Anda di halaman 1dari 8

KENYAMANAN

RUANG
PUBLIK
DALAM
MENCIPTAKAN KOTA LAYAK HUNI DI KOTA
MEDAN

ABDUL JOSHUA OH MANDAI

1
KENYAMANAN RUANG PUBLIK DALAM MENCIPTAKAN KOTA LAYAK HUNI DI KOTA
MEDAN
KASUS STUDI: LAPANGAN MERDEKA MEDAN
Abdul Joshua Oh Mandai1, Hilma Tamiami2
Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
1
abjoman@gmail.com, 2hilma_tamiami@yahoo.com
Abstract:
The development of Medan City increases public demand for public space. Crowded city causing
resident needs of space to breathe, move, and improve the quality of life. One of the aspect which can
improve the quality of life is to live in comfortable life. People needs comfort in working, playing,
walking, etc. Public space provide facilities for people to do their activity. In this case, public space
also have to provide comfort as public demand. Comfortable public space builds good character for
city as a system. On the other hand, one of good city character is livable city. Medan as a capital city
of North Sumatera Province known as one of the biggest city in Indonesia. Has it been a livable city?
Keywords: Comfortable, Public Space, Livable City,

PENDAHULUAN
Kawasan
perkotaan
merupakan
kawasan yang padat diisi dengan aktivitasaktivitas
masyarakat
kota
sehari-hari.
Terutama kota Medan yang semakin
berkembang pesat karena aktivitas-aktivitas
yang berlangsung di dalamnya. Sehingga
kebutuhan terhadap ruang publik menjadi
sangat tinggi. Keberadaan aktivitas pada ruang
luar dapat menjadi indikator kualitas ruang
publik perkotaan (Gehl, 1987).
Keberadaan ruang publik di kota
Medan tidak berdiri sendiri. Hal ini perlu
dirancang sedemikian rupa sehingga memberi
atraksi dan manfaat untuk masyarakat yang
menggunakannya. Hal ini disebabkan ruang
publik termasuk bagian dari konteks
perancangan kota (Shirvani, 1985).
Penggunaan ruang publik terkait
dengan masalah yang sering dinilai
masyarakat terhadap ruang publik, yaitu
jaminan kenyamanan bagi penggunanya.
Seiring
berkembangnya
kota,
tingkat
kenyamanan merupakan hal yang disinyalir
menunjukkan karakter kota. Karakter kota
yang merupakan identitas kota itu sendiri
merupakan penilaian dari apa yang dirasakan
oleh masyarakat yang berada di dalamnya.
Kenyamanan
menjadi
indikator
tingkat kelayakhunian sebuah kota. Karena

kenyamanan berkaitan dengan kualitas hidup


masyarakat, semakin nyaman sebuah kota,
maka masyarakat akan semakin betah untuk
hidup. Masyarakat cenderung memilih ruang
yang mampu melayani hasrat untuk
memperoleh kenyamanannya. Jalan yang
bersih, jalur pejalan kaki yang penuh estetika
serta aman, taman yang indah serta
menyegarkan, bangunan yang penuh sejarah
serta ramah terhadap lingkungan, dan lain-lain
merupakan garis besar bagaimana masyarakat
melihat struktur kota yang nyaman, dengan
kata lain kota layak huni.
Situasi di kota Medan terlebih di
kawasan pusat kota Medan yaitu kawasan
Lapangan Merdeka Medan yang sangat sentral
serta penuh sejarah belakangan semakin pesat.
Hal ini meningkatkan intensitas penggunaan
jalan yang tinggi oleh kendaraan, sehingga
menyebabkan polusi udara, suara, serta
berkurangnya estetika kota. Kemacetan
menimbulkan
ketidaknyamanan
bagi
masyarakat. Masyarakat semakin berkurang
hasratnya untuk berjalan kaki akibat situasi
kota yang sedemikian rupa. Desain jalan serta
jalur pejalan kaki juga berpengaruh atas
tingkat kenyamanan bagi penggunanya. Oleh
karena itu, merujuk dari permasalahan tersebut
maka akan diteliti lebih lanjut bagaimana
tingkat kenyamanan ruang publik di kawasan
1

