P. 1
Peraturan Daerah No. 22 Tahun 2001

Peraturan Daerah No. 22 Tahun 2001

|Views: 437|Likes:
Dipublikasikan oleh karda d yayat

More info:

Published by: karda d yayat on Jan 21, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/14/2010

pdf

text

original

LEMBARAN DAERAH PROPINSI JAWA BARAT

NO. 4

2001

SERI. B

PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA BARAT NOMOR 22 TAHUN 2001 TENTANG RETRIBUSI PENYELENGGARAAN PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA BARAT Menimbang : a. bahwa dalam rangka penyelenggaraan pembangunan di Jawa Barat telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah Propinsi Jawa Barat Nomor 21 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Perhubungan;

b. bahwa

untuk mendukung terselenggaranya pelayanan perhubungan sercara optimal kepada para pengguna jasa perhubungan dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi, perlu tersedia dan terpeliharanya sarana dan prasarana perhubungan dengan melibatkan partisipasi para pengguna jasa perhubungan tertentu sesuai Peraturan Daerah ini; dengan berlandaskan kewenangan Propinsi disektor perhubungan sesuai Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 jo. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 serta ketentunanketentuan dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 jo. Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, dipandang perlu menetapkan Peraturan Daerah Propinsi Jawa Barat tentang Retribusi Penyelenggaraan Perhubungan.

c. bahwa atas dasar pertimbangan huruf a dan b di atas, dan

Mengingat

: 1. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1950 tentang Pembentukan Propinsi Jawa Barat (Berita Negara Tanggal 14 Juli 1950) jo. Undang-undang Nomor 23 Tahun 2000 tentang Pembentukan Propinsi Banten (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4010);

NO. 4

2001

SERI. B

2. Undang-undang Nomor 13 Tahun 1980 tentang Jalan (Lembaran
Negara tahun 1980 Nomor 83, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3186);

3. Undang-undang Nomor 6 Tahun 1984 tentang Pos (Lembaran
Negara Tahun 1984 Nomor 2, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3276);

4. Undang-undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3480);

5. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1992 tentang Penerbangan
(Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3481);

6. Undang-undang Nomor 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran
(Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 98, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3493);

7. Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3489) jo. Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 246, Tambahan Lembaran Negara Nomor4052);

8. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839);

9. Undang-undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi
(Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 124, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3881);

10. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1985 tentang Jalan
(Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 37, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3293);

11. Peraturan

Pemerintah Nomor 37 Tahun 1985 tentang Penyelenggaraan Pos (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3303); Jalan (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3527);

12. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1993 tentang Angkutan

13. Peraturan

Pemerintah Nomor 42 Tahun 1993 tentang Pemeriksaan Kendaraan Bermotor di Jalan (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3528); dan Lalu Lintas Jalan (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 63, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3259);

14. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993 tentang Prasarana

15. Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1993 tentang Kendaraan
dan Pengemudi (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 93, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3530);

16. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1995 tentang Angkutan
Udara (Lembaran Negara Tahun 1995 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3610); 2

NO. 4

2001

SERI. B

17. Peraturan

Pemerintah Nomor 70 Tahun 1996 tentang Kepelabuhan (Lembaran Negara Tahun 1996 Nomor 107, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3661); Pemerintah Nomor 71 Tahun 1996 tentang Kebandarudaraan (Lembaran Negara Tahun 1996 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3662); Daerah (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 55, Tambahan lembaran Negara 3692);

18. Peraturan

19. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1997 tentang Retribusi

20. Peraturan

Pemerintah Nomor 1 Tahun 1998 tentang Pemeriksaan Kecelakaan Kapal (Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 1 Tambahan Lembaran Negara Nomor 3724); Perairan (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 187, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3907);

21. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 1999 tentang Angkutan

22. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2000 tentang Pencarian
dan Pertolongan (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3938);

23. Peraturan

Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952); dan Pengawasan Atas Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4090);

24. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pembinaan

25. Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi
Daerah (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 119);

26. Peraturan

Pemerintah Nomor 39 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Dekonsentrasi (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4095); Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah;

27. Keputusan Presiden Nomor 74 Tahun 2001 tentang Tata Cara 28. Keputusan Menteri Dalam Negeri
Nomor 174 Tahun 1997 tentang Pedoman Tata Cara Pemungutan Retribusi; tentang Tata Cara Pembentukan dan Teknik Penyusunan Peraturan Daerah (Lembaran Daerah Tahun 2000 Nomor 2 Seri D);

29. Peraturan Daerah Propinsi Jawa Barat Nomor 1 Tahun 2000

30. Peraturan Daerah Propinsi Jawa Barat Nomor 2 Tahun 2000
tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Daerah Tahun 2000 Nomor 3 Seri D);

31. Peraturan Daerah Propinsi Jawa Barat Nomor 15 Tahun 2000
tentang Dinas Daerah Propinsi Jawa Barat (Lembaran Daerah Tahun 2000 Nomor 20 Seri D);

32. Peraturan Daerah Propinsi Jawa Barat Nomor 21 Tahun 2001
tentang Penyelenggaraan Perhubungan (Lembaran Daerah Tahun 2001 Nomor 4 Seri C). Dengan persetujuan 3

NO. 4

2001 DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROPINSI JAWA BARAT MEMUTUSKAN :

SERI. B

Menetapkan : PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA BARAT TENTANG RETRIBUSI PENYELENGGARAAN PERHUBUNGAN. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan :

1. Daerah adalah Daerah Propinsi Jawa
Barat.

2. Pemerintah Daerah adalah Gubernur
beserta Perangkat Daerah Otonom yang lain sebagai Badan Eksekutif Daerah Propinsi Jawa Barat.

