Anda di halaman 1dari 38

JOURNAL READING

CHRONIC RHINOSINUSITIS: CORRELATION OF


SYMPTOMS WITH COMPUTED TOMOGRAPHY SCAN
FINDINGS
Amodu EJ, Fasunla AJ, Akano AO, Olusesi AD
Pan African Medical Journal. 2014; 18:40
Disusun Oleh:
Ekkim Al Kindi
G99141057
Surya Dewi Primawati G99141058
Ginanjar Tenry Sultan G99141121

Pembimbing:
dr. Sudarman, Sp.THT-KL.
KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN THT-KL
FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD DR. MOEWARDI
2015

PENDAHULUAN

Pendahuluan
Rhinosinusitis

Pendahuluan

Computed Tomography (CT) scan sinus

Oleh

karena itu, penelitian ini


bertujuan
untuk mengevaluasi CT scan
dalam manajemen rhinosinusitis
kronis
dengan menghubungkan tingkat
keparahan gejala pre operatif
dan menghubungkan tingkat
keparahan penyakit secara umum
dari RSK dengan temuan radiologis
pada CT scan.

ALAT DAN METODE

Subyek Penetilian
Inklusi semua pasien
dewasa dengan gejala klinis RSK di
Rumah
Sakit
Nasional,
Abuja,
Nigeria dalam waktu berturut-turut
antara
Januari
2011
hingga
Desember 2011
Kriteria eksklusi Pasien dengan
massa sinonasal, adanya penyakit
penyerta seperti DM, HIV dan Riw,
trauma wajah atau operasi sinonasal
Kriteria

Obyek Penelitian
Ethical

approval diperoleh dari


lembaga dewan peninjau dari
Rumah Sakit Nasional, Abuja,
Nigeria
Diagnosis klinis rinosinusitis
kronis dibuat dengan menggunakan
pedoman oleh Task Force
Rhinosinusitis dari American
Academy of Otolaryngology, Head
and Neck Surgery (AAO-HNS)

Seluruh

subyek penelitian diambil data berupa


Performa
Tingkat keparahan setiap gejala klinis
Dgn skala analog visual
0=tidak ada, 1=ringan, 10=paling parah
Total Skor 4 = ringan / rendah;
5-7 = moderat / menengah
8 = parah / tinggi.
Tingkat keparahan penyakit keseluruhan
Dgn skala analog visual , apakah mengganggu
kegiatan rutin mereka sehari-hari dan skala
tidur.
0=tidak mengganggu, 1=tidak terlalu
mengganggu, 10=sangat mengganggu
Total Skor 4 berarti ringan/rendah;
5-7 = moderat/menengah

Subyek

diperiksa CT scan sinus paranasal


dengan doneon Aquilion 64 CT scanner
(ToshibaTM).
Gambar rekonstruksi aksial, koronal dan sagital
sinus paranasal dan otak dari pasien diperoleh
dengan ketebalan bagian 3.0mm, pada 120 kV
dan 300 mA.
Gambar-gambar tersebut kemudian ditransfer ke
komputer workstation dengan DICOM viewer
untuk evaluasi sinus paranasal.
Semua scan dievaluasi menggunakan jendela
tulang (jendela lebar 2.000 unit Hounsfield (HU);
jendela tingkat 500 HU) dan jendela jaringan
lunak (jendela lebar 200 HU, jendela level 40
HU).
Temuan radiologi yang dinilai sesuai dengan

Sinus

paranasal terdiri dari maksilaris, ethmoid,


frontal dan sinus sphenoid.
Sinus ethmoid dibagi menjadi anterior dan
posterior.
Untuk sinus paranasal, setiap sisi (kanan dan
kiri) dinilai secara terpisah.
Skor 0 = tidak ada kelainan
Skor 1 = kekeruhan parsial
Skor 2 = kekeruhan total
Untuk

kompleks osteo-meatal,

Skor 0 = tidak tersumbat (paten)


Skor 2 = tersumbat.
Total

skor untuk keduanya dapat berkisar dari 0 -

24.
Variasi anatomi yang diamati dievaluasi untuk

Metode
penelitian prospektif berbasis RS
Data dianalisis secara stastik menggunakan
SPSS17
Korelasi
antara
studi
keparahan
gejala
keparahan / penyakit dan temuan CT korelasi
Pearson
Analisis regresi uji hubungan antara variabel
variabel terikat Nilai hasil CT scan
variabel bebas skor keparahan gejala dan
skor keparahan penyakit
Tingkat signifikansi statistik dinyatakan dalam p
Jenis

HASIL

Hasil
60

pasien : 36 pria (57%) dan 24 wanita (43%)

Rasio1,5: 1
Usia

pasien 18 - 60 th (rata-rata = 35,6 11,42)

Pria = 36,6 tahun 11,9


Wanita = 34,2 10,8.
Semua

pasien memiliki > 1 gejala


Semua mengalami sumbatan hidung dan nasal
discharge.
Skor keparahan gejala lebih tinggi untuk
discharge hidung dan hidung tersumbat
Skor rendah untuk gejala kelelahan/ sakit
telinga/rasa tertekan/rasa penuhan dan sakit gigi
(Tabel 1)

Hasil

Hasil
Hasil CT scan
keterlibatan setidaknya satu sinus
paranasal pada 59 pasien (98,3%).

