Anda di halaman 1dari 7

OPTIMISME DAN STRES PADA PASIEN DIABETES MELLITUS

Sholihatul Maghfirah
Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Ponorogo
ABSTRAK
Pasien Diabetes Mellitus sering mengalami stres baik terkait dengan perjalanan
penyakitnya maupun dengan terapi yang harus dijalani. Optimisme merupakan
salah satu bentuk mekanisme koping yang positif. Pasien Diabetes Mellitus yang
memiliki sikap optimisme diharapkan lebih kuat dalam menghadapi st resor yang
dialami. Penelitian ini bertujuan menjelaskan hubungan antara optimisme dan
stres pada pasien Diabetes Mellitus. Penelitian ini menggunakan desain
penelitian cross sectional dengan tempat penelitian di Puskesmas Ponorogo
Utara. Jumlah sampel sebanyak 30 orang dengan teknik purpossive sampling.
Pengumpulan data menggunakan kuesioner LOT-R untuk variable optimisme dan
DASS untuk variabel stres. Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis
dengan uji chi-square dengan 0,05. Hasil penelitian menunjukkan 21
responden (70%) mengalami optimisme sedang dan 26 responden (86,7%) tingkat
stres normal den setelah diuji chi-square diadapatkan hasil ada hubungan antara
optimisme dengan stres pada pasien Diabetes Mellitus dengan p value: 0,032.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah ada hubungan antara optimisme dengan
stres pada pasien Diabetes Mellitus. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat
menindaklanjuti penelitian hubungan optimisme dengan stres pada Pasien
Diabetes Mellitus.
Kata Kunci: Optimisme, Stres, Diabetes Mellitus

[Jurnal Florence]

Vol. VI No. 2 Juli 2013

[Type text]
[Type text] [Type text]
tahun 2025, angka ini akan meningkat
PENDAHULUAN
Penyakit Diabetes Mellitus merupakan
dua kali lipat menjadi 300 juta
salah satu penyakit dimana faktor
penderita.Peningkatan
ini lebih
emosional mempunyai peranan yang
disebabkan oleh pola makan yang tidak
cukup penting, baik sebagai faktor
sehat dan kurangnya aktivitas fisik
pencetus maupun sebagai faktor yang
(Republika, 2006).
menentukan perjalanan penyakit dan
kontrol terhadap penyakit itu sendiri.
Dampak psikologis dari penyakit
Miller menyatakan bahwa seperti
diabetes mulai dirasakan oleh penderita
umumnya penyakit kronis, penyakit
sejak ia didiagnosis dokter dan
diabetes sering menimbulkan perasaan
penyakit tersebut telah berlangsung
tidak berdaya pada diri penderitanya,
selama beberapa bulan atau lebih dari
suatu perasaan bahwa dirinya sudah
satu tahun. Penderita mulai mengalami
tidak mampu lagi mengubah masa
gangguan psikis diantaranya adalah
depannya. Perasaan tidak berdaya
stres pada dirinya sendiri yang
timbul karena berbagai macam sebab
berkaitan dengan terapi yang harus
antara lain karena kondisi kesehatan
dijalani (Tjokroprawiro, 2000) .
penderita yang tidak menentu yang
Berdasarkan penelitian yang dilakukan
diwarnai dengan kesembuhan dan
oleh Rohmah (2012) penderita Diabetes
kekambuhan dan kemungkinan juga
Mellitus yang dirawat di ruang rawat
karena terjadinya kemunduran fisik
inap pada umumnya tidak menyadari
(Sutjipto,
2007). Hal ini dapat
penyakitnya dan terlambat datang ke

menyebabkan stres yang dapat


memperburuk prognosis penyakit.
Menurut survey Organisasi Kesehatan
Dunia (WHO), meskipun termasuk
negara yang sedang berkembang,
Indonesia menempati urutan keempat
terbesar dalam jumlah penderita
diabetes.
Di atasnya adalah negara
India, China dan Amerika dengan
prevalensi 8,6 persen dari total
penduduk. Pada tahun 2006, di
Indonesia diperkirakan terdapat 14 juta
orang dengan diabetes, tetapi baru 50
persen yang sadar mengidapnya dan di
antara mereka baru sekitar 30 persen
yang datang berobat secara teratur
(Kompas dan WHO, 2005). Dari tahun
ke tahun jumlah penderita diabetes
melitus baik di Indonesia maupun di
negara-negara lain semakin meningkat.
Berdasarkan data dari World Health
Organisation (WHO), diabetes melitus
sudah menjadi epidemi atau penyakit
yang mewabah di dunia. Secara global,
jumlah diabetes mencapai 120 sampai
140 juta orang. Diperkirakan pada

