Anda di halaman 1dari 16

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka
penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul Percobaan Efek
Fotolistrik.
Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan
baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki
penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi
penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak
terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan penelitian ini,
khususnya kepada :
1. Guru Pembimbing yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam
pelaksanaan

bimbingan,

pengarahan,

dorongan

dalam

rangka

penyelesaian

penyusunan makalah ini


2. Secara khusus penulis menyampaikan terima kasih kepada keluarga tercinta yang
telah memberikan dorongan dan bantuan serta pengertian yang besar kepada penulis
dalam menyelesaikan makalah ini.
3. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memberikan
bantuan dalam penulisan makalah ini.
Akhirnya penulis berharap semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal pada
mereka yang telah memberikan bantuan.

Penyusun

ii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ......................................................................................

KATA PENGANTAR ...................................................................................

ii

DAFTAR ISI ...................................................................................................

iii

BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ..................................................................................

1.2. Rumusan Masalah .............................................................................

1.3. Tujuan Penulisan ...............................................................................

BAB II. PEMBAHASAN


2.1. Efek Fotolistrik ..................................................................................

2.2. Hamburan Compton ...........................................................................

2.3. Efek Compton ....................................................................................

2.4. Konsep Foton .....................................................................................

2.5. Apakah Foton itu ? .............................................................................

2.6. Percobaan ...........................................................................................

10

2.7. Pembahasan Proses Percobaan .........................................................

11

BAB III. PENUTUP


3.1. Kesimpulan .......................................................................................

13

3.2. Saran .................................................................................................

13

DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................

14

iii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Dalam fisika modern efek fotolistrik dan hamburan Compton merupakan salah satu
pokok bahasan yang mempunyai kedudukan istimewa karena interpretasi mekanisme
terjadinya peristiwa ini telah mengantarkan fisika pada tahapan baru yang melahirkan fisika
kuantum. Efek fotolistrik adalah pengeluaran elektron dari suatu permukaan (biasanya
logam) ketika dikenai, dan menyerap, radiasi elektromagnetik (seperti cahaya tampak dan
radiasi ultraungu) yang berada di atas frekuensi ambang tergantung pada jenis permukaan.
Efek fotolistrik membutuhkan foton dengan energi dari beberapa electronvolts sampai
lebih dari 1 MeV unsur yang nomor atomnya tinggi. Studi efek fotolistrik menyebabkan
langkah-langkah

penting dalam

memahami

sifat

kuantum

cahaya,

elektron

dan

mempengaruhi pembentukan konsep Dualitas gelombang-partikel. Hamburan Compton


adalah suatu efek yang merupakan bagian interaksi sebuah penyinaran terhadapsuatu materi.
Efek Compton adalah salah satu dari tiga proses yang melemahkan energi suatu sinar
ionisasi.
Atau lebih sederhana dapat digambarkan bahwa untuk membangkitkan tenaga listrik
dari cahaya matahari kita mengenal istilah sel surya. Namun tahukah kita bahwa sel surya itu
sebenarnya memanfaatkan konsep efek fotolistrik. Efek ini akan muncul ketika cahaya
tampak atau radiasi UV jatuh ke permukaan benda tertentu. Cahaya tersebut mendorong
elektron keluar dari benda tersebut yang jumlahnya dapat diukur dengan meteran listrik.
Konsep yang sederhana ini tidak ditemukan kemudian dimanfaatkan begitu saja, namun
terdapat serangkain proses yang diwarnai dengan perdebatan para ilmuan hingga
ditemukanlah definisi cahaya yang mewakili pemikiran para ilmuan tersebut, yakni cahaya
dapat berprilaku sebagai gelombang dapat pula sebagai pertikel. Sifat mendua dari cahaya ini
disebut dualisme gelombang cahaya.
Meskipun sifat gelombang cahaya telah berhasil diaplikasikan sekitar akhir abad ke19, ada beberapa percobaan dengan cahaya dan listrik yang sukar dapat diterangkan dengan
sifat gelombang cahaya itu. Pada tahun 1888 Hallwachs mengamati bahwa suatu keping itu
mula-mula positif, maka tidak terjadi kehilangan muatan. Diamatinya pula bahwa suatu
keping yang netral akan memperoleh muatan positif apabila disinari. Kesimpulan yang dapat
ditarik dari pengamatan-pengamatan di atas adalah bahwa chaya ultraviolet mendesak keluar

muatan litrik negatif dari permukaan keping logam yang netral. Gejala ini dikenal sebagai
efek fotolistrik.

