Anda di halaman 1dari 32

PANDUAN SKILL LAB.

BLOK CRITICAL CARE MEDICINE

PANDUAN KETERAMPILAN KLINIK


CRITICAL CARE MEDICINE

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS WARMADEWA
TAHUN 2013

BANTUAN HIDUP DASAR


DALAM KEGAWATDARURATAN MEDIK
Bantuan hidup dasar adalah tindakan pertolongan medis sederhana yang dilakukan pada pasien
yang mengalami henti jantung sebelum dilakukan tindakan pertolongan medis lanjutan. Tujuan
tindakan bantuan hidup dasar ini adalah untuk memberikan bantuan sirkulasi dan pernapasan
yang adekuat sampai keadaan henti jantung teratasi atau sampai pasien dinyatakan meninggal.
Henti napas adalah berhentinya pernapasan spontan disebabkan karena gangguan jalan napas
baik parsial maupun total atau karena gangguan di pusat pernapasan. Henti jantung adalah
berhentinya sirkulasi peredaran darah karena kegagalan jantung untuk melakukan kontraksi
secara efektif oleh penyakit jantung primer maupun sekunder. Kondisi-kondisi yang
menyebabkan sumbatan jalan napas antara lain: benda asing, muntahan,edema laring/ bronkus,
trauma langsung pada wajah maupun tenggorokan, spasme laring/ bronkus akibat trauma dan
tumor. Penyebab terjadinya henti jantung antara lain: gagal jantung, tamponade jantung dan
fibrilasi ventrikel. Indikasi dilakukannya bantuan hidup dasar ini adalah adanya henti jantung,
henti napas dan pasien tidak sadarkan diri.
Urutan pelaksanaan bantuan hidup dasar yang benar akan mempengaruhi tingkat
keberhasilan. Berdasarkan American Heart Association dan European Society of Resuscitation,
pelaksanaan bantuan hidup dasar dimulai dari: penilaian kesadaran penderita, aktivasi layanan
gawat darurat dan pertolongan awal ABCD (Airway-Breathing- Circulation-Diasability).
PENILAIAN AWAL (INITIAL ASSESMENT) PASIEN CEDERA
Pengelolaan penderita yang terluka parah memerlukan penilaian cepat dan pengelolaan tepat
untuk menghindari kematian. Pada penderita trauma, golden periode sangatlah penting sehingga
diperlukan suatu proses initial assesment yang meliputi:
1. Persiapan (fase pre-hospital dan fase hospital)
2. Triase (pemilahan penderita berdasarkan kondisi pasien dan kebutuhan terapi)
3. Primary survey (ABCD)
Airway adalah menjaga jalan napas dengan kontrol cervical (cervical spine control)
Breathing adalah menjaga pernapasan dengan ventilasi
Circulation adalah kontrol perdarahan

Disability adalah status neurologis


Exposure adalah membuka baju penderita dan mencegah hipotermia
4. Resusitasi
5. Tambahan terhadap primary survey dan resusitasi (EKG, kateter uretra, NGT, monitor,
rontgen, AGD)
6. Secondary survey, pemeriksaan head to toe dan anamnesis
AMPLE (Alergi, Medikasi, Past Illness, Last meal, Environment yang berhubungan dengan
kejadian perlukaan)
7. Tambahan terhadap secondary survey (CT scan, USG, urografi, dll)
8. Pemantauan dan re-evaluasi berkesinambungan
9. Penanganan Definitif

Penilaian Respon/ Tingkat Kesadaran


Penilaian respon dilakukan setelah penolong yakin dirinya sudah aman untuk melakukan
pertolongan. Penilaian respon dilakukan dengan cara menepuk dan menggoyangkan penderita.
Penilaian respon penderita adalah sebagai berikut:
a. Jika penderita menjawab/ bergerak terhadap respon, usahakan tetap mempertahankan posisi
pasien seperti pada saat ditemukan
b. Jika pasien tidak memberikan respon serta tidak bernapas atau terdapat pernapasan yang
abnormal, maka hal yang harus dilakukan selanjutnya adalah aktivasi sistem layanan gawat
darurat.
Salah satu cara melakukan penilaian tingkat kesadaran adalah dengan mengamati respon
seseorang terhadap rangsangan dari lingkungan. Perubahan tingkat kesadaran dapat diakibatkan
dari berbagai faktor (CEMENTED), diantaranya: Cerebral, Metabolik, Neurologik, Trauma,
Elektrolit dan Dissease.Tingkat kesadarandibedakan menjadi:
1. Compos Mentis (conscious)yaitu kesadaran normal, sadar sepenuhnya, dapat menjawab
semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya (waktu, tempat dan orang)