3. Gubernur adalah Gubernur Jawa Barat. 4. Dinas
adalah Dinas Propinsi Jawa Barat. Perhubungan

5. Kepala Dinas adalah Kepala Dinas
Perhubungan Propinsi Jawa Barat.

6. Retribusi

Daerah yang selanjutnya disebut retribusi adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian ijin tertentu yang khusus disediakan dan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan. perijinan tertentu adalah retribusi atas kegiatan tertentu Pemerintah Daerah dalam rangka pemberian ijin kepada orang pribadi atau badan yang dimaksudkan untuk pembinaan, pengaturan, pengendalian dan pengawasan atas kegiatan pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya alam, barang, prasarana, sarana atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan. yang selanjutnya disingkat SPTRD adalah surat yang digunakan oleh wajib retribusi untuk melaporkan perhitungan dan pembayaran retribusi yang terutang menurut peraturan retribusi.

7. Retribusi

8. Surat Pemberitahuan Retribusi Daerah

9. Wajib retribusi adalah orang pribadi
atau badan yang menurut peraturan perundang-undangan retribusi diwajibkan untuk melakukan 4

NO. 4

2001

SERI. B pembayaran retribusi, termasuk pemungut atau pemotong retribusi.

10.

Masa retribusi adalah suatu jangka waktu tertentu yang merupakan batas waktu bagi wajib retribusi untuk memanfaatkan jasa dan perijinan tertentu dari Pemerintah Daerah yang bersangkutan. Surat Ketetapan Retribusi Daerah yang dapat disingkat SKRD adalah surat keputusan yang menetukan besarnya jumlah retribusi yang terhutang. Surat Tagihan Retribusi Daerah yang dapat disingkat STRD adalah surat untuk melakukan tagihan retribusi dan atau sanksi administrasi berupa bunga dan atau denda. Pendaftaran dan pendataan adalah serangkaian kegiatan untuk memperoleh data/informasi serta penatausahaan yang dilakukan oleh petugas retribusi dengan cara penyampaian STRD kepada wajib retribusi untuk diisi secara lengkap dan benar. Surat Ketetapan Retribusi Daerah Lebih Bayar yang dapat disingkat SKRDLB adalah surat keputusan yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran retribusi karena jumlah kredit retribusi lebih besar dari pada retribusi yang terutang dan tidak seharusnya terhutang. Surat Ketetapan Retribusi Daerah Kurang Bayar, yang dapat disingkat SKRDKB adalah surat keputusan yang memutuskan besarnya retribusi daerah yang terhutang. Surat Ketetapan Retribusi Daerah Kurang Bayar Tambahan yang dapat disingkat SKRDKBT adalah surat keputusan yang menentukan tambahan atas jumlah retribusi daerah yang telah ditetapkan. Pembayaran retribusi daerah adalah besarnya kewajiban yang harus dipenuhi oleh wajib retribusi sesuai dengan SKRD dan STRD ke Kas Daerah atau ke tempat lain yang ditunjuk dengan batas waktu yang telah ditentukan. Penagihan retribusi daerah adalah serangkaian kegiatan pemungutan retribusi daerah yang diawali dengan penyampaian surat peringatan, surat teguran yang bersangkutan melaksanakan kewajiban untuk membayar retribusi sesuai dengan jumlah retribusi yang terhutang. Utang retribusi daerah adalah sisa utang retribusi atas nama wajib retribusi yang tercantum pada STRD, SKRDKB, atau SKRDKBT yang belum daluwarsa dan retribusi lainnya yang masih terhutang. BAB II RETRIBUSI Bagian Pertama

11.

12.

13.

14.

15.

16.

17.

18.

19.

Nama, Subjek, Objek dan Penggolongan Retribusi Pasal 2

(1) Dengan Peraturan

Daerah ini dipungut retribusi sebagai pembayaran atas pelayanan ijin penyelenggaraan perhubungan. 5

NO. 4

2001

SERI. B

(2) Subjek adalah perorangan atau badan usaha yang memiliki,
menguasai, menyelenggarakan perhubungan yang meliputi : perhubungan darat, perhubungan laut, perhubungan udara, pos dan telekomunikasi.

