Anda di halaman 1dari 30

Portofolio

DHF GRADE II ANAK

Oleh
dr. Imam Syahuri Gultom

Pembimbing
dr. Islamiyah

RSUD KABUPATEN BALANGAN


KALIMANTAN SELATAN
MEI 2015

PORTOFOLIO KASUS MEDIK

Borang portofolio
Topik

: DHF GRADE II

Tanggal (kasus)

: 3 Mei 2015

Nama peserta

: dr. Imam Syahuri Gultom

Nama Pendamping

: dr. Islamiyah

Nama Wahana

: RSUD Balangan- Balangan

Objek Presentasi

: Kasus

Subjek

: Anak

Deskripsi

: Anak laki-laki, 10 bulan, demam 4 hari, terus-terusan,


terdapat bintik merah di kulit.

Tujuan

: Mendiagnosa dan tatalaksana DHF

Bahan bahasan

: Kasus

Cara membahas

: Diskusi

LAPORAN KASUS

I.

Data Pasien

Nama

: An. Frido Satrio Jagat P

Usia

: 10 bulan

Jenis kelamin

: Laki-laki

Alamat

: Pambataan Tanjung

Pekerjaan

:-

No RM

: 02 22 99

Tanggal masuk

: 3 Mei 2015

II.

Data Utama Bahan Diskusi


1.

Diagnosis/Gambaran Klinis
Anak demam sejak 4 hari sebelum masuk Rumah Sakit. Demam
terus-terusan, turun sebentar dengan penurun panas, menggigil tidak ada.
Tidak ada mimisan, tidak ada gusi berdarah, tidak ada BAB berwarna
hitam, terdapat bintik-bintik merah dikulit. Anak muntah 5 kali berisi apa
yang dimakan, tidak ada darah. Sekali muntah + 5 cc. Tidak ada batuk pilek
sebelumnya. BAK normal, BAB cair tidak ada. Anak menjadi tidak nafsu
makan, minum masih seperti biasa.

2.

Riwayat Pengobatan
Anak jarang sakit dan ini pertama kalinya dirawat di rumah sakit.
Anak sebelumnya tidak pernah mengalami keluhan yang serupa

3.

Riwayat Antenatal
Selama hamil, ibu sering memeriksakan kehamilannya ke bidan di
Puskesmas atau Posyandu. Pernah mendapat imunisasi TT 2 kali dan tablet
penambah darah. Ibu tidak pernah mengkonsumsi obat selain yang
diberikan bidan. Makan ibu lebih banyak dibandingkan sebelum hamil.

4.

Riwayat Natal
Bayi lahir dengan normal ditolong oleh bidan. Berat badan lahir
2.700 gram.

5.

Riwayat Neonatal
Bayi lahir langsung menangis, gerakan aktif, warna kulit
kemerahan.

6.

Riwayat Perkembangan dan Pertumbuhan


Sampai saat ini anak sudah bisa berjalan sesuai perkembangan anak
seusianya.

7.

Riwayat Imunisasi
BCG pernah 1 kali, DPT 3 kali, Polio 3, Hepatitis B 2 kali, campak
1 kali, anak mendapatkan imunisasi di Posyandu.

8.

Riwayat Makanan
ASI

: 0 6 bulan

PASI: 6 bulan sekarang


Jenis

: Sun pisang, Lectogen 1

Frekuensi

: 3-4 kali sehari.

9.

Riwayat Penyakit Keluarga


Penyakit menular
Tidak ada anggota keluarga yang sedang menderita keluhan yang sama.

10.

Riwayat Sosial, Ekonomi, Pekerjaan, dan Kebiasaan Lain


Anak tinggal dengan kedua orang tua. Jumlah anggota keluarga
keseluruhan 4 orang. Rumah terbuat dari beton dengan ventilasi cukup.
Cahaya matahari langsung masuk ke dalam rumah. Sumber air minum dari
PDAM. Di lingkungan sekitar rumah pasien terdapat warga yang terkena
demam berdarah

III.

Pemeriksaan Fisik
1.
2.

Keadaan Umum
Tanda Vital

4.

Kulit

: Anak tampak rewel


: Nadi
: 120 kali/menit
suhu
: 37,3 oC
Respirasi
: 30 kali/menit
berat badan : 7,8 kg
: Kulit berwarna putih, terdapat petekie (+), tidak
terdapat adanya sianosis dan hemangioma, turgor
cepat

5.

kembali,

kelembaban

cukup,

tidak

Kepala/leher
Rambut

pucat/anemis.
:
: rambut berwarna hitam, tipis, distribusi merata,

Kepala

karakteristik lurus, tidak ada alopesia


: Bentuk bulat lonjong, simetris, UUB dan UUK

Mata

belum menutup, wajah simetris.