[Jurnal Florence]

dokter, serta penyakitnya dinyatakan


sudah kronis, sehingga perlu perawatan
di rumah sakit. Penderita yang rata -rata
merupakan
masyarakat miskin
cenderung bingung dengan biaya
pengobatan dan kondisi penyakit yang
tidak kunjung sembuh sehingga ingin
cepat dipulangkan dan dilakukan rawat
jalan. Sedangkan pada pasien poli
interna RSUD Dr. Soegiri Lamongan
rata-rata tidak mengalami komplikasi
tetapi harus menjalani kontrol rutin 1
bulan sekali. Faktor-faktor di atas dapat
menjadi stressor fisik maupun
psikologis bagi penderita sehingga
memicu terjadinya stress.
Pada umumnya penderita Diabetes
Mellitus mengalami stres karena
mendapat informasi bahwa penyakit ini
sukar disembuhkan dan penderita harus
mampu mengubah gaya hidupnya
dengan melakukan diet yang ketat
kalau ingin sembuh. Stres dan Diabetes
Mellitus bagaikan
suatu ciculus
vitiosus, penderita akan merasa
penderitaannya tak kunjung putus dan

Vol. VI No. 2 Juli 2013

[Type text]
[Type text] [Type text]
selalu terbayang masa depan yang
membantunya dalam menghadapi
suram. Kondisi stres
dapat
stresor kehidupan (Sutjipto, 2007).
meningkatkan kadar stress hormone
(counter regulatory hormone) seperti
METODE PENELITIAN
hormon epinefrin, glukagon, kortisol
Desain penelitian yang digunakan
dan hormon pertumbuhan atau growth
adalah korelasi dengan pendekatan
hormone yang secara langsung
cross sectional. Penelitian ini bertujuan
menimbulkan resistensi insulin dan
menjelaskan optimisme dan stres pada
berpengaruh terhadap fluktuasi kadar
pasien Diabetes Mellitus di wilayah
gula darah (Widayati, 2008).
Puskesmas Ponorogo Selatan. Populasi
penelitian ini adalah seluruh pasien
Diabetes Mellitus di wilayah
Optimisme merupakan salah satu
bentuk mekanisme koping yang positif.
Puskesmas Ponorogo Selatan sejumlah
Penelitian yang dilakukan oleh Wrosch
69 orang dengan jumlah sampel 30
dan Scheier (2003) menemukan bahwa
orang.
Pengambilan
sampel
pada individu yang optimis, lebih
menggunakan teknik
purposive
terfokus pada masalah dalam
sampling dengan kriteria sampel: 1)
menghadapi stres, lebih aktif dan
Tidak memiliki cacat mental, 2) Pasien
terencana dalam berkonfrontasi dengan
Diabetes Mellitus yang berusia lebih
peristiwa yang menekan serta
dari 30 tahun. Instrumen penelitian ini
menggunakan kerangka berpikir yang
menggunakan
kuesioner LOT-R
positif. Individu yang optimis juga
(Revised Life Orientation Test ) untuk
lebih sedikit menyalahkan diri sendiri
mengukur optimisme, dan Depression
dan lari dari masalah serta tidak fokus
Anxiety Stress Scale (DASS) untuk
pada aspek negatif permasalahan.
mengukur tingkat stres. Analisis data
Bahkan ketika strategi koping yang
menggunakan uji statistic Chi- Square
berfokus pada masalah tidak
dengan bantuan program SPSS.