2. Apatis yaitu keadaan kesadaran yang acuh terhadap sikap sekitarnya


3. Delirium yaitu gelisah, disorientasi (orang, tempat, waktu), memberontak, berteriak-teriak,
berhalusinasi
4. Somnolen (obtundasi, letargi) yaitu kesadaran menurun, respon psikomotor yang lambat,
mudah tertidur, namun kesadaran dapat pulih bila dirangsang (mudah dibangunkan) tetapi
jatuh tertidur lagi, mampu memberi jawaban verbal
5. Stupor (soporo koma) yaitu keadaan seperti tertidur lelap, tetapi ada respon terhadap nyeri
6. Coma (comatose), yaitu tidak bisa dibangunkan, tidak ada respon terhadap rangsanganapapun
Tingkat kesadaran diukur seobyektif mungkin dengan menggunakan GCS (Glasgow Coma
Scale) khususnya untuk pasien dengan cedera kepala.GCS adalah skala yang digunakan untuk
menilai tingkat kesadaran pasien,dengan menilai respon pasien terhadap rangsangan yang
diberikan. Komponennya adalah: reaksi membuka mata, bicara dan motorik. Setelah dilakukan
penilaian dan penskoran, nilai-nilai tersebut kemudian dijumlahkan. Nilai GCS yang tertinggi
adalah 15 yaitu E4V5M6 dan terendah adalah 3 yaitu E1V1M1 dengan intrepretasi sebagai
berikut:

Skor GCS

Intrepretasi

14 15

CKR (cedera kepala ringan)

9 13

CKS (cedera kepala sedang)

38

CKB (cedera kepala berat)

Tabel 1. Intrepretasi Glasgow Coma Scale

I. PRIMARY SURVEY

A. AIRWAY DENGAN PROTEKSI CERVICAL


Penilaian keadaan penderita dan prioritas terapi dilakukan berdasarkan jenis perlukaan, tanda vital
dan mekanisme trauma. Pada penderita yang terluka parah, terapi diberikan berdasarkan prioritas.
Gangguan airway dapat timbul secara mendadak dan total, perlahan-lahan ataupun sebagian,
progresif maupun berulang. Airwaymerupakan prioritas utama pada critical care karena jika
airway tersumbat, artinya aliran udara napas tidak ada dan tidak beredarnya O2 dalam sirkulasi

darah, sehingga organ-organ vital mengalami penurunan fungsi. Pemeriksaan jalan nafas
dilakukan untuk memastikan jalan nafas bebas dari sumbatan karena benda asing. Kelancaran
jalan napas dinilai meliputi obstruksi yang disebabkan oleh: benda asing, fraktur tulang wajah,
fraktur maksila/ mandibula, fraktur laring dan fraktur trakea. Usaha untuk membebaskan airway
harus melindungi vertebra cervical. PROTEKSI VERTEBRAE CERVICALIS MERUPAKAN HAL
YANG PENTING. INGAT: ANGGAPLAH ADA FRAKTUR CERVICAL PADA SETIAP PASIEN
MULTI TRAUMA, TERLEBIH BILA ADA GANGGUAN KESADARAN ATAU PERLUKAAN DI
ATAS CLAVICULA.Patokan urutan umum penanganan primary survey adalah:
a)Penilaian (Mengenal Patensi airway dan penilaian cepat adanya obstruksi)

Trauma maksilofasial (fraktur nasofaring & orofaring)

Trauma leher (luka tembus, kerusakan laring, kerusakan trakea, sumbatan jaringan lunak
oleh darah)

Trauma laring (suara parau, emfisema subkutan, teraba fraktur)

b)Pengelolaan (mengusahakan airway)

Melakukan Chin Lift


Pada pasien non trauma cervical injury, teknik yang dapat dilakukan untuk membuka jalan
napas pada pasien ini adalah dengan teknik angkat kepala-angkat dagu (Head tild Chin lift).
Cara melakukan tehnik Head tilt chin lift:
a. Letakkan tangan kiri pada dahi pasien
b. Tekan dahi sedikit mengarah ke depan dengan telapak tangan penolong
c. Letakkan ujung jari tangan lainnya dibawah bagian ujung tulang rahang pasien
d. Tengadahkan kepala dan tahan/tekan dahi pasien secara bersamaan sampai kepala pasien
pada posisi ekstensi
Melakukan Jaw Trust
Sedangkan pada pasien dengan trauma cervical injury, teknik yang dapat dilakukan untuk
membuka jalan napas pada pasien ini adalahjaw thrust . Cara melakukan teknik ini adalah:
a. Letakkan kedua siku penolong sejajar dengan posisi pasien
b. Kedua tangan memegang sisi kepala pasien
c. Penolong memegang kedua sisi rahang
d. Kedua tangan penolong menggerakkan rahang ke posisi depan secara perlahan

