Anda di halaman 1dari 117

PENGANTAR (1)

Hukum Kedokteran adalah subsistem dari Ilmu Hukum


(Bandingkan dengan ilmu Kedokteran Forensik yang
merupakan subsistem dari Ilmu Kedokteran)
Dokter harus mengenal dan memahami Hukum
Kedokteran, karena dengan demikian ia :
tahu rambu-rambu hukum dalam
melakukan praktek profesi dokter agar tidak gegabah
dilanggar
siap menyiapkan
pembelaan/upaya hukum bila dituntut pasien atau pihak
lain
tahu menggunakan haknya
dalam upaya hukum bila berperkara yang menyangkut
profesinya.

HUKUM KEDOKTERAN
Nur Hajriya Brahmi

PENGANTAR (2)
Dokter jangan jadi bulan-bulanan oknum hukum
karena tidak tahu hukum
Jangan menghindari hukum, tetapi juga tidak
perlu menjadi ahli hukum
Hukum Kedokteran sangat luas meliputi
KUHPidana, KUHPerdata, UU No 36/2009, UU
lain yang berkaitan dengan Kedokteran dan
Kesehatan (Kefarmasian, Alkes, Bahan, dll), PP
terkait, Ketentuan/Keputusan Menkes
/Dirjen /Badan POM, dll.

PERBANDINGAN ETIKA DAN HUKUM (1)

Persamaannya :
Berisi aturan, petunjuk,
keharusan dan larangan
Ada yang
tertulis maupun yang tidak tertulis

PERBANDINGAN ETIKA DAN HUKUM (2)


PERBEDAANNYA

Terjadinya
Kepentingan
Tujuan
Ciri-ciri

ETIKA
KEDOKTERAN

HUKUM
KEDOKTERAN

Tradisi yang
diwariskan dari
generasi ke generasi
Kelompok profesi

Dibuat oleh Negara


atau Institusi
Kenegaraan
Publik

Menjaga/memelihara
martabat dan
kehormatan
Lebih bersifat statis,
fleksibel dan
himbauan

Melindungi
masyarakat
Lebih bersifat
dinamis dan rigid

PERBEDAAN ETIKA DAN HUKUM (3)


PERBEDAANNYA
ETIKA
HUKUM
KEDOKTERAN KEDOKTERAN
Lama berlakunya

Relatif lebih lama

Sanksi

Sanksi moral
Sanksi psikologis
Sanksi sosial
Sanksi spiritual
(Sanksi dijatuhkan
oleh Kelompok
Profesi -> MKEK)

Prosedur
Pelanggaran

Diajukan kepada
Kelompok Profesi

Relatif berubah lebih


cepat
Sanksi hukum
(pidana/perdata)
-> Hukum badan
(kurungan, denda)
-> Ganti rugi
-> Administratif (ijin
dicabut) => dijatuhkan oleh MDTK
Diajukan oleh yang
dirugikan atau oleh
MDTK dan juga MKEK

HUBUNGAN DOKTER DAN PASIEN (1)


Kedudukan menurut hukum sama
Wujud hubungannya transaksional profesional yang bersifat kontrak berdasar
upaya (inspannings verbintennis) dan
bukannya kontrak berdasar hasil.
Masing-masing memiliki hak dan kewajiban
Secara umum yang menjadi kewajiban
pasien adalah hak dokter

HUBUNGAN DOKTER-PASIEN (2)

Keberhasilan suatu prosedur medis tergantung pada


1. Kompetensi para dokter dan stafnya.
2. Tersedianya alat peralatan yang memadai.
3. Tersedianya waktu.
4. Kondisi penyakit.
5. Faktor-faktor lingkungan.
6. Kepatuhan pasien.
7. Faktor konstitusional pasien sendiri.
8. (Kekuasaan Allah).
Tidak semua faktor-faktor diatas dapat dikendalikan
dokter.

HUBUNGAN DOKTER DAN PASIEN (3)


Hak Pasien (menurut Declaration of Human Right i.e. The

right of self determination dan The right of having care, dan


dari UU No 36/2009) :
Hak untuk mendapat informasi
Hak untuk
memberi persetujuan
Hak untuk
merahasiakan
Hak untuk memilih
dokter
Hak untuk mendapatkan second
opinion
Hak untuk memilih
Rumah Sakit
Hak untuk menolak suatu
tindakan medik
Hak untuk
menolak pengobatan
Hak untuk mengakhiri
pengobatan
Hak untuk mati secara bermartabat
Hak untuk mendapatkan dukungan
moral/spiritual

HUBUNGAN DOKTER DAN PASIEN (4)

Kewajiban pasien :

Memberi keterangan yang benar

dan
jujur tentang penyakitnya
Menaati anjuran/instruksi dokter
Menaati ketentuan-ketentuan
Rumah
Sakit dan beberapa kewajiban lain
Memberi imbalan/jasa

HUBUNGAN DOKTER PASIEN (5)


Hak dokter :

Hak untuk menolak melakukan tindakan


medis yang tidak dapat dipertanggung-jawabkan
secara profesional
Hak
untuk menolak melakukan tindakan medis yang
menurut hati nuraninya (conscience) adalah
tidak atau kurang baik
Hak atas imbalan/jasa
Hak untuk membela diri
Hak-hak lain

KUHAPidana (1)
Pengertian (1)
Penyidik Pejabat Polri/PNS untuk penyidikan
(Mencari/mengumpulkan bukti tindak pidana)
Penyelidik Pejabat Polri utk penyelidikan
(Menemukan peristiwa sebagai tindak pidana
=> Dapat/tidak dilakukan penyidikan)
Jaksa wewenang Penuntut Umum,
melaksanakan Ketetapan Hakim
Penuntutan Tindakan untuk melimpahkan ke
Pengadilan.