KENYAMANAN
RUANG
PUBLIK
DALAM
MENCIPTAKAN KOTA LAYAK HUNI DI KOTA
MEDAN

ABDUL JOSHUA OH MANDAI

2
Lapangan Merdeka Medan dalam menuju kota
yang layak huni di kota Medan.
Adapun tujuan utama dalam penelitian
ini adalah untuk mengetahui kenyamanan di
kota Medan khususnya kawasan Lapangan
Merdeka Medan serta uji kelayakan kawasan
ini untuk dinilai kota layak huni.
TINJAUAN PUSTAKA
1. Ruang Publik
Ruang publik adalah ruang atau lahan
umum tempat masyarakat dapat melakukan
kegiatan publik fungsional maupun kegiatan
publik sampingan lainnya yang dapat
mengikat suatu komunitas, baik itu kegiatan
sehari-hari maupun berkala (Carr, 1992).
Ruang publik merupakan bagian dari konteks
perancangan kota (Shirvani, 1985), bahwa di
dalam perancangan kota elemen-elemen yang
harus tercakup di dalamnya adalah tata guna
lahan, bentuk dan massa bangunan, sirkulasi
dan parkir, ruang terbuka, jalur pedestrian,
pendukung aktifitas, taat informasi, serta
preservasi.
Tujuan ruang publik menurut Carr
(1992) adalah:
a. Kesejahteraan Masyarakat
Kesejahteraan masyarakat menjadi
motivasi dasar dalam penciptaan dan
pengembangan ruang terbuka publik
yang menyediakan jalur untuk
pergerakan, pusat komunikasi, dan
tempat untuk merasa bebas dan santai.
b. Peningkatan Visual
Keberadaan ruang publik di suatu kota
akan meningkatkan kualitas visual
kota
tersebut
menjadi
lebih
manusiawi, harmonis, dan indah.
c. Peningkatan Lingkungan
Penghijauan pada suatu ruang terbuka
publik sebagai sebuah nilai estetika
juga paru-paru kota yang memberikan
udara segar di tengah-tengah polusi.
d. Pengembangan Ekonomi
Pengembangan ekonomi adalah tujuan
yang umum dalam penciptaan dan
pengembangan ruang terbuka publik.
e. Peningkatan Kesan
Merupakan tujuan yang tidak tertulis
secara
jelas
dalam
kerangka

penciptaan suatu ruang terbuka publik


namun selalu ingin dicapai.
Tipologi
ruang
publik
dalam
perkembangannya memiliki variasi-variasi tipe
dan karakter (Carr, 1992) antara lain:
a. Taman-taman publik (public parks);
b. Lapangan dan Plaza (square and
plaza);
c. Taman Peringatan (memorial park);
d. Pasar (market);
e. Jalan (streets);
f. Lapangan bermain (playgrounds);
g. Ruang terbuka untuk masyarakat
(community open spaces);
h. Jalan hijau dan jalan taman
(greenways and parkways);
i. Atrium/pasar tertutup (atrium/indoor
market);
j. Tepi air (waterfronts).
Ruang publik berkaitan dengan citra
yang menaunginya, Lynch (1990) menyatakan
bahwa image kota dibentuk oleh 5 elemen
pembentuk wajah kota.
a. Paths: adalah suatu garis penghubung
yang memungkinkan orang bergerak
dengan mudah. Paths berupa jalur,
jalur pejalan kaki, kanal, rel kereta api,
dan yang lainnya.
b. Edges: adalah elemen yang berupa
jalur memanjang tetapi tidak berupa
paths yang merupakan batas antara 2
jenis fase kegiatan. Edges berupa
dinding, pantai hutan kota, dan lainlain.
c. Districts. Districts
hanya bisa
dirasakan ketika orang memasukinya,
atau bisa dirasakan dari luar apabila
memiliki kesan visual. Artinya
districts bisa dikenali karena adanya
suatu karakteristik kegiatan dalam
suatu wilayah.
d. Nodes: adalah berupa titik dimana
orang
memiliki
pilihan
untuk
memasuki districts yang berbeda.
Sebuah titik konsentrasi dimana
transportasi memecah, paths menyebar
dan tempat mengumpulnya karakter
fisik.
e. Landmark: adalah titik pedoman
obyek fisik. Berupa fisik natural yaitu
2