: palpebra tidak edema, alis dan bulu mata tidak
mudah dicabut, konjungtiva tidak pucat, sklera
ikterik, pupil berdiameter 3 mm/3 mm, isokor,

Telinga
Hidung

reflek cahaya +/+.


: Bentuk simetris, tidak ada sekret dan serumen.
: Bentuk simetris, pernapasan cuping hidung tidak
ada, tidak terdapat epistaksis, kotoran hidung dan

Mulut

sekret.
: Bentuk simetris, mukosa bibir kering, gusi tidak
mudah berdarah, pembengkakan tidak ada, anemis

Lidah

tidak ada.
: Bentuk simetris, tidak anemis, tremor (-), kotor (-),

Pharing
Tonsil
Vena jugularis

warna lidah merah muda.


: Hiperemis (-), edema (-), abses (-)
: Warna merah muda, pembesaran (-)
: Pulsasi tidak tampak, tekanan tidak meningkat,
pembesaran kelenjar leher (-), kaku kuduk (-),

5.
6.

Leher
Toraks
Inspeksi
a. Pulmo
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

massa (-).
Kuduk kaku tidak ada, tidak tortikolis.
:
: Bentuk simetris, gerak napas simetris, retraksi (-).
: Bentuk simetris, inspirasi dan ekspirasi tidak
memanjang,
: Fremitus vokal simetris
: Sonor
: suara napas bronkovesikuler, suara tambahan tidak
ada.

b. Jantung
Inspeksi
Palpasi
Perkusi

: Pulsasi dan iktus tidak terlihat.


: Thrill tidak ditemukan.
: Batas kanan : ICS II - VI LPS kanan
Batas kiri

7.

Auskultasi
Abdomen
Inspeksi

: ICS II - V LMK kiri

Batas atas : ICS II LPS kanan


: S1 dan S2 tunggal, tidak ada takikardia
: Bentuk simetris, dinding perut lebih tinggi dari

dinding dada.
: Supel, nyeri tekan (-), defend muscular (-), hati

Palpasi

8.

IV.

tidak teraba, lien tidak teraba, massa (-)


: timpani (+)
: Bising usus normal

Perkusi
Auskultasi
Ekstremitas
Atas

: Akral hangat, gerak aktif, edema (-/-), parese (-/-),

Bawah

sianosis (-/-)
: Akral hangat, gerak aktif, edema (-/-), parese (-/-),

Tonus otot

sianosis (-/-)
: Normal

Laboratorium

Jenis pemeriksaan

Satuan

Nilai Normal

3 Mei 2015

Hemoglobin

gr/dl

9.5 14.0

13,2

Leukosit

ribu /u l

4.0 10.5

Eritrosit

juta /u l

3.50 5.20

5,18

Hematokrit

vol%

29 43

40

Trombosit

ribu /u l

150 450

27

V.

Diagnosa
Observasi Febris H4 ec. DHF gr. II

VI.

Rencana Tatalaksana
Rencana diagnosis :
-

Darah rutin perhari

Rencana terapi (konsul dr.hanifah, Sp.A pukul 12.10)


-

IVFD RL 5 cc/kgBB/jam sampai pukul 18.00 setelahnya konsul ulang

Injeksi Ondansentron 3 x 0,8 mg

Injeksi Paracetamol 3 x 80 mg KP demam > 38,5 C

VII. Follow up
Tanggal 4 Mei 2004
S :

Demam (-), mimisan (-) BAB hitam (-) gusi berdarah (-) bintik merah (+)

O:

Menyusu kuat (+)


HR : 120 x/menit
RR : 30 x/menit

A:
P:

T : 37 oC
Kesadaran
Kulit
Kepala

: compos mentis
: kelembaban cukup, turgor cepat kembali, peteki (+)
: UUB cekung mata tidak cekung, produksi air mata cukup,

Mulut
Thorak

mukosa bibir basah, telinga/hidung dalam batas normal


: faring hiperemi (-) tonsil hipertropi (-) hiperemi (-)
: gerak napas simetris, retraksi (-), cor: S1S2 tunggal, pulmo:

sn.vesikuler, Wh (-/-), ronkhi (-/-)


Abdomen
: datar, supel, kembung (-), nyeri tekan (-), BU (+) normal
Ekstremitas : akral hangat, dalam batas normal
DHF Gr. II H5
IVFD RL 5 cc/kgBB = 12 tpm makro di ganti menjadi 500 cc/hari
Injeksi Ondancentron 3x 0,8 mg KP
Injeksi PCT 3 x 80 mg KP
PO. Imunvit syr 2 x cth

Tanggal 5 Mei 2004


S :

Demam (-), mimisan (-) BAB hitam (-) gusi berdarah (-) bintik merah (-)

O:

Menyusu kuat (+) kaki bengkak


HR : 110 x/menit
RR : 30 x/menit

A:
P:

T : 36 oC
Kesadaran
Kulit
Kepala

: compos mentis
: kelembaban cukup, turgor cepat kembali, peteki (-)
: UUB cekung mata tidak cekung, produksi air mata cukup,

Mulut
Thorak

mukosa bibir basah, telinga/hidung dalam batas normal


: faring hiperemi (-) tonsil hipertropi (-) hiperemi (-)
: gerak napas simetris, retraksi (-), cor: S1S2 tunggal, pulmo:

sn.vesikuler, Wh (-/-), ronkhi (-/-)


Abdomen
: datar, supel, kembung (-), nyeri tekan (-), BU (+) normal
Ekstremitas : akral hangat, dalam batas normal, edema (+)
DHF Gr. II H6
IVFD 500 cc/hari aff infus
Injeksi Ondancentron 3x0,8 mg KP
Injeksi PCT 3 x 80 mg KP
PO. Imunvit syr 2 x cth
Furosemid 2 x 10 mg

Tanggal 5 Mei 2004


S :

Demam (-), mimisan (-) BAB hitam (-) gusi berdarah (-) bintik merah (-)

O:

Menyusu kuat (+), kaki bengkak (<)


HR : 110 x/menit
RR : 30 x/menit
T : 35,7 oC
Kesadaran
Kulit
Kepala

: compos mentis
: kelembaban cukup, turgor cepat kembali, peteki (-)
: UUB cekung mata tidak cekung, produksi air mata cukup,
mukosa bibir basah, telinga/hidung dalam batas normal

Mulut
Thorak

A:
P:

: faring hiperemi (-) tonsil hipertropi (-) hiperemi (-)


: gerak napas simetris, retraksi (-), cor: S1S2 tunggal, pulmo:

sn.vesikuler, Wh (-/-), ronkhi (-/-)


Abdomen
: datar, supel, kembung (-), nyeri tekan (-), BU (+) normal
Ekstremitas : akral hangat, dalam batas normal, edema (<)
DHF Gr. II H7
PO Imunvit syr 2 x cth
PO. Furosemid 2 x 10 mg
Cek DR
BLPL

Laboratorium
Nilai

Jenis pemeriksaan

Satuan

Hemoglobin

gr/dl

Normal
9.5 14.0

4 Mei 2015

6 Mei 2015

11,5

11,7

Leukosit

ribu /u l

4.0 10.5

11

12,5

Eritrosit

juta /u l

3.50 5.20

4,36

4,5

Hematokrit

vol%

29 43

30,5

32,3

Trombosit

ribu /u l

150 450

31

114

VIII. Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio


Definsi
Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit demam akut yang
disebabkan oleh infeksi virus dengue. Sedangkan manifestasi klinis dari infeksi virus
dengue dapat berupa demam dengue dan demam berdarah dengue 1,2,34,5,6.
Etiologi
Demam berdarah dengue disebabkan oleh infeksi virus dengue yang
mempunyai 4 serotipe yaitu den-1, den-2, den-3, dan den-4. Virus dengue serotipe

den-3 merupakan serotipe yang dominan di Indonesia dan paling banyak


berhubungan dengan kasus berat 4.
Virus dengue berbentuk batang, yang berukuran kecil sekali yaitu sekitar 3545 nm, bersifat termolabil, sensitif terhadap inaktivasi oleh dietileter dan natrium
dioksikolat, stabil pada suhu 70oC 7,8.

Masa Inkubasi/Tunas
Masa tunas / inkubasi selama 3 - 15 hari sejak seseorang terserang virus
dengue. Selanjutnya penderita akan menampakkan berbagai tanda dan gejala demam
berdarah dengue 9.
Demam Berdarah Dengue adalah penyakit yang ditularkan oleh virus yang
dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti. Virus ini menempel pada tubuh nyamuk yang
ditularkan dari mahluk vertebrata lainnya pada saat nyamuk ini menghisap darahnya.
Virus ini dapat hidup dan berkembangbiak di tubuh nyamuk dan juga terbawa pada
telur nyamuk yang mana akan hidup hingga telur-telur tersebut menjadi nyamuk
dewasa. Virus tersebut dimasukkan ke tubuh manusia oleh gigitan nyamuk dan dalam
4 hari berkembangbiak memperbanyak dirinya sehingga timbul siklus demam DBD
10

Patogenesis
Menurut sejarah perkembangan patogenesis demam berdarah dengue dapat
dibagi menjadi dua teori patogenesis, yaitu: pertama, virus dengue mempunyai sifat

10

tertentu, dan yang ke dua, pada manusia yang terinfeksi mengalami suatu proses
imunologi yang berakibat kebocoran plasma, perdarahan, dan berbagai manifestasi
klinik. Dapat pula kemungkinan patogenesis campuran dari kedua mekanisme
tersebut 11.
Patogenesis DBD belum sepenuhnya dapat dipahami, namun terdapat dua
perubahan patofisiologis, yaitu 11,12 :
1)

Meningkatnya permeabilitas kapiler yang mengakibatkan bocornya plasma,


hipovolemia, dan terjadinya syok. Pada DBD terdapat kejadian unik yaitu
terjadinya kebocoran plasma ke dalam rongga pleura dan rongga peritoneal.
Kebocoran plasma terjadi singkat (24-48 jam).