e. Pertahankan posisi mulut pasien tetap terbuka

Gambar 1. (a) Teknik Head Tilt Chin Lift dan (b) Tehnik Jaw Thrust

Membersihkan airway dari benda asing


Hal yang dapat dilakukan selanjutnya adalah melakukan pemeriksaan pada mulut pasien apakah
terdapat muntahan atau benda asing lainnya yang menyumbat jalan napas. Teknik yang
dapat dibersihkan dengan teknik cross finger (ibu jari diletakkan berlawanan dengan jari
telunjuk pada mulut korban).Cara melakukan tehnik cross finger:
a. Silangkan ibu jari dan telunjuk penolong
b. Letakkan ibu jari pada gigi seri bawah korban/pasien dan jari telunjuk pada gigi seri atas
c. Lakukan gerakan seperti menggunting untuk membuka mulut pasien
d. Periksa mulut setelah terbuka apakah ada cairan,benda asing yang menyumbat jalan
nafas

Gambar 2. Teknik Cross Finger

Memasang airwayoro-faringeal
Ini digunakan untuk ventilasi sementara pada penderita yang tidak sadar, sementara intubasi
sedang dipersiapkan. Cara pemasangannya adalah sebagai berikut:
a. Pilihlah ukuran yang pas dengan pasien (ukuran yang cocok sesuai dengan jarak dari
sudut mulut pasien sampai kekanalis auditivus eksterna
b. Buka mulut penderita dengan teknik chin lift/ cross finger
c. Airway oral disisipkan ke dalam mulutsecara terbalik (upside down), sehingga bagian
yang cekung mengarah ke kranial, sampai di daerah palatum molle
d. Pada titik ini, alat kemudian diputar 180 derajat

Gambar 3. Airwayoro-faringeal
Memasang airway definitif
Intubasi oro/ naso-tracheal
Krikotiroidotomi
Fiksasi leher dengan berbagai cara setelah memasang airway
Menjaga saluran napas juga dengan melakukan cervical spine immobilisation

Gambar 4. Cervical Spine Immobilisation


B. BREATHING (VENTILASI DAN OKSIGENASI)
a)Penilaian
Buka leher dan dada sambil tetap menjaga imobilisasi leher dan kepala
Tentukan frekuansi dan amplitudo napasnya
Memastikan pasien bernafas/tidakdilakukan dengan cara:
1) Inspeksi: Lihat apakah ada tanda jejas, gerakan dada (gerakan bernapas), apakah
gerakan tersebut simetris, penggunaan otot bantu napas dan frekuensi napas
2) Palpasi: rasakan dengan pipi pemeriksa apakah ada hawa napas dari korban,
krepitas, massa dan nyeri tekan (bila sadar)

3) Perkusi: sonor/ hipersonor atau redup


4) Auskultasi:dengarkan apakah ada suara nafas normal, dan apakah ada suara nafas
tambahan yang abnormal (bisa timbul karena ada hambatan sebagian)
Dalam pelaksanaannya, kadang kita akan mendapatkan suara tambahan. Jenis-jenis
suara nafas tambahan karena hambatan sebagian jalan nafas antara lain:
Snoring : suara seperti ngorok, kondisi ini menandakan adanya kebuntuan jalan
napas bagian atas oleh benda padat, jika terdengar suara ini maka lakukanlah
pengecekan langsung dengan cara cross-finger untuk membuka mulut. Lihatlah
apakah ada benda yang menyangkut di tenggorokan korban (eg: gigi palsu dll).
Pindahkan benda tersebut.
Gargling : suara seperti berkumur, kondisi ini terjadi karena ada kebuntuan
yang disebabkan oleh cairan (darah,dll)
Crowing : suara dengan nada tinggi, biasanya disebakan karena pembengkakan
(edema) pada trakea

Gambar 5. Memeriksa pernapasan pasien

b)

Pengelolaan
Hal yang perlu dilakukan adalah bahwa pemberian napas bantuan dilakukan setelah jalan napas
terlihat aman. Tujuan primer pemberian bantuan napas adalah untuk mempertahankan

