Anda di halaman 1dari 6

Coal Bed Methane : Definisi Dan Evaluasi

Cadangan Dengan Metode Volumetris


Edo Sayib Sugiarto (UPN Veteran Yogyakarta)

Gas alam yang berasal dari batubara telah diketahui pada penambangan batubara dan merupakan
ancaman keselamatan bagi pekerja tambang karena beracun dan mematikan. Telah diketahui pula pada proses
pemboran sumur-sumur migas yang melewati lapisan batubara seringkali terjadi kick yang mengindikasikan
adanya intrusi gas ke lubang sumur atau loss circulation yang mengindikasikan adanya rekahan. Hal ini
merupakan indikasi bahwa lapisan batubara merupakan suatu reservoir. Tetapi bagaimanakah konsep sumber
gas alam ini dapat disebut sebagai reservoir coal bed methane dan potensial untuk dikembangkan pada
industri perminyakan, serta bagaimana pula evaluasi reservoir untuk memperkirakan cadangannya dengan
pendekatan metode volumetris?.
Metodologi yang digunakan sebagai solusi permasalahan ini adalah dengan menguraikan definisi dari
batubara serta gas yang terbentuk dan tersimpan dalam batubara akibat proses sedimentasinya yang disebut
coalifikasi, sehingga terbentuk pengertian mengenai coal bed methane (CBM). Dari pengertian CBM kemudian
diuraikan menurut konsep petroleum system serta komponen reservoirnya, dimana reservoir CBM selain
bertindak sebagai reservoir, sekaligus bertindak sebagai source rock. Analisis parameter sifat fisik fundamental
batuan reservoir yang digunakan dalam perhitungan cadangan dengan pendekatan metode volumetrik juga
diuraikan, karena sifat fisik fundamental batuan reservoir CBM tidak sama, namun memiliki analogi dengan
sifat fisik fundamental batuan reservoir migas konvensional.
Hasil dari kajian ini akan mendefinisikan reservoir CBM itu sendiri, sebagai gas yang dihasilkan dan
tersimpan pada lapisan batubara dengan kondisi dan syarat tertentu dilihat dari sudut pandang dunia
perminyakan. Perhitungan menggunakan data hipotetik juga diuraikan disini, sebagai gambaran sederhana
dalam perkiraan cadangan gas reservoir CBM yang dihitung dengan metode volumetris.

1.

Pendahuluan

CBM pada beberapa tahun terakhir ini


menjadi salah satu kandidat alternatif
pemenuhan kebutuhan energi fosil,
dimana
reservoir-reservoir
gas
konvensional
mulai
mengalami
penurunan produksi mendekati batas
laju
ekonomisnya,
dan
belum
ditemukannya
atau
belum
mulai
dieksploitasikannya lapangan gas baru.
Gas alam yang berasal dari
batubara
telah
diketahui
pada
penambangan batubara dan merupakan
ancaman keselamatan bagi pekerja
tambang
karena
beracun
dan
mematikan. Untuk itu dibuat suatu
sumur
dengan
target
menembus
lapisan
batubara
yang
digunakan
sebagai tempat penambangan batubara
bawah tanah sebagai teknik ventilasi
yang tujuannya membuang gas metana
dari penambangan batubara
Proses
pemboran
sumursumur migas dengan target reservoir
batupasir/batugamping yang melewati
lapisan batubara seringkali terjadi kick
atau
loss
circulation.
Kick
mengindikasikan adanya intrusi gas ke
lubang
sumur
sedangkan
loss
circulation mengindikasikan adanya
rekahan.
Indikasi
ini
memberi
pandangan bahwa lapisan batubara
dapat
dipertimbangkan
sebagai
reservoir.

