Anda di halaman 1dari 3

Etika Kedokteran

Di dalam menentukan tindakan di bidang kesehatan atau kedokteran, selain mempertimbangkan


kebutuhan-kebutuhna dasar, keputusan hendaknya juga mempertimbangkan hak-hak asasi paien.
Pelanggaran hak asasi pasien akan mengakibatkan juga pelanggaran atas kebutuhan dasar
terutama kebutuhan kreatif dan spiritual pasien.
Sifat hubungan antara dokter dengan pasien berkembang dari sifat paternalistic hingga ke sifat
kontraktual dan fiduciary. Hubungan kontarktual ini menitikberatkan kepada hak otonomi pasien
dalam menetukan apa-apa yang boleh dilakukan terhadapnya. Tetapi kemudian sifat hubungan
dokter-pasien ini dikoreksi oleh para ahli etika kedokteran menjadi hubungan fiduciary (atas
dasar niat baik dan kepercayaan), yaitu hubungan yang menitikberatkan nilai-nilai keutamaan
(virtue ethics). Sifat hubungan kontraktual dianggap meminimalkan mutu hubungan karena
hanya melihatnya dari sisi hokum dan peraturan saja, dan disebut sebagai bottom line ethics.
Beauchamp and Childress (1994) menguraikan bahwa untuk mencapai suatu keputusan etik
diperlukan 4 kaidah dasar moral (moral principle) dan beberapa peraturan di bawahnya. Ke 4
kaidah dasar moral tersebut adalah:
1. Prinsip otonomi, yaitu prinsip moral yang menghormati hak-hak pasien, terutama hak
otonomi pasien (the rights to self determination). Prinsip moral inilah yang kemudian
melahirkan doktrin informed consent.
2. Prinsip beneficence, yaitu prinsip moral yang mengutamakan tindakan yang ditujukan
untuk kebaikan pasien. Dalam beneficence tidak hanya dikenal perbuatan untuk kebaikan
saja, melainkan juga perbuatan yang sisi baiknya (manfaat) lebih besar daripada sisi
buruknya (mudharat).
3. Prinsip non-maleficence, yang prinsip moral yang melarang tindakan yang memperburuk
keadaan pasien. Prinsip ini dikenal sebagai primum non nocere atau above all do no
harm.
4. Prinsip justice, yaitu prinsip moral yang mementingkan fairness dan keadilan dalam
bersikap maupun dalam mendistribusikan sumber daya (distributive justice).
Otonomi pasien dianggap sebagai cerminan konsep self governance, liberty rights, dn
individual choices. Immanuel Kant mengatakan bahwa setiap orang memiliki kapasitas untuk
memutuskan nasibnya sendiri, sedangkan Johns S Mills berkata bahwa kontrol sosial atas

seseorang individu hanya sah apabila dilakukan karena terpaksa untuk melindungi hak orang
lain.
Salah satu hak pasien yang disahkan dalam Decralation of Lisbon dari World Medical
Association (WMA) adalah the rights to accept or to refuse treatment after receiving adequate
information (WMA 1981). Secara implisit amandemen UUD 1945 Pasal 28G ayat (1) juga
menyebutkan demikian Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, dst. Selanjutnya
UU No 23/1992 tentang Kesehatan juga memberikan hak kepada pasien untuk memberikan
persetujuan atas tindakan medis yang akan dilakukan terhadapnya. Hak ini kemudian diuraikan
dalam Permenkes tentang Persetujuan Tindakan Medis.
Suatu tindakan medis terhadap seseorang pasien tanpa memperoleh persetujuan terlebih
dahulu dari pasien tersebut dianggap sebagai penyerangan atas hak orang lain atau perbuatan
melanggar hokum (tort).
Prinsip otonomi pasien ini dianggap sebagai dasar dari doktrin informed consent.
Tindakan medis terhadap pasien harus mendapat persetujuan (otorisasi) dari pasien tersebut,
setelah ia menerima dan memahami informasi yang diperlukan. Informed consent dapat
dianggap sebagai a patient with substanstial understanding and in substansial absence of control
by others, intentionally authorizes a professional to do something.
Informed Consent
Adalah suatu proses yang menunjukkan komunikasi yang efektif antara dokter dengan pasien,
dan bertemunya pemikiran tentang apa yang akan dan apa yang tidak akan dilakukan terhadap
pasien. Informed consent dilihat dari aspek hokum bukanlah sebagai perjanjian antara dua pihak,
melainkan lebih kea rah persetujuan sepihak atas layanan yang ditawarkan pihak lain.
Informed consent memiliki 3 elemen, yaitu:
1. Threshold elements
Tidak tepat dianggap sebagai elemen, oleh karena sifatnya lebih ke arah syarat yaitu
pemberi consent haruslah seorang yang kompeten. Kompeten tersebut diartikan sebagai
kapasitas untuk membuat keputusan (medis).
Secara hokum dianggap cakap (kompeten) adalah apabila telah dewasa, sadar, dan berada
dalam keadaaan mental yang tidak di bawah pengampuan. Dewasa diartikan sebagai usia
telah mencapai 21 tahun atau telah pernah nikah.
2. Information elements
Terdiri dari dua bagian yaitu disclosure (pengungkapan) dan understanding
(pemahaman).

Seberapa baik informasi harus diberikan kepada pasien, dapat dilihat dari 3 standar yaitu
standar praktek profesi, standar subyektif, dan standar pada reasonable person.
3. Consent elements
Terdiri dari 2 bagian, yaitu voluntariness (kesukarelaan, kebebasan) dan authorization
(persetujuan).
Etika Klinik
Pembuatan keputusan etik, terutama dalam situasi klinis dapat juga dilakukan dengan pendekatan
yang berbeda dengan pendekatan kaidah dasar moral. Jonsen, Siegler, dan Winslade (2002)
mengembangkan teori etik yang menggunakan 4 topik yang essensial dalam pelayanan klinik,
yaitu:
1.
2.
3.
4.

Medical indocation
Patient preferrences
Quality of life
Contextual features

Dalam topik medical indication dimasukkan semua prosedur diagnostik dan terapi yang
sesuai untuk mengevaluasi keadaan pasien dan mengobatinya. Penilain aspek indikasi medis ini
ditinjau dari sisi etiknya, terutama menggunakan kaidah beneficence dan non-maleficence.
Pada topik patient preferences kita memperhatikan nilai (value) dan penilaian pasien tentang
manfaat dan beban yang akan diterimanya, yang berarti cerminan kaidah otonomi. Topik quality
of life merupakan aktualisasi salah satu tujuan kedokteran, yaitu memperbaiki, menjaga atau
meningkatkan kualitas hidup insani. Dalam contextual features dibahas pertanyaan etik seputar
aspek non medis yang mempenrgaruhi keputusan, seperti faktor keluarga, ekonomi, agama,
budaya, kerahasiaan, alokasi sumber daya dan faktor hokum.