Anda di halaman 1dari 1

Aku tidak pernah bertahan dalam suatu keadaan tanpa aku menginginkanya.

Sejatinya kita
terlair hanya untuk mampu memberikan sebuah arti dan warna dalam hidup ini baik hidup kita
sendiri atau hidup orang lain. Aku pernah merasa begitu kehilangan, dan sangat sakit tentunya.
Tapi menangisinya terlalu dalam tak akan merubah semua itu menjadi lebih baik. Malah keadaan
semakin menjadi lebih buruk. Kita boleh menyayangi sesuatu dan merindukan sesuatu tapi
bukan lagi sebuah alasan yang sama untuk tidak mempedulikan tuhan. Jangan tanya kenapa
tuhan memberikan kepada kita hanya untuk diminta kembali. Kita hanya dititipkan semua itu
dalam waktu yang sebentar. Tidak cukup lama untuk membuat itu menjadi hak milik atas diri
kita, toh apa yang diberikan juga sama dengan diri kita yakni sama sama ciptaannya. Lantas dari
sisi mana kita berhak menentukan kita yang merupakan ciptaan tuhan adalah tuan dari ciptaan
tuhan yang lain?
Kita tak akan pernah percaya bahwa semua yang kita lalui adalah sebatas benang merah yang
sederhana dimata tuhan. Kita hanya menjalankan peran dan jangan pernah sekalipun mengutuk
tuhan karena kisah yang kita alami. Kita dibayar untuk menjadi aktor dan aktris didunia ini
dengan diberikan waktu menikmati hidup didunia ini. Ada yang bilang bahwa orang yang paling
beruntung adalah orang yang tidak pernah dilahirkan. Yang kedua adalah orang yang mati muda
dan yang paling rugi adalah dia yang meninggal dikala usianya mencapai tua. Dia yang tidak
pernah dilahirkan memang tidak perlu merasakan kepalsuan dalam menjalani hidup. Tidak perlu
pura-pura tersenyum dikala sakit. Tidak perlu berpura-pura baik dikala jahat dan tidak perlu
menggunakan topeng untuk membuat seseorang menyukai dirinya.
Dia yang mati muda adalah dia yang berkesempatan mengetahui dan mencicipi beberapa hal
baik dan buruk dalam sekali waktu tanpa pernah mampu untuk merasakan hidup lebih lama. Dia
cukup tahu dan cukup untuk melihat semua dari kacamata yang dia miliki kala itu. Dia yang
terakhir adalah dia yang mengetahui semua dari awal lahir hingga akan mati namun tak punya
daya untuk mampu mengakhiri semuanya sendirian. Dia yang selalu resah dan gelisah tiap malam
berharap akan dijemput untuk kembali karena fisik sudah tak mampu lagi mengimbangi
keinginan pikiran dan hati yang semakin renta. Semakin lama seseorang hidup semakin banyak
yang dilihat dan semakin banyak keingian untuk dapat mengakhiri semua ini segera.