Makalah ini membahas mengenai


studi literatur dari referensi yang
telah
dipublikasikan
untuk
menguraikan
pendefinisian
CBM.
Evaluasi
cadangan
dengan
pendekatan metode volumetris juga
diuraikan disini.
2. Definisi Dan Konsep Dasar
2.1. Coalifikasi dan Batubara
Batubara
merupakan
material yang terdiri atas lebih dari
50% berat dan 70% volume dari
senyawa
karbon
termasuk
kelembaban
yang
tidak
dapat
Batubara
merupakan
dikurangi1).
batuan sedimen nonklastik. Batuan
sedimen non klastik didefinisikan
sebagai batuan sedimen terbentuk
oleh proses kimia, biologi atau
biokimia pada permukaan bumi tanpa
mengalami
proses
erosi
dan
pengendapan seperti batuan sedimen
klastik dan selanjutnya mengalami
proses penguburan, pengompakan
diteruskan dengan coalifikasi.
Coalifikasi merupakan proses
transformasi material organik menjadi
bentuk material organik yang lain
yang
dipengaruhi
oleh
kondisi
lingkungannya.

JTMGB-Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia

Dari tumpukan material organik


kemudian tertransformasi menjadi
peat,
lignite,
sub-bituminious,
bituminious, antrachite dan graphite,
yang
umumnya
disebut
tingkatan/rank batubara.
Coalifikasi juga menghasilkan produk
samping berupa air dan gas. Dari
proses coalifikasi ini dapat diketahui
bahwa semua batubara mengandung
gas seperti ditunjukkan pada Gambar
2.1 yang menyatakan hubungan
volume pembentukan gas sebagai
fungsi dari rank batubara. Gambar
2.1. juga menunjukkan bahwa rank
bituminious
mempunyai
volume
pembentukan gas yang paling tinggi.
Rank peat tidak dimasukkan dalam
hubungan ini karena penguburan dan
terbentuknya
peat
masih
dekat
dengan permukaan, sehingga gas
yang
dihasilkan
langsung
terbebaskan.

Coal Bed Methane : Definisi Dan Evaluasi


Cadangan Dengan Metode Volumetris
2.2. Reservoir Coal Bed Methane
Coal Bed Methane merupakan
gas yang dihasilkan dan tersimpan
pada lapisan batubara, meskipun istilah
metana sering digunakan oleh industri
yang pada kenyataannya merupakan
campuran gas C1, C2, C3 dan gas
pengotor seperti N2 dan CO21). Bedanya
dengan Coal Mine Methane, gas pada
batubara ini merupakan ancaman
bahaya pada penambangan batubara.
Oleh karena itu pada penambangan
batubara dibuat saluran ventilasi gas
untuk
membuang
gas
tersebut.
Meskipun merupakan produk samping
pada coalifikasi namun dari sudut
pandang dunia perminyakan, gas inilah
yang
menjadi
target
utama
diproduksikannya gas
dari reservoir
CBM.
Lapisan batubara yang disebut
reservoir CBM merupakan lapisan
batubara yang berada >500 m dibawah
permukaan dan diproduksikan fluida
reservoirnya dengan membuat suatu
sumur. Untuk lapisan batubara <500 m
dibawah
permukaan,
merupakan
potensi
untuk
dikembangkan
penambangan terbuka yang diambil
batubaranya langsung.

Batuan
penutup
(seal)
reservoir yang impermeabel
untuk mencegah hidrokarbon
lolos kepermukaan.
Kondisi
reservoir
yang
direpresentasikan
sebagai
tekanan dan suhu reservoir
yang bersangkutan.
Komponen reservoir CBM
terdiri atas batuan reservoir, isi
dari reservoir yang terdiri atas
komponen utama yaitu gas alam
sedangkan air sebagai komponen
ikutan, batuan penutup (seal)
reservoir dan kondisi reservoir.
Reservoir CBM mempunyai
porositas ganda. Gas tersimpan
dalam
dua
kondisi,
yaitu
mayoritas tersimpan pada kondisi
terserap di pori mikro dan kondisi
bebas pada pori makro yang
merupakan rekahan dan disebut
sebagai cleat. Cleat terdiri atas
face cleat yang merupakan jalur
rekahan
bersifat
menerus
sepanjang pelapisan dan butt
cleat
yang
merupakan
jalur
rekahan bersifat tidak menerus.
Uniknya,
face cleat dan butt
cleat saling tegak lurus.

