Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Nifas merupakan suatu waktu yang dilewati oleh seorang ibu. Setelah
melalui masa kehamilan dan persalinan, ibu akan memulai masa nifasnya.
Masa nifas yang dimulai setelah kelahiran uri atau plasenta terlihat mudah,
terkesan sudah menjadi masa aman bagi seorang ibu setelah persalinan.
Sesungguhnya

tidak, banyak masalah yang dapat terjadi di masa nifas.

Kewaspadaan dan bahaya pada ibu tidak hanya terjadi pada saat kehamilan
dan pesalinan, tetapi juga pada masa ini.
Masa nifas adalah masa dimana terjadinya proses kembalinya alat-alat
reproduksi kembali seperti sediakala sebelum hamil. Pada saat ini dapat
terjadi macam-macam gangguan untuk proses kembalinya organ organ
reproduksi tersebut. Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI)
tahun 2012 menyebutkan bahwa AKI yaitu mencapai 359/100.000. salah
satu penyebab utama kematian ibu adalah perdarahan dan infeksi. Dua
masalah ini dapat juga terjadi di masa nifas seorang ibu. Asuhan masa nifas
diperlukan dalam periode ini karena merupakan masa kritis baik ibu maupun
bayinya. Diperkirakan bahwa 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi
setelah persalinan, dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam
pertama. (Saifudin, 2009)
Pemeriksaan dan pengawasan post partum atau yang disebut
postpartum care yang baik akan menjadi salah satu tiang penyangga dalam
safe motherhood dalam usaha menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu.
Berdasarkan latar belakang diatas mendorong penulis mengangkat Asuhan
Kebidanan Patologi pada Ibu Postpartum dengan Subinvolusi sebagai judul
makalah.

B. Tujuan
1) Tujuan Umum
Agar mahasiswa mampu melakukan asuhan kebidanan pada Ny. E P1A0
postpartum hari ke 6 dengan late HPP e.c luka perineum terbuka dan
subinvolusi uterus.
2) Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada ibu postpartum dengan
subinvolusi uterus.
b. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan fisik pada ibu postpartum
dengan subinvolusi uterus.
c. Mahasiswa mampu mengidentifikasi diagnosa dan masalah potensial pada
ibu postpartum dengan subinvolusi uterus.
d. Mahasiswa mampu merencanakan asuhan kebutuhan ibu postpartum
dengan subinvolusi uterus.
e. Mahasiswa mampu melaksanakan rencana asuhan yang telah dibuat.
f. Mahasiswa mampu melakukan evaluasi pada asuhan yang telah diberikan.

C. Ruang Lingkup
Makalah ini membahas tentang Asuhan KebidananPatologi Pada Ibu
Postpartum dengan Subinvolusi Uterus yang dilakukan pada Ny. Eberusia 23
tahun dengan P1A0 post partum hari ke 6 di UGD RSIA Budi Kemuliaan hari
selasa, tanggal 22 - 24 agustus 2014.

D. Sistematika Penulisan
Makalah ini terdiri dari 5 BAB, dengan Sistematika Penulisan sebagai
berikut :
a. BAB I

: PENDAHULUAN. Terdiri dari Latar Belakang, Tujuan

Penulisan, Ruang Lingkup, dan Sistematika Penulisan.


b. BAB II
: TINJAUAN TEORI. Terdiri dari uraian tentang pengertian
masa nifas, tujuan asuhan masa nifas, peran dan tanggung jawab bidan
dalam masa nifas, tahapan masa nifas, kebijakan program nasional nifas,
pengertian involusi uterus,subinvolusi uterus, penanganan sub involusi
uterus dan perdarahan post partum.

c. BAB III

: LAPORAN KASUS. Terdiri dari penerapan Asuhan

Kebidanan pada ibu postpartum dengan subinvolusi uterus di RSIA Budi


Kemuliaan.
d. BAB IV : PEMBAHASAN. Membandingkan kesesuaian antara teori
yang ada dengan praktek di klinik .
e. BAB V : PENUTUP. Terdiri dari Kesimpulan dan Saran.

