Anda di halaman 1dari 19

Perencanaan Kebutuhan dan Pengadaan Material

Pesawat Telepon Tipe PTE 991 N-3

INFOMATEK
Volume 5 Nomor 4 Desember 2003

PERENCANAAN KEBUTUHAN DAN PENGADAAN MATERIAL PESAWAT TELEPON


TIPE PTE 991 N-3
Sutarman dan Wahyu Katon
Jurusan Teknik Industri
Fakultas Teknik-Universitas Pasundan
Abstrak : Saat ini sudah semakin banyak perusahaan yang menyadari perlunya analisis yang seksama
terhadap jenis-jenis material yang bernilai tinggi (High Cost) dan penggunaan dalam jumlah banyak (High
Usage), dan kebijakan persediaan harus menghasilkan jumlah dan saat yang tepat dalam melakukan
pemesanan, selanjutnya juga harus memperoleh material yang sesuai dengan spesifikasi, dan akhirnya disertai
dengan biaya yang wajar, berdasarkan pemikiran tersebut, maka masalah pokok dalam penelitian ini
diformulasikan antara lain; (1) bagaimana melakukan perencanan persediaan yang baik agar pihak perusahaan
tidak mengalami
stockout maupun overstock, dan (2) bagaimana melakukan seleksi pemasok, agar
memperoleh pemasok yang mampu mengirim material secara tepat waktu, sesuai dengan spesifikasi, dan harga
yang wajar. Upaya untuk menjawab masalah tersebut, peneliti menggunakan Material Requirement Planning,
dengan metode Lotting Algoritma Wagner Within, dan untuk melakukan seleksi pemasok menggunakan Multy
Criteria Decision Making dengan metode Analytical Hierarchy Process.
Berdasarkan penggunaan kedua metode tersebut menghasilkan ukuran dan saat pemesanan material yang
optimum, sehingga memperoleh ongkos persediaan yang minimum, sedangkan pemasok yang mampu
memenuhi kriteria yang ditetapkan perusahaan adalah pemasok A.
Kata Kunci : MRP, Wagner Within, Pair-wise comparison, Eigen Value, Consistency Ratio

I. PENDAHULUAN

pelanggan secara baik, dan salah satu faktor

PT. X(Persero) adalah merupakan

Badan

Usaha Milik Negara yang bergerak dalam


produksi

alat

telekomunikasi,

mempunyai

wilayah pemasaran dalam dan luar negeri, saat


ini perusahaan selalu berusaha untuk melayani

yang harus diperhatikan adalah bagaimana


menjaga kelancaran prosedur dan pelaksanaan
bidang operasional terutama dalam melakukan
perencanaan dan pengendalian persediaan,
oleh karena itu, peranan logistik sangatlah
diperlukan.

187

Infomatek Volume 5 Nomor 4 Desember 2003 : 187-202

Saat ini kebijakan persediaan material yang


dilakukan pihak perusahaan masih belum

188

memperhitungkan ukuran pemesanan optimum,

produksi

akan tetapi perusahaan melakukan pemesanan

permintaan

pelanggan,

material pada saat akan dimulai produksi

selanjutnya

perusahaan

dengan jumlah sekali pesan. Gejala ini berakibat

seleksi terhadap para pemasok yang bersedia

terjadinya pembengkakkan ongkos persediaan,

untuk

hal ini diperkuat dengan adanya kondisi objektif

perusahaan kepada para pelanggannya.

bahwa ternyata

sehingga

mendukung

mampu

memenuhi

maka
harus

langkah
melakukan

terciptanya

kominmen

dana yang diinvestasikan

untuk persediaan di perusahaan mencapai 66 %


dari keseluruhan biaya operasional.

II. MANAJEMEN LOGISTIK


Proses kegiatan logistik tidak akan lepas dari

Oleh karena itu, perusahaan sangat menyadari

proses bisnis, baik manufaktur maupun jasa,

perlunya analisis yang seksama terhadap jenis-

karena logistik akan selalu melibatkan kegiatan-

jenis material yang bernilai tinggi (High Cost)

kegiatan

dan penggunaan dalam jumlah banyak (High

transportasi, persediaan, pemrosesan pesanan,

Usage), karena kebijakan persediaan harus

pergudangan,

menghasilkan jumlah dan saat yang tepat dalam

pemeliharaan informasi, sehingga merupakan

melakukan pemesanan, selanjutnya juga harus

kegiatan yang tak mungkin terhindar dari proses

memperoleh

bisnis,

material

yang

sesuai

dengan

pelayanan

kepada

pemindahan

maka

kegiatan

pelanggan,
bahan,

logistik

dan

adalah

spesifikasi, dan akhirnya disertatai dengan biaya

keniscayaan yang perlu diperhatikan, agar

yang wajar.

pelayanan kepada pelanggan dapat dipelihara


secara konsisten.