2.3. Petroleum System


Terbentuk
dan
terakumulasinya
minyak
dan
gas
dibawah permukaan harus memenuhi
beberapa syarat yang merupakan
unsur-unsur petroleum system yaitu
adanya batuan sumber (source rock),
migrasi hidrokarbon sebagai fungsi
jarak dan waktu, batuan reservoir,
perangkap
reservoir
dan
batuan
penutup (seal).
Petroleum
system
pada
reservoir CBM sama dengan reservoir
migas konvensional namun karena
lapisan batubara merupakan batuan
sumber sekaligus sebagai reservoir,
maka tidak memerlukan migrasi serta
perangkap reservoir

3. Adsorption isotherm
Adsorption
isotherm
didefinisikan sebagai kemampuan
batubara untuk menyerap gas
metana dalam kondisi tekanan
tertentu pada suhu konstan.
Adsorption isotherm dirumuskan
oleh Langmuir yang dikenal
sebagai
isotherm
Langmuir1)
dengan
persamaan
untuk
menghitung
kemampuan
menyerap (sorption capacity):

2.4. Komponen Reservoir


Komponen
reservoir
migas
konvensional yaitu:
Batuan reservoir sebagai wadah
yang diisi oleh minyak dan atau
gas
bumi.
Batuan
reservoir
merupakan batuan berpori dan
permeabel.
Isi dari reservoir yang terdiri atas
minyak, gas dan air konat.
Perangkap
(trap)
reservoir,
merupakan
suatu
komponen
pembentuk
reservoir
dimana
minyak dan gas bumi terjebak.

JTMGB-Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia

VL

p
p pL

.............(3-1)

Dimana:
V
=
sorption
capacity,
scf/cuft
=
volume
Langmuir,
VL
scf/cuft
pL
= tekanan Langmuir, psi
p
= tekanan reservoir, psi
Jumlah
gas
yang
teradsorbsi
tergantung
dari
massa
batubara
bukan
volumenya,
oleh
karena
itu
bentuk persamaan yang lebih
sering
digunakan
untuk
mengekspresikan
volume
gas
yang teradsorbsi tiap satuan
massa batubara adalah1):

VL

bp
1 bp

............(3-2)

Dimana:
= konstanta isotherm Langmuir,
Vm
scf/ton
b
= konstanta tekanan Langmuir,
1/psi
Percobaan
sorption
capacity
mengukur jumlah gas yang terserap dan
tekanan, yang divisualisasikan dalam
bentuk grafis seperti pada Gambar 3.1.
Dari
grafik
ini
dapat
ditentukan
parameter Vm dan b. Prosedur percobaan
dan penentuan parameter Vm dan b lebih
detailnya dapat dibaca pada referensi 1
dan referensi 8.
4. Kondisi Kejenuhan Reservoir CBM
Kondisi
kejenuhan
reservoir
CBM
didapatkan
dengan
mengkombinasikan data kandungan gas
(gas
content)
dari
desorption
analysis1,4,8,11) dengan grafik adsorption
isotherm. Ilustrasi plot grafik kondisi
kejenuhan reservoir CBM ini dapat dilihat
pada Gambar 3.1. Bila kandungan gas
terletak tepat di grafik sorption capacity
pada tekanan reservoir (1900 psia),
maka
kondisi
reservoir
tersebut
dikatakan jenuh (saturated) seperti
dicontohkan oleh batubara A pada
Gambar 3.1. Pada kondisi jenuh ini,
cleat terisi mayoritas oleh gas dengan
saturasi air tertentu. Bila kandungan gas
yang diukur dari contoh batubara yang
diambil langsung (undisturb sample) dari
sumur yang menembus reservoir CBM
menunjukkan hasil yang lebih rendah
dari sorption capacitynya pada tekanan
reservoirnya (1900 psia), maka reservoir
CBM berada pada keadaan dibawah titik
jenuh
(undersaturated).
Kondisi
unsaturated
ini
terjadi
akibat
cleat/rekahan
pada
reservoir
CBM
dijenuhi air 100%, seperti dicontohkan
pada Batubara B pada Gambar 3.1.
Kondisi
saturated
dan
undersaturated pada reservoir CBM ini
juga merupakan salah satu parameter
yang membedakan perilaku reservoir
CBM
dengan
reservoir
gas
alam
konvensional yaitu reservoir CBM selalu
memproduksi air terlebih dahulu dalam
jumlah
besar
sebelum
gas
mulai
terdesorpsi, terutama
pada kondisi
undersaturated, yang dinamakan proses
pengurasan air (dewatering process).
Seperti terlihat pada Gambar 3.1 untuk
batubara B, gas akan mulai terproduksi
pada tekanan desorpsi di 900 psia. Air
disini merupakan hasil dari coalifikasi
yang tersimpan pada cleat, bukan dari
akuifer.

