Anda di halaman 1dari 34

Tugas Mata Kuliah Evaluasi dan Penjaminan Mutu Pendidikan

PENINGKATAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU PRODUKTIF


TERHADAP MUTU PENDIDIKAN DI SMK NEGERI 4 TEBING TINGGI

OLEH :
NUR SAUMI
NIM : 8146132052
Kelas A1W
Prodi Administrasi Pendidikan Kepengawasan
Dosen :
Dr. DARWIN, M. Pd

PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
MEDAN
2015

KATA PENGANTAR

Segenap puji syukur penulis haturkan ke hadirat Allah SWT, atas limpahan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan
judul Peningkatan Kompetensi Profesional Guru Produktif Terhadap Mutu
Pendidikan Di SMK Negeri 4 Tebing Tinggi.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah evaluasi dan
penjaminan mutu pendidikan dan juga dengan harapan dapat bermanfaat bagi
penulis sendiri maupun yang membaca makalah ini.
Demikian makalah ini saya selesaikan. Kami menyadari bahwa proposal ini
masih jauh dari kesempurnaan, kritik dan saran yang sifatnya membangun akan
saya terima untuk pembenahan pengetahuan saya selanjutnya.

Medan, Maret 2015

NUR SAUMI

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................

DAFTAR ISI ..............................................................................................

ii

BAB I

PENDAHULUAN ....................................................................

A. Latar Belakang Masalah .......................................................

B. Rumusan Masalah ................................................................

C. Tujuan Penelitian .................................................................

D. Manfaat Penelitian ...............................................................

HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................

A. Kompetensi Profesional Guru ..............................................

BAB II

B. Peningkatan Kompetensi Guru Produktif ............................. 16


C. Mutu Pendidikan SMK ........................................................ 18
D. Pembahasan ......................................................................... 21

BAB III

PENUTUP ................................................................................ 27
A. Kesimpulan .......................................................................... 27
B. Saran ................................................................................... 29

DAFTAR PUSTAKA

ii

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Dalam UU No. 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional, terdapat jenjang
pendidikan berbentuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menyatakan SMK
adalah suatu bentuk pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan
dan keterampilan sehingga siswa memiliki kemampuan sebagai tenaga kerja
tingkat menengah yang terampil, terdidik dan profesional, serta dapat
mengembangkan diri sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi.1
Struktur kurikulum pendidikan kejuruan Sekolah Menengah Kejuruan
(SMK) diarahkan untuk mencapai tujuan tersebut. Untuk menguasai dan memiliki
keterampilan dalam bidang keahliannya, maka siswa SMK harus memenuhi syarat
yaitu mengikuti pembelajaran mata pelajaran produktif. Kelompok mata pelajaran
produktif adalah kelompok mata pelajaran yang berfungsi membekali peserta
didik agar memiliki kompetensi sesuai dengan bidang keahlian masing-masing.
Adapun mata pelajaran yang diajarkan dalam pelajaran produktif merupakan teori
dan praktek sesuai dengan bidang jurusan masing-masing. Mata pelajaran
produktif merupakan bidang keahlian yang seharusnya membekali siswa secara
skill yang siap menghadapi dunia usaha dan dunia industri.
Sekolah Menengah Kejuruan adalah salah satu jenjang pendidikan
menengah dengan kekhususan mempersiapkan lulusannya untuk siap bekerja.
Pendidikan kejuruan mempunyai arti yang bervariasi namun dapat dilihat suatu
benang merahnya. Menurut Evans dalam Djojonegoro mendefinisikan bahwa
pendidikan kejuruan adalah bagian dari sistem pendidikan yang mempersiapkan
seseorang agar lebih mampu bekerja pada suatu kelompok pekerjaan atau satu
bidang pekerjaan daripada bidang-bidang pekerjaan lainnya. 2 Dengan pengertian
bahwa setiap bidang studi adalah pendidikan kejuruan sepanjang bidang studi
1
2

Pasal 1, Undang-undang No. 20 Tahun 2003


Djojonegoro, Pengembangan SDM melalui SMK, (Jakarta : Balai Pustaka, 1999), hal 54

tersebut dipelajari lebih mendalam dan kedalaman tersebut dimaksudkan sebagai


bekal memasuki dunia kerja. Ini mengacu pada pada isi Undang-Undang Sistem
Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 pasal 3 mengenai tujuan pendidikan
nasional dan penjelasan pasal 15 yang menyebutkan bahwa pendidikan kejuruan
merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama
untuk bekerja di bidang tertentu.3
Pendidikan kejuruan adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik
untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu. Pengertian ini mengandung pesan
bahwa setiap institusi yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan harus
berkomitmen menjadikan tamatannya mampu bekerja dalam bidang tertentu.
Berdasarkan definisi di atas, maka sekolah menengah kejuruan sebagai sub
sistim pendidikan nasional seyogyanya mengutamakan mempersiapkan peserta
didiknya untuk mampu memilih karir, memasuki lapangan kerja, berkompetisi,
dan mengembangkan dirinya dengan sukses di lapangan kerja yang cepat berubah
dan berkembang. Tercapai tidaknya tujuan di atas sangat tergantung pada
masukan dan sejumlah variabel dalam proses pendidikan. Salah satu variabel
dalam proses pendidikan yang menentukan keterampilan siswa dalam bidang
kejuruan adalah guru. Guru produktif yang memberikan kontribusi ilmu,
keterampilan serta pengalaman kepada siswanya. Oleh karena itu guru produktif
sudah seharusnya memiliki kompetensi profesional yang senantiasa mengikuti
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Guru sebagai sumber daya manusia (SDM) yang ada di SMK mempunyai
peranan yang sangat menentukan dan merupakan kunci keberhasilan dalam
mencapai tujuan pendidikan, karena guru adalah pengelola pelaksanaan kegiatan
belajar mengajar (KBM) bagi para siswa. Agar pelaksanaan KBM ini berjalan
dengan efektif dan efisien sesuai dengan tujuan pembelajaran maka harus
diciptakan guru yang profesional dan berkualitas sesuai dengan kebutuhan SMK
baik jumlah, kualifikasi maupun spesialisasinya.
Mutu guru atau profesionalisme guru tidak lepas dari proses pembinaan
guru baik pembinaan langsung oleh kepala sekolah dan pengawas atau juga oleh
3

Pasal 3, Undang-undang No. 20 Tahun 2003

Pusat-pusat

Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidikan

dan Tenaga

Kependidikan (P4TK). Namun pada kenyataannya, guru produktif kurang


memiliki keterampilan dalam bidangnya. Hal ini terlihat dalam kegiatan
pembelajaran produktif yang kurang memanfaatkan teknologi canggih yang telah
disediakan di sekolah. Guru produktif hanya mengandalkan pengetahuan dasar
kuno yang dimiliki mereka. Termasuk di SMK Negeri 4 Tebing Tinggi yang
merupakan sekolah yang memiliki kejuruan pertanian.
Dalam mengolah lahan pertanian, siswa masih menggunakan teknologi
kuno yaitu dengan cangkul. Sedangkan untuk pembibitan, perawatan dan
peningkatan mutu produksi masih sama seperti petani yang belajar otodidak
lainnya. Ini mengakibatkan masyarakat kurang berminat untuk memilih jurusan
tersebut. Masyarakat beranggapan bahwa tanpa harus sekolah pada jurusan juga
mampu bertani. Padahal seharusnya banyak ilmu yang bermanfaat dapat
dikembangkan dalam jurusan pertanian tersebut. Selain karena negara kita yang
merupakan negara agraris, untuk berwira usaha pertanian juga merupakan
alternatif dalam memperbaiki kehidupan keluarga. Hal ini berdampak pada mutu
sekolah.
Dari data guru yang didapatkan, masih terdapat guru yang bukan merupakan
lulusan dari perguruan tinggi keguruan atau tidak memiliki latar belakang
kependidikan atau keguruan. Hal ini menyebabkan guru-guru tersebut hanya
mengandalkan pengalaman untuk melakukan pembelajaran. Karena pada
perguruan tinggi non keguruan tidak ada kurikulum mengenai pendidikan
sehingga tidak belajar bagaimana cara memahami peserta didik, cara membuat
rencana pembelajaran, bagaimana melaksanakannya di dalam kelas dan
bagaimana melakukan evaluasi pembelajaran.
Selain itu, masih banyak siswa yang belum memenuhi standar ketuntasan
minimal untuk mata pelajaran produktif. Salah satu indikator ini di tunjukkan
antara lain dengan nilai ulangan akhir sekolah mata pelajaran produktif baik
praktek maupun teori dua tahun terakhir yaitu tahun pelajaran 2013/2014 dan
2014/2015 masih ada siswa yang mendapat nilai di bawah KKM. Hal tersebut