1.2. Rumusan Masalah


Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini antara lain :
a) Apa itu efek fotolistrik?
b) Apa itu hamburan compton?
c) Bagaimana konsep foton?

1.3. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, pembahasan materi dari makalah ini bertujuan untuk :
a) Mengetahui efek fotolistrik
b) Mengetahui hamburan Compton
c) Mengetahui konsep foton

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Efek Fotolistrik


Hasil-hasil eksperimen menunjukkan, bahwa suatu jenis logam tertentu bila disinari
(dikenai radiasi) dengan frekuensi yang lebih besar dari harga tertentu akan melepaskan
elektron, walaupun intensitas radiasinya sangat kecil. Sebaliknya, berapapun besar intensitas
radiasi yang dikenakan pada suatu jenis logam, jika frekuensinya lebih kecil dari harga
tertentu maka tidak akan dapat melepaskan elektron dari logam tersebut. Peristiwa pelepasan
elektron dari logam oleh radiasi tersebut disebut efek fotolistrik, diamati pertama kali oleh
Heinrich Hertz (1887). Elektron yang terlepas dari logam disebut foto-elektron.
Efek fotolistrik membutuhkan foton dengan energi dari beberapa electronvolts sampai
lebih dari 1 MeV unsur yang nomor atomnya tinggi. Studi efek fotolistrik menyebabkan
langkah-langkah

penting dalam

memahami

sifat

kuantum

cahaya,

elektron

dan

mempengaruhi pembentukan konsep Dualitas gelombang-partikel. fenomena di mana cahaya


mempengaruhi gerakan muatan listrik termasuk efek fotokonduktif (juga dikenal sebagai
fotokonduktivitas atau photoresistivity ), efek fotovoltaik , dan efek fotoelektrokimia .
Ketika seberkas cahaya dikenakan pada logam, ada elektron yang keluar dari
permukaan logam. Gejala ini disebut efek fotolistrik. Efek fotolistrik diamati melalui
prosedur sebagai berikut. Dua buah pelat logam (lempengan logam tipis) yang terpisah
ditempatkan di dalam tabung hampa udara. Di luar tabung kedua pelat ini dihubungkan satu
sama lain dengan kawat. Mula-mula tidak ada arus yang mengalir karena kedua plat terpisah.
Ketika cahaya yang sesuai dikenakan kepada salah satu pelat, arus listrik terdeteksi pada
kawat. Ini terjadi akibat adanya elektron-elektron yang lepas dari satu pelat dan menuju ke
pelat lain secara bersama-sama membentuk arus listrik.

Cahaya dipandang sebagai kuantum energi yang hanya memiliki energi yang diskrit
bukan kontinu yang dinyatakan sebagai E = hf.
Konsep penting yang dikemukakan Einstein sebagai latar belakang terjadinya efek
fotolistrik adalah bahwa satu elektron menyerap satu kuantum energi. Satu kuantum energi
yang diserap elektron digunakan untuk lepas dari logam dan untuk bergerak ke pelat logam
yang lain. Hal ini dapat dituliskan sebagai
Energi cahaya = Energi ambang + Energi kinetik maksimum elektron
E = W0 + Ekm
hf = hf0 + Ekm
Ekm = hf hf0
Persamaan ini disebut persamaan efek fotolistrik Einstein. Perlu diperhatikan
bahwa W0 adalah energi ambang logam atau fungsi kerja logam, f0 adalah frekuensi ambang
logam, f adalah frekuensi cahaya yang digunakan, dan Ekm adalah energi kinetik maksimum
elektron yang lepas dari logam dan bergerak ke pelat logam yang lain. Dalam bentuk lain
persamaan efek fotolistrik dapat ditulis sebagai
Dimana m adalah massa elektron dan ve adalah dan kecepatan elektron. Satuan energi
dalam SI adalah joule (J) dan frekuensi adalah hertz (Hz). Tetapi, fungsi kerja logam
biasanya dinyatakan dalam satuan elektron volt (eV) sehingga perlu diingat bahwa 1 eV = 1,6
1019 J.