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut,


maka masalah pokok dalam penelitian ini

Definisi

diformulasikan

manajemen

antara

lain;

(1)

bagaimana

melakukan perencanan persediaan yang baik

yang

dikemukakan

logistik,

oleh

Bowersox [1]

pakar
sebagai

berikut :

mengalami

The process of strategically managing the

stockout maupun overstock, dan (2) bagaimana

movement and storage of materials, part and

melakukan seleksi pemasok, agar memperoleh

finished

pemasok

enterprise facilities, and to customers.

agar

pihak

perusahaan

yang

mampu

tidak

mengirim

material

inventory

from

supplier,

between

secara tepat waktu, sesuai dengan spesifikasi,

Selain dari hal tersebut ia pun mengemukakan

dan harga yang wajar.

bahwa terdapat 5 komponen yang bergabung


untuk membentuk sistem logistik, yaitu, (1)

Apabila persediaan material yang diperlukan


dapat

mendukung terselenggaranya aktivitas

struktur lokasi fasilitas, (2)transportasi, (3)

persediaan,(4) komunikasi,(5) penanganan dan

storage

of

goods,

services,

and

related

(6) penyimpanan

information from the point of origin to the point


of consumption for the purpose of conforming

Sedangkan
Amerika

lembaga
Serikat

swadaya

yang

masyarakat

bergerak

dalam

manajemen logistik (The Council of Logistics


Management), dalam Ballou [2] mendefinisikan

to customer requirement.
Sedangkan peranan logistik apabila dilihat dari
perspektif Supply Chains menurut Chopra [4],
adalah:

bahwa logistik adalah :


The process of planning, implementing, and

Inventory exists in the supply chains because

controlling the efficient, cost-effective flow and

of a miss match between supply and demand.

storage of raw material, in process inventory,

This

finished goods, and related information from the

manufacturer,

point of origin to the point of consumption for the

manufacture in large lot than are then stored for

purpose

future sales. The missmatch is also intentional

of

conforming

to

customer

mismatch

is

intentional

where

it

is

at

steel

economical

to

requirements.

at a retail store, when inventory is held in

Mengingat logistik akan selalu melibatkan unsur

anticipation of future demand. An important role

pemasok,

para

that inventory plays in supply chains is to

pelanggan, maka misi logistik harus dapat

increase amount of demandthat can be satisfied

melaksanakan kegiatan pengiriman barang dan

by having the product ready and available when

jasa yang diperlukan pelanggan secara efisien,

the customer wants it. Another significant role

maka misi logistik yang dimaksud menurut

inventory plays is to reduce cost by exploiting

Ballou [2] adalah:

ani economies of scale that may exist during

manufaktur,

distribusi

dan

The mission of logistics is to get the right


goods, or services to the right place, at the right
time, and in the desired condition, while making
the greatest contribution to the firm
Sehubungan

sistem

logistik

mengalami

perkembangan yang pesat, maka organisasi


profesi tersebut menambahkan unsur jasa
(services) dalam definisinya, yang dikemukakan
oleh Johnson [3] adalah menjadi:
The process of planning, implementing, and
controlling the efficient, effective flow

and

both production and distribution.


Berdasarkan definisi logistik yang diutarakan di
atas, menyatakan bahwa kegiatan logistik tidak
akan

pernah

persediaan,

terpisah

dan

dari

menajemen

manajemen

persediaan

merupakan aktivitas kunci dari kegiatan logistik


Maka

dengan

mengemukakan

demikian
tentang

Tersine
definisi,

[5],
tujuan

persediaan dan tujuan manajemen persediaan


sebagai berikut:

Inventory as a material held an

idle or

barang-barang jadi atau produk yang disediakan

incomplete state awaiting future sales, use, or

untuk memenuhi permintan dari pelanggan atau

transformation.

langganan setiap waktu.

Tujuan persediaan adalah : Inventory exist

Rangkuti [7], menyatakan bahwa :

because supply and demand are difficult to

Persediaan

synchronized perfectly and it take time to

permintaan dan waktu yang digunakan untuk

perform material related operations. For several

memproses material.

timbul

oleh

tidak

singkronnya

reason, supply and demand frequently differ in


the rate at which they respectively provide and
require stock. These reason can be best
explained by four functional factors of inventory,
that is Time, discontinuity, uncertainly, and

Sehubungan

dengan

tersebut, maka

tujuan

persediaan

komponen biaya persediaan

adalah terdiri dari 4 komponen, yaitu (1) biaya


pembelian, (2) biaya pemesanan, (3) biaya
simpan dan (4) biaya kekurangan persediaan,

economy.

komponen
Sedangkan

tujuan

manajemen

persediaan

adalah :

biaya

persediaan

tersebut

merupakan variable yang dapat menentukan


tingkat pemesanan optimum, sehingga ongkos

The objective of inventory management is to

total persediaan menjadi minimum.

have the appropriate amounts of material in the


right place, at the right time and at low cost.
Inventory

costs

are

associated

with

3. Material Requirement Planning

the

operation of an inventory system and result from


action or lack of action on the part of
management in establishing the system. They
are the basic economic parameters to any
inventory decision model, and the more relevant
ones to most systems are itemized as follows.