oksigenasi adekuat untuk membuang CO2. Hal yang perlu diperhatikan saat pemberian napas
bantuan antara lain:
Berikan napas bantuan sesegera mungkin
Berikan napas bantuan sesuai dengan kompresi dengan perbandingan 2 kali bantuan napas
setelah 30 kali kompresi
Pada kondisi dimana terdapat dua penolong, jika penolong berhasil memasukkan alat
bantuan napas lanjutan untuk mempertahankan jalan napas seperti endotracheal tube atau
pun sungkup laring
Bantuan nafas dapat dilakukan melalui mulut ke mulut, mulut ke hidung maupun mulut ke
stoma(lubang yang dibuat pada tenggorokan)
Pemberian O2 dapat dilakukan dengan cara:
1) Bantuan Napas Mulut ke Mulut
Teknik ini merupakan cara yang cepat dan mudah. Cara melakukan pertongan adalah
sebagai berikut:
Posisikan diri di samping pasien
Mempertahankan posisi head tilt chin lift
Jepit hidung pasien menggunakan ibu jari dan telunjuk tangan yang melakukan head
tilt chin lift
Buka sedikit mulut pasien
Tarik napas panjang dan tempelkan rapat bibir anda melingkari mulut pasien dengan
menggunakan kain sebagai pembatas antara mulut anda dan pasien untuk mencegah
penularan penyakit
Tiupkan udara secara lambat (setiap tiupan selama 1 detik pastikan sampai dada
terangkat
Mata memperhatikan dada pasien

Gambar 6. Pemberian Nafas dari Mulut ke Mulut


2) Bantuan Napas Mulut ke Hidung

Teknik ini dilakukan jika pernapasan mulut ke mulut tidak memungkinkan,misalnya pasien
mengalami trismus. Cara melakukannya adalah sebagai berikut:
Katupkan mulut pasien disertai dengan chin lift
Buka mulut pasien saat ekshalasi

Gambar 7. Pernafasan dari mulut ke hidung

3)

Ventilasi denganalat bag-valve-mask


Alat ini terdiri dari kantung yang berbentuk balon dan katup satu arah yang menempel pada
sungkup muka. Volume kantung napas ini 1600 ml. Alat ini bisa digunakan untuk pemberian
nafas buatan dengan disambungkan pada sumber O2. Bila alat tersebut disambungkan
dengan O2, maka kecepatan aliran O2 bisa sampai 12 L/ menit.

Gambar8. Face Mask dan Kantung Pernapasan

Cara melakukannya adalah sebagai berikut:


Pilih ukuran masker yang cocok dengan wajah penderita

Meletakkan sungkup menutupi muka dengan teknik E-C clamp (bila sendiri) yaitu: ibu
jari & jari telunjuk penolong membentuk huruf C dan mempertahankan sungkup di
muka pasien
Jari-jari ketiga, keempat dan kelima membentuk huruf E dengan meletakkannya di
bawah rahang untuk mengangkat dagu dan rahang bawah (ini akan mengangkat lidah dari
belakang faring dan membuka jalan napas)
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada tindakan ini adalah:

Bila dengan 2 penolong, satu penolong pada posisi di atas kepala pasien menggunakan
ibu jari dan telunjuk tangan kiri dan kanan untuk mencegah agar tidak terjadi
kebocoran di sekitar sungkup dan mulut, jari-jari yang lain mengangkat rahang bawah
dengan mengekstensikan kepala sembari melihat pergerakan dada. Penolong kedua
secara perlahan memompa kantung sampai dada terangkat.

Bila 1 penolong, dengan ibu jari dan jari telunjuk melingkari pinggir sungkup dan jarijari lainnya mengangkat rahang ke bawah (E-C clamp), tangan yang lain memompa
kantung napas

Dapat juga dengan menghubungkan selang O2 dengan alat bag-valve-mask

Atur aliran O2 sampai 12L/ menit

Kecukupan ventilasi diamati dengan memperhatikan pergerakan dada pasien

Gambar 9. Bag-valve-mask

4)

Penatalaksanaan

Sumbatan jalan napas

pada anak

Pada

anak/ bayi,

jika terjadi sumbatan jalan

napas

karena ada hambatan


jalan

napas,

total pada

maka

dapat dilakukan:

a. Back Blows

Back Blowsbisa dilakukan untuk

bayi/ anak

Posisikanbayi/ anak dengan posisi kepala kepala mengarah ke bawah agar gaya gravitasi
dapat membantu pengeluaran benda asing
Penolong berlutut atau duduk menopang bayi di pangkuannya
Untuk bayi, topang kepala dengan menggunakan ibu jari di satu sisi rahang dan rahang
yang lain menggunakan satu atau dua jari dari tangan yang sama, jangan sampai menekan
jaringan lunak di bawah rahang karena akan menyebabkan sumbatan jalan napas kmbali
(untuk anak > 1 tahun, tidak usah memposisikan kepala secara khusus
Lakukan hentakan back blows sebanyak 5 kali dengan menggunakan telapak tangan di
tengah punggung
Bila gagal, lakukan chest trust pada bayi dan abdominal trust pada anak > 1 tahun