a) Mekanisme Emisi
Foton dari sinar memiliki energi karakteristik yang ditentukan oleh frekuensi cahaya.
Dalam proses photoemission, jika elektron dalam beberapa bahan menyerap energi dari satu
foton dan dengan demikian memiliki lebih banyak energi daripada fungsi kerja (energi ikat
elektron) dari materi, itu dikeluarkan. Jika energi foton terlalu rendah, elektron tidak bisa
keluar dari materi. Peningkatan intensitas sinar meningkatkan jumlah foton dalam berkas
cahaya, dan dengan demikian meningkatkan jumlah elektron, tetapi tidak meningkatkan
energi setiap elektron yang dimemiliki. Energi dari elektron yang dipancarkan tidak
tergantung pada intensitas cahaya yang masuk, tetapi hanya pada energi atau frekuensi foton
individual. Ini adalah interaksi antara foton dan elektron terluar.

Elektron dapat menyerap energi dari foton ketika disinari, tetapi mereka biasanya
mengikuti prinsip "semua atau tidak" . Semua energi dari satu foton harus diserap dan
digunakan untuk membebaskan satu elektron dari atom yang mengikat, atau energi
dipancarkan kembali. Jika energi foton diserap, sebagian energi membebaskan elektron dari
atom, dan sisanya dikontribusi untuk energi kinetik elektron sebagai partikel bebas.
Tidak ada elektron yang dilepaskan oleh radiasi di bawah frekuensi ambang, karena elektron
tidak mendapatkan energi yang cukup untuk mengatasi ikatan atom.
Efek fotolistrik banyak membantu penduaan gelombang-partikel, dimana sistem fisika
(seperti foton dalam kasus ini) dapat menunjukkan kedua sifat dan kelakuan sepertigelombang dan seperti-partikel, sebuah konsep yang banyak digunakan oleh pencipta
mekanika kuantum. Efek fotolistrik dijelaskan secara matematis oleh Albert Einstein yang
memperluas kuanta yang dikembangkan oleh Max Planck.

Hukum emisi fotolistrik:


1. Untuk logam dan radiasi tertentu, jumlah fotoelektro yang dikeluarkan berbanding lurus
dengan intensitas cahaya yg digunakan.
2. Untuk logam tertentu, terdapat frekuensi minimum radiasi. di bawah frekuensi ini
fotoelektron tidak bisa dipancarkan.
3. Di atas frekuensi tersebut, energi kinetik yang dipancarkan fotoelektron tidak bergantung
pada intensitas cahaya, namun bergantung pada frekuensi cahaya.
4. Perbedaan waktu dari radiasi dan pemancaran fotoelektron sangat kecil, kurang dari 10 -9
detik.

b) Potensial Penghenti
Hubungan antara arus dan tegangan diterapkan menggambarkan sifat efek fotolistrik.
Untuk diskusi, sumber cahaya menerangi P piring, dan lain elektrode pelat Q mengumpulkan
setiap elektron yang dipancarkan. Kami bervariasi potensial antara P dan Q dan mengukur
arus yang mengalir dalam sirkuit eksternal antara dua lempeng.
Jika frekuensi dan intensitas radiasi insiden adalah tetap, arus fotolistrik meningkat
secara bertahap dengan peningkatan potensi positif sampai semua foto elektron yang
dipancarkan dikumpulkan. Arus fotolistrik mencapai nilai saturasi dan tidak meningkatkan
lebih lanjut untuk peningkatan potensi positif. Arus saturasi tergantung pada intensitas
pencahayaan, tapi tidak panjang gelombang.