Material Requirement Planning adalah suatu set


teknik

yang

pembuatan

dipakai
atau

untuk

merencanakan

pembelian

Sub-Assembly,

komponen dan bahan baku yang diperlukan


untuk

melaksanakan

Master

Production

Schedule (MPS).
MRP merupakan sistem yang dirancang secara

Sedangkan

Yamit

[6]

telah

mencoba

mendefinisikan bahwa :
Persediaan

adalah

yang secara tipikal karena permintaan tersebut


jumlah

bahan-bahan,

bagian-bagian yang disediakan dan bahanbahan dalam proses yang terdapat dalam
perusahaan

untuk

khusus untuk situasi permintaan bergelombang,

proses

produksi,

serta

dependen. Sedangkan tujuan MRP adalah (1)


menjamin

tersedianya

material,

item

atau

komponen saat dibutuhkan untuk memenuhi


jadwal produksi, dan menjamin tersedianya

produk jadi bagi konsumen, (2) menjaga tingkat


persediaan pada kondisi minimum, dan (3)
merencanakan aktivitas pengiriman, jadwal dan
aktifitas pembelian.

1) Langkah-langkah MRP
Sistem MRP memiliki 4 langkah utama yang
selanjutnya

keempat

diterapkan

satu

langkah

per

satu

ini

pada

harus
periode

perencanaan dan pada setiap item LangkahAgar proses MRP dapat beroperasi, maka ia

langkah tersebut adalah (1) Neeting, adalah

membutuhkan lima sumber informasi utama

menentukan

yaitu

selisih antara kebutuhan kotor dengan keadaan

(1) Master Production Schedule (MPS)

kebutuhan

persediaan

produk

direncanakan

diperiksa,

(2)

perusahaan untuk diproduksi, berapa kuantitas

besarnya

pesanan

yang dibutuhkan, pada waktu kapan dibutuhkan

berdasarkan kebutuhan bersih, (3) Offsetting,

dan bilamana produk tersebut akan diproduksi,

yaitu

(2) Bill of Material (BOM), adalah daftar dari

melakukan pesanan dalam rangka memenuhi

semua material, parts dan sub-assemblies,

kebutuhan

serta

yang

ditentukan dengan mengurangkan saat awal

diperlukan untuk memproduksi satu unit produk,

tersedianya ukuran yang diinginkan dengan

(3) Item master merupakan suatu file yang berisi

besarnya waktu ancang-ancang, (4) Exploding,

informasi status tentang material, parts, sub-

adalah perhitungan untuk kebutuhan kotor untuk

assemblies

dan

tingkat yang lebih rendah dalam struktur produk

menunjukkan

kuantitas

apa

kuantitas

yang

dari

masing-masing

produk-produk
yang

yang

dialokasikan,

on

Lotting,

hand

merupakan

yang merupakan pernyataan definitif, tentang


akhir

atau

bersih,

yang

yaitu

individu

sedang

menentukan
yang

optimal

menentukan saat yang tepat untuk


bersih,

rencana

pemesanan

berdasarkan rencana pemesanan.

waktu tunggu yang direncanakan, ukuran lot,


stock pengaman, kriteria lot sizing, toleransi
untuk hasil dan berbagai informasi penting
lainnya yang berkaitan dengan suatu item, (4)
Pesanan-pesanan, yang akan memberitahukan
tentang berapa banyak dari setiap item yang
akan diperoleh sehingga akan meningkatkan
stock on hand di masa yang akan datang dan
(5) kebutuhan-kebutuhan akan memberitahukan
tentang berapa banyak dari setiap item itu
dibutuhkan sehingga akan mengurangi stock on
hand di masa yang akan datang.

2) Teknik Lotting
Teknik lotting adalah proses menentukan ukuran
pemesanan. Pemesanan ini harus tersedia di
awal periode produksi. Adapun permintaan yang
terjadi tidak setiap periode.
Terdapat banyak alternatif untuk menghitung
ukuran lot. Beberapa teknik diarahkan untuk
menyeimbangkan ongkos set up dan ongkos
simpan, ada juga yang bersifat sederhana
dengan menggunakan konsep jumlah atau
periode

pemesanan yang

tetap.

