Anda di halaman 1dari 10

PENDAHULUAN

Latar belakang
Pertambahan jumlah penduduk Indonesia, peningkatan taraf hidup kesejahteraan
masyarakat dan peningkatan kesadaran akan pentingnya kesehatan dan

nilai gizi

menyebabkan keperluan akan bahan asal hewan sebagai sumber protein juga semakin
meningkat. Sehubungan dengan hal tersebut pemerintah telah berusaha mengembangkan
berbagai usaha di bidang peternakan antara lain ternak sapi, unggas, babi, kambing dan
domba.
Dalam peningkatan produktifitas sapi secara keseluruhan maka dapat ditinjau dari
beberapa aspek yang mempengaruhi produktifitas sapi tersebut. Salah satu cara untuk
mendapatkan hasil produksi yang maksimal yaitu dengan memperbaiki kualitas dari
pejantan dengan dilakukan perbaikan mutu dari spermatozoa pejantan tersebut. Dari
beberapa penelitian-penelitian yang dilakukan ada beberapa macam perlakuan-perlakuan
yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas spermatozoa seperti penambahan maltosa
atau laktosa yang diambil dari cauda epididimis. Namun beberapa faktor yang
kemungkinan besar terjadi dapat mempengaruhi kualitas dari spermatozoa tersebut. Hal ini
disebabkan oleh faktor lingkungan serta kesehatan dari pejantan tersebut.
Menurut Rizal (2005), upaya pengolahan spermatozoa yang dikoleksi dari cauda
epididimis dalam bentuk semen cair atau semen beku untuk keperluan aplikasi berbagai
teknologi reproduksi, menjadi metode alternatif yang dapat di terapkan pada hewan atau
ternak yang memiliki kualitas genetik yang unggul tetapi tidak dapat ditampung semennya.
Cauda epididimis merupakan sumber alternatif spermatozoa yang belum
mendapatkan banyak perhatian. Spermatozoa yang berasal dari cauda epididimis telah
mengalami pematangan pada bagian caput epididimis dan corpus epididimis, sehingga

diharapkan memiliki kualitas yang sama dari spermatozoa yang di koleksi dari hasil
ejakulasi.
Rumusan masalah
Kematian ternak unggul secara mendadak dan jauh dari tempat pengolahan semen,
maka penyimpanan cauda epididimis menjadi salah satu solusi alternatif dalam upaya
pelestarian sumber genetik yang unggul dari ternak jantan tersebut. Cauda epididimis
merupakan tempat penyimpanan spermatozoa yang matang dan siap untuk membuahi
sebelum terjadi ejakulasi pada ternak. Sapi jantan setelah pemotongan yang kurang lebih
satu jam pasca pemotongan harus segera dilakukan pemisahan cauda epididimis untuk
mendapatkan semen segar yang masih tersimpan didalamnya. Spermatozoa yang hasil dari
koleksi dari cauda epididimis segera setelah pemotongan kurang lebih satu jam, layak
untuk diolah menjadi semen segar dan semen beku, dengan nilai konsentrasi rata-rata
4.000 juta sel/ml sedangkan motilitas dari spermatozoa tersebut mencapai >70% dan
membran plasma utuh (MPU) >80%, dan abnormalitas hanya 13% dari jumlah
spermatozoa yang ada. Semen yang digunakan dalam program inseminasi buatan (IB)
harus memiliki motilitas spermatozoa paling sedikit 40%.
Kerusakan spermatozoa yang terjadi saat preservasi pada suhu rendah merupakan
kendala utama dalam upaya mempertahankan kualitas semen. Dalam beberapa penelitan
yang dilakukan untuk mengurangi kerusakan spermatozoa yang disebabkan oleh
perubahan yang terjadi dalam proses preservasi pada suhu rendah dapat dilakukan dengan
menambahkan beberapa zat dalam media pengencer diantaranya maltosa atau laktosa.