menunjukkan bahwa pembelajaran khususnya dalam mata pelajaran produktif


belum sepenuhnya efektif.
Dari hasil wawancara dengan wakil kepala sekolah bidang kurikulum di
sekolah yang diteliti dinyatakan bahwa masih banyak guru yang bingung dalam
menyusun perangkat pembelajarannya yang baik karena mata pelajaran produktif
selalu berubah sesuai tuntutan silabus setiap semesternya. Selain itu fasilitas
belajar seperti media pembelajaran jarang digunakan, hal ini menunjukkan bahwa
penguasaan kompetensi profesional guru belum maksimal. Bahkan beberapa guru
kurang menguasai mata pelajaran produktif yang akan disampaikannya, sehingga
kegiatan pembelajaran tidak mencapai tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Akhirnya siswa kurang memiliki keterampilan sesuai jurusannya yang akhirnya
berdampak pada mutu pendidikan di sekolah tersebut.
Berdasarkan gambaran di atas, peneliti tertarik melakukan kajian tentang
kompetensi profesional guru produktif dalam pemenuhan mutu pendidikan di
sekolah. Hasil kajian diharapkan memberikan gambaran tentang penguasaan
kompetensi profesional guru mata pelajaran produktif. Penguasaan kompetensi
profesional guru ini bisa menjadi tolak ukur mutu pendidikan di sekolah terutama
pada program keahlian Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian di atas dapat diduga adanya pengaruh
penguasaan kompetensi profesional guru mata pelajaran produktif Program
Keahlian Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura terhadap mutu pendidikan
di SMK Negeri 4 Tebing Tinggi. Oleh sebab itu, kajian permasalahan diarahkan
kepada :
1.

Bagaimana pola peningkatan kompetensi profesional guru mata pelajaran


produktif Program Keahlian Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura
SMK Negeri 4 Tebing Tinggi secara teoretis ?

2.

Bagaimana mengatasi kendala kompetensi profesional guru mata pelajaran


produktif Program Keahlian Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura
SMK Negeri 4 Tebing Tinggi ?

C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menemukan jawaban secara teoretis atas
permasalahan yang ada, secara operasional tujuan dari penelitian ini dirumuskan
sebagai berikut:
1.

Untuk

pola peningkatan kompetensi profesional guru mata pelajaran

produktif Program Keahlian Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura


SMK Negeri 4 Tebing Tinggi
2.

Untuk mengetahui pola mengatasi kendala kompetensi profesional guru


mata pelajaran produktif Program Keahlian Agribisnis Tanaman Pangan dan
Hortikultura SMK Negeri 4 Tebing Tinggi

D. Manfaat Penelitian
Secara umum hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam
memberikan masukan terhadap upaya peningkatan kualitas guru Mata Pelajaran
Produktif Program Keahlian Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura SMK
Negeri 4 Tebing Tinggi. Secara operasional manfaat yang diharapkan dari hasil
penelitian ini adalah:
1.

Bagi guru dapat digunakan sebagai sarana untuk mengetahui kompetensi


profesional yang telah dimiliki, sehingga dapat digunakan sebagai tolok ukur
usaha meningkatkan profesionalitasnya.

2.

Bagi guru dan siswa informasi tentang interaksi belajar mengajar yang
telah berlangsung dapat menjadi pertimbangan dalam memperbaiki sistem
pembelajaran sebagai usaha meningkatkan prestasi belajar siswa.

3.

Bagi kepala sekolah dapat menjadi fakta tentang kondisi objektif kompetensi
profesional guru mata pelajaran produktif, sehingga menjadi dasar awal untuk
mengusulkan pemenuhan guru produktif di sekolah. Tulisan ini juga menjadi
dasar bagi kepala sekolah untuk memicu motivasi guru dalam peningkatan
kompetensi guru produktif di SMK serta dapat digunakan sebagai
mempertimbangkan, menetapkan, dan melaksanakan kebijakan sekolah.

BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Kompetensi Profesional Guru


1.

Pengertian Kompetensi Profesional Guru

a. Kompetensi
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia karangan WJS Purwadarminta,
pengertian kompetensi adalah kekuasaan untuk menentukan atau memutuskan
suatu hal. Pengertian dasar kompetensi adalah kemampuan atau kecakapan. 4
Menurut pendapat C. Lynn, bahwa competence my range from recall and
understanding of fact and concepts, to advanced motor skill, to teaching
behaviours and profesional values. Kompetensi dapat meliputi pengulangan
kembali fakta-fakta dan konsep-konsep sampai pada ketrampilan motor lanjut
hingga pada perilaku-perilaku pembelajaran dan nilai-nilai profesional. 5
Spencer dan Spencer dalam Hamzah B.Uno kompetensi merupakan
karakteristik yang menonjol bagi seseorang dan menjadi cara-cara berperilaku dan
berfikir dalam segala situasi, dan berlangsung dalam periode waktu yang lama.
Dari pendapat tersebut dapat dipahami bahwa kompetensi menunjuk pada kinerja
seseorang dalam suatu pekerjaan yang bisa dilihat dari pikiran, sikap, dan
perilaku.6
Lebih lanjut Spencer dan Spencer dalam Hamzah B.Uno, membagi lima
karakteristik kompetensi yaitu sebagai berikut :
1. Motif, yaitu sesuatu yang orang pikirkan dan inginkan yang menyebabkan
sesuatu.
2. Sifat, yaitu karakteritik fisik tanggapan konsisten terhadap situasi.
3. Konsep diri, yaitu sikap, nilai, dan image dari sesorang.
4. Pengetahuan, yaitu informasi yang dimiliki seseorang dalam bidang tertentu.
5. Ketrampilan, yaitu kemampuan untuk melakukan tugas-tugas yang berkaitan
dengan fisik dan mental.
4

Purwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Gramedia, 1999), hal 405
C. Lynn, Phicical Education Teacher Education, (New York : Chichester Brisbone, 1985), hal 33
6
Hamzah B. Uno, Profesi Kependidikan, (Jakarta : Bumi Aksara, 2007), hal 63
5

Menurut E. Mulyasa kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan,


ketrampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan
bertindak. 7

Pada

sistem

pengajaran,

kompetensi

digunakan

untuk

mendeskripsikan kemampuan profesional yaitu kemampuan untuk menunjukkan


pengetahuan dan konseptualisasi pada tingkat yang lebih tinggi. Kompetensi ini
dapat diperoleh melalui pendidikan, pelatihan dan pengalaman lain sesuai tingkat
kompetensinya. Menurut Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan
Dosen, kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, ketrampilan, dan perilaku
yang harus dimiliki, dihayati dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam
melaksanakan tugas keprofesionalan.8
Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kompetensi
merupakan seperangkat penguasaan kemampuan, ketrampilan, nilai, dan sikap
yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai guru

yang bersumber dari

pendidikan, pelatihan, dan pengalamannya sehingga dapat menjalankan tugas


mengajarnya secara profesional.

b. Kompetensi Guru
Menurut Zamroni , guru adalah orang yang memegang peran penting dalam
merancang strategi pembelajaran yang akan dilakukan. Keberhasilan proses
pembelajaran sangat tergantung pada penampilan guru dalam mengajar dan
kegiatan mengajar dapat dilakukan dengan baik dan benar oleh seseorang yang
telah

melewati

pendidikan

tertentu

yang

memang

dirancang

untuk

mempersiapkan sebagai seorang guru.9 Pernyataan tersebut mengantarkan kepada


pengertian bahwa mengajar adalah suatu profesi, dan pekerjaan guru adalah
pekerjaan profesional. Setiap pekerjaan profesional dipersyaratkan memiliki
kemampuan atau kompetensi tertentu agar yang bersangkutan dapat melaksanakan
tugas-tugas profesionalnnya.
Guru adalah orang yang berwenang dan bertanggung jawab atas pendidikan
muridnya. Ini berarti guru harus memiliki dasar-dasar kompetensi sebagai
7

