Anda di halaman 1dari 16

BAB II

TINJUAN PUSTAKA

A. Konsep Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dan dasar dari proses keperawatan.
Pengkajian merupakan tahap yang paling menentukan bagi tahap berikutnya.
Kemampuan mengidentifikasi masalah keperawatan yang terjadi pada tahap ini
akan menentukan diagnosis keperawatan. Selanjutnya, tindakan keperawatan dan
evaluasi mengikuti perencanaan yang dibuat. Oleh karena itu, pengkajian harus di
lakukan dengan teliti dan cermat sehingga seluruh kebutuhan perawatan pada
klien dapat di identifikasi. (Nikmatur Rohmah & Syaiful walid, 2012, hal.25).
Pengumpulan data merupakan kegiatan dalam menghimpun informasi (data-data)
dari pasien yang meliputi unsur biopsiko-sosio spiritual yang komprensif yaitu :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Identitas pasien dan keluarga.


Riwayat kesehatan sekarang dan sebelumnya.
Pola kebiasaan hidup sehari hari.
Riwayat kesehatan keluarga.
Riwayat kesehatan lingkungan.
Status psikologis / emosional.
Sosialisasi.
Latar belakang budaya / spritual.
2. Diagnosa Keperawatan
Menurut Nikmatur Rohmah & Syaiful walid (2012) mendefinisikan diagnosa
keperawatan :

a. Pernyataan yang menggambarkan respon manusia (keadaan sehat atau


perubahan pola interaksi aktual/potensial) dari individu atau kelompok tempat
perawat secara legal mengidentifikasi dan perawat dapat memberikan intervensi
secara pasti untuk menjaga status kesehatan atau untuk mengurangi,
menyingkirkan, atau mencegah perubahan.
b. Penilaian klinis tentang respon individu, keluarga, atau komunitas terhadap
masalah kesehatan atau proses kehidupan aktual ataupun potensial sebagai dasar
pemilihan intervensi keperawatan untuk mencapai hasil tempat perawat
bertanggung jawab.
3. Perencanaan atau Intervensi Keperawatan

Perencanaan adalah pengembangan strategi desain untuk mencegah,


mengurangi, dan mengatasi masalah-masalah yang telah di identifikasi dalam
diagnosis keperawatan. Desain perencanaan menggambarkan sejauh mana
perawat mampu menetapkan cara menyelesaikan masalah dengan efektif dan
efisien. (Nikmatur Rohmah & Syaiful walid, 2012, hal. 83).
4. Implementasi Keperawatan
Implementasi atau pelaksanaan adalah realisasi rencana tindakan untuk
mencapai tujuan yang telah di tetapkan. Kegiatan dalam pelaksanaan juga
meliputi pengumpulan data berkelanjutan, mengobservasi respon klien selama
dan sesudah pelaksanaan tindakan, serta menilai data yang baru. (Nikmatur
Rohmah & Syaiful walid, 2012, hal. 99).
5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah penilaian dengan cara membandingkan perubahan keadaan
pasien (hasil yang diamati) dengan tujuan dan kriteria hasil yang dibuat pada
tahap perencanaan. (Nikmatur Rohmah & Syaiful walid, 2012, hal. 105).
B. TINJAUAN TEORI
1.

Definisi
Tuberkolosis adalah penyakit paru paru yang menyerang perenkim paru-paru
yang disebabkan oleh Mycobacterium. Penyakit ini dapat juga menyebar ke bagian
tubuh lain seperti meningen, ginjal, tulang, dan nodus limfe. (Imran, Somantri:
2007)
Tuberkolosis adalah penyakit menular lansung yang disebabkan oleh kuman
TBC (mycobacterium tuberculosis). Sebgian besar kuman TBC menyerang paruparu, tetapi dapt jug mengenai organ tubuh lainya. Kuman ini berbentuk batang
mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan. Oleh karena
itu disebut juga basil tahan asam(BTA). Kuman TBC cepat mati dengan sinar
matahari lansun,tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam tempat yang gelap dan
lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dormant, tertidur lama selama
beberapa

tahun.