KUHAPidana (2)
Pengertian (2)
Hakim Mengadili
Pra Peradilan Wewenang Pengadilan Negeri untuk
=> Sah/tidak
penangkapan
=> Sah/tidak
penghentian penyidikan
=> Permintaan ganti
rugi/rehabilitasi
Putusan Pengadilan Vonis
Upaya hukum Upaya tersangka/terdakwa/
terhukum untuk menggunakan haknya minta keadilan
(banding, kasasi, peninjauan kembali, grasi, menuntut
balik, didampingi Penasihat Hukum/Pembela, dll)

KUHAPidana (3)
Pengertian (3)
Penasehat Hukum Mendampingi
tersangka/terdakwa/terhukum melakukan
tindakan upaya hukum
Tersangka Diduga Pelaku tindak pidana
Terdakwa Sedang diselidiki/diadili
Terhukum/terpidana Sudah dijatuhi vonis
Keputusan dengan kekuatan hukum tetap ->
Vonis yang sudah diterima oleh semua pihak
atau yang sudah diupayakan maksimal.
maksimal

KUHAPidana (4)
Pasal 20 s/d 31 (terutama 21)

Penahanan terhadap tersangka


Pasal 21
ayat 4 : Penahanan hanya dapat dikenakan terhadap tersangka
atau terdakwa yang melakukan tindak pidana dan atau
percobaan maupun pemberian bantuan dalam tindak pidana
tersebut dalam hal :
=> Tindak pidana dengan ancaman penjara
5 tahun atau lebih (Penyakit/luka derajat
III dan IV)
=> Tindak pidana termaksud dalam a.l. Pasal
351 ayat 1 (Penyakit/luka derajat II)

KUHAPidana (5)
Untuk memberi bukti bahwa minimal telah terjadi
penyakit/luka derajat II dikeluarkan suatu Visum et
Repertum Sementara (VRS) yang menerangkan tentang
penyakit atau luka yang diderita korban serta
penyebabnya dan bahwa korban masih dlm perawatan,
derajat luka blm dpt ditentukan, karena perawatan belum
selesai dan blm dpt diambil kesimpulan
Tidak termasuk KUHP pasal
352 ayat 1
=> Menahan si pelaku tanpa adanya suatu VRS dan
hanya karena korban masih dirawat di rumah sakit
tidak dapat dibenarkan secara yuridis.

KUHAPidana (6)
Pasal 133 ayat 1 :

Permintaan keterangan Ahli kepada Dokter (termasuk pemeriksaan


mayat)
Permintaan
penyidik yang tidak disertai alasan kuat atau masuk akal harus
ditolak
Jangan berlindung
dibalik KUHP Pasal 50, kalau permintaan penyidik seperti tsb diatas
dilakukan, Dokter dapat dituntut ahli waris mayat :
=> Secara pidana, dokter dikatakan merusak mayat
(KUHPidana Pasal 406 ayat 1)
=> Secara perdata, dokter telah melanggar hukum
menimbulkan kerugian bagi orang lain (KUHPerdata
Pasal 1365 dan 1366).

KUHAPidana (7)
Pasal 133 ayat 2 :
Ada dua jenis pemeriksaan mayat :
=> Pemeriksaan mayat (pemeriksaan luar saja),
dengan ini tidak mungkin ditentukan sebab
kematian
=> Pemeriksaan bedah mayat (pemeriksaan luar
dan dalam), menentukan sebab kematian dan
menjawab apakah perbuatan si tertuduh
merupakan satu-satunya penyebab kematian
ataukah pada si korban juga terdapat penyakit
atau kelainan (bawaan) yang mempermudah
atau mempercepat kematiannya.

KUHPidana (1)

Pasal 10 -> Pembagian Pidana


Pasal 35 -> Hak terpidana yang dapat dicabut
Pasal 44 -> Tidak dipidana perbuatan yang tidak
dapat dipertanggung-jawabkan
Pasal 48 -> Perbuatan karena pengaruh daya paksa
Pasal 50 -> Perbuatan utk melaksanakan
ketentuan UU
Pasal 51 -> Perbuatan utk melaksanakan perintah
jabatan

KUHPidana (2)

Pasal 89 -> Membuat orang pingsan


Pasal 90 -> Luka berat
Pasal 222 -> Menghalangi pemeriksaan mayat
Pasal 224 -> Dipanggil sebagai saksi
Pasal 242 -> Keterangan palsu diatas sumpah
Pasal 263 -> Membuat surat palsu
Pasal 267 dan 268 -> Dokter yang sengaja
memberikan surat/keterangan palsu.

KUHPidana (3)
Pelanggaran susila
Pasal 284 -> Penyerangan seksual
Pasal 286 -> Bersetubuh dengan wanita yang pingsan
(diluar perkawinan)
Pasal 287 -> Bersetubuh dengan wanita dibawah umur
(diluar perkawinan)
Pasal 290 -> Perbuatan cabul dengan seseorang yang
pingsan dan belum cukup umur
Pasal 291 -> Jika perbuatan dalam pasal 286-290
mengakibatkan luka berat atau kematian
Pasal 294 -> Perbuatan cabul dengan anak atau
bawahannya yang belum dewasa (Termasuk yang
dilakukan dokter)

KUHPidana (4)
Pengguguran

Pasal 299 -> Mengobati wanita untuk


menggugurkan
Pasal 346 -> Sengaja menggugurkan
Pasal 347 -> Menggugurkan kandungan tanpa
persetujuan
Pasal 348 -> Menggugurkan kandungan dengan
persetujuan
Pasal 349 -> Dokter yang membantu perbuatan
dalam pasal 346-348

KUHPidana (5)
Pasal 304 -> Sengaja membiarkan orang yang
perlu ditolong
Pasal 322 -> Membuka rahasia
Pasal 338 -> Sengaja merampas nyawa orang
lain
Pasal 340 -> Sengaja merampas nyawa dengan
rencana
Pasal 341 -> Ibu yang merampas nyawa anaknya
pada waktu melahirkan

KUHPidana (6)
Penganiayaan Penyakit/luka
Pasal 351 ayat 1 Penyakit/luka sedang
(derajat II)
Pasal 351 ayat 2 Penyakit/luka berat
(derajat III)
Pasal 351 ayat 3 Penyakit/luka yang
menyebabkan kematian (derajat IV)
Pasal 352 ayat 1 Penyakit/luka ringan
(derajat I)