E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Bandung : Remaja Rosda Karya, 2004), hal 37-38
Pasal 1 Ayat 10 , Undang-undang No. 14 Tahun 2005
9
Zamroni, Paradigma Pendidikan Masa Depan, (Jogjakarta : Biograf Publishing, 2001), hal 60
8

wewenang dan kemampuan dalam menjalankan tugasnya. Oleh karena itu


kompetensi harus mutlak dimiliki guru sebagai kemampuan, kecakapan dan
ketrampilan mengelola pendidikan. Guru harus memiliki kompetensi sesuai
dengan standar yang ditetapkan atau yang dikenal dengan standar kompetensi
guru. Standar ini diartikan sebagai suatu ukuran yang ditetapkan atau
dipersyaratkan. Lebih lanjut Suparlan menjelaskan bahwa Standar kompetensi
guru adalah ukuran yang ditetapkan atau dipersyaratkan dalam bentuk penguasaan
pengetahuan dan perilaku perbuatan bagi seorang guru agar berkelayakan untuk
menduduki jabatan fungsional sesuai dengan bidang tugas, kualifikasi dan jenjang
pendidikan.10 Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 tahun 2005
tentang Guru dan Dosen, kompetensi adalah seperangkat pengetahuan,
ketrampilan dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati dan dikuasai oleh guru
atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.11
Dalam hubungannya dengan tenaga kependidikan, kompetensi merujuk
pada perbuatan yang bersifat rasional dan memenuhi sertifikasi tertentu dalam
melaksanakan tugas kependidikan. Tenaga kependidikan dalam hal ini adalah
guru. Guru harus memilki kompetensi yang memadai agar dapat menjalankan
tugas dengan baik. Menurut Piet Sahertian kompetensi guru adalah kemampuan
melakukan tugas mengajar dan mendidik yang diperoleh melalui pendidikan dan
latihan. Suparlan berpendapat bahwa kompetensi guru melakukan kombinasi
kompleks dari pengetahuan, sikap, ketrampilan dan nilai-nilai yang ditujukkan
guru dalam konteks kinerja yang diberikan kepadanya.12
Menurut Akmad Sudrajat kompetensi guru merupakan gambaran tentang
apa yang seyogyanya dapat dilakukan seorang guru dalam melaksanakan
pekerjaanya, baik yang berupa kegiatan dalam berperilaku maupun hasil yang
ditujukan13 Menurut Nana Sudjana kompetensi guru merupkan kemampuan

10

Piet Sahertian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan Dalam Rangka Pengembangan
SDM, (Jakarta : Rineka Cipta, 1994), hal 73
11
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005
12
Suparlan, Guru Sebagai Profesi, (Jogjakarta : Hikayat Publishing, 2006), hal 85
13
Akmad Sudrajat, Kompetensi Guru dan Peran Kepala Sekolah, ((http://akmadsudrajat.
wordpress.com). Online, diakses tanggal 30 Maret 2015

dasar yang harus dimiliki guru.14


Berdasarkan uraian di atas kompetensi guru dapat diartikan sebagai
kemampuan/kecakapan seorang guru berupa pengetahuan, ketrampilan, sikap
dan nilai-nilai yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan sehingga dapat
melaksanakan tugasnya dengan baik.
Menurut Sumitro dkk Sekolah memerlukan guru yang memiliki
kompetensi mengajar dan mendidik inovatif, kreati, manusiawi, cukup waktu
untuk menekuni profesionalitasnya, dapat menjaga wibawanya di mata peserta
didik dan masyarakat sehingga mampu meningkatkan mutu pendidikan.15
Kemampuan mengajar adalah kemampuan esensial yang harus dimilki oleh
guru, tidak lain karena tugas yang paling utama adalah mengajar. Dalam proses
pembelajaran, guru menghadapi siswa-siswa yang dinamis, baik sebagai
akibat dari dinamika internal yang berasal dari dalam diri siswa maupun
sebagai akibat tuntutan dinamika lingkungan yang sedikit banyak berpengaruh
terhadap siswa. Oleh karena itu, kemampuan mengajar harus dinamis juga
sebagai tuntutan-tuntutan siswa yang tak terelakkan. Kemampuan mengajar
guru

sebenarnya merupakan

pencerminan

guru

atas kompetensinya.

Kompetensi ini terdiri dari berbagai komponen penting.


Nana Sudjana mengutip pendapat Cooper bahwa ada empat kompetensi
yang harus dimiliki guru, yaitu:
1. Mempuyai pengetahuan tentang belajar tingkah laku manusia.
2. Mempunyai pengetahuan dan menguasai bidang studi yang dibinanya.
3. Mempunyai sikap yang tepat tentang dirinya, sekolah, teman sejawat dan
bidang studi yang dibinanya.
4. Mempunyai kemampuan tentang teknik mengajar
Sementara itu menurut pendapat Glasser yang dikutip Nana Sudjana, yang
menyebutkan ada empat yang harus dikuasi oleh guru, meliputi: 1) Menguasai
bahan

pelajaran,

2)

Kemampuan

mendiagnosa tingkah laku siswa, 3)

Kemampuan melaksanakan proses pembelajaran, 4) Kemampuan mengukur hasil


14
15

Nana Sudjana, Proses Belajar Mengajar, (Bandung : Sinar Baru Algensindo, 2002), hal 17
Sumitro, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Jogjakarta : UNY, 2002), hal 17

belajar siswa.
Pada tahu 1970-an terkenal wacana tentang apa yang disebut sebagai
pendidikan dan pelatihan berbasis kompetensi atau Competency Based Training
Education (CBTE). Pada saat itu, Direktorat Pendidkan Guru dan Tenaga Teknis
(Disguntentis) pernah mengeluarkan buku saku tentang sepuluh kompetensi
guru, yaitu:
1.

Memiliki kepribadian sebagai guru.

2.

Menguasai landasan pendidikan.

3.

Menguasai bahan pengajaran.

4.

Menyusun program pengajaran.

5.

Melaksanakan proses belajar mengajar.

6.

Melaksanakan penilaian pendidikan.

7.

Melaksanakan bimbingan.

8.

Melaksanakan administrasi.

9.

Menjalin

kerjasama

dan

interaksi

dengan

guru,

sejawat,

dimiliki

guru

dan

masyarakat.
10. Melaksanakan penelitian sederhana.
Kesepuluh

kompetensi

di

atas

diharapkan

secara

maksimal agar proses belajar mengajar akan lebih efektif sehingga menghasilkan
peserta didik yang kompeten. Menurut Suparlan, kompetensi minimal yang
harus dimiliki guru meliputi: menguasai materi, metode dan system penilaian,
namun

jika

tidak

dilandasi

penguasaan kepribadian

keguruan

dan

ketrampilan lainnya, guru tidak akan dapat melaksanakan tugasnya secara


profesional.16
Jika guru menguasai dan melaksanakan kesepuluh kompetensi tersebut
dalam proses pembelajaran, baik di dalam maupun di luar sekolah maka guru itu
diharapkan dapat menjadi guru yang efektif. Guru yang mampu melaksanakan
tugas profesionalnya dengan baik.
Terkait dengan penguasaan materi bahan ajar, guru dituntut dapat
menggunakan strategi dan metode mengajar yang tepat serta melaksanakan
16

Suparlan, Guru Sebagai Profesi, (Jogjakarta : Hikayat Publishing, 2006), hal 83

10

penilaian hasil belajar yang terus-menerus dan jujur. Selain itu penguasaan materi,
guru juga dituntut memiliki antusiasme yang tinggi dalam arti memiliki
semangat

senang mengajar dengan

penuh kasih sayang. Kemampuan

dan kemauan guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya akan menjadi


syarat utama bagi terbentuknya guru yang efektif.

c. Kompetensi Profesional Guru


Kata profesional erat kaitannya dengan kata profesi. Menurut Wirawan,
profesi adalah pekerjaan yang untuk melaksanakannya memerlukan persyaratan
tertentu. Kata profesional dapat diartikan sebagai orang yang melaksanakan
sebuah profesi dan berpendidikan minimal S1 yang mengikuti pendidikan profesi
atau lulus ujian profesi. 17
Guru mempunyai tanggung jawab sangat besar dalam menjalankan
perananya sebagai tenaga pendidik di sekolah. Guna mencapai tujuan
pembelajaran yang berkualitas maka peningkatan kompetensi dan profesionalitas
guru harus selalu ditingkatkan. Kompetensi guru perlu ditingkatkan secara
terprogram, berkelanjutan melalui berbagai sistem pembinaan profesi, sehingga
dapat meningkatkan kemampuan guru tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan
peran strategis guru terutama dalam pembentukan watak siswa melalui
pengembangan kepribadian di dalam proses pembelajaran di sekolah.
Sesuai PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 28
menyatakan bahwa kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru sebagai
agen pembelajaran adalah sebagai berikut:
1.