BAB II
LANDASAN TEORI

1. Pengertian Masa Nifas


Masa nifas (puerperium) adalah dimulai setelah plasenta lahir dan
berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil.
Masa nifas berlangsung kira-kira 6 minggu. (Sarwono; Ilmu Kebidanan,
2010)

Masa nifas adalah masa segera setelah kelahiran 6 minggu. Selama


masa ini, saluran reproduktif anatominya kembali ke keadaan tidak hamil
yang normal. (Obstetri William, 2009)
Masa nifas (puerpurium) adalah masa pulih kembali, mulai dari
persalinan selesai sampai alat-alat andugan kebali seperti pra hamil. Lama
masa nifas 6-8 minggu. (Sinopsis Obstetri, 2010)

2. Tujuan Asuhan Masa Nifas


Selama bidan memberikan asuhan sebaiknya bidan mengetahi apa
tujuan dari pemberian asuhan pada ibu masa nifas, tujuan diberikannya
asuhan pada ibu selama masa nifas menurut buku asuhan kebidanan III
(nifas) (2011) antara lain untuk :
1. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya baik fisik mauun psikologi dimana
dalam asuhan pada masa ini peranana keluarga sangat penting, dengan
pemberian nutris, dukungan psikologi maka kesehata ibu dna bayinya
selalu terjaga.
2. Melaksanankan skrining yang komprehensif (menyeluruh) dimana bidan
harus melakukan manajemen asuhan kebidanan. Pada ibu masa nifas
secara sistematis, yaitu mulai pengajian data subjektif, objektif maupun
penunjang.
3. Setelah bidan melakukan pengkajian data maka bidan harus mengannalisa
data tersebut sehingga tujuan asuhan masa nifas ini dapat mendeteksi
masalah yang terjadi pada ibu dan bayi.
4. Mengobatiatau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya,
yakni setelah masalah ditemukan maka bidan dapat langsung masuk ke
langkah berikutnya sehingga tujuan diatas dapat dilaksanakan.
5. Memberikan penndidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri,
nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada
bayinya dan perawatan bayi sehat.

3. Tahapan Masa Nifas


Masa nifas seperti dijelaskan diatas merupakan rangkaian setelah
proses persalinan dilalui oleh seorang wanita, beberapa tahan masa nifas
harus dipahami oleh seorang bidan, antara lain :
1. Puerperium dini yaitu pemulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri
dan berjalan-jalan.
4

2. Puerperium intermedial itu pemulihan menyeluruh alat-alat genital yang


lamanya 6-8 minggu.
3. Remote puerperium adalah waktu yang diperlukan unntuk pulih dan sehat
terutama bila selama hamil atau bersalin memiliki komplikasi.

4. Peran dan Tanggung Jawab Bidan dalam Masa Nifas


Setelah proses persalinan selesai bukan berarti tugas dan tanggung
jawab seorang bidan terhenti, karena asuhan kepada ibu harus dilakukan
secara komprehensif dan terus menenrus, artinya selama masa kurun
reproduksiseorang wanita harus mendapatkan asuhan yang berkualitas dan
standar, salah satu asuhan berkesinambungan adalah asuhan ibu selama masa
nifas, bidan mempunyai peran dan tanggung jawab antara lain :
1. Bidan harus tinggal bersama ibu dan bayi dalam beberapa saat untuk
memastikan keduanya dalam kondisi yang stabil.
2. Periksa fundus tiap 15 menit sekali pada 1 jam pertama dan tiap 30 menit
sekali pada 1 jam kedua.
3. Periksa tekanan darah, kandung kemih, nadi dan perdarahan tiap 15 menit
sekali pada 1 jam pertama dan tiap 30 menit sekali pada 1 jam kedua.
4. Anjurkan ibu untuk minumm untuk mencegah dehidrasi, jaga kebersihan
ibu, beri posisi yang nyaman, dukung program bounding attachment dan
ASI eksklusif. Ajarkan ibu dan keluarga untuk memeriksa fundus dan
perdarahan, beri konseling tentang gizi, personal hygiene dan eliminasi
serta mobilisaasi.
5. Memberikan dukungan secara berkesinambungan selama masa nifas sesuai
dengan kebutuhan ibu untuk mengurangi ketegangan fisik dan psikologis
selam masa nifas.
6. Sebagai promotor hubungan antara ibu dan bayi serta keluarga.
7. Mendorong ibu untuk menyusui bayinya dengan posisi yang nyaman
8. Membuat kebijakan, perencanaan program kesehatan yang berkaitan
dengan ibu dan anak dan mampu melakukan kegiatan administrasi.
9. Mendeteksi komplikasi dan perlunya rujukan.
10. Memberikan konseling untuk ibu dan keluarganya mengenai cara
mencegah perdarahan, mengenali tada-tanda bahaya, menjaga gizi yng
baik, serta personal hygiene.
11. Melakukan manajement asuhan dengan cara mengumpulkan data,
menetapkan diagnosa dan rencana tindakan serta melaksanakannya untuk