2)

Hemostasis abnormal yang disebabkan oleh vaskulopati, trombositopeni, dan


koagulopati, mendahului terjadinya manifestasi perdarahan.

Infeksi virus dengue

Demam,
anoreksia,
muntah

hepatomegali
Manifestasi
perdarahan

trombositopenia
Permeabilitas vaskular naik

Dehidrasi
Kebocoran plasma:
hemokonsentrasi, hipoproteinemia,
efusi pleura, dan asites.

hipovolemia

syok

Perdarahan
saluran cerna

anoksia

11
meninggal

Gambar 1. Patogenesis Infeksi Virus Dengue.


Patogenesis terjadinya renjatan berdasarkan the secondary heterologous
infection hypothesis dapat dilihat pada gambar 2. Hipotesis ini menyatakan bahwa
DHF dapat terjadi apabila seseorang setelah terinfeksi dengue pertama kali mendapat
infeksi berulang dengan tipe virus dengue yang berlainan. Akibat infeksi ke-2 oleh
tipe virus dengue yang berlainan pada seorang penderita dengan kadar antibodi anti
dengue yang rendah, respon antibodi anamnestik yang akan terjadi dalam waktu
beberapa hari mengakibatkan proliferasi dan transformasi limfosit imun dengan
menghasilkan titer tinggi antibodi Ig G anti dengue 13.

12

Secondary Heterologous Dengue infection

Virus replication

Annamnestic antibody response


Virus antibody complex

Complement activation

Complement

Anaphylatoxin (C3a C5a


histamin level in
24 hours urine
vascular permeability

> 30% in shock cases


24 48 hours

Leakage of plasma

Ht
Na+
Fluid in the serous cavities

Hypovolemia

SHOCK

Anoxia

Acidosis

Gambar 2. Patogenesis syok pada demam berdarah dengue

Manifestasi Klinis
Infeksi virus dengue mempunyai spektrum klinis yang luas mulai dari
asimptomatik (silent dengue infection), demam dengue (DD), demam berdarah
dengue (DBD), dan demam berdarah dengue disertai syok (sindrom syok dengue,
SSD) 4.

13

Manisfestasi klinis pada penyakit demam berdarah dengue yaitu 14,4 :


1. Demam tinggi yang mendadak 2-7 hari (38 C- 40 C)
2. Manifestasi pendarahan, dengan bentuk : uji tourniquet positif (terdapat 10 20 atau lebih petekiae dalam diameter 2,8 cm/1 inchi), purpura pendarahan,
konjungtiva, epitaksis, melena, dan sebagainya.
3. Hepatomegali (pembesaran hati).
4. Kebocoran plasma: efusi pleura, efusi perikard, atau perembesan ke rongga
peritoneal.
5. Syok, tekanan nadi menurun menjadi 20 mmHg atau kurang, tekanan sistolik
sampai 80 mmHg atau lebih rendah. Hari ke 3-5 merupakan fase kritis (saat
suhu turun), perjalanan penyakit dapat berkembang menjadi syok
6. Trombositopeni, pada hari ke 3 - 7 ditemukan penurunan trombosit sampai
100.000 /mm.
7. Hemokonsentrasi, meningkatnya nilai hematokrit.
8. Gejala-gejala klinik lainnya yang dapat menyertai: anoreksia, lemah, mual,
muntah, sakit perut, diare kejang dan sakit kepala.
9. Pendarahan pada hidung dan gusi.
10. Rasa sakit pada otot dan persendian, timbul bintik-bintik merah pada kulit
akibat pecahnya pembuluh darah.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan untuk menegakkan diagnosis
adalah 4 :

14

Pemeriksaan darah perifer: Hb, leukosit dan hitung jenis, hematokrit, dan
trombosit.

Pada DBD berat/SSD : monitor hematokrit tiap 4-6 jam, trombosit, AGD,
kadar elektrolit, ureum, kreatinin, SGOT, SGPT, protein serum, PT dan
APTT.

Diagnosis
Diagnosis DBD ditegakkan berdasarkan kriteria diagnosis WHO sebagai berikut 4:
1. Kriteria klinis

Demam tinggi mendadak, tanpa sebab jelas, berlangsung terus menerus


selama 2-7 hari.