KUHPidana (7)
Jika orang luka dibawa ke rumah sakit, maka
terdapat kemungkinan sebagai berikut :
KUHPidana

Tidak dirawat/

Ps 90 (II)

tidak perlu
istirahat (I)
ORANG
HIDUP

Dirawat

Hidup
KUHPidana

Selesai
perawatan

Ps 90 (III)
Mati (IV)

KUHPidana (8)
Pasal 359 -> Karena kelalaiannya menyebabkan
orang lain mati (Ini sebenarnya untuk
pelanggaran lalu lintas)
Pasal 360 -> Karena kelalaiannya menyebabkan
orang lain luka berat (Ini juga untuk
pelanggaran lalu lintas)
Pasal 361 -> Kejahatan yang menyebabkan
mati/luka karena menjalankan suatu jabatan

KUHPidana (9)

Pasal 372 jo Pasal 209 -> Pidana perpajakan


Pasal 382 -> Penipuan dan misrepresentasi
Pasal 406 -> Sengaja merusak barang/hewan
(termasuk mayat) milik orang lain.

KUHPidana (10)

Pasal 512 -> Melakukan praktek tidak legal


Pasal 512a -> Dokter yang tidak punya surat ijin
Pasal 522 -> Dipanggil sebagai saksi ahli tidak
datang
Pasal 531 -> Tidak memberi pertolongan
terhadap orang yang sedang menghadapi maut
Pasal 534 -> Terang-terangan menunjukkan
sarana mencegah kehamilan.

KUHPerdata
Pasal 1365 -> Kewajiban memberi ganti rugi
kepada orang lain yang mengalami kerugian
karena perbuatan melanggar hukum
Pasal 1366 -> Setiap orang bertanggung jawab
tidak saja untuk kerugian yang disebabkan
karena perbuatannya, tetapi juga untuk
kerugian yang disebabkan kelalaian atau kurang
hati-hatinya.
Pasal 1370 dan 1371 -> Mempertimbangkan
kedudukan, kemampuan dan keadaan kedua
belah pihak.

UU No 36/2009
TENTANG KESEHATAN
Pengantar
UU No 36 tahun 2009 merupakan produk hukum
(semacam Health Act) dan sekaligus sebagai
guidelines tentang sistem kesehatan di negara
kita yang menggantikan UU No 23 tahun 1992
dan berbagai UU terdahulu yang berkaitan
dengan kesehatan
Sebagai salah satu hukum pidana berisikan
materi hukum serta sanksinya yang dapat
melengkapi KUHPidana yang sudah ada

UU No 36/2009
Pengantar (2)

Namun ada pula yang tidak bersifat


normatif yaitu tidak jelas sanksinya
bila dilanggar, dimana harus ada :
Unsur
kerugian
Hubungan kepentingan
Hakikat norma yang
dilanggar

UU No 36/2009
Pengantar (3)
Selain itu UU ini juga memiliki aspek lain yaitu :
-> Pasal 21, 22,
23, 24, 25, 26, 27, 28 dan 29 tentang
hukum administrasi.
-> Pasal 178, 179, 180 dan 181 tentang Pembinaan.
-> Pasal 182, 183, 184, 185, 186, 187 dan 188
tentang
Pengawasan.
-> Pasal 175, 176 dan 177 tentang Badan
Pertimbangan Kesehatan.

UU No 36/2009
Umum

Dasar hukum : UUD 1945 Pasal 20, Pasal 28H


ayat (1), dan Pasal 34 ayat (3)
Penyempurnaan/Pengintegrasian
Dasar Penyusunan
Dasar Pertimbangan
Pembangunan Kesehatan (sasaran, orientasi,
bagaimana diselenggarakan, peran Pemerintah
dan masyarakat, kaitan dengan keberhasilan
pembangunan)

UU No 36/2009
Umum

Semangat Otonomi Daerah (UU


No 32 Tahun
(
2004 tentang Pemerintahan Daerah, UU No 12
Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas
UU No
32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah)
Perangkat hukum kesehatan
Pengertian

Umum (2)
Hal-hal pokok :
Asas dan tujuan (Bab II)
Hak dan kewajiban (Bab III)
Tanggung jawab Pemerintah (Bab IV)
Sumberdaya di bidang kesehatan (Bab V)
Upaya kesehatan (Bab VI)
Kesehatan Kelompok Rentan (Bab VII)
Gizi (Bab VIII)
Kesehatan Jiwa (Bab IX)
Penyakit Menular dan Tidak Menular (Bab X)
Kesehatan Lingkungan (Bab XI)
Kesehatan Kerja (Bab XII)

Umum (2)

Pengelolaan Kesehatan (Bab XIII)


Informasi Kesehatan (Bab XIV)
Pembiayaan Kesehatan (Bab XV)
Peran Serta Masyarakat (Bab XVI)
Badan Pertimbangan Kesehatan (Bab XVII)
Pembinaan dan Pengawasan (Bab XVIII)
Penyidikan (Bab XIX)
Ketentuan pidana (Bab XX)
Ketentuan Peralihan (Bab XXI)
Ketentuan Penutup (Bab XXII)

Umum (2)
Validitas ketentuan hukum :
1 UU tidak berlaku lagi yaitu UU No 23 Tahun
1992 tentang Kesehatan
PP untuk UU No 23 Tahun 1992 yang tidak
bertentangan masih berlaku
PP diterbitkan satu tahun setelah diundangkan

Isi : 22 bab, 205 pasal.

UU No 36/2009
Bab I Pasal 1 Ketentuan Umum
Pengertian

Bab II Asas dan Tujuan


Pasal 2 Asas penyelenggaraan pembangunan kesehatan
Pasal 3 Tujuan Pembangunan Kesehatan

Bab III Hak dan Kewajiban


Pasal 4-8 Hak seseorang
Pasal 9-13 Kewajiban seseorang

UU No 36/2009
Bab IV Tanggung Jawab Pemerintah
Pasal 14 Pelayanan Publik.
Pasal 15-17 Ketersediaan Lingkungan,
Sumber Daya dan Akses.
Pasal 18 Peran Masyarakat.
Pasal 19 Upaya Kesehatan.
Pasal 20 Jaminan Kesehatan.