Kompetensi

pedagogik

adalah

kemampuan

mengelola

pembelajaran

peserta didik meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan


dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan
peserta

didik

untuk

mengaktualisasikan

berbagai

kompetensi

yang

dimilikinya.
2.

Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil,


dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan

17

Wirawan, Profesi dan Standar Evaluasi, (Jakarta : Yayasan dan UHAMKA Press, 2002), hal 9

11

berakhlak mulia.
3.

Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran


secara luas dan mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta
didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan.

4.

Kompetensi sosial adalah kemampuan pendidik sebagai bagian dari


masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta
didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik,
dan masyarakat sekitar.18
Tanpa mengabaikan kompetensi yang lainnya, kompetensi profesional

merupakan kompetensi yang harus dimiliki oleh guru yang profesional.


Kompetensi tersebut harus dikembangkan dalam rangka mencapai tujuan
pembelajaran di sekolah. Kompetensi profesional dipandang penting untuk
dikembangkan oleh para guru karena kompetensi profesional mencakup
kemampuan

guru

dalam

penguasaan

terhadap

materi

pelajaran

dan

kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran.


Suharsimi Arikunto menjelaskan bahwa kompetensi profesional berarti
Guru harus memiliki pengetahuan yang luas serta dalam tentang subject matter
(bidang studi) yang akan diajarkan, serta penguasaan metodologi dalam arti
memiliki pengetahuan konsep teoritik, mampu memilih metode

yang

tepat,

serta mampu menggunakan dalam proses belajar mengajar.19 Oleh karena


itu dalam penelitian ini yang dimaksud dengan kompetensi professional yaitu
kemampuan guru dalam penguasaan terhadap materi pelajaran dan kemampuan
guru dalam pengelolaan pembelajaran. Pengeloalaan

pembelajaran

yang

dimaksud adalah pemahaman terhadap peserta didik, perencanaan pelaksanaan


pembelajaran, penguasaan metode dan media pembelajaran serta penilaian hasil
belajar.
Penguasaan guru terhadap materi pelajaran sangat penting guna menunjang
keberhasilan pengajaran. A.Samana menekankan pentingnya penguasaan bahan
ajar oleh seorang guru untuk mencapai keberhasilan pengajaran. Guru harus
18
19

Pasal 28, PP No. 19 Tahun 2005


Suharsimi Arikunto, Manajemen Pengajaran, (Jakarta : Rineka Cipta, 1993), hal 50

12

membantu siswa dalam akalnya (bidang ilmu pengetahuan) dan membantu agar
siswa menguasai kecakapan kerja tertentu (selaras dengan tuntutan teknologi),
sehingga mutu penguasaan bahan ajar para guru sangat menentukan keberhasilan
pengajaran yang dilakukan. Lebih lanjut A.Samana menjelaskan guru hendaknya
mampu menjabarkan serta mengorganisasikan bahan ajar secara sistematis
(berpola), relevan dengan tujuan, selaras dengan tuntutan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi (mutakhir), dan dengan memperhatikan kondisi serta
fasilitas yang ada di sekolah dan atau yang ada di lingkungan sekitar sekolah.20
Melihat keberadaan pendidik dalam proses pendidikan, substansinya
kompetensi pendidik menduduki posisi strategis dalam menentukan kualitas
pendidikan, sehingga pemenuhan kompetensi pendidik menjadi suatu yang harus
diupayakan, seiring dengan dinamika tuntutan masyarakat yang dinamis, yang
memiliki kebutuhan untuk berubah. Sadar terhadap kondisi tersebut dan tuntutan
profesionalnya yang terus berkembang, maka pengembangan kompetensi
pendidik perlu terus diupayakan dengan melalui berbagai tahapan secara
berjenjang.
Menurut pendapat Martinis Yamin guru yang profesional harus memiliki
persyaratan-persyaratan sebagai berikut:
1.

Memiliki bakat sebagai guru;

2.

Memiliki keahlian sebagai guru;

3.

Memiliki keahlian yang baik dan terintegrasi;

4.

Memiliki mental yang sehat;

5.

Berbadan sehat;

6.

Memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas;

7.

Guru adalah manusia berjiwa pancasila; dan

8.

Guru adalah seorang warga negara yang baik.21


Menurut Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen,

kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pelajaran


secara luas dan mendalam yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata
20

A. Samana, Profesionalisme Keguruan, (Jogjakarta : Kanisius, 1994), hal 61


Martinis Yamin, Profesionalisme Guru dan Implementasi KBK, (Jakarta : Gaung Persada,
2006), hal 7
21

13

pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta


penguasaan terhadap struktur dan metodologi keilmuannya. Menurut PP No. 19
Tahun 2005 penjelasan pasal 28 yang dimaksud dengan kompetensi profesional
adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam
yang

memungkinkannya

membimbing

peserta

didik

memenuhi

standar

kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan.


Menurut Hamzah B. Uno, kompetensi profesional guru adalah seperangkat
kemampuan yang harus dimiliki oleh guru agar ia dapat melaksanakan tugas
mengajar.22 Adapun kompetensi profesional mengajar yang harus dimiliki oleh
seorang yaitu meliputi kemampuan dalam merencanakan, melaksanakan, dan
mengevaluasi sistem pembelajaran, serta kemampuan dalam mengembangkan
sistem pembelajaran.
Berdasarkan uraian-uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa kompetensi
profesional guru dapat diartikan sebagai kemampuan yang harus dimiliki sebagai
dasar dalam melaksanakan tugas profesional yang bersumber dari pendidikan dan
pengalaman yang diperoleh. Kompetensi profesional tersebut berupa kemampuan
dalam memahami landasan kependidikan, kemampuan merencanakan proses
pembelajaran, kemampuan melaksanakan proses pembelajaran, dan kemampuan
mengevaluasi proses pembelajaran

2.

Indikator Guru Profesional yang Berkompeten


Martinis Yamin menyatakan bahwa kompetensi profesional yang harus

dimiliki guru meliputi:


1.

Penguasaan materi pelajaran yang terdiri atas penguasaan bahan yang harus
diajarkan, dan konsep-konsep dasar keilmuan dari bahan yang diajarkannya.

2.

Penguasaan dan penghayatan atas landasan dan wawasan kependidikan dan


keguruan.

3.

22
23

Penguasaan proses-proses kependidikan, keguruan, dan pembelajaran siswa. 23

Hamzah B. Uno, , Profesi ..., hal 63


Martinis Yamin, Profesionalisme ..., hal 5

14

Menurut pendapat Soediarto dalam Hamzah B. Uno, guru yang memiliki


kompetensi profesional perlu menguasai beberapa kemampuan yaitu disiplin ilmu
pengetahuan sebagai sumber bahan pelajaran, bahan ajar yang diajarkan,
pengetahuan tentang karakteristik siswa, pengetahuan tentang filsafat dan tujuan
pendidikan,

pengetahuan serta penguasaan

metode dan model mengajar,

penguasaan terhadap prinsip-prinsip teknologi pembelajaran, dan pengetahuan


terhadap penilaian, serta mampu merencanakan, memimpin guna kelancaran
proses pendidikan.
Menurut Uzer Usman, kompetensi profesional secara spesifik dapat dilihat
dari indikator- indikator sebagai berikut.
1.

Menguasai landasan pendidikan, yaitu mengenal tujuan pendidikan,


mengenal fungsi sekolah dan masyarakat, serta mengenal prinsip-prinsip
psikologi pendidikan.

2.

Menguasai bahan pengajaran, yaitu menguasai bahan pengajaran kurikulum


pendidikan dasar dan menengah, menguasai bahan penghayatan.

3.

Menyusun program pengajaran, yaitu menetapkan tujuan pembelajaran,


memilih

dan

mengembangkan

bahan

pengajaran,

memilih

dan

mengembang-kan strategi belajar mengajar, memilih media pembelajaran


yang sesuai, memilih dan memanfaatkan sumber belajar, melaksanakan
program pengaja-ran, menciptakan iklim belajar mengajar yang tepat,
mengatur ruangan belajar, mengelola interaksi belajar mengajar.
4.