Coal Bed Methane : Definisi Dan Evaluasi


Cadangan Dengan Metode Volumetris
5. Perhitungan Cadangan
Perhitungan Original Gas In
Place (OGIP) reservoir CBM dengan
pendekatan metode volumetris pada
prinsipnya dibagi dalam dua bentuk
persamaan
perhitungan,
yaitu
volume gas yang tersimpan dalam
kondisi terserap pada pori mikro dan
volume gas yang tersimpan dalam
kondisi bebas pada cleat. Namun hal
ini masih dikaitkan dengan kondisi
kejenuhan reservoir CBM.
Kondisi
kejenuhan
reservoir
dikaitkan
dengan
perhitungan
perkiraan OGIP reservoir CBM:
Apabila reservoir CBM pada
kondisi jenuh (saturated) maka
cleat dijenuhi sebagian besar
oleh gas sehingga perhitungan
OGIP reservoir CBM merupakan
penjumahan volume gas pada
pori mikro dan volume gas pada
cleat.
Apabila reservoir CBM pada
kondisi
tidak
jenuh
(undersaturated), maka cleat
dijenuhi 100% oleh
air
sehingga volume gas pada cleat
bernilai nol dan perhitungan
OGIP reservoir CBM hanya
merupakan volume gas pada
pori mikro.
5.1. Rumus OGIP dengan Metode
Volumetris
Rumus dasar perhitungan
OGIP metode volumetris merupakan
penjumlahan untuk volume gas yang
tersimpan dalam kondisi terserap
pada pori mikro (Ga) dan volume gas
bebas yang berada pada cleat (Gf):
OGIP=(Ga+Gf) ...................(5-1)
Ga=1359,7A.h.c.GC .........

(5-2)

Gf=43560A.h.c(1-Sw)/Bgi.. . (5-3)
Dimana:
= gas yang tersimpan
Ga
dalam matriks batubara
dalam kondisi teradsorbsi,
SCF
= gas yang tersimpan
Gf
dalam cleat batubara dalam
kondisi gas bebas, SCF

A
= luasan reservoir, acre
h
= ketebalan bersih lapisan,
ft
= densitas batubara bebas
c
abu, gr/cc
GC
= kandungan gas, SCF/ton
= porositas cleat, fraksi
cleat
Swcleat
= saturasi air pada cleat,
fraksi
= faktor volume formasi
Bgi
gas (FVF) pada tekanan
reservoir awal, cuft/SCF
43560 = faktor konversi acre-ft ke
cuft
1359,7 = perkalian antara faktor
konversi (acre-ft) ke (cuft)
dan (gr/cc) ke (ton/SCF)
Fraksi gas bebas pada cleat
batubara kadang-kadang sangat
kecil kapasitas penyimpanannya dan
dapat diasumsikan sebagai gas yang
tidak dapat diproduksikan lagi. Oleh
karena itu, volume gas yang
tersimpan pada kondisi bebas di
cleat (Gf) pada persamaan (5-3)
dapat diabaikan (bernilai nol).
Penurunan
persamaan
perhitungan
OGIP
metode
volumetris untuk volume gas yang
tersimpan dalam kondisi terserap
pada reservoir CBM diturunkan dari
persamaan
perhitungan
OGIP
metode volumetris untuk reservoir
gas konvensional.

