Anda di halaman 1dari 15

Penyerahan BKP adalah salah satu objek PPN yang disebutkan dalam Pasal 4 huruf a UU

PPN. Dalam kaitannya dengan PPN, kata penyerahan BKP tidak hanya meliputi
penjualan melainkan semua bentuk penyerahan yang mengakibatkan adanya
perpindahan hak atas barang tersebut.
Dalam Pasal 1A ayat (1), UU PPN menyebutkan beberapa bentuk transaksi yang
termasuk dalam pengertian penyerahan BKP yaitu:
1.

Penyerahan hak atas BKP karena suatu perjanjian;

2.

Pengalihan BKP karena suatu perjanjian sewa beli dan/atau perjanjian sewa guna
usaha (leasing);

3.

Penyerahan BKP kepada pedagang perantara atau melalui juru lelang;

4.

Pemakaian sendiri dan/atau pemberian cuma-cuma;

5.

BKP berupa persediaan dan/atau aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk
diperjualbelikan, yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan;

6.

Penyerahan BKP dari pusat ke cabang atau sebaliknya dan/atau penyerahan BKP
antar cabang;

7.

Penyerahan BKP secara konsinyasi;

8.

Penyerahan BKP oleh PKP dalam rangka perjanjian pembiayaan yang dilakukan
berdasarkan prinsip syariah, yang penyerahannya dianggap langsung dari PKP kepada
pihak yang membutuhkan BKP.
Dalam kacamata PPN, hanya ada 5 jenis transaksi penyerahan yang bukan penyerahan
BKP (yang berarti tidak akan terutang PPN), yaitu (Pasal 1A ayat (2) UU PPN):

1.

Penyerahan BKP kepada makelar sebagaimana dimaksud dalam KUHD;

2.

Penyerahan BKP untuk jaminan utang-piutangn;

3.

Penyerahan BKP dari pusat ke cabang atau sebaliknya maupun penyerahan antar
cabang, dalam hal PKP sudah memperoleh izin pemusatan tempat PPN terutang
(sentralisasi);

4.

Pengalihan BKP dalam rangka penggabungan, peleburan, pemekaran,


pemecahan, dan pengambilalihan usaha dengan syarat pihak yang melakukan
pengalihan dan yang menerima pengalihan adalah PKP;

5.

BKP berupa aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan, yang
masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan, dan yang Pajak Masukan atas

perolehannya tidak dapat dikreditkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (8)
huruf b dan huruf c UU PPN.

Berdasarkan Pasal 1A Undang-undang PPN Tahun 1984 termasuk Penyerahan adalah sebagai
berikut:
a. Penyerahan hak atas Barang Kena Pajak karena suatu perjanjian.
Penyerahan hak atas Barang Kena Pajak karena suatu perjanjian seperti jual beli, tukarmenukar, jual beli dengan angsuran, atau perjanjian lain yang mengakibatkan penyerahan hak
atas barang.
b. Pengalihan Barang Kena Pajak oleh karena suatu perjanjian sewa beli dan perjanjian leasing.
Pengalihan Barang Kena Pajak juga dapat terjadi karena perjanjian sewa beli atau perjanjian
sewa guna usaha (leasing). Adapun yang dimaksud dengan penyerahan karena perjanjian sewa
guna usaha (leasing) adalah penyerahan yang disebabkan oleh perjanjian sewa guna usaha
(leasing) dngan Hak Opsi. Meskipun pengalihan atau penyerahan hak atas Barang Kena Pajak
belum dilakukan dan pembayaran Harga Jual Barang Kena Pajak tersebut dilakukan secara
bertahap, tetapi karena penguasaan atas Barang Kena Pajak telah berpindah dari penjual
kepada pembeli atau dari lessor kepada lessee, maka undang-undang ini menentukan bahwa
penyerahan Barang Kena Pajak dianggap telah terjadi pada saat perjanjian telah ditandatangani,
kecuali apabila saat berpindahnya penguasaan secara nyata atas Barang Kena Pajak tersebut
terjadi lebih dahulu daripada saat ditandatanganinya perjanjian.
Berdasarkan SE-10/PJ.42/1994 yang mengatur pelaksanaan PPN terhadap Perjanjian Sewa
Guna Usaha dengan Hak Opsi sebagai berikut:
(a) Perlakuan PPN Terhadap SGU dengan Hak Opsi (Finance Lease)

