Anda di halaman 1dari 22

Pengidentifikasian Penyakit Infeksi Virus Varicella Zoster

Hilda Anak Michael Pawing (102013486)


Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 6, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11510
Email korespondensi : hilda.michael.03@gmail.com

Abstrak

Kata kunci : pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, diagnosis, infeksi, Varicella Zoster

Abstract

Keywords : physical examination, laboratory tests, diagnosis, infection, Varicella Zoster

Pendahuluan

Anamnesis

Di dalam ilmu kedokteran, anamnesis merupakan wawancara antara dokter dengan


pasien atau keluarga pasien. Anamnesis dapat dilangsungkan dalam dua cara yaitu secara
auto-anamnesis dan secara allo-anamnesis. Auto-anamnesis adalah anamnesis secara langsung
dengan pasien sendiri. Allo-anamnesis pula adalah anamnesis melalui pengantar atau keluarga
pasien. Allo-anamnesis dilakukan sekiranya kondisi pasien tidak memungkinkan untuk
diwawancara misalnya pada keadaan gawat-darurat, afasia akibat strok, pada anak kecil yang
masih belum dapat bicara dan sebagainya. Pada anak dalam kasus ini, anamnesis dilakukan
1

secara autoanamnesis dan juga alloanamnesis karena ada beberapa pertanyaan yang dapat
dimengerti dan dijawab oleh anak berumur 5 tahun sedangkan ada juga beberapa pertanyaan
yang jawabannya memerlukan bantuan orangtuanya. (PAPDI)
Anamnesis harus dilakukan dalam suasana yang tenang, ramah, sabar dan
menggunakan bahasa yang dimengerti oleh pasien. Sebelum memulakan anamnesis,
perkenalkan diri dulu dengan pasien dan orangtuanya. Kemudian, dapatkan inform consent
dari pasien dan orangtuanya untuk melakukan anamnesis. (PAPDI)

Identitas Pasien
Identitas meliputi nama lengkap pasien, umur, tanggal lahir, tempat lahir, alamat, suku
bangsa, agama, tingkat pendidikan, pekerjaan dan status kahwin. Tujuan identitas ini ditanya
adalah untuk memastikan bahwa pasien yang dihadapi adalah memang benar pasien yang
dimaksudkan dan juga berguna untuk data penelitian, ansuransi dan lain sebagainya. (PAPDI)
Pada anak dalam kasus ini, identitas pasien yang didapat adalah seperti berikut:

Umur
Jenis kelamin
Pekerjaan
Pendidikan

: 5 tahun
: Perempuan
: Anak TK
: TK

Keluhan Utama
Seterusnya, tanyakan keluhan utama pasien yaitu keluhan yang mendorong pasien
untuk ketemu dokter. Namun, dokter harus berhati-hati dan tidak menerima semua keluhan
yang diungkapkan oleh pasien sebagai keluhan utama. Dokter harus pandai menentukan yang
mana keluhan utama pasien tersebut dan yang mana keluhan penyertanya. (PAPDI)
Pada anak dalam kasus ini, keluhan utamanya adalah timbulnya bercak vesikel pada
badan dan wajah.

Riwayat Penyakit Sekarang


2

Riwayat perjalanan penyakit sekarang merupakan cerita yang kronologis, terinci dan
jelas mengenai kondisi kesehatan pasien sejak sebelum keluhan utama timbul sehingga pasien
datang berobat ke dokter. Dalam mewawancara mengenai riwayat penyakit sekarang, harus
diusahakan untuk mendapatkan data-data seperti waktu dan lamanya keluhan berlangsung,
sifat dan beratnya serangan keluhan (mendadak, perlahan-lahan, terus menerus, hilang timbul,
cenderung bertambah berat, berkurang atau sebagainya), penyebarannya (menetap, menjalar,
berpindah-pindah), hubungannya dengan waktu (sakitnya pada pagi sahaja atau pada sore
sahaja), hubungannya dengan aktivitas (keluhan bertambah berat pada saat berolahraga atau
semakin ringan pada saat beristirahat), keluhan-keluhan penyerta, faktor pencetus serangan,
apakah ada saudara terdekat atau teman yang menderita keluhan yang sama, apakah pasien
pernah berjalan ke daerah yang endemik dengan penyakit tertentu, perkembangan penyakit
dan data terakhirnya adalah apakah pasien sudah minum obat atau melakukan tindakan medik
lain sebelum datang ketemu dokter. (PAPDI)
Pada anak dalam kasus ini, Riwayat Penyakit Sekarang yang didapat adalah:

Lama keluhan
Faktor pencetus

Keluhan penyerta

: Sejak 2 hari lalu


: Tertular dari teman sekolah yang mengalami keluhan
yang sama kurang lebih 2 minggu lalu
: Lemas, nafsu makan berkurang

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat Penyakit Dahulu ditanya untuk mengetahui kemungkinan adanya hubungan
antara penyakit yang pernah dideritai dengan penyakitnya sekarang. (PAPDI) Pada kasus anak
yang diberi, ditanyakan mengenai riwayat alergi obat dan makanan. Jika ada alergi,
ditanyakan dengan lanjut lama perawatannya dan apakah sembuh sempurna atau tidak.