(3) Objek adalah kegiatan tertentu Pemerintah Daerah dalam
rangka pemberian ijin kepada orang pribadi atau badan yang dimaksudkan untuk pembinaan, pengaturan, pengendalian dan pengawasan atau kegiatan, pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya alam, barang, prasarana, sarana atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan, yang meliputi :

a. Perhubungan darat, terdiri dari : 1) 2) 3) 4) 5) 6)
ijin trayek. kartu pengawasan. rekomendasi. ijin insidentil. uji mutu kendaraan. ijin angkutan sungai danau dan penyebrangan.

b. Perhubungan laut, terdiri dari : 1) 2) 3) 4) 5) 6)
ijin usaha pelayaran rakyat. ijin usaha penunjang angkutan laut. rekomendasi operasi dan pendaftaran tahunan. ijin usaha salvage/PBA. rekomendasi pengerukan dan reklamasi pantai. pungutan jasa ke Pelabuhan, jasa perkapalan kenavigasian. ijin usaha penunjang angkutan udara. ijin usaha terbang. rekomendasi operasi dan pendaftaran tahunan. Rekomendasi ketinggian bangunan.

dan

c. Perhubungan udara, terdiri dari : 1) 2) 3) 4)

d. Pos dan telekomunikasi, terdiri dari : 1) pos. 2) telekomunikasi. (4) Retribusi penyelenggaraan perhubungan digolongkan sebagai
retribusi Perijinan Tertentu. Bagian Kedua Prinsip-prinsip Penggunaan Jasa dan Tarif Retribusi Pasal 3 Tingkat penggunaan jasa diukur dari tingkat pelayanan jasa yang diberikan, pemakaian bahan, penggunaan peralatan dan atau prasarana pembinaan, pengaturan, pengendalian dan pengawasan atau kegiatan, pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya alam, barang, prasarana, sarana atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan. Pasal 4 6

NO. 4

2001

SERI. B

Prinsip tarif retribusi didasarkan pada kebijakan daerah dengan mempertimbangkan biaya penyediaan jasa yang bersangkutan, kemampuan subjek retribusi dan aspek keadilan. Pasal 5 Struktur dan besarnya tarif retribusi tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. Bagian Ketiga Wilayah Pemungutan Pasal 6 Retribusi dipungut di wilayah tempat pelayanan diberikan Bagian Keempat Ijin dan Larangan Pasal 7

(1) Setiap penyelenggaraan perhubungan harus mendapatkan ijin
dari Gubernur.

(2) Gubernur

dapat melimpahkan wewenang sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini kepada Kepala Dinas atau pejabat yang ditunjuk. penyelenggaraan perhubungan dilarang memindahtangankan haknya dengan alasan dan dalih apapun kepada pihak lain tanpa persetujuan Gubernur atau pejabat yang ditunjuk. dimaksud ayat (1) dan ayat (3) pasal ini diatur lebih lanjut dengan Keputusan Gubernur. Bagian Kelima Tata Cara Pemungutan Pasal 8

(3) Setiap

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai ijin dan larangan sebagaimana

(1) Pemungutan Retribusi tidak boleh diborongkan. (2) Retribusi dipungut dengan menggunakan SKRD atau dokumen
lain yang dipersamakan.

(3) Pemungutan Retribusi diawali dengan pengisian SPTRD. (4) Atas dasar data dari SPTRD dilakukan perhitungan besarnya
retribusi.

(5) Retribusi ditetapkan dengan SKRD. (6) Berdasarkan SKRD retribusi terhutang ditagihkan kepada wajib
bayar.

(7) Hasil penerimaan retribusi disetor kepada Kas Daerah. (8) Pelaksanaan pemungutan retribusi dilaporkan kepada Gubernur. (9) Pengaturan lebih lanjut tentang tata cara pemungutan formulir
yang digunakan ditetapkan oleh Gubernur. Bagian Keenam Sanksi Administrasi 7

NO. 4

2001 Pasal 9

SERI. B

Dalam hal wajib bayar tidak membayar tepat pada waktunya atau kurang membayar, dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2 % (dua persen) setiap bulan dari besarnya retribusi yang terhutang atau kurang bayar dan ditagih dengan menggunakan STRD. Bagian Ketujuh Pengurangan, Keringanan dan Pembebasan Retribusi Pasal 10

(1) Gubernur dapat memberikan pengurangan, keringanan, dan
pembebasan retribusi dengan persetujuan DPRD Propinsi Jawa Barat.

(2) Tata

cara pemberian pengurangan, keringanan dan pembebasan retribusi sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini ditetapkan oleh Gubernur. Bagian Kedelapan

Pembetulan, Pengurangan Ketetapan, Penghapusan atau Pengurangan Sanksi Administrasi dan Pembatalan

Pasal 11

(1) Wajib retribusi dapat mengajukan permohonan pembetulan
SKRD dan STRD yang dalam penerbitannya terdapat kesalahan tulis, kesalahan hitung dan atau kekeliruan penetapan peraturan perundang-undangan retribusi daerah.

(2) Wajib retribusi dapat mengajukan permohonan pengurangan
atau penghapusan sanksi administrasi berupa bunga dan kenaikan retribusi yang terhutang dalam hal ini sanksi tersebut dikenakan karena kehilapan wajib retribusi atau bukan karena kesalahannya.

(3) Wajib retribusi dapat mengajukan permohonan pengurangan
atau pembatalan ketetapan retribusi yang tidak benar.