KENYAMANAN
RUANG
PUBLIK
DALAM
MENCIPTAKAN KOTA LAYAK HUNI DI KOTA
MEDAN

ABDUL JOSHUA OH MANDAI

3
gunung, bukit dan fisik buatan seperti
menara, gedung, sculpture, kubah dan
lain-lain sehingga orang bisa dengan
mudah mengorientasikan diri di dalam
suatu kota atau kawasan.
2. Kenyamanan
Gehl di dalam Carmona et al. (2003),
menyatakan bahwa di dalam ruang publik
harus menyediakan:
a. Perlindungan
Perlindungan yang terdapat di dalam
ruang publik di antaranya;
Perlindungan terhadap lalu lintas
dan kecelakaan;
Perlindungan
terhadap
kriminalitas dan kekerasan (rasa
aman); dan
Perlindungan terhadap perasaan
tidak menyenangkan.
b. Kenyamanan
Kenyamanan di dalam ruang publik di
antaranya:
Kenyamanan untuk berjalan;
Kenyamanan untuk berdiri;
Kenyamanan untuk duduk;
Kenyamanan untuk melihat;
Kenyamanan untuk
mendengar/berbicara; dan
Kenyamanan untuk bermain atau
aktifitas terbuka.
c. Kenikmatan
Skala;
Kenyamanan menikmati aspek
positif iklim; dan
Kualitas estetika atau pengalaman
positif.
Menurut Carr et al. dalam Carmona et
al. (2003), kenyamanan merupakan salah satu
syarat mutlak keberhasilan ruang publik. Lama
tinggal seseorang berada di ruang publik dapat
dijadikan tolok ukur kenyamanan tidaknya
suatu ruang publik. Dalam hal ini kenyamanan
ruang publik antara lain dipengaruhi oleh:
kenyamanan
lingkungan
yang
berupa
perlindungan dari pengaruh alam seperti sinar
matahari, angin; kenyamanan fisik yang
berupa ketersediaan fasilitas penunjang yang
cukup seperti tempat duduk; kenyamanan

sosial dan psikologis yang berupa karakter


ruang dan suasana.
3. Kota Layak Huni
Konsep kota layak huni menurut
Timmer dan Seymoar (dalam Rosly 2010)
menjelaskan bahwa:
a. kelayakhunian
sebagai
kualitas
hidup yang dialami oleh penghuni
kota maupun kawasan.
b. kemampuan
untuk
mengakses
infrastruktur; makanan; udara bersih;
perumahan; pekerjaan yang berarti;
dan ruang terbuka hijau serta taman.
c. Juga ditentukan oleh akses warga
untuk turut berpartisipasi dalam
pembuatan keputusan yang cocok
dengan kebutuhan.
d. Kemampuan untuk menopang kualitas
hidup yang kita nilai atau dimana kita
cita-citakan dengan meningkatkan
ekonomi,
sosial,
budaya
dan
lingkungan dengan baik oleh warga di
masa sekarang dan di masa depan.
Konsep kota layak huni ini memiliki
prinsip sebagaimana disampaikan oleh
Lennard (1997), yaitu:
a. Di dalam kota layak huni, warga
dapat melihat dan mendengar satu
sama lain;
b. Saling berinteraksi;
c. Banyak aktivitas, kegiatan, acara bagi
warga untuk berkumpul;
d. Aman dan nyaman;
e. Tempat belajar dan sosialisasi untuk
anak-anak dan pemuda;
f. Seluruh fungsi ekonomi, sosial,
budaya - berjalan beriringan;
g. Warga yang berkarakter;
h. Estetika dan keindahan menjadi
prioritas; dan
i. Kebijaksanaan
dan pengetahuan
warga diapresiasi dan digunakan.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode
campuran (Mix Method). Secara kualitatif,
data dikumpulkan melalui observasi lapangan
di kawasan kajian dengan melakukan penilaian
3