UU No 36/2009
Bab V Sumber Daya di Bidang Kesehatan :
Pasal 21-29 Tenaga Kesehatan.
Pasal 30-35 Fasilitas Pelayanan
Kesehatan.
Pasal 36-41 Perbekalan kesehatan.
Pasal 42-45 Teknologi dan Produk
Teknologi.

UU No 36/2009
Bab VI Upaya Kesehatan

Pasal 46-51 Umum. Ada 17 Upaya Kesehatan.


Pasal 52-55 Pemberian Pelayanan.
Pasal 56-58 Perlindungan Pasien.
Pasal 59-61 Pelayanan Kesehatan Tradisional.
Pasal 62 Peningkatan Kesehatan dan Pencegahan
Penyakit.
Pasal 63-70 Penyembuhan Penyakit dan Pemulihan
Kesehatan.
Pasal 71-77 Kesehatan Reproduksi.
Pasal 75-77 Tindakan Aborsi (Perubahan
dari UU No 23 tahun 1992 Pasal 15).

Bab V Upaya Kesehatan (2)

Pasal 78 Keluarga Berencana.


Pasal 79 Kesehatan Sekolah.
Pasal 80-81 Kesehatan Olah Raga.
Pasal 82-85 Pelayanan Kesehatan pada
Bencana.
Pasal 86-92 Pelayanan Darah.
Pasal 93-94 Kesehatan Gigi dan Mulut.
Pasal 95-96 Penanggulangan Gangguan
Penglihatan dan Gangguan Pendengaran.

Bab V Upaya Kesehatan (2)


Pasal 98-108 Pengamanan dan Penggunaan
Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan.
Pasal 109-112 Pengamanan Makanan dan
Minuman.
Pasal 113-116 Pengamanan Zat Adiktif.
Pasal 117-125 Bedah Mayat.

UU No 36/2009
BAB VII
KESEHATAN IBU, BAYI, ANAK,
REMAJA, LANJUT USIA, DAN PENYANDANG CACAT

Pasal 126-135 Kesehatan Ibu, Bati dan Anak.


Pasal 136-137 Kesehatan Remaja.
Pasal 138-140 Kesehatan Lanjut Usia dan Penyandang
Cacat.

UU No 36/2009
BAB VIII
GIZI
Pasal 141-143 Gizi.

BAB IX
KESEHATAN JIWA
Pasal 144-151 Kesehatan Jiwa.

UU No 36/2009
BAB X
PENYAKIT MENULAR DAN TIDAK MENULAR
Pasal 152-157 Penyakit Menular.
Pasal 158-161 Penyakit Tidak Menular.

BAB XI
KESEHATAN LINGKUNGAN
Pasal 162-163 Kesehatan Lingkungan.

UU No 36/2009
BAB XII
KESEHATAN KERJA
Pasal 164-166 Kesehatan Kerja.

BAB XIII
PENGELOLAAN KESEHATAN
Pasal 167 Pengelolaan Kesehatan.

UU No 36/2009

BAB XIV
INFORMASI KESEHATAN
Pasal 168-169 Informasi Kesehatan.

BAB XV
PEMBIAYAAN KESEHATAN
Pasal 170-173 Pembiayaan Kesehatan.

UU No 36/2009

BAB XVI
PERAN SERTA MASYARAKAT
Pasal 174 Peran Serta Masyarakat.

BAB XVII
BADAN PERTIMBANGAN KESEHATAN
Pasal 175-177 Badan Pertimbangan Kesehatan BPKN
dan BPKD).

UU No 36/2009

BAB XVI
PERAN SERTA MASYARAKAT
Pasal 174 Peran Serta Masyarakat.

BAB XVII
BADAN PERTIMBANGAN KESEHATAN
Pasal 175-177 Badan Pertimbangan Kesehatan (BPKN
dan BPKD).

UU No 36/2009

BAB XVIII
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
Pasal 178-181 Pembinaan.
Pasal 182-188 Pengawasan.

BAB XIX
PENYIDIKAN
Pasal 189 Penyidikan.

UU No 36/2009

BAB XX
KETENTUAN PIDANA
Pasal 190 Fasilitas Pelayanan Kesehatan tidak
memberikan Pertolongan Pertama.
Pasal 191 Praktik Pelayanan Kedsehatan Tradisional
tanpa izin yang mengakibatkan kerugian.
Pasal 192 Memperjualbelikan organ atau jaringan
tubuh.
Pasal 193 Melakukan bedah plastik untuk mengubah
identitas.

UU No 36/2009

BAB XX
KETENTUAN PIDANA
Pasal 194 Melakukan Aborsi.
Pasal 195 Memperjualbelikan darah.
Pasal 196 Sediaan Farmasi yang tidak memenuhi
Standar Keamanan.
Pasal 197 Sediaan Farmasi yang tidak memiliki izin
edar.
Pasal 198 Praktik Kefarmasian tanpa memiliki
keahlian dan kewenangan.

UU No 36/2009

BAB XX
KETENTUAN PIDANA
Pasal 199 Tentang Rokok.
Pasal 200 Menghalangi Program Pemberian Air Susu
Ibu Eksklusif.
Pasal 201 tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 190 ayat (1), Pasal 191, Pasal 192, Pasal 196,
Pasal 197, Pasal 198, Pasal 199, dan Pasal 200
dilakukan oleh korporasi.

UU No 36/2009
BAB XXI
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 202-203 Ketentuan Peralihan.

BAB XXII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 204-205 Ketentuan Penutup.

UU NO 29 TAHUN 2004 TENTANG


PRAKTIK KEDOKTERAN (UUPK)
PENDAHULUAN
Naskah UUPK disetujui DPR 7/9/2004, disyahkan
Presiden / /2004 dan berlaku 1 tahun sejak
diundangkan.
Dimulai adanya gagasan membentuk Konsil Kedokteran
pada awal 1980-an.
Perumusan RUU 1988 oleh para ahli dari CHS, PB IDI
dan Biro Hukum Depkes Draft diserahkan kepada
DPR.
Draft inisiatif DPR disampaikan kepada Presiden
ditanggapi Pemerintah dan dibuat Naskah tandingan.
Awal 2004 s/d Agustus 2004 diadakan pembicaraan
intensif menghasilkan rumusan akhir.

