Anda di halaman 1dari 20

Presentasi Kasus

Tinitus
Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik di Bagian
Ilmu Kesehatan THT RSUD Panembahan Senopati Bantul

Disusun oleh :

Ahmad Arif Wibowo
20090310222

Dokter Penguji :
dr.I Wayan Marthana,M.Kes, Sp.THT

SMF ILMU KESEHATAN THT
RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL
2014

HALAMAN PENGESAHAN “Tinitus” Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik Di Bagian Ilmu Kesehatan THT RSUD Panembahan Senopati Bantul Disusun Oleh: Ahmad Arif Wibowo 20090310222 Telah disetujui dan dipresentasikan pada tanggal September 2014 Oleh : Dokter Penguji .

IWayanMarthana. M. Sp.THT RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL SMF TELINGA HIDUNG TENGGOROK .Kes.dr.

telinga kiri terasa sakit dan keluar cairan bening dan tidak berbau. Sewon. Tiga hari setelah peristiwa tersebut. Pendengaran telinga kiri dirasakan menurun. Selama sakitnya ini. OS juga mengeluh telinga terasa penuh dan terasa bergemuruh. Bantul Pendidikan : Tamat SMP Pekerjaan : Pensiunan Agama : Islam Bangsa : Indonesia Status Pernikahan : Menikah Tanggal Masuk RS : 23 September 2014 No CM : 54. Sebelumnya sekitar 2 bulan yang lalu. os belum pernah memeriksakan sakitnya ini ke dokter dan belum pernah mengkonsumsi obat apapun untuk sakitnya ini. a.74 B. ANAMNESIS Anamnesis dilakukan tanggal 23 Maret 2014 secara autoanamnesis. batuk dan pilek.01. IDENTITAS PASIEN Nama : Ny. Saat ini.BAB I A. Keluhan Utama Keluar cairan bening dan tidak berbau dari telinga kiri b. dan sering dikorek-korek dengan cotton bud. pusing. rasa sakit di telinga sudah sedikit berkurang.namun telinga kiri masih sering mengeluarkan cairan bening. kemasukkan air pada telinga kirinya. . Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang ke poliklinik THT RS Panembahan Senopati Bantul dengan keluhan pendengaran telinga kiri berkurang. tidak berbau dari telinga kiri sejak 3 minggu ini. Tidak ada dirasakan demam. Wagirah Jenis Kelamin : Perempuan Tanggal Lahir : 12 Oktober 1948 Umur : 65 Tahun Alamat : Gesikan RT 05 Panggung Harjo.

 Os menyangkal mempunyai penyakit diabetes melitus. alergi. e. KEADAAN UMUM Keadaan Umum : Baik Kesadaran : Compos mentis Tensi : 130/80 mmHg Nadi : 72x/menit Suhu : Afebris Pernapasan : 20x/menit Berat badan : 50 kg Tinggi Badan: 165 cm . d. PEMERIKSAAN FISIK I. pilek (-)  Sistem kardiovaskuler : berdebar-debar (-)  Sistem gastrointestinal : tidak ada keluhan  Sistem genitalia : tidak ada keluhan  Sistem muskuloskeletal : tidak ada keluhan  Sistem Integumentum : Akral teraba hangat C. pusing (-)  Sistem respiratorius : sesak nafas (-). mual (-). Riwayat Penyakit Keluarga Ayah. hipertensi. batuk (-). Anamnesis Sistem  Sistem serebrospinal : demam (-). ibu dan saudara tidak pernah mengalami sakit serupa. asma.c. Riwayat Penyakit Dahulu  OS pertama kali merasakan gejala seperti ini.

II. Tumor Discharge Nyeri Tekan Tragus Regio Mastoid Deformitas (-) Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada kelainan. refleks cahaya hiperemis (+). HIDUNG DAN SINUS PARANASAL . edema (-). MT perforasi central. edema (-). nyeri Deformitas (-) Tidak ada Bening Tidak ada Tidak ada kelaianan. hiperemis (-). (+) arah jam 5 refleks cahaya (-) Valsava Test Tidak dilakukan Tidak dilakukan Toyinbee Test Tidak dilakukan Tidak dilakukan TES PENALA TEST KANAN KIRI Rinne + Weber Lateralisasi ke kiri Swabach Pasien = Pemeriksa Memanjang pada pasien Penala yang dipakai 512 Hz 512 Hz Kesan : Kesan adanya tuli konduktif pada telinga kiri Saran: Konfirmasi dengan hasil tes audiometri III. Liang Telinga Membran Timpani tekan (-) nyeri tekan (-) CAE tidak ada serumen CAE tidak ada serumen MT intak. TELINGA Perforasi (+) ± 20 % dari luas membran timpani DBN Kanan Kiri Bentuk Daun Telinga Normal Normal Radang.