Menilai hasil dan proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. 24


Menurut Saiful Adi, pengertian kompetensi profesional adalah kemampuan

atau kompetensi yang berhubungan dengan penyesuaian tugas-tugas keguruan.25


Kompetensi ini merupakan kompetensi yang sangat penting dan langsung
berhubungan dengan kinerja yang ditampilkan. Tingkat keprofesionalan seorang
guru dapat dilihat dari kompetensi sebagai berikut.
1.

Kemampuan untuk memahami landasan kependidikan

24

Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung : Remaja Rosda Karya, 2006), hal 19
Saiful Adi, Kompetensi Yang Harus Dimiliki Seorang Guru, (http://saifula di.wordpress.com/
2007/01/06/kompetensi-yang-harus dimiliki- seorang-guru/). Online, diakses tanggal 30 Maret
2015
25

15

2.

Pemahaman dalam bidang psikologi pendidikan,

3.

Kemampuan dalam penguasaan materi pelajaran sesuai dengan bidang studi


yang diajarkannya,

4.

Kemampuan merancang dan memanfaatkan berbagai media dan sumber


belajar,

5.

Kemampuan dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran,

6.

Kemampuan dalam menyusun program pembelajaran, dan

7.

Kemampuan dalam melaksanakan penelitian dan berpikir ilmiah untuk


meningkatkan kinerja.
Menurut

E.Mulyasa,

ruang

lingkup

kompetensi

profesional

guru

ditunjukkan oleh beberapa indikator. Secara garis besar indikator yang dimaksud
adalah:
1.

Kemampuan dalam memahami dan menerapkan landasan kependidikan dan


teori belajar siswa;

2.

Kemapuan dalam proses pembelajaran seperti pengembangan bidang studi,


menerapkan metode pembelajajaran secara variatif, mengembangkan dan
menggunakan media, alat dan sumber dalam pembelajaran,

3.

Kemampuan dalam mengorganisasikan program pembelajaran, dan

4.

Kemampuan dalam evaluasi dan menumbuhkan kepribadian peserta didik.26

B. Peningkatan Kompetensi Guru Produktif


Guru adalah sebuah profesi, sebagaimana profesi lainnya merujuk pada
pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian, tanggung jawab, dan kesetiaan.
Suatu profesi tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang yang tidak dilatih atau
dipersiapkan untuk itu. Suatu profesi umumnya berkembang dari pekerjaan
(vocational), yang kemudian berkembang makin matang serta ditunjang oleh tiga
hal: keahlian, komitmen, dan keterampilan, yang membentuk sebuah segitiga
sama sisi yang di tengahnya terletak profesionalisme.

26

E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Bandung : Remaja Rosda Karya, 2007), hal 135136.

16

Senada dengan itu, secara implisit, dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun


2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa guru adalah ......
tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses
pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan
pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat,
terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.27
Guru Sekolah Menengah Kejuruan yang disingkat Guru SMK adalah guru
pada satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan.
Guru sekolah kejuruan adalah guru yang mengajar pada sekolah kejuruan yang
memiliki kompetensi paedagogis, kepribadian, profesional dan sosial. Guru
Kejuruan pada program produktif memiliki karakteristik dan persyaratan
(kompetensi) professional yang spesifik, yaitu antara lain : 1. Memiliki keahlian
praktis yang memadai pada semua bidang studi (mata pelajaran) produktif; 2.
Mampu

menyelenggarakan

pembelajaran

(diklat)

yang

relevan

dengan

kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia kerja; 3. Mampu merancang


pembelajaran (diklat) di sekolah dan di dunia usaha atau industri. Selain
persyaratan khusus seperti tersebut di atas yang harus dimiliki oleh guru sekolah
kejuruan, keberadaan guru sekolah kejuruan saat ini sedang dihadapkan pada
permasalahan yaitu beragamnya program keahlian di SMK.
Berdasarkan kurikulum SMK tahun 2006 (KTSP), terdapat 123 program
keahlian (program studi) yang tercakup dalam 26 bidang keahlian (jurusan) yang
dikembangkan oleh SMK. Jumlah tersbut belum termasuk 7 (tujuh) program studi
yang ada di SMK perikanan/kelautan yang saat ini sedang dikembangkan oleh
Departemen Kelautan dan Perikanan. Apabila ditinjau dari status guru, dimana
berdasarkan data dapat disampaikan bahwa dari 52.732 guru SMK negeri terdapat
11.393 orang (21,61%) berijazah dibawah S1 dan non kependidikan hal ini
diasumsikan bahwa tidak ada LPTK yang mencetak tenaga pengajar degan
jenjang pendidikan di bawah S1.
Gambaran berdasarkan data tersebut menunjukkan bahwa kondisi guru riel
dari guru SMK yang ada di Indonesia menunjukkan bahwa masih banyak guru
27

Pasal 39 ayat 1, Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

17

yang pendidikannya tidak sesuai dengan ketentuan sehingga kelayakannya dalam


melaksanakan kegiatan belajar mengajarpun dapat dianggap tidak layak.
Berdasarkan UU Guru dan Dosen, sertifikai guru memang menjadi mutlak harus
dimiliki oleh guru, yang juga harus memiliki kualifikasi akademik, kompetensi
sehat jasmani dan rohani, serta mampu mewujukan tujuan pendikan nasional.
Jika merujuk pada peraturan tersebut, maka masih banyak guru SMK yang
harus memenuhi syarat-syarat agar dapat mengikuti sertifikasi. Namun demikian,
ada beberapa permasalahan yang menyebabkan guru-guru SMK mengalami
kesulitan untuk menyelesaikan jenjang S1 maupun D4 Permasalahan tersebut
adalah tidak semua jurusan Prodi yang terdapat di SMK dimiliki LPTK terutama
untuk kelompok kelautan dan pertanian. Sementara itu, permasalahan lainnya
adalah pengembangan program D4 memerlukan spesifikasi yang mendalam serta
biaya pendidikan yang jauh lebih besar, sementara pendanaan pendidikan secara
umum masih jauh dari ideal.
Upaya pembangunan berbagai sarana fisik, termasuk reformasi kurikulum,
pertambahan jumlah sekolah dengan diversifikasi dan standar-standar bidang
keahlian pada pendidikan kejuruan perlu sejalan dengan peningkatan mutu guru
kejuruan. dan pada gilirannya mempengaruhi daya saing perusahaan perusahaan
swasta Indonesia dalam persaingan internasional. Tantangan bagi LPTK dimasa
depan menjadi lebih besar mengingat terbuka peluang bagi institusi di luar LPTK
mendidik calon guru kejuruan. Banyak pihak menaruh harapan terhadap LPTK,
agar lulusan LPTK dapat bersaing dengan lulusan diluar LPTK, terutama untuk
mengisi pasar kerja pada SMK.

C. Mutu Pendidikan SMK


1.

Pengertian Mutu Pendidikan


Menurut Ahmad Sudrajat mutu pendidikan di sekolah dapat diartikan

sebagai kemampuan sekolah dalam pengelolaan secara operasional dan efisien


terhadap komponen-komponen yang berkaitan dengan sekolah, sehingga
menghasilkan nilai tambah terhadap komponen tersebut menurut norma atau

18

standar yang berlaku.28 Engkoswara melihat mutu atau keberhasilan pendidikan


dari tiga sisi; yaitu: prestasi, suasana, danekonomi. Dalam hubungan dengan mutu
sekolah.29 Selamet berpendapat bahwa banyak masyarakat yang mengatakan
sekolah itu bermutu atau unggul dengan hanya melihat fisik sekolah, dan
banyaknya ekstrakurikuler yang ada di sekolah.30

2.