SUBSTANSI DAN STRUKTUR


UUPK (1)
Mengatur banyak hal : Konsil Kedokteran (KKI),
Standar pendidikan, regristrasi, perizinan, dll.
Tujuan UUPK :
1. Memberikan perlindungan kepada pasien.
2. Mempertahankan dan meningkatkan mutu
pelayanan.
3. Memberikan kepastian hukum.

SUBSTANSI DAN STRUKTUR


UUPK (2)
KKI dibentuk untuk melindungi masyarakat
penerima jasa dan meningkatkan mutu
pelayanan.
Tugas KKI :
1. Melakukan registrasi.
2. Mengesahkan standar pendidikan dokter.
3. Melakukan pembinaan praktik dokter.

RUANG LINGKUP
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Ketentuan Umum.
Azas dan Tujuan.
Konsil Kedokteran.
Standar Pendidikan Profesi Dokter.
Pendidikan dan Pelatihan.
Registrasi dokter.
Penyelenggaran Praktik Kedokteran.
Disiplin dokter.
Pembinaan dan Pengawasan.

Setiap unsur dalam UUPK dielaborasi lebih detil dan


dalam beberapa hal ada mandat tindak lanjut.

PENGATURAN PRAKTIK
KEDOKTERAN
Setiap dokter yang melakukan praktik :
Wajib memiliki SIP.
SIP diterbitkan oleh Dinas Kesehatan.
SIP diberikan maksimum untuk 3 tempat praktik.
Satu SIP untuk satu tempat.
Untuk memperoleh SIP harus :
1. Memiliki Surat Tanda Registrasi (STR).
2. Mempunyai tempat praktik.
3. Memiliki rekomendasi dari organisasi profesi.
SIP berlaku sepanjang :
1. STR masih berlaku.
2. Tempat praktik masih sesuai.

PRAKTIK KEDOKTERAN (1)


Diselenggarakan berdasarkan kesepakatan atara
dokter dan pasien.
Wajib memasang papan nama.
Pimpinan sarana pelayanan kesehatan hanya
boleh memperkerjakan dokter yang memiliki SIP.
Pimpinan harus membuat daftar dokter yang
berpraktik
Wajib mengikuti standar pelayanan kedokteran.

PRAKTIK KEDOKTERAN (2)


Setiap tindakan harus mendapat persetujuan
setelah pasien mendapat penjelasan
lengkap.
Setiap tindakan yang mengandung risiko
harus diberikan dengan persetujuan tertulis.
Wajib membuat rekam medis yang harus
dilengkapi setelah pasien selesai menerima
pelayanan.

PRAKTIK KEDOKTERAN (3)


.

Dokuman RM merupakan milik dokter atau sarana


pelayanan kesehatan, sedangkan isi RM
merupakan milik pasien.
Setiap dokter wajib menyimpan rahasia
kedokteran ; hanya boleh dibuka untuk
kepentingan pasien, permintaan penegak hukum,
permintaan pasien dan perintah undang-undang.

HAK DOKTER
1. Memperoleh perlindungan hukum sepanjang
melaksanakan tugas sesuai standar profesi
dan standar prosedur operasional.
2. Memberikan pelayanan medis menurut standar
profesi dan standar prosedur operasional.
3. Memperoleh informasi yang lengkap dan jujur
dari pasien atau keluarganya.
4. Menerima imbalan jasa.

KEWAJIBAN DOKTER
1.
2.

3.
4.

5.

Memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan


standar prosedur operasional.
Merujuk pasien ke dokter lain yang mempunyai keahlian atau
kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan
suatu pemeriksaan dan pengobatan.
Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien,
bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia.
Melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan,
kecuali apabila ia yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu
melakukannya.
Menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu
kedokteran.

HAK PASIEN
1. Mendapatkan penjelasan secara
lengkap tentang tindakan medis.
2. Meminta pendapat dokter lain.
3. Mendapatkan pelayanan sesuai
dengan kebutuhan medis.
4. Menolak tindakan medis.
5. Mendapatkan isi rekam medis.

KEWAJIBAN PASIEN
1. Memberikan informasi lengkap dan
jujur tentang masalah kesehatan.
2. Mematuhi nasihat dan petunjuk dokter.
3. Mematuhi ketentuan yang berlaku di
sarana pelayanan kesehatan.
4. Memberikan imbalan jasa atas
pelayanan yang diterima.

DISIPLIN DOKTER
Untuk menegakkan disiplin dokter
dalam menyelenggarakan praktik
kedokteran dibentuk Majelis
Kehormatan Disiplin Kedokteran
Indonesia (disingkat MKDKI).

MKDKI (1)
1. Merupakan lembaga otonomi KKI.
2. Dalam menjalankan tugasnya bersifat
independen.
3. Bertanggung jawab kepada KKI.
4. Berkedudukan di ibu kota negara RI.
5. Dapat mengusulkan kepada KKI untuk
membentuk MKDK daerah.
6. Keanggotaanya terdiri dari 3 dokter, 3
dokter gigi dan 3 sarjana hukum.

MKDKI (2)
7. Keanggotaannya ditetapkan oleh Menteri
atas saran organisasi profesi.
8. Masa bhakti lima tahun.
9. Tugas :
a. Menerima pengaduan, memeriksa dan
memutuskan kasus pelanggaran disiplin
dokter.
b. Menyusun pedoman dan tata cara
penanganan kasus pelanggaran disiplin
dokter.

PENGADUAN (1)
Setiap orang yang mengetahui atau kepentingannya
dirugikan atas tindakan dokter dalam menjalankan
praktik kedokteran dapat mengadukan secara tertulis
kepada Ketua MKDKI.
MKDKI memeriksa dan memberikan keputusan terhadap
pengaduan yang berkaitan dengan disiplin dokter.
Apabila dalam pemeriksaan ditemukan pelanggaran
etika, MKDKI meneruskan pengaduan kepada
organisasi profesi.