KENYAMANAN
RUANG
PUBLIK
DALAM
MENCIPTAKAN KOTA LAYAK HUNI DI KOTA
MEDAN

ABDUL JOSHUA OH MANDAI

Gambar 1. Peta Kawasan Penelitian


Sumber: Google Earth diolah ulang
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Analisa penilaian indikator kenyamanan
berdasarkan observasi lapangan

Berdasarkan hasil observasi, penilaian


aspek kenyamanan terhadap 5 elemen
pembentuk citra kota pada kawasan penelitian
ditabulasikan ke dalam bentuk tabel yang
dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Penilaian kenyamanan berdasarkan
observasi langsung di kawasan Lapangan
Merdeka

Indikator

District

Node

Landmark

Edge

Elemen

Path

dengan metode skala Likert. Secara kuantitatif,


peneliti menyebarkan 100 kuisioner secara
acak kepada responden yang terdiri dari
pengunjung kawasan Lapangan Merdeka
Medan tersebut.
Variabel yang digunakan untuk
menganalisa kualitas desain kota adalah
kenyamanan.
Indikator kota layak huni yang
menjadi poin penilaian peneliti dalam menilai
kenyamanan adalah kemudahan untuk difabel,
wanita hamil, lansia. jalan, parkir, area duduk.
Kemudian indikator desain kota yang menjadi
penilaian
masyarakat
dalam
menilai
kenyamanan adalah jalan, jalur pejalan kaki,
bangunan.
Data yang dikumpulkan kemudian
dianalisa. Data kualitatif dan kuantitatif akan
dianalisa terhadap teori yang dijadikan acuan.
Selanjutnya disajikan dalam tabel, carta dan
gambar dengan Microsoft Word dan Microsoft
Excel.
Lokasi penelitian ini yakni di
Lapangan Merdeka Medan yang terletak
diantara 4 ruas jalan utama di pusat Kota
Medan tepatnya Jalan Stasiun, Jalan Pulau
Pinang, Jalan Balai Kota, Jalan Bukit Barisan
(Gambar 1).

Kenyamanan

Sumber: Data pribadi setelah diolah ulang


2015
Keterangan skala:
1. Sangat buruk
2. Buruk
3. Cukup
4. Baik
5. Sangat Baik
a) Kenyamanan terhadap path
Kenyamanan
pada
jalur
pejalan kaki, jalan raya cukup baik
akan tetapi terdapat parkir yang
mengurangi nilai estetika pada jalur
path sehingga perlu pembenahan agar
lebih baik lagi, mulai dari lebar jalur
pedestrian, hingga pembatas jalan
yang aman.
b) Kenyamanan terhadap district
Kawasan ini dirancang cukup baik
karena faktor sejarah sehingga
membuat peneliti menilai bahwa
kawasan ini cukup nyaman untuk
masyarakat
melaluinya.
Walau
terdapat pembenahan yang harus
dilakukan.
c) Kenyamanan terhadap nodes
Simpul pada kawasan ini tidak terlalu
bagus, serta tidak memberi direksi
buat warga yang melaluinya, jalan
yang lebar dan ramai membuat kesan
tidak nyaman.
d) Kenyamanan terhadap landmark
4

