Anda di halaman 1dari 1

Pada sekitar tahun 1980an menandakan perubahan struktur tatanan dunia lama menjadi dunia

baru. Ketika uni soviet mulai terpecah belah, negara barat beserta aliansinya yaitu NATO tetap
berjalan dan berdiri kokoh (Tuathail, 2003). Dari awal memang perkembangan Amerika Serikat
sepanjang abad ke-20 sudah berkembang pesat yang menjadi negara dunia menjadi negara
adikuasa. Tidak ada lagi east versus west dan bipolaritas melainkan multipolaritas (Short, 2003).
Didalam artikel Short (2003) dijelaskan terdapat 3 kekuatan baru yang muncul dan dapat
menyaingi Amerika Serikat yaitu China, Jepang dan Eropa Barat. China merupakan negara
dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia yang memungkinkan produksi secara murah dan
cepat. Jepang dengan kemampuan ekspor yang baik yang dapat mencapai pasar Amerika dan
Eropa walaupun Jepang masih berhutang kepada bank dunia. Dan eropa barat ketika perang
dingin, dengan Marshall Plan dari Amerika Serikat menjadi sebuah kesatuan ekonomi agar pada
saat itu sumber daya yang berasal dari negara koloni milik eropa barat tidak jatuh ketangan
komunis.
Namun hal ini tidak mencegah terjadinya sebuah konflik. Francis Fukuyama (dalam Tuathail,
2003) mengatakan bahwa konflik terbagi menjadi dua; historis dan pasca-historis. Konflik secara
historisis antar dua negara memang ada sepanjang sejarah, dan setelah sejarah itu selesai konflik
itu sendiri tidak akan berhenti. Khususnya di negara negara pasca historis seperti konflik di
Palestina diantara suku kurdi dengan palestina asli. Satu hal yang selalu menonjol diantara
konflik yang ada dalam sejarah; selalu mencakup adanya satu negara besar. Tentunya banyak
contoh yang bisa diambil seperti intervensi Amerika Serikat atau Rusia pada semenanjung
Crimea. Pada akhirnya apabila ada sebuah akhir dari geopolitik itu sendiri, akan menciptakan
sebuah ideology menjadi hal ekonomi agar keberlangsungan dapat terus terjadi (Tuathail, 2003).