Riwayat Kesehatan Keluarga dan Penyakit Dalam Keluarga

Riwayat kesehatan keluarga dan penyakit dalam kerabat keluarga adalah untuk
mencari kemungkinan penyakit herediter seperti alergi, atau penyakit infeksi. (PAPDI) Pada
kasus anak yang diberi, ditanya juga apakah ada kerabat keluarga yang turut mengalami alergi
atau keluhan yang sama? Jika ada, sejak kapan kerabat keluarga tersebut mengalami keluhan
tersebut.

Riwayat Pribadi
Riwayat pribadi meliputi data-data kelahiran, imunisasi, gizi, lingkungan tempat
tinggal, sanitasi, sumber air minum dan kebiasaannya. Pasien juga ditanya jika pernah
melakukan perjalanan ke tempat-tempat endemik penyakit infeksi untuk mencari
kemungkinan tertular infeksi tertentu dari tempat tersebut. (PAPDI) Pada kasus anak yang
diberi, ditanyakan apakah anak tersebut mendapat suntikan imunisasi yang lengkap dan tepat
waktu. Kemudian ditanya juga apakah anak tersebut mendapat gizi yang sempurna dan cukup
atau apakah anak tersebut memilih makanan tertentu sahaja. Ditanya juga apakah di
lingkungan tempat tinggalnya ada tetangga yang turut mengalami keluhan yang sama. Begitu
juga ditanya mengenai apakah sanitasi lingkungan terjaga dan sanitasi peribadi anak terjaga.

Anamnesis Sistem
Anamnesis sistem bertujuan mengumpulkan data-data positif dan negatif yang
berhubungan dengan penyakit yang dideritai berdasarkan alat tubuh yang sakit. Anamnesis ini
juga dapat menjaring masalah pasien yang terlewat pada waktu pasien menceriterakan
Riwayat Penyakit Sekarang. (PAPDI) Pada kasus anak yang diberi, alat tubuh yang
berhubungan dengan keluhannya adalah seperti berikut:
a) Kulit
(+) Bisul Bercak vesikel pada badan dan wajah
(?) Gatal Apakah vesikel tersebut gatal?
(?) Nyeri apakah vesikel disertai rasa nyeri?
4

b) Kepala
(?) Sakit kepala Hubungan dengan tampak lemas & nafsu makan berkurang
c) Mulut
(?) Stomatitis Perbandingan dengan penyakit tangan, kaki dan mulut
d) Tenggorokan
(?) Nyeri tenggorokan Perbandingan dengan penyakit tangan, kaki dan mulut
e) Abdomen
(?) Mual Hubungan dengan tampak lemas & nafsu makan berkurang
(?) Muntah Hubungan dengan tampak lemas & nafsu makan berkurang
(?) Sukar menelan Hubungan dengan tampak lemas & nafsu makan
berkurang
(?) Nyeri perut Hubungan dengan tampak lemas & nafsu makan berkurang
f) Ekstremitas
(?) Nyeri Hubungan dengan tampak lemas & nafsu makan berkurang

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik bertujuan untuk memperkuatkan hasil temuan dalam anamnesis.
Periksa pasien secara sistematik dan senyaman mungkin serta hormati tubuh dan pribadi
pasien selama melakukan pemeriksaan. Pemeriksaan dimulai dengan keadaan umum pasien
dan kemudian tanda-tanda vital (TTV). (PAPDI)

Teknik Pemeriksaan Fisik


Teknik pemeriksaan fisik termasuk inspeksi, palpasi, auskultasi dan perkusi. Inspeksi
adalah pemeriksaan secara visual atau secara pandang terhadap pasien. Inspeksi dilakukan
untuk memerhati keadaan umum pasien seperti ekspresi wajah, pernapasan, bentuk tubuh,
ukuran tubuh dan gerak tubuhnya. Inspeksi juga dilakukan untuk melihat kondisi alat-alat
tubuh luaran pasien seperti kulit, kepala, mata, telinga, mulut, hidung, dada, abdomen dan
ekstremitas tubuh. (PAPDI) (FKUKRIDA)
Palpasi pula adalah pemeriksaan secara meraba tubuh pasien menggunakan satu atau
dua atau tiga atau empat atau kelima jari tangan tergantung bagian yang diperiksa. Biasanya
palpasi sering dilakukan untuk memeriksa ukuran, konsistensi dan batas organ dalam tubuh
5

seperti hepar, limpa, ginjal dan lain-lain. Palpasi juga dilakukan untuk mendeteksi sebarang
benjolan dan rasa nyeri pada bagian tubuh serta untuk mendeteksi denyut nadi. (PAPDI)
(FKUKRIDA)
Auskultasi pula adalah pemeriksaan dengar menggunakan alat bantu stetoskop.
Auskultasi digunakan untuk mendengar suara yang dapat di dalam tubuh seperti irama denyut
nadi, bunyi pernapasan dan bunyi usus. (PAPDI) (FKUKRIDA)
Perkusi adalah pemeriksaan mengetuk permukaan tubuh dengn perantaraan jari tangan
untuk mengetahui keadaan organ dalam tubuh. Tergantung jaringan atau organ yang
diperkusi, maka akan timbul nada yang berbeda yaitu pekak, redup, sonor dan timpani.
(PAPDI) (FKUKRIDA)