(4) Permohonan sebagaimana dimaksud ayat (1), ayat (2) dan ayat
(3) pasal ini, harus disampaikan secara tertulis oleh wajib retribusi kepada Gubernur atau Pejabat yang ditunjuk paling lama 30 hari sejak tanggal diterima SKRD dan STRD dengan memberikan alasan yang jelas. Bagian Kesembilan Tata Cara Penyelesaian Keberatan Pasal 12

(1) Wajib retribusi dapat mengajukan permohonan keberatan atas
SKRD dan STRD.

(2) Permohonan keberatan sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal
ini harus disampaikan secara tertulis kepada Gubernur atau pejabat yang ditunjuk paling lama 2 (dua) bulan sejak tanggal SKRD dan STRD kecuali ada alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. 8

NO. 4

2001

SERI. B

(3) Pengajuan keberatan tidak menunda pembayaran. (4) Permohonan sebagaimana dimaksud ayat (1) dan ayat (2) pasal
ini harus diputuskan oleh Gubernur atau pejabat yang ditunjuk dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal permohonan keberatan diterima. Bagian Kesepuluh Pengembalian Kelebihan Pembayaran Retribusi Pasal 13

(1) Wajib Retribusi mengajukan permohonan secara tertulis kepada
Gubernur untuk perhitungan pembayaran retribusi. pengembalian kelebihan

(2) Berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal
ini kelebihan pembayaran retribusi dapat langsung diperhitungkan terlebih dahulu dengan hutang retribusi dan sanksi administrasi berupa bunga oleh Gubernur.

(3) Atas permohonan sebagaimana dimaksud ayat (2) pasal ini
yang berhak atas kelebihan pembayaran tersebut dapat diperhitungkan dengan pembayaran retribusi selanjutnya.

(4) Dalam hal wajib retribusi tidak mengajukan permohonan
kelebihan maka kelebihan pembayaran diperhitungkan pada pembayaran retribusi berikutnya. Pasal 14

(1) Dalam hal kelebihan pembayaran retribusi yang tersisa setelah
dilakukan perhitungan sebagaimana dimaksud Pasal 13 Peraturan Daerah ini, diterbitkan SKRDLB paling lambat 2 (dua) bulan sejak diterimanya permohonan pengembalian kelebihan pembayaran retribusi.

(2) Kelebihan pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud ayat (1)
pasal ini dikembalikan kepada wajib retribusi paling lambat 2 (dua) bulan sejak diterbitkan SKRDLB.

(3) Pengembalian

kelebihan pembayaran retribusi dilakukan setelah lewat waktu 2 (dua) bulan sejak diterbitkannya SKRDLB, Gubernur memberikan imbalan bunga 2 % (dua persen) sebulan atas keterlambatan pembayaran kelebihan retribusi. Pasal 15

(1) Pengembalian sebagaimana dimaksud Pasal 14 Peraturan
Daerah ini dilakukan Membayar Retribusi. dengan menerbitkan Surat Perintah

(2) Atas perhitungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14
Peraturan Daerah ini diterbitkan bukti pemindahbukuan yang berlaku juga sebagai bukti pembayaran. Bagian Kesebelas Kadaluwarsa Retribusi dan Penghapusan Piutang Retribusi Karena Kadaluwarsa Penagihan Pasal 16

(1) Hak untuk melakukan penagihan retribusi kadaluwarsa setelah
melampaui jangka waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak saat 9

NO. 4

2001 terhutangnya retribusi, kecuali melakukan tindak pidana retribusi. (1) pasal ini tertangguh apabila: apabila wajib

SERI. B retribusi

(2) Kadaluwarsa penagihan retribusi sebagaimana dimaksud ayat a. Diterbitkan surat teguran; b. Ada pengakuan tentang retribusi dari wajib retribusi baik
langsung atau tidak langsung. Pasal 17

(1) Piutang retribusi yang dapat dihapuskan adalah piutang
retribusi yang tercantum dalam SKRDLB dan SKRDKBT, yang tidak dapat atau tidak mungkin ditagih lagi, disebabkan karena wajib retribusi meninggal dunia dengan tidak meninggalkan harta warisan dan tidak mempunyai ahli waris, tidak dapat ditemukan, tidak mempunyai harta kekayaan lagi, atau karena hak untuk melakukan penagihan sudah kadaluwarsa.

(2) Untuk memastikan kewajiban retribusi sebagaimana dimaksud
ayat (1) pasal ini harus dilakukan pemeriksaan setempat kepada wajib retribusi sebagai dasar menentukan besarnya retribusi yang tidak dapat ditagih lagi.

(3) Piutang retribusi sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini
hanya dapat dihapuskan setelah adanya laporan pemeriksaan sebagaimana dimaksud ayat (2) pasal ini atau setelah adanya penelitian administrasi mengenai kadaluwarsa penagihan retribusi oleh Dinas.

(4) Atas dasar laporan dan penelitian administrasi sebagaimana
dimaksud ayat (3) pasal ini setiap akhir tahun takwim Dinas membuat daftar penghapusan piutang untuk setiap jenis retribusi yang berisi nama retribusi, jumlah retribusi yang terhutang, jumlah retribusi yang telah dibayar, sisa piutang retribusi dan keterangan wajib retribusi.