mempercepat proses pemulihan, mencegah komplikasi dengan memenuhi


kebutuhaan ibu dan bayi selama periode nifas.
12. Memberikasn asuhan secara profesional

5. Kebijakan Program Nasional Nifas


Menurut buku perawatan masa nifas (2009) dapun frekuensi
kunjungan, waktu, dan tujuan kunjungan tersebut dipaparkan sebagai
berikut :
1.
Kunjungan Pertama, waktu 6 8 jam setelah persalinan.
Tujuannya antara lain adalah mencegah perdarahan masa nifas
karena persalinan atonia uteri, mendeteksi dan merawat penyebab
lain perdarahan seperti rujuk bila perdarahan berlanjut, memberikan
konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga bagaimana
mencegah perdarahan pada masa nifas karena atonia uteri,
pemberian ASI awal, memberi supervise kepada ibu bagaimana
teknik melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir, dan
menjaga bayi agar tetap sehat dengan cara mrncegah hipotermi Bila
ada bidan atau petugas lain yang membantu melahirkan, maka
petugas atau bidan itu harus tinggal dengan ibu dan bayi baru lahir
2.

untuk 2 jam pertama.


Kunjungan Kedua, waktu : 6 hari setelah persalinan.
Tujuannya antara lain adalah memastikan involusi uteri berjalan
dengan normal, evaluasi adanya tanda tanda demam, infeksi atau
perdarahan abdominal, memastikan ibu cukup makan, minum, dan
istirahat, memastikan ibu menyusui dengan benar dan tidak ada
tanda - tanda adanya penyulit, dan memberikan konseling pada ibu

3.
4.

mengenai hal - hal berkaitan dengan asuhan sayang bayi.


Kunjungan Ketiga, waktu : dua minggu setelah persalinan.
Tujuannya sama dengan kunjungan hari keenam.
Kunjungan Keempat, waktu : 6 minggu setelah persalinan.
Tujuannya antara lain adalah menanyakan penyulit penyulit
yang ada, memberikan konseling untuk KB secara dini.

6. Involusi Uterus

Proses involusi adalah proses kembalinya uterus ke keadaan


sebelum hamil setelah melahirkan.
Proses ini dimulai segera setelah plasenta keluar akibat kontraksi
otot-otot polos uterus. Sedangkan subinvolusi adalah penggagalan
uterus untuk kembali pada keadaan tidak hamil. Penyebab subinvolusi
yang paling sering adalah tertahannya fragmen plasenta dan infeksi.
(Asuhan kebidanan III nifas, 2011)

Tabel TFU menurut Waktu Involusi menurut buku asuhan kebidanan


pada ibu nifas, 2011

7.Subinvolusi Uterus
Menurut buku asuhan kebidanan III nifas (2011) sub involusi uterus
adalah kegagalan uterus untuk kembali pada keadaan tidak hamil. Menurut
Manuaba (2011) Sub involusi uterus adalah proses involusi uterus rahim yang
tidak berjalan sebagaimana mestinya, sehingga proses pengecilannya
terlambat.
Menurut Sarowono (2011) penyebab subinvolusi uteri :
a. terjadi infeksi pada endometrium
b. Terdapat sisa plasenta dan selaputnya
c. Terdapat bekuan darah
d. Mioma Uteri
Faktor penyebab terjadinya subivolusi adalah :
a. Faktor usia
b. Paritas
7

c.
d.
e.
f.
g.