Gambar10. Back Blows pada bayi/ anak


b. Chest Thrust, dilakukan dengan memposisikan bayi dengan kepala di bawah dan posisi
terlentang dengan cara memposisikan diri seperti gambar lalu mendorong tangan kearah
dalam atas

Topang bayi pada lengan dengan menggunakan bantuan paha penolong

Identifikasi bagian yang akan dilakukan penekanan (bagian bahwa sternum, sekitar 1 jari
di atas xypisternum)

Lakukan chest trust (kompresi dada yang iramanya lebih lambat dibandingkan dewasa)
5kali

Bila benda asing belum keluar, tindakan diulangi lagi dari awal

Gambar 11. Chest Thrust


c. Abdominal Thrust

Tindakan ini hanya dilakukan untuk anak yang berumur di atas 1 tahun. Caranya dengan
berdiri dan berlutut di belakang pasien

Letakkan lengan penolong di bawah tangan penderita serta mengelilingi pinggangnya

Kepalkan tangan penolong serta letakkan antar umbilikus dan xipysternum


Raih kepalan tersebut dengan tangan yang lain serta hentakkan ke arah atas dan belakang
(arah tubuh pasien)
Lakukan sampai 5 kali, pastikan bahwa tindakan yang dilakukan tidak mengenai prosesus
xipoideus

Bila benda asing belum keluar, tindakan diulangi kembali

Gambar 12 . Teknik Abdominal Trust


C. CIRCULATION (DENGAN KONTROL PERDARAHAN)
a) Penilaian
Dapat mengetahui sumber perdarahan eksternal yang fatal

Mengetahui sumber perdarahan internal

Warna kulit (pemeriksaan kulit yang berwarna pucat, pemeriksaan Capilarry Refill
Time(CRT) > 2 detik dengan cara menekan ujung kuku pasien dengan kuku pemeriksa
selama 5 detik, lalu lepaskan, cek berapa lama waktu yg dibutuhkan agar warna ujung
kuku merah lagi)

Nadi >100 kali per menit (a. Femoralis atau a.Carotis, amplitudo, irama, frekuensi)

Tingkat kesadaran (bila volume darah menurun, perfusi otak dapat berkurang
penurunan kesadaran)

Tekanan darah (bila ada waktu)


b) Pengelolaan
Tekanan langsung pada perdarahan eksternal

Mengenal adanya perdarahan internal, kebutuhan intervensi bedah dan konsultasi bedah

Memasang kateter IV
Mengambil sampel darah untuk pemeriksaan darah rutin, dan AGD
Memberikan cairan Ringer Lactat yang dihangatkan dan tranfusi darah
Mencegah hipotermia
Jika pasien shock, lakukan Shock Position pada pasien; yaitu dengan mengangkat kaki pasien
setinggi 45 derajat dengan harapan sirkulasi darah akan lebih banyak ke jantung. Pertahankan
posisi shock sampai bantuan datang atau tanda-tanda shock menghilang, jika ada pendarahan
pada pasien, cobalah hentikan perdarahan dengan cara menekan atau membebat luka
(membebat jangan terlalu erat karena dapat mengakibatkan jaringan yg dibebat mati).

Gambar 13.Shock Position


Pada keadaan normal, oksigen diperoleh dengan bernapas dan diedarkan dalam aliran
darah ke seluruh tubuh. Bila proses pernapasan dan peredaran darah gagal, diperlukan
tindakan resusitasi untuk memberikan oksigen ke tubuh. Menurut American Heart
Association and International Liaison Committee on Resuscitation CPR guidelines 2010,
tindakan ini didasarkan pada 3 pemeriksaan yang disebut langkah-langkah CAB resusitasi:

Circulation (peredaran darah), Airway (saluran napas) dan Breathing (bernafas). Untuk
orang yang tidak sadar, ikuti urutan CAB sebelum memberikan pertolongan lain. Bila
pasien tidak bernafas, segera berikan pernapasan bantuan. Bila tidak ada denyut, segeralah
lakukan CPR (cardiopulmonary resuscitation/ resusitasi jantung-paru). Kompresi jantung
merupakan tindakan yang dilakukan untuk menciptakan aliran darah secara tidak langsung
melalui peningkatan tekanan intratorakal dengan menekan jantung. Tekanan yang kita
berikan diharapkan dapat menciptakan aliran darah dan menghantarkan Oksigen terutama
untuk otot myokard serta otak. Tindakan ini merupakan gabungan antara kompresi jantung
dan pernafasan buatan. Teknik ini diberikan pada korban yang mengalami henti jantung
dan nafas, tetapi masih hidup. Resusitasi jantung paru tidak dilakukan pada semua
penderita yang mengalami gagal jantung atau pada orang yang sudah mengalami kerusakan
pernafasan atau sirkulasi yang tidak ada lagi kemungkinan untuk hidup, melainkan yang
mungkin untuk hidup lama tanpa meninggalkan kelainan di otak.Tujuan dari tindakan
Resusitasi Jantung Paru adalah:

Mengembalikan fungsi pernafasan dan atau sirkulasi pada henti nafas (respiratory
arrest) dan atau henti jantung (cardiac arrest) pada orang dimana fungsi tersebut gagal
total oleh suatu sebab yang memungkinkan untuk hidup normal selanjutnya bila kedua
fungsi tersebut bekerja kembali

Mencegah berhentinya sirkulasi atau berhentinya respirasi (nafas)

Memberikan bantuan eksternal terhadap sirkukasi (fungsi jantung) dan ventilasi (fungsi
pernafasan/paru) pada pasien yang mengalami henti jantung atau henti nafas melalui
Cardio Pulmonary Resuciation(CPR)

Sebelum melakukan kompresi, pemeriksa harus melakukan pemeriksaan awal untuk


memastikan bahwa penderita dalam keadaan tanpa nadi saat dilakukan pertolongan. Hal ini
diketahui dengan melakukan perabaan pada arteri karotid.

Gambar 14. Pemeriksaan Arteri Karotid

Komponen yang perlu diperhatikan saat melakukan resusitasi jantung paru/ RJPantara lain:

Penderita dibaringkan di tempat yang datar dan keras

Tentukan lokasi kompresi dada dengan cara meletakkan telapak tangan yang telah saling
berkaitan di bagian bawah sternum, 2 jari di atas prosesus xipoideus

Untuk dewasa, berikan kompresi dada dengan kedalaman 5 cm sebanyak 30 kali dan dua kali
napas bantuan dengan posisi setengah berlutut

Usahakan seminimal mungkin melakukan interupsi terhadap kompresi

Evaluasi penderita dengan melakukan pemeriksaan arteri karotid setelah 5 siklus kompresi

Gambar 15. Pijat jantung dan nafas buatan satu penolong

Gambar 16.

Pijat jantung dan

nafas buatan

dua penolong
Gambar 17. Posisi

kepalan tangan

Pijat jantung dan nafas buatan dihentikan jikapenolong kelelahan dan sudah tidak kuat lagi,
pasien sudah menunjukkan tanda-tanda kematian, bantuan sudah dating danteraba denyut nadi
karotis.
D. DISABILITY
Pemeriksaan neurologis singkat berupa:

Skoring GCS

Nilai pupil (besar dan reaksi pupil)

E. EXPOSURE
Buka pakaina penderita, tetapi cegah hipotermia

II. SECONDARY SURVEY DAN PENGELOLAANNYA


A. RIWAYAT AMPLE DAN MEKANISME CEDERA

Dapatkan riwayat AMPLE dari penderita, pengantar atau petugas

Dapatkan anamnesis penyebab cedera dan mekanisme cedera


B. KEPALA DAN MAKSILOFASIAL
a)

Penilaian

Inspeksi dan palpasi seluruh kepala dan wajah (laserasi, kontusio, fraktur dan luka
termal

Re-evaluasi pupil

Re-evaluasi tingkat kesadaran (GCS)

Penilaian fungsi mata

Evaluasi saraf cranial

Periksa telinga, hidung (kebocoran cairan cerebrospinal)

Periksa mulut (gigi, perdarahan, kebocoran cairan cerebrospinal dan perlukaan


jaringan lunak)

b). Pengelolaan

Jaga airway

Kontrol Perdarahan

Cegah kerusakan otak sekunder

Lepaskan lensa kontak

C. VERTEBRAE CERVIKALIS DAN LEHER


a) Penilaian

Pemeriksaan adanya cedera tumpul/ tajam, deviasi trakea pemakaian otot tambahan

Inspeksi dan palpasi (nyeri, deformitas, pembengkakan, emfisema subkutan)

Auskultasi (murmur)

Rontgen cervical

b). Pengelolaan

Jaga imobilisasi segaris

Proteksi cervical

D. THORAK
a)

Penilaian

Inspeksi dinding anterior, lateral dan posterior

Auskultasi

Palpasi

Perkusi

b). Pengelolaan

Dekompresi rongga pleura dengan tube tracheostomy sesuai indikasi

Sambungkan chest tube ke WSD

Tutup luka terbuka thoraks

Perikardiosintesis bila ada indikasi

Transfer ke ruang operasi bila diperlukan

E. ABDOMEN
a)

Penilaian

Inspeksi abdomen bagian anterior, lateral dan posterior

Auskultasi

Palpasi (Nyeri tekan, defans muskular, kehamilan)

Perkusi

Foto pelvis

USG abdomen

Bila hemodinamik normal, lakuakn CT Scan

b). Pengelolaan

Transfer ke ruang operasi bila diperlukan

F. PERINEUM/ REKTUM/ VAGINA


1.

