Anda di halaman 1dari 7

Konsep Dasar

Pemenuhan
Kebutuhan Cairan
dan Elektrolit
OPINI | 26 October 2014 | 14:29 Dibaca: 391
Komentar: 2
0
Keseimbangan caira dan elektrolot berarti adanya distribusi yang normal dari air tubuh total
dan elektrolit kedalam seluruh bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit saling
bergantung satu dengan yang lainnya, jika salah satu terganggu maka akan berpengaruh
padaa yang lainnya.
Cairan Cairan elektrolit tubuh dibagi dalam dua kelompok:

1. intraseluler (CIS)
Adalah cairan yang berada didalam sel diseluruh tubuh.
2. Cairan ekstraseluler (CES)
Adalah cairan yang berada diluar sel.
Jenis dan jumlah cairan tubuh:

v Cairan tubuh: 60%


1. Cairan intraseluler: 40%
2. Cairan ekstraseluler: 20%
a. Cairan intertisial: 15%
b. Plasma darah: 5%
Fungsi cairan tubuh:

1. Sarana untuk mengangkut zat-zat makanan ke sel-sel

2. Mengeluarkan buangan-buangan sel


3. Membentuk dalam metabolism sel
4. Sebagai pelarut untuk elektrolit dan non elektrolit
5. Membantu memelihara suhu tubuh
6. Membantu pencernaan
7. Mempermudah eliminasi
8. Mengangkut zat-zat seperti (hormone, enzim, SDP, SDM)
Komposisi cairan tubuh:

1. Air
Adalah senyawa utma dari tubuh manusia. Rata-rata pria dewasa hampir
60% dari berat badannya adalah air dan rata-rata wanita mengandung
55% air dari berat badannya.
2. Solute (terlalut)
Cairan tubuh mengandung dua jenis substrat terlalut (zat terlalut) elektrolit
dan non elektrolit.
a. Elektrolit
Substansi yang berdiasosiasi (terpisah) didalam larutan dan akan
menghantarkan arus listrik. Elektrolot berdisosiasi menjadi ion positif dan
negatif
Kation: ion-ion yang membentuk muatan positif dalam larutan. Kation
ekstaseluler utama adalah natrium (Na), sedangkan kation intraseluler
utama adalah kalium (K)
Anion: ion-ion yang membentuk muatan negatif dalam larutan. Anion
ekstaseluler utama adalah klorida (Cl), sedangkan anion intraseluler utama
adalah ion fosfat (PO43)
b. Non elektrolit
Substansi seperti glukosa dan urea yang tidak berdisosiasi dalam larutan.
Larutan non elektrolit lainnya yang secara klinis penting mencakup
kreatinin dan bilirubun.

Factor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan cairan dan elektrolit

1. Usia
2. Jenis kelemin
3. Sel-sel lemak
4. Stress
5. Sakit
6. Temperature lingkungan
7. Diet
Jenis-jenis cairan infuse

1. Cairan hipotonik
Adalah osmolaritasnya lebih redang dibandungkan serum (konsentrasi ion
Na+ lebih randah dibandingkan serum. Cairan ini digunakan apda keadaan
sel mengalami dehidrasi misalnya pada pasien cuci darah (dialisis) dalam
terapi diuretik, juga pada pasien hiperglkemia (pada gula dara tinggi)
dengan ketoaksidosis diabetic.
2. Isotonic
Adalah osmoaritas (tingkat kepekatan) cairannya mendekati serum (bagian
cair dari komponen darah) sehingga terus berada dipembuluh darah.
Bermanfaat bagi pasien yang mengalami hipervolemi (kekurangan cairan
tubuh sehingga tekanan darah terus terus menurun). Memiliki resiko
overload contohnya RL dan NaCL 0.9%.
3. Cairan hipertonik
Adalah osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum sehingga menarik
cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel kedalam pembuluh darah. Mampu
menstabilkan tekanan dararh menstabilkan, meningkatkan produksi urin,
dan menguru edema (bengkaak).
Tindakan untuk mengatasi masalah/gangguan kebutuhan cairan dan elektrolit.