Mutu Pendidikan SMK secara Nasional


Pada awalnya bagi para siswa SMK, diberlakukan masa praktek kerja

industri selama 3 bulan. Namun menurut Gatot, hasil dan prosesnya dinilai kurang
efisien dan terlalu sebentar. Maka, mulai tahun 1999 hingga sekarang, diterapkan
masa praktik kerja industri selama 6 bulan. Malah, sebenarnya waktu 6 bulan ini
juga masih dirasa cukup singkat bagi proses praktik kerja industri. Gatot
membandingkannya dengan sistem pendidikan kejuruan yang ada di Jerman.
Dalam sepekan, selama 2 hari anak-anak mendapatkan teori di kelas,
sedangkan tiga hari berikutnya kegiatan pembelajaran berlangsung di industri.
Mungkin, di Indonesia masih perlu berubah setahap demi setahap. Setelah
pemberlakuan masa praktik kerja yang diperpanjang menjadi 6 bulan, proses ini
juga memudahkan para siswa untuk memperoleh peluang praktik kerja ke luar
negeri. Kegiatan praktik kerja di luar negeri ini telah dilakukan sejak tahun 1999.
Pada mulanya, Direktorat Pendidikan Menengah dan Kejuruan (Dikmenjur)
mengirimkan 200 kepala sekolah SMK untuk melakukan studi banding ke
Malaysia. Berikutnya, giliran para siswanya yang diberangkatkan magang ke luar
negeri. Di tahun yang sama, sekitar 400 siswa SMK berangkat praktik kerja ke
luar negeri. Hingga perkembangannya sampai dengan tahun 2004, telah ada
sekitar 2.000 siswa SMK seluruh Indonesia yang dikirim ke Malaysia. 80% nya
melakukan

praktik

kerja

di

bidang

perhotelan

dan

pariwisata.

Negara tujuannya tak hanya sebatas Tanah Melayu Malaysia, melainkan juga ke

28

Akmad Sudrajat, Kompetensi Guru dan Peran Kepala Sekolah, ((http://akmadsudrajat. word
press. com). Online, diakses tanggal 30 Maret 2015.
29
Engkoswara, Dasar-dasar Metodologi Pengajaran, (Jakarta : Bina Aksara, 1988)
30
Selamet, Pemberdayaan Masyarakat Dalam Membentuk perilaku Manusia Pembangunan,
(Bogor: IPB Press, 1998)

19

negara-negara lain misalnya ke Singapura, Jepang, Inggris, Jerman, Oman, dan


Kuwait. Saat itu, Gatot Hari Priowirjanto berharap, pada tahun 2020 nanti
sebanyak 10% dari bisnis hotel dan pariwisata di dunia, tenaga kerjanya berasal
dari Indonesia.
Selain memfasilitasi para siswa SMK melakukan praktik kerja di luar
negeri, Direktorat Dikmenjur juga mendorong dan memberi kesempatan bagi para
guru, kepala sekolah, pejabat Dinas Pendidikan dan pengajaran di tingkat provinsi
maupun

kabupaten/kota

untuk

ikut

memperluas

pengetahuan

konsep

penyelenggaraan pendidikan kejuruan di luar negeri.


Kini setiap tahun, Direktorat Dikmenjur telah mengirim 100 sampai 200
pejabat terkait dengan penyelenggaraan pendidikan kejuruan untuk berangkat ke
luar negeri. Mereka dikirim dalam beberapa gelombang, ke negara yang berbeda
beda, dengan biaya yang sebagian ditanggung oleh pemda masing-masing,
sebagian lainnya ditanggung oleh Direktorat Dikmenjur.
Menginjak periode kepemimpinan Dr. Joko Sutrisno, Direktorat Dikmenjur
(sejak 2005) lebih menyempurnakan desain reposisi pendidikan SMK melalui
beberapa terobosan. Beberapa hal diantaranya adalah mengembangkan SMK
bertaraf internasional dengan metode bilingual, pencitraan kredibilitas SMK
melalui program sosialisasi, dan memenuhi kebutuhan peralatan produksi secara
mandiri lewat unit produksi di masing-masing SMK.
Termasuk didalamnya, program penguatan pengetahuan eksakta/sains
melalui peningkatan bobot jam belajar hingga 6 jam setiap minggunya bagi SMK
jurusan elektronika, automotif dan jurusan eksaskta lainnya. Diharapkan, ini dapat
membuka peluang seluas-luasnya bagi siswanya melanjutkan pendidikan ke
jenjang yang lebih tinggi. Selain itu, Direktorat Dikmenjur juga melakukan
sertifikasi kompetensi untuk para lulusan SMK bidang otomotif, perhotelan,
Teknologi Informasi, sekretaris, busana, dan tata boga.

3.

Relevansi Kompetensi Profesional Guru dan Mutu Pendidikan


Kebutuhan warga SMK harus diperhatikan termasuk juga kesejahteraan

guru dan tenaga tata usaha. Apabila kesejahteraan guru terjamin, guru dapat

20

memberi perhatian yang lebih kepada pengajaran. Dalam dunia pendidikan, peran
dan fungsi guru merupakan salah satu faktor yang sangat signifikan. Guru
merupakan bagian terpenting dalam proses belajar mengajar, baik di jalur
pendidikan formal, informal maupun nonformal. Oleh sebab itu, dalam setiap
upaya peningkatan kualitas pendidikan di tanah air, guru tidak dapat dilepaskan
dari berbagai hal yang berkaitan dengan eksistensi mereka. Guru adalah pendidik
profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan,
melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.
Untuk meningkatkan mutu siswa, tenaga guru pun harus yang profesional.
Tujuannya, untuk meningkatkan lingkungan hidup dan kaitan dalam ilmu
pendidikan. Peningkatan kualifikasi guru sampai ke jenjang pendidikan S1 hingga
S3. Kualifikasi guru yang diprioritaskan untuk ditingkatkan, terutama di daerah
terpencil, tertinggal dan sulit dijangkau yang belum mencapai kualifikasi
pendidikan S1. Tujuannya memperkecil kesenjangan mutu guru antar daerah,
memenuhi persyaratan minimal profesionalisme tenaga pendidik dalam program
sertifikasi guru serta memperluas pemerataan pendidikan bagi guru.

D. Pembahasan
Dalam kebijakannya, SMK Negeri 4 menentukan arah peningkatan mutu
sekolah kepada peningkatan mutu guru. Berbagai cara dilakukan demi tercapainya
tujuan tersebut. Karena memegang prinsip bahwasanya guru profesional adalah
salah satu faktor utama untuk peningkatan mutu sekolah.

1.

Melalui Supervisi
Menurut Glickman dalam Bafadal supervisi pengajaran adalah serangkaian

kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses


belajar mengajar demi pencapaian tujuan pengajaran. 31
Melalui supervisi pengajaran, guru akan terbiasa menggali potensi dirinya
sendiri dan memperbaiki diri melalui supervisi yang dilakukan baik oleh kepala

31

Bafadal, Supervisi Pengajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), hal 2

21

sekolah maupun pengawas sekolah. Sehingga tingkat profesionalnya semakin


meningkat yang akhirnya berpengaruh pada mutu pendidikan di sekolah tersebut.

2.

Melalui Pelatihan
Fungsi pelatihan dalam organisasi adalah sebagai segala kegiatan yang

dirancang untuk memperbaiki kinerja personil dalam suatu pekerjaan di mana


personil itu sedang atau akan diangkat menjabat pekerjaan tertentu. Pelatihan
merupakan salah satu tipe program pembelajaran yang menitikberatkan pada
kecakapan individu dalam menjalankan tugas-tugasnya.
Mangkuprawira menyatakan bahwa pelatihan bagi karyawan merupakan
sebuah proses mengajarkan pengetahuan dan keahlian tertentu serta sikap agar
karyawan semakin terampil dan mampu melaksanakan tanggung jawabnya
semakin baik, sesuai dengan standar. Biasanya pelatihan merujuk pada
pengembangan keterampilan bekerja (vocational).32
Berdasarkan pendapat di atas maka secara operasional pelatihan dapat
diartikan sebagai suatu proses yang meliputi serangkaian tindakan yang
dilaksanakan dengan sengaja dalam bentuk pemberian bantuan kepada personil
yang dilakukan oleh tenaga profesional kepelatihan dalam satuan waktu yang
bertujuan untuk meningkatkan kemampuan peserta dalam bidang pekerjaan
tertentu guna meningkatkan profesionalismenya.
Pendidikan

dan

pelatihan

bagi

pengembangan

SDM

termasuk

pengembangan profesi dan kinerja tenaga kependidikan sangat penting dikelola


dengan baik. Mangkuprawira memberikan tiga tahapan besar dalam pengelolaan
program pelatihan yaitu tahap asesmen, tahap pelatihan dan tahap evaluasi. Dalam
tahap asesmen dilakukan analisis kebutuhan pelatihan dari organisasi, pekerjaan,
dan kebutuhan individu. Dalam tahap pelatihan dilakukan kegiatan merancang
dan menyeleksi prosedur pelatihan, serta pelaksanaan pelatihan. Tahap terakhir
adalah tahap evaluasi, pada tahap ini dilakukan pengukuran hasil pelatihan dan
membandingkan hasilnya dengan kriteria.