edema -/-.  Uvula : letak di tengah. hiperemis (-). PEMERIKSAAN TRANSLUMINASI Sinus frontalis Sinus maksilaris VI. hiperemis -/-  Konka inferior : dalam batas normal  Meatus nasi inferior : dalam batas normal  Konka medius : dalam batas normal  Meatus nasi medius : Sekret -/-  Septum nasi : Deviasi -/-  Aliran udara : Hambatan -/-  Daerah sinus frontalis : Tidak ada kelainan. tidak ada deformitas  Tanda peradangan : Hiperemis (-). hiperemis (-)  Dinding pharynx : merah muda. edema (-) . mukosa mulut dalam batas normal. nyeri tekan (-)  Daerah sinus maksilaris : Tidak ada kelainan. Nyeri (-). dalam batas normal  Bentuk : Normal. hiperemis (-). granular (-)  Arkus pharynx : simetris. Kanan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Kiri Tidak dilakukan Tidak dilakukan TENGGOROK PHARYNX  Cavum Oris : gigi lengkap. RHINOPHARYNX (RHINOSKOPI POSTERIOR)  Tidak dilakukan pemeriksaan V. nyeri tekan (-) IV. Panas (-). Bengkak (-)  Vestibulum : Hiperemis -/-. caries (-) radang ginggiva (-).Kesan: hidung tak ada keluhan. sekret -/-  Cavum nasi : Lapang +/+.

 Tonsil : - T1-T1 - hiperemis -/- - permukaan mukosa tidak rata/ granular -/- - Kripta melebar -/- - Detritus -/- LARING (Laringoskopi)  Tidak dilakukan VII. DIAGNOSIS Tinitus dengan CP auricula sinistra F. Medikamentosa a. Menjaga untuk tidak kemasukan air 2. Pemberian antibiotik topikal :  Kloramfenikol tetes telinga 3x 2 tetes dalam sehari b. LEHER  Kelenjar limfe submandibula : tidak teraba membesar  Kelenjar limfe servikal : tidak teraba membesar D. . PEMERIKSAAN PENUNJANG Saran Pemeriksaan:  Audiometri E. TERAPI 1. Dilarang mengorek telinga b. Edukasi : a. Kortikosteroid :  Metilprednisolon  3 x 4mg .

Que ad vitam : Dubia at bonam E. Que ad fungsionam : Dubia ad malam . Que ad sanam : Dubia ad bonam F. PROGNOSIS D.G.

sedangkan bagian bawah pars tensa (membrane propria). Bagian atas disebut pars flaksida (membrane shrapnel). Pars flaksida hanya berlapis dua. Telinga terngah terdiri dari suatu ruang yang terletak antara membrane timpani dan kapsul telinga dalam. tulang-tulang dan otot yang terdapat didalamnya beserta penunjangnya. kanalis facialis. . tuba eustachius dan system sel-sel udara mastoid.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pars tensa mempunyai satu lapis lagi di tengah yaitu lapisan yang terdiri dari serat kolagen dan sedikit serat elastin yang berjalan secara radier dibagian luar dan sirkuler pada bagian dalam. Bagian ini dipisahkan dari dunia luar oleh suatu membrane timpani dengan diameter kurang lebig setengah inci. tingkap bundar (round window) dan promontorium. Anatomi Telinga Telinga tengah berbentuk kubus dengan batas-batasnya adalah sebagai berikut:  Batas luar : membrane timpani  Batas depan : tuba eustachius  Batas bawah : vena jugularis (bulbus jugularis)  Batas belakang : aditus ad antrum. Bayangan penonjolan bagian bawah maleus pada membrane timpani disebut sebagai umbo. Membrane timpani berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari arah liang telinga dan terlihat oblik terhadap sumbu liang telinnga. yaitu bagian luar adalah lanjutan epitel kulit liang telinga dan bagian dalam dilapisi olehsel kubus bersilia. seperti sel epitel saluran napas. Dari umbo bermula suatu reflek cahaya (cone of light) kearah bawah yaitu pukul 7 untuk membrane timpani kiri dan pukul 5 untuk membrane timpani kanan. kanalis facialis pars vertikalis  Batas atas : tegmen timpani (meningen/otak)  Batas dalam : berturut-turut dari atas ke bawah kanalis semisirkularis horizontal. tingkap lonjong (oval window). Definisi B.