Terdapat bekuan darah yang tidak keluar


Terdapat sisa plasenta dalam uterus
Status gizi buruk (kurang gizi)
Ibu tidak menyusui bayinya
Kurangnya mobilisasi

8. Penanganan Subinvolusi uterus


Penanganan Subinvolusi adalah
a. Pemberian obat antibiotik
b. Pemberian uterotonika
c. Pemberian tablet Fe
d. Pemberian tranfusi
Menurut Sarwono (2011) penangan pada kasus subinvolusi adalah
pemberian ergometrin per-os atau suntikan intramuskular. Dan pada kasus
subinvolusi uterus yang dikarenakan sisa plasenta atau selaputnya dalah harus
dilakukan kerokan rongga rahim (kuretase) .

9. Perdarahan Post Partum


Menurut buku panduan praktis pelayanan kesehatan maternal dan
neonatal (2010) perdarahan post partum adalah perdarahan pervaginam yang
melebihi 500 cc setelah kelahiran bayi dan plasenta. Sedangkan menurut
Sarwono (2011) definisi perdarahan post partum (PPP) adalah perdarahan
uang melebihi 500 ml setelah bayi lahir. Menurut Manuaba (2011) pedarahan
post partum adalah perdarahan yang terjadi dalam 24 jam setelah persalinan
berangsung.
Perdarahn post partum dibagi menjadi 2 yaitu :
a. Perdarahan post partum primer (Early HPP)
Perdarahan post partum primer atau Early HPP adalah perdarahan yang
terjadi 24 jam pertama setelah bayi lahir. Penyebab utamanya adalah
atonia uteri, retensio plasenta, sisa plasenta, dan robekan jalan lahir.
b. Perdarahan post partum sekunder (Late HPP)
Perdarahan post partum sekunder atau Late HPP adalah perdarahan yang
terjadi lebih dari 24 jam pertama setelah bayi lahir. Perdarahan terjadi
antara hari kedua sampai 6 minggu pasca persalinan. Penyebab utamanya
adalah robekan jalan lahir dan sisa plasenta atau membran, kelainan
pembekuan darah.

Faktor-faktor penyebab perdarahan post partum adalah


a. Grandemultipara
b. Jarak persalinan kurang dari 2 tahun
c. Persalinanyang dilakukan dengan tindakan : pertolongan kala uri sebeblum
waktunya, pertolongan persalinan dengan dukun, persalinan dengan
tindakan paksa, persalinan dengan narkose.
d. Anak besar
e. Hamil kembar dan hidramnion
f. Bekas sc atau riwayat perdarahan post partum sebelumnya.

BAB III
LAPORAN KASUS
Nama istri : ny. E
Usia
: 23 th
Agama
: Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT
Alamat

Swasta
: Jln. Hidup baru no.41
baru
rt 04/01, pademangan barat

Nama Suami
Usia
Agama
Pendidikan
Pekerjaan

: Tn. A
: 23th
: Islam
: SMA
: Karyawan

Alamat

: Jln. Hidup
No. 41 rt

04/01,

pademangan
barat
No. Tlp

:-

No. Tlp

087889472xxx
Pada tanggal 22 agustus 2014, jam 08.00 pasien datang ke UGD dengan
Keluhan utama : keluar darah banyak (+) sejak tadi pagi jam 07.00, ganti
pembalut 2x penuh
Quick check pusing (-) mual (-) muntah (-) pandangan jelas (+) nyeri ulu hati (-)
sesak (-) akral hangat (+) konjungtiva agak pucat.

S/

Riwayat persalinan ini : pasien mengatakan partus spontan di RSBK tgl 168-14. Perineum di episiotomi medlatki, dijahit dengan anastesi lidocain.
Perdarahan total 500 cc. Pasien riwayat pk I memanjang. Pasien
mengatakan tidak makan telur dan susu.
Riwayat penyakit (-) riwayat operasi (-) riwayat alergi obat (-)riwayat uruturut (-)

O/

Status generalis : KU baik, kesadaran : compos mentis, konjungtiva agak


pucat. Sklera tidak ikhterik
TD: 100/70 mmHg Nd : 100x/mnt Sh : 36,5C RR : 21x/mnt. Oedema (-) /
(-) sat.O2 : 100%
Status obstetrik : palpasi abdomen lemas, TFU 3 jari bawah pusat, kontraksi
uterus lembek, NT (-) NL (-)
Inspeksi : tampak darah (+) 2 pembalut penuh, tampak luka jahitan
perineum tebuka, tampak darah merembes aktif dari perineum, tampak
benang chromic suda mulai lepas.
Inspekulo : tampak ostium terbuka 1cm, tampak storsel (+) sedikit didepan
ostium, dibersihkan darah sudah tidak tampak mengair lagi. Dinding
vaginna utuh, portio licin
PD ata indikasi menilai keaadaan
10

Ostium terbuka 1 cm, portio tebal lunak arah depan.