PENGADUAN (2)
Keputusan MKDKI mengikat dokter, dokter gigi dan KKI.
Keputusan dapat berupa :
1. Dinyatakan tidak bersalah, atau
2. Pemberian sanksi disiplin.
Sanksi disiplin dapat berupa :
1. Pemberian peringatan tertulis.
2. Rekomendasi pencabutan STR atau SIP, dan
atau
3. Kewajiban mengikuti pendidikan atau
pelatihan.

PENGADUAN (3)

Pengaduan atas adanya dugaan


pelanggaran disiplin pada saat
belum terbentuknya MKDKI
ditangani oleh Kepala Dinas
Kesehatan Propinsi di tingkat
pertama dan Menteri pada tingkat
banding.

KETENTUAN PIDANA (1)


Sanksi hukuman pidana penjara dan atau denda dapat
diberikan kepada mereka yang :
1. Melakukan praktik tanpa memiliki STR.
2. Melakukan praktik tanpa SIP.
3. Menyalahgunakan gelar dokter oleh yang
tidak berhak.

KETENTUAN PIDANA (2)


4. Menggunakan alat, metoda dll yang ingin
mengesankan penggunanya seolah-olah
dokter.
5. Tidak memasang papan nama, tidak
membuat RM dan tidak memenuhi
kewajiban.
6. Memperkerjakan dokter dan dokter gigi
yang tidak memiliki SIP.

KETENTUAN PIDANA (2)


Pasal-pasal tentang
Ketentuan Pidana ini telah
diamandemen
oleh Majelis Konstitusi
dan mengganti sanksi pidana
dengan sanksi administrasi.

TANTANGAN UNTUK
ORGANISASI PROFESI
Proaktif dan memberikan masukan terhadap :
Pembentukan KKI.
Membuat 6 Peraturan KKI.
Membuat 8 Peraturan Menteri.
Membuat Standar :
1. Pendidikan profesi.
2. Kompetensi dokter.
3. Pelayanan kedokteran.
4. Profesi.
5. Prosedur Operasional.

UU No 35/2009
TENTANG NARKOTIKA
Narkotika
Zat/obat yang berasal dari tanaman
atau bukan tanaman (sintetis/
semisintetis) yang dapat menyebabkan :
=> Penurunan/perubahan kesadaran
=> Hilangnya rasa
=> Mengurangi/menghilangkan rasa nyeri
=> Dapat menimbulkan ketergantungan
Dibedakan kedalam Gol I, II, III.

UU No 35/2009
TENTANG NARKOTIKA

Prekursor Narkotika

Prekursor Narkotika adalah zat atau bahan


pemula atau bahan kimia yang dapat digunakan
dalam pembuatan Narkotika yang dibedakan
dalam tabel sebagaimana
terlampir dalam Undang-Undang ini.
Dibedakan dalam Tabel I (14 jenis) dan
Tabel II (9 jenis).

NARKOTIKA (2)
Gol I (ada 65 jenis) Hanya untuk
kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan
dan dilarang untuk kepentingan lain.
Gol II (ada 86 jenis) dan III (ada 14 jenis)
Yang berupa bahan baku dapat diedarkan tanpa
wajib daftar pada Kemkes.

NARKOTIKA (2)
Tujuan UU :

Menjamin ketersediaan untuk pelayanan


kesehatan dan ilmu pengetahuan.
Mencegah penyalah gunaan.
Memberantas peredaran gelap.
menjamin pengaturan upaya rehabilitasi
medis dan sosial bagi Penyalah Guna dan
pecandu Narkotika.

NARKOTIKA (3)
Kandungan isi : 17 bab, 155 pasal, 2 lampiran.
Ruang lingkup : Umum, Dasar-Asas-Tujuan,
Pengadaan, Impor/Ekspor, Peredaran, Label
dan Publikasi, Prekursor Narkotika, Pengobatan
dan Rehabilitasi, Pembinaan dan Pengawasan,
Pencegahan dan Pemberantasan, PenyidikanPenuntutan-Pemeriksaan di Sidang Pengadilan,
Peran serta masyarakat, Penghargaan,
Ketentuan Pidana, Ketentuan Peralihan,
Ketentuan Penutup.
Lampiran : I dan II.

NARKOTIKA (4)
Gol I :
Papaver somniferum L (kecuali bijinya)
Opium mentah
Opium masak
Tanaman koka (Erythroxylaceae)
Daun koka
Kokain mentah
Kokaina (Metil-ester-l-bensoil-ekgonina)
Tanaman ganja dan derivatnya

NARKOTIKA (4)
Gol I :
Asetorfina dan derivatnya
Fentanyl dan derivatnya
Desmorfina

Etorfina
Heroina (diasetil morfina)
MPPP (metil-fenil-piperidinol-propionat)
Ketobemidona
PEPAP

NARKOTIKA (4)
Gol I :
Brolamfetamin (DOB)
DET
DMA
DMHP
DMT
DOET
ETISIKLIDINA
ETRIPTAMINA
KATINONA

NARKOTIKA (4)
Gol I :
LSD-25
MDMA
Meskalina
METKATINONA

4- metilaminoreks
MMDA

N-etil MDA (metilendioksi)fenetilamin


N-hidroksi MDA
Paraheksil

LISERGIDA

NARKOTIKA (4)
Gol I :
psilosina, psilotsin
PSILOSIBINA
ROLISIKLIDINA
PHP,PCPY
STP, DOM
TENAMFETAMINA
MDA
TENOSIKLIDINA

PMA

NARKOTIKA (4)
Gol I :
TCP
TMA
AMFETAMINA
DEKSAMFETAMINA
metilfenetilamina
FENETILINA
FENMETRAZINA

NARKOTIKA (4)
Gol I :
FENSIKLIDINA
LEVAMFETAMINA
Levometamfetamina
MEKLOKUALON
METAMFETAMINA
METAKUALON
ZIPEPPROL
piperazinetano
Campuran atau sediaan opium obat dengan
bahan lain bukan narkotika

NARKOTIKA (5)
Gol II :
Morfina dan derivatnya
Ekgonina
Furetidin
Fentanil
Metadona
Metopon
Opium
Petidina
Garam-garam tersebut diatas.