maleus. bening atau berupa nanah. dan inkus melakt pada stapes. bawah-depan serta bawahbelakang. sehingga didapatkan bagian atas-depan. C. disebut sebagai otitis media supuratif subakut. Gambar 1. Prosesus longus melekat pada membrane timpani. dengan menarik garis searah dengan prosesus longus maleus dan garis yang tegak lurus pada garis itu di umbo. Anatomi Telinga Yang disebut dengan otitis media supuratif kronik adalah infeksi kronis ditelinga tengah dengan perfirasi membran timpani dan sekret yang keluar dari telinga tengah terus menerus atau hilang timbul. Didalam telinga tengah terdapat tulang-tulang pendengaran yang tersusun dari luar kedalam yaitu. Bila proses infeksi kurang dari 2 bulan. untuk menyatakan letak perforasi membrane timpani. inkus dan stapes. Etiologi . Tulang pendengaran didalam telinga tengah saling berhubungan. Otitis media akut dengan perforasi membran timpani dapat menjadi otitis media supuratif kronis bila prosesnya sudah lebih dari 2 bulan. Tuba eustachius termasuk dalam telinga tengah yang menghubungkan daerah nasofaring dengan telinga tengah. maleus melekat pada inkus. Sekret yang keluar mungkin encer atau kental. Stapes terletak pada tingkap lonjong yang berhubungan dengan koklea.Membrane timpani dibagi dalam 4 kuadran. Hibungan antara tulang-tulang pendengaran merupakan persendian. atas-belakang.

. tetapi tidak diketahui faktor apa yang menyebabkan satu telinga dan bukan yang lainnya berkembang menjadi keadaan kronis. Lingkungan Hubungan penderita OMSK dan faktor sosial ekonomi belum jelas. 5. Infeksi Bakteri yang diisolasi dari mukopus atau mukosa telinga tengah hampir tidak bervariasi pada otitis media kronik yang aktif menunjukan bahwa metode kultur yang digunakan adalah tepat. tetapi mempunyai hubungan erat antara penderita dengan OMSK dan sosioekonomi. dan beberapa organisme lainnya. dimana kelompok sosioekonomi rendah memiliki insiden yang lebih tinggi. flora tipe-usus. diet. Genetik Faktor genetik masih diperdebatkan sampai saat ini. Secara umum dikatakan otitis media kronis merupakan kelanjutan dari otitis media akut dan / atau otitis media dengan efusi.Penyebab OMSK antara lain: 1. terutama apakah insiden OMSK berhubungan dengan luasnya sel mastoid yang dikaitkan sebagai faktor genetik. Otitis media sebelumnya. 2. 3. tapi belum diketahui apakah hal ini primer atau sekunder. Infeksi saluran nafas atas Banyak penderita mengeluh sekret telinga sesudah terjadi infeksi saluran nafas atas.Sistem sel-sel udara mastoid lebih kecil pada penderita otitis media. 4. Tetapi sudah hampir dipastikan hal ini berhubungan dengan kesehatan secara umum. Infeksi virus dapat mempengaruhi mukosa telinga tengah menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh terhadap organisme yang secara normal berada dalam telinga tengah. tempat tinggal yang padat. sehingga memudahkan pertumbuhan bakteri. Organisme yang terutama dijumpai adalah Gram negatif.

Yang menarik adalah dijumpainya sebagian penderita yang alergi terhadap antibiotik tetes telinga atau bakteria atau toksin-toksinnya. D. Klasifikasi . 7. 8.  Pada pinggir perforasi dari epitel skuamous dapat mengalami pertumbuhan yang cepat diatas sisi medial dari membran timpani. Pada otitis kronis aktif. Autoimun Penderita dengan penyakit autoimun akan memiliki insiden lebih besar terhadap otitis media kronis.  Beberapa perforasi yang besar mengalami penutupan spontan melalui mekanisme migrasi epitel. dimana tuba eustachius sering tersumbat oleh edema tetapi apakah hal ini merupakan fenomen primer atau sekunder masih belum diketahui. Gangguan fungsi tuba eustachius. namun hal ini belum terbukti kemungkinannya. Pada telinga yang inaktif berbagai metode telah digunakan untuk mengevaluasi fungsi tuba eustachius dan umumnya menyatakan bahwa tuba tidak mungkin mengembalikan tekanan negatif menjadi normal. Proses ini juga mencegah penutupan spontan dari perforasi.  Berlanjutnya obstruksi tuba eustachius yang mengurangi penutupan spontan pada perforasi. Alergi Penderita alergi mempunyai insiden otitis media kronis yang lebih tinggi dibanding yang bukan alergi.6. Patofisiologi E. Beberapa faktor-faktor yang menyebabkan perforasi membran timpani menetap pada OMSK :  Infeksi yang menetap pada telinga tengah mastoid yang mengakibatkan produksi sekret telinga purulen berlanjut.