2.

PERINEUM

Kontusio & hematoma

Laserasi

Perdarahan uretra

REKTUM

Perdarahan rektum

Tonus spingter ani

Keutuhan didinding rektum

Fragmen tulang

Posisi prostat

3. Vagina

Daraha

Laserasi

G.

MUSKULOSKELETAL
a)

Penilaian

Inspeksi lengan dan tungkai akan adanya trauma tumpul/ tajam, laserasi, kontusio dan
deformitas

Palpasi lengan dan tungkai

Palpasi arteri

Palpasi pelvis

Foto rontgen ekstremitas

b). Pengelolaan

Pasang bidai

Pertahankan imobilisasi vertebra torakalias

ATS

Obat-obatan

Pertimbangkan kemungkinan sindrom kompartmen

Cheklist
Kegawatdaruratan Medik
A. Menentukan Glasgow Coma Scale
No.

Kriteria

Nilai
0

Menentukan Respon Membuka Mata (E)


1.

Menentukan respon membuka mata melalui rangsangan perintah


maupun cubitan
1. Tidak ada respon
2. Dengan nyeri
3. Dengan perintah verbal
4. Spontan

Menentukan Respon Verbal


2.

Menentukan respon verbal melalui rangsangan peritah maupun


cubitan
1. Tidak ada respon
2. Suara yang tidak berarti
3. Kata-kata yang tidak bermakna
4. Disorientasi dan berbicara
5. Orientasi baik dan berbicara

Menentukan Respon Motorik


3.

Menentukan respon motorik melalui rangsangan perintah maupun


cubitan
1. Tidak ada respon

2. Gerakan extensi abnormal (tangan satu atau


keduanya extensi di sisi tubuh, dengan jari mengepal
& kaki extensi saat diberi rangsang nyeri)
3. Gerakan fleksi abnormal (tangan satu atau keduanya
posisi kaku di atas dada & kaki extensi saat diberi
rangsang nyeri)
4. withdraws (menghindar / menarik extremitas atau
tubuh menjauhi stimulus saatdiberi rangsang nyeri)
5. Dapat melokalisasi nyeri
6. Menuruti perintah

Ket 0 = Pemeriksa tidak mampu mengerjakan


1 = Pemeriksa mampu melakukan tetapi tidak lengkap
2 = Pemeriksa mampu melakukan dengan lengkap tapi tidak runut
3 = Pemeriksa mampu melakukan dengan lengkap dan runut

CHEKLIST
AIRWAY MANAGEMENT
No.

Kriteria

Nilai
0

Memeriksa Napas Pasien


Membersihkan Jalan Napas (Cross Finger)
1.

Silangkan ibu jari dan telunjuk penolong

2.

Letakkan ibu jari pada gigi seri bawah pasien dan jari telunjuk pada
gigi seri atas

3.

Lakukan gerakan seperti menggunting untuk membuka mulut


pasien/korban

4.

Periksa mulut setelah terbuka apakah ada cairan, benda asing yang
menyumbat jalan nafas

Melakukan Jaw-Thrust Maneuver (jika pasien mengalami cervical spine injury)


1.
Letakkan kedua siku penolong sejajar dengan posisi pasien
2.

Kedua tangan memegang sisi kepala pasien

3.

Penolong memegang kedua sisi rahang

4.

Kedua tangan penolong menggerakan rahang keposisi depan secara

5.

perlahan
Pertahankan posisi mulut pasien/korban tetap terbuka

Melakukan Head Tilt Chin Lift (jika penderita tidak mengalami cervical
spine unjury)
1.
Letakkan tangan kiri pada dahi pasien
2.

Tekan dahi sedikit mengarah ke depan dengan telapak tangan

3.

penolong
Letakkan ujung jari tangan kanan di bawah bagian ujung tulang

4.

rahang pasien
Tengadahkan kepala dan tahan/tekan dahi pasien secara bersamaan
sampai kepala pasien pada posisi ekstensi

Memasang airway oro-faringeal


1.
Pilihlah ukuran yang pas dengan pasien (ukuran yang cocok

sesuai dengan jarak dari sudut mulut pasien sampai ke kanalis


2.

auditivus eksterna
Buka mulut penderita dengan teknik chin lift/ cross finger

3.