Jika kita menerapkan potensi negatif ke piring Q sehubungan dengan plat P dan
secara bertahap meningkatkan itu, berkurang saat fotolistrik sampai nol, pada potensial
negatif tertentu di piring Q. potensi negatif minimum yang diberikan ke piring Q di mana
arus fotolistrik menjadi nol disebut potensial menghentikan atau memotong potensial.
Dalam rezim sinar-X, efek fotolistrik dalam bahan kristal sering didekomposisi
menjadi tiga langkah:
1) Inner efek fotolistrik. Lubang tertinggal dapat menimbulkan efek auger , yang terlihat
bahkan ketika elektron tidak meninggalkan materi. Dalam padatan molekul fonon sangat
antusias dalam langkah ini dan dapat terlihat sebagai garis dalam energi elektron akhir.
Para photoeffect batin harus diperbolehkan. Para aturan transisi untuk atom
menerjemahkan melalui model ketat mengikat ke kristal. Mereka adalah geometri untuk
osilasi plasma dalam bahwa mereka harus transversal.
2) Balistik transportasi setengah dari elektron ke permukaan. Beberapa elektron tersebar.
3) Elektron melarikan diri dari bahan di permukaan.
Dalam model tiga langkah, elektron dapat mengambil beberapa jalur melalui tiga
langkah. Semua jalan dapat mengganggu dalam arti formulasi jalan terpisahkan. Untuk
negara permukaan dan molekul model tiga langkah apakah masih masuk akal bahkan
beberapa sebagai yang paling atom memiliki elektron yang dapat menyebarkan beberapa
elektron yang meninggalkan.
Arus nol atau tidak ada arus berarti tidak ada lagi elektron yang lepas dari permukaan
logam akibat efek fotolistrik. Nilai tegangan yang menyebabkan elektron berhenti terlepas
dari permukaan logam pada efek fotolistrik disebut tegangan atau potensial penghenti
(stopping potential). Jika V0adalah potensial penghenti, maka
Ekm = eV0
Persamaan ini pada dasarnya adalah persamaan energi. Perlu diperhatikan bahwa e adalah
muatan elektron yang besarnya 1,6 1019 C dan tegangan dinyatakan dalam satuan volt (V).

2.2.

Hamburan Compton
Seberkas radiasi yang dikenakan pada lempeng (plat tipis) logam akan mengalami

hamburan. Intensitas radiasi terhambur tergantung pada sudut hamburannya. Gambar berikut
menunjukkan susunan peralatan dan hasil pengamatan hamburan radiasi. Gejala tersebut
tidak dapat dijelaskan dengan memandang radiasi sebagai gelombang klasik.

Pada tahun 1923, Compton mempelajari hamburan radiasi tersebut di atas, dan
menerangkan sebagai berikut. Radiasi yang dikenakan pada lempeng logam berinteraksi
dengan elektron bebas dalam logam (tidak selalu menimbulkan efek fotolistrik walaupun
tenaganya cukup). Interaksi antara radiasi dengan elektron bebas dalam logam berperilaku
seperti tumbukan elastis antara dua partikel. Mekanisme hamburan radiasi (kemudian disebut
hamburan Compton atau efek Compton) tersebut di atas dapat dijelaskan dengan
memberlakukan hukum-hukum kekekalan tenaga dan momentum linear secara relativistik.
Percobaan Compton merupakan salah satu dari tiga proses yang melemahkan energi
suatu sinarionisasi. Bila suatu sinar jatuh pada permukaan suatu materi sebagian daripada
energinya akan diberikankepada materi tersebut, sedangkan sinar itu sendiri akan di sebarkan,
sehingga energy radiasi yangdipancarkan lebih kecil dari energi radiasi yang datang ( panjang
gelombang lebih panjang daripadasebelumnya ).
Hamburan Compton adalah suatu efek yang merupakan bagian interaksi sebuah
penyinaran terhadapsuatu materi. Efek Compton adalah salah satu dari tiga proses yang
melemahkan energi suatu sinar ionisasi. Bila suatu sinar jatuh pada permukaan suatu materi
sebagian daripada energinya akan diberikan kepadamateri tersebut, sedangkan sinar itu
sendiri akan di sebarkan. Proses hamburan Compton dianalisis sebagai suatu interaksi
(tumbukan dalam pengertian partikel secara klasik) antara sebuah foton dan sebuah elektron, yang kita
anggap diam. Hamburan Compton terjadi apabila foton dengan energi hf berinteraksidengan
elektron bebas atau elektron yang tidak terikat dengan kuat oleh inti, yaitu elektron terluar
dari atom.Elektron itu dilepaskan dari ikatan inti dan bergerak dengan energi kinetik tertentu
disertai foton lain denganenergi lebih rendah dibandingkan foton datang. Foton lain ini
dinamakan foton hamburan. Dalam hamburanCompton ini, energi foton yang datang yang
diserap atom diubah menjadi energi kinetik elektron dan fotonhamburan