Gangguan pendengaran Ini tergantung dari derajat kerusakan tulang-tulang pendengaran. Kerusakan dan fiksasi dari rantai tulang pendengaran menghasilkan penurunan pendengaran lebih dari 30 db. Beratnya ketulian tergantung dari besar dan letak perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas sistem pengantaran suara ke telinga tengah. Pada OMSK tipe jinak. berwarna kuning abu-abu kotor memberi kesan kolesteatoma dan produk degenerasinya. Pada OMSK tipe maligna biasanya didapat tuli konduktif berat karena putusnya rantai tulang pendengaran. tetapi sering kali juga kolesteatom bertindak sebagai penghantar suara sehingga ambang pendengaran yang didapat harus diinterpretasikan secara hati-hati. dapat menghambat bunyi dengan efektifn ke fenestra ovalis. Pada OMSK tipe ganas unsur mukoid dan sekret telinga tengah berkurang atau hilang karena rusaknya lapisan mukosa secara luas. Meningkatnya jumlah sekret dapat disebabkan infeksi saluran nafas atas atau kontaminasi dari liang telinga luar setelah mandi atau berenang. cairan yang keluar mukopus yang tidak berbau busuk yang sering kali sebagai reaksi iritasi mukosa telinga tengah oleh perforasi membran timpani dan infeksi. Gejala Klinis 1. Pada OMSK stadium inaktif tidak dijumpai adannya sekret telinga. Penurunan fungsi kohlea biasanya terjadi perlahan-lahan dengan berulangnya infeksi karena penetrasi toksin melalui jendela bulat (foramen rotundum) atau fistel . Sekret yang sangat bau. Gangguan pendengaran mungkin ringan sekalipun proses patologi sangat hebat. putih) atau mukoid (seperti air dan encer) tergantung stadium peradangan. Suatu sekret yang encer berair tanpa nyeri mengarah kemungkinan tuberkulosis. Biasanya dijumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran. mengkilap. karena daerah yang sakit ataupun kolesteatom. Telinga berair (otorrhoe) Sekret bersifat purulen (kental. Keluarnya sekret biasanya hilang timbul. tuli konduktif kurang dari 20db ini ditandai bahwa rantai tulang pendengaran masih baik. Sekret yang bercampur darah berhubungan dengan adanya jaringan granulasi dan polip telinga dan merupakan tanda adanya kolesteatom yang mendasarinya. Bila tidak dijumpai kolesteatom.F. 2. Sekret yang mukus dihasilkan oleh aktivitas kelenjar sekretorik telinga tengah dan mastoid. berwarna putih. Dapat terlihat keping-keping kecil.