G = A h (1 - Sw ) ............ (5-4)
Dengan menguraikan berdasarkan
komponen-komponennya
yaitu
volume bulk batuan, Vb, sebagai luas
area
reservoir,
A,
dikalikan
ketebalan reservoir, h, porositas, ,
sebagai volume pori total batuan
(Vp) dibagi dengan volume bulk
batuan dan saturasi gas, Sg,
(direpresentasikan sebagai (1-Sw)
didefinisikan sebagai volume gas
yang mengisi pori batuan, Vg dibagi
dengan volume pori total batuan.
Sehingga persamaan (5-1) dapat
diuraikan menjadi:

G = Vb

V p V gas
Vb Vp

..............(5-5)

Densitas zat (), dalam gr/cc yaitu


massa zat (m) dalam gr, dibagi
dengan volume zat (V) dalam cc:

JTMGB-Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia

m
.................... (5-6)
V

Maka dengan menghilangkan komponen


volume pori, Vp, kemudian mengkalikan
dengan perbandingan massa/massa:

G = Vb

V gas m
................(5-7)
Vb m

Dengan definisi kandungan gas merupakan


volume gas yang tersimpan pada pori
batubara, dalam SCF, untuk tiap satuan
massa dari batubara, dalam ton,
yang
dirumuskan:

GC =

V gas
.............................. (5-8)
m

Maka didapatkan persamaan:

G = Vb

V gas m
m Vb

= Vb GC

....(5-9)

5.2. Analisis Parameter


5.2.1. Densitas Batubara Bebas Abu
Densitas
didefinisikan
sebagai
perbandingan antara massa per volume.
Densitas analogi dengan porositas yang
secara sistematis dapat diterangkan dalam
perhitungan volume gas dalam reservoir
(OGIP). Pada pengumpulan data lapangan,
data densitas batubara yang diperoleh dari
percobaan di laboratorium7) maupun density
log9) merupakan data densitas batubara
kasar (b). Dalam hal ini, densitas batubara
masih tercampur dengan komponen lain
seperti mineral-mineral yang pengaruhnya
akan meningkatkan densitas batubara
hingga dua kali lipatnya dari densitas
batubara yang sebenarnya1,9). Oleh karena
itu harus dikoreksi menjadi densitas
batubara bebas abu (c).
Abu disini merepresentasikan kondisi
percobaan proximate analysis7), yaitu
analisis pengukuran fraksi-fraksi penyusun
batubara yaitu kelembaban (moisture, m),
bahan volatil (volatile matter, VM), karbon
tetap (fixed carbon, FC) dan bahan mineral
(mineral matter, a), dengan kombinasi
teknik gravimetri dan beberapa tingkatan
pemanasan. Pada tingkatan pemanasan
terakhir, batubara meningggalkan residu
berbentuk abu yang merupakan bahan
mineral.

Coal Bed Methane : Definisi Dan Evaluasi


Cadangan Dengan Metode Volumetris
5.2.1.1.
Persamaan
Koreksi
Densitas Batubara Terhadap Abu
Volume total batubara (Vt) merupakan
volume bahan organik dan bahan
mineral (Vc dan Va, secara berurutan)
dijabarkan dengan persamaan:

Vt

........................
=c V +
V
a

(5-10)

Massa total batubara (mt) merupakan


massa bahan organik (mc) dan bahan
mineral
(ma),
dijabarkan
pada
persamaan:
(5-11)
m t = c +ma ......................
m
Jika dinyatakan dalam hubungan fraksi
volume dan massa:

Fv c

Vc
=
Vt

........................... (5-12)

Fv a

Va
=
Vt

........................... (5-13)

Fm c

mc
=
mt

........................... (5-14)

Fm a

ma
=
mt

........................... (5-15)

Dimana Fvc adalah fraksi volume bahan


organik, Fva adalah fraksi volume bahan
mineral, Fmc adalah fraksi massa bahan
organik dan Fma adalah fraksi massa
bahan mineral. Dengan asumsi fraksi
massa dari batubara bebas abu (Fmc)
dan fraksi massa dari abu (bahan
mineral, Fma) seragam, maka dapat
dirumuskan:

=)

(m+a)F...............
( F

mc

(5-16)

Rata rata dari densitas batubara


kasar
(b)
dari
sampel
yang
mengandung bahan organik dan bahan
mineral
ditentukan
dengan
mengkalikan densitas batubara bebas
abu dan densitas bahan mineral (c dan
a, berturut turut) dengan fraksi
volumenya yang mewakili sehingga:
b

=m c

(c ) F

mc

)(..........