Beberapa

alternatif

dar

teknik

lotting

yang

biasa

digunakan, antara lain (Zulian Zamit 2003)

Z ce C FP (Qe Qci )

adalah (1) Lot For Lot (LFL), (2) Economic

Quantity (POQ), (4) Fixed Period Requirement

Qce=

Rk

..(2)

k c

(FPR), (5) Least Unit Cost (LUC), (6) Wagner


Period Balancing (PBB).

untuk i

Order Quantity (EOQ), (3) Periodic Order

Within (WW), (7) Silver Meal (SM), (8) Part

..(1)

i c

Dimana : C = ongkos per sekali pesan, F = %


ongkos simpan per periode, P

Namun dalam penelitian ini metode lotting yang

pembelian per unit, Rk

digunakan adalah Algoritma Wagner Within,

pada periode k

ongkos

tingkat kebutuhan

dengan alas an bahwa algoritma ini memberikan


solusi

optimum

bagi

persoalan

ukuran

pemesanan Dinamis-deterministik pada suatu

Langkah 2:
(a)

Definisikan fe sebagai ongkos minimum

kurun waktu tertentu dimana kebutuhan pada

yang mungkin terjadi pada periode 1

seluruh periode harus terpenuhi.

hingga e, dimana tingkat persediaan pada


akhir periode e adalah nol,

Adapun prosedur perhitungan Algoritma Wagner

(b)

Algoritma

dimulai

dengan

fo

0,

Within aterdiri dari 3 langkah berikut :

kemudian hitung f1,f2,,fN berturut-turut.

Langkah 1:

fe dihitung pada urutan yang menaik


dengan menggunakan rumus :

(a) hitung matriks ongkos total variabel untuk

fe = min (Zce + fc-1)

seluruh alternatif pemesanan yang dapat

Untuk c = 1,2, ., e

dilakukan selama kurun waktu yang terdiri


dari N periode,

..(3)

(c)

Artinya, pada setiap periode seluruh


kombinasi

(b) ongkos total variabel ini meliputi ongkos

dengan

pemesanan dari ongkos simpan, dan

dari

alternatif

strategi

fe

pemesanan
dibandingkan

kombinasi terbaik yaitu yang memberikan

(c) definisikan Zce sebagai ongkos total variabel


pada periode c hingga e sebagai akibat

ongkos

melakukan pemesanan pada periode c yang

strategi untuk memenuhi kebutuhan pada

akan memenuhi kebutuhan pada periode c

periode 1 hingga e,

hingga e.

(d)

Nilai

fN

terendah

adalah

dinyatakan

ongkos

pemesanan yang optimal.

dari

sebagai

jadwal

Langkah 3:

hiraraki fungsional dengan input utamanya

Terjemahkan solusi optimum (fN) yang diperoleh


dari algoritma ini untuk

persepsi manusia [8].

menentukan ukuran
4.1 Tahapan Proses Pengambilan Keputusan

pemesanan sebagai berikut :


fN = ZwN + fw-1

.(4)

Pengambilan keputusan dengan menggunakan

pemesanan terakhir terjadi padaperiode w dan

AHP memerlukan tahapan baku, sehingga

dapat

diperoleh

memenuhi kebutuhan pada periode w

hingga N

keputusan

yang

rasional

konsisten, adapun tahapan yang

fw-1 = Zv(w-1)+.fv-1
pemesanan

yang

mendahului

......(5)

adalah

(1)

pemesanan

menentukan

mendefinisikan
solusi

yang

dan

dimaksud

masalah

dan

diinginkan,

(2)

terakhir terjadi pada periode v dan dapat

membuat struktur hirarki yang diawali dengan

memenuhi kebutuhan pada periode v hingga (w-

tujuan umum, dilanjutkan dengan subtujuan-

1)

subtujuan, kriteria dan kemungkinan alternatiffu-1=Z1(u-1) + fo

..(6)

alternatif pada tingkatan kriteria yang paling

pemesanan pertama terjadi pada periode 1 dan

bawah, (3) membuat matriks perbandingan

memenuhi kebutuhan pada periode 1 hingga (u-

berpasangan yang menggambarkan kontribusi

1)

relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap


masing-masing
berdasarkan

Sehubungan pentingnya peran pemasok dalam


evaluasi

produksi,
dan

maka

seleksi

diperlukan
karena

proses

perusahaan

pembeli dihadapkan terhadap jumlah pemasok


potensial

yang

perusahaan

banyak,

sebagai

menentukan

dengan

pihak

prioritas,

demikian

pembeli

agar

harus

memperoleh

pemasok yang mampu memenuhi kriteria yang


ditentukan.
Salah

satu

kriteria

yang

judgment

dari

pengambil

keputusan dengan menilai tingkat kepentingan


suatu elemen dibandingkan elemen lainnya, (4)
melakukan
sehingga

perbandingan
diperoleh

berpasangan

judgment

seluruhnya

sebanyak n x [(n-1)/2] buah, dengan n adalah


banyaknya elemen yang dibandingkan, (5)
menghitung
konsistensinya,

nilai
jika

eigen
tidak

dan
konsisten

menguji
maka

pengambilan data diulangi, (6) mengulangi


metode

yang

mampu

mengakomodasikan persoalan di atas adalah


metode

atau

setingkat diatasnya. Perbandingan dilakukan

4. Metode Pengambilan Keputusan

sistem

tujuan

Analytical Hierarchy Process (AHP),

yaitu sebuah metode yang dibentuk secara

langkah 3, 4, dan 5 untuk seluruh tingkat hirarki.


Membuat matriks perbandingan berpasangan
memerlukan

besaran-besar

yang

mampu

mencerminkan beda antara faktor satu dengan

lainnya, dan secara naluri, manusia dapat

Bobot yang dicari dinyatakan dalam vektor W =

mengestimasi

melalui

(W1, W2,, Wn). Nilai Wn menyatakan bobot

inderanya. Proses yang paling mudah adalah

relative kriteria An terhadap keseluruhan set

membandingkan dua hal dengan keakuratan

kriteria pada sub sistem tersebut. Pada situasi

perbandingan

dapat

penilaian yang konsisten sempurna (teoritis)

Saaty

maka didapatkan hubungan :

besaran

sederhana

tersebut

dipertanggungjawabkan.

Untuk

itu

menetapkan skala kuantitatif 1 sampai 9 untuk

aik = aij x ajk untuk semua i, j, k

menilai perbandingan tingkat kepentingan suatu

Dan matriks yang didapatkan adalah matriks

elemen terhadap elemen lain.

yang

konsisten.

Dengan

.......(7)
demikian

nilai

perbandingan yang didapatkan dari partisipan


4.2 Penyusunan Prioritas

berdasarkan penilaian Tabel 2.2 yaitu aij dapat

Menentukan susunan prioritas elemen adalah

dinyatakan dalam vektor W sebagai :

dengan menyusun perbandingan berpasangan


yaitu

membandingkan

dalam

aij =

bentuk

berpasangan seluruh elemen untuk setiap sub


sistem hirarki. Perbandingan tersebut kemudian

Dari persamaan diatas dapat dibuat persamaan


sebagi berikut :

akan dinilai tingkat kepentingannya antara lain Ai

j 1

Matriks Perbandingan Berpasangan


A3
a13
a23

an3

An
a1n
a2n
ann

Sumber : Kadarsah Suryadi dan Ali Ramdhani, 2000

Bila diketahui nilai perbandingan elemen Ai


terhadap elemen Aj adalah aij maka secara
teoritis mempunyai nilai (a ij = 1/aij), dan nilai aij
dalam situasi i = j adalah mutlak I.

wj

wi

n ; i 1, , n .......

1
n

a
j 1

ij

. wij ; i 1, , n ...

....(11)

Tabel 1

A2
a12
a22

an2

ij

Wi

berpasangan.

A1
a11
a21

an1

= 1 ; i, j = 1, , n ...... (9)

(10)

ukuran n x n. Matriks ini disebut perbandingan

C
A1
A2

An

Wi

Dan dengan demikian didapatkan :

yang dinotasikan dengan A1, A2, , An yang


dan Aj dipresentasikan dalam matriks A dengan

Wj

aij .

ditransformasikan dalam bentuk matriks untuk


analisis numerik. Misalkan terdapat n objek

Wi
; i, j = 1, , n ....... (8)
Wj

j 1

ij

. wij n wi ; i 1, , n .....

.. (12)
Yang ekivalen dengan persamaan :
AW = nW

. (13)

Dalam teori tentang matriks, formula tersbut


menyatakan bahwa W adalah eigen vector dari
matriks A dengan eigen value n. Bisa ditulis
secara lengkap maka persamaan terssebut
akan terlihat pada persamaan dibawah ini :

eigen

W1 W1 W1
, ,, W1 W1
W1 W2 Wn

W 2 , W 2 ,,W 2
W1 W2 Wn W2 n W2


Wn Wn Wn Wn Wn
, ,,
W1 W2 Wn
Variabel n

pada

sedangkan

vektor

yang

memenuhi persamaan tersebut, eigen vector.


Karena

matriks

adalah

suatu

matriks

resiprokal dengan nilai aij = 1 untuk semua i,


n

maka

j 1

= n = jumlah elemen-elemen

diagonal matriks A, artinya apabila matriks A


adalah matriks yang konsisten maka semua
eigen value bernilai nol kecuali satu yang
disebut
Bila

maks

matriks

yang bernilai sama

dengan n.