Atas penyerahan jasa dalam transaksi SGU dengan Hak Opsi


dari Lessor kepada Lessee merupakan Jasa Financial Leasing yang
dikecualikan dari pegenaan PPN.
Pengalihan BKP oleh suatu perjanjian SGU dengan Hak Opsi,
termasuk dalam pengertian penyerahan BKP yang terutang PPN.
Penyerahan barang dianggap telah terjadi pada saat barang (barang
modal) dipindahkan penguasaannya dari penjual (supplier)
atau Lessor kepada pembeli atau Lessee, walaupun belum diikuti dengan
penyerahan hak kepemilikan atas barang yang disewa guna tersebut
kepada Lessee.
(b) Perlakuan PPN Terhadap SGU Tanpa Hak Opsi
Penyerahan Jasa dalam transaksi SGU tanpa Hak Opsi dari Lessor kepada Lessee adalah
penyerahan jasa yang terutang PPN. Karena Lessor sebagai perusahaan jasa persewaan
barang dengan demikian merupakan Pengusaha Kena Pajak.

(c) Perlakuan PPN Terhadap Sale and Lease back dengan Hak Opsi Perlakuan PPN tidak
terutang PPN sepanjang barang modal (aktiva tetap) yang bersangkutan tetap digunakan
oleh Lessee untuk kegiatan usaha yang menghasilkan penyerahan yang terutang PPN.
c. Penyerahan Barang Kena Pajak kepada pedagang perantara atau melalui juru lelang.
Pedagang perantara ialah orang pribadi atau badan yang dalam kegiatan usaha atau
pekerjaanya dengan nama sendiri melakukan perjanjian atau perikatan atas dan untuk
tanggungan orang lain dengan mendapat upah atau bala jasa tertentu, misalnya Komisioner
atau yang ditunjuk oleh pemerintah.
d. Penyerahan pemakaian sendiri.
Pemakaian sendiri mengandung pengertian bahwa Barang Kena Pajak yang merupakan barang
dagangan atau hasil produksi digunakan untuk kepentingan Pengusaha Kena Pajak atau
digunakan untuk kepentingan pengurus atau karyawannya. Atas pemakaian sendiri Barang Kena
Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak atau untuk pengurus dan karyawannya, terutang PPN dan
harus dibuatkan Faktur Pajak dengan menggunakan Dasar Pengenaan Pajak (DPP) sebesar
harga jual Barang Kena Pajak tersebut, tidak termasuk laba kotor.
Dilihat dari tujuan pemakaian sendiri atas hasil produksi sendiri, dibedakan dalam pemakaian
sendiri untuk tujuan konsumtif dan pemakaian sendiri untuk tujuan produktif.

Contoh Pemakaian Sendiri untuk Tujuan Konsumtif. Pabrik


minimum ringan menggunakan sebagian dari hasil produksinya untuk
konsumsi karyawan. Atas pemakaian sendiri oleh PKP untuk tujuan
konsumtif yang berasal dari produksinya sendiri tentang PPN. Pajak
Keluaran harus dibayar sendiri oleh pengusaha yang bersangkutan. PPN
yang dibayar tersebut merupakan Pajak Masukan yang tidak dapat
dikreditkan.
Contoh Pemakaian Sendiri untuk Tujuan Produktif. Pabrik
mobil/truk mempergunakan sendiri truk yang diproduksinya untuk kegiatan
usaha mengangkut bahan baku spare parts dari satu tempat ke pabriknya.
Atas pemakaian sendiri ini terutang PPN. Pajak Keluaran harus dibayar
sendiri oleh pengusaha yang bersangkutan. PPN yang dibayar tersebut
merupakan Pajak Masukan yang dapat dikreditkan.
e. Penyerahan pemberian cuma-cuma.
Pemberian cuma-cuma: sebagai pemberian Barang Kena pajak oleh PKP yang diberi tanpa
pembayaran baik dari hasil produksi sendiri, maupun bukan produksi sendiri antara lain
pemberian contoh barang dagangan untuk kegiatan promosi kepada relasi atau calon pembeli,
termasuk dalam pengertian penyerahan Barang Kena Pajak.
Atas pemberian cuma-cuma Baarang Kena Pajak oleh pengusaha Kena Pajak terutang PPN
dan harus dibuatakn Faktur Pajak dengan menggunakan Dasar Pengenaan Pajak (DPP)
sebesar harga jual Barang Kena Pajak yang diberikan.