atau ancaman pembentukan abses otak. Fistula merupakan temuan yang serius. Nyeri telinga mungkin ada tetapi mungkin oleh adanya otitis eksterna sekunder. Penegakan Diagnosis 1. hantaran tulang dapat menggambarkan sisa fungsi kohlea. karena infeksi kemudian dapat berlanjut dari telinga tengah dan mastoid ke telinga dalam sehingga timbul labirinitis dan dari sana mungkin berlanjut menjadi meningitis. Uji fistula perlu dilakukan pada kasus OMSK dengan riwayat vertigo. sedangkan pada tipe atikoantral. dan bila ada merupakan suatu tanda yang serius. tidak berbau busuk dan intermiten. Bila terjadinya labirinitis supuratif akan terjadi tuli saraf berat. 3. subperiosteal abses atau trombosis sinus lateralis. Uji ini memerlukan pemberian tekanan positif dan negatif pada membran timpani. Penyebaran infeksi ke dalam labirin juga akan meyebabkan keluhan vertigo. Vertigo yang timbul biasanya akibat perubahan tekanan udara yang mendadak atau pada panderita yang sensitif keluhan vertigo dapat terjadi hanya karena perforasi besar membran timpani yang akan menyebabkan labirin lebih mudah terangsang oleh perbedaan suhu. 4. adanya sekret di liang telinga yang pada tipe tubotimpanal sekretnya lebih banyak dan seperti berbenang (mukous). Otalgia ( nyeri telinga) Nyeri tidak lazim dikeluhkan penderita OMSK. Vertigo juga bisa terjadi akibat komplikasi serebelum. terpaparnya durameter atau dinding sinus lateralis. Keluhan vertigo seringkali merupakan tanda telah terjadinya fistel labirin akibat erosi dinding labirin oleh kolesteatom. G.labirin tanpa terjadinya labirinitis supuratif. Vertigo Vertigo pada penderita OMSK merupakan gejala yang serius lainnya. Nyeri dapat berarti adanya ancaman komplikasi akibat hambatan pengaliran sekret. sekretnya lebih sedikit. Anamnesis (history-taking) Penyakit telinga kronis ini biasanya terjadi perlahan-lahan dan penderita seringkali datang dengan gejala-gejala penyakit yang sudah lengkap. Nyeri merupakan tanda berkembang komplikasi OMSK seperti Petrositis. Pada OMSK keluhan nyeri dapat karena terbendungnya drainase pus. dengan demikian dapat diteruskan melalui rongga telinga tengah. . Gejala yang paling sering dijumpai adalah telinga berair.

Pemeriksaan audiologi Evaluasi audiometri. vertigo pada penderita OMSK merupakan gejala yang serius lainnya. Gejala klinis Ada beberapa gejala klinis yang menyebabkan pasien berobat ke pelayanan kesehatan. antara lain:  Telinga berair (otorrhoe). putih) atau mukoid (seperti air dan encer) tergantung stadium peradangan. Pemeriksaan otoskopi Pemeriksaan otoskopi akan menunjukan adanya dan letak perforasi. Biasanya dijumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran. 4. Audiometri tutur berguna untuk menilai ‘speech reception threshold’ pada kasus dengan tujuan untuk memperbaiki pendengaran. Pemeriksaan penala adalah pemeriksaan sederhana untuk mengetahui adanya gangguan pendengaran.berbau busuk. Ada kalanya penderita datang dengan keluhan kurang pendengaran atau telinga keluar darah.  Otalgia (nyeri telinga). .  Vertigo. audiometri tutur (speech audiometry) dan pemeriksaan BERA (brainstem evoked responce audiometry) bagi pasien anak yang tidak kooperatif dengan pemeriksaan audiometri nada murni. sekret bersifat purulen (kental. 2. Untuk mengetahui jenis dan derajat gangguan pendengaran dapat dilakukan pemeriksaan audiometri nada murni. Dari perforasi dapat dinilai kondisi mukosa telinga tengah. dan bila ada merupakan suatu tanda yang serius. penting untuk mengevaluasi tingkat penurunan pendengaran dan untuk menentukan gap udara dan tulang. maka sekret yang keluar dapat bercampur darah. kadangkala disertai pembentukan jaringan granulasi atau polip. ini tergantung dari derajat kerusakan tulangtulang pendengaran. nyeri tidak lazim dikeluhkan penderita OMSK.  Gangguan pendengaran. pembuatan audiogram nada murni untuk menilai hantaran tulang dan udara. 3.