(5) Dinas menyampaikan usul penghapusan piutang retribusi
kepada Gubernur pada setiap akhir tahun takwim dengan dilampiri daftar penghapusan piutang sebagaimana dimaksud ayat (4) pasal ini.

(6) Gubernur

menetapkan keputusan retribusi yang sudah kadaluwarsa.

penghapusan

piutang

(7) Tata cara penghapusan retribusi ditetapkan oleh Gubernur.
BAB III

KETENTUAN PIDANA Pasal 18

(1) Barang

siapa melakukan pelanggaran terhadap ketentuanketentuan sebagaimana dimaksud pada Pasal 11 Peraturan Daerah ini, diancam pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda sebanyak-sebanyaknya Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah). ini, tindak pidana dibidang lalu lintas laut dan usaha angkutan laut serta penunjang angkutan laut, penyelenggaraan kegiatan 10

(2) Selain tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal

NO. 4

2001

SERI. B

usaha angkutan udara, penyelenggaraan kegiatan usaha jasa titipan, dan kegiatan usaha telekomunikasi dikenakan ancaman pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. BAB IV PENYIDIKAN Pasal 19

(1) Selain pejabat penyidikPOLRI yang bertugas menyidik tindak
pidana, penyidik atas tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Daerah ini dapat juga dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS).

(2) Dalam pelaksanaan tugas penyidik, para pejabat penyidik
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini berwenang :

a. menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang
adanya tindak pidana;

b. melakukan tindakan pertama pada saat itu ditempat
kejadian dan melakukan pemeriksaan;

c. menyuruh berhenti seseorang tersangka dan memeriksa
tanda pengenal diri tersangka;

d. melakukan penyitaan benda dan atau surat; e. mengambil sidik jari dan memotret seseorang; f. memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai
tersangka atau saksi;

g. mendatangkan

orang ahli yang diperlukan hubungannya dengan pemeriksaan perkara;

dalam

h. mengadakan penghentian penyidikan setelah mendapat
petunjuk dari penyidikPOLRI bahwa tidak terdapat cukup bukti, atau peristiwa tersebut bukan merupakan tindak pidana dan selanjutnya memberikan hal tersebut kepada penuntut umum, tersangka atau keluarganya;

i. mengadakan tindakan lain menurut hukum yang dapat
dipertanggung jawabkan.

(3) Penyidik Pegawai Negeri Sipil dalam melaksanakan tugasnya
sebagai penyidik berada dibawah koordinasi Penyidik POLRI. BAB V PENGAWASAN Pasal 20

(1) Pengawasan pelaksanaan Peraturan Daerah ini dilakukan oleh
Dinas bersama-sama dengan Dinas Polisi Pamong Praja serta Dinas/Badan/Lembaga terkait lainnya.

(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini meliputi
pengawasan preventif dan pengawasan represif. Pasal 21

11

NO. 4

2001

SERI. B

Pengawasan preventif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (2) Peraturan Daerah ini dilakukan antara lain, meliputi :

a. Pembinaan kesadaran hukum aparatur dan masyarakat; b. Peningkatan profesionalisme aparatur pelaksana; c. Peningkatan peran dan fungsi pelaporan.
Pasal 22 Pengawasan represif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (2) Peraturan Daerah ini meliputi :

a. Tindakan

penertiban terhadap perbuatan-perbuatan masyarakat yang tidak melaksanakan ketentuan Peraturan Daerah dan peraturan pelaksanaannya; Lembaga Peradilan;

warga dalam

b. Penyerahan penanganan pelanggaran Peraturan Daerah kepada c. Pengenaan sanksi administratif dan hukuman disiplin kepada
para pegawai yang melanggar Peraturan Daerah. Pasal 23 Masyarakat dapat melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan Peraturan Daerah ini, secara perorangan, kelompok maupun organisasi sesuai Peraturan perundang-undangan yang berlaku.

BAB VI KETENTUAN PERALIHAN Pasal 24 Ijin-ijin yang telah dikeluarkan sebelum berlakunya Peraturan Daerah ini, masih berlaku sepanjang tidak bertentangan dan berlaku sampai habis masa berlakunya, serta harus disesuaikan dengan Peraturan ini. B A B VII KETENTUAN PENUTUP Pasal 25 Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini maka dinyatakan dicabut dan tidak berlaku lagi : 1. Peraturan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat Nomor 15 Tahun 1994 tentang Penyelenggaraan Lalu Lintas Jalan di Wilayah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat. 2. Peraturan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat Nomor 16 Tahun 1994 tentang Penyelenggaraan Angkutan Penumpang Umum di Wilayah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat. Pasal 26 Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Peraturan Daerah ini, sepanjang mengenai pelaksanaannya ditetapkan lebih lanjut oleh Gubernur.