f. Penyerahan BKP dari pusat ke cabang atau sebaliknya dan/atau penyerahan BKP
antarcabang.
Penyerahan BKP dari pusat ke cabang atau sebaliknya dan penyerhan BKP antarcabang
dikenakan pajak. Karena menganut prinsip desentralisasi Pengusaha Kena pajak, maka baik
kantor pusat maupun kantor cabang dengan nama dan bentuk apa pun masing-masing
dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak oleh KKP setempat. Akhirnya penyerahan BKP dari
kantor pusat ke kantor cabang atau sebaliknya dan penyerahan antarcabang dikenakan pajak.
g. Penyerahan BKP secaara konsinyasi.
Dalam hal penyerahan secara konsinyasi, Pajak Petambahan Nilai yang sudah dibayar pada
waktu Barang Kena Pajak yang bersangkutan diserahkan untuk dititipkan dapat dikreditkan
dengan Pajak Keluaran pada Masa Pajak terjadinya penyerahan Barang Kena Pajak yang
dititipkan tersbut. Sebaliknya, jika Barang Kena Pajak titipan tersebut tidak laku dijual dan
diputuskan untuk dikembalikan kepada pemilik Barang Kena Pajak, Pengusaha yang menerima
titipan tersebut dapat menggunakan ketentuan mengenai pengambilan Barang Kena Pajak
(retur).
Penyerahan BKP kepada pedagang perantara terutang PPN. Yang dimaksud pedagang
perantara adalah pengusaha dengan nama atau bentuk apa pun yang melakukan usaha
perdagangan perantara termasuk pedagangan dalam konsinyasi, kecuali makelar yang diangkat
dan disumpah oleh Departemen Kehakiman sebagaimana dimaksud dalam pasal 62 Kitab
Undang-undang Hukum Dagang.
Pajak Pertambahan Nilai (Pajak Keluaran) harus dipungut oleh PKP tang bersangkutan pada
saat penyerahan BKP kepada Pedagang Konsinyasi.
h. Penyerahan persediaan BKP dan aktiva yang menurut tujuan semula tidak diperjualbelikan
yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan, sepanjang PPN atas perolehan aktiva
tersebut menurut ketentuan dapat dikreditkan.
Berdasarkan ketentuan Pasal 1A UU PPN Tahun 1994 menetapkan pajak PPN dikenakan atas
penyerahan persediaan BKP dan aktiva oleh PKP yang menurut tujuan semua tidak untuk
diperjualbelikan, yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan, disamakan dengan
pemakai sendiri sehingga dianggap sebagai penyerahan kena pajak. Khusus untuk aktiva yang
menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan tersebut, hanya dikenakan PPN apabila
memenuhi persyaratan, yaitu bahwa PPN yang dibayar pada saat perolehannya dapat
dikreditkan.
Pengusaha Kena Pajak, sering disebut PKP adalah Pengusaha yang melakukan penyerahan
Barang Kena Pajak dan atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang dikenakan pajak berdasarkan
Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai (UU PPN) 1984 dan perubahannya, tidak termasuk
Pengusaha Kecil yang batasannya ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan, kecuali
Pengusaha Kecil yang memilih untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.