Airway oral disisipkan ke dalam mulut secara terbalik (upside


down), sehingga bagian yang cekung mengarah ke kranial,

4.

sampai di daerah palatum molle


Pada titik ini, alat kemudian diputar 180 derajat

Ket 0 = Pemeriksa tidak mampu mengerjakan


1 = Pemeriksa mampu melakukan tetapi tidak lengkap
2 = Pemeriksa mampu melakukan dengan lengkap tapi tidak runut
3 = Pemeriksa mampu melakukan dengan lengkap dan runut

CHECKLIST
BREATHING MANAGEMENT

No.

Kriteria

Nilai
0

Pemeriksaan Awal
1.

Buka leher dan dada sambil tetap menjaga imobilisasi leher


dan kepala

2.

Inspeksi
a. Lihat apakah ada gerakan dada (gerakan napas)
b. Tanda-tanda jejas
c. Gerakan dada simetris atau tidak
d. Penggunaan otot bantu napas
e. Frekuensi napas

3.

Palpasi
a. Krepitasi
b. Massa
c. Nyeri tekan (bila sadar)
d. Rasakan dengan pipi pemeriksa apakah ada hawa napas dari
korban
e. (jika ada, hitung frekuensi pernapasannya)

4.

Perkusi
a. Sonor/ hipersonor/ redup

5.

Auskultasi
b. a. Dengarkan jenis suara pernapasan dada kanan/ kiri apakah ada
suara napas tambahan atau tidak
c. b. Tentukan jenis suara napas tambahan tersebut
d.

Bantuan Napas Mulut ke Mulut


1.
Posisikan diri di samping pasien

2.

Mempertahankan posisi head tilt chin lift

3.

Jepit hidung pasien menggunakan ibu jari dan telunjuk tangan yang
melakukan head tilt chin lift

4.

Buka sedikit mulut pasien

5.

Tarik napas panjang dan tempelkan rapat bibir anda melingkari


mulut pasien dengan menggunakan kain sebagai pembatas antara

6.

mulut anda dan pasien untuk mencegah penularan penyakit


Tiupkan udara secara lambat (setiap tiupan selama 1 detik pastikan
sampai dada terangkat)

7.

Mata memperhatikan dada pasien

Bantuan Napas Mulut ke Hidung


1.

Katupkan mulut pasien disertai dengan chin lift

2.

Buka mulut pasien saat ekhalasi

Bantuan Napas dengan Kantung Pernapasan


1.
Pilih ukuran masker yang cocok dengan wajah penderita
2.

Pemeriksa menempatkan tangan untuk membuka jalan napas dan


meletakkan sungkup menutupi muka dengan teknik E-C clamp (bila

3.

sendiri)
Jari-jari ketiga, keempat dan kelima membentuk huruf E dengan
meletakkannya di bawah rahang untuk mengangkat dagu dan
rahang bawah

4.

Tangan yang lain memompa kantung napas

5.

Perhatikan pergerakan dada

Ket 0 = Pemeriksa tidak mampu mengerjakan


1 = Pemeriksa mampu melakukan tetapi tidak lengkap
2 = Pemeriksa mampu melakukan dengan lengkap tapi tidak runut

3 = Pemeriksa mampu melakukan dengan lengkap dan runut

MANAGEMENT SIRKULASI
KONTROL PERDARAHAN

No
.

Kriteria

Nilai
0 1 2 3

Mengamati Tanda-tanda Syok


1. Melakukan pengecekan warna kulit (bibir, konjuctiva inferior, kulit tubuh)
1. Lakukan pemeriksaan Capilary Refill Time
2. Lakukan pemeriksaan nadi (frekuensi, irama, amplitudo)
3. Lakukan pemeriksaan akral
4. Bila pasien syok, lakukan syok position
5. Jika terdapat perdarahan, hentikan dengan cara melakukan pembebatan
Melakukan Pengecekan Arteri Karotid
1. Inspeksi kedua sisi leher untuk melihat denyut arteri karotid
2. Dengan

menggunakan

jari

tengah

dan

telunjuk

palpasi

sekitar

otot

sternokleidomastoideus bagian medial


3. Rasakan denyut nadi arteri karotid
Melakukan RJP
1. Penderita di baringkan di tempat yang datar dan keras
2. Meletakkan telapak tangan yang telah saling berkaitan di bagian bawah sternum, 2
jari di atas prosesus xipoideus

3. Untuk dewasa, berikan kompresi dada dengan kedalaman 5 cm sebanyak 30 kali dan
dua kali napas bantuan dengan posisi setengah berlutut
4. Evaluasi penderita dengan melakukan pemeriksaan arteri karotid setelah 5 siklus
kompresi

Ket 0 = Pemeriksa tidak mampu mengerjakan


1 = Pemeriksa mampu melakukan tetapi tidak lengkap
2 = Pemeriksa mampu melakukan dengan lengkap tapi tidak runut
3 = Pemeriksa mampu melakukan dengan lengkap dan runut