KENYAMANAN
RUANG
PUBLIK
DALAM
MENCIPTAKAN KOTA LAYAK HUNI DI KOTA
MEDAN

ABDUL JOSHUA OH MANDAI

5
Pepohonan yang rindang di Lapangan
Merdeka membuat kesan yang bagus.
2. Analisa Penilaian Indikator Kota Layak
Huni

Node

Landmark

Edge

Kemudahan untuk
Warga yang
1
Cacat/Hamil/Lansia
Jalan
3

District

Indikator

Path

Tabel 2: Penilaian indikator kota layak huni


berdasarkan observasi langsung di kawasan
Lapangan Merdeka
Elemen

Parkir

Area Duduk

Sumber: Data pribadi setelah diolah ulang


(2015)

Kemudahan untuk Warga yang


Cacat/Hamil/Lansia
Pada kawasan ini tidak
mendukung kemudahan untuk warga
cacat, wanita hamil maupun lansia.
Contohnya, tidak terdapat pada jalur
pejalan kaki, tidak terdapat tegel
khusus untuk tuna netra, kemudian
tidak
adanya
landaian
untuk
memudahkan warga lansia untuk
menuju jalur pejalan kaki. Kemudahan
untuk wanita hamil juga tidak tersedia
seperti halte, tempat duduk. Pada area
Lapangan Merdeka di sisi Merdeka
Walk, terdapat tempat duduk akan
tetapi fungsi ini sedikit komersial,
sehingga warga lansia, wanita hamil
maupun warga yang cacat akan
mengalami ketidaknyamanan untuk
duduk jika harus membeli produk
terlebih dahulu di area ini hanya untuk
duduk. Area yang cukup baik dalam
memberi kemudahan pada warga
cacat/hamil/lansia adalah pada dalam
Lapangan Merdeka. Jalur pejalan kaki
yang tidak licin serta terdapat batasbatas jelas sehingga walau tidak

terdapat tegel khusus tuna netra, jalur


ini cukup aman dilalui, serta
keberadaan tempat duduk di beberapa
titik cukup membantu jika warga
kelelahan. Dalam aspek kenyamanan,
pada area Lapangan Merdeka ini
cukup nyaman, karena banyak
terdapat pepohonan rindang untuk
berteduh jika matahari terik.
Jalan
Jalan yang ada pada kawasan
ini memiliki kualitas yang baik tidak
terdapat lubang-lubang yang cukup
mengganggu perjalanan, akan tetapi
karena intensitas parkir yang tinggi di
jalan, membuat jalan sedikit terhambat
karena jalan menjadi menyempit. Hal
ini
menyebabkan
kurangnya
kenyamanan yang dirasakan ketika
melalui jalan di sekitar kawasan ini.
Intensitas kendaraan yang tinggi, serta
sering
terdengar
klakson
dari
kendaraan membuat jalan ini cukup
banyak menimbulkan kebisingan yang
mengganggu kenyamanan pengguna
sekitar Lapangan Merdeka.
Parkir
Pola parkir pada jalan ini
sangat mengganggu kenyamanan pada
jalan. Parkir yang menyerobot jalan
membuat jalur jalan menyempit, serta
parkir pada bahu jalan di depan area
Merdeka Walk mengurangi fungsi
serta estetika Lapangan Merdeka.
Kenyamanan
yang
dirasakan
berkurang karena keberadaan parkir
yang sembarangan.
Area Duduk
Pada jalur pejalan kaki tidak terdapat
area duduk, hal ini terkait karena
parkir yang mengganggu pejalan kaki
dalam
menggunakan
jalurnya.
Ketersediaan area duduk ada pada
dalam Lapangan Merdeka, untuk
kenyamanan yang dirasakan cukup
baik
dikarenakan
keberadaan
pepohonan serta pendopo. Sehingga
ketika hujan atau panas terik, warga
dapat berteduh serta duduk di sini.

KENYAMANAN
RUANG
PUBLIK
DALAM
MENCIPTAKAN KOTA LAYAK HUNI DI KOTA
MEDAN

ABDUL JOSHUA OH MANDAI

6
3. Analisa kenyamanan kawasan Lapangan
Merdeka
berdasarkan
penilaian
masyarakat.