(Depkes

Republik

Indonesia

2002)pedoman

nasional

penangulangan tb
Tuberkulosis adalah infeksi saluran pernafasan bawah. Penyakit ini
disebabkan oleh mikroorganisme mycobacterium tuberkulosis, yang biasanya

ditularkan melalui inhalasi percikan ludah (doplet), dari satu individu ke individu
yang lainya, dan membentuk kolonisasi di bronkiolus atau alveolus. Kuman ini
juga dapat masuk melaui saluran pencernaan dan kulit. (Elizabeth J. Corwin. 2009
buku patofisiologi)
2.

Etiologi
Mycobacterium tuberculosis merupakan jenis kuman berbentuk batang
berukuran panjang 1-4 mm dengan tebal 0,3-0,6 mm. Sebagai besar komponen M.
Tuberkolosis adalah berupa lemak/lipid sehingga kuman mampu tahan terhadap
asam serta sangat tahan terhadap zat kimia dan faktor fisik. Mikroorganisme ini
adalah bersifat aerob yakni menyukai daerah yang banyak oksigen. Olek karena itu
tuberculosis senang tinggal di daerah apeks paru-paru yang kandung oksigenya
tinggi. Derah tersebut menjadi tempat yang kon dusif untuk penyakit tuberkulosis.

3.

Anatomi fisiologi sistem Pernafasan


Sistem pernapasan terutama berfungsi sebagai pergerakan oksigen (O2) dari
atmosfer menuju ke sel dan keluarnya karbon dioksida (CO2) dari sel ke udara
bebas. Anatomi sistem pernapasan terdiri dari serangkaian saluran yang di mulai
dari hidung, faring, laring, trakea, bronkus dan paru-paru yang dapat dilihat pada
gambar 2.1 dibawah ini

Gambar 2.1. Anatomi sistem pernapasan (Tortora, 2009)


Setelah mengetahui struktur dan fungsi dari sistem pernapasan, berikut ini
akan dijelaskan lebih rinci mengenai anatomi dan fisiologi dari organ-organ
pernapasan dan mekanisme pernapasan, khususnya anatomi dan fisiologi pada
paru-paru.
1. Organ-organ pernapasan

Sistem pernapasan terdiri dari hidung, paring, laring, trakea, bronkus dan
paru-paru yang akan diuraikan dibawah ini
a. Hidung
Hidung adalah bangunan berongga yang terbagi oleh sebuah sekat
ditengah menjadi rongga hidung kiri dan kanan. Masing-masing rongga di bagian
depan berhubungan keluar melalui nares (cuping hidung) anterior dan di belakang
berhubungan dengan bagian atas faring (nasofaring). (Tambayong, 2001)
b. Faring
Faring adalah suatu pipa muskular dibelakang rongga hidung dan mulut
dan didepan vertebra servikalis. Laring di bagi menjadi tiga bagian yaitu
nasofaring, orofaring dan laringofaring. (Scanlon, 2006)
c. Laring
Laring (kotak suara) bukan hanya jalan udara dari faring ke saluran napas
lainnya, namun juga menghasilkan sebagian besar suara yang dipakai untuk
berbicara dan bernyanyi. (Tambayong, 2006)
Laring mempunyai peran utama yaitu sebagai saluran udara, sebagai pintu
pengatur perjalanan udara pernafasan dan makanan (switching mechanism) serta
sebagian organ penimbul suara. Peran sebagai pengatur perjalanan udara
pernafasan dan makanan dilakukan oleh epiglotis sedangkan peran sebagai organ
penimbul suara dilakukan oleh pita suara (korda vokalis).
d. Trakea
Trakea disokong oleh cincin tulang rawan berbentuk seperti sepatu kuda
yang panjangnya kurang lebih 12,5 cm (5 inci). Permukaan posterior trakea agak
pipih dibandingkan disekelilingnya karena cincin tulang rawan didaerah tersebut
tidak sempurna, dan letaknya tepat didepan esofagus. (Price, 2005)
e. Bronkus dan Bronkiolus
Bronkus utama kanan lebih pendek dan lebih lebar dibandingkan dengan
bronkus utama kiri dan merupakan kelanjutan dari trakea yang arahnya hampir
vertikal. Sebaliknya bronkus utama kiri lebih panjang dan lebih sempit
dibandingkan dengan lobus utama kanan dan merupakan kelanjutan dari trakea.
(Price, 2005).
f. Paru-Paru
Menurut Syaifuddin (2006), Paru-paru adalah salah satu organ sistem
pernapasan yang sebagian besar terdiri dari gelembung (gelembung hawa,