....(5-17)
Maka
dengan
mengatur
ulang
persaman (5-16) didapatkan densitas
batubara bebas abu (c) :

b
=

ms

Fm c

F)

............ (5-18)

Fraksi
massa
penyusun
batubara
diperoleh
dari
hasil
proximate analysis. Densitas abu
(a) diperkirakan pada harga 2,75
g/cc9) atau diambil harga densitas
abu dari interpretasi density log. Abu
diidentikkan
dengan
mineral
lempung sehingga respon density
log pada interval lempung didekat
lapisan batubara dapat digunakan
sebagai acuan kisaran.
5.2.1.2.
Koreksi
Densitas
Batubara Bebas Abu Secara
Pintas Dari Interpretasi Density
Log
Batubara mempunyai densitas yang
jauh lebih rendah dibandingkan
dengan
shale
atau
batupasir.
Sebagai hasilnya, ketebalan kotor
dari
interval
yang
didominasi
batubara
dapat
langsung
dikuantitaskan pada grafik density
log. Dalam prakteknya, ketebalan
reservoir
CBM
yang
dianalisis
menggunakan density log digunakan
harga 1,75 g/cc sebagai harga
maksimum dari densitas bulk untuk
lapisan batubara yang dianggap
mempunyai kandungan gas yang
signifikan1). Tetapi pada kasus di
cekungan
San
Juan
densitas
batubara yang menyimpan gas
dengan jumlah yang signifikan
tipikal densitasnya berkisar antara
2,4 hingga 2,5 g/cc, maka dapat
dibuat suatu kisaran bahwa densitas
batubara yang menyimpan gas yang
signifikan berkisar antara 1,7 hingga
2,5 g/cc1). Namun densitas ini belum
dikoreksi terhadap abu. Respon dari
density log untuk densitas batubara
bebas abu dapat diketahui pada
pembacaan
densitas
terendah9)
melewati interval lapisan batubara.
5.2.2. Kandungan Gas
Saturasi fluida terdiri atas saturasi
air, saturasi minyak dan saturasi
gas. Pengukuran saturasi fluida pada
analisa inti batuan rutin reservoir
migas biasanya ditentukan dengan
penentuan saturasi air terlebih
dahulu, begitu pula pada interpretasi
wireline log. Selanjutnya saturasi
minyak dan saturasi gas dapat
diketahui2).
Kandungan
gas
merupakan sifat fisik fundamental
reservoir CBM yang analogi dengan
saturasi fluida.
Pengukuran kandungan gas
pada reservoir CBM dinamakan

JTMGB-Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia

desorption analysis4,11). Pengukuran


kandungan gas dilakukan tanpa
pengukuran kandungan air terlebih
dahulu seperti pada reservoir migas
konvensional. Desorption analysis
pada prinsipnya mengukur gas yang
terdesorpsi/terlepaskan oleh sampel
batubara kedalam tiga kategori
yaitu:
Gas hilang didefinisikan sebagai
gas yang hilang saat pertama
kali sampel dipotong saat coring
hingga
dibungkus
dengan
kontainer gas ketat (canister).
Gas yang hilang tidak diukur
tetapi harus diperkirakan.
Gas terdesorpsi yaitu gas yang
terukur melalui canister.
Setelah laju desorpsi/emisi gas
turun dibawah harga ambang
batas,
sampel
dihancurkan
menjadi bubuk yang sangat
halus untuk melepaskan gas
sisa yang dinamakan gas residu.
Harga ambang batas awalnya
diset pada 0,05 cm3/hari untuk
lima hari pengukuran (oleh
McCulloch et al., 1975) tetapi
telah direvisi menjadi rata
rata 10 cm3/hari untuk tujuh
hari pengukuran (oleh Diamond
dan Levine, 1981; Diamond et
al., 1986)4,11).
Total kandungan gas merupakan
penjumlahan dari volume gas yang
hilang, volume gas yang terukur
melalui canister dan volume gas
residu.
Data
pengukuran
dan
pencatatan merupakan plot antara
jumlah gas yang terkumpul versus
akar pangkat dua dari waktu
desorpsi. Waktu desorpsi ini dimulai
ketika core mulai dipotong didalam
lubang
bor,
sehingga
pada
perhitungan waktu tersebut, gas
yang hilang mulai diperkirakan.
Teknik perkiraan gas hilang lebih
detail diuraikan pada referensi 4
dan referensi 11.
Koreksi
terhadap
data
kandungan gas mengacu pada
komposisi gas pengotor seperti gas
nitrogen
dan
karbondioksida.
Komposisi gas diperoleh dari hasil
analisa
gas
chromatography.
Kandungan gas yang telah dikoreksi
disini merupakan murni gas metana.