PEMBAHASAN
Sperma
Sperma secara umum dapat di simpan dan dibekukan untuk waktu yang relatif
lama. Daya tahan hidup spermatozoa sangat di pengaruhi oleh media pengencer. Hal ini
sesuai dengan pendapat (Hawk 1965) yang mengatakan bahwa Daya tahan hidup
spermatozoa dalam semen yang diencerkan diantaranya dipengaruhi oleh jenis pengencer
yang terdiri atas pengencer anorganik (bahan kimia seperti Tris, Na-Sitrat, Na-fosfat dan
lain-lain) dan pengencer organik (bahan alami seperti air susu, santan kelapa, dan air
kelapa).
Kualitas Spermatozoa
Kualitas spermatozoa dievaluasi setelah koleksi (spermatozoa segar) serta setelah
pengenceran dan preservasi. Kualitas spermatozoa yang dievaluasi pada tahap spermatozoa
segar adalah: konsentrasi spermatozoa, persentase motilitas, persentase hidup, persentase
abnormalitas, persentase butiran sitoplasma, dan persentase membrane plasma utuh (MPU)
spermatozoa. Evaluasi terhadap spermatozoa yang telah diencerkan dan dipreservasi
meliputi: persentase motilitas, persentase hidup, dan persentase MPU spermatozoa.
Persentase motilitas adalah persentase spermatozoa yang bergerak progresif
(bergerak ke depan). Dievaluasi secara subjektif pada delapan lapang pandang yang
berbeda dengan mikroskop cahaya pembesaran 400x (Rasul et al., 2001). Angka yang
diberikan berkisar antara 0 dan 100% dengan skala 5%.
Persentase hidup adalah persentase spermatozoa yang hidup. Dievaluasi dengan
pewarnaan eosin 2% (Toelihere, 1981). Spermatozoa yang hidup ditandai oleh kepala

berwarna putih, sedangkan yang mati ditandai oleh kepala berwarna merah. Minimal
sebanyak 200 spermatozoa dievaluasi dengan mikroskop cahaya pembesaran 400x.
Persentase MPU adalah persentase spermatozoa yang memiliki membran plasma
utuh. Dievaluasi dengan metode osmotic resistance test (ORT) atau hypoosmotic swelling
(HOS) test (Revell dan Mrode, 1994). Komposisi larutan hipoosmotik terdiri atas: 0,9 g
fruktosa + 0,49 g natrium sitrat yang dilarutkan dengan akuabidestilata hingga mencapai
volume 100 ml. Sebanyak 200 ml larutan hipoosmotik ditambahkan dengan 20 ml semen
dan dicampur hingga homogen kemudian diinkubasi pada suhu 37oC selama 45 menit.
Preparat ulas tipis yang dibuat pada gelas objek dievaluasi dengan mikroskop cahaya
pembesaran 400x terhadap minimum 200 spermatozoa. Spermatozoa yang memiliki
membran plasma utuh ditandai oleh ekor melingkar atau menggelembung, sedangkan yang
rusak ditandai oleh ekor lurus.
Media Pengencer
Setiap bahan pengencer yang baik harus dapat memperlihatkan kemampuannya
dalam memperkecil tingkat penurunan nilai motilitas (gerak progresif) sperma sehingga
pada akhirnya memperpanjang lama waktu penyimpanan setelah pengenceran. Tidak
semua bahan

pengencer

memperlihatkan kemampuan

yang sama

baik dalam

mempertahankan spermatozoa dari setiap bangsa ternak yang sama atau berbeda di daerah
yang sama ataupun daerah yang berbeda (Soelihati dan Kune, 2006).
Setiap bahan pengenceran yang baik harus dapat memperlihatkan kemampunnya
dalam memperkecil tingkat penurunan nilai motilitas (gerak progresif) sperma sehingga
pada akhirnya memperpanjang lama waktu penyimpanan setelah pengenceran. Tidak
semua bahan

pengencer

memperlihatkan kemampuan

yang sama

baik dalam

mempertahankan spermatozoa dari setiap bangsa ternak yang sama atau berbeda di daerah
yang sama ataupun daerah yang berbeda (Soelihati dan Kune, 2006).

Fungsi pengencer adalah untuk memperbanyak volume semen, melindungi


spermatozoa terhadap cold shock selama pembekuan, menyediakan zat makanan,
menyediakan buffer sebagai penetrasi asam laktat yang diproduksi oleh aktivitas
metabolisme

spermatozoa

dan

mencegah

kemungkinan

pertumbuhan

kuman

(Partodihardjo,1992).
Pengenceran harus isotonik terhadap spermatozoa, karena pengencer yang
hipotonik dan hipertonik akan merubah trasfer air melalui membran sel dan dapat merusak
integritas membran sel spermatozoa (Bearden dan Faquay, 1992).
Bahan Pengencer Semen
Pengencer adalah penambahan volume semen yang baru diejakulasikan dari seekor
pejantan dengan pengencer agar dapat digunakan untuk menginseminasi sejumlah sapi
betina (Rachim dkk., 2007). Setiap bahan pengencer yang digunakan harus memenuhi
persyaratan yaitu sebagai sumber atau suplai energi (glukosa, fruktosa dan galktosa)
sebagai buffer atau penyangga terhadap asam laktat dan sisa metabolit (sodium, sitrat,
fosfat, trisaminometahne) sebagai pelindung terhadap cold shock, memiliki tekanan
osmosis yang sama dengan semen, mampu menghambat pertumbuhan mikroorganisme,
menahan volume sehingga dapat digunakan untuk kegiatan inseminasi buatan, bahan
pengencer murah/ekonomis, mudah didapat dan relatif mudah menggunakannya secara
rutin (Rachim dkk., 2007).
Beberapa contoh bahan pengencer dan komposisi bahan yang dibutuhkan untuk
pengencer semen yaitu:

1. Fosfat kuning telur


Fosfat kuning telur terdiri atas satu bagian kuning telur segar dan satu bagian
penyanggah fosfat yang terdiri atas 2 gr Na2HPO4.12H2O, 0,2 gr KHPO4 dilarutkan dalam
100 ml akuades. Derajat keasaman (pH) 6,7 sampai 6,8 (Utomo dkk., 2009).
2. Sitrat kuning telur
Sitrat kuning telur terdiri atas satu bagian kuning telur yang dicampur dengan satu
bagian Sitrat Natrikus yang terdiri atas 2,9 gr Na3C6H5O7.2H2O yang dilarutkan dalam 100
ml akuades (Utomo dkk., 2009).
3. Air susu pengencer
Pengenceran air dengan susu akan berhasil baik dengan perbandingan pengenceran
1 : 25. Air susu mentah mengandung bahan yang bersifat racun terhadap spermatozoa yaitu
adanya lactenin yang merupakan zat anti streptococcus pada air susu. Air susu juga
mengandung beberapa enzim yang hancur pada saat pemanasan. Pemanasan air susu di
atas 800 C akan menyebabkan terlepasnya Sulfiidril (-SH) yang berfungsi sebagai zat
reduktif yang mengatur metabolisme oksidatif spermatozoa. Adanya cystein hydrochlorida
dalam air susu mentah akan secara langsung menghambat atau meniadakan tosisitas
laktenin yang sama dengan gugus SH yang dilepaskan dari protein susu dengan jalan
pemanasan 87-970C selama 10 menit (Utomo dkk., 2009).
4. Air kelapa
Air kelapa merupakan sumber energi bagi spermatozoa namun sebagai larutan
penyanggah masih diperlukan kajian maupun riset yang lebih mendalam. Air kelapa hijau
dibandingkan dengan jenis kelapa lain banyak mengandung tanin atau antidotum (anti
racun) yang paling tinggi kandungan zat kimia lain yang menonjol yaitu pada air kelapa
antara lain asam askorbat atau vitamin C, protein, lemak, hidrat , kalsium atau potasium.
Mineral yang terkandung pada air kelapa ialah zat besi, fosfor dan gula yang terdiri dari
glukosa, fruktosa dan sukrosa. Kadar air yang terdapat pada buah kelapa sejumlah 95,5 gr
dari setiap 100 gr (Utomo dkk., 2009).
5. Andromed
6

Andromed merupakan salah satu pengencer komersial berbahan dasar Tris yang
tidak menggunakan sumber protein asal hewan yang menjadi andalan untuk pengencer
semen beku sapi. Andromed merupakan bahan pengencer komersial terdiri dari
phospholipid, tris-(hydroxymethil) aminomethan, asam sitrat, fruktosa, glyserol, tylosine
tart rat, gentamycin sulfat, spectinomycin dan lincomicin yang biasa digunakan untuk
pembuatan semen beku sapi (Anonim, 2001).
Kualitas Spermatozoa yang dikoleksi dari cauda epipidemis
Pada makalah ini menggunakan 4 perlakuan dari penelitian Labetubun J, dkk
(2011) dan Gunawan M, dkk. (2004) sebagai berikut:
AK-KT

= pengencer air kelapa - Kuning Telur

Andromed = Pengencer andromed


L0,6

= pengencer tris + 0,6 g laktosa/100 ml

M0,6

= Pengencar tris + 0,6 Maltosa/100 ml

Tabel 1. Rataan Persentase hidup, dan Persentase MPU spermatozoa sapi potong
sebelum dibekukan.
Perlakuan

