Anda di halaman 1dari 12

TUGAS ARTIKEL KEWARGANEGARAAN

HAK AZASI MANUSIA

OLEH

MASNA WATI
1201284/2012
MATEMATIKA

MATA KULIAH UMUM


UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2013

HAK ASASI MANUSIA

Hak-hak Asasi Manusia adalah hak-hak yang diberikan langsung oleh Tuhan Yang Maha
Pencipta (hak-hak yang bersifat kodrati). Oleh karenanya tidak ada kekuasaan apapun di dunia
yang dapat mencabutnya. Meskipun demikian bukan berarti dengan hak-haknya itu dapat berbuat
semau-maunya. Sebab apabila seseorang melakukan sesuatu yang dapat dikategorikan melanggar
hak asasi orang lain, maka ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Pada hakikatnya Hak Asasi Manusia terdiri atas dua hak dasar yang paling
fundamental, ialah hak persamaan dan hak kebebasan. Dari kedua hak dasar inilah lahir hak-hak
asasi lainnya atau tanpa kedua hak dasar ini, hak asasi manusia lainnya sulit akan ditegakkan.
Mengingat begitu pentingnya proses internalisasi pemahaman Hak Asasi Manusia bagi
setiap orang yang hidup bersama dengan orang lainnya, maka suatu pendekatan historis mulai
dari dikenalnya Hak Asasi Manusia sampai dengan perkembangan saat ini perlu diketahui oleh
setiap orang untuk lebih menegaskan keberadaan hak asasi dirinya dengan hak asasi orang lain.

SEJARAH INTERNASIONAL HAK ASASI MANUSIA


Umumnya para pakar Eropa berpendapat bahwa lahirnya HAM dimulai dengan lahirnya
Magna Charta pada tahun 1215 di Inggris.
Magna Charta antara lain mencanangkan bahwa raja yang tadinya memiliki kekuasaan
absolut (raja yang menciptakan hukum, tetapi ia sendiri tidak terikat pada hukum), menjadi
dibatasi kekuasaannya dan mulai dapat dimintai pertanggungjawaban di muka umum.
Dari sinilah lahir doktrin raja tidak kebal hukum lagi dan mulai bertanggungjawab
kepada hukum. Sejak itu mulai dipraktekkan kalau raja melanggar hukum harus diadili dan harus
mempertanggungjawabkan kebijakasanaannya kepada parlemen.
Jadi, sudah mulai dinyatakan dalam bahwa raja terikat kepada hukum dan
bertanggungjawab kepada rakyat, walaupun kekuasaan membuat Undang-undang pada masa itu
lebih banyak berada di tangan raja. Dengan demikian, kekuasaan raja mulai dibatasi sebagai
embrio lahirnya monarkhi konstitusional yang berintikan kekuasaan raja sebagai simbol belaka.
Lahirnya Magna Charta ini kemudian diikuti oleh perkembangan yang lebih konkret,
dengan lahirnya Bill of Rights di Inggris pada tahun 1689. Pada masa itu mulai timbul
adagium yang intinya adalah bahwa manusia sama di muka hukum (equality before the law).
Adagium ini memperkuat dorongan timbulnya negara hukum dan demokrasi. Bill of rights
melahirkan asas persamaan.