alveoli) Banyaknya gelembung paru-paru ini kurang lebih 700.000.000 buah


(paru-paru kiri dan kanan), berada
didalam kantong yang dikelilingi oleh pleura parietalis dan viseralis
Berikut ini ditampilkan gambar bagian paru-paru yang dapat dilihat pada gambar
2.2 di bawah ini.

Gambar 2.2 Anatomi Paru-Paru (Tortora, 2009)


Menurut Smeltzer (2001) Paru-paru terdiri dari beberapa bagian antara
lain :
1) Pleura
Bagian terluar dari paru-paru dikelilingi oleh membran halus, licin,
yaitu pleura, yang juga meluas untuk membungkus dinding interior toraks
dan permukaan superior diafragma. Pleura parietalis melapisi toraks, dan
pleura viseralis melapisi paru-paru. Antara kedua pleura ini terdapat ruang,
yang disebut spasium pleura.
2) Mediastinum
Mediastinum adalah dinding yang membagi rongga toraks menjadi
dua bagian. Mediastinum terbentuk dari dua lapisan pleura.
3) Lobus
Setiap paru dibagi menjadi lobus-lobus. Lobus kiri terdiri atas
lobus bawah dan atas, sementara paru kanan mempunyai lobus atas,
tengah, dan bawah. Dapat dilihat pada Gambar 2.3 di bawah ini.

Gambar 2.3 Lobus Paru (Tortora, 2009)


4) Alveoli
Paru terbentuk oleh sekitar 300 juta alveoli, yang tersusun kluster
antara 15-20 alveoli (dapat dilihat pada gambar 2.4). Terdapat tiga jenis
alveolar. Sel-sel alveolar tipe I adalah sel epitel yang membentuk dinding
alveolar. Sel-sel alveolar tipe II, sel-sel yang aktif secara metabolik,
mensekresi surfaktan, suatu fospolipid yang melapisi permukaan dalam
dan mencegah alveolar agar tidak kolaps. Sel-sel alveolar tipe III adalah
makrofag yang merupakan sel-sel fagosit yang besar dan memakan benda
asing (mis. lendir, bakteri).

Gambar 2.4 Alveoli (Tortora, 2009)

4. Patofisiologi/patway
Infeksi diawali karen seseorang menghirup basil M. Tuberculosis. Bakteri
menyebar melalui jalan napas menuju alveoli lalu berkembang biak dan terlihat
bertumpuk. Perkembangan tuberculosis juga dapat menjangkau sampai ke are lain
paru-paru (lobus atas). Basil juga menyebar melalui limfe dan aliran darah
kebagian tubuh lain (ginjal, tulang, dan korteks serebri) dan area lain dari paruparu (lobus atas). Selanjutnya,sistem kekebalan tubuh memberikan respons dengan
melakukan reaks), sementara limfosit spesifik-tuberkulosis menghancurkan
(melisiskan) basil dan jaringan normal. Reaksi jaringan ini mengakibatkan

terakumulasinya eksuadat dalm alveoli yang menyebabkan bronkopneumonia.