Hak dan Kewajiban Pengusaha Kena Pajak (Pasal 3A Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2000) :
Kewajiban PKP

a. Pengusaha yang telah wajib menjadi Pengusaha Kena Pajak atau Pengusaha Kecil yang
memilih menjadi Pengusaha Kena Pajak seperti tersebut diatas berkewajiban untuk :
1) Melaporkan usahanya (mendaftarkan perusahaannya) untuk dikukuhkan menjadi
Pengusaha Kena Pajak.
2) Memungut PPN/PPn BM yang terutang.
3) Menyetor PPN/PPnBM yang terutang (yang kurang dibayar)
4) Melaporkan PPN/PPn BM yang terutang (menyampaikan SPT Masa PPN/PPn BM).
b. Pengusaha kecil yang menyerahkan Barang Kena Pajak/Jasa Kena Pajak tidak wajib
menjadi Pengusaha Kena Pajak tetapi boleh memilih menjadi Pengusaha Kena Pajak atau
tidak. Dengan demikian, atas penyerahan Barang Kena Pajak/Jasa Kena Pajak oleh
Pengusaha Kecil tidak dikenakan PPN, kecuali jika Pengusaha Kecil tersebut memilih
dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak.
c. Apabila sampai dengan suatu bulan dalam satu tahun buku, peredaran bruto (omzet)
Pengusaha telah melewati batasan Pengusaha Kecil, Pengusaha tersebut wajib melaporkan
usahanya untuk dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak, selambat-lambatnya akhir
bulan berikutnya.
d. Apabila dalam satu tahun buku peredaran bruto Pengusaha Kena Pajak tidak melebihi
batasan Pengusaha kecil, maka Pengusaha Kena Pajak yang bersangkutan dapat
mengajukan permohonan pencabutan sebagai Pengusaha Kena Pajak.
Hak PKP

a. Pengkreditan Pajak Masukan atas perolehan BKP/JKP


b. Restitusi atau kompensasi atas kelebihan PPN
Proses Pencabutan PKP :

a. Direktur Jenderal Pajak akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu.


b. Keputusan akan diberikan dalam jangka waktu 2 bulan sejak permohonan diterima.
c. Jika Dirjen Pajak tidak memberikan keputusan dalam jangka waktu 2 bulan, maka
permohonan tersebut dianggap dikabulkan dan keputusan pencabutan akan diberikan
selambat-lambatnya 1 bulan setelah 2 bulan tersebut.
Contoh :

PT A bergerak dalam bidang perdagangan garmen. Selain itu, PT A juga melakukan


penyerahan jasa pengecetan gedung. Pada Masa September 2002, PT A melakukan
pengecetan penjualan garmen s.d. September 2002 sebesar Rp 350.000.000,00 dan
penyerahan jasa pengecetan gedung s.d. bulan September 2002 Rp 50.000.000,00. Dari kasus
ini dapat dihitung Peredaran usaha PT A s.d. September 2002 adalah sebesar Rp
400.000.000,00 (87,5% penyerahan BKP). Jadi dalam hal ini PT A sudah berkewajiban
melaporkan usahanya untuk dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak paling lambat akhir
bulan Oktober 2002.
Pada dasarnya berdasarkan ketentuan perundang-undangan perpajakan yang berlaku, atas
impor Barang Kena Pajak (BKP) yang dibebaskan dari pungutan Bea Masuk TETAP dipungut

Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang
Mewah (PPN/PPnBM).
Namun menyimpang dari ketentuan sebagaimana dimaksud diatas sebagaimana tertuang dalam
Peraturan Meteri Keuangan Nomor : 27/PMK.011/2012, atas impor sebagian Barang Kena Pajak
(BKP) yang dibebaskan dari pungutan Bea Masuk, TIDAK dipungut Pajak Pertambahan Nilai
(PPN) atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPN/PPnBM).
Barang Kena Pajak (BKP) yang dibebaskan dari pungutan Bea Masuk dan TIDAK dipungut
Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas
Barang Mewah (PPN/PPnBM)sebagaimana dimaksud diatas adalah :
1. Barang perwakilan negara asing beserta para pejabatnya yang bertugas di Indonesia
berdasarkan asas timbal balik;
2. Barang untuk keperluan badan internasional yang diakui dan terdaftar pada Pemerintah
Indonesia beserta pejabatnya yang bertugas di Indonesia dan tidak memegang paspor
Indonesia;
3. Barang kiriman hadiah untuk keperluan ibadah umum, amal, sosial, atau kebudayaan;
4. Barang untuk keperluan museum, kebun binatang, dan tempat lain semacam itu yang terbuka
untuk umum;
5. Barang untuk keperluan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan;
6. Barang untuk keperluan khusus kaum tunanetra dan penyandang cacat lainnya;
7. Peti atau kemasan lain yang berisi jenazah atau abu jenazah;
8. Barang pindahan Tenaga Kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri, mahasiswa yang belajar
di luar negeri, Pegawai Negeri Sipil, anggota Tentara Nasional Indonesia, atau anggota
Kepolisian Republik Indonesia yang bertugas di luar negeri sekurang-kurangnya selama 1 (satu)
tahun, sepanjang barang tersebut tidak untuk diperdagangkan dan mendapat rekomendasi dari
Perwakilan Republik Indonesia setempat;
9. Barang pribadi penumpang, awak sarana pengangkut, pelintas batas, dan barang kiriman
sampai batas jumlah tertentu sesuai dengan ketentuan perundang-undangan Pabean;
10. Barang yang diimpor oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah yang ditujukan untuk
kepentingan umum;
11. Perlengkapan militer termasuk suku cadang yang diperuntukkan bagi keperluan pertahanan
dan keamanan Negara;
12. Barang impor sementara;
13. Barang yang dipergunakan untuk kegiatan usaha eksplorasi hulu minyak dan gas bumi serta
panas bumi.
Fasilitas tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak
Penjualan Atas Barang Mewah (PPN/PPnBM) dapat diberikan terhadap Barang Kena Pajak
sebagaimana dimaksud diatas sepanjang memenuhi ketentuan sebagai berikut :
1. Barang tersebut belum dapat diproduksi dalam negeri;

2. Barang tersebut sudah diproduksi dalam negeri, namun belum memenuhi spesifikasi yang
dibutuhkan; atau
3. Barang tersebut sudah diproduksi dalam negeri, namun jumlahnya belum mencukupi
kebutuhan industri.
Untuk memperoleh fasilitas sebagaimana diatas, Wajib Pajak harus mengajukan permohonan
kepada Direktur Jenderal Bea dan Cukai bersamaan dengan permohonan untuk memperoleh
fasilitas pembebasan bea masuk, dengan dilampiri Rencana Impor Barang (RIB) yang telah
disetujui dan ditandasahkan oleh Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi atau Direktur Jenderal
Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi, Kementerian Energi dan Sumber Daya
Mineral, yang tata caranya mengikuti Ketentuan Perundang-undangan Pabean.

LAMA
(1) Jenis barang sebagaimana dimaksud
(1)
dalam Pasal 1 angka 2 dan jenis jasa
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1
angka 5 yang tidak dikenakan pajak
berdasarkan Undang-Undang ini
ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.
(UU No 18 Tahun 2000)
Cukup jelas
(2) Penetapan jenis barang yang tidak
dikenakan Pajak Pertambahan Nilai
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
didasarkan atas kelompok-kelompok
barang sebagai berikut : (UU No 18
Tahun 2000)
a. barang hasil pertambangan atau
hasil pengeboran yang diambil
langsung dari sumbernya;

(2)

BARU
Dihapus.

Jenis barang yang tidak dikenai Pajak


Pertambahan Nilai adalah barang
tertentu dalam kelompok barang sebagai
berikut: (UU No 42 Tahun 2009)

a.

barang hasil pertambangan atau


hasil pengeboran yang diambil
langsung dari sumbernya;

Penjelasan :

Penjelasan :

Yang dimaksud dengan barang hasil


pertambangan dan hasil pengeboran
yang diambil langsung dari
sumbernya seperti minyak mentah
(crude oil), gas bumi, pasir dan
kerikil, bijih besi, bijih timah, bijih
emas.