Para pejuang HAM dahulu sudah berketatapan bahwa hak persamaan harus diwujudkan
betapapun beratnya resiko yang dihadapi karena hak kebebasan baru dapat diwujudkan kalau ada
hak persamaan. Untuk mewujudkan semua itu, maka lahirlah teori Roesseau (tentang contract
social/perjanjian masyarakat), Motesquieu dengan Trias Politikanya yang mengajarkan
pemisahan kekuasaan guna mencegah tirani, John Locke di Inggris dan Thomas Jefferson di
Amerika dengan hak-hak dasar kebebasan dan persamaan yang dicanangkannya.
Perkembangan HAM selanjutnya ditandai dengan munculnya The American Declaration
of Independence yang lahir dari paham Roesseau dan Montesqueu. Jadi, walaupun di Perancis
sendiri belum dirinci apa HAM itu, tetapi di Amerika Serikat lebih dahulu mencanangkan secara
lebih rinci. Mulailah dipertegas bahwa manusia adalah merdeka sejak di dalam oerut ibunya,
sehingga tidaklah logis bila sesudah lahir, ia harus dibelenggu.
Selanjutnya pada tahun 1789 lahirlah The French Declaration, dimana hak-hak yang lebih
rinci lagi melahirkan dasar The Rule of Law. Antara lain dinyatakah tidak boleh ada
penangkapan dan penahanan yang semena-mena, termasuk ditangkap tanpa alasan yang sah dan
ditahan tanpa surat perintah yang dikeluarkan oleh pejabat yang sah. Dinyatakan pula
presumption of innocence, artinya orang-orany yang ditangkap kemudian ditahan dan dituduh,
berhak dinyatakan tidak bersalah sampai ada keputusan pengadilan yang berkekuatan hukum
tetap yang menyatakan ia bersalah.
Dipertegas juga dengan freedom of expression (bebas mengelaurkan pendapat), freedom
of religion (bebas menganut keyakinan/agama yang dikehendaki), the right of property
(perlindungan terhadap hak milik) dan hak-hak dasar lainnya. Jadi, dalam French Declaration
sudah tercakup semua hak, meliputi hak-hak yang menjamin tumbuhnyademokrasi maupun
negara hukum yang asas-asasnya sudah dicanangkan sebelumnya.
Perlu juga diketahui The Four Freedoms dari Presiden Roosevelt yang dicanangkan pada
tanggal 6 Januari 1941, dikutip dari Encyclopedia Americana, p.654 tersebut di bawah ini :
The first is freedom of speech and expression everywhere in the world. The second is freedom
of every person to worship God in his own way-every where in the world. The third is freedom
from want which, translated into world terms, means economic understandings which will secure
to every nation a healthy peacetime life for its inhabitants-every where in the world. The fourth is
freedom from fear-which, translated into world terms, means a worldwide reduction of
armaments to such a point and in such a through fashion that no nation will be in a position to
commit an act of physical agression against any neighbor-anywhere in the world.
Semua hak-hak ini setelah Perang Dunia II (sesudah Hitler memusnahkan berjuta-juta
manusia) dijadikan dasar pemikiran untuk melahirkan rumusan HAM yang bersifat universal,
yang kemudian dikenal dengan The Universal Declaration of Human Rights yang diciptakan
oleh PBB pada tahun 1948.

SEJARAH NASIONAL HAK ASASI MANUSIA


Deklarasi HAM yang dicetuskan di Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tanggal 10
Desember 1948, tidak berlebihan jika dikatakan sebagai puncak peradaban umat manusia setelah
dunia mengalami malapetaka akibat kekejaman dan keaiban yang dilakukan negara-negara Fasis
dan Nazi Jerman dalam Perang Dunia II.
Deklarasi HAM sedunia itu mengandung makana ganda, baik ke luar (antar negaranegara) maupun ke dalam (antar negara-bangsa), berlaku bagi semua bangsa dan pemerintahan
di negara-negaranya masing-masing. Makna ke luar adalah berupa komitmen untuk saling
menghormati dan menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan antar negara-bangsa, agar
terhindar dan tidak terjerumus lagi dalam malapetaka peperangan yang dapat menghancurkan
nilai-nilai kemanusiaan.
Sedangkan makna ke dalam, mengandung pengertian bahwa Deklarasi HAM seduania itu
harus senantiasa menjadi kriteria objektif oleh rakyat dari masing-masing negara dalam menilai
setiap kebijakan yang dikelauarkan oleh pemerintahnya.
Bagi negara-negara anggota PBB, Deklarasi itu sifatnya mengikat. Dengan demikian
setiap pelanggaran atau penyimpangan dari Deklarasi HAM sedunia si suatu negara anggota
PBB bukan semata-mata menjadi masalah intern rakyat dari negara yang bersangkutan,
melainkan juga merupakan masalah bagi rakyat dan pemerintahan negara-negara anggota PBB
lainnya.
Mereka absah mempersoalkan dan mengadukan pemerintah pelanggar HAM di suatu
negara ke Komisi Tinggi HAM PBB atau melalui lembaga-lembaga HAM internasional lainnya
unuk mengutuk bahkan menjatuhkan sanksi internasional terhadap pemerintah yang
bersangkutan.
Adapun hakikat universalitas HAM yang sesungguhnya, bahwa ke-30 pasal yang
termaktub dalam Deklarasi HAM sedunia itu adalah standar nilai kemanusiaan yang berlaku bagi
siapapun, dari kelas sosial dan latar belakang primordial apa pun serta bertempat tinggal di mana
pun di muka bumi ini. Semua manusia adalah sama. Semua kandungan nilai-nilainya berlaku
untuk semua.
Di Indonesia HAM sebenarnya telah lama ada. Sebagai contoh, HAM di Sulawesi
Selatan telah dikenal sejak lama, kemudian ditulis dalam buku-buku adat (Lontarak). Antara lain
dinyatakan dalam buku Lontarak (Tomatindo di Lagana) bahwa apabila raja berselisih faham
dengan Dewan Adat, maka Raja harus mengalah. Tetapi apabila para Dewam Adat sendiri
berselisih, maka rakyatlah yang memustuskan. Jadi asas-asas HAM yang telah disorot sekarang,
semuanya sudah diterpkan oleh Raja-Raja dahulu, namun hal ini kurang diperhatikan karena
sebagian ahli hukum Indonesia sendiri agaknya lebih suka mempelajari teori hukum Barat.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa HAM sudah lama lahir di Indonesia, namun dalam
perkembangannya tidak menonjol karena kurang dipublikasikan.
Human Rights selalu terkait dengan hak individu dan hak masyarakat. Ada yang bertanya
mengapa tidak disebut hak dan kewajban asasi. Juga ada yang bertanya mengapa bukan Social
Rights. Bukankan Social Rights mengutamakan masyarakat yang menjadi tujuan ?
Sesungguhnya dalam Human Rights sudah implisit adanya kewajiban yang harus memperhatikan
kepentingan masyarakat. Demikian juga tidak mungkin kita mengatakan ada hak kalau tanpa
kewajiban. Orang yang dihormati haknya berkewajiban pula menghormati hak orang lain. Jadi
saling hormat-menghormati terhadap masing-masing hak orang. Jadi jelaslah kalau ada hak
berarti ada kewajiban.
Contoh : seseorang yang berhak menuntut perbaikan upah, haruslah terlebih dahulu memenuhi
kewajibannya meningkatkan hasil kerjanya. Dengan demikian tidak perlu dipergunakan istilah
Social Rights karena kalau kita menghormati hak-hak perseorangan (anggota masyarakat),
kiranya sudah termasuk pengertian bahwa dalam memanfaatkan haknya tersebut tidak boleh
mengganggu kepentingan masyarakat. Yang perlu dijaga ialah keseimbangan antara hak dan
kewajiban serta antara kepentingan perseorangan dengan kepentingan umum (kepentingan
masyarakat). Selain itu, perlu dijaga juga keseimbangan antara kebebasan dan tanggungjawab.
Artinya, seseorang memiliki kebebasan bertindak semaunya, tetapi tidak memperkosa hak-hak
orang lain.

SEJARAH
LPHAM yang didirikan oleh H. J. C. Princen dan Yap Thiam Hien pada 29 April 1966
sebenarnya dipersiapkan untuk menghadang upaya sporadik pemerintah orde baru yang
melakukan pembunuhan, penangkapan dan tindakan kejahatan HAM lainnya terhadap
simpatisan anggota PKI dan mereka yang dituduh PKI. Salah satu dari kerja besar LPHAM
dalam mengkoreksi tindakan merendahkan manusia itu antara lain desakan untuk menghentikan
pembunuhan massal di Purwodadi, Jawa Tengah yang di instruksikan Presiden Soeharto, M.
Panggabean dan Surono tahun 1968.
Walaupun protes ini berujung pada penangkapan, Direktur LPHAM, Princen, oleh
Kopkamtib dengan tuduhan komunis, namun aksi pembantaian tersebut dihentikan.
Pada tahun yang sama LPHAM bersama Goenawan Muhammad, seorang wartawan
menginvestigasi dan membuat laporan tentang pelanggaran HAM di Pulau Buru. Laporan
tersebut akhirnya menjadi bahan tulisan Amnesty Internasional. Selanjutnya untuk menangani
para korban PKI yang mengalami trauma kejiwaannya, di tahun 1967, LPHAM menggagas
berdirinya P3HB (Panitia Pusat Pemulihan Hidup Baru) yang dikelola Yap Thiam Hien.

Sempat berganti 2 hingga 3 kali pengurus, lembaga yang membidani lahirnya YLBHI
(1970), INFIGHT (Indonesian Front for Defence of Human Rights, 1990), KontraS (1998) dan
beberapa lembaga advokasi lain, akhirnya dibadanhukumkan sekitar tahun 1988 seiring dengan
keinginan pemerintah mengendalikan LSM dengan mengeluarkan UU Ormas 1985.
Dalam perjalanan aktivitasnya, LPHAM merespon dan hampir terlibat seluruh isu dan
kasus-kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia. Dalam kasus Timor Timur ditahun
1990, advokasi LPHAM membawa Princen untuk menjadi tamu kehormatan Presiden Portugal
Mario Soares dengan topik pembicaraan seputar 7 orang pemuda Tim-tim yang mencari suaka
dan masa depan Timor Timur.
LPHAM juga melobi Y.P. Pronk, Ketua IGGI untuk menghentikan hutang luar negeri
yang cenderung disalahgunakan pemerintahan Soeharto. Tak terelakan lagi, LPHAM tumbuh
menjadi organisasi yang merekam hampir seluruh kejahatan kemanusiaan rezim orde baru. Dari
kasus tanah (1987-1996), buruh (1989-1990-an) hingga penangkapan mahasiswa (1988). Dari
kasus Papua (1975), Timtim (1975), Aceh (1989) hingga mendampingi para korban Peristiwa
Priok yang di adili (1984-1986).

PERKEMBANGAN
Namun seiring dengan manajemen organisasi yang masih tradisional dan menurunnya
stamina dan kesehatan Princen. Organisasi ini mulai mengambil porsi aktivitas yang sesuai
dengan kapasitas kerja organisasi yang sangat ditentukan oleh mobilitas seorang Princen, dan
aktivitas organisasi ini benar-benar terhenti ketika kematian menjemput mantan disertir KNIL ini
22 Februari 2004 lalu.
Walau LPHAM telah kehilangan figur sentralnya, kini revitalisasi lembaga malah sedang
dilakukan antara lain dengan meredefinisi LPHAM sebagai lembaga yang sejak awal turut
mempromosikan penghormatan, perlindungan dan penegakan HAM dengan merefleksi
kebersamaan dalam memperjuangkan HAM, demokrasi dan civil society dengan seluruh
komunitas masyarakat lainnya.
LPHAM tetap berpendirian bahwa sebuah bangsa harus mengerahkan seluruh potensi dan
energinya untuk mendorong tumbuhnya sebuah system politik sipil yang bersih, adil dan
menolak kekerasan baik dalam bentuk struktur kultural maupun subtansi praktikal yang
tercermin antara lain pada militerisme.
Penyelenggaraan penghargaan bersama Mengingat begitu pentingnya mendorong inisiasi dan
kebersamaan perjuangan penegakan HAM di Indonesia, sejak tahun 2007 ini, LPHAM yang
kebetulan dimiliki oleh para mujahid-mujahid HAM seperti Poncke dan Yap mendukung
sepenuhnya inisiatif, kepeloporan dan keberanian seluruh elemen masyarakat dalam rangka

perlindungan HAM dengan menganugerahkan kepada mereka sebuah penghargaan yang


bernama Poncke Princen Human Rights Prize.
Poncke Princen Human Rights Prize sesuai nama figur HJC Princen adalah penghargaan
yang diberikan untuk orang/ lembaga yang berani mengambil inisiatif pertama kali dalam
melindungi dan memajukan HAM sebagaimana Poncke Princen yang berani menjadi pioneer
dalam menghentikan pembantaian purwodadi pada 1969 dan sejumlah aktivitas kemanusiaan
selama hidupnya.
Penghargaan ini perlu dibuat untuk melestarikan semangat dan keberanian dalam
menegakan HAM. Karena upaya penegakan HAM di Indonesia tidak hanya membutuhkan
keberanian tapi juga konsistensi menempuh bahaya, sehingga benar-benar membutuhkan lebih
banyak pioneer yang memperjuangkan penegakan HAM seperti yang telah dilakukan Poncke di
masa lalu. Untuk alasan itu pula, penghargaan ini akan mendorong pencarian dan mendukung
aktivitas pelopor penegakan HAM diseluruh tanah air setiap tahunnya secara terus menerus.
Untuk pertama kalinya yaitu tahun 2007, penghargaan ini diberikan kepada 3 pihak yang
telah berani melakukan upaya promosi dan penegakan HAM yaitu:
[1] Human Rights life time achievement untuk pejuang HAM, Munir (1965-2004).
[2] Human Rights Promotor and Educator untuk dosen STPDN/IPDN, Inu Kencana
Syafei.
[3] Human Rights Campaigner untuk Liputan 6 SCTV.
Tiga nama tersebut, masing-masing telah memberikan kontribusi yang signifikan tidak
saja bagi penghormatan nilai-nilai kemanusiaan tapi juga kontribusi reformasi politik dari sebuah
sistem yang cenderung mengabaikan hak asasi.
Pada tahun 2008, LPHAM kembali memberikan dua penghargaan Poncke Princen Prize
dengan kekhususan kepeloporan dalam bidang Hak Asasi Manusia, pertama kepada insitiatif Ibu
Kembar Sri Rosiati dan Sri Irianingsih yang telah membuat pendidikan alternatif bagi orangorang tak mampu secara konsisten dan kontinyu terhadap pendidikan dan promosi hak asasi
manusia (Human Rights Promotor and Educator) serta terhadap pemajuan HAM di Indonesia.
Kedua kepada usaha Korban dan pendamping Korban Kasus Lumpur Lapindo yang telah
mengungkap kebenaran atas apa yang secara jahat disembunyikan oleh pemerintah sehingga
memunculkan dampak pada kampanye perlunya penghargaan terhadap nilai-nilai Hak Asasi
Manusia (Human Rights campaigner).

UUD 1945 pasal 28 A - J Tentang HAM


BAB XA HAK ASASI MANUSIA
Pasal 28A
Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya.
Pasal 28B
(1) Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan
yang sah.
(2) Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas
perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
Pasal 28C
(1) Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak
mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan
budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.
(2) Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara
kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa dan negaranya.
Pasal 28D
(1) Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil
serta perlakuan yang sama dihadapan hukum.
(2) Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak
dalam hubungan kerja.
(3) Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan.
(4) Setiap orang berhak atas status kewarganegaraan.
Pasal 28E
(1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan
dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal
diwilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.
(2) Setiap orang atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai
dengan hati nuraninya.

(3) Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.
Pasal 28F
Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan
pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki,
menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran
yang tersedia.
Pasal 28G
(1) Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta
benda yang dibawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman
ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi.
(2) Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan dan perlakuan yang merendahkan derajat
martabat manusia dan berhak memperoleh suaka politik dari negara lain.
Pasal 28H
(1) Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan medapatkan
lingkungan hidup baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.
(2) Setiap orang mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan
manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan.
(3) Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara
utuh sebagai manusia yang bermartabat.
(4) Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil
alih secara sewenang-wenang oleh siapa pun.
Pasal 28 I
(1) Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak
beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dihadapan hukum, dan
hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang
tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun.
(2) Setiap orang berhak bebas atas perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan
berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.
(3) Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan
zaman dan peradaban.

(4) Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung
jawab negara, terutama pemerintah.
(5) Untuk menegakan dan melindungi hak assi manusia sesuai dengan prinsip negara hukum
yang demokratis, maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin, diatur, dan dituangkan dalam
peraturan perundangan-undangan.
Pasal 28J
(1) Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
(2) Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan
yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin
pengakuan serta penghormatan atas hak kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan
yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum
dalam suatu masyarakat demokratis.

CONTOH KASUS PELANGGARAN HAM


Banyak terjadi pelanggaran HAM di Indonesia, baik yang dilakukan pemerintah, aparat
keamanan maupun oleh masyarakat. Hal ini dapat ditunjukan adanya korban akibat bergai
kerusuhan yang terjadi di tanah air. Misalnya, korban hilang dalam berbagai kerusuhan di
Jakarta, Aceh, Ambon dan Papua diperkirakan ada 1148 orang hilang dalam kurun waktu 1965
Januari 2002 (Kompas 1 Juni 2002).
Kita juga dapat dengan mudah menemukan pelanggaran HAM di sekitar kita yang menimpa
anak - anak. Misalnya, dalam kehidupan sehari- hari kita menyaksikan banyak anak (dibawah
umur 18 tahun) dipaksa harus bekerja mencari uang, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
maupun untuk membantu keluarganya atau pihak lain. Ada yang menjadi pengamen di jalanan,
menjadi buruh, bahkan dieksploitasi untuk pekerjaan-pekerjaan yang tidak patut. Mereka telah
kehilangan hak anak berupa perlindungan oleh orang tua, keluarga, masyarakat dan negara,
perlindungan dari eksploitasi ekonomi, dan pekerjaan.
Begitu pula kita juga dapat menemukan kasus sejumlah anak yang melanggar hukum
(berkonflik dengan hukum). Misalnya data Lembaga Advokasi Anak (LAdA) Lampung
menyatakan jumlah anak yang berkonflik dengan hukum selama Januari Maret 2008 mencapai
83 orang. Pelanggaran hukum yang dialkukan anak anak adalah pencurian, penganiayaan,
penggunaan narkoba, pemerkosaan, perampasan, penodongan, pembunuhan,
perjudian, perampokan, penjambretan, curanmor, dan perkelahaian (Anak anak Berkonflik
dengan Hukum, Kompas, 7 April 2008).
Dalam kehidupan sehari hari kasus pelanggaran HAM oleh seseorang/masyarakat
terutama pada perbuatan main hakim sendiri, seperti pertikaian antar kelompok (konflik sosial),
pengeroyokan, pembakaran sampai tewas terhadap orang yang dituduh atau ketangkap basah
melakukan pencurian.

Kebiasaan pengeroyokan sebagai bentuk main hakim sendiri dalam menyelesaikan


pertikaian atau konflik juga tampak sangat kuat di kalangan para pelajar.
Hal ini tentunya sangat memprihatinkan, karena mencerminkan suatu kehidupan yang
tidak beradab yang semestinya dalam menyelesaikan persoalan (konflik) dilakukan dengan cara
cara yang bermartabat seperti melakukan perdamaian , mengacu pada aturan atau norma yang
berlaku, melalui perantara tokoh tokoh masyarakat/adat, dan lembaga lembaga masyarakat
yang ada.
Berikut ini dipaparkan beberapa contoh pelanggaran HAM yang menjadi sorotan nasional
bahkan internasional. Namun contoh-contoh berikut harus kalian cermati mana yang tergolong
pelanggaran HAM berat dan mana yang tergolong pelanggaran HAM biasa.
Kasus Marsinah
Kasus ini berawal dari unjuk rasa dan pemogokan yang dilakukan buruh PT.CPS pada
tanggal 3-4 Mei 1993. Aksi ini berbuntut dengan di PHK-nya 13 buruh. Marsinah menuntut
dicabutnya PHK yang menimpa kawan-kawannya Pada 5 Mei 1993 Marsinah menghilang, dan
akhirnya pada 9 Mei 1993, Marsinah ditemukan tewas dengan kondisi yang mengenaskan di
hutanWilanganNganjuk.
Kasus Trisakti dan Semanggi
Kasus Trisakti dan Semanggi, terkait dengan gerakan reformasi. Arah gerakan reformasi
adalah untuk melakukan perubahan yang lebih baik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Gerakan reformasi dipicu oleh krisis ekonomi tahun 1997. Krisis ekonomi terjadi
berkepanjangan karena fondasi ekonomi yang lemah dan pengelolaan pemerintahan yang tidak
bersih dari KKN (Korupsi Kolusi dan Nepotisme). Gerakan reformasi yang dipelopori
mahasiswa menuntut perubahan dari pemerintahan yang otoriter menjadi pemerintahan yang
demokratis, mensejahterakan rakyat dan bebas dari KKN.
Demonstrasi merupakan senjata mahasiswa untuk menekan tuntutan perubahan ketika dialog
mengalami jalan buntuk atau tidak efektif. Ketika demonstrasi inilah berbagai hal yang tidak
dinginkan dapat terjadi. Karena sebagai gerakan massa tidak mudah melakukan kontrol. Bentrok
fi sik dengan aparat kemanan, pengrusakan, penembakan dengan peluru karet maupun tajam
inilah yang mewarai kasus Trisakti dan Semanggi. Kasus Trisakti terjadi pada 12 Mei 1998 yang
menewaskan 4 (empat) mahasiswa Universitas Trisakti yang terkena peluru tajam. Kasus Trisakti
sudah ada pengadilan militer.
Tragedi Semanggi I terjadi 13 November 1998 yang menewaskan setidaknya 5 (lima)
mahasiswa, sedangkan tragedi Semanggi II pada
24 September 1999, menewaskan 5 (lima) orang. Dengan jatuhnya korban pada kasus Trisakti,
emosi masyarakat meledak. Selama dua hari berikutnya 13 14 Mei terjadilah kerusuhan dengan
membumi hanguskan sebagaian Ibu Kota Jakarta. Kemudian berkembang meluas menjadi
penjarahan dan aksi SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan). Akibat
kerusuhan tersebut, Komnas HAM mencatat :
1.

40 pusat perbelanjaan terbakar;

2.

2.479 toko hancur;

3.

1.604 toko dijarah;

4.

1.119 mobil hangus dan ringsek;

5.

1.026 rumah penduduk luluh lantak;

6.

383 kantor rusak berat; dan

7.

yang lebih mengenaskan 1.188 orang meninggal dunia. Mereka kebanyakan mati di pusat
pusat

Dengan korban yang sangat besar dan mengenaskan di atas, itulah harga yang harus dibayar
bangsa kita ketika menginginkan perubahan kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik.
Seharusnya hal itu masih dapat dihindari apabila semua anak bangsa ini berpegang teguh
pada nilai nilai luhur Pancasila sebagai acuan dalam memecahkan berbagai persoalan dan
mengelola negara tercinta ini.
Peristiwa Mei tahun 1998 dicatat disatu sisi sebagai Tahun Reformasi dan pada sisi lain
sebagai Tragedi Nasional.
KasusBomBali
Peristiwa peledakan bom oleh kelompok teroris di Legian Kuta Bali 12 November 2002,
yang memakan korban meninggal dunia 202 orang dan ratusan yang luka-luka, semakin
menambah kepedihan kita. Apa lagi yang menjadi korban tidak hanya dari Indonesia, bahkan
kebanyakan dari turis manca negara yang datang sebagai tamu di negara kita yang mestinya
harus dihormati dan dijamin keamanannya.