Infeksi awal biasanya timbul dalam waktu 2-10 minggu setelah terpapar bakteri.
Setelah infeksi awal, jika respons sistem imun tidak adekuat mka penyakit
akan menjadi lebih parah. Penyakit yang kian parah dapat timbul akibat infeksi
ulang atau bakteri yang sebelumnya tidak aktif kembali menjadi aktif. Pada kasus
ini, ghon tubercle mengalami ulserasi sehingga menghasilkan necrotizing caseosa
didalam bronkhus. Tuberkel yang ulserasi selanjutnya menjadi sembuh dan
membentuk jaringan parut. Paru-paru yang terinfeksi kemudian meradang,
mengakibatkan timbulnya bronkopneumonia, membentuk tuberkel, dan seterunya.
5. Masalah keperawatan yang dapat terjadi akibat proses penyakit
a. Mnifestasi klinis
b. Pemeriksaan diagnostik
c. Pencegahan dan pengobatan
C. Asuhan Keperawatan Pada Tuberkulosis Paru
Asuhan keperawatan adalah suatu tahapan rencana tindakan yang ditujukan untuk
memenuhi tujuan keperawatan yang meliputi mempertahankan keadaan kesehatan klien
yang optimal.
Dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada klien dengan masalah TB Paru,
penulis menggunakan pendekatan proses keperawatan teoritis. Teori dan konsep
diimplementasikan secara terpadu dalam tahapan-tahapan yang terintegrasi dan
terorganisir yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi
dan evaluasi (Doengoes, 2000).

1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas klien
Pada tahap ini perawat perlu mengetahui mengenai nama, umur, jenis kelamin,
alamat, suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan dan status perkawinan.
b. Riwayat Kesehatan Klien
Riwayat kesehatan klien terdiri dari kesehatan masa lalu, riwayat kesehatan
sekarang, yang terdiri dari keluhan utama/alasan masuk rumah sakit dan keluhan
waktu didata, dan riwayat kesehatan keluarga
c. Aktivitas / Istirahat
Gejala

: Kelemahan umum dan kelemahan.

Napas pendek karena kerja, kesulitan tidur pada malam atau demam
malam hari, menggigil atau berkeringat.
Tanda

: Takikardia, takipnea/dispnea pada kerja.


kelelahan otot, nyeri dan sesak.

d. Intergritas Ego
Gejala

: Adanya/faktor stres lama.


perasaan tak berdaya / tak ada harapan.

Tanda

: Ansietas, ketakutan, mudah tersinggung.

e. Makanan / Cairan
Gejala

: Anoreksia, mual / muntah.


Penurunan berat badan.

Tanda

: Turgor kulit buruk/kering.


Kehilangan otot/hilang lemak subkutan.

f. Nyeri / Kenyamanan
Gejala

: Nyeri dada meningkat karena batuk berulang.

Tanda

: Berhati-hati pada area yang sakit.


perilaku gelisah.

g. Pernapasan
Gejala

: Batuk, produktif atau tidak produktif


Napas pendek

Tanda

: Peningkatan frekuensi pernapasan.


Pengembangan pernapasan tidak simetris.
Perkusi pekak dan penurunan fremitus. Bunyi napas : menurun.
Karakteristik sputum : hijau/purulen, mukoid kuning, atau bercak
darah

h. Keamanan
Gejala

: Adanya kondisi penekanan imun.

Tanda

: Demam atau sakit panas akut.

i. Interaksi Sosial
Gejala

: Perasaan isolasi/penolakan karena penyakit menular.


Perubahan pola biasa dalam tanggung jawab/perubahan kapasitas
fisik untuk melaksanakan peran

j. Penyuluhan / Pembelajaran
Gejala

: Riwayat keluarga berpenyakit TB

Ketadakmampuan umum/status kesehatan buruk.