12

NO. 4

2001 Pasal 27 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

SERI. B

Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Propinsi Jawa Barat. Ditetapkan di Bandung pada tanggal 22 Nopember 2001 GUBERNUR JAWA BARAT, ttd. R. N U R I A N A. Diundangkan di Bandung pada tanggal 27 Nopember 2001 SEKRETARIS DAERAH PROPINSI JAWA BARAT, ttd. DANNY SETIAWAN

LEMBARAN DAERAH PROPINSI JAWA BARAT TAHUN 2001 NOMOR 4 SERI B. PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA BARAT NOMOR 22 TAHUN 2001 TENTANG RETRIBUSI PENYELENGGARAAN PERHUBUNGAN I. UMUM Kegiatan perhubungan di wilayah Propinsi Jawa Barat merupakan urat nadi perekonomian nasional dan memiliki peran yang penting dalam menunjang dan mendorong pertumbuhan dan pembangunan di segala sektor. Pembinaan perhubungan menjadi kewajiban pemerintah yang berakibat pula dalam penyiapan pelayanan umum terhadap sarana, prasarana dan fasilitas perhubungan serta penyiapan peraturan perundang-undangan. Sejalan dengan hal tersebut di atas Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom, mengakibatkan terjadinya perubahan dalam penataan pembinaan kegiatan perhubungan oleh Pemerintah baik sebagai Daerah Otonom maupun sebagai Daerah Administratif. 13

NO. 4

2001

SERI. B

Untuk mewujudkan hal tersebut perlu dirumuskan dalam bentuk Peraturan Daerah yang merupakan implementasi dari Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 jo. Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, dan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1997 tentang Retribusi Daerah. Dalam Peraturan Daerah ini diatur mengenai retribusi penyelenggaraan perhubungan yang meliputi perhubungan darat, perhubungan laut, perhubungan udara, pos dan telekomunikasi. Retribusi penyelenggaraan perhubungan digolongkan kedalam retribusi perijinan tertentu, yaitu retribusi atas kegiatan tertentu Pemerintah Daerah dalam rangka pemberian ijin kepada orang pribadi atau badan yang dimaksudkan untuk pembinaan, pengaturan, pengendalian dan pengawasan atau kegiatan pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya alam, barang prasarana, sarana, atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan. Pengaturan dalam Peraturan Daerah ini merupakan sebagai pembaharuan terhadap Peraturan Daerah sebelumnya yaitu Nomor 16 Tahun 1994 tentang Penyelenggaraan Angkutan Penumpang Umum di Wilayah Propinsi Jawa Barat, yang sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan sekarang dan peraturan perundang-undangan di bidang retribusi daerah.

II. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 : Istilah-istilah yang telah dirumuskan dalam pasal ini dimaksudkan agar terdapat keseragaman atas isi Peraturan Daerah ini, sehingga dapat menghindarkan kesalahpahaman dalam penapsirannya. Pasal Pasal Pasal Pasal Pasal Pasal Pasal Pasal 2 3 4 5 6 7 8 9 : : : : : : : : : : : : : Cukup jelas Cukup jelas Cukup jelas Cukup jelas Cukup jelas Cukup jelas Cukup jelas Cukup jelas Cukup jelas Cukup jelas Permohonan diajukan oleh pemegang ijin. Cukup jelas Cukup jelas Cukup jelas 14

Pasal 10 Pasal 11 Ayat (2) s.d (4) Pasal 13 Pasal 14

Pasal 12 Ayat (1) :

NO. 4 Pasal 15 Pasal 16 Pasal 17 Pasal 18 Pasal 19 Pasal 20 Pasal 21 Pasal 22 Pasal 23 Pasal 24 Pasal 25 Pasal 26 Pasal 27 : : : : : : : : : : : : : Cukup jelas Cukup jelas Cukup jelas Cukup jelas Cukup jelas Cukup jelas Cukup jelas Cukup jelas Cukup jelas Cukup jelas Cukup jelas Cukup jelas Cukup jelas

2001

SERI. B

LAMPIRAN : PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA BARAT NOMOR : 22 TAHUN 2001

TANGGAL : 22 NOPEMBER 2001 TENTANG : RETRIBUSI PENYELENGGARAAN PERHUBUNGAN STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI
NO 1 I 1. JENIS PERIJINAN 2 PERHUBUNGAN DARAT Ijin Trayek : a. Mobil Bis dengan 10 s.d 15 b. Mobil Bis dengan 16 s.d. 25 c. Mobil Bis dengan 26 kapasitas tempat duduk Rp kapasitas tempat duduk Rp kapasitas tempat duduk ke atas Rp Rp 130.000,00 150.000,00 100.000,00 125.000,00 BESARNYA TARIF 3 KETERANGAN 4

d. Mobil Penumpang lainnya (taksi) 2. Kartu Pengawasan (KP) / Operasi : a. Mobil Bis dengan kapasitas tempat duduk 10 s.d 15

Rp

47.500,00

15

NO. 4

2001

SERI. B

b. Mobil Bis dengan kapasitas tempat duduk 16 s.d. 25 c. Mobil Bis dengan kapasitas tempat duduk 26 ke atas d. Mobil Penumpang lainnya (Taksi) 3. Rekomendasi : a. AKAP, AKDP dan Taksi b. Angkutan Pariwisata dan Sewa c. Angkutan Pelayanan Khusus Ijin Insidentil : a. Mobil Bis dengan 10 s.d 15 b. Mobil Bis dengan 16 s.d. 25 c. Mobil Bis dengan 26 kapasitas tempat duduk

Rp Rp Rp

52.500,00 62.500,00 50.000,00

Rp Rp Rp

50.000,00 100.000,00 100.000,00

4.