Keadaan Umum Pasien


Perhatikan keadaan pasien melalui ekspresi wajahnya, gaya berjalannya dan gaya
bicaranya. Keadaan umum pasien dapat dibagi atas tampak sakit ringan atau sakit sedang atau
sakit berat. Kesadaran pasien juga diperiksa dengan melihat reaksi pasien yang wajar terhadap
stimulus visual, auditor atau taktil. Tingkat kesadaran terbagi atas kompos mentis, apatis,
delirium, somnolen (letargia, obtundasi, hipersomnia), sopor (stupor), semi-koma (koma
ringan) dan koma. (PAPDI) Pada anak dalam kasus ini, didapati anak tersebut dalam
kesadaran kompos mentis yaitu sadar sepenuhnya, baik terhadap dirinya maupun terhadap
lingkungannya. Pasien dapat menjawab pertanyaan pemeriksa dengan baik.

Tanda-Tanda Vital (TTV)

Suhu

Suhu tubuh yang normal adalah 36-37C. Pada pagi hari suhu tubuh mendekati 36C,
sedangkan pada sore hari suhu tubuh mendekati 37C. Untuk mengukur suhu tubuh,
digunakan termometer klinis. Tempat pengukuran suhu meliputi rektum (2-5 menit), mulut
(10 menit) dan aksila (15 menit). Pengukuran suhu di rektum juga lebih tinggi sebesar 0,51C, dibandingkan suhu mulut, sedangkan suhu mulut 0,5C lebih tinggi dibandingkan
dengan suhu aksila. Pada keadaan demam, suhu tubuh akan meningkat. Suhu merupakan
indikator penyakit, oleh sebab itu, pengobatan demam tidak cukup hanya memberikan
antipiretika tetapi harus dicari apa etiologinya dan bagaimana menghilangkan etiologi
tersebut. (PAPDI)

Nadi
Pemeriksaan nadi biasanya dilakukan dengan melakukan palpasi A. radialis. Frekeunsi
nadi yang normal adalah sekitar 80 kali per menit. Bila terjadi demam, maka frekuensi nadi
akan meningkat, kecuali pada demam tifoid, frekeunsi nadi menurun dan disebut bradikardia
relatif. Dalam keadaan normal, denyut nadi akan lebih lambat pada waktu ekspirasi
dibandingkan pada waktu inspirasi dan keadaan ini disebut sebagai aritimia sinus. (PAPDI)

Tekanan darah
Tekanan darah diukur menggunakan tensimeter atau nama lainnya sfigmomanometer.
Cara untuk menggunakan tensimeter adalah seperti berikut:
1. Lingkarkan manset pada lengan kanan 1,5cm di atas fossa kubiti anterior.
2. Tekanan tensimeter dinaikkan sambil meraba denyut nadi di A. radialis kanan
sampai kira-kira 20mmHg di atas tekanan sistolik.
3. Kemudian tekanan diturunkan perlahan-lahan sambil meletakkan stetoskop pada
fossa kubiti anterior di atas A. brakialis.
4. Dengan menggunakan stetoskop, akan terdengar denyut nadi Korotkrov 1-5.
Tekanan sistolik didengar pada Korotkrov 1 yaitu pada saat denyut nadi pertama
7

kali terdengar setelah tekanan diturunkan 10-15 mmHg. Tekanan diastolik


didengar pada Korotkov 5 yaitu pada saat suara menghilang.
(PAPDI)
Frekuensi pernapasan
Dalam keadaan normal, frekeunsi pernapasan adalah 16-24 kali per menit. Sifat
pernapasan pada perempuan biasanya abdomino-torakal sedangkan pada laki-laki biasanya
torako-abdominal. (PAPDI)

Pada anak dalam kasus yang diberi didapatkan hasil TTV:

Suhu
Denyut nadi
Tekanan darah
Frekuensi napas

: 38C
: 90x/menit
: 90/60 mmHg
: 20x/menit

Pemeriksaan Penunjang
Pilihan metode untuk konfirmasi laboratorium pada infeksi virus bergantung pada
tahapan penyakit. Uji antibodi membutuhkan sampel yang diambil pada interval yang tepat,
dan diagnosis sering kali tidak dapat dipastikan hingga masa konvalesens. Isolasi virus atau
deteksi antigen perlu dikerjakan ketika timbul epidemi baru, ketika uji serologi tidak
bermanfaat dan ketika penyakit klinis sama dapat disebabkan oleh banyak agen yang berbeda.
(Jawetz)
Isolasi virus mungkin tidak dapat menetapkan penyebab suatu penyakit. Hal ini karena
beberapa virus bertahan hidup dalam penjamu manusia untuk jangka waktu yang lama
sehingga isolasi herpesvirus, poliovirus, echovirus atau koksakivirus dari seorang pasien yang
tidak terdiagnosis tidak membuktikan bahwa virus tersebut merupakan penyebab penyakit.
Pola klinis dan epidemiologik yang konsisten harus ditetapkan sebelum satu agen khusus
dapat ditentukan sebagai penyebab atas munculnya manifestasi klinis tertentu. (Jawetz)
8