2.3.

Efek Compton
Pada efek fotolistrik, cahaya dapat dipandang sebagai kuantum energi dengan energi

yang diskrit. Kuantum energi tidak dapat digambarkan sebagai gelombang tetapi lebih
mendekati bentuk partikel. Partikel cahaya dalam bentuk kuantum dikenal dengan sebutan
foton. Pandangan cahaya sebagai foton diperkuat lagi melalui gejala yang dikenal sebagai
efek Compton.
Jika seberkas sinar-X ditembakkan ke sebuah elektron bebas yang diam, sinar-X akan
mengalami perubahan panjang gelombang dimana panjang gelombang sinar-X menjadi lebih

besar. Gejala ini dikenal sebagai efek Compton, sesuai dengan nama penemunya, yaitu
Arthur Holly Compton.

Sinar-X digambarkan sebagai foton yang bertumbukan dengan elektron (seperti halnya dua
bola bilyar yang bertumbukan). Elektron bebas yang diam menyerap sebagian energi foton
sehingga bergerak ke arah membentuk sudut terhadap arah foton mula-mula. Foton yang
menumbuk elektron pun terhambur dengan sudut terhadap arah semula dan panjang
gelombangnya menjadi lebih besar. Perubahan panjang gelombang foton setelah terhambur
dinyatakan sebagai

Dimana m adalah massa diam elektron, c adalah kecepatan cahaya, dan h adalah konstanta
Planck.

2.4. Konsep Foton


Foton adalah partikel elementer dalam fenomena elektromagnetik. Biasanya foton
dianggap sebagai pembawa radiasi elektromagnetik, seperti cahaya, gelombang radio, dan
Sinar-X. Foton berbeda dengan partikel elementer lain seperti elektron dan quark, karena ia
tidak bermassa dan dalam ruang vakum foton selalu bergerak dengan kecepatan cahaya, c.
Foton memiliki baik sifat gelombang maupun partikel ("dualisme gelombang-partikel").
Sebagai gelombang, satu foton tunggal tersebar di seluruh ruang dan menunjukkan
fenomena gelombang seperti pembiasan oleh lensa dan interferensi destruktif ketika
gelombang terpantulkan saling memusnahkan satu sama lain.
Selain energi partikel foton juga membawa momentum dan memiliki polarisasi. Foton
mematuhi hukum mekanika kuantum, yang berarti kerap kali besaran-besaran tersebut tidak
dapat diukur dengan cermat. Biasanya besaran-besaran tersebut didefinisikan sebagai
probabilitas mengukur polarisasi, posisi, atau momentum tertentu.