Terdapat manifestasi perdarahan : uji torniquet positif, petekiae, ekimosis,


epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis, dan atau melena.

Hepatomegali.

Tanda-tanda syok : takikardi, perfusi perifer buruk, nadi lemah, akral dingin

2. Kriteri laboratoris

Trombositopenia (trombosit < 100.000 mm3)

Hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit > 20% menurut standar


umur dan jenis kelamin)

Diagnosis DBD dapat ditegakkan bila memenuhi kriteria : 2 kriteria klinis


pertama + trombositopenia dan hemokonsentrasi. Pada DBD harus dinilai derajat
penyakit, karena membutuhkan penatalaksanaan yang berbeda 2.
Tabel 1. Derajat penyakit DBD

15

Derajat Penyakit

Kriteria
Demam disertai gejala tidak khas, dan satu-satunya

DBD derajat I
manifestasi perdarahan ialah uji torniquet positif.
Seperti derajat I, disertai perdarahan spontan di kulit atau
DBD derajat II
perdarahan lain.
Terdapat kegagalan sirkulasi (nadi cepat dan lembut, tekanan
DBD derajat III

nadi menurun ( < 20 mmHg) atau hipotensi, sianosis disekitar


mulut, kulit dingin dan lembab, dan anak tampak gelisah.
Syok berat (profound shock): nadi tidak dapat diraba, dan

DBD derajat IV
tekanan darah tidak dapat diukur.
Tanda bahaya yang harus diketahui pada penyakit DBD adalah tanda
perdarahan kulit (bintik merah), hidung, gusi atau berak darah warna kehitaman dan
berbau. Apabila panas yang berangsur dingin, tetapi anak tampak lesu dan pada
perabaan dirasakan ujung-ujung tangan atau kaki dingin 14.
Tanda bahaya lain yang menyertai adalah penampilan anak tampak sangat
gelisah, kesadarannya menurun, kejang dan napas sesak. Pada keadaan tersebut
penderita harus segera dibawa ke dokter, bila terlambat akan menimbulkan
komplikasi yang berbahaya seperti syok, perdarahan kepala, perdarahan hebat di
seluruh tubuh atau gangguan fungsi otot jantung 14.
Diagnosa Banding
1. Demam dengue
Pada demam dengue terdapat peningkatan suhu secara tiba-tiba, disertai sakit
kepala menyeluruh atau berpusat pada supraorbital dan retroorbital, nyeri
yang hebat pada otot terutama dirasakan bila tendon dan otot perut ditekan

16

serta tulang, mual, kadang muntah dan batuk ringan. Terjadi leukopenia pada
demam dengue 15.
2. Morbili
Gejala klinis dari morbili yaitu suhu naik mendadak ketika ruam muncul dan
sering mencapai suhu 40-40,5oC. Ruam biasanya sebagai makula tidak jelas
pada bagian atas lateral leher, di belakang telinga, sepanjang garis
pertumbuhan rambut dan pada bagian posterior pipi. Lesi sendiri-sendiri
menjadi semakin makopapuler sebagai ruam yang menyebar dengan cepat
pada seluruh muka, leher, lengan atas dan bagian atas dada pada sekitar 24
jam pertama 16.
3. Chikungunya haemorrhagic fever (CHF)
Diagnosis banding yang paling penting adalah chikungunya haemorrhagik
fever yaitu demam berdarah yang disebabkan oleh virus chikungunya.
Serangan demam pada DHF lebih mendadak, masa demam lebih pendek,
tetapi suhu di atas 40 C lebih sering ditemukan. Ruam makulopapular,
injeksi konjungtiva dan rasa nyeri pada sendi lebih sering dijumpai pada
DHF 17.
4. ITP (Idiopathic Thrombosytopenic Purpura)
Merupakan suatu keadaan perdarahan yang ditandai dengan timbulnya petikie
dan ekimosis di kulit ataupun pada selaput lendir dan ada kalanya terjadi pada
berbagai jaringan dengan penurunan jumlah trombosit karena sebab yang
tidak diketahui. Pada ITP kadang-kadang disertai demam tetapi demam cepat
menghilang dan hemokonsentrasi tidak ditemukan 18.

17

5. Malaria
Malaria merupakan penyakit yang bersifat akut dan kronik, yang disebabkan
oleh protozoa genus plasmodium. Manifestasi klinik malaria yaitu demam
yang

berkaitan

dengan

saat

pecahnya

skizon

matang

(sporulasi),

splenomegali, anemia dan ikterik 16.

Komplikasi DBD
Pada DD tidak terdapat komplikasi berat namun anak dapat mengeluh
lemah/lelah (fatigue) saat fase pemulihan. Komplikasi berat dapat terjadi pada DBD
yaitu ensefalopati dengue, gagal ginjal akut, atau udem paru akut 4.
Penatalaksanaan
Fase demam 4
Prinsip tatalaksana DBD fase demam sama dengan tatalaksana DD.