Sebagian besar virus paling baik diisolasi selama beberapa hari pertama specimen.
Spesimen dapat disimpan di dalam kulkas hingga 24 jam sebelum kultur virus dikerjakan.
Specimen yang tidak boleh dibekukan adalah darah utuh untuk menentukan antibodi, serum
(harus dipisahkan dari darah utuh sebelum dibekukan) dan jaringan dari kultur organ atau sel
yang harus disimpan dalam suhu 4C. (Jawetz)
Virus varicella zoster dapat dijumpai dalam apusan dari dasar ruam vesikuler. Infeksi
kulit varicella zoster dapat dideteksi dengan baik melalui mikroskopik langsung terhadap
apusan atau lesi. (Jawetz)
Pada pewarnaan apus kerokan atau swab yang diambil dari dasar vesikel (apusan
Tzanck), terlihat sel-sel raksasa multinukleus. Ini tidak terdapat pada vesikel nonherpetik.
Antigen virus intraseluler dapat dilihat dengan perwarnaan fluoresens pada apusan yang sama.
(Jawetz)
Pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) dapat digunakan untuk mendeteksi
virus serta bersifat sensitif dan spesifik. (Jawetz)
Prosedur diagnostik cepat secara klinis berguna untuk virus varicella zoster. Antigen
spesifik virus atau DNA virus dapat dideteksi pada cairan vesikel, pada kerokan kulit, atau
pada materi biopsi. Herpesvirus dapat dibedakan dari poxvirus melalui penampakan
morfologis partikel pada cairan vesikular yang diperiksa menggunakan mikroskop elektron.
(Jawetz)
Virus dapat diisolasi dari cairan vesikel pada awal perjalanan penyakit dengan
mengultur sel manusia selama 3-7 hari. Virus varicella zoster di dalam cairan vesikel bersifat
sangat labil, dan sel kultur harus diinoklasi sesegera mungkin. (Jawetz)
Kenaikan titer antibodi spesifik dapat dideteksi dalam serum pasienmelalui berbagai
tes, meliputi antibodi fluoresens dan enzyme immunoassay. Pemilihan pemeriksaan yang

digunakan bergantung pada tujuan pemeriksaan dan fasilitas laboratorium yang tersedia.
Imunitas yang diperantarai sel bersifat penting, tetapi sulit dipertunjukkan. (Jawetz)

Tzanck Smear
1. Kerok dari dasar vesikel & oles pada gelas alas
2. Sediaan dibiarkan kering atau dihangatkan di atas api
3. Fiksasi dengan metanol
4. Teteskan pewarna Giemsa/ metalin biru/ pewarna Wright
5. Ditemukan sel raksasa multinukleus yang mengindikasikan bahwa terdapat
herpesvirus (HSV-1, HSV-2 atau varicella zooster)

VSV pada sel ginjal manusa (perwarnaan H&E, 228X), dengan sel raksasa multinukleus
yang mengandung inklusi intranuklear asidofilik.
(Jawetz)

Kultur Virus
o Kultvasi dalam kultur sel
Kultur di dalam tabung uji dipersiapkan dengan menambahkan sel yang telah

disuspensi dalam 1-2 mL cairan nurien yang mengandung larutan garam seimbang dan
berbagai macam faktor pertumbuhan (biasanya serum, glukosa, asam amino dan vitamin). Sel
fibroblastik dan epitelial melekat dan bertumbuh di dinding tabung uji. (Jawetz)

10

o Kultur shell vial


Metode ini memungkinkan virus dalam spesimen klinis dideteksi dengan cepat.
Metode ini telah diadaptasi untuk beberapa virus, termasuk virus varicella zoster. Monolayer
lini sel yang sesuai ditumbuhkan di atas kaca penutup dalam shell vial. Setelah diinokulasi
dengan spesimen, vial disentrifugasi pada kecepatan 700 x g selama 40 menit dalam suhu
kamar. Vial lau diinkubasi pada suhu 37C selama 16-24 jam, difiksasi dan diberi antibodi
monoklonal spesifik untuk protein inti virus yang muncul sangat dini dalam kultur. Metode
pewarnaan antibodi langsung atau tidak langsung serta pemeriksaan mikroskopik fluoresens
digunakan untuk menentukan hasil positif pada kultur shell vial. (Jawetz)