NARKOTIKA (6)
Gol III :
Kodeina
Derivat kodeina
Campuran Opium dan
bahan lain
Campuran
narkotika lain dan bahan
lain
Etil-morfina
Dihidrokodeina.

UU No 35 Tahun 2009
Tentang Narkotika
Sejak 12 Oktober 2009, UU No 22 Tahun 1997
tentang Narkotika dan Lampiran mengenai jenis
Psikotropika Golongan I dan Golongan II
sebagaimana tercantum dalam Lampiran UU No
5 Tahun 1997 tentang Psikotropika yang telah
dipindahkan menjadi Narkotika Golongan I
menurut UU ini, dicabut dan dinyatakan tidak
berlaku.
UU baru ini terdiri dari 155 pasal.

UU No 5/1997
TENTANG PSIKOTROPIKA
Psikotropika zat/obat alamiah/sintetis bukan
narkotika, berkhasiat psikoaktif melalui
pengaruh selektif pada SSP yang menyebabkan
perubahan khas pada aktivitas mental dan
perilaku, berpotensi mengakibatkan sindroma
ketergantungan
Penggunaan : hanya untuk kepentingan
pelayanan kesehatan dan ilmu pengetahuan
terbatas (Gol I barang terlarang dan dilarang
diproduksi).

PSIKOTROPIKA (2)
Tujuan UU : Menjamin ketersediaan untuk
pelayanan kesehatan dan ilmu pengetahuan,
mencegah penyalah-gunaan, memberantas
peredaran gelap
Kandungan : 16 bab, 74 pasal
Ruang lingkup : Umum, Tujuan, Produksi,
Peredaran, Ekspor-Impor, Label dan Iklan,
Kebutuhan, Penggunaan ,Pemantauan,
Pembinaan/Pengawasan, Pemusnahan,
Penyelidikan, Ketentuan Pidana.

PSIKOTROPIKA (3)
Gol I :

Brol Amfetamin dan derivatnya (DOB,


DET, DMA, DMHP, DMT, DOET)

Etisiklidina (PCE)

Lisergida dan derivatnya (LSD-25,


MDMA, Meskalin)

Metkatinona (MMDA, MDA lain)

Psilosibina

Rolisiklidina (PHP, PCPY, STP, DOM)


Tenosiklidina (TCP, TMA)

PSIKOTROPIKA (4)
Gol II :
Amfetamin dan derivatnya (Met--, Lev--)
Fenetilin
Fenmetrazin
Fensiklidin
Sekobarbital, Amobarbital, dll.
Gol III :
Flunitazepam
Norpseudoefedrin
Pentobarbital
Siklobarbital.

PSIKOTROPIKA (5)
Gol IV :
Allobarbital dan --tal lain
Alprazolam dan --lam lain
Bromazepam, Diazepam dan
--pam
lain
Etil amfetamin
Klordiazepoksida
Meprobamat

UU NO 8 TAHUN 1999

TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN


PASIEN MERUPAKAN KONSUMEN
Konsumen adalah setiap orang pemakai produk
barang dan jasa (Pasal 1 ayat 2 UUPK)
Produk barang : Obat, suplemen makanan,
alat kesehatan
Produk jasa
: Jasa pelayanan dokter/drg,
jasa asuransi kesehatan.

UU NO. 8 TAHUN 1999


HAK KONSUMEN SEBAGAI PASIEN
MENURUT UUPK
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Kenyamanan, keamanan dan keselamatan.


Memilih.
Informasi yang benar-jelas-jujur.
Didengar pendapat dan keluhannya.
Mendapatkan advokasi, pendidikan dan perlindungan
konsumen.
Dilayani secara benar, jujur dan tidak diskriminatif.
Memperoleh kompensasi, ganti-rugi dan/atau penggantian.
Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lain.

UU NO. 8 TAHUN 1999


KEWAJIBAN PASIEN SEBAGAI KONSUMEN
1. Membaca atau mengikuti petunjuk, informasi dan
prosedur.
2. Beritikad baik.
3. Membayar sesuai nilai tukar yang disepakati.
4. Mengikuti upaya penyelesaian sengketa
perlindungan konsumen secara patut.

UU NO. 8 TAHUN 1999


PENILAIAN KONSUMEN TERHADAP
JASA PELAYANAN KESEHATAN
1.
2.
3.
4.
5.

Tangibles (bukti langsung dan nyata) meliputi fasilitas fisik,


perlengkapan, tenaga kesehatan dan sarana komunikasi.
Reliability (kehandalan) yaitu kemampuan memberikan
pelayanan yang dijanjikan dengan segera dan memuaskan.
Responsiveness (daya tanggap) yaitu keinginan tenaga
kesehatan untuk membantu pasien/konsumen dan
memberikan pelayanan dengan tanggap.
Assurance (jaminan) mencakup kemampuan, kesopanan,
sifat dapat dipercaya yang dimiliki tenaga kesehatan dan
bebas dari resiko bahaya atau keragu-raguan.
Emphaty (empati) meliputi kemudahan dalam melakukan
hubungan, komunikasi yang baik dan memahami kebutuhan
pasien/konsumen.

UU NO. 8 TAHUN 1999


HARAPAN KONSUMEN DALAM
MEMPEROLEH PELAYANAN KESEHATAN
1. Kenyamanan, keamanan dan keselamatan.
2. Memilih.
3. Informasi yang benar-jelas-jujur.
4. Didengar pendapat dan keluhannya.
5. Dilayani secara benar, jujur dan tidak diskriminatif.
6. Memperoleh kompensasi, ganti-rugi dan/atau penggantian
dalam hal tenaga kesehatan terbukti melakukan kesalahan.
7. Memberikan persetujuan.
8. Rahasia kedokteran.
9. Pendapat kedua (second opinion).
10. Hubungan kesetaraan antara Pemberilayanan dengan
Konsumen.

UU NO. 8 TAHUN 1999


CONTOH KASUS PENGADUAN
TERHADAP TENAGA KESEHATAN
MELALUI YPKKI (YAYASAN PEMBERDAYAAN KONSUMEN
KESEHATAN INDONESIA)
1.
2.
3.
4.