Perdarahan total 400 cc
A/

P1A0 post partum hari ke 6 dengan late HPP e.c luka jahitan perineum
terbuka, subinvolusi uterus, anemia sedang (Hb 7,5)
Maspot : anemia berat, HPP berulang, syok

P/
1. Menginformasikan pada pasien dan keluarga tentang hasil pemeriksaan
2.

Mengobservasi KU dan TTV. KU dan TTV terobservasi


3. Mengobservasi kontraksi uterus dan perdarahan. Kontraksi uterus dan
perdarahan terobservasi
4. Mengambil sample darah untuk dilakukan pemeriksaan DPL. Sample
sudah terambil

5.

Memasang infus RL loading 1 kolf. Infus sudah terpasang.


6. Bekolaborasi dengan dokter jaga untuk melakukan pemeriksaan USG.
Pasien di USG. Hasil USG : Uterus AF, tampak gambaran hyperekoik
di cavum uteri, ukuran 1,6 x 2,6 kesan sisa plasenta

7.

Berkolaborasi dengan dokter jaga. Advice :


a. Pasien rencana tranfusi 500 prc
b. Rencana berkolaborasi dengan dokter konsulen untuk rehecting
perineum

Jam 08.35 Pasien masuk kamar bersalin


S/

Keluar darah (+) sejak pagi, pusing (+)

O/

KU baik, kesadaran : compos mentis, konjungtiva agak pucat. Sklera


tidak ikhterik

11

TD: 114/72 mmHg Nd : 120x/mnt (isi cukup) Sh : 36,5C RR :


22x/mnt, sat.O2 : 100%
Palpasi abdomen lemas, TFU 3 jari bawah pusat, kontraksi uterus
baik.
Inspeksi perineum : tampak perineum terbuka 4cm. Perdarahan aktif
merembes dari pembuluh darah dari laserasi perineum.
Terpasang infus RL loading
A/

P1A0 post partum hari ke 6 dengan late HPP e.c luka jahitan perineum
terbuka, subinvolusi uterus, anemia sedang (Hb 7,5)
Maspot : anemia berat, HPP berulang, syok
1. Menginformasikan pada pasien dan keluarga tentang hasil pemeriksaan
2. Mengobservasi KU dan TTV. KU dan TTV terobservasi
3. Mengobservasi kontraksi uterus dan perdarahan. Kontraksi uterus dan
perdarahan terobservasi.
4. Mengobservasi eliminasi pasien BAK 100cc
5. Berkolaborasi dengan dokter advice : Antibiotik ceftriaxone 1x2gr.

Jam 08.50 Inspeksi : tampak perineum terbuka 4cm. Perdarahan aktif merembes
dari pembuluh darah dari laserasi perineum dijepit dengan arteri
klem
Jam 09.00 Dokter konsulen visit : - Acc rencana tranfusi darah
- Acc rehecting perineum
- Hasil USG kesan bekuan darah

Jam 09.10 Dilakukan rehecting dengan benang cromic no.2 dan ATR chromic
2/0. perdarahan total 300 cc
Jam 11.00 Petugas bank darah menginformaiskan darah sudah tersedia

12

Jam 11.20 Infus RL diganti NaCl spoel


Jam 11.35 Infus NaCl spoel diganti darah kolf I, gol.darah B/ (+) no. 141844471.
Jam 13.30 Darah kolf I habis, diganti NaCl spoel
Jam 13.40 Infus NaCl spoel diganti darah kolf II, gol.darah B/(+) no.141938331
Jam 15.00 Pasien diantar ke ruangan
Tanggal 23 agustus 2014
Jam 04.00 Lapor hasil DPL ke dokter jaga
Hb : 8,6 L : 16,6 Ht :25,2 Tr : 373 E : 3,68 advice : iberet tablet
1x1.
Jam 07.00 Overan dinas pagi
S/