Antipiretik: paracetamol 10 15 mg/kg BB/kali, 3 kali/hari.

Perbanyak asupan cairan oral.

Monitor keadaan anak (tanda-tanda syok) terutama selama 2 hari saat suhu
turun. Monitor trombosit dan hematokrit secara berkala.

Penggantian volume plasma 4 :


Anak cenderung menjadi dehidrasi. Penggantian cairan sesuai status dehidrasi
pasien dilanjutkan dengan terapi cairan rumatan.

Jenis cairan adalah kristaloid : RL, 5% glukosa dalam RL, atau NaCl.

Kriteria rawat inap yaitu 2 :


Ada kedaruratan:

18

Syok

Muntah terus menerus

Kejang

Kesadaran turun

Muntah darah

Berak hitam

Hematokrit cenderung meningkat setelah 2 kali pemeriksaan berturut-turut

Hemokonsentrasi (Ht meningkat > 20%)

Penatalaksanaan DBD Derajat I dan II (Kasus Non-Syok)


Cairan diberikan sejumlah kebutuhan rumatan (untuk 1 hari) + defisit 5 %
(oral maupun intravena) selama 48 jam. Sebagai contoh anak dengan berat badan
20 kg, maka defisit 5 % = 50 ml/kgBB x 20 kg = 1000 ml. Kebutuhan rumatan
ialah 1500 ml untuk 1 hari. Dengan demikian total pemberian cairan adalah M +
5 % = 2500 ml yang diberikan selama 48 jam. Laju infus dapat dilihat pada tabel
di bawah ini, jumlah cairan tersebut disesuaikan dengan kondisi klinis, tanda
vital, keluaran urin, dan kadar hematokrit .19

19

Tabel 2. Laju pemberian infus pada anak (WHO, 2011)19


Laju pada anak
(ml/KgBB/jam)
1,5
3
5
7
10

Setengah rumatan
Rumatan
Rumatan + defisit 5 %
Rumatan + defisit 7%
Rumatan + defisit 10 %

Cara pemberian cairan pada DBD adalah sebagai berikut 20 :


A. Jenis cairan
Jenis cairan yang diberikan pada DBD adalah 2 pilihan, yaitu 20:
1. Kristaloid : Ringer lactate (R.L) dan Ringer Acetate (R.A), diberikan pada fase
permulaan syok.
2. Koloid : Dextran 40 dan plasma, diberikan pada keadaan syok berulang atau
syok berkepanjangan).
Cairan koloid pilihan adalah dextran 40 karena Dextran-40 (10% dekstran
dalam normal saline), cairan ini bersifat hiperonkogenitas (osmolaritas 3x dari
plasma), sehingga dapat mengikat cairan lebih baik. Cairan koloid lain, atau plasma
pengganti mempunyai osmolaritas 1-1,4 x dari pada plasma 20.
Cara pemberian adalah 20 :

Tetesan

dekstran-40

minimal

harus

10

ml/kg/jam

sehingga

dapat

mempertahankan osmolaritas maksimum ketika diberikan kepada pasien.

20

Dosis maksimum dekstran-40 adalah 30 ml/kg/jam. Jangan memberikan lebih


dari sejumlah ini oleh karena dapat menyebabkan gagal ginjal akut.
Lama pemberian jangan melebihi 24-48 jam.

Indikasi transfusi darah adalah 20 :

Kehilangan darah bermakna, yaitu > 10% volume darah total. (Total volume
darah = 80 ml/kg). Berikan darah sesuai kebutuhan. Apabila packed red cell
(PRC) tidak tersedia, dapat diberikan sediaan darah segar.

Pasien dengan perdarahan tersembunyi. Penurunan Ht dan tanda vital yang tidak
stabil meski telah diberi cairan pengganti dengan volume yang cukup banyak,
berikan sediaan darah segar 10 ml/kg/kali atau PRC 10 unit/kali.
Setelah masa kritis terlampaui maka pasien akan masuk dalam fase

maintenance/penyembuhan, pada saat ini akan ada ancaman timbul keadaan


overload cairan. Sehingga pemberian cairan intravena harus diberikan dalam
jumlah minimal hanya untuk memenuhi kebutuhan sirkulasi intra vaskuler, sebab
apabila jumlah cairan yang diberikan berlebihan, akan menimbulkan kebocoran ke
dalam rongga pleura, abdominal, dan paru yang akan menyebabkan distres
pernafasan yang berakibat fatal. Pemberian cairan untuk maintenans ini diberikan
selama 24-48 jam 20.
Fase penyembuhan
Secara umum, sebagian besar pasien DBD akan sembuh tanpa komplikasi dalam
waktu 24-48 jam setelah syok. Indikasi pasien masuk ke dalam fase penyembuhan
adalah 20 :

21

Keadaan umum membaik.