Coal Bed Methane : Definisi Dan Evaluasi


Cadangan Dengan Metode Volumetris
5.3. Faktor Perolehan
Cadangan
gas
merupakan
hasil
perkalian antara OGIP dengan faktor
perolehan. Faktor perolehan reservoir
gas konvensional dirumuskan6):

RF

1-

Bgi
Bga

..............(5-19)

= 0,7
o
Swcleat
o
Bgi = 0.004 cuft/SCF
o
Bga = 0,015 cuft/SCF
Pertanyaan:
Hitung cadangan reservoir CBM
Jawab:
a. Mengkoreksi densitas batubara
bebas abu:
c

Dimana
RF
= faktor perolehan, fraksi
Bga
= faktor volume formasi gas
pada tekanan reservoir abandon,
cuft/SCF
Pada volume gas reservoir CBM dalam
kondisi bebas, persamaan (5-19) dapat
diaplikasikan. Namun pada volume gas
dalam kondisi terserap, Ga, pengukuran
kandungan gas reservoir CBM diukur
pada kondisi permukaan, sehingga
tidak ada konversi FVF. Pengurangan
kandungan gas total dengan gas residu
dari
hasil
pengukuran
desorption
analysis,
merupakan
representasi
faktor perolehan. Gas residu adalah gas
yang tidak dapat bergerak lagi dan
tetap menempati pori batubara pada
kondisi abandon.
5.4. Contoh Perhitungan Perkiraan
Cadangan Gas Reservoir CBM
Diketahui data-data
Vb = 6711,6 acre-ft
b = 2,22 gr/cc
a = 2,75 gr/cc
Dari percobaan proximate analysis
diketahui:
o
Massa batubara total
= 100 gr
o
Massa abu
= 10 gr
Dari hasil percobaan desorption
analysis untuk 100 gr sampel
batubara diketahui:
o
Perkiraan gas hilang
= 50 cc
o
Gas terukur pada canister
= 260 cc
o
Gas residu
= 20 cc
Dari
hasil
analisa
gas
chromatography,
diketahui
gas
reservoir CBM merupakan 100%
metana.
Dari hasil analisa grafik adsorption
isotherm diketahui reservoir CBM
dalam kondisi undersaturated dan
diketahui parameter:
= 0,14
o
cleat

sebagai source rock, maka tidak


memerlukan migrasi dan perangkap
reservoir.
Perkiraan
OGIP
reservoir
CBM
dengan
pendekatan
metode
volumetris, dihitung berdasarkan
dua komponen rumus yaitu volume
gas terserap dan volume gas bebas,
yang
tergantung
pada
kondisi
kejenuhan reservoir CBM.
Sifat fisik fundamental reservoir
yang digunakan pada perhitungan
OGIP reservoir CBM dengan metode
volumetris,
mempunyai
analogi
terhadap sifat fisik fundamental
reservoir migas konvensional, yaitu
densitas batubara analogi dengan
porositas, kandungan gas analogi
dengan saturasi gas.
Contoh
perhitungan
perkiraan
cadangan
gas
dengan
metode
volumetris
menggunakan
data
hipotetik
memberikan
gambaran
sederhana evaluasi cadangan gas
reservoir CBM.

Fma
Fmc

10
2,75
100
c
100 90
100
c = 2,16 gr/cc
2,22

b.