Gagal untuk memperbaiki/kambuhnya TB
Tidak berpartisipasi dalam terapi.
k. Pertimbangan Rencana Pemulangan
DRG menunjukkan rata-rata lama waktu rawat : 6,6 hari.
Memerlukan waktu dengan/gangguan dalam terapi obat dan bantuan perawatan
diri dan pemeliharaan/perawatan rumah.
l. Pemeriksaan Diagnostik
Kultur sputum
Positif atau mycobacterium tuberculosis pada tahap aktif penyakit.
2) Tes kulit (PPD, mantoux, potongan volimer)
Reaksi positif (area indurasi 10 mm atau lebih besar, terjadi 48 72 jam
setelah injeksi intradermal antigen) menunjukkan infeksi masa lalu dan adanya
anti bodi tetapi tidak secara berarti menunjukkan penyakit aktif.
Photo thorak
Dapat menunjukkan infiltrasi lesi awal pada afrea paru atas, simpanan
kalsium, lesi sembuh primer atau efusi cairan. Perubahan menunjukkan lebih
luas TB dapat termasuk rongga atau area fibrosa.
Biopsi jarum pada jaringan paru
Positif untuk granuloma TB.
5)

Histologi atau kultur jaringan (termasuk pembersihan gaster,


urine, cairan serebrospinal dan biopsi kulit)
Positif untuk mycobacterium tuberculosis.

Elektrolit
Dapat tak normal tergantung pada lokasi dan beratnya infeksi.
Analisa Gas Darah (AGD)
Dapat normal tergantung lokasi, berat dan kerusakan sisa pada paru-paru.
m. Prioritas Keperawatan
1) Meningkatkan/mempertahankan ventilasi/oksigen adekuat.
2) Mencegah penfebaran infeksi.
3) Mendukung perilaku/tugas untuk mempertahankan kesehatan
4) Meningkatkan strategi koping efektif
5) Memberikan informasi tentang proses penyakit/prognosis dan kebutuhan
pengobatan

n. Tujuan Pemulangan
1) Fungsi pernapasan adekuat untuk memenuhi kebutuhan individu
2) komplikasi dicegah
3) pola hidup/perilaku berubah diadopsi untuk mencegah penyebaran infeksi
4) Proses penyakit / prognosis, program pengobatan dipahami.
2.

Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan pada pasien dengan TB paru menurut Doengoes (2000)
adalah:
a. Resiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tak
adekuat; penurunan kerja silia/statis sekret; kerusakan jaringan atau tambahan
infeksi; penurunan pertahanan/penekanan proses inflamasi; malnutrisi, terpajan
lingkungan; kurang pengetahuan untuk menghindari pemajanan patogen.
b. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan sekret kental atau
sekret darah; kelemahan; upaya batuk-buruk; edema trakeal atau faringeal.
c. Resiko kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan penurunan permukaan
efektif paru, atelektasis, kerusakan membran alveolar- kapiler; sekret kental;
edema bronchial.
d. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelemahan;
sering batuk/produksi sputum; dispnea; anoreksia; ketidak cukupan sumber
keuangan.
Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi, aturan tindakan dan
pencegahan berhubungan dengan kurang terpajan
e. pada/salah interpretasi informasi; keterbatasan kognitif; tak akurat/tak lengkap
informasi yang ada.

3.

Perencanaan
Tahap selanjutnya setelah diagnosa keperawatan adalah merencanakan
tindakan keperawatan dimulai dari memprioritaskan diagnosa keperawatan,
menetapkan tujuan dan kriteria hasil serta tindakan/intervensi.
a.

Resiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan pertahanan primer


tak adekuat; penurunan kerja silia/statis sekret; kerusakan jaringan/tambahan
infeksi; penurunan pertahanan/ penekanan proses inflamasi; malnutrisi; terpajan
lingkungan; kurang pengetahuan untuk menghindari pemajanan patogen.
Tujuan:

1)

Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah atau menurunkan


resiko penyebaran infeksi.

