyakarta, Media Abadi

158