Sebagai contoh, meskipun sebuah foton dapat mengeksitasi satu molekul tertentu,
sering tidak mungkin meramalkan sebelumnya molekul yang mana yang akan tereksitasi.
Deskripsi foton sebagai pembawa radiasi elektromagnetik biasa digunakan oleh para
fisikawan. Namun dalam fisika teoretis sebuah foton dapat dianggap sebagai mediator buat
segala jenis interaksi elektromagnetik, seperti medan magnet dan gaya tolak-menolak antara
muatan sejenis.
Konsep modern foton dikembangkan secara berangsur-angsur antara 1905-1917 oleh
Albert Einstein untuk menjelaskan pengamatan eksperimental yang tidak memenuhi model
klasik untuk cahaya. Model foton khususnya memperhitungkan ketergantungan energi cahaya
terhadap frekuensi, dan menjelaskan kemampuan materi dan radiasi elektromagnetik untuk
berada dalam kesetimbangan termal. Fisikawan lain mencoba menjelaskan anomali
pengamatan ini dengan model semiklasik, yang masih menggunakan persamaan Maxwell
untuk mendeskripsikan cahaya. Namun dalam model ini objek material yang mengemisi dan
menyerap cahaya dikuantisasi. Meskipun model-model semiklasik ini ikut menyumbang
dalam pengembangan mekanika kuantum, percobaan-percobaan lebih lanjut membuktikan
hipotesis Einstein bahwa cahaya itu sendirilah yang terkuantisasi. Kuantum cahaya adalah
foton.
Konsep foton telah membawa kemajuan berarti dalam fisika teoretis dan
eksperimental, seperti laser, kondensasi Bose-Einstein, teori medan kuantum dan interpretasi
probabilistik dari mekanika kuantum. Menurut model standar fisika partikel, foton
bertanggung jawab dalam memproduksi semua medan listrik dan medan magnet dan foton
sendiri merupakan hasil persyaratan bahwa hukum-hukum fisika memiliki kesetangkupan
pada tiap titik pada ruang-waktu. Sifat-sifat intrinsik foton seperti muatan listrik, massa dan
spin ditentukan dari kesetangkupan gauge ini.
Konsep foton diterapkan dalam banyak area seperti fotokimia, mikroskopi resolusi
tinggi dan pengukuran jarak molekuler. Baru-baru ini foton dipelajari sebagai unsur komputer
kuantum dan untuk aplikasi canggih dalam komunikasi optik seperti kriptografi kuantum.

2.5. Apakah foton itu?


Ia tidak memiliki massa diam : foton bergerak dengan laju cahaya : ia memenuhi
hubungan E=hv , p=h/ dan E=pc: bahkan merasa tarikan gravitasi seperti partikel-partikel
lain itu merupakan sifat-sifat yang jelasnya.
Foton mentransmisikan gaya electromagnet: dalam sudut pandang ini dua muatan listrik
berintereaksi dengan mempertukarkan foton (foton dipancarkan oleh salah satu muatan dn
9

diterima oleh muatan lainnya). Foton ini adalah foton khayal yang hanya ada dalam kerangka
matematik rumusan fisika teori , namun mereka memiliki semua sifat foton nyata. Foton
tidak memiliki ukuran fisik dan tidak dapat dibelah karena mereka tidak memiliki unsureunsur penyusun dirinya.
Beberapa percobaan , seperti yang menyangkut efek interferensi seperti gelombang ,
sejumlah percobaan ini memperlihatkan bahwa radiasi electromagnet berintereaksi seperti
kuantum partikel yang dikenal sebagai foton. Tentu saja tafsiran gelombang dan partikel
tidaklah seasaspartikel melepaskan energy nya dalam sejumlah paket yang terpusat ,
sedangkan energy sebuah gelombang terbesar merata dalm seluruh muka gelombangnya,.
Sebagai contoh , jika cahaya kita bayangkan berupa partikel-partikel belaka , maka akan sulit
sekali bagi kita untuk menerangkan pola interferensi yang diamati dalam percobaan dua
celah. Sebuah partikel hanya dapat melewati dua celah : karena sebuah gelombang dapat
terpisahkan , maka ia dapat melewati kedua celah itu dan kemudian berpadu kembali