Barang hasil pertambangan atau


hasil pengeboran yang diambil
langsung dari sumbernya meliputi:

Yang dimaksud dengan barang hasil


pertambangan dan hasil pengeboran
yang diambil langsung dari
sumbernya seperti minyak mentah
(crude oil), gas bumi, pasir dan
kerikil, bijih besi, bijih timah, bijih
emas.

a. minyak mentah (crude oil);


b. gas bumi, tidak termasuk gas
bumi seperti elpiji yang siap
dikonsumsi langsung oleh
masyarakat;
c. panas bumi;
d. asbes, batu tulis, batu
setengah permata, batu
kapur, batu apung, batu

permata, bentonit, dolomit,


felspar (feldspar), garam
batu (halite), grafit,
granit/andesit, gips, kalsit,
kaolin, leusit, magnesit,
mika, marmer, nitrat,
opsidien, oker, pasir dan
kerikil, pasir kuarsa, perlit,
fosfat (phospat), talk, tanah
serap (fullers earth), tanah
diatome, tanah liat, tawas
(alum), tras, yarosif, zeolit,
basal, dan trakkit;
e. batubara sebelum diproses
menjadi briket batubara; dan

b.

barang-barang kebutuhan pokok


yang sangat dibutuhkan oleh rakyat
banyak;

b.

f. bijih besi, bijih timah, bijih


emas, bijih tembaga, bijih
nikel, bijih perak, serta bijih
bauksit.
barang kebutuhan pokok yang
sangat dibutuhkan oleh rakyat
banyak;

Penjelasan :

Penjelasan :

Yang dimaksud dengan kebutuhan


pokok dalam ayat ini adalah beras
dan gabah, jagung, sagu, kedelai,
garam baik yang berjodium maupun
yang tidak berjodium.

Barang kebutuhan pokok yang


sangat dibutuhkan oleh rakyat
banyak meliputi:

Yang dimaksud dengan kebutuhan


pokok dalam ayat ini adalah beras
dan gabah, jagung, sagu, kedelai,
garam baik yang berjodium maupun
yang tidak berjodium.

a. beras;
b. gabah;
c. jagung;
d. sagu;
e. kedelai;
f. garam, baik yang beryodium
maupun yang tidak
beryodium;
g. daging, yaitu daging segar
yang tanpa diolah, tetapi
telah melalui proses
disembelih, dikuliti,
dipotong, didinginkan,
dibekukan, dikemas atau
tidak dikemas, digarami,

dikapur, diasamkan,
diawetkan dengan cara lain,
dan/atau direbus; h. telur ...
h. telur, yaitu telur yang tidak
diolah, termasuk telur yang
dibersihkan, diasinkan, atau
dikemas;
i. susu, yaitu susu perah baik
yang telah melalui proses
didinginkan maupun
dipanaskan, tidak
mengandung tambahan gula
atau bahan lainnya, dan/atau
dikemas atau tidak dikemas;
j. buah-buahan, yaitu buahbuahan segar yang dipetik,
baik yang telah melalui
proses dicuci, disortasi,
dikupas, dipotong, diiris, digrading, dan/atau dikemas
atau tidak dikemas; dan

c.

makanan dan minuman yang


disajikan di hotel, restoran, rumah
makan, warung, dan sejenisnya;

c.

Penjelasan :
Untuk menghindari pajak berganda,
karena sudah merupakan objek
pengenaan Pajak Daerah.

k. sayur-sayuran, yaitu sayuran


segar yang dipetik, dicuci,
ditiriskan, dan/atau disimpan
pada suhu rendah, termasuk
sayuran segar yang dicacah.
makanan dan minuman yang
disajikan di hotel, restoran, rumah
makan, warung, dan sejenisnya,
meliputi makanan dan minuman
baik yang dikonsumsi di tempat
maupun tidak, termasuk makanan
dan minuman yang diserahkan oleh
usaha jasa boga atau katering; dan
Penjelasan :

Untuk menghindari pajak berganda,


karena sudah merupakan objek
pengenaan Pajak Daerah.

d.

uang, emas batangan, dan suratsurat berharga.