Nyeri luka jahitan (+) pusing (-) pandangan jelas (+) sesak (-) BAK
(+)

O/

KU baik, kesadaran : compos mentis, konjungtiva agak pucat. Sklera


tidak ikhterik
TD: 110/80 mmHg Nd : 79x/mnt (isi cukup) Sh : 36,6C RR :
22x/mnt, sat.O2 : 100%
Palpasi abdomen lemas, TFU 3 jari bawah pusat, kontraksi uterus
baik.
Luka jahitan perineum baik, perdarahan (+)

A/

P1A0 post partum hari ke 7 dengan late HPP e.c luka jahitan perineum
terbuka, subinvolusi uterus, post rehecting, post tranfusi 2 kolf,
anemia sedang (Hb 8,6)
Maspot : anemia berat, HPP berulang, syok

P/

13

1. Menginformasikan pada pasien dan keluarga tentang hasil


pemeriksaan
2. Mengobservasi KU dan TTV. KU dan TTV terobservasi
3. Mengobservasi kontraksi uterus dan perdarahan. Kontraksi uterus
dan perdarahan terobservasi
4. Mengobservasi eliminasi BAK (+) BAB (+)
5. Menginformasikan tentang mobilisasi. Pasien dan keluarga
mengerti tentang mobilisasi.
6. Berkolaborasi dengan dokter jaga advice therapy : Antibiotik
ceftriaxone 1x2gr, iberet 2x1, asam mefenamat 3x1
7. Berkolaborasi dengan dokter konsulen advice : metergine 3x1 tab,
USG ulang 3 hari lagi (tgl 26-8-14)
Tanggal 24 Agustus 2014
Jam 14.00 Overan dinas sore
S/

Nyeri luka jahitan (+) pusing (-) pandangan jelas (+)

O/

KU baik, kesadaran : compos mentis, konjungtiva agak pucat. Sklera


tidak ikhterik
TD: 110/70 mmHg Nd : 82x/mnt (isi cukup) Sh : 36,6C RR :
22x/mnt,
Palpasi abdomen lemas, TFU pusat simpisis, kontraksi uterus baik.
Perdarahan (+) intake

A/

P1A0 post partum hari ke 8 dengan late HPP e.c laserasi jalan lahir
terbuka, subinvolusi uterus, post rehecting, anemia sedang (Hb 8,6)
Maspot : anemia berat, HPP berulang, syok

P/
1. Menginformasikan pada pasien dan keluarga tentang hasil
pemeriksaan
2. Menginformasikan tentang kebutuhan nutrisi dan hidrasi. Pasien
dan keluarga mengerti tentang kebutuhan nutrisi dan hidrasi

14

3. Menginformasikan tentang kebutuhan eliminasi. Pasien dan


keluarga mengerti tentang kebutuhan eliminasi.
4. Menginformasikan tentang kebutuhan mobilisasi. Pasien dan
keluarga mengerti tentang kebutuhan mobilisasi.
5. Menginformasikan tentang personal hygiene. Pasien dan keluarga
mengerti tentang personal hygiene.
6. Menginformasikan tentang tanda-tanda bahaya pada ibu nifas.
Pasien dan keluarga mengerti tentang tanda bahaya pada ibu nifas.
7. Menginformasikan tanggal kontrol pada tanggal 26-8-14 untuk
pemeriksaan USG ulang.

BAB IV
PEMBAHASAN

Tanggal 22 agustus 2014 jam 08.00 Ny. E usia 23 tahun post partum hari
ke 6 datang ke UGD dengan keluhan utama keluar darah banyak sejak pagi hari,
ganti pembalut 2x penuh. Pasien dilakukan quick check pusing, mual, muntah,
pandangan kabur, nyeri ulu hati, dan sesak, Ny. E menyatakan tidak merasakan
salah satu quick check diatas. Akral masih teraba hangat dan konjungtiva agak
pucat.
Dilakukan anamnesa mengenai riwayat persalinan ini, pasien mengatakan
bahwa ia partus spontan di RSIA Budi Kemuliaan tanggal 16 Agustus 2014.
Perineum di episiotomi medlatki, dijahit dengan anastesi lidocain. Perdarahan
total 400 cc. Pasien riwayat PK I memanjang. Pasien mengatakan tidak makan
telur dan susu.
Pasien

dilakukan

pemeriksaan

fisik,

pemereiksaan

inspekulo

dan

pemeriksaan dalam untuk mencari penyebab keluar darah. Dan akhirnya


ditemukan penyebabnya adalah luka jahitan perineum yang terbuka. Pada kasus
ini pasien juga didiagnosa subinvolusi karena pada usia post partum hari ke-6,
TFU masih 3 jari di bawah pusat dan adanya kontraksi uterus yang lembek. Ini
sesuai dengan teori yang ada pada buku Asuhan kebidanan pada ibu nifas,