A adalah

yang

matriks

tak

konsisten, variasi kecil atas aij akan membuat


nilai eigen value terbesar,

maks

tetap dekat

dengan n, dengan nilai eigen value lainnya


mendekati nol.
Nilai

maks

dapat dicari dengan persamaan

berikut :
AW =
(A -

maks

maks

.(15)

I) W = 0

....... (16)

Dimana I adalah matriks identitas dan 0 adalah


matriks nol.
4.3 Perhitungan Konsistensi Indeks
Pada

keadaan

sebenarnya

akan

terjadi

ketidakkonsistenan dalam preferensi seseorang.


Hal ini dapat dibuktikan bahwa suatu perubahan
diatas dapat

kecil dapat dibuktikan dimana menyebabkan

digantikan, dengan sebuah vektor sebagai

perubahan tidak berarti pada eigen vector-nya,

berikut :

sehingga dapat dikatakan bahwa eigen vector


AW = W

persamaan

value,

.......(14)

Dimana = ( 1, 2, , n). Setiap

tidak terpengaruh oleh perubahan kecil pada


n

yang memenuhi persamaan diatas dinamakan

penilaian.

Dengan

menggunakan

nilai

pertimbangan, maka sejauh mana nilai W dapat

diperkirakan

Thomas

telah

Untuk mengetahui konsistensi dari hasil analisis

membuktikan bahwa A konsisten (jika dan

dikembangkan konsep konsistensi rasio (CR),

hanya jika) nilai

L.

maks

Saaty

> n, hal ini dapat

persamaan berikut :

dinyatakan sebagai berikut :


n

maks a ij .
j 1

Penyimpangan

dari

Wi
Wj

menurut Thomas L. Saaty nilai CR didapat dari

konsistensi

CI
RI

CR =

.........(17)
dinyatakan

dengan rumus :

....... (19)

Hasil penilaian dapat diterima apabila nilai rasio


konsistensi (CR) 0,1. Jika CR > dari harga itu,
maka penilaian yang telah dilakukan adalah

maks
n
CI =
n 1

........ (18)

tidak konsisten, dengan demikian perlu diulang


atau diperbaiki.
Nilai Random Indeks untuk beberapa orde

4.4 Perhitungan Konsistensi Rasio

matriks, disajikan nilai rata-rata RI pada Tabel 2


sebagai berikut :
Tabel 2
Random Indeks
N

10

11

12

13

14

15

RC

0,58

0,90

1,12

1,24

1,32

1,41

1,45

1,49

1,51

1,48

1,56

1,57

1,59

Sumber : Kadarsah Suryadi dan Ali Ramdhani, 2000

4.5 Pengujian Konsistensi Hirarki

CRH =

Untuk menguji keknsistensian dari tingkat hirarki

CH 1
CH 2

.......(20)

adalah dengan mengetahui hasil konsistensi

CH1 = CI + (B1)(CI2)

.......(21)

dan

CH2 = RI1 + (B1)(RI2)

...... (22)

eigen

vector

dari

suatu

matriks

perbandingan berpasangan pada tingkat hirarki


tertentu. Hirarki yang disusun harus konsisten,

5. Aplikasi Numerik

yang dapat dinyatakan dengan konsistensi

Dalam upaya untuk mengetahui jumlah dan saat

hirarki. Menurut Thomas L. Saaty konsistensi

pemesanan material dimana produknya bersifat

hirarki dapat dihitung berdasarkan persamaan

dependent dan diskrit, maka pada kondisi ini

sebagai berikut :

memerlukan
planning

metode

material

(MRP), sedangkan

requirement

masukan

dari

metode ini adalah meliputi (1) bill of material, (2)

jadwal induk produksi (MPS), dan (3) status

Biji Plastik

Beli

persediaan.

Microphone

Beli

Speaker

Beli

Connector

Beli

Bill of material dari produk pesawat telepon tipe

Baut 10

Beli

PTE 991-N3, yang menjelaskan tentang struktur

Plastik Tutup Baut

Beli

Label

Beli

Kabel Input

Beli

5.1 Menentukan ukuran dan saat pemesanan

dan komponen yang melekat pada produk


tersebut adalah seperti tertera pada Tabel 3.