Cukup jelas
(3) Penetapan jenis jasa yang tidak

d.

(3)

Ketentuan ini dimaksudkan untuk


menghindari pengenaan pajak
berganda karena sudah merupakan
objek pengenaan Pajak Daerah.
uang, emas batangan, dan surat
berharga.

Jenis jasa yang tidak dikenai Pajak

dikenakan Pajak Pertambahan Nilai


sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
didasarkan atas kelompok-kelompok
jasa sebagai berikut : (UU No 18 Tahun
2000)
a. jasa di bidang pelayanan kesehatan
medik.

Pertambahan Nilai adalah jasa tertentu


dalam kelompok jasa sebagai berikut:
(UU No 42 Tahun 2009)

a.

jasa pelayanan kesehatan medik;


Penjelasan
Jasa pelayanan kesehatan medis
meliputi:
1. jasa dokter umum, dokter
spesialis, dan dokter gigi;
2. jasa dokter hewan;
3. jasa ahli kesehatan seperti
ahli akupunktur, ahli gigi,
ahli gizi, dan ahli fisioterapi;
4. jasa kebidanan dan dukun
bayi;
5. jasa paramedis dan perawat;
6. jasa rumah sakit, rumah
bersalin, klinik kesehatan,
laboratorium kesehatan, dan
sanatorium;
7. jasa psikolog dan psikiater;
dan

b.

jasa di bidang pelayanan sosial.

b.

8. jasa pengobatan alternatif,


termasuk yang dilakukan
oleh paranormal.
jasa pelayanan sosial;
Penjelasan :
Jasa pelayanan sosial meliputi:
1. jasa pelayanan panti asuhan
dan panti jompo;
2. jasa pemadam kebakaran;
3. jasa pemberian pertolongan
pada kecelakaan;
4. jasa lembaga rehabilitasi;
5. jasa penyediaan rumah duka

atau jasa pemakaman,


termasuk krematorium; dan

c.

jasa di bidang pengiriman surat


dengan perangko.

c.

6. jasa di bidang olah raga


kecuali yang bersifat
komersial.
jasa pengiriman surat dengan
perangko;
Penjelasan :

d.

jasa di bidang perbankan,


asuransi, dan sewa guna usaha
dengan hak opsi.

d.

Jasa pengiriman surat dengan


perangko meliputi jasa pengiriman
surat dengan menggunakan
perangko tempel dan menggunakan
cara lain pengganti perangko tempel.
jasa keuangan;
Penjelasan :
Jasa keuangan meliputi:
1. jasa menghimpun dana dari
masyarakat berupa giro, deposito
berjangka, sertifikat deposito,
tabungan, dan/atau bentuk lain yang
dipersamakan dengan itu;
2. jasa menempatkan dana,
meminjam dana, atau meminjamkan
dana kepada pihak lain dengan
menggunakan surat, sarana
telekomunikasi maupun dengan
wesel unjuk, cek, atau sarana
lainnya;
3. jasa pembiayaan, termasuk
pembiayaan berdasarkan prinsip
syariah, berupa: a) sewa guna usaha
dengan hak opsi;
b) anjak piutang;
c) usaha kartu kredit; dan/atau
d) pembiayaan konsumen;
4. jasa penyaluran pinjaman atas
dasar hukum gadai, termasuk gadai

e.

syariah dan fidusia; dan 5. jasa


penjaminan.
jasa asuransi
Penjelasan :

e.

jasa di bidang keagamaan.

f.

Yang dimaksud dengan jasa


asuransi adalah jasa pertanggungan
yang meliputi asuransi kerugian,
asuransi jiwa, dan reasuransi, yang
dilakukan oleh perusahaan asuransi
kepada pemegang polis asuransi,
tidak termasuk jasa penunjang
asuransi seperti agen asuransi,
penilai kerugian asuransi, dan
konsultan asuransi.
jasa keagamaan.
Penjelasan :
Jasa keagamaan meliputi:
1. jasa pelayanan rumah ibadah;
2. jasa pemberian khotbah atau
dakwah;
3. jasa penyelenggaraan kegiatan
keagamaan; dan

f.

jasa di bidang pendidikan.

g.