Keadaan ini antara lain disebabkan oleh satu atau beberapa keadaan yaitu: adanya perforasi membran timpani yang permanen. mencegah terjadinya komplikasi dan kerusakan pendengaran yang lebih berat. Bila sekret telah kering. memperbaiki membran timpani yang perforasi. maka diberikan obat pencuci telinga. sehingga telinga tengah berhubungan dengan dunia luar. gizi dan higiene yang kurang. 6. Bila sekret yang keluar terus-menerus. posisi Schüller berguna untuk menilai kasus kolesteatoma. Identifikasi bakteriologik dalam tubuh manusia (dalam hal ini sekret telinga penderita OMSKBA) masih mengandalkan teknik kultur murni. serta memperbaiki pendengaran. Penatalaksanaan Terapi OMSK tidak jarang memerlukan waktu lama. serta harus berulangulang. terdapat sumber infeksi di faring. Prinsip terapi OMSK tipe aman adalah konserfatif atau dengan medikamentosa. Pada infeksi yang dicurigai penyebebnya telah resisten terhadap ampisilin dapat diberikan ampisilin asam klavulanat. Sekret yang keluar tidak cepat kering atau selalu kambuh lagi. tetapi perforasi masih ada setelah diobservasi selama 2 bulan maka idealnya dilakukan meringoplasti atau timpanoplasti.5. berupa larutan H2O2 3% selama 3-5 hari. sudah terbentuk jaringan patologik yang irreversibel dalam rongga mastoid dan . 7. H. Pemeriksaan radiologi Radiologi konvensional. nasofaring. sedangkan pemeriksaan CT scan dapat lebih efektif menunjukkan anatomi tulang temporal dan kolesteatoma. . Pemeriksaan penunjang lain berupa uji resistensi kuman dari sekret telinga. Pemeriksaan bakeriologik dengan media kultur pada OMSK Identifikasi kuman didasarkan pada morfologi koloni kuman yang tumbuh pada media kultur (agar darah) dan uji biokimia. Operasi ini bertujuan untuk menghentikan infeksi secara permanen. hidung dan sinus paranasal. foto polos radiologi. Secara oral diberikan antibiotika dari golongan ampisilin atau eritromisin (bila pasien alergi terhadap ampisilin) sebelum hasil tes resistensi diterima.

tromboflebitis sinus lateral. Terapi konservatif dengan medika mentosa hanyalah merupakan terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan. maka terapi yang tepat adalah dengan melakukan mastoidektomi dengan atau tanpa timpanoplasti. Komplikasi 1. abses otak. Komplikasi ekstratemporal (komplikasi intrakranial) terdiri dari abses ekstradural. Bila terdapat abses periosteal retroaurikuler. tidak semua OMSK berhasil diatasi dengan terapi antimikroba. 2. maka sumber infeksi itu harus diobati terlebih dahulu. Fasial dan labirinitis. Komplikasi intratemporal (komplikasi ekstrakranial) terdiri dari parese n. apabila didapati telinga terasa sakit disertai demam. yaitu mastoidektomi. atau terjadinya infeksi berulang. Meskipun demikian. harus dilakukan isolasi kuman penyebab dan uji kepekaan terhadap antimikroba. . mungkin juga perlu dilakukan pembedahan. hidrosefalus otitis. I. Prinsip terapi OMSK tipe bahaya adalah pembedahan. Jadi. Untuk mencapai hasil terapi antimikroba yang optimal pada OMSK. abses subdural. walaupun terapi yang diberikan telah sesuai dengan uji kepekaan. sakit kepala hebat dan kejang menandakan telah terjadi komplikasi ke intrakranial. maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum mastoidektomi.Bila terdapat sumber infeksi yang menyebabkan sekret tetap ada. misalnya adenoidektomi atau tonsilektomi. bila terdapat OMSK tipe bahaya. meningitis. Pada radang telinga tengah menahun ini walaupun telinga berair sudah bertahun-tahun lamanya telinga tidak merasa sakit.

Hasan Sadikin Bandung . E. Binarupa Aksara. Edisi VI. Ed. Jakarta. Kepala dan Leher. Edisi VI. 64-77. Kelainan telinga tengah.php? . Ballenger JJ.10-22 4. 392-412. et al. Fakultas Kedokteran UNPAD/RSUP dr. Jakarta. Ed. E. Boesoirie. TS dan Lasminingrum. dari http://www. Soetirto. Christanto. 2007 3.2009. Pendekatan Molekuler (RISA) untuk Membedakan Spesies Bakteri Otitis Media Supuratif Kronik Benigna Aktif. et al. 2. Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorokan. Dalam Buku Penyakit Telinga.com/v1/web/index. et al.Tenggorok. Diakses to=article&id=13pada 24 Maret 2013. Balai Penerbitan FKUI. 155.13 Jilid Satu. Jakarta. Perjalanan Klinis dan Penatalaksanaan Otitis Media Supuratif. Djaafar ZA.ketulian. Bagian Ilmu Kesehatan THT-KL. I. Ed. 5. 1994: p. A. 2006: p. Balai Penerbitan FKUI. et al. Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorokan. Dalam: Soepardi. Gangguan Pendengaran (Tuli). Penyakit Telinga Kronis.DAFTAR PUSTAKA 1. 2006: p. Dalam: Soepardi. Cermin Dunia Kedokteran No. Hidung.