Deteksi Antigen
Deteksi antigen virus banyak dipergunakandalam virologi diagnostik. Dipergunakan

pula berbagai macam pemeriksaan seperti EIA, antibodi fluoresens langsung, antibodi
fluoresens tidak langsung, aglutinasi lateks, dan lain-lain. Keuntungan berbagai prosedur ini
adalah mampu mendeteksi virus yang tidak bertumbuh dalam kultur sel atau yang sangat
lambat bertumbuh. Umumnya pemeriksaan deteksi antigen virus tidak sesensitif kultur virus
dan metode amplifikasi asam nukleat. (Jawetz)

Amplifikasi & Deteksi Asam Nukleat


Tersedia berbagai macam pemeriksaan komersial untuk mendeteksi asam nukleat virus

atau untuk mengamplifikasi dan mendeteksinya. Metode ini mencakup Polymerase Chain
Reaction (PCR), PCR transkriptase-balik, dan metode lain yang tepat. Data dari pemeriksaan
kuantatif digunakan untuk memandu terapi antiviruspada berbagai penyakit virus. (Jawetz)

11

i. Serologi
o Direct Flouresence Assay
o VZV IgG Antibodies
o Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA)
ii. Neutralisasi
iii. Polymerase Chain Reaction (PCR)

Complete Blood Count (CBC)


- Hitung sel darah putih : leukopenia

Untuk kasus infeksi virus varicella zoster, dianjurkan sistem deteksi kultur sel dalam
ginjal embrionik manusia dan antibodi fluoresens langsung (pemeriksaan paling sensitif).
Efek sitopatik biasanya tampak dalm 2-3 minggu. (Jawetz)

Diagnosis

Diagnosis Kerja (WD)


Diagnosis kerja atau working diagnosis (WD) adalah
Dari kasus ini, didapati anak perempuan tersebut menderita infeksi dari virus varicella zoster
yaitu cacar air.

Diagnosis Banding (DD)


o Penyakit tangan, kaki dan mulut (HFMD)
o Reaksi obat
o Dermatitis kontak
o Gigitan serangga
o Breakthrough Varicella
o Moluskum Kontagiosum : Moluskum Kontagiosum merupakan nodul yang
menyerupai kubah, permukaannya licin dan terdapat lekukan di tengahnya.
Penyakit ini disebabkan oleh virus DNA dari kelompok virus cacar juga. Lesi ini
12

adalah lesi yang paling sering menyerang anak-anak dan biasanya di bagian
kepala dan tubuh. Pada orang dewasa, nodul biasanya tumbuh di daerah lipat
paha. Lesi akan hilang secara spontan tanpa meninggalkan parut. (Price &
Wilson)
o Rubeola (campak) : Rubeola disebabkan oleh mikrovirus RNA. Sekitar 2 minggu
setelah kontak, pasien akan mulai merasa demam, batuk, sakit kepala dan
konjungtivitis. (Price & Wilson)
o Herpes zoster (cacar ular) : Herpes zoster disebabkan oleh virus herpes yang sama
dengan virus penyebab varicella. Setelah infeksi varicella primer, virus akan
bertahan pada ganglia radiks dorsalis. Herpes zoster biasanya menyerang pasien
yang berusia lanjut. Virus varicella yang dorman diaktifkan dan timbul vesikelvesikel meradang unilateral di sepanjang satu dermatom. Herpes zoster dapat
berlangsung kurang lebih tiga minggu. Nyeri yang timbul sesudah serangan
herpes zoster disebut sebagai neuralgia pascaherpetika dan biasanya berlangsung
selama beberapa bukan, bahkan kadang-kadang sampai beberapa tahun. Herpes
zoster yang menyebar ke seluruh tubuh, paru-paru dan otak dapat menjadi fatal.
Penyebaran seperti ini biasanya tampak pada pasien limfoma atau leukemia.
(Price & Wilson)

Etiologi
Cacar air adalah penyakit yang ringan, sangat menular, terutama pada anak-anak,
ditandai secara klinis oleh erupsi vesikel generalisata pada kulit dan membran mukosa.
Penyakit tersebut dapat menjadi berat pada orang dewasa dan anak-anak luluh imun. (Jawetz)
Cacar ular adalah penyakit sporadis yang melemahkan pada orang dewasa atau pasien
luluh imun, ditandai dengan ruam yang distribusinya terbatas pada kulit yang dipersarafi oleh
satu ganglion sensorik. Lesi tersebut mirip dengan cacar air. (Jawetz)