memungkinkan, orang-orang
yang
optimis akan melakukan strategi koping
berfokus emosi yang adaptif seperti
penerimaan, humor dan kerangka
berpikir yang positif (Wrosch &
Scheier, 2003).
Orang yang cenderung berpikir negatif,
pesimis dan irrasional akan lebih
mudah mengalami stres daripada
mereka yang cenderung berpikir positif,
rasional dan optimis. Dengan
membentuk sikap positif terhadap suatu
keadaan yang tidak menyenangkan,
akan membuat seseorang melihat
keadaan tersebut secara rasional, tidak
mudah putus asa ataupun menghindar
dari keadaan tersebut, tetapi justru akan
mencari jalan keluarnya. Dengan
demikian orang tersebut mempunyai
mental yang kuat, yang akan

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil
Tabel 1. Tabulasi silang hubungan opt imisme dan stres pada pasien
Diabetes Mellitus
Stres
Optimism
Normal
Stres
Stres Sedang
e
Berat
n
%
n
%
N %
Opt imism
6
100
0
0
0
0
e Tinggi
18
85,
3
14,3
0
0
Opt imism
e Sedang
7
Opt imism
2
66,
0
0
1
33,
e Rendah
7
3
26
3
10
1
Total
86,
3,3
7
p = 0,032

[Type text]
[Type text] [Type text]
dan 1 responden atau 33,3% mengalami
stres berat. Hasil uji statistik SPSS
menggunakan uji chi-square didapatkan
pada pearson chi-square nilai p=0,032
dimana = 0,05 sehingga p value <
maka Ho ditolak, artinya ada hubungan
signifikan antara optimisme dengan
stres pada pasien Diabetes Mellitus.
1. Optimisme

Dari hasil pengisian kuesioner


didapatkan bahwa sebagian besar
responden memiliki tingkat optimisme
sedang (70%). Menurut Seligman
(2005) optimisme merupakan salah satu
dari emosi positif terhadap masa depan.
Faktor yang mempengaruhi emosi
positif antara lain jenis kelamin. Hasil
penelitian ini menunjukkan sebagian
besar responden yang memiliki tingkat
optimisme sedang berjenis kelamin
perempuan yaitu sebanyak 15
responden (71,4%). Seligman (2005)
mengatakan bahwa perempuan
mengalami lebih banyak emosi positif
dengan intensitas lebih tinggi
dibandingkan laki-laki. Menurut Myres
(1994) dalam Widyanti (2009) orang
yang bahagia (memiliki emosi positif)
menunjukkan optimisme yang tinggi.
Mereka biasanya telah memprediksi

%
100

21

100

100

30

100

Tabel diatas menunjukkan bahwa dari


30 responden, 6 responden dengan
optimisme tinggi seluruhnya (100%)
tidak mengalami stres (normal), 21
responden dengan optimisme sedang 18
responden atau 85,7% tidak mengalami
stres (normal) dan 3 responden atau
14,3% mengalami stres sedang,
sedangkan 3 responden dengan
optimisme rendah 2 responden atau
66,7% tidak mengalami stres (normal)

[Jurnal Florence]

Pembahasan

Total
n
6

Vol. VI No. 2 Juli 2013

atau membayangkan masa depan


mereka secara lebih optimis dan yakin.
Sehingga dapat disimpulkan karena
memiliki lebih banyak emosi positif
maka perempuan memiliki optimisme
yang lebih tinggi.
Akan tetapi hasil penelitian ini
menunjukkan para responden lebih

bahwa dari 26 (86,7%) responden yang


tidak mengalami stres/normal sebagian
besar responden berjenis kelamin
perempuan 19 responden (73,07%), berusia
>50 tahun 19 responden (73,07%),
menderita penyakit Diabetes Mellitus 1-5
tahun 13 responden (50%), dan tidak
memiliki penyakit penyerta 16 responden
(61,53%) . Dari sudut pandang psikologi,
beberapa bukti menunjukkan bahwa
perempuan memiliki kemungkinan lebih
kecil untuk berkepribadian Tipe A.
Kepribadian Tipe A merupakan bagian dari
kumpulan komitmen kaku terhadap peran
gender maskulin tradisional yang
mengemukakan prestasi, keahlian,
kompetisi, tidak meminta bantuan atau
dukungan emosional, kebutuhan yang
berlebihan utuk memegang kendali, dan
kecenderungan untuk marah serta
mengekspresikannya saat merasa frustasi.
Para ahli mengaitkan hal tersebut pada