Trotoar di Kawasan Ini Nyaman


56

60

Pada bagian ini, peneliti mengambil


100 orang responden yang berada pada
kawasan ini secara acak/random untuk
mengisi kuisioner yang sudah disiapkan
sebelumnya oleh peneliti. Terdapat 3 aspek
yang dinilai pada kawasan ini oleh warga,
yaitu jalan, jalur pejalan kaki (trotoar), serta
bangunan. Berikut ini adalah hasil pengolahan
data setelah kuisioner tersebut dinilai oleh
warga
Carta 1: Penilaian masyarakat terhadap
kenyamanan jalan pada kawasan Lapangan
Merdeka

Jalan di Kawasan ini Nyaman


Untuk Dilalui
60
50
40
30
20
10
0

51

40
30
20
10
0

28
16
0

Sangat Setuju Tidak


Tidak Sangat
Setuju
Pasti Setuju
Tidak
Setuju

Sumber: Data pribadi diolah ulang (2015)


Berdasarkan hasil pengolahan data
yang peneliti lakukan, 56 warga (56% dari
responden) setuju bahwa trotoar di kawasan ini
dinilai nyaman.
Carta 3: Penilaian masyarakat terhadap
kenyamanan
bangunan
pada
kawasan
Lapangan Merdeka.

29
0

50

14

Sangat Setuju Tidak


Tidak Sangat
Setuju
Pasti Setuju
Tidak
Setuju

Sumber: Data pribadi diolah ulang (2015)


Berdasarkan hasil pengolahan data
yang peneliti lakukan, 51 warga (51% dari
responden) setuju bahwa jalan di kawasan ini
dinilai nyaman.
Carta 2: Penilaian masyarakat terhadap
kenyamanan trotoar pada kawasan Lapangan
Merdeka

Bangunan di Kawasan Ini Nyaman


59
60
50
40
30
20
10
0

12

19
10
0

Sangat Setuju Tidak


Tidak Sangat
Setuju
Pasti Setuju
Tidak
Setuju

Sumber: Data pribadi diolah ulang (2015)


Berdasarkan hasil pengolahan data
yang peneliti lakukan, 59 warga (59% dari
responden) setuju bahwa bangunan di kawasan
ini dinilai nyaman.

KENYAMANAN
RUANG
PUBLIK
DALAM
MENCIPTAKAN KOTA LAYAK HUNI DI KOTA
MEDAN

ABDUL JOSHUA OH MANDAI

7
Dari ketiga carta di atas dapat diambil
kesimpulan, masyarakat setuju bahwa kawasan
ini nyaman.

faktor mungkin mempengaruhi


responden dalam hal ini.

penilaian

KESIMPULAN DAN SARAN


4. Analisa Penilaian Indikator Kota Layak
Huni oleh masyarakat.

Sangat
Setuju

Setuju

Pertanyaan

Sangat
Tidak
Setuju
Tidak
Setuju
Tidak
Pasti

Tabel 3: Penilaian Indikator Kota Layak Huni


oleh masyarakat.

Kawasan
ini
menyediakan
fasilitas
pendukung
untuk orang tua,
19
42
28 10 1
penyandang
cacat dan wanita
hamil. (seperti:
ramp, pegangan
jalan, dll)
Kawasan
Ini
Memiliki
8
21 57 14
Kualitas Jalan
Yang baik
Kawasan
Ini
Memiliki Jalur
12
37
21 26 4
Pedestrian yang
Baik
Sumber: data pribadi setelah diolah ulang
Penilaian
responden
terhadap
indikator kota layak huni pada tabel
menunjukkan persepsi masyarakat terhadap
kawasan Lapangan Merdeka Medan. 42
responden tidak setuju bahwa kawasan ini
menyediakan fasilitas pendukung untuk lansia,
wanita hamil serta penyandang cacat. Sesuai
dengan penilaian peneliti yang menilai
kawasan ini buruk dalam hal menyediakan
kemudahan bagi warganya yang cacat, hamil,
serta lansia. Kualitas jalan yang tersedia
memiliki kualitas baik dinilai setuju oleh 57
responden. Hal ini didukung dengan tidak
terdapat lubang-lubang jalan yang dapat
mengganggu perjalanan kendaraan. Kemudian
terkait jalur pejalan kaki, penilaian masyarakat
cenderung tidak setuju bahwa jalur pedestrian
di kawasan ini baik untuk dilalui, berbagai