Kabel Spiral

Beli

Tabel 3

Styrofoam

Beli

Bill Of Material (BOM) PTE 991-N3

Plastik

Beli

Box

Beli

Level

Komponen

Jumlah

Lead
Time

Sumber

PTE 991-N3

Buat

Head Set

Buat

Casing

Buat

Sedangkan Master Production Schedule, yang


menggambarkan tentang jumlah produk yang
akan diproduksi berdasarkan hasil ramalan,
dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4
Master Production Schedule (MPS)
Bulan
Ramalan
Produksi

10

11

12

Total

3955

3171

3454

3936

3282

4298

4640

4223

3768

2873

2715

2738

43018

Dengan melalui proses dan langkah-langkah

Dengan menggunakan persamaan-persamaan

baku dari metode MRP, yang terdiri dari 4

1, 2, 3, 4, 5 dan 6, untuk menentukan jumlah,

langkah,

Lotting,

saat pemesanan material optimum dengan

( menggunakan algoritma Wagner-Within), (3)

ongkos yang optimum untuk setiap level seperti

offsetting dan (4) exploding, dan keempat

pada Bill of Material, dengan sample khusus

langkah ini harus diterapkan satu per satu pada

pada item label, diperoleh tabel Lotting untuk

periode perencanaan dan pada setiap item.

item tersebut, seperti dapat dilihat pada Tabel 5.

yaitu

(1)

Netting,

(2)

Tabel 5
Hasil Lotting untuk Part Label

Melalui proses yang sama, saling terkait dan

ongkos minimum pada level 0 dari produk

bertahap antar level,

pesawat telepon tipe PTE 991-N3, seperti dapat

maka diperoleh jumlah

dan saat pemesanan material optimum dengan

dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6
MRP untuk Part No. 1 (PTE 991-N3)

5.2. Menentukan Supplier Prioritas

Jika perusahaan dituntut untuk mampu melayani

Rencana Kebutuhan Material dibuat dengan


maksud untuk dapat menyediakan material yang
diperlukan

untuk

aktivitas

produksi,

agar

produksi dapat dilaksanakan secara tepat waktu


dan

tepat

jumlah,

dengan

tujuan

pelanggannya, maka pihak perusahaan pun


harus mendapatkan pelayanan yang baik dari
para supplier.
5.2.1 Struktur Hirarki

untuk

Kriteria penilaian perusahaan terhadap para

memenuhi jumlah permintaan pelanggan yang

supplier adalah terdiri dari (1) Price, terdiri dari

besarnya sesuai dengan Master Production

sub kriteria (a) price of material, dan (b)

Schedule.

financing terms,

(2) Quality, terdiri dari sub

kriteria (a) overall supplier reputation, (b)


Untuk dapat mewujudkan tujuan tersebut, perlu

product reliability, dan (c) technical specification,

komitmen para supplier, karena pada prinsipnya

(3) Service, terdiri dari sub kriteria (a) reliability

pengadaan

para

service, (b) ordering convenience, dan (c)

tersebut

flexibility, dan (4) Delivery, terdiri dari sub kriteria

diperlukan penilaian kinerjanya agar pabrik

(a) reliability of delivery, dan (b) total transit

selalu mendapatkan pelayanan yang terbaik.

time. Sedangkan pihak perusahaan selama ini

supplier

material

tersebut,

bersumber

untuk

dari

maksud

dipasok oleh 3 supplier, yaitu suppleir A, B dan

perusahaan secara baik. Langkah pertama

C,

dalam

Persoalannya

adalah

bagaimana

menyelesaikan

persoalan

tersebut

menentukan supplier prioritas agar perusahaan

diformulasikan pada struktur hirarki seperti pada

memperoleh supplier yang mampu melayani

Gambar 1.

Gambar 1
Struktur Hirarki Penentuan Supplier Prioritas

Berdasarkan struktur hirarki pada Gambar 1,


persoalan
menentukan

pengambilan
prioritas

keputusan

supplier

terbaik,

untuk
dan

dalam persoalan ini terdiri dari 4 level, yang


dibentuk melalui 15 buah matriks, dengan

Semua matriks perbandingan berpasangan dari


struktur

hirarki

tersebut

diproses

melalui

tahapan berikut (1) membuat matriks data


mentah, (2) matriks normalisasi, (3) menghitung

rincian sebagai berikut ; (a) level 2 terhadap

maks , (4) menghitung Indeks konsistensi (CI)

level 1 sebuah matriks berorde 4x4, (b) level 3

dan (5) menghitung rasio konsistensi (CR).

terhadap level 2, terdiri dari 2 buah matriks orde


2x2, 2 buah matriks orde 3x3, sedangkan (c)
level 4 terhadap level 3, terdiri 10 buah matriks
berorde 3x3.

