Anda di halaman 1dari 3

Nama

: Irzak Khoirul Huda

Jurusan

: Teknik Geologi B

Angkatan

: 2012

Geologi Regional Bayat

Pendahuluan
Perbukitan Jiwo merupakan nama lain dari Bayat salah satu tempat favorit untuk peneliti
dibidang kebumian baik nasional maupun internasional. Bayat, Ciletuh ,dan Luk Ulo merupakan
tempat terdapat singkapan batuan yang komplek mulai dari zaman pra tersier hingga kwarter.
Dimulai pada zaman kapur hingga- paleosen terjadi interaksi konvergen antara lempeng hindiaAustralia dengan mikro sunda. Akibat tumbukan ini terbentukalah zona subduksi yang arahnya
barat timur. Mulai jadi Ciletuh, Luk Ulo, Bayat dan Maratus di Kalimantan tenggara. Ciri
terjadinya zona subduksi ialah terdapat palung di selatan pulau Jawa dan deretan gunung api
sepanjang selatan pulau jawa.
Akibat dari zona subduksi itu Bayat dijadikan laboratorium geologi karena disana
terdapat singkapan yang menceriakan zaman pre tersier hingga zaman kuarter. Batuan dasar yang
ada disana didominasi oleh filit yang banyak mengandung kuarsa, batuan metamorf silikat dan
marmer. Bothe (1929) datang ke Bayat mengidentifikasi batuan dasar yang ada disana dengan
mengamati fosil didalam fregmen konglomerat menunjukan umur kapur. Daerah perbukitan jiwo
dibagi menjadi dua yaitu Jiwo Barat dan Jiwo Timur. Antara Jiwo Barat dan Jiwo timur
dipisahkan oleh sungai Denakeng yang memotong perbukitan tersebut.

Zona subduksi selatan pulau jawa

Stratigrafi Bayat
Pada zaman pre tersier di bukit Jiwo terdapat batuan yang dinamakan dengan batuan
metamorft batuan ini banyak mngandung kuarsa,sekis dan marmer. Batuan ini mendiami di
perbukitan Jiwo barat didaerah gunung Sari,Gunung Buda. Sementara itu di daerah Jiwo Timur
batuan ini ada di gunung Lanang dan gunung Semanggu.
Hari berganti hari tahun berganti tahun diatas batuan metamorf tersebut terdapat batuan
sedimen. Pada zaman paleogen batuan sedimen mengendap diatas batuan metamorf. Ada dua
sedimen diatas batuan metamorf namun posisinya tidak selaras.Batuan itu ialah batuan karbonat
yang mengandung foraminifera dan batuan klastik. Dan akhirnya bothe menamakan batuan
bagian atas dengan Gamping dan bagian bawah dinamakan dengan Wungkal maka dua batuan
ini dinamakan dengan formasi wungkal-gamping. Selain batuan metamorf dan batuan sedimen di
bukit Jiwo juga terdapat batuan yang sangat kuat yaitu batuan beku. Karena semakin ketas
suhunya semakin turun maka batuan itu akan menjadi padat yang dinamakan batuan intrusi
(basalt dan gabro). Karena kekuatanya batuan ini bisa menerobos batuan pretersier filit dan
formasi Wangkul-Gamping.
Basalt grabro ini menerobos dalam bentuk dike. Pak soeria Atmadja(1991) memperkirakan umur
batuan ini 34 juta tahun yang lalu atau pada kala oligosen.Singkapan tentang pernah adanya
gabro ini ada di dusun Bendungan, Gunung Pendul dan selatan gunung Temas.
Pada kala oligosen terjadi kenaikan dan penurunan muka air laut. daerah bukit jiwo mulai
tererosi sehingga mengakibatkan penurunan daratan. Kemudian disusul dengan proses transgresi
dan menghasilkan endapan batu gamping dapa kala Miosen tengah.. endapaan batu gamping ini
dinamakan dengan formasi Oyo-Wonosari singkapan formasi Oyo dan wonosari terdapat di
Gunung Temas. Batu Gamping dari formasi Oyo ini tidak terpengaruh oleh intrusi basalt.
Diatas endapan sedimen terdapat endapan kuarter yang mengalami proses pelapukan hingga saat
ini. Pengendapan kuarter diawali oleh breksi lahar, endapat fluvo-vulkanik merapi dan endapan
lempung dari lingkungan rawa.

Bayat bukan merupakan kelompok dari Lok Ulo,Ciletuh dan Maratus


Bayat tidak termasuk dalam kelompok Ciletuh, Luk Ulo dan Maratus. Karena karakter
Bayat berbeda dengan ketiga daerah tersebut. Alasan yang membedakan atara bayat dengan
daerah Luk Ulo ialah (1) tidak ada melange,(2) tidak ada kelompok batuan ofilofit,(3)tidak ada
batuan metamorf yang terbentuk pada zona subduksi (4) endapan batuan diatas batuan tua bukan
merupakan longsoran.