4. jasa lainnya di bidang keagamaan.


jasa pendidikan.
Penjelasan :
Jasa pendidikan meliputi:
1. jasa penyelenggaraan
pendidikan sekolah, seperti
jasa penyelenggaraan
pendidikan umum,
pendidikan kejuruan,
pendidikan luar biasa,
pendidikan kedinasan,
pendidikan keagamaan,
pendidikan akademik, dan
pendidikan profesional; dan
2. jasa penyelenggaraan

g.

h.

jasa di bidang kesenian dan hiburan


yang telah dikenakan pajak
tontonan.

jasa di bidang penyiaran yang


bukan bersifat iklan.

h.

pendidikan luar sekolah.


jasa kesenian dan hiburan
Penjelasan :

i.

Jasa kesenian dan hiburan meliputi


semua jenis jasa yang dilakukan
oleh pekerja seni dan hiburan.
jasa penyiaran yang tidak bersifat
iklan
Penjelasan :

i.

jasa di bidang angkutan umum di


darat dan di air.

j.

j.

jasa di bidang tenaga kerja.

Jasa penyiaran yang tidak bersifat


iklan meliputi jasa penyiaran radio
atau televisi yang dilakukan oleh
instansi pemerintah atau swasta
yang tidak bersifat iklan dan tidak
dibiayai oleh sponsor yang bertujuan
komersial.
jasa angkutan umum di darat dan di
air serta jasa angkutan udara dalam
negeri yang menjadi bagian yang
tidak terpisahkan dari jasa
angkutan udara luar negeri;
jasa tenaga kerja
Penjelasan :
Jasa tenaga kerja meliputi:
1. jasa tenaga kerja;
2. jasa penyediaan tenaga kerja
sepanjang pengusaha
penyedia tenaga kerja tidak
bertanggung jawab atas hasil
kerja dari tenaga kerja
tersebut; dan

k.

jasa di bidang perhotelan.

l..

3. jasa penyelenggaraan
pelatihan bagi tenaga kerja.
jasa perhotelan.
Penjelasan :
Jasa perhotelan meliputi:
1. jasa penyewaan kamar,
termasuk tambahannya di

hotel, rumah penginapan,


motel, losmen, hostel, serta
fasilitas yang terkait dengan
kegiatan perhotelan untuk
tamu yang menginap; dan

l.

jasa yang disediakan oleh


Pemerintah dalam rangka
menjalankan pemerintahan secara
umum.

m.

2. jasa penyewaan ruangan


untuk kegiatan acara atau
pertemuan di hotel, rumah
penginapan, motel, losmen,
dan hostel.
jasa yang disediakan oleh
Pemerintah dalam rangka
menjalankan pemerintahan secara
umum
Penjelasan :

n.

Tidak ada

n.

Jasa yang disediakan oleh


pemerintah dalam rangka
menjalankan pemerintahan secara
umum meliputi jenis-jenis jasa yang
dilaksanakan oleh instansi
pemerintah, antara lain pemberian
Izin Mendirikan Bangunan,
pemberian lzin Usaha Perdagangan,
pemberian Nomor Pokok Wajib
Pajak, dan pembuatan Kartu Tanda
Penduduk.
Jasa penyediaan tempat parkir
Penjelasan :

o.

Tidak ada

o.

Yang dimaksud dengan jasa


penyediaan tempat parkir adalah
jasa penyediaan tempat parkir yang
dilakukan oleh pemilik tempat
parkir dan/atau pengusaha kepada
pengguna tempat parkir dengan
dipungut bayaran.
Jasa telepon umum dengan
menggunakan uang logam;
Penjelasan :
Yang dimaksud dengan jasa telepon
umum dengan menggunakan uang
logam adalah jasa telepon umum
dengan menggunakan uang logam

p.

Tidak ada

p.

q.

Tidak ada

q.

atau koin, yang diselenggarakan


oleh pemerintah maupun swasta.
Jasa pengiriman uang dengan
wesel pos.
jasa boga atau katering.