1. Kesimpulan
Dari hasil penelitian ini, ditarik
kesimpulan bahwa yang menjadi tujuan ruang
publik adalah kesejahteraan masyarakat,
peningkatan visual, peningkatan lingkungan,
pengembangan ekonomi, peningkatan kesan.
Ruang publik dinyatakan berhasil jika mampu
mencapai kenyamanan bagi masyarakat
penggunanya. Setelah ditinjau lebih lanjut,
untuk
melakukan
penilaian
harus
memerhatikan 5 elemen citra kota yang
dikemukakan Lynch (1990) yaitu path,
district, nodes, landmark, dan edges.
Hasil analisa kenyamanan kawasan
Lapangan Merdeka ini ditemukan bahwa ada
sedikit perbedaan pandangan antara peneliti
dengan responden. Hal ini terkait pada
penilaian jalur pejalan kaki, dimana warga
menilai setuju bahwa desain jalur ini nyaman
untuk dilalui. Serta tidak tersedianya jalur
khusus warga cacat, hamil, dan lansia menjadi
masalah kota dalam hal peningkatan fasilitas
publik
Kemudian berkaitan dengan kota
layak huni, hasil analisa terkait penilaian
indikator kota layak huni ditemukan bahwa
mayoritas responden menilai kesetujuannya
bahwa kota Medan dapat dikategorikan
sebagai kota yang layak huni walaupun masih
terdapat hal yang perlu dibenahi
SARAN
1. Untuk Pemerintah
Pemerintah selaku pengelola kota,
harus menyediakan fasilitas-fasilitas yang
memberikan kenyamanan warganya seperti
kemudahan untuk warga cacat, hamil dan
lansia, kemudian pembenahan pada jalur
pejalan kaki. Lalu pemerintah harus
menyediakan gedung parkir dalam hal
peningkatan estetika Lapangan Merdeka.
Pengalihfungsian pada sebagian sisi Lapangan
Merdeka sudah merebut ruang publik,
sehingga mengurangi kenyamanan warga
dalam menikmati Lapangan Merdeka secara
utuh.
7

KENYAMANAN
RUANG
PUBLIK
DALAM
MENCIPTAKAN KOTA LAYAK HUNI DI KOTA
MEDAN

ABDUL JOSHUA OH MANDAI

8
2. Untuk Masyarakat
Masyarakat selaku warga yang
menikmati fasilitas publik, harus turut menjaga
keutuhan fasilitas-fasilitas publik, serta
menghargai kenyamanan warga yang lainnya.
Sehingga kota dapat dinikmati bersama.
DAFTAR PUSTAKA
Carmona, M., dkk. 2010. Public Places,
Urban Spaces: The Dimensions of
Urban Design. UK: Elsevier.
Carr, S; Francis, M; Rivlin, L G; & Stone, A
M. 1992. Public Space. Cambridge:
Cambridge University Press.
Gehl, J. 1987. Life Between Buildings. New
York: Van Nostrand Reinhold
Company.
Lennard, H. L. 1997. Principles for the
Livable City in Lennard, S. H., S von
Ungern-Sternberg, H. L. Lennard, eds.
Making Cities Livable. International
Making Cities Livable Conferences.
California, USA: Gondolier Press.
Lynch, K. 1990. The Image of The City.
Massachusetts: M.I.T. Press

Rosly, D. 2010. Building Vibrant and Liveable


Cities. Kuala Lumpur: Federal
Department of Town and Country
Planning
Shirvani, H. 1985. Urban Design Process.
New York: Van Nostrand, Reinhold
Company