Persentase Hidup

Persentase MPU

AK-KT
67,40
55,44
Andro meda
64,62
70,33
b
L0,6
86,60 0,98
85,60 0,54
M0,6b
85,80 0,98
86,40 0,80
sumber a = Jusak Labetubun; Isak Piter Siwa. (2011)
b = M. Gunawan, F. Afiati, E.M. Kaiin, S.Sain dan B. Tappa. (2004)
Pada tabel 1 diatas dapat dilihat bahwa motilitas sperma pada beberapa penggunaan
penggencer menunjukkan nilai antara 70,83-75,00%. Ini masih dikatakan layak untuk
diproses menjadi semen beku, hal ini sesuai dengan pendapat Toelihere (1985) yang
menyatakan bahwa motilitas sperma cair yang akan dibekukan adalah 70%. Pada
Persentase sel hidup spermatozoa dapat dilihat dari keempat perlakuan berkisar antara
64,62-86,60%, ini dikatakan masih bagus atau layak untuk dibekukan. Ini sesuai dengan
pendapat Toelihere (1985), yang menyatakan bahwa standar semen beku yang baik yaitu
persentase sel hidup spermatozoa 50%. Sedangkan pada persentase MPU dapat kita lihat
bahwa keempat perlakuan menunjukkan nilai antara 55,44 86,40, ini menunjukkan
bahwa persentase MPU pada perlakuan masih memenuhi standar kulitas semen beku. Hal
ini sesuai dengan pendapat ( Evan dan Maxwell, 1987), pengencer yang memenuhi standar
kulitas sperma beku yaitu mempunyai nilai MPU diatas 30%.

PENUTUP
Kesimpulan
Dengan Penambahan Laktosa dan Maltosa Kedalam Pengencer dapat mempertahankan
kualitas spermatozoa kauda epididimis dan memenuhi syarat untuk dimanfaatkan dalam
IB. Sedangkan pada pengencer AK-KT dan Andro med walaupun masih dibawah dari
kedua pengencer diatas tapi masih layak untuk dipakai sebagai media pengencer
alternative semen beku.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2001. Certificate Andromed. Minitub Abfullund Labortechnik GmbH
&Co KG. Germany.
Bearden, H.J.S dan Faquay, 1992. Applied Animal Reproduction. 2nd Edition Reston
Publishing Company Inc. A. Prentice-Hall Company. Reston Virginia.
Gunawan M, Afiati F, Kain EM, Said S, Tappa B,. 2001. Pengaruh Media Pengencer
Terhadap Kualitas Spermatozoa Beku sapi PO
Hawk, P.B., B.L. oscar and W.H. Summer Son. 1965. Practical Phisiologycal Chemistry.
Mc. Graw Hill Book Compagni. New York. Toronto London. pp. 1077-1103
Hafez ESE, Hafez B. 2000. Reproduction in Farm Animals 7th Edition. Baltimore.
Lippincott Williams & Wilkins. Pp 3-12.
Labetubun J, Siwa I.P,. 2011 Kualitas Spermatozoa Kauda Epididimis Sapi bali dengan
Penambahan Laktosa atau Maltosa yang Dipreservasi pada suhu 3-5o C
Partodiharjo, 1992. Ilmu Reproduksi Hewan. Mutiara Widya, Cetakan Ketiga, Jakarta.
Rasul Z, Ahmad N, Anzar M. 2001. Changes in Motion characteristics, plasma membrane
integrity and acrosome morphology during cryopreservation of buffalo spermatozoa. J
Androl 22: 278-283.
Rachim, A., R., Matilda, K., A Dan Todingan, L. 2007. Pedoman Produksi Semen Balai
Inseminasi Buatan Daerah. Direktorat Jendral Bina Produksi Peternakan, Jakarta.
Risal M. 2005. Fertilisasi Spermatozoa Ejakulat dan Epididimis Dombat Garut Hasil
Kriopreservasi Menggunakan Modifikasi Pengencer Tris dengan Berbagai
Krioprotektan dan Antioksidan. [Disertasi]. Bogor: InstitutPertanian Bogor.
Revell SG, Mrode RA. 1994. An osmotic resistance test for bovine semen. Anim Reprod
Sci 36: 77-86.
Soelihati. N., dan P. Kune. 2006. Pengaruh jenis pengencer terhadap motilitas dan daya
hidup spermatozoa semen cair sapi simental. Jurnal Ilmu Ternak Vol 6 (6): 7-18.
Toelihere, M.R. 1981. Inseminasi Buatan pada Ternak. Bandung: Angkasa. Hal 64-91
Toelihere, M.R. 1985. Inseminasi Buatan pada Ternak. Angkasa. Bandung
Toelihere M. R. 1993. Inseminasi Buatan pada Ternak. Penerbit Angakasa, Bandung.
Utomo, S., Suwarta, F., Rasminati, N., Rosningsih S. Dan Dewi, S.H.C. 2009.
Penyimpanan Sperma Dengan Aluminium Foil Dalam Lemari Pendingin Untuk
Pelestarian Genetik Kambing Peranakan Ettawa (PE) Di Kelompok Tani Mandiri
Kambing PE Dusun Nganggring, Desa Girikerto, Kec. Turi, Sleman. LPPM
Universitas Mercu Buana, Yogyakarta.
10