32

Mangkuprawira, Manajemen SDM, ( Jakarta: Ghalia, 2002), hal 135

22

3.

Melalui Pendidikan Lanjutan


Hariwung yang menyatakan bahwa pendidikan dan pengajaran adalah

proses yang memungkinkan individu untuk mengembangkan kemampuan, sikap


serta perilaku-perilaku positif, sehingga yang bersangkutan dapat menyerap nilainilai budaya, serta memberikan respon cultural terhadap situasi tertentu di dalam
kehidupannya. 33 Kaitanya dengan pendidikan lanjutan untuk guru/pegawai, pada
umumnya pendidikan berkaitan dengan pegawai yang akan dipromosikan
(promotable employees) untuk menjabat pekerjaan yang mempunyai tanggung
jawab dan kewajiban yang lebih besar, yang akan pensiun, dan mereka yang akan
berperan lebih signifikan di masyarakat di luar pekerjaan yang sedang dijabat.
Pembinaan kemampuan profesional guru melalui pendidikan lanjut adalah
bentuk pembinaan dengan memberikan kesempatan kepada guru untuk
melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi. Pendidikan lanjutan ini
dapat dilakukan atas insiatif sendiri dengan ijin dari atasan atau dapat juga melalui
tugas belajar dari atasan. Adapun tujuan pendidikan lanjutan menurut Bafadal
adalah untuk:
a.

Meningkatkan kualifikasi formal guru sehingga sesuai dengan peraturan


kepegawaian yang diberlakukan secara nasional maupun yayasan yang
menaunginya.

b.

Meningkatkan

kemampuan

akademik

sehingga

ada

peningkatan

profesionalnya dalam rangka meningkatkan kualitas penyelenggaraan


pendidikan di sekolah.
c.

Menumbuh kembangkan motivasi para pegawai khususnya guru dalam


rangka meningkatkan kinerjanya.

d.

Kualifikasi tenaga pendidik khususnya guru berdasarkan Peraturan


Pemerintah Republik Indonesia No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1), latar belakang
pendidikan tinggi dengan program pendidikan sesuai dengan mata pelajaran
yang diajarkan.

33

A.J. Hariwung, Supervisi Pendidikan, (Jakarta: Ditjen Pendidikan, 1989), hal 9

23

4.

Melalui Pembinaan Kemampuan Guru


Model konseptual yang diajukan merupakan hasil dari analisis SWOT

(strengtness, weakness, opportunity, treaths) dari data kualitatif yang penulis


dapatkan. Data ini selanjutnya diolah dan dihimpun keunggulan-keunggulan yang
diperoleh dan menghindari kelemahan-kelemahan dari model yang telah
diterapkan. Dalam kajian ini yang dimaksud model adalah suatu pendekatan atau
pola implementasi pembinaan kemampuan profesional guru sekolah menengah
kejuruan. Atas dasar kajian teoritis, hasil penelitian, pembahasan, dan analisis
SWOT, maka asumsi yang mendasari model konseptual sebagai berikut:
Pertama, kelemahan pembinaan kemampuan profesional guru sekolah
menengah kejuruan yang diterapkan selama ini masih menyimpan permasalahan
dalam aspek perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan. Akibatnya berbagai
program pembinaan kemampuan profesional guru sekolah menengah kejuruan
belum berdampak pada peningkatan kemampuan profesional secara berarti.
Kedua, pembinaan dalam bentuk diklat dalam jabatan untuk guru kejuruan
selama ini dirasakan kurang memberikan hasil optimal, khususnya dalam
mengembangkan kemampuan dan keahlian aktual yang sesuai dengan
perkembangan industri/dunia usaha.
Ketiga, pendekatan/strategi sertifikasi kompetensi guru bidang pendidikan
teknologi dan kejuruan dengan cara teknisi yang digurukan dan guru yang
diteknisikan (dikompetensikan) mampu memenuhi kebutuhan akan guru SMK
bidang produktif.
Kedua pendekatan ini akan memberikan dampak pada peningkatan mutu
pendidikan berbasis kompetensi jika dalam pembinaannya dilakukan secara
optimal dengan melibatkan partisipasi stakeholders, LPTK, dunia usaha/industri,
maupun asosiasi profesi sebagai mitra dalam pembinaan profesionalisasi guru
kejuruan bidang produktif. Model ini menggambarkan bahwa pembinaan
kemampuan profesional guru sekolah menengah kejuruan sebagai upaya untuk
meningkatkan mutu pembelajaran berbasis kompetensi membutuhkan keterlibatan
banyak pihak.

24

Sekolah, musyawarah guru bidang diklat, kelompok kerja kepala sekolah,


LPTK dan dunia usaha/industri merupakan modal dasar yang kuat untuk dapat
memberikan pembinaan kemampuan profesional kepada guru-guru sekolah
menengah kejuruan khususnya bidang produktif.
Modal yang kuat ini tergambar dari (1) Manajemen berbasis sekolah yang
telah diterapkan di SMK, sehingga manajemen sekolah dapat dengan leluasa
membina SDM-nya sesuai dengan visi dan misi sekolah masing-masing; (2) telah
terbentuknya wadah-wadah K3S SMK dan MGMD untuk masing-masing bidang
diklat; (3) perangkat pembina dan program pembinaan untuk SMK di Dinas
Pendidikan Kota; (4) keterlibatan LPTK dalam program pembinaan guru SMK;
dan (5) terjalinnya kerja sama dengan dunia usaha dan dunia industri serta
organisasi profesi. Atas dasar modal yang kuat ini memberi peluang bagi
terbentuknya sistem pembinaan profesional guru sekolah menengah kejuruan.
Aspek-aspek yang perlu diperhatikan pada model konseptual ini di
antaranya : Pertama, aspek perencanaan pembinaan profesional guru mulai dari
tingkat sekolah, MGMD, K3S, Dinas Pendidikan Kota Tebing Tinggi juga pada
tingkat-tingkat di atasnya. Kedua, Kebutuhan pembinaan yang didapat dari hasil
analisis kebutuhan pembinaan ataupun dari hasil evaluasi yang memperhatikan
CIPP sangat membantu dalam merencanakan program pembinaan sekaligus
pelaksanaannya. Dengan kebutuhan pembinaan maka program pembinaan, yang
menyangkut tujuan, target sasaran, materi pembinaan, pelaksanaan pembinaan,
evaluasi, output serta outcame dari pembinaan profesional guru SMK dapat
tercapai secara optimal, efektif, efisien, serta inovatif. Ketiga, keterlibatan
sekolah, dinas pendidikan, organisasi profesi keahlian, dunia usaha/industri,
dewan pendidikan dan para pakar pendidikan mulai dari perencanaan,
pelaksanaan pembinaan profesional sampai kepada evaluasi dan monitoring
kegiatan perlu diperhatikan peran dan tugasnya masing-masing. Keterlibatan
unsurunsur tersebut dapat meningkatkan optimalisasi kualitas, efektivitas,
efisiensi, dan inovasi program pembinaan profesional guru SMK. Empat,
penghargaan terhadap hasil pembinaan profesional guru SMK. Hasil pembinaan
profesional guru SMK (produck) dapat dijadikan bahan portofolio dalam

25

pengembangan karir profesi guru (sertifikasi profesi). Jika guru-guru dari


penilaian portofolio masih kurang memenuhi kriteria maka hasil pembinaan
melalui diklat dapat menjadi syarat untuk mengikuti ujian sertifikasi profesi
selanjutnya. Diorientasikan sesuai dengan tuntutan kompetensi guru SMK
profesional yang mampu mendidik melatih siswa sebagai calon tenaga kerja yang
dapat bersaing di pasar kerja, yaitu pembinaan profesional guru SMK yang
memenuhi kriteria standar kompetensi guru SMK. Pembinaan dilakukan secara
berkelanjutan dan secara terus menerus program-program pembinaannya
diperbaharui seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di
dunia usaha/industri maupun di dunia pendidikan.