49
41
24
12

pasien
pasien
pasien
pasien

Rerata

(81,7%)
(68,3%)
(40,0%)
(20,0%)

Sinus
Sinus
Sinus
Sinus

maksilaris
ethmoidalis ant post
frontal,
sphenoid

skor Lund-Mackay =16,78 SD


3,76 (kisaran 9-24).
Dengan rata-rata 16 dan modus 14
(Tabel 2)

Hasil

Hasil
Pasien

dengan skor keparahan penyakit

ringan/rendah
skor CT scan 10-22,
moderat/menengah
skor CT scan 12-24,
tinggi/berat skor CT scan 9-24
Analisis

statistik menunjukkan
Tidak ada hubungan yang signifikan antara skor
keparahan penyakit secara keseluruhan dan skor
Lund-Mackay CT (r = 0,195; p = 0,6).
Ada hubungan yang signifikan antara skor CT dan
nasal discharge (r = -0,132; p = 0,03)
Ada hubungan yang lemah antara skor CT dan
sumbatan hidung (r = 0,193; p = 0.049) (Tabel 3).
Gejala lainnya tidak signifikan

Hasil
Variasi

anatomi ditemukan pada CT


scan dari 15 pasien,

4
1
2
1
1
6

dengan
dengan
dengan
dengan
dengan
dengan

Tidak

concha bullosa
paradoxical middle turbinate
haller cells
Onodi cells
ager nasi
deviasi septum

ada hubungan antara skor


keparahan penyakit dan variasi
anatomi (p> 0,05)

DISKUSI

Diskusi

Rhinosinusitis adalah masalah kesehatan yang signifikan sehub

Diagnosis klinis pasien pada penelitian ini berdasar pada ada t

Fisiologi

hidung normal tergantung dari :

1. drainase ostium sinus yang baik


2. Ventilasi sinus paranasal 23,24
Lokasi

ostium terletak pada lateral dinding


komplek calledostiomeatal hidung
Sehingga oklusi menjadi faktor penting
dalam patogenesis RSK

Penelitian

sebelumnya menyebutkan bahwa :


tempat, gejala, dan lingkungan
merupakan faktor penting dalam patogenesis
RSK
Temuan dari komplek ostiomeatal paten pada
30% pasien pada penelitian ini mendukung dari
keikutsertaan faktor lain, seperti oklusi komplek
ostiomeatal dalam etiopatogenesis dari RSK.
Secara spesifik, variasi anatomi yang
berhubungan langsung dengan aliran udara
hidung atau saluran sempit komplek ostiomeatal
telah menjadi faktor penting dalam patogenesis
RSK

Temuan

variasi anatomi pada penelitian ini


sama dengan laporan penelitian lainnya 25-28.
Pada penelitian lain menyebutkan bahwa :
Terdapat hubungan antara variasi anatomi dengan
patogenesis RSK
Penelitian lainnya menyebutkan tidak ada
hubungan yang spesifik
Penelitian lain melaporkan terdapat hubungan
antara penyebab dari konka bulosa dengan RSK

Pada

penelitian kali ini juga menemukan :


Tidak ada hubungan antara variasi anatomi
dan tingkat keparahan penyakit (p>0.05).
Hal ini juga diamati bahwa tidak ada
perbedaan pada konka bulosa dan septum
deviasi antara pasien dengan tingkat score
keparahan rendah dan tinggi.

CT

scan telah digunakan oleh


para klinisi untuk :
menegakkan diagnosis,
menggambarkan tingkat keterlibatan
sinus paranasal sebaik dalam
menggambarkan abnormalitas
anatomi
menyediakan sebuah road map
untuk ahli bedah selama endoskopi
sinus dan dasar dari pembedahan
tulang

Terdapat

hubungan antara nilai


CT Scan dengan discharge dan
obstruksi hidung.
Hal ini sesuai dengan temuan
secara statistik yang menyatakan
bahwa terdapat hubungan antara
gejala dan nilai CT scan dari
penelitian lain

Bertentangan

dengan penelitian ini,


beberapa penelitian menyebutkan bahwa
tidak terdapat hubungan antara nilai CT
scan dari Lund Mackay dengan RSK 33,34
Karena kegagalan dari penelitian
sebelumnya untuk mencapai
keseragaman hasil, peneliti
menyarankan untuk mempertimbangkan
dari tingkat keparahan penyakit dalam
assessment RSK selain dari gejala klinis
dan CT scan.

Kekurangan

dari hubungan
antara gejala lain RSK dengan
nilai CT dari Lund Mackay pada
penelitian ini dapat disebabkan
karena tidak hadirnya pasien
dalam jumlah besar dimana
mereka positif dalam temuan CT
scan dari RSK sebaik dengan
gejala pasien dengan minimal
penyakit sinus dalam CT scan.

Penelitian

ini menemukan bahwa


penebalan mukosa di satu atau lebih sinus
paranasal pada 98% pasien dengan RSK.
Hal ini membuat CT scan menjadi sebuah
alat penting dalam penegakan diagnosis
RSK.
Bagaimanapun, temuan ini kontradiksi
dengan pelaporan yang menyebutkan
bahwa CT scan tidak cukup semata mata
sebagai alat untuk penegakan diagnosis
dan penentuan derajat RSK 33

Beberapa

penelitian juga
menyebutkan bahwa secara tidak
sengaja ditemukan penebalan
mukosa dan polip terisolasi pada CT
scan pasien tanpa gejala RSK 35,36.
Bagaimanapun, untuk assessment
angka kesakitan dan aktivitas yang
lebih baik dari RSK, tingkat
keparahan penyakit harus
diikutsertakan.

Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan bahwa nilai CT scan dapa

TERIMA KASIH