2) Menunjukkan atau melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan


lingkungan yang aman.

Intervensi:
a) Kaji patologi penyakit dan potensial penyebaran infeksi melalui droplet udara
selama batuk, bersin, meludah dan bicara.
Rasional :

membantu pasien menyadari/menerima perlunya mematuhi


program pengobatan untuk mencegah pengaktifan berulang.

Identifikasi orang lain yang beresiko.


Rasional :

orang-orang yang terpajan ini perlu program terapi obat untuk


mencegah penyebaran/terjadinya infeksi.

b) Anjurkan pasien untuk batuk atau bersin dan mengeluarkan pada tisu dan
menghindari meludah. Kaji pembuangan sekali pakai dan tehnik mencuci
tangan yang tepat.
Rasional :

perilaku yang diperlukan untuk mencegah penyebaran infeksi.

c)

Kaji tindakan kontrol infeksi sementara, misalnya


masker atau isolasi pernafasan.
Rasional :

Dapat membantu menurunkan rasa terisolasi pasien.

d)

Awasi suhu sesuai indikasi.


Rasional

Reaksi demam indikator adanya infeksi lanjut.

e) Identifikasi faktor resiko individu terhadap pengaktifan berulang TB.


Rasional

Membantu pasien untuk mengubah pola hidup dan

menghindari atau menurunkan insiden aksaserbasi.


Tekankan pentingnya untuk tidak menghentikan terapi obat.
Rasional

Infeksi

berlanjut

akan

meningkatkan

penyebaran

infeksi.
g) Dorong memilih atau mencerna makanan seimbang. Berikan makanan sering,
kecil dalam jumlah makanan yang tepat.
Rasional :

Adanya
ketahanan

anoreksia/malnutrisi
terhadap

proses

sebelumnya
infeksi

dan

menurunkan
membantu

penyembuhan. Makanan kecil dapat membantu meningkatkan


rangsang makan.
h)

Kolaborasi dalam pemberian obat anti inflamasi pada


TB.
Rasional :

Menghindari infeksi tidak terjadi ulang.

b. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan sekret kental atau


sekret darah; kelemahan; upaya batuk buruk; edema trakea atau faringeal.
Tujuan:
1)

Mempertahankan jalan nafas klien.

2)

Mengeluarkan sekret tampa bantuan.

3)

Menunjukkan prilaku untuk memperbaiki/


mempertahankan kebersihan jalan nafas.

4)

Berpartisipasi dalam program pengobatan,


sesuai tingkat kemampuan atau sanitasi.

5) Menidentifikasi potensial komplikasi dan melakukan tindakan tepat.


Intervensi:
1) Kaji fungsi pernafasan, bunyi nafas, kecepatan, irama dan kedalaman serta
penggunaan otot aksesori.
Rasional:

Penurunan bunyi nafas dapat menunjukkan atelektasis. Ronkhi


dan mengi menunjukkan akumulasi sekret/ketidakmampuan
untuk membersihkan jalan nafas yang dapat menimbulkan
penggunaan atot aksesori pernafasan dan peningkatan kerja
pernafasan.

2) Catat kemampuan untuk mengeluarkan mukus/batuk efektif; catat karakter,


jumlah sputum, adanya hemoptisis.
Rasional :

pengeluaran sulit jika sekret sangat tebal. Sputum berdarah kental


atau darah cerah diakibatkan oleh kerusakan (kavitasi) paru atau
luka bronkhial dan dapat memerlukan evaluasi/ intervensi lanjut.