bulan yaitu sebanyak 16 responden


(76,2%). Hal ini menunjukkan bahwa
sebagian besar responden termasuk
dalam status ekonomi menengah ke
bawah. Menurut Vinacle dalam Shofia
(2009), semakin baik keadaan ekonomi
keluarga maka diharapkan orang akan
semakin memiliki orientasi yang kuat
terhadap masa depan karena tidak
terganggu oleh adanya pemenuhan
kebutuhan primer manusia. Dengan
demikian rendahnya status ekonomi
mengakibatkan orang cenderung lebih
memprioritaskan kebutuhan primer
dibandingkan dengan kebutuhan lain.
Hal ini berpengaruh terhadap
berkurangnya tingkat optimisme
seseorang.
2 Stres
Hasil pengisian kuesioner didapatkan

banyak mengalami optimisme sedang


dibandingkan dengan optimisme tinggi.
Salah satu faktor yang menyebabkan
yaitu kondisi ekonomi. Sebagian besar
responden yang memiliki optimisme
sedang tidak bekerja yaitu sebanyak 9
responden (42,86%), dan sebagian
besar penghasilan keluarga <1 juta per

kecenderungan laki-laki
lebih mudah
terkena penyakit koroner dan resiko
kesehatan lain yang disebabkan stres
(Davidson dkk, 2004). Banyak wanita yang
kuat menghadapi stres dari trauma dan
banyak pria yang dibayang-bayangi secara
serius oleh pengalaman traumatis yang
pernah mereka alami (Lahey, 2007).

[Jurnal Florence]
[Type text]

Vol. VI No. 2 Juli 2013


[Type text] [Type text]

Menurut Sunaryo (2004), faktor


yang
mempengaruhi stres salah satunya adalah
faktor psikoedukatif/sosio kultural yang
terdiri dari perkembangan kepribadian,
pengalaman, dan kondisi lain yang
mempengaruhi. Lama menderita penyakit
dapat memberikan pengalaman seseorang
dalam mengatasi stresornya.
Menurut
Hidayat (2008), pengalaman masa lalu
dapat mempengaruhi stresor yang dimiliki.
Semakin banyak stresor dan pengalaman
yang dialami dan mampu menghadapinya,
maka semakin baik dalam mengatasi
sehingga kemampuan adaptifnya akan
semakin baik pula.
Hal inilah yang
merupakan salah satu penyebab sebagian
besar responden yang tidak mengalami
stres/normal telah menderita penyakit
selama 1-5 tahun.
Tingkat perkembangan individu juga
dapat mempengaruhi respon tubuh dimana
semakin matang dalam perkembangannya,
maka semakin baik pula kemampuan untuk
mengatasinya (Hidayat, 2008). Pada
penelitian ini sebagian besar responden
berusia >50 tahun dimana pada usia
tersebut tingkat perkembangannya semakin

stres, lebih aktif dan terencana dalam


berkonfrontasi dengan peristiwa yang
menekan serta menggunakan kerangka
berpikir yang positif. Individu yang
optimis juga lebih sedikit menyalahkan
diri sendiri dan lari dari masalah serta
tidak fokus pada aspek negatif
permasalahan. Bahkan ketika strategi
koping yang berfokus pada masalah tidak
memungkinkan, orang yang optimis akan
melakukan strategi koping berfokus emosi
yang adaptif seperti penerimaan, humor
dan kerangka berpikir yang positif.
Seligman (2005) menyatakan bahwa
matang dan semakin baik dalam mengatasi
stresor. Kondisi lain yang mempengaruhi
misalnya adanya penyakit penyerta dapat
meningkatkan stres yang dirasakan. Pada
penelitian ini sebagian besar responden
tidak memiliki penyakit penyerta, sehingga
sebagian besar tidak mengalami

positif memungkinkan orang untuk


mengatasi situasi stres dengan lebih baik.
Hal ini dapat mengurangi efek kesehatan
berbahaya yang ditimbulkan oleh stres.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa orang
yang positif dan optimis cenderung
bergaya hidup sehat yaitu dengan banyak
melakukan aktivitas fisik, mengikuti diet
sehat, dan tidak merokok atau minum
alkohol secara berlebihan.