13

Kedua penyakit disebabkan oleh virus yang sama. Cacar air adalah penyakit akut
akibat kontak primer dengan virus, sedangkan cacar ular adalah respons sebagian imun
penjamu terhdap reaktivasi virus varicella zoster yang terdapat dalam bentuk laten pada
neuron ganglion sensorik. (Jawetz)
Virus varicella zoster secara morfologi identifik dengan HSV. Virus ini tidak
mempunyai reservoir hewan. Virus memperbanyak diri di kultur jaringan embrionik manusia
dan menghasilkan badan inklusi intranukleus tipikal. Perubahan sitopatik bersifat lebih fokal
dan menyebar jauh lambat daripada yang disebabkan oleh HSV. Virus infeksius tetap terkaitsel secara kuat dan serangkaian perkembangbiakan virus lebih mudah terjadi melalui sel-sel
yang terinfeksi daripada melalui cairan kultur jaringan. (Jawetz)
Virus yang sama menyebabkan cacar air dan cacar ular. Isolasi virus dari vesikel
pasien cacar air atau cacar ular menunjukkan tiada variasi genetik yang signifikan. Inokulasi
cairan vesikel zoster ke tubuh anak-anak menyebabkan cacar air. (Jawetz)
Virus varicella zoster adalah virus DNA. Saat penyakit ini aktif, akan sangat menular.
Masa inkubasinya 14-21 hari. Infeksi biasanya timbul pada anak-anak usia sekolah, tetapi
kadang-kadang turut menyerang orang dewasa. (Price & Wilson)
Virus varicella zoster adalah dari kelompok herpesvirus dan merupakan sub-kelompok
dari alfaherpesvirus. Varicella zoster hanya memiliki satu serotipe antigenik tetapi bisa
terdapat reaksi persilangan dengan herpes simplex virus (HSV). Virus varicella zoster tidak
bisa infeksi hewan lain kecuali gorila atau kera. Virus tersebut mudah bertumbuh dalam kultur
sel untuk menghasilkan efek sitopatik yaitu suatu bentuk fokal ovoid. Efek sitopatiknya
muncul 3 hari hingga 2 minggu setelah inokulasi.
Epidemiologi
Varisela dan zoster terdapat di seluruh dunia. Varisela sangat menular dan merupakan
seluruh penyakit epidemi yang sering pada masa kanak-kanak (sebagian besar kasus terjadi

14

pada anak berusia di bawah usia 10 tahun). Kasus pada orang dewasa jarang terjadi. Varisela
lebih sering terjadi saat musim dingin dan semi dibandingkan saat musim panas pada daerah
beriklim sedang. Zoster terjadi secara sporadis, terutama pada orang dewasa dan tidak ada
prevalensi musiman. 10 hingga 20 persen orang dewasa akan mengalami setidaknya satu kali
serangan zoster selama hidupnya, biasanya setelah usia 50 tahun. (Jawetz)
Vaksin varisela hidup yang dilemahkan saat ini sudah tersedia. Pada era pra-vaksin,
varisela menyebabkan sekitar 4 juta angka penyakit, 11.000 perawatan di rumah sakit, dan
100 kematian per tahun di Amerika Serikat. Sejak vaksin diperkenalkan pada tahun 1995,
telah terdapat penurunan insiden penyakit varisela. Akan tetapi, wabah varisela terus terjadi
pada anak-anak sekolah karena beberapa anak tidak divaksin dan vaksin hanya 80-85%
efektif pada orang yang divaksin. (Jawetz)
Varisela menyebar lebih mudah melalui droplet udara dan melalui kontak langsung.
Pasien varisela mungkin infeksius sejak beberapa saat sebelum munculnya ruam hingga
beberapa hari pertama ruam muncul. Infeksi melalui kontak langsung lebih jarang terjadi pada
zoster, mungkin karena virus tidak ada di saluran pernapasan atas pada kasus tipikal. DNA
virus varicella zoster telah dideteksi, menggunakan metode amplifikasi PCR, pada sampel
udara dari ruangan rumah sakit pasien penderita infeksi zoster (70%) dan varisela (82%) aktif.
(Jawetz)

Manifestasi Klinis
Varisela subklinis tidak biasa terjadi. Masa inkubasi penyakit adalah 10-21 hari.
Malaise dan demam adalah gejala yang paling awal, lalu segera diikuti oleh ruam, dimulai
dari batang tubuh dan kemudian ke muka, ekstremitas, serta mukosa bukal dan faringeal di
dalam mulut. Vesikel baru berturut-turut tampak berkelompok, jadi semua stadium makula,

15

papula, vesikel dan krusta dapat terlihat pada satu waktu. Ruam terdapat sekitar 5 hari, dan
sebagian bear anak memiliki ratusan lesi kulit. (Jawetz)
Varicella ditandai oleh malaise dan demam yang diikuti oleh erupsi multipel makula
eritematosa kecil, papula dan vesikel. Vesikel-vesikel akan menjadi purulen, berkrusta dan
sembuh spontan biasanya dalam waktu satu minggu. Lesi terdapat dalam berbagai stadium
dan ini merupakan ciri khas varicella. Lesi mula-mula timbul di tubuh dan wajah dan
kemudian menyebar ke perifer menuju ekstremitas. (Price & Wilson)

Patofisiologi
Jalur infeksi adalah mukosa saluran pernapasan atas atau konjungtiva . Setelah terjadi
replikasi awal di kelenjar limfe regional, viremia primer menyebarkan virus dan
menyebabkan replikasi di hati dan limpa. Viremia sekunder yang meliputi sel mononuklear
terinfeksi memindahkan virus ke kulit, tempat ruam khas terjadi. Pembengkakkan sel epitel
degenerasi balon dan akumulasi cairan jaringan menyebabkan pembentukan vesikel. (Jawetz)
Penyebaran dan replikasi virus varicella zoster dibatasi oleh respons imun humoral dan
seluler penjamu. Interferon juga dapat terlihat. (Jawetz)

16

(Jawetz)

Penatalaksanaan

Medika Mentosa
Varisela pada anak normal merupakan penyakit ringan dan tidak memerlukan terapi.

