Anda di halaman 1dari 7

NOTULENSI MOVIE REVIEW

BLOK BIOETHICS AND HEALTH LAW IV

Tutor:
Rahmawati Wulansari, S.Psi., M.Si
Kelompok 8:
Khoirunnisa Fajar Iriani P.

G1A012078

Dyah Ajeng Permatahani

G1A012079

Mas Anto Arif Wibowo

G1A012080

Tedi Ismayadi

G1A012081

Amalia Nur Hikmawati

G1A012082

Ghiyas Ulinnuha

G1A012083

Muhammad Fadhil Wasi P.

G1A012084

Yona Ajeng Triafatma

G1A012085

Ismail Satrio Wibowo

G1A012086

Iqbal Maulana Malik

G1A012087

Nur Indah Rahayu

G1A012088

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NASIONAL


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KEDOKTERAN
PURWOKERTO
2015

The Seven-Step Method for Ethical Case Discussion


1.

Clarification of terms and context related to case!


Tidak ada yang perlu diklarifikasi.

2-3. What is (are) the ethical problem(s) in this case?Why are they considered as
ethical problems? What values/norms/principles are at stake?
a. Melanggar prinsip Human dignity and human rights, Prinsip benefit and
Harm, prinsip Protecting future generations, dan prinsip Protection of the
environment, the biosphere and biodiversity, karena Para ilmunan di film
Gattaca bukan hanya melakukan rekayasa genetik untuk menentukan jenis
kelamin tapi juga menghilangkan potensi keburukan yang dibawa gen
seperti penyakit, emosi kebiasaan, dan aspek-aspek lainnya yang sulit
dikendalikan bahkan meningkatkan IQ. Semua ini, dilakukan para ilmuan
untuk menciptakan manusia sempurna tanpa cacat, namun mereka
melupakan tentang hati nurani mereka untuk melakukan rekayasa genetik.
b. Melanggar prinsip Respect for cultural diversity and pluralism, karena
Orang tua dari Vincent Freeman dalam film Gattaca meletakan nasib anak
mereka sekarang bukan ditangan Tuhan melainkan di tangan para ahli
genetik. Karena yang menciptakan manusia adalah Tuhan, Tuhan yang
meniupkan Roh kepada manusia untuk hidup bermasyarakat dan
menjadi seorang pemimpin diantara makhluk Tuhan yang lain.
c. Melanggar prinsip Non-discrimination and non-stigmatization, karena
Terjadi diskriminasi gen berdasarkan kesempurnaan gen (genoism) yaitu
DNA valid dan DNA invalid. Membedakan antara si Anton (rekayasa
genetik) yang merupakan adik dari Vincent menjadi manusia sempurna
sementara si Vincent (manusia alamiah) yang akhirnya mempunyai
pekerjaan menjadi tukang sapu di Gattaca NASA, anak laki-laki lemah,
sering sakit-sakitan, dan hanya hidup cuma sampai umur 30 tahun.
d. Melanggar prinsip Non-discrimination and non-stigmatization, prinsip
Equality, justice and equity, dan prinsip Social responsibility and health,
karena:
1) Golongan masyarakat tidak lagi dibagi berdasarkan ekonomi, tingkat
pendidikan tapi dari gen melanggar Equality, justice and equity.

2) Diskriminasi di rumah : orang tua lebih memfavoritkan Anton yang


lahir kerena rekayasa genetik. melanggar Equality, justice and
equity.
3) Diskriminasi bidang pendidikan : vincent tidak di terima masuk ke
sekolah yang bagus dan mahal karena pihak sekolah tidak mau
mengambil resiko tidak mendapatkan premi asuransi jika terjadi sesuatu
terhadap