optimisme dan harapan memberikan daya


tahan yang lebih baik dalam menghadapi
depresi ketika musibah terjadi di masa
depan. Mayo Clinic (2011) berpendapat
bahwa pemikiran positif yang biasanya ada
pada sikap optimisme adalah bagian
penting dari manajemen stres yang efektif.
Dimana manajemen stres yang efektif
sering dikaitkan dengan banyak manfaat
kesehatan. Memiliki pandangan yang
stres/normal.
3. Hubungan Optimisme dan Stres
Hasil pengisian kuesioner menunjukkan
bahwa sebagian besar responden yang
memiliki tingkat optimisme sedang tidak
mengalami stres/normal. Sedangkan dari
analisis data didapatkan bahwa ada
hubungan antara optimis dan stres pada
penderita diabetes mellitus. Seligman
(1991) mendefinisikansikan optimis
sebagai suatu sikap yang mengharapkan
hasil yang positif dalam menghadapi
masalah dan berharap untuk mengatasi
stress dan tantangan sehari-hari secara
efektif. Menurut Wrosch dan Scheier
(2003) pada individu yang optimis, lebih
terfokus pada masalah dalam menghadapi

Adanya sikap optimis yang dimiliki pasien


Diabetes Mellitus akan memungkinkan
orang tersebut bereaksi secara positif dan
adaptif terhadap stres yang dihadapi. Hal
ini terbukti dari penelitian ini bahwa
pasien diabetes mellitus yang memiliki
optimisme sedang dan tinggi sebagian
besar tidak mengalami stres.
SIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Sebagian besar responden memiliki tingkat
optimisme sedang yaitu sebanyak 21
responden atau 70% dan sebagian kecil
memiliki tingkat optimisme ringan yaitu
sebanyak 3 responden atau 10%. Sebagian
besar responden tingkat stres normal yaitu
sebanyak 26 responden atau 86,7% dan

[Jurnal Florence]
[Type text]

Vol. VI No. 2 Juli 2013


[Type text] [Type text]

sebagian kecil memiliki tingkat stres berat


yaitu sebanyak 1 responden atau 3,3%.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
ada hubungan antara optimisme dengan
stres pada pasien Diabetes Mellitus.
Saran
Saran yang dapat diberikan bagi pelayanan
kesehatan seperti puskesmas agar
melakukan terapi peningkatan optimisme
diri sebagai salah satu
alternatif
manajemen stres dalam upaya mencegah
dampak yang dapat ditimbulkan dari stres
yang dialami pasien Diabetes Mellitus.
Sedangkan bagi pasien Diabetes Mellitus
agar meningkatkan optimisme diri untuk
mencegah maupun mengurangi stres yang
dialami.
DAFTAR PUSTAKA
Apriana, (2002). Hubungan Antara Konsep
Diri dengan Optimisme Mahasiswa
Tingkat Akhir. Skripsi tidak
diterbitkan. Yogyakarta: Program
Studi Psikologi UII.
Davidson dkk, (2004). Psikologi
Abnormal. Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada.
Gunarya, (2008). Manajemen Stress.
Makassar: Modul TOT Basic Study

Lahey, B. B. (2007). Psychology: An


Introduction, Ninth Edition. New
York: The McGraw-Hill Companies.
Lanywati, (2001).
Diabetes Mellitus.
Yogyakarta: Kanisius.
Lovibond & Lovibond, (1995). Depression
Anxiety and Stress Scale (DASS)
http://www.acpmh.unimelb.edu.au/si
te_resources/TrainingInitiativeDocu
ments/follow-up/DASS.pdf
. Diakses
tanggal 25 Februari 2013 pukul
19.00
Mayo Clinic, (2011). Positive thinking:
Reduce stress by eliminating
negative self-talk. Diakses dari
http://www.mayoclinic.com/health/p
ositive-thinking/SR00009
pada 30
Juli 2013 pukul 14.00.