2.6. Metode Percobaan


1) Set up
Proses kerja praktikum ini terdiri dari tiga tahap. Tahap awal, kita harus
merangkai alat praktikum. Alat (h/e) dilengkapi dengan sumber daya 2 buah baterai
didalamnya, sebelum melakukan percobaan diukur beda tegangan sumber dengan
Voltmeter, ujung-ujung kontak sumber ini terletak pada bagian atas kotak alat (h/e),
jika tegangan sumber ini kurang dari 8 Volt maka baterai harus diganti. Setelah
yakin beda tegangan lebih dari 8 volt, lalu dihidupkan lampu mercuri dan ditutup
bagian belakang kotak lampu dengan lempeng warna hitam persegi empat dan
kemudian ditunggu kira-kira 5 menit. Lalu, dipasang lensa dan kisi (bersatu) pada
lampu mercuri dan diatur sedemikian rupa sehingga sinar yang diuraikan kisi dapat
dilihat dengan jelas. Diatur alat (h/e) agar sinar yan diuraikan kisi bisa tepat masuk
ke dalam kotak (h/e). Ditekan On pada alat (h/e) dan diusahakan salah satu jenis
warna sinar masuk ke dalam celah dan dipasang filter sesuai warna yang akan
diukur.
2) Cahaya Sebagai Gelombang
Tahap kedua, filter transmisi variabel diposisikan didepan selubung
pemantul putih (jika menggunkan filter, diletakkan diatas filter) sehingga cahaya
yang dilewatkan sesuai dengan persentase filter. Dicatat potensial yang terbaca
pada Voltmeter digital sebagai potensial penghenti.Ditekan tombol tidak bermuatan
10

dilepaskan dan diamati berapa waktu yang dibutuhkan untuk kembali ke tegangan
semula.
Dicatat pada perkiraan waktu muatan. Diulangi langkah 1 dan 2 untuk
penyaring transmisi yang lain (100%,80 %, 60 %, 40 % ,20 %). Diulangi langkah
1,2,3 untuk warna yang lain.
3) Cahaya sebagai Photon dan konstanta Planck
Tahap ketiga, pada pengukuran Stopping potensial diukur dengan
menggunakan Voltmeter dengan menekan tombol PUSH TO ZERO pada alat
(h/e), angka yang tertera pada voltmeter dicatat pada kolom stopping potensial
ketika tegangan tidak naik lagi Diulangi untuk garis yang lain minimal 5 kali untuk
setiap jenis sinar yang sama. Untuk sinar ultraviolet tidak menggunakan filter dan
akan terlihat dua garis violet dan garis yang lebih dekat kearah biru adalah garis
violet yang akan diukur.

2.7. Pembahasan Proses Percobaan


Praktikum efek fotolistrik bertujuan untuk menentukan konstanta Planck dan
menentukan harga fungsi kerja (work function) logam katoda. Untuk mengetahui nama
logam yang kita gunakan dalam praktikum, kita dapat melihat nilai fungsi kerja (work
function) dari logam yang kita gunakan.
Pada percobaan efek fotolistrik cahaya sebagai gelombang, praktikan menggunakan
tiga filter, yaitu filter hijau, filter kuning dan filter transmisi. Dalam melakukan percobaan,
praktikan menggabungkan filter masing-masing warna dengan filter transmisi yang kemudian
ditentukan stoping potensial(V) serta approximasi charge time(t).
Dari hasil perhitungan data praktikum diperoleh nilai fungsi kerja (work function)
untuk filter warna hijau sebagai berikut :
1. Transmisi 100 % fungsi kerjanya (wo) adalah 0.3095 x 10-19 J
2. Transmisi 80 % fungsi kerjanya (wo) adalah 1.2707 x 10-19 J
3. Transmisi 60 % fungsi kerjanya (wo) adalah 0.3095 x 10-19 J
4. Transmisi 40 % fungsi kerjanya (wo) adalah 1.4309 x 10-19J
5. Transmisi 20 % fungsi kerjanya (wo) adalah 0.9503 x 10-19 J
Dan untuk filter warna kuning diperoleh data sebagai berikut:
1. Transmisi 100 % fungsi kerjanya (wo) adalah 0.9562 x 10-19 J
2. Transmisi 80 % fungsi kerjanya (wo) adalah 1.2766 x 10-19 J
3. Transmisi 60 % fungsi kerjanya (wo) adalah 0.9562 x 10-19 J
11