Vincent

Freeman

Non-discrimination

and

non-

stigmatization, prinsip Equality, justice and equity, dan prinsip Social


responsibility and health.
4) Diskriminasi bidang pemerintah : pemerintah tidak memberikan premi
asuransi kesehatan terhadap vincent karena status DNA invalid
Social responsibility and health
5) Diskriminasi lingkungan : DNA invalid hanya bisa bekerja sebagai
pekerja kasar seperti tukang sapu saja di Gattaca NASA Nondiscrimination and non-stigmatization, prinsip Equality, justice and
equity, dan prinsip Social responsibility and health.
e. Melanggar prinsip Respect for human vulnerability and personal integrity,
karena Pacar vincent yang bernama Irene, teman satu sekolah calon
astronot di Gattaca NASA tidak melanggar Privacy and confidentiality
karena sampai akhir film Irine tidak memberitahu kepada masyarakat
tentang kondisi Vincent yang sebenarnya.
f. Melanggar prinsip Autonomy and individual responsibility, dan prinsip
Privacy and confidentiality, karena Saling berganti identitas antara Vincent
Freeman sama Jerome Morrow.
g. Melanggar prinsip Sharing of benefits, dan Privacy and confidentiality,
karena Jerome ingin menjadi perenang tetapi dia selalu kalah, Jerome
hanya mendapatkan juara 2. Jerome sebenernya ingin melakukan bunuh
diri tetapi sialnya dia tidak meninggal malah lumpuh. Sementara, Vincent
sangat terobsesi menjadi seorang astronot tanpa melihat banyak
kekurangan yang dia memiliki.
h. Melanggar prinsip Consent, dan prinsip Persons without the capacity to
consent, karena Vincent yang selangkah lagi impiannya akan terwujud

untuk menjadi seorang astronot. Namun, terjadi pembunuhan di Gattaca


dan secara tidak sengaja DNA aslinya tertinggal di dalam TKP. Polisi
menuduh Vincent adalah pelakunya.
4.

How do you see the problems from different perspectives and persons
involved?
a. Segi Agama
Ketika dilihat dari pandangan agama terkait membedakan manusia
berdasarkan genetik yang baik dengan yang tidak, sudah jelas ini
melanggar. Sebab kodrat semua manusia di hadapan Tuhan-Nya adalah
sama.
b. Segi Pendidikan
Apabila dari segi pendidikan, hal ini sangat bermanfaat untuk
perkembangan ilmu pengetahuan terutama bidang genetika. Hal ini dapat
memicu perkmebangan penelitian-penelitian lebih lanjut terkait genetika.
c. Segi Kesehatan
Tes genetika dari segi kesehatan mungkin dapat bermanfaat, terutama
untuk mendeteksi risiko-risiko penyakit tertentu di masa depan. Namun,
sekali lagi ilmu pengetahuan yang maju belum tentu sesuai dengan etik
dan nurani seorang manusia. Sehingga perlu dipertimbangkan dari
pandangan yang lain.
d. Segi Sosial
Dalam film tersebut sangat jelas bahwa terjadi pelanggaran terutama
diskriminasi bagi individu yang memiliki genetik yang buruk.
e. Segi Psikologi
Ditinjau dari segi psikologi bagi individu yang memiliki genetik yang
buruk tentu akan berat baginya, tetapi ini akan baik juga jika hal ini dapat
memicu semangat seseorang untuk menjadi lebih baik seperti yang
ditunjukkan pada film tersebut.Sedangkan, apabila individu memiliki
genetik yang baik, maka hal ini dapat menimbulkan terlalu percaya diri
pada individu tersebut. Bahkan akan menimbulkan stres yang berat apabila
ke depannya timbul penyakit lain yang tidak diketahui dari hasil tes

genetik tersebut, karena tidak semua ekspresi gen itu muncul saat pertama
kali di tes.
5.

Are there any legal aspects to consider in this case?


Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi
Ras Dan Etnis
Pasal 15: Setiap orang yang dengan sengaja melakukan pembedaan,
pengecualian, pembatasan, atau pemilihan berdasarkan pada ras dan etnis
yang mengakibatkan pencabutan atau pengurangan pengakuan, perolehan
atau pelaksanaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam suatu
kesetaraan di bidang sipil, politik, ekonomi, sosial, dan budaya sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 4 huruf a, dipidana dengan pidana penjara paling lama
1 (satu) tahun dan/atau denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta
rupiah).
Pasal 16: Setiap orang yang dengan sengaja menunjukkan kebencian atau rasa
benci kepada orang lain berdasarkan diskriminasi ras dan etnis sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 4 huruf b angka 1, angka 2, atau angka 3, dipidana
dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling
banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
Pasal 19: (1) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 dan Pasal
17 dianggap dilakukan oleh korporasi apabila tindak pidana tersebut
dilakukan oleh orang orang yang bertindak untuk dan/atau atas nama
korporasi atau untuk kepentingan korporasi, baik berdasarkan hubungan kerja
maupun hubungan lain, bertindak dalam lingkungan korporasi tersebut baik
sendiri maupun bersama sama. (2) Dalam hal tindak pidana sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh suatu korporasi, maka penyidikan,
penuntutan, dan pemidanaan dilakukan terhadap korporasi dan/atau
pengurusnya.

6.

What are the alternatives in problem solving for these problems?


a. Para ilmuan seharusnya lebih mempertimbangkan etika penelitian dalam
merekayasa genetik karena bagi kelompok kami tidaklah bijaksana
merekayasa genetik untuk menciptakan manusia sempurna tanpa
mempertimbangkan hati nurani manusia lainnya. Hal tersebut bisa

mengakibatkan adanya pendiskriminasian terhadap umat manusia yang


terlahir normal tanpa rekayasa genetik karena dapat dianggap cacat.
Tentunya hal tersebut bukanlah pilihan mereka untuk terlahir dengan
kecacatan. Sehingga bagi kelompok kami, kemajuan teknologi dalam
bidang rekayasa genetik harus disikapi dengan lebih bijaksana dengan
membatasi hal-hal yang dapat direkayasa dan menghindari kegiatan
rekayasa yang menjurus kearah penciptaan manusia yang sempurna.
b. Orangtua dari Vincent Freeman dalam film Gattaca seharusnya lebih bisa
menghargai kedua putranya tanpa melakukan diskriminasi kepada mereka.
Kecacatan dan kesempurnaan tidak pernah menjadi pilihan manusia karena
hal tersebut tidak terlepas dari kehendak Yang Maha Kuasa. Sebagai
orangtua yang baik sudah seharusnya menyayangi dan melindungi
anaknya walaupun dengan berbagai kondisi dan ketidaksempurnaannya.
c. Pemerintah seharusnya mempunyai regulasi khusus yang membahas
rekayasa genetika untuk menyikapi kemajuan teknologi di bidang tersebut,
bukan hanya mendukung tanpa melihat efeknya lebih jauh kedepan bagi
kehidupan umat manusia. Apabila tidak ada peraturan hukum yang bisa
menegakkan keadilan sesuai hak asasi manusia maka hal tersebut akan
mengakibatkan para ilmuwan melakukan penelitian yang berlebihan
bahkan bisa sampai mengesampingkan etika dan hati nurani manusia. Efek
yang lebih lanjut dari tidak adanya peraturan hukum atas rekayasa genetika
adalah kehidupan bermasyarakat yang menjadi penuh diskriminatif.
Dengan adanya peraturan hukum yang membatasi penelitian rekayasa
genetika maka para peneliti dan umat manusia tentunya akan lebih berhatihati dan menghindari perbuatan semaunya sendiri.
7.

What is (are) the lesson learned from this case


a. Kita tidak boleh melakukan diskriminasi karena seharusnya setiap orang
berhak untuk mendapatkan kesempatan yang sama untuk memilih sesuai
minat dan kemampuan yang dimiliki.
b. Dalam mengambil keputusan sebaiknya kita berpikir secara matang
mengenai keuntungan dan kerugian yang didapat dari keputusan tersebut.
c. Kita memang harus berusaha secara maksimal sesuai kemampuan yang
dimiliki untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, tetapi tidak dengan

menghalalkan segala cara. Harus dipikirkan lagi keuntungan dan kerugian


bagi diri sendiri dan orang lain, serta kemungkinan risiko yang akan
timbul.