26

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pembinaan kemampuan profesional guru sekolah menengah kejuruan
dilakukan Sub Dinas Pendidikan Menengah Kejuruan Dinas Pendidikan
Kota/Kabupaten, sekolah menengah kejuruan sendiri, industri dan asosiasi
profesi. Sub Dinas Pendidikan Menengah Kejuruan Dinas Pendidikan Kota
Tebing Tinggi melalui pengawas sekolah menengah kejuruan melakukan
pembinaan kemampuan profesional guru dengan melalui pendekatan supervisi.
Kegiatan supervisi yang dilakukan ditujukan untuk mengkaji masalah-masalah
dari segi administratif formal maupun memperhatikan upaya untuk memahami
dan memecahkan masalah-masalah proses pembelajaran yang dihadapi guru-guru
dengan segera.
Pembinaan melalui supervisi baik yang bersifat administratif formal
maupun pemecahan masalah proses pembelajaran dilakukan juga oleh kepala
sekolah. Ada dua pendekatan supervisi yang dilakukan oleh pengawas maupun
kepala sekolah yaitu: (1) supervisi masalah individu dengan tujuan memecahkan
masalah individu; dan (2) supervisi masalah kelompok dengan tujuan
memecahkan masalah kelompok.
Masalah-masalah yang ditemukan oleh supervisor dalam kegiatan supervisi
dapat ditindaklanjuti dengan pembinaan melalui wadah-wadah MGMD, K3S
Sekolah Menegah Kejuruan , Organisasi Profesi, dunia usaha dan dunia industri
(DUDI). Sedangkan untuk meningkatkan kemampuan akademik baik kemampuan
akademik kependidikan maupun kemampuan akademik bidang kejuruannya, guru
dibina melalui pendidikan lanjutan ke pendidikan tinggi yang sesuai untuk
mengambil jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Guru-guru bidang produktif
yang belum memiliki akta mengajar diarahkan untuk melanjutkan ke LPTK
sebagai lembaga yang berwenang untuk mengeluarkan sertifikat akta mengajar.
Sedangkan untuk guru-guru telah memiliki akta mengajar diarahkan untuk dapat
memperdalam

bidang

kejuruannya

di

27

perguruan-perguruan

tinggi

yang

menyelenggarakan pendidikan keahlian. Untuk keperluan sertifikasi keahlian


lulusan SMK, guru-guru bidang produktif yang telah memiliki pengalaman di
dunia usaha atau dunia industri diberikan pembinaan mengenai kemampuan
melakukan penilaian berbasis kompetensi (competency based assessment).
Pembinaan kemampuan penilaian berbasis kompetensi ini biasanya
dilakukan oleh organisasi profesi bidang keahlian tertentu. Karena orientasi
lulusan SMK adalah dunia kerja maka penilaian berbasis kompetensi mengacu
pada kriteria kinerja yang tercantum pada standar kompetensi keahlian. Penilai
yang berwenang untuk melakukan penilaian berbasis kompetensi adalah guruguru atau tenaga ahli yang telah memiliki sertifikat sebagai penilai (assessor).
Guru-guru yang telah dibina kemampuan penilaian berbasis kompetensi dan
memiliki sertifikat assessor berhak mewakili sekolah ataupun organisasi profesi
untuk melakukan penilaian sesuai dengan bidang keahliannya. Penilaian
kompetensi yang dilakukan melalui uji kompetensi, pengelolaannya dapat
diselenggarakan oleh sekolah, asosiasi profesi (lembaga sertifikasi profesi/LSP)
dan DU/DI. Idealnya lembaga uji kompetensi adalah lembaga independen yang
tidak dapat diintervensi oleh unsur atau lembaga lain, namun penelitian ini belum
dapat menemukan lembaga yang dimaksud. Pembinaan profesional guru bidang
produktif di sekolah dilakukan oleh kepala sekolah atau oleh tim yang ditugaskan
kepala sekolah untuk tugas pembinaan. Pembinaan profesional guru bidang
produktif di sekolah dilakukan melalui supervisi dan tranning. Dinas Pendidikan
Kota/Kabupaten selain memiliki kewenangan untuk membina kompetensi dan
profesionalisasi guru SMK juga berwenang untuk membina pengembangan
kariernya. Ada dua bidang yang ditangani dalam upaya pengembangan karier guru
SMK, yaitu: (1) berkenaan dengan penataan sistem pengembangan karier; dan (2)
menyangkut peningkatan kemampuan guru pada bidang-bidang yang diperlukan
untuk pengembangan karier. Tiga kegiatan yang dilaksanakan sebagai upaya
pengembangan karier guru SMK adalah: (1) kegiatan pelatihan; (2) Penciptaan
kondisi yang kondusif bagi pengembangan karier; dan (3) pembinaan
berkelanjutan.

28

B. Saran
Melalui pembahasan dari artikel ini, penulis menyarankan beberapa poin
berikut:
1.

Bagi guru, tulisan ini hendaknya dapat digunakan sebagai referensi untuk
meningkatkan kompetensi profesional terutama dalam mata pelajaran
produktif di SMK..

2.

Bagi siswa, tulisan ini memberi informasi dalam hal interaksi belajar
mengajar untuk diimplementasi guru di kelas, sehingga diharapkan prestasi
belajar siswa meningkat.

3.

Bagi

kepala sekolah, tulisan ini diharapkan dapat menjadi fakta tentang

kondisi objektif kompetensi profesional guru mata pelajaran produktif,


sehingga menjadi dasar awal untuk mengusulkan pemenuhan guru produktif
di sekolah. Tulisan ini juga menjadi dasar bagi kepala sekolah untuk memicu
motivasi guru dalam peningkatan kompetensi guru produktif di SMK serta
dapat digunakan sebagai mempertimbangkan, menetapkan, dan melaksanakan
kebijakan sekolah.

29

DAFTAR PUSTAKA

BUKU
A. Samana . 1994. Profesionalisme Keguruan. Yogyakarta: Kanisius.
A.J. Hariwung. 1989. Supervisi Pendidikan. Jakarta : Ditjen Pendidikan.
Arikunto, Suharsimi. 1993. Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi. Jakarta :
Rineka Cipta.
Bafadal, Ibrahim. 1992. Supervisi Pengajaran: Teori dan Aplikasinya dalam
Membina Profesional Guru. Jakarta: Bumi Aksara.
Djojonegoro, Wardiman.1999. Pengembangan Sumberdaya Manusia Melalui
Sekolah Menengah Kejuruan. Balai Pustaka. Jakarta.
E. Mulyasa. 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Remaja Rosda
Karya
Engkoswara . 1988. Dasar-dasar Metodologi Pengajaran. Bina Aksara. Jakarta
Hamzah. B. Uno. 2007. Profesi Kependidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Martinis Yamin. 2006. Profesionalisasi Guru dan Implementasi Kurikulum
Berbasis Kompetensi. Jakarta: Gaung Persada Press
Piet. A Sahertian 2000. Konsep Dasar danTteknik Supervisi Pendidikan dalam
Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka
Cipta.
Slamet. M. 1998. Pemberdayaan Masyarakat. Dalam Membetuk Pola Perilaku
Manusia Pembangunan. Bogor: IPB Press.
Sudjana, Nana. 2002. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru
Algensindo.
Sumitro dkk. 2002. Penghantar Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Yogyakarta :
Fakultas Ilmu Pendidikan
Suparlan. 2006. Guru sebagai Profesi. Yogyakarta: Hikayat Publishing
Uzer Usman. 2006. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosda Karya

Vendien. C.Lynn. 1985. Phycical Education Teacher Education. New York:


Chichester Brisbone Toronto Singapore
Wirawan. 2002. Profesi dan Standar Evaluasi. Jakarta: Yayasan & UNHAMKA
PRESS.
WJS, Poerwadarminta. 1999. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia
pustaka Utama.
Zamroni. 2001. Paradigma Pendidikan Masa Depan. Yogyakarta: Biograf
Publishing.

INTERNET (Online)
Sudrajat, Akhmad. 2007. Kompetensi Guru dan Peran Kepala Sekolah. Online.
http//:www.akhmadsudrajat.wordpress.com
Saiful Adi. 2007. Kompetensi yang Harus dimiliki Seorang Guru. (Online),
http://saifuladi.wordpress.com/2007/01/06/kompetensi-yang-harus
dimiliki- seorang-guru/.
REGULASI
Undang-undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.