Pasien neonatus dan luluh imunyang menderita infeksi berat harus diterapi. Gammaglobulin
ada titer antibodi virus varicella zoster yang tinggi (immunoglobulin varicella zoster) dapat
digunakan untuk mencegah perkembangan penyakit yang lebih lanjut pada pasien terpajan
varisela yang berisiko tinggi untuk mengalami penyakit berat. Gammaglobulin ini tidak
memiliki nilai terapeutik lagi jika varisela sudah muncul. Immunoglobulin standar menjadi
tidak bernilai karena titer antibodi variselanya rendah. (Jawetz)
Satu-satunya pabrik immunoglobulin varicella zoster yang berlisensi di Amerika
Serikat berhenti produksinya pada tahun 2004. Akan tetapi, pada tahun 2006, produk

17

penelitian baru (tidak berlisensi) tersedia. Produk ini dapat dipesan untuk pasien yang berisiko
tinggi mengalami penyakit berat. (Jawetz)
Beberapa senyawa antivirus memberikan terapi yang efektif untuk varisela, seperti
asiklovir, valasiklovir, famsiklovir, dan foskarnet. Asiklovir dapat mencegah perkembangan
penyakit sistemik pada pasien luluh imun yang terinfeksi varisela dan dapat menghentikan
progresivitas zoster pada orang dewasa. Asiklovir tampaknya tidak mencegah neuralgia
pascaherpes. (Jawetz)
Asiklovir 800mg lima kali sehari selama 7 hari dapat membantu meringankan penyakit
dan memperpendek masa infeksi. (Price & Wilson)
Pemberian kortikosteroid sistemik dini dapat membantu mencegah timbulnya
neuralgia pascaherpestika. Asiklovir oral 800mg lima kali sehari selama 10 hari dapat
mempersingkat durasi infeksi herpes zoster. Neuralgia yang menetap dapat diobati dengan
kapsaisin tropikal (Zostrix) namun biasanya membutuhkan analgetik yang lebih kuat (Tylenol
#3, Vicodin), amitriptilin dan antidepresan trisiklik juga berguna, namun pasien dengan nyeri
yang berat biasanya dirujuk ke klinik nyeri. (Price & Wilson)

Non-Medika Mentosa

Prognosis

Pencegahan

A. Imunitas
Virus cacar air dan cacar ular bersifat identik, kedua penyakit tersebut merupakan
akibat dari perbedaan respons penjamu. Infeksi varisela sebelumnya dipercaya memberi
imunitas seumur hidup terhadap varisela. Antibodi yang diinduksi oleh vaksin varisela
18

menetap selama minimal 20 tahun. Peningkatan dalam titer antibodi varisela dapat terjadi
pada pasien penderita infeksi HIV. (Jawetz)
Pembentukan imunitas yang diperantarai sel yang spesifik terhadap virus variselazoster merupakan hal penting untuk penyembuhan, baik varisela maupun zoster. Munculnya
interferon lokal juga daat berkontribusi terhadap penyembuhan. (Jawetz)
Virus varisela-zoster, seperti herpesvirus lainnya, menyandi cara menginvasi respons
imun penjamu. Sebagai contoh, virus ini menurunkan ekspresi antigen kompleks
histokompatibilitas utama kelas I dan II. (Jawetz)

B.
Vaksin varisela hidup yang dilemahkan diizinkan untuk penggunaan umum di Amerika
Serikat pada tahun 1995. Vaksin serupa telah digunakan dengan sukses di Jepang selama
sekitar 30 tahun. Vaksin tersebut sangat efektif untuk memberi perlindungan terhadap varisela
pada anak-anak (80-85% efektif), tetapi kurang efektif pada orang dewasa (70%). Vaksin
tersebut sekitar 95% efektif dalam mencegah penyakit berat. Sekitar 5% individu mengalami
ruam ringan yang disebabkan oleh vaksin setelah 1 bulan imunisasi. Penularan virus vaksin
jarang terjadi, tetapi dapat terjadi jika vaksin menyebabkan ruam. Lamanya proteksi vaksin
tidak diketahui, tetapi kemungkinan untuk waktu yang lama. Infeksi varisela dapat terjadi
pada orang yang divaksinasi, tetapi biasanya hanya berupa penyakit ringan. (Jawetz)