3) Berikan klien posisi semi fowler. Bantu pasien untuk batuk dan latihan nafas
dalam.
Rasional : Posisi membentu memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan
upaya pernafasan. Ventilasi maksimal membuka area atelektasis

dan meningkatkan gerakan sekret kedalam jalan nafas besar


untuk dikeluarkan.
4)

Bersihkan sekret dari mulut dan trakea/ penghisapan sesuai


keperluan.
Rasional :

mencegah obstruksi/ aspirasi. Penghisapan dapat diperlukan bila


pasien tak mampu mengeluarkan sekret.

5) Pertahankan masukan cairan sedikitnya 2500 ml/hari kecuali kontra indikasi.


Rasional : Pemasukan tinggi cairan membantu untuk mengencerkan sekret,
membuatnya mudah dikeluarkan.
6)

Lembabkan udara/oksigen inspirasi.


Rasional

Mencegah

pengeringan

membran

mukosa,

membantu

mengencerkan sekret
7) Berikan

obat-obat

sesuai

indikasi;

agen

mukolitik,

bronkodilator,

kortikosteroid.
Rasional : Agen mukolitik menurunkan kekentalan dan perlengketan sekret,
bronkodilator

meningkatkan

ukuran

lumen

percabangan

trakeobronkheal, kortikosteroid berguna pada adanya keterlibatan


luas dengan hipoksemia.
c. Resiko kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan penurunan permukaan
efektif paru, atelektasis, kerusakan membran alveolar-kapiler, sekret kental, edema
bronkhial.
Tujuan:
1)

Resiko terhadap pertukaran gas dapat dihindari.

2)

Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenisasi jaringan adekuat


dengan GDA dalam rentang normal.

3)

Bebas dari gejala distress pernafasan.

Intervensi:
1)

Kaji dispnea, takipnea, tak normal atau menurunnya bunyi nafas,


meningkatkan upaya pernafasan, terbatasnya ekspansi dinding dada dan
kelemahan.
Rasional : Memantau ada tidaknya penyakit yang berlanjut.

2)

Evaluasi perubahan pada tingkat kesadaran. Catat sianosis dan


perubahan pada warna kulit, termasuk membran mukosa dan kuku.

Rasional : Akumulasi sekret/pengaruh jalan nafas dapat mengganggu


oksigenisasi organ vital dan jaringan.
3) Ajarkan teknik napas dalam, latih teknik napas dalam.
Rasional :

Meningkatkan ventilasi dan menambah kenyamanan upaya


bernapas.

4) Tingkatkan tirah baring/batasi aktifitas dan bantu aktivitas perawatan diri


sesuai keperluan.
Rasional :

Menurunkan konsumsi oksigen atau kebutuhan selama periode


penurunan penafasan dapat menurunkan beratnya gejala.

5) Berikan oksigen tambahan yang sesuai.


Rasional :

Alat dalam memperbaiki hipoksemia yang dapat terjadi sekunder


terhadap penurunan ventilasi atau menurunnya permukaan
alveolar paru.

d. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelemahan;


sering batuk atau produksi sputum dispnea, anoreksia, ketidak cukupan sumber
keuangan.
Tujuan:
1)

Menunjukkan berat badan meningkat dan bebas tampa malnutrisi.

2)

Melakukan prilaku atau perubahan pola hidup untuk meningkatkan


status nutrisi.

3)

Mempertahankan BB yang tepat.

Intervensi
1) Catat status nutrisi pasien pada penerimaan, turgor kulit, BB, integritas
mukosa oral, kemampuan/ketidakmampuan menelan, riwayat mual, muntah
atau diare.
Rasional :

Berguna dalam mendefinisikan derajat atau luasnya masalah


dan pilihan intervensi yang tepat.

2) Pastikan pola diit biasa pasien yang disukai atau tidak disukai.
Rasional :

Membantu dalam mengidentifikasi kebutuhan. Pertimbangan


keinginan individu dapat memperbaiki masukan diit.

3) Awasi masukan/pengeluaran BB secara periodik.


Rasional :

Berguna dalam mengukur keefektifan nutrisi dan dukungan


cairan.

4) Motivasi dan berikan periode istirahat sering.