Rp kapasitas tempat duduk Rp kapasitas tempat duduk ke atas Rp Rp Rp Rp Rp

20.000,00 30.000,00 40.000,00 10.000,00 50.000,00 75.000,00 100.000,00

d. Mobil Penumpang lainnya (Taksi) 5. Uji Mutu Kendaraan : a. JBB kurang dari 5.000 Kg b. JBB 5.000 Kg s.d. 10.000 Kg c. JBB lebih dari 10.000 Kg Ijin Pengusahaan Angkutan Penyeberangan : a. Kapal Perairan Daratan Berukuran Lebih Dari 20 m3 b. Daftar Ulang Usaha ASDP

6.

Rp Rp

250.000,00 100.000,00

16

NO. 4

2001

SERI. B

1

2 c. Rekomendasi Ijin Usaha ASDP Rp

3 250.000,00

4

7.

Ijin Trayek dan Ijin Operasi Angkutan Sungai dan Danau : a. Register Pas Kapal Perairan Daratan Berukuran Dibawah 20 m3 b. Ijin Trayek Kapal Perairan Daratan Berukuran Dibawah 20 m3 c. Ijin Operasi Kapal Perairan Daratan (Kapal Barang) d. Pemberian Surat Tanda Kecakapan (STK) Bagi Para Awak Kapal Perairan Daratan Berukuran Dibawah 20 m3 Jasa Pelayanan Pelabuhan Penyeberangan, Sungai dan Danau : a. Kantor LLASD Saguling : 1) Pas Masuk Kendaraan Gol. IV 2) Sandar Kapal b. Kantor Pelabuhan Penyeb. Kalipucang : 1) Tanda Masuk Pelabuhan/Terminal 2) Bea Penumpukan Barang 3) Sewa Ruangan Loket Pelabuhan 4) Sewa Tanah untuk Toko, Warung dan sejenisnya 5) Sandar Kapal 6) Kapal Istirahat Pada Dermaga c. Kantor Pelabuhan Penyeb. Majingklak : 1) Tanda Masuk Pelabuhan 2) Tanda Masuk Kendaraan Gol. IV 3) Tanda Masuk Kendaraan Gol. III 4) Tanda Masuk Kendaraan Sepeda Motor 5) Bea Pemeliharaan Dermaga Gol. III 6) Sewa Ruang Loket/Kantor lainnya 7) Sandar Kapal

Rp 10.000,00/tahun Rp 20.000,00/tahun Rp 20.000,00/tahun Rp 50.000,00/orang

8.

Rp 500/unit Rp 400/unit/hari Rp 300,00/orang Rp 200,00/m3 Rp 1.500,00/m2/bulan Rp 1.000,00/m2/tahun Rp 23,00/GT/Call Rp 5,00/GT/jam Rp 300,00/orang Rp 500,00/unit Rp 400,00/unit Rp 200,00/unit Rp 500,00/unit Rp1.500,00/m2/bulan Rp 23,00/GT/Call

II. 1.

PERHUBUNGAN LAUT Ijin Usaha dan Ijin Operasi a. Rekomendasi Usaha Angkutan Laut Dalam Negeri b. Rekomendasi Operasi Angkutan Laut Khusus c. Ijin Usaha Pelayaran Rakyat d. Rekomendasi Usaha Angkutan Laut Luar Negeri e. Ijin Usaha Angkutan Perairan Pelabuhan f. Pendaftaran Ulang/Registrasi Tahunan semua jenis angkutan laut Rp Rp Rp Rp Rp Rp 250.000,00 250.000,00 500.000,00 250.000,00 250.000,00 100.000,00

17

NO. 4

2001

SERI. B

1 2.

2 Ijin Usaha Penunjang Angkutan Laut : a. Ijin Usaha Jasa Pengurusan Transportasi b. Ijin usaha depo peti kemas c. Ijin Usaha Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL) d. Ijin Usaha Perusahaan Bongkar Muat Barang e. Ijin Usaha Penyewaan Peralatan Angkutan Laut/Peralatan Penunjang Angkutan Laut f. Pendaftaran Ulang Tahunan Semua Jenis Usaha Penunjang Angkutan Laut g. Ijin Usaha Tally Rekomendasi Operasi dan Pendaftaran Ulang/Registrasi Tahunan : a. Rekomendasi Operasi Kantor Cabang/ Perwakilan b. Pendaftaran Ulang Tahunan Kantor Cabang/Perwakilan PERHUBUNGAN UDARA Ijin Usaha Penunjang Angkutan Udara a. Ijin usaha ekspedisi muatan pesawat udara (EMPU) b. Permohonan Perpanjangan Ijin Usaha EMPU c. Rekomendasi Ijin Usaha Kegiatan Penunjang Bandar Udara d. Rekomendasi Perpanjangan Ijin Usaha Kegiatan Penunjang Bandar Udara Ijin Terbang (Flight Approval) Ijin Ketinggian Mendirikan Bangunan Rekomendasi Operasi dan Pendaftaran Ulang/Registrasi Tahunan : a. Rekomendasi Operasi Kantor Cabang/ Perwakilan b. Pendaftaran Ulang/Registrasi Tahunan Kantor Cabang/Perwakilan Jasa Pelayanan dan Jasa Bandara Kelas IV : a. PJP2U (Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara b. PJP4U (Pelayanan Jasa Pendapatan, Penempatan dan Penyimpanan Pesawat Udara) 1) Pendaratan 2) Penempatan

3

4

Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp

500.000,00 500.000,00 250.000,00 250.000,00 250.000,00 100.000,00 250.000,00

3.