Pemberian cairan melalui per-oral atau intravena (infus)

Tindakan keperawatan ini dilakukan pada klien yang memerlukan masukan


cairan melalui intravena (infus). Pemberian infus dapat diberikan pada
pasien yang mengalami pengeluaran cairan atau nutrisi yang berat.
Tindakan ini memerlukan kesterilan mengingat langsung berhubungan
dengan pembuluh darah.
Pemberian melalui infus dengan memasukan kedalam vena (pembuluh
darah pasien) diantara vena lengan (vena cefalisa basilica dan mediana
cubitti) atau vena yang ada dikepala seperti vena temporalis frontalis
(khususnya untuk anak-anak). selain pemberian infus pada pasien yang
mengalami pengeluaran cairan juga dapat dilakukan pada pasien schock,
intoksikasi berat, pra dan pasca bedah, sebelum tranfusi darah atau pasien
yang membutuhkan pengobatan tertentu.
Langkah atau Prosedur
a. Alat
Baki yang telah dialasi
Perlak dan pengalasnya
Pengalas (handuk kecil)
Bengkok
Tiang infus
Sarung tangan ( handskun)
Tourniquet
Kapas alcohol
Cairan infus yang diperlukan
Infus set
Abocat
Plester
Kasa steril
Gunting plester

Betadin
b. Persiapan pasien
Identifikasi pasien
Memberitahu pasien tentang tindakan yang akan dilakukan
Menyiapkan lingkungan
Mengobservasi reaksi pasien
Pasang penutup tirai
Atur posisi pasien senyaman mungkin
Pasang perlak dan pengalasnya dibawah daerah yang akan dipasang
infus
c. Langkah langkah
Mencuci tangan
Pakai sarung tangan
Gantungkan pletboth pada tiang infus
Bukan kemasan steril infus set
Atur klem rol sekitar 2-4 cm dibawah bilik drip dan tutup klem yang ada
pada saluran infus
Tusukan pipa saluran infus kedalam botol cairan dan tabung tetesan diisi
setengah dengan cara memencet tabung tetesan infuse
Buka klem dan alirkan cairan keluar sehingga tidak ada udara pada
selang infuse lalu tutup kembali (klem)
Cari dan pilih vena yang akan dipasang infuse
Letakan tourniquet 10-12 cm diatas tempat yang akan ditusuk
Disinfeksi daerah pemasangan dengan kapas alcohol 70% secara
sirkular

Tusukan jarum abocath ke vena dengan lubang jarum menghadap


keatas (bila berhasil darah akan keluar dan dapat dilihat dipipa abocath
Dorong pelanpelan abocath masuk kedalam vena, tarik pelan-pelan
jarum abocath sehingga semua pelastik abocath masuk semua kedalam
vena
Sambungkan segera abocath dengan selang infus
Lepaskan tourniquet dan longgarkan tourniquet untuk melihat kelancaran
tetesan sudah lancer, pangkal jarum direkatkan pada kulit dengan
plester(piksasi)
Atur tetesan sesuai dengan kebutuhan
Tutup tempat tusukan dengan kasa steril dan beri plester
Bereskan alat dan lepas sarung tangan
Cuci tangan
Dokumentasi tindakan yang sudah dilakukan
Rumus menghitung tetes infus

1. Macro
Keterangan : 1cc = 20 tetes/menit
Tetes infuse macro
Tetes/menit = jumlah cairan x 20/lama infus x 60
Lama infus macro
Lama infus = ( jumlah cairan x 20) / (tetes/menit x 60)
2. Micro
Keterangan : 1cc = 60 tetes/menit
Tetes infus micro
Tetes/menit = (Jumlah cairan x 60) / (lama infus x 60)
Lama infus micro

Lama infus = ( jumlah cairan x 60) / ( tetes/menit x 60)