4. Transmisi 40 % fungsi kerjanya (wo) adalah 1.2766 x 10-19 J


5. Transmisi 20 % fungsi kerjanya (wo) adalah 0.3154 x 10-19 J
Dalam percobaan ini didapatkan data yang kurang relevan dengan teori. Secara teori
nilai relatif transmisi berbanding terbalik dengan nilai stoping potensial untuk masing-masing
warna, yaitu semakin besar nilai potensial penghenti maka nilai reltif transmision akan
semakin kecil. Sedangkan, data yang didapatkan dari hasil praktikum sangat bervariasi. Ada
yang menunjukkan semakin kecil nilai transmisi, semakin kecil pula nilai stoping potensial
yang didapatkan dan ada pula data yang sesuai dengan teori. Hal ini menunjukkan data yang
didapatkan dari praktikum tidak akurat dan konsisten.
Dalam perhitungan nilai konstanta planck, antara filter kuning dan hijau juga terdapat
perbedaan. Nilai konstanta planck yang didapat dari filter warna hijau adalah sebesar 0.02 x
10-34 Js dan untuk filter kuning nilai konstanta plancknya adalah 0.01 x 10 -34 Js. Kedua nilai
ini berbeda dengan nilai konstanta planck secara teori yaitu 6.63 x 10 -34 Js. Perbedaan nilai
ini mungkin disebabkan karena kekurang telitian praktikan dalam pengambilan serta
pengolahan data.
Dalam melakukan praktikum efek fotolistrik, praktikan cukup kesulitan dalam
melakukan percobaan, yaitu dalam mengatur ketepatan penekanan tobol push to zero dan
stopwatch dan juga dalam pemfokusan cahaya tepat pada filter serta celah pada h/e
apparatus. Sebab, ketika praktikan ingin menekan tombol on serta tombol pada push to
zero pada alat h/e apparatus, alat tersebut sedikit bergeser, sehingga cahaya menjadi kurang
tepat melalui filter serta celah pada alat h/e apparatus.

12

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Peristiwa pelepasan elektron dari logam oleh radiasi disebut efek fotolistrik, diamati
pertama kali oleh Heinrich Hertz (1887). Elektron yang terlepas dari logam disebut fotoelektron.
Hamburan Compton adalah suatu efek yang merupakan bagian interaksi sebuah
penyinaran terhadapsuatu materi. Efek Compton adalah salah satu dari tiga proses yang
melemahkan energi suatu sinar ionisasi. Bila suatu sinar jatuh pada permukaan suatu materi
sebagian daripada energinya akan diberikan kepadamateri tersebut, sedangkan sinar itu
sendiri akan di sebarkan.
Foton adalah partikel elementer dalam fenomena elektromagnetik. Sebagai
gelombang, satu foton tunggal tersebar di seluruh ruang dan menunjukkan fenomena
gelombang seperti pembiasan oleh lensa dan interferensi destruktif ketika gelombang
terpantulkan saling memusnahkan satu sama lain.

3.2. Saran
Perlu adanya pembaharuan alat eksperimen, sehingga didapatkan data yang lebih
relevan, dan relatif mendekati data sebenarnya. Selain itu, diperlukanya juga penelitian
lanjutan dengan memperbanyak variasi data, sehingga diperoleh data yang lebih akurat.

13

DAFTAR PUSTAKA

Referensi Buku :
Siswanto. 2008. Kompetensi Fisika Untuk SMA. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Handayani, Sri. Fisika Untuk SMA dan MA Kelas XII. Jakarta: Departemen Pendidkan
Nasional

Referensi Web :

http://fisikaasikdotcom.wordpress.com/2012/03/16/efek-fotolistrik

http://id.scribd.com/doc/124621696/hamburan-kompton

14