5.2.2 Matriks Data Mentah


Matriks data mentah diperoleh setelah mengisi
matriks perbandingan berpasangan (pairwise

comparison),
responden,

yang

diisi

oleh

selanjutnya

beberapa

diperoleh

nilai

geomentric mean, dan nilai inilah yang masuk


dalam matriks data mentah, seperti pada Tabel
7.
Dari 15 buah matriks dalam persoalan ini,
diambil sebuah sample matriks perbandingan
berpasangan untuk alternatif supplier A, B dan C
terhadap subkriteria price of material, seperti

5.2.4 Menentukan Nilai maks, Consistency


Index, Consistency Ratio, Consistency
Hierarchy

Ketiga

indikator

tersebut

berguna

untuk

menentukan konsistensi dari preferensi para


responden, yang telah direpresentasikan dalam
15 buah matriks perbandingan berpasangan,
dan proses perhitungan maks dari matriks

pada Tabel 7.

pada level-4 (alternatif supplier A,B,C terhadap


Tabel 7

subkriteria Price Of Material ) adalah dengan

Matriks Data Mentah


Price of
Material
A
B
C
Total

cara mengalikan elemen-elemen pada vektor

1
0,5
2,27
3,77

2
1
2,86
5,86

0,44
0,35
1
1,79

bobot prioritas dengan setiap sel pada matriks

5.2.3 Matriks Normalisasi

data mentah (awal), sesuai dengan persamaan


(16) , sehingga diperoleh matriks seperti pada
Table 9.
Tabel 9
Proses Perhitungan maks

Setiap sel pada matriks data mentah dibagi


dengan total pada setiap kolomnya, maka

0,284

0,167

0,550

0,284

0,328

0,242

0,854

0,142

0,167

0,193

0,452

0,645

0,478

0,550

1,673

diperoleh matrik data normal, karena setiap sel


mendapat

perlakuan

atau

dibagi

dengan

bilangan yang sama, dari matriks data normal


tersebut dapat diperoleh bobot prioritas pada
matriks tersebut, seperti terlihat pada Tabel 8.
Tabel 8
Tabel Matriks Normalisasi
Price of
Material

0,265

0,341

0,246

0,133

0,171

0,602

0,488

Total

Bobot
Prioritas

0,854

0,852

0,284

0,452

0,196

0,500

0,167

0,559

1,649

0,550

1,643

0,284
:

0,167
0,550

3, 007
=

3, 005
3,042

Besarnya maks =

B, dan C, maka A merupakan supplier yang

3,018

memlilki prioritas utama untuk dijadikan


Sedangkan besarnya nilai Consistency Index

rekanan perusahaan.

(CI) = 0,009, dan nilai Consistency Ratio (CR) =


0,016.

IV. DAFTAR RUJUKAN

Sehubungan dengan nilai CI < 10%, maka


matriks tersebut dinyatakan

konsisten

dan

[1]

Management, Second Edition, Mcmillan

keputusan prioritas pada bobot prioritas dapat

Publishing Co. Inc. New York

diberlakukan, dengan menggunakan persamaan


(2)

maka

dapat

Consistency

diperoleh

Ratio

besarnya

Hierarchy(CRH)=

nilai

[2]

Ballou,

Ronald.H

1999

Logistics

Management, Fourth Edition, McGraw-

0,003,

Hill, New Jersey

karena CRH < 10% maka hirarki keseluruhan


dapat dinyatakan konsisten.

Bowersox, Donald J 1978: Logistical

[3]

Johnson, James. C, Donald F. Wood 1990


: Contemporary Logistics, Fifth Edition,

III. KESIMPULAN
a.

Mcmillan Publishing Company New York

Berdasarkan masalah pokok yang telah


diformulasikan,
analisis
Planning,

selanjutnya

dengan

Material

menggunakan

dilakukan

metode

lotting

Chopra, Sunil 2002 : Supply Chain


Logistics Management. Third Edition,

Requirement

McGraw-Hill, New Jersey


[5]

Tersine, Richard.J 1994: Inventory and

Algoritma Wagner-Within maka diperoleh

Material Management, 3rd Edition, Elsevier

jumlah pemesanan material yang optimum

Publishing, USA.

serta saat pemesanan yang tepat.


b.

[4]

[6]

Setelah mengetahui saat dan jumlah


pemesanan

yang

optimum,

selanjutnya

menentukan supplier mana yang memiliki


prioritas untuk dipilih agar mampu memasok
material yang sesuai dengan kriteria yang
ditetapkan, maka dengan menggunakan
metode

Analitical

Hierarchy

Process

diperoleh supplier yang dipastikan memiliki


kemampuan lebih, dalam melayani pesanan
perusahaan. Dari ketiga alternatif supplier A,

Rangkuti Freddy, 1998, : Manajemen


Persediaan Aplikasi di Bidang Bisnis,Edisi
ketiga, PT Raja Grafindo, Jakarta.

Edition RWS Publications 4922 Ellsworth


Avenue Pittsburg

[7]

Yamit,

Zulian

2003

Manajemen

Persediaan, Penerbit Ekonesia Fakultas


Ekonomi

Universitas

Islam

Indonesia,

Yogyakarta
[8]

Saaty, Thomas, L 1994 : Fundamental of


Decision Making And Priority Theory, First