Pengangkatan ginjal pasien berumur 17 tahun tanpa


informasi kepada keluarganya.
Catheter tertinggal dalam tubuh pasien bedah ESWL selama
2,5 tahun.
Kain kasa tertinggal saat operasi Caesar.
Pasca operasi usus buntu tanpa pengawasan dokter, pasien
mengalami komplikasi Pyoderma Gangrenosa sehingga harus
dilakukan operasi Skin Graft (peneneman kulit).

UU NO. 8 TAHUN 1999


CONTOH KASUS PENGADUAN (2)
5.
6.
7.
8.

Komplikasi jantung akibat suntik lemak oleh dokter umum


bersertifikat perawatan kulit tingkat dasar dan lanjut.
Pemberian obat untuk obesitas yang menimbulkan ketagihan
/adiksi pada pasien .
Operasi payu dara hingga empat kali tanpa persetujuan
medis.
Wajah menjadi keloid akibat proses pelaseran.

UU NO. 8 TAHUN 1999


CONTOH KASUS PENGADUAN (3)
9.
10.
11.
12.

Dokter khilaf, vaksin BCG pada bayi dilakukan sebanyak dua


kali.
Apotiker mengganti resep obat generik menjadi obat paten
tanpa sepengetahuan dokter.
Adanya kerjasama antara pabrik obat dengan rumah sakit
dengan sistem target.
Pasien miskin disandera, apakah rumah sakit sudah berubah
fungsinya menjadi Rumah Sandera ?
------- Sebagian besar kasus tersebut dapat diselesaikan
secara Mediasi, hanya 2 kasus yang ke Pengadilan.

MEDICAL JURISPRUDENCE

Medical jurisprudence has been


defined as that branch of state
medicine which treats of the application
of medical knowledge to certain
questions of civil and criminal law.

The term medical jurisprudence, though


sanctioned by long usage, is not really
appropriate, since the subject is strictly a
branch of medicine rather than of
jurisprudence (as lawyers understand the
word); it does not properly include sanitation
or hygiene, both this and medical
jurisprudence proper being distinct branches
of state medicine.

In its widest sense, medical jurisprudence also


includes forensic medicine. The connection between
medicine and the law is ancient, and was perceived
long before medical jurisprudence was formally
recognized, or had obtained a distinct appellation. It
first took its rise in Germany, and more tardily
received recognition in Great Britain and elsewhere.
(Chisholm, Hugh, ed (1911). Encyclopdia
Britannica (Eleventh ed.). Cambridge University
Press).

MEDICAL JURISPRUDENCE
Medical jurisprudence: The branch of the
law that deals with the application of law to
medicine or, conversely, the application of
medical science to legal problems. Medical
jurisprudence may be involved in cases
concerning genetic relationships (eg,
paternity testing) or injury or death resulting
from violence.

An autopsy may be done to help determine


the agent of death (eg, a gun shot, poison)
and how long the person has been dead.
Forensic medicine is also important in cases
involving rape. Modern techniques use such
specimens as semen, blood, and hair to
identify the body of a victim and to compare
the DNA of the criminal to that of the
defendant through DNA fingerprinting.

MEDICAL JURISPRUDENCE
Medical Jurisprudence, also called Legal Medicine,
science that deals with the relation and application
of medical facts to legal problems. Medical
persons giving legal evidence may appear before
courts of law, administrative tribunals, inquests,
licensing agencies, boards of inquiry or
certification, or other investigative bodies.

MEDICAL JURISPRUDENCE
Kasus baru yang belum ada dasar
hukumnya dalam UU atau Ketentuan lain
Biasanya Hakim memutuskan berdasarkan
hati nuraninya dengan mempertimbangkan
bukti-bukti kedokteran di Pengadilan.
Keputusan Hakim ini menjadi Medical
Jurisprudence untuk boleh diterapkan bagi
kasus-kasus lain yang serupa yang akan
muncul di kemudian hari.

MEDICAL JURISPRUDENCE
Karen Ann Quinlan (March 29, 1954 June 11,
1985) was an important person in the history of the
right to die controversy in the United States.
When she was 21, Quinlan became unconscious
after coming home from a party. She had consumed
diazepam, dextropropoxyphene, and alcohol. After
she collapsed and stopped breathing twice for 15
minutes or more, the paramedics arrived and took
Karen Ann to the hospital,
where she lapsed into a persistent vegetative state.

MEDICAL JURISPRUDENCE
After she was kept alive on a ventilator for several
months without improvement, her parents requested
the hospital discontinue active care and allow her to
die. The hospital refused, and the subsequent legal
battles made newspaper headlines and set
significant precedents. The tribunal eventually ruled
in her parents' favor.
Although Quinlan was removed from mechanical
ventilation during 1976, she lived on in a persistent
vegetative state for almost a decade until her death
from pneumonia in 1985.

Legal cases in medical ethics :


Andrew Bedner Betancourt v. Trinitas Tony Bland
Mordechai Dov Brody Coleman v. Lantz Betty and
George Coumbias Dax Cowart Carol Carr Nancy
Cruzan Doctors' Trial Eluana Englaro Tirhas
Habtegiris June Hartley Rom Houben Sun Hudson
case Baby K Jack Kevorkian Jesse Koochin
Robert Latimer Moore v. Regents of the University of
California Spiro Nikolouzos Giovanni Nuvoli Karen
Ann Quinlan Sue Rodriguez Ramn Sampedro Terri
Schiavo case Tuskegee syphilis experiment Jana Van
Voorhis Piergiorgio Welby Willowbrook State School

Referensi :
1.
2.
3.
4.

KUHAPidana.
KUHPidana.
KUHPerdata.
UU No 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan.
5. UU No 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen.

6. UU No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.


7. UU No 5 Tahun 1997 tentang
Psikotropika.
8. UU No 29 Tahun 2004 tentang Praktik
Kedokteran.
9. UU No 44 Tahun 2009 tentang Rumah
Sakit.
10. Publikasi dan Artikel lain.