15

2011.Pasien dilakukan pemeriksaan USG dan ditemukannya bekuan darah yag


diduga menjadi faktor penyebab subinvolusi uterus. Ini sesuai dengan teori yang
ada pada buku Varneys Midwivery (2009).
Pada kasus diatas dilakukan pemeriksaan darah laboratorium dan ditemukan
bahwa Hb 8,6 gr/dl , dan pasien didiagnosa anemia. Pada kasus ini pasien di
diagnosa late HPP karena pasien mengalami total perdarahan > 500 cc lebih dari
24 jam pertama setelah bayi lahir. Ini sesuai dengan teori yang ada pada buku
Manuaba (2011).
Pada kasus ini semua penanganan sudah dilakukan dengan benar. Pada saat
datang pasien mendapat infus RL loading sebagai pengganti cairan karena pasien
mengeluarkan darah yang banyak. Pasien mendapat transfusi darah dan obat
penambah darah sebagai penanganan late HPP. Pasien juga mendapat obat
uterotonika dan antibiotik sebagai penanganan masalah subinvolusi. Dan pada
pasien ini juga ditemukan luka jahitan perineum yang terbuka yang diduga karena
kurangnya asupan nutrisi gizi yang baik saat ibu dirumah. Lalu pada pasien ini
dilakukan rehecting sebagai penanganan jahitan yang terbuka untuk menghentikan
perdarahan.
Pada kasus ini, saat pasien datang dan dirawat dilakukan observasi terhadap
KU dan TTV ibu serta perdarahan dan kontraksi rahim ibu. Saat pasien akan
pulang, ibu dan keluarga diberikan penyuluhan tentang kebutuhan nutrisi, hidrasi,
eliminasi, mobiilisasasi dan personal hygiene yang baik khususnya kebtuhan gizi
yang seimbang yang berasal dari telur atau susu untuk menncegah terjadinya luka
perineum terbuka kembali, karena mengandung protein untuk mempercepat
penyembuhan luka.

16

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
1.

Analisa masalah yang didapat Ny. E adalah late HPP dan subinvolusi

uterus
2. Masalah potensial yang mungkin terjadi adalah anemia berat, HPP
berulang dan syok.
3. Perencanaan yang diberikan pada Ny.E adalah .
a. Observasi KU dan TTV
b. Observasi kontraksi uterus dan perdarahan
c. Memasang Infus RL.
d. Melakukan pemeriksaan lab DPL.
e. Berkolaborasi dengan dokter untuk
1) Rencana transfusi PRC 500cc
2) Rencana rehecting luka jahitan perineum.
3) Melakukan USG kesan adanya bekuan darah.
4) Theraphy yang diberikan Antibiotik ceftriaxone 1x2gr, iberet
2x1, asam mefenamat 3x1 dan metergine 3x1 tablet.
4. Intervensi yang dibereikan pada Ny. E sudah sesuai dengan perencaan.
5. Evaluasi pada setelah tindakan, ibu dan keluarga mengerti mengenai
tindakan yang telah diberikan dan paham mengenai penyuluhan
kesehatan yang diberikan.

B. Saran

17

1. Memberikan penyuluhan kesehatan pada ibu nifas dan keluarga


mengenai pentingnya asupan gizi seimbang, pemenuhan hidrasi,
mobilisasi, dan personal hygiene.
2. Memberikan penjelasan mengenai tanda-tanda bahaya pada masa nifas
seperti keluar darah yang banyak, rahim tidak segera mengecil, dll.
3. Bagi tenaga kesehatan agar lebih meningkatkan kesiapan dalam
mengambil keputusan pada kasus seperti diatas.

18