Anda di halaman 1dari 8

BAGIAN RADIOLOGI DENTAL

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS HASANUDDIN
Terjemahan Jurnal
17 Desember 2013
PERBANDINGAN DESTRUKSI PERIODONTAL ANTARA PASIEN DENGAN
PENYAKIT JANTUNG KORONER DAN SUBJEK SEHAT MENGGUNAKAN
RADIOGRAFI PANORAMIK
(Comparison of periodontal destruction between patients with coronary heart disease and
healthy subjects using panoramic radiography )

Nama

: Jennifer Novia Andriani

Stambuk

: J 111 10 005

Pembimbing

: drg. Muliaty Yunus, M.Kes

Hari/Tanggal Baca : 17 Desember 2013


Sumber

: Journal of Periodontology & Implant


Dentistry 2012;4(1):3-6

DIBACAKAN SEBAGAI SALAH SATU TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN RADIOLOGI DENTAL
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013

PERBANDINGAN DESTRUKSI PERIODONTAL ANTARA PASIEN


DENGAN PENYAKIT JANTUNG KORONER DAN SUBJEK SEHAT
MENGGUNAKAN RADIOGRAFI PANORAMIK
Ahmad Haerian, Solmaz Akbari, Meisam Ahmadzade, Fatemah Ezoddini Ardakani, Mahmood Sadr,
Farzane Vaziri

ABSTRAK
Pendahuluan : Mengingat prevalensi penyakit jantung dan penyakit periodontal, tujuan dari
penelitian ini adalah untuk membandingkan jumlah destruksi periodontal pada pasien dengan
penyakit jantung koroner (PJK) dan kontrol subjek yang sehat, menggunakan radiografi
panoramik.
Bahan dan metode : Sebanyak 54 orang (27 pasien dengan PJK dan 27 pasien tanpa PJK)
berpartisipasi dalam penelitian ini; subjek telah mengikuti prosedur angiografi untuk diagnosis
PJK pada tahun sebelumnya. Setelah persetujuan pasien diperoleh; kemudian jumlah kehilangan
tulang alveolar dan jumlah gigi yang hilang dievaluasi.
Hasil : Penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah kehilangan tulang rata-rata pada pasien
dengan PJK dan jumlah rata-rata gigi yang hilang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan
pada subjek sehat (P<0.001). Jumlah kehilangan tulang rata-rata berdasarkan jumlah pembuluh
darah yang terlibat adalah 4.71 mm pada pasien dengan 1 pembuluh darah yang terlibat, 4.63
mm pada pasien dengan 2 pembuluh darah yang terlibat dan 5.14 mm pada pasien dengan 3
pembuluh darah yang terlibat. Bagaimanapun, perbedaan ini secara statistik tidak signifikan
(P=0.333).
Kesimpulan : Penelitian ini menunjukkan hubungan antara oral hygiene yang buruk dengan
PJK, dan memberikan bukti bahwa perbaikan kondisi periodontal dapat mempengaruhi keadaan
sistemik, inflamasi dan hemostatik.

PENDAHULUAN
Aterosklerosis, penyakit radang pada lapisan pembuluh darah yang berhubungan
dengan akumulasi lipid lokal dalam bentuk kolestrol, terutama LDL, bersama dengan
trombosis koroner, merupakan alasan utama morbiditas dan mortalitas di negara-negara
maju dan berkembang.
Selama dekade terakhir, beberapa penelitian mengevaluasi hubungan antara
peradangan dengan penyakit kardiovaskular. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat
disimpulkan bahwa peradangan memegang peran penting terhadap terjadinya
aterosklerosis.
Hubungan antara reaktan fase akut tingkat tinggi seperti protein C-reaktif (CRP),
fibrinogen, serum amyloid A dan molekul adhesi larut seperti ICAM-1, E-selektin,
VCAM-1 dengan perkembangan aterosklerosis dan dengan peningkatan risiko penyakit
kardiovaskular telah dibuktikan oleh beberapa studi sebelumnya.
Aterosklerosis dapat menyebabkan menyempitnya pembuluh darah arteri karena
deposisi subendotelial dari kolestrol sehingga membentuk plak sepanjang dinding arteri.
Berbagai jenis sel seperti fibroblast dan sel-sel kekebalan tubuh terakumulasi dalam plak
kaya kolestrol ini. Rupturnya plak ini akan menghasilkan thrombus yang bergerak ke
distal untuk menutup jalan arteri, sehingga menyebabkan infark miokard.
Faktor genetik dan lingkungan seperti diabetes, hipertensi, merokok, umur dan
serum lipid yang abnormal merupakan faktor risiko terjadinya penyakit jantung koroner.
Prevalensi dan insiden penyakit kardiovaskular berhubungan dengan hemostatik
dan variabel rheologi. Mekanisme, faktor risiko dan agen infeksi (termasuk penyakit
periodontal) mungkin berkontribusi terhadap kejadian vaskular. Variabel rheologi (yang
mempengaruhi aliran darah) memegang peran penting dalam lokalisasi aterosklerosis
dan thrombosis.
Bukti terbaru menunjukkan bahwa tingginya tingkat inflamasi sistemik dan
faktor hemostatik mungkin dapat mempercepat peradangan pembuluh darah. Oleh

karena itu, setiap gangguan yang mengangkat faktor-faktor ini dalam aliran darah,
seperti periodontitis, akan dianggap sebagai faktor risiko untuk penyakit arteri koroner.
Penyakit periodontal adalah peradangan dari jaringan sekitar gigi dan hasil dari
interaksi yang kompleks antara bakteri dan faktor risiko seperti merokok jangka
panjang, kebersihan mulut yang buruk, diabetes yang tidak terkontrol, stres dan
predisposisi genetik. Dengan adanya organisme yang berkembang, memungkinkan
kapasitas mereka untuk menyerang jaringan host dan mendapatkan akses langsung ke
sirkulasi.
Organisme periodontal telah ditemukan pada lokalisasi plak ateromatosa.
Penyakit periodontal telah dikaitkan dengan aterosklerosis, penyakit jantung, diabetes,
prematur dengan berat badan lahir rendah, stroke, dan kematian prematur. Karena itu,
melalui patogenesis yang mendasari respon inflamasi, penyakit periodontal mungkin
menjelaskan sebagian dari risiko penyakit kardiovaskular.
Mengingat prevalensi penyakit jantung di satu sisi dan prevalensi penyakit
periodontal di sisi lain, tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan jumlah
kerusakan periodontal pada pasien dengan penyakit jantung koroner (PJK) dan subjek
sehat, menggunakan radiografi panoramik.
BAHAN DAN METODE
Para peserta dari penelitian cross-sectional dan single-blind ini terdiri dari 54
pasien (27 pasien dengan PJK dan 27 pasien tanpa PJK), di Afshar Heart Center di Yazd,
Iran, untuk kateter berbasis X-ray angiografi koroner konvensional (CAG) selama 7
bulan. Semua pasien sesuai dengan kriteria American College of Cardiology yang
dicurigai stenosis arteri koroner. Pasien yang memenuhi semua kriteria berikut
dimasukkan dalam penelitian ini: 1) pasien dengan penyakit arteri koroner di rumah
sakit jantung, yang telah menjalani angiografi, 2) 6 gigi asli yang masih ada; 3)
kesediaan untuk menjalani radiografi panoramik dan untuk mematuhi tahapan
penelitian.

Sesuai dengan pendekatan Seldinger (1953), kateterisasi arteri koroner


dilakukan. Setelah melakukan angiografi koroner, semua gambar dinilai oleh seorang
ahli jantung berpengalaman untuk mengevaluasi stenosis dari tiga arteri utama, termasuk
arteri interventrikular anterior, sirkumfleksa dan arteri koroner kanan pada jantung.
Semua hasil angiografi positif untuk stenosis arteri koroner dinilai sebagai I, II atau III
berdasarkan jumlah kasus stenosis arteri utama.
Radiografi panoramik (sebagai metode non-invasif) diambil dengan unit
PLANMECA 2002 EC Proline multi-tomografi sinar-X (PLANMECA Co, Helsinki,
Finlandia). Mereka diperoleh dengan konstan 12 mA, 80 kV, dan waktu ekspos 18 detik
dengan filtrasi Al 2,5 mm, menggunakan reguler Kodak (kaset Eastman CM) dan film
Kodak T Mat G (Eastman Kodak Co, Rochester, NY). Film dikembangkan dalam
prosesor film otomatis (Velopex, Extra- X, Mediavance Instrumen Ltd, London, Inggris)
dengan larutan standar seperti yang direkomendasikan oleh produsen. Total waktu
processing adalah 4 menit pada 27 C. Seorang radiologis maksilofasial berpengalaman,
melihat hasil angiografi koroner dan menilai semua radiografi panoramik. Jumlah
resorpsi tulang diukur menggunakan kaliper dengan akurasi 0,1 mm, sedangkan
pemeriksa tidak menyadari status kardiovaskular pasien. Jarak antara CEJ ke titik yang
paling apikal crest alveolar diukur baik dalam mesial dan aspek distal setiap gigi. Dalam
kasus di mana CEJ gigi tidak dapat ditentukan, karena tambalan atau restorasi, CEJ gigi
tetangga yang digunakan sebagai indikator. Pengukuran dilakukan untuk semua gigi
kecuali gigi molar tiga. Nilai rata-rata yang diperoleh dari mesial dan permukaan distal
setiap gigi dianggap sebagai kehilangan tulang rata-rata untuk gigi, maka nilai yang
diperoleh dari semua gigi yang rata-rata untuk mencapai kehilangan tulang untuk setiap
orang.

HASIL
Evaluasi hasil angiografi menunjukkan bahwa dari 54 pasien yang berpartisipasi
dalam penelitian ini, 27 pasien memiliki penyakit arteri koroner, sementara 27 pasien
didiagnosis sehat. Jumlah rata-rata kehilangan tulang pada pasien dengan penyakit
jantung dan individu yang sehat adalah 4.88 dan 3.01 mm, dengan perbedaan yang
signifikan secara statistik (P <0,001) (Tabel 1).
Rata-rata jumlah gigi yang telah dicabut pada pasien dengan PJK secara
signifikan lebih tinggi dibandingkan pada subyek sehat (P <0,001) (Tabel 2).
Jumlah kehilangan tulang rata-rata sesuai dengan jumlah pembuluh darah yang
terlibat adalah 4,71 mm pada pasien dengan 1 pembuluh darah yang terlibat, 4,63 mm
pada pasien dengan 2 pembuluh darah yang terlibat dan 5,14 mm pada pasien dengan 3
pembuluh darah yang terlibat, namun perbedaan tersebut tidak signifikan secara statistik
(P = 0,333) (Tabel 3).
Tabel 1. Perbandingan resorpsi tulang antara kelompok
Subjek sehat
Pasien kardiovaskular
T-test (P<0.001)

No.
27
27

Resorpsi tulang rata-rata (mm)


3.01
4.88

SD
0.61
0.81

Tabel 2. Perbandingan jumlah gigi yang dicabut antara dua kelompok


Subjek sehat
Pasien kardiovaskular
T-test (P<0.001)

No.
27
27

Jumlah rata-rata gigi yang dicabut


5.63
8.41

SD
2.95
3.04

Tabel 3. Perbandingan resorpsi tulang dan jumlah pembuluh darah yang terlibat
Jumlah pembuluh darah yang

No.

Resorpsi tulang rata-rata (mm)

SD

terlibat
1
2
3
Total
ANOVA (P=0.333)

8
7
12
27

4.71
4.63
5.14
4.88

0.78
0.51
0.94
0.81

PEMBAHASAN
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan jumlah destruksi
periodontal pada pasien dengan penyakit jantung koroner (PJK) dan kontrol yang sehat.
Penelitian ini menunjukkan bahwa destruksi periodontal pada pasien PJK lebih luas
daripada kontrol sehat. Dalam studi ini rata-rata kehilangan tulang pada pasien PJK
secara signifikan lebih tinggi daripada kontrol sehat, mendukung hasil penelitian
sebelumnya.

Namun, beberapa studi telah mengkonfirmasi hubungan ini melalui

parameter klinis periodontal atau evaluasi serum seperti protein C-reaktif. Destruksi
tulang pada penyakit periodontal, yang menyebabkan hilangnya gigi, merupakan hasil
dari peradangan kronis pada jaringan penyangga sekitar struktur gigi. Respon inflamasi
sistemik yang dipicu oleh penyakit periodontal dapat menyebabkan pembentukan plak
aterosklerosis dan penyakit kardiovaskular.
Dalam penelitian ini, jumlah gigi yang telah dicabut pada pasien PJK secara
signifikan lebih tinggi dibandingkan subjek sehat, konsisten dengan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Johansson dan Humphrey pada tahun 2008. Faktor etiologi utama
kehilangan gigi adalah karies dan masalah endodontik di usia muda. Kehilangan gigi
pada usia pertengahan dan setelahnya sebagian besar disebabkan oleh penyakit
periodontal yang menyebabkan resorpsi dan destruksi tulang hingga kehilangan gigi.
Menurut penelitian ini, resorpsi tulang secara signifikan lebih luas pada pasien
PJK daripada kontrol sehat. Karena itu, mungkin disimpulkan bahwa banyaknya jumlah
gigi yang telah dicabut pada pasien PJK disebabkan oleh penyakit periodontal.

Tingkat kehilangan tulang terkait dengan arteri koroner merupakan temuan lain
dari penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan jumlah rata-rata kehilangan tulang
pada pasien dengan 3 pembuluh darah yang terlibat lebih tinggi dibandingkan pasien
dengan 1 atau 2 pembuluh darah yang terlibat, namun tidak signifikan secara statistik (P
= 0,333). Temuan ini dapat dikaitkan dengan terbatasnya jumlah sampel dan
mendistribusikannya ke dalam tiga kelompok dengan jumlah pembuluh darah yang
terlibat. Hal ini juga dapat menunjukkan bahwa berbagai faktor risiko dan kompleksitas
efeknya pada risiko PJK akan menghasilkan hasil tersebut.
Penelitian ini terbatas dengan penilaian penyakit periodontal menggunakan
radiografi panoramik, mengingat bahwa pengukurannya memberikan estimasi yang tepat
dari periodontitis yang sedang berlangsung tetapi tidak memperhitungkan beban dan
jenis mikroorganisme oral.
KESIMPULAN
Hasil dari penelitian ini mendukung hubungan antara penyakit periodontal dan
penyakit jantung koroner dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular pada pasien
dengan periodontitis. Mempertimbangkan bahwa pengaruh infeksi periodontal (dengan
paparan jangka panjang) dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, disarankan
agar klinik gigi dibentuk sebagai bagian dari pusat rehabilitasi kardiovaskular, untuk
memantau situasi periodontal pada pasien PJK dan memberikan pengobatan yang
diperlukan jika diperlukan. Dari sudut pandang penelitian, disarankan agar penelitian
dirancang di mana bakteri patogen periodontal dapat diselidiki di arteri koroner yang
terlibat selama operasi bypass koroner.