Komplikasi
Komplikasi jarang terjadi pada anak-anak dan angka mortilitas sangat rendah.
Ensefalitis terjadi pada kasus yang jarang dan dapat mematikan. Orang yang sembuh dari
ensefalitis varisela dapat mempunyai gejala sisa permanen. Pada varisela neonatus, infeksi
didapat dari ibu sesaat sebelum atau sesudah kelahiran tetapi neonatus belum memiliki

19

respons imun yang cukup untuk melawan penyakit. Virus yang sering menyebar secara luas
dan dapat berakibat fatal. Kasus sindrom varisela kongenital yang terjadi setelah kasus cacar
air pada ibu selama kehamilan telah dilaporkan. (Jawetz)
Pneumonia varisela jarang terjadi pada anak-anak yang sehat, tetapi merupakan
komplikasi yang paling sering pada neonatus, dewasa dan pasien luluh imun. Hal ini menjadi
penyebab banyaknya kematian yang disebabkan varisela. Pasien luluh imun berisiko tinggi
mengalami komplikasi varisela, meliputi penderita keganasan, transplantasi organ atau infeksi
HIV dan yang menerima kortikosteroid dosis tinggi. Koagulasi intravaskular diseminata dapat
terjadi dan cepat menjadi fatal. Anak penderita leukemia terutama cenderung untuk
mengalami penyakit virus cacar air diseminata yang berat. (Jawetz)
Orang dewasa dapat menderita pneumonitis atau ensefalitis dan keduanya mungkin
fatal. (Price & Wilson)

Pneumonia
Herpes zooster
People at High Risk for Complications
o Immunocompromised Persons
Immunocompromised persons who get varicella are at risk of
developing visceral dissemination (VZV infection of internal organs)
leading to pneumonia, hepatitis, encephalitis, and disseminated
intravascular coagulopathy. They can have an atypical varicella rash
with more lesions, and they can be sick longer than immunocompetent
persons who get varicella. The lesions may continue to erupt for as long
as 10 days, may appear on the palms and soles, and may be
hemorrhagic.
o People with HIV or AIDS
Children with HIV infection tend to have atypical rash with new crops
of lesions presenting for weeks or months. HIV-infected children may
20

develop chronic infection in which new lesions appear for more than
one month. The lesions may initially be typical maculopapular
vesicular lesions but can later develop into non-healing ulcers that
become necrotic, crusted, and hyperkeratotic. This is more likely to

occur in HIV-infected children with low CD4 counts.


Some studies have found that VZV dissemination to the visceral organs
is less common in children with HIV than in other
immunocompromised patients with VZV infection. The rate of
complications may also be lower in HIV-infected children on
antiretroviral therapy or HIV-infected persons with higher CD4 counts
at the time of varicella infection. Retinitis can occur among HIV-

infected children and adolescents.


Most adults, including those who are HIV-positive have already had
varicella disease and are VZV seropositive. As a result, varicella is

relatively uncommon among HIV-infected adults.


o Pregnant Women
Pregnant women who get varicella are at risk for serious complications;
they are at increased risk for developing pneumonia, and in some cases,

may die as a result of varicella.


If a pregnant woman gets varicella in her 1st or early 2nd trimester, her
baby has a small risk (0.4 2.0 percent) of being born with congenital
varicella syndrome. The baby may have scarring on the skin,

abnormalities in limbs, brain, and eyes, and low birth weight.


If a woman develops varicella rash from 5 days before to 2 days after
delivery, the newborn will be at risk for neonatal varicella. In the
absence of treatment, up to 30% of these newborns may develop severe
neonatal varicella infection.

21

Kesimpulan

Daftar Pustaka

1. Eroshenko VP. Difiores atlas of histology with functional correlations. Edisi ke-11.
Philedelphia : Lippincott Williams & Wilkins; 2008. h. 51, 325-9.
2. Tortora GJ, Derrickson B. Principles of anatomy and physiology: organization,
support and movement, and control systems of the human body. Edisi ke-12. New
Jersey: John Wiley & Sons Inc.; 2009. h. 669-72, 980-90.
3. Sherwood L. Introduction to human physiology: International edition. Edisi ke-8.
California: Brooks/Cole Cengage Learning; 2013. h. 495-8, 529-35.
4. Hall JE. Guyton and Hall textbook of medical physiology: International edition. Edisi
ke-12. Philadelphia : Saunders-Elsevier Inc.; 2011. h. 809-25, 939-53.
5. Murray RK, Bender DA, Botham KM, Kennelly PJ, Rodwell VW, Weil PA. Harpers
illustrated biochemistry. Edisi ke-28. New York : The McGraw-Hill Companies Inc.;
2009. h. 86-205.
6. Barker HM. Nutrition and dietetics for health care. Edisi ke-13. Edinburgh : ElsevierChurchill Livingstone; 2006.
7. Menu makanan sehat bergizi seimbang 4 sehat 5 sempurna. Diunduh dari
http://www.hidupsehat.web.id/2014/01/menu-makanan-sehat-gizi-seimbang-4.html

25 Oktober 2014.

22