Nasrudin, E, (2010).

Psikologi

Skills.
Hawari, D, (2004). Manajemen Stress,
Cemas, dan Depresi. Jakarta: Balai
Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.
Hendry, 2010. Populasi dan Sampel.
http://teorionline.wordpress.com/201
0/01/24/populasi-dansampel/comment-page-2/
.
Diakses
tanggal 25 Februari 2013 pukul

19.00
Hidayat, A. (2008). Pengantar Konsep
Dasar Keperawatan. Edisi 2.
Jakarta: Salemba Medika.
Jamaludin, (2007). Strategi Coping Stres
Penderita Diabetes Mellitus dengan
Self Monitoring sebagai Variabel
Mediasi. El-Qudwah: 04-2008
Kompas, (2005). Kuncinya Kendalikan
Faktor Resiko. Edisi 12 Agustus.

Manajemen. Jakarta: CV Pustaka


Setia,.
Putra, ST, (2011). Psikoneuroimunologi
Kedokteran. Surabaya: Pusat
Penerbitan dan Percetakan Unair.
Republika, 2006. Agar Pra-diabetes tak
Menjadi
Diabetes.
www.republika.co.id
Rohmah, 2012. Mekanisme Koping Pada
Penderita Diabetes Mellitus Di Poli
Penyakit Dalam Rsud Dr Soegiri
Lamongan. Skripsi. Surabaya:
Fakultas Keperawatan UNAIR
Scheier & Carver, 1994. Optimism
Assessment: Life Orientation TestRevised.
http://www.afterdeployment.org/sites
/default/files/pdfs/assessmenttools/optimism-assessment.pdf
Diakses tanggal 25 Februari 2013
pukul 19.00

Seligman, 1995. The Effectiveness of


Psychoterapy.
American
Psychologist. 50 (12: 965-974)

Kozier, dkk, (2011).


Fundamental
Keperawatan Edisi 7 Volume 2 .
Jakarta: EGC

Seligman, M. E. P, 1991..Learned
optimism. New York:Knopf
Shofia, (2009). Optimisme Masa Depan
Narapidana. Skripsi Publikasi
diakses
dari
http://etd.eprints.ums.ac.id/3603/1/F
100030092.pdf pada 15 Juli 2013
pukul 19.00
Simanjutak, 2011. Hubungan Antara Social
Support dengan
Optimisme pada

[Jurnal Florence]
[Type text]

Vol. VI No. 2 Juli 2013


[Type text] [Type text]

Orang dengan HIV/AIDS (ODHA).


Skripsi Tidak Diterbitkan. Medan:
Fakultas Psikologi USU
Smeltzer & Barre, 2002. Keperawatan
Medikal Bedah. Jakarta: EGC.
Sunaryo, (2004).
Psikologi untuk
Keperawatan. Jakarta: EGC
Sutjipto, 2007. Penerimaan Diri dan Stres
pada Penderita Diabetes Mellitus.
Naskah
publikasi.
http://psychology.uii.ac.id/images/st
ories/jadwal_kuliah/naskahpublikasi-02320180.pdf
.
Diakses
tanggal 25 Februari 2013 pukul
19.00

Suyono 2002, Stres Sebagai Salah Satu


Sebab Gangguan Menstruasi
Dalam: Seminar Kelainan
Menstruasi, Bag/SMF Obstetri
Ginekologi FK UNDIP RSUP Dr.
Kariadi , Semarang.
Tjokroprawiro, A, 2004. Hidup Sehat dan
Bahagia Bersama Diabetes. Jakarta:
Gramedia Pustaka

dipublikasikan,
Universitas
Airlangga, Surabaya.
Wrosch,C& Scheier,MF 2003. Personality
and Quality of Life : The importance of
optimism and goal adjustment. Quality of
Life Research. 2003;12 Suppl 1:59-72

Tjokroprawiro, A. 2000.
Diabetes
Mellitus: Klasifikasi, Diagnosis dan
Terapi Edisi 3. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.
Wade&Travis, 2007. Psikologi Jilid 2.
Jakarta: Penerbit