Rasional :

Membantu menghemat energi khususnya bila kebutuhan


metabolik meningkat saat demam.

5) Berikan perawatan mulut.


Rasional :

Menurunkan rasa tak enak karena sisa sputum atau obat untuk
pengobatan respirasi yang merangsang pusat muntah.

6) Makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein dan karbohidrat.
Rasional :

Memaksimalkan masukan nutrisi tampa kelemahan yang tak


perlu atau kebutuhan energi dari makan makanan

banyak

menurunkan iritasi gaster.


7) Motivasi akan pentingnya kebutuhan nutrisi
Rasional :

Kebutuhan nutrisi yang kurang dapat menurunkan status


kesehatan sehingga memperburuk kondisi klien.

8) Motivasi orang terdekat untuk membawa makanan dari rumah.


Rasional :

Membuat lingkungan sosial lebih normal selama makan.

9) Rujuk ke ahli diit untuk menentukan komposisi diit.


Rasional :

Memberikan bantuan dalam perencanaan diit dengan nutrisi


adekuat untuk kebutuhan metabolik dan diit.

10) Awasi pemeriksaan laboratorium seperti HB, BUN, protein serum dan
albumin.
Rasional :

Nilai rendah menunjukkan mal nutrisi dan menunjukkan


mempengaruhi hasil pemeriksaan lab mis. Hb

e. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi, aturan tindakan dan


pencegahan berhubungan dengan kurang terpajan pada/salah interpretasi
informasi, keterbatasan kognitif, tak akurat/tak lengkap informasi yang ada.
Tujuan:
1)

Mengidentifikasi gejala yang memerlukan evaluasi atau intervensi.


Menyatakan

pemahaman

proses

penyakit/prognosis

dan

kebutuhan

pengobatan.
2) Melakukan prilaku/perubahan pola hiduo untuk memperbaiki kesehatan umum
dan menurunkan resiko pengaktifan ulang TB.
Intervensi:
1) Kaji ulang tingkat pemahaman klien tentang proses penyakit

Rasional :

Mengetahui

sejauh

mana

pemahaman

klien

mengenai

penyakitnya
2) Kaji kemampuan dan kemauan klien untuk belajar, kelemahan, tingkat
partisipasi, lingkungan dan media terbaik bagi klien.
Rasional :

Belajar tergantung pada emosi dan kesiapan fisik dan


ditingkatkan pada tahapan individu.

3) Identifikasi gejala yang harus dilaporkan ke perawatan, contoh hemoptisis,


nyeri dada, demam, kesulitan bernapas, kehilangan pendengaran dan vertigo.
Rasional :

Dapat menunjukkan kemampuan atau pengaktifan ulang penyakit


atau efek obat yang memerlukan evaluasi lanjut.

4) Tekankan pentingnya mempertahankan protein tinggi dan diit karbohidrat dan


pemasukan cairan adekuat.
Rasional :

Memenuhi kebutuhan metabolik, membantu meminimalkan


kelemahan dan meningkatkan penyembuhan. Cairan dapat
mengencer atau mengeluarkan sekret.

Kaji efek samping pengobatan dan pemecahan masalah.


Rasional :

Mencegah dan menurunkan ketidaknyamanan sehubungan


dengan terapi dan meningkatkan kerjasama dalam program.

5) Dorong klien atau orang terdekat untuk menyatakan takut/masalah.


Rasional :

Memberikan

kesempatan

untuk

memperbaiki

kesalahan

konsepsi/peningkatan ansietas.
6) Dorong untuk tidak merokok.
Rasional :

Meskipun

tidak

merangsang

berulangnya

TB,

tetapi

meningkatkan disfungsi pernafasan/bronchitis.


7) Kaji bagaimana TB ditularkan dan bahaya reaktifitas.
Rasional :

Pengetahuan dapat menurunkan penularan dan reaktivitas ulang.