Menghitung kandungan gas:

GC= Gas hilang + gas terukur


GC= (2500 + 13260)/100

GC= (169,8 cc/gr)X(3,53.10-5SCF/cc)X(1.106gr/ton)

GC= 5563,28 SCF/ton

7. Daftar Pustaka
c.

Menghitung volume gas yang


terserap:
Ga = 1359,7 Vb c (GC)

1.

= (1359,7)(6711,59)
(2,16)(5563,28)

d.

e.
Gp

= 109661,12 MMSCF
Menghitung
volume
gas
bebas:
Gf = [43560 A h c
(1-Sw)/Bgi] (1- (Bgi/Bga)
=(43560)(6711,59)
(0,14)(1-0,7)/(0.004)]
[1- (0,004/0,015]
= 2251,15 MMSCF
Menghitung cadangan gas :
= (Ga + Gf)
= 109661,12 + 2251,15
= 111912,27 MMSCF
= 111,91 Bscf

2.

3.

4.

5.

6. Kesimpulan

JTMGB-Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia

Reservoir coal bed methane


merupakan reservoir gas yang
menghasilkan dan menyimpan
gas
alam
pada
lapisan
batubara dengan kedalaman >
500
meter
dibawah
permukaan dan diproduksikan
fluida
reservoirnya
melalui
suatu sumur.
Petroleum
system
dan
komponen reservoir CBM sama
dengan
reservoir
migas
konvesional, namun karena
reservoir CBM juga bertindak

6.

7.

8.

Ahmed, Tarek; McKinley, Paul D.


:Advanced Reservoir Engineering,
Elsevier
Scientific
Publishing
Company, Oxford, 2005.
Amyx, James W.; Bass, Daniel M, Jr;
Whiting, Robert L.: Petroleum
Reservoir
Engineering:
Physical
Properties,
McGraw-Hill
Book
Company, New York, 1960.
Anderson, John. et al.; Producing
Natural Gas From Coal, Oilfield
Review, Autumn, 2003.
Dan, Yee; Seidle, John P. John;
Hanson, William B, : Gas Sorption
on Coal and Measurement of Gas
Content , AAPG Studies in Geology
#38, (203-218) 1993.
Koesoemadinata, R. P. : Geologi
Minyak dan Gas Bumi, Jilid 1 dan 2
Penerbit ITB, 1980.
Lee, John; Wattenberg , Robert A. :
Gas Reservoir Engineering, Henry
L. Doherty Memorial Fund of AIME,
SPE, Richardson,TX, 1996.
Levine, Jeffry R.: Coalification : The
Evolution of Coal as Source Rock
and Reservoir Rock For Oil and Gas
, AAPG Studies in Geology #38, (3978) 1993.
McElhiney J.E.; Paul G.W.; Young,
G.B.C.
dan
McCartney,
J.A.
:Reservoir Engineering Aspect of
Coalbed Methane, AAPG Studies in
Geology #38, (269-286) 1993.

Coal Bed Methane : Definisi Dan Evaluasi


Cadangan Dengan Metode Volumetris
9.

Scott, Andrew R.; Zhou,


Naijiang and Levine, Jeffry
R. : A Modified Approach
to Estimating Coal and Coal
Gas Resources : Example
from Sand Wash Basin,
Colorado, AAPG Bulletin
Vol. 79, No.9 (September
1995) (1320-1336).

10. Stevens, Scott H. and Sani,


Kartono :Coalbed Methane
Potential
of
Indonesia
:
Preliminary Evaluation of a
New Natural Gas Resources,
Proceeding
Indonesia
Petroleum Association on 28th

Annual
Convention
Exhibition, October 2001.

11. Waetcher, Noel B. et al :


Accurate
Gas
Content
Analysis Improves Coalbed
Gas Resource Estimation ,
World Oil, Agustus 2004.

Gambar 2.1.
Hubungan volume gas yang terbentuk sebagai fungsi rank batubara3)

Gambar 3.1.
Deskripsi grafik kombinasi adsorption isotherm dan data kandungan gas yang menerangkan kondisi
kejenuhan reservoir CBM(8)

JTMGB-Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia

and