Meningkatnya nafsu makan

Tanda vital stabil

Ht stabil dan menurun sampai 35-40%.

Diuresis cukup

Cairan intravena harus dihentikan segera apabila memasuki fase ini. Jus buah atau
larutan oralit dapat diberikan untuk memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit.
Kriteria memulangkan pasien 4 :

Tidak demam selama 24 jam tanpa antipiretik

Nafsu makan membaik

Secara klinis tampak perbaikan

Hematokrit stabil

Tiga hari setelah syok teratasi

Trombosit > 50.000/uL

Tidak dijumpai distres pernafasan

Prognosis
Kematian oleh karena Demam Berdarah Dengue terjadi pada 40-50%
penderita dengan syok, tetapi dengan pengobatan yang adekuat dapat diturunkan
hingga kurang dari 2%. Prognosa pada pasien ini adalah dubia ad bonam. Dasar
penentuan diagnosa ini adalah karena pasien datang berobat lebih cepat sehingga
diagnosa ditegakkan dan pengobatan dapat diberikan.
Pencegahan

22

Pencegahan penyakit DBD sangat tergantung pada pengendalian vektornya,


yaitu nyamuk Aedes aegypti. Pengendalian nyamuk tersebut dapat dilakukan dengan
menggunakan beberapa metode yang tepat, yaitu 21 :
1.

Lingkungan
Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain dengan
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat, modifikasi
tempat perkembangbiakan nyamuk hasil samping kegiatan manusia, dan
perbaikan desain rumah. Sebagai contoh:

Menguras bak mandi/penampungan air

Mengganti/menguras vas bunga dan tempat minum burung

Menutup dengan rapat tempat penampungan air

Mengubur kaleng-kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas di sekitar


rumah dan lain sebagainya.

2. Biologis
Pengendalian biologis antara lain dengan menggunakan ikan pemakan
jentik (ikan adu/ikan cupang), dan bakteri (Bt.H-14).
3. Kimiawi
Cara pengendalian ini antara lain dengan:

23

Pengasapan/fogging (dengan menggunakan malathion dan fenthion),


berguna untuk mengurangi kemungkinan penularan sampai batas
waktu tertentu.

Memberikan

bubuk

abate

(temephos)

pada

tempat-tempat

penampungan air seperti, gentong air, vas bunga, kolam, dan lain-lain.

Cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit DBD adalah


dengan mengkombinasikan cara-cara di atas, yang disebut dengan
3M Plus, yaitu menutup, menguras, menimbun. Selain itu juga
melakukan beberapa plus seperti memelihara ikan pemakan jentik,
menabur larvasida, menggunakan kelambu pada waktu tidur,
memasang kasa, menyemprot dengan insektisida, menggunakan
repellent, memasang obat nyamuk, memeriksa jentik berkala, dan
lain-lain sesuai dengan kondisi setempat.

DISKUSI

Pada kasus ini, secara klinis pasien menderita demam berdarah dengue derajat
II dimana diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik pada
pasien dan pemeriksaan laboratorium. Dari anamnesa didapatkan keluhan utama
anak datang ke rumah sakit setelah panas selama 4 hari. Panas mendadak dan hanya

24

turun sebentar dengan obat penurun panas, tetapi tidak sampai normal. terdapat
bintik-bintik merah dikulit. Anak muntah 5 kali berisi apa yang dimakan, tidak ada
darah. Sekali muntah + 5 cc. Tidak ada batuk pilek sebelumnya. BAK normal, BAB
cair tidak ada. Anak menjadi tidak nafsu makan, minum masih seperti biasa.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan petekie. Petekie merupakan salah satu
manifestasi pendarahan pada kulit. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan
trombositopenia. Dimana terjadi penurunan jumlah trombosit (trombosit
100.000/ul). Pada pemeriksaan darah rutin, di dapatkan juga peningkatan Hematokrit
23 % yang menandakan terjadinya kebocoran plasma.
Pada penderita ini, telah dilakukan pemberian terapi cairan IVFD RL. Jika
dihitung, pemberian awal 5 cc/kgBB/jam selama 24 jam di dapatkan 960 cc di hari
perawatan pertama, di hari perawatan kedua diberikan 500 cc sehingga total 1460 cc
dalam 48 jam. Menurut WHO, 2011 penatalaksanaan DBD derajat I dan II tanpa
syok, total cairan yang diberikan adalah menurut ketentuan M + 5% defisit. Pada
kasus, maka defisit 5% = 50 ml/kgBB x 8 kg = 400 cc. Kebutuhan maintenance 1
hari adalah 800 cc, sehingga total pemberian cairan 400 cc + 800 cc = 1200 cc yang
diberikan dalam 48 jam. Pada kasus ini didapatkan kelebihan cairan + 260 cc. Hal ini
diduga penyebab edema di ektremitas. Anak kemudian diberikan furosemid untuk
mengurangi edema. Medikamentosa lain yang diberikan yaitu ondancentron sebagai
antiemetik, parasetamol sebagai antipiretik, dan imunvit untuk meningkatkan
kekebalan tubuh.