Rp Rp

150.000,00 100.000,00

III. 1.

Rp Rp Rp Rp Rp Rp

250.000,00 100.000,00 250.000,00 100.000,00 100.000,00 250.000,00

2. 3. 4

Rp Rp

150.000,00 100.000,00

5.

Rp

4.000,00 Alternate AeroDrome 23% x tarif

Rp Rp

400,00/000 kg 70,00/000 kg

18

NO. 4

2001

SERI. B

1

2 3) Penyimpanan c. PJPB (Pelayanan Jasa Barang) 1) Import : a) Hari 1 s.d. hari 3 b) Hari 4 s.d. hari 10 c) Hari 11 s.d. hari 20 d) Hari 21 s.d. hari etc Rp Penumpukan

3 140,00/000 kg

4

2) Eksport 3) Antar Pulau (Dalam Negeri) d. Sewa 1) Reklame 2) Tanah Tidak Keras 3) Tanah Keras 4) Ruangan Promosi 5) Shooting Film 6) Ruangan Terbuka Tanpa AC 7) Ruangan Tertutup Tanpa AC 8) Ruangan Terbuka Dengan AC 9) Ruangan Tertutup Dengan AC e. Tanda Masuk 1) Orang 2) Perusahaan Penerbangan 3) Non Perusahaan 4) Sedan/Pickup/Jeep a) Umum b) Perusahaan c) Non Perusahaan 5) Sepeda Motor a) Perusahaan b) Non Perusahaan 6) Truck/Bus a) Perusahaan b) Non Perusahaan

$ 0,25/kg/hari $ 0,025/kg/hari $0,025+50%/kg/hari $ 0,025+100%/kg/ hari $ 0,015/kg/hari Rp 30,00/kg/hari Rp 7.000,00/m2/tahun Rp 25,00/m2/bulan Rp 35,00/m2/bulan Rp 25.000,00/m2/bln Rp 140.000,00/hari Rp 1.400,00/m2/bln Rp 2.000,00/m2/bln Rp 2.800,00/m2/bln Rp 3.300,00/m2/bln Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 250,00/hari 4.000,00/bln 40.000,00/tahun 450,00/hari 4.500,00/bln 800,00/hari 8.000,00/bln

Rp 500,00/hari Rp11.000,00/bln Rp 700,00/hari Rp 7.000,00/bln Rp 1.400,00/hari Rp 14.000,00/bln Rp 350,00/hari Rp 7.000,00/bln Rp 70.000,00/tahun Rp 500,00/hari Rp 5.000,00/bln Rp 1.000,00/hari Rp 10.000,00/bln Rp 800,00/hari Rp 1.500,00/bln Rp 15.000,00/tahun Rp 200,00/hari Rp 2.000,00/bln Rp 400,00/hari Rp 4.000,00/bln

19

NO. 4

2001

SERI. B

1 IV. 1. 2.

2 POS DAN TELEKOMUNIKASI Pos : Ijin Penyelenggaraan Jasa Titipan Telekomunikasi : a. Rekomendasi Teknis Ijin Usaha Radio Siaran Swasta b. Ijin Amatir Radio (ORARI) dan Perangkatnya Dipungut 3 (tiga) Tahun Dimuka (3xRp 15.000,00) c. Ijin Penggunaan Frekuensi RAPI d. Ijin Penggunaan Frekuensi Point To Multi Point : 1) Handy Talky 2) Reapeter Ibukota Propinsi Bandung) - Kota/Kabupaten Jabar (kota Rp

3

4

250.000,00

Rp 1.000.000,00 Rp 45.000,00/3 tahun Rp 54.000,00/2 tahun Rp 100.000,00/tahun Rp2.000.000,00/unit/th n Rp1.000.000,00/unit/th n Rp 300.000,00/unit/thn Rp 50.000,00/unit/thn Rp 40.000,00/unit/thn Rp1.000.000,00 Rp 250.0000,00 Rp 100.000,00

3) RIG e. Ijin Penggunaan Radio Taksi f. Perpanjangan Penggunaan Radio Taksi g. Biaya Rekomendasi - Rekomendasi Teknis Ijin Usaha Radio Siaran - Rekomendasi Teknis Ijin Usaha Jasa Titipan - Rekomendasi teknis ijin untuk penggunaan Frekuensi Radio Skala Nasional Rekomendasi teknis ijin untuk penggunaan Frekuensi yang bersifat nasional h. Ijin Instalatur Kabel Rumah/Gedung i. Peragaan Perangkat Komunikasi Radio (SPPK)

Rp 250.000,00 Rp 100.000,00/tahun

GUBERNUR JAWA BARAT ttd. R. NURIANA

20

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->