25

PENUTUP

26

Telah dilaporkan sebuah kasus DHF grade II pada seorang anak berusia 10
bulan, setelah dilakukan perawatan didapatkan kesembuhan pada penderita,
penderita diperbolehkan pulang setelah dirawat selama 2 hari.

27

DAFTAR PUSTAKA

1. A. Hayani, Ahmad E, Yunus W & Samarang. Pengaruh pelatihan guru UKS


terhadap efektivitas pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah dengue
di tingkat sekolah dasar, kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah. Jurnal Ekologi
Kesehatan Vol 5 No 1, April 2006 : 376 - 379
2. Setyowati ER, Aryati, Prihatini & M.Y. Probohoesodo. Evaluasi pemeriksaan
imunokromatografi untuk mendeteksi antibodi Ig M dan Ig G demam
berdarah dengue anak. Bagian/Laboratorium Patologi Klinik FK Unair/RSU
dr. Soetomo; 2006
3. Muhlisin A. & Arum P. Penanggulangan demam berdarah dengue (DBD) di
kelurahan Singopuran Kartasura Sukoharjo. WARTA, Vol .9, No. 2,
September 2006: 123 12
4. Purnamawati. Demam dengue dan demam berdarah dengue. Yayasan Orang
Tua Peduli; 13 Oktober 2008
5. World Health Organization. Dengue haemorrhagic fever : diagnosis,
treatment, prevention, and control. 2nd Ed. Geneva: WHO Library
Cataloguing in Publication Data, 1997.p.1-42.
6. John GA. Dengue fever. Inf. Dis [serial online] 2004 April [cited 2004 Feb 5;
11 screens]. Available from:
http://www.emedicine.com/derm/dengue_fever.htm
7. Darmowandowo W. Demam Berdarah Dengue, (online) (http://www.
Pediatrik.com/ilmiah_popular/demam_berdarah.htm), diakses 11 Februari
2005).
8. Hendarwanto. Dengue. Dalam :Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1. Jakarta : Balai
Penerbit FKUI, 1998.
9. Khomsah.
Penyakit
demam
berdarah
dengue
(www.khomsah@yahoo.com), diakses 10 November 2008

(DBD).

10. Ahli medis. Demam berdarah dengue. (www.Pusat Medis.com), diakses 10


November 2008
11. Thomas Suroso et al. Pencegahan dan penanggulangan penyakit demam
dengue dan demam berdarah dengue. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia, 2000.h.13-71.

28

12. Agus Sjahrurachman. Kinetika respon imun pada infeksi dengue : suatu
kajian serosurvai pada kasus infeksi dengue sekunder. Dalam: Agus
Sjarurachman, Pemeriksaan serologi pada penyakit infeksi, penyunting.
Jakarta: Bagian Mikrobiologi FKUI, 1994.h.63-73
13. Sumarmo S.P.S. Demam berdarah (dengue) pada anak. Jakarta: Penerbit
Universitas Indonesia, 1988.h.29-33.
14. Judarwanto W. Deteksi dini dan tanda bahaya penyakit
(http://www.medicastore. com), diakses 8 November 2008

DBD.

15. Nelson. Ilmu Kesehatan Anak. Editor : A. Samik Wahab. Jakarta : EGC, 1999
16. Mansjoer A, Kuspuji T, Rakhmi S, Wahyu IW & Wiwiek S. Kapita Selekta
Kedokteran. Edisi ketiga, jilid II. Jakarta : Media Aesculapius, 1999
17. Hasan R, Alatas H. Buku Ilmiah Kesehatan Anak Jilid 2. Jakarta : Bagian
IKA FKUI, 1989 ; 607-17
18. de Jongh R. Dengue Fever in Indonesia. International SCS, An AEA
Company
The
Expert
Web
Site
Association.
http://www.DengueFeverIndonesia.html.1991-2002.
19. WHO. Comprehensive guideline for prevention and control of dengue and
dengue hemoragic fever. India: WHO, 2011.
20. Acang N. Pemberian cairan pada demam berdarah dengue. Sub Bagian Petri,
Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK-Unad/RS Dr. M. Djamil Padang; 2008
21. Kristina, Isminah &
(www.famfamfam.com)

Leny

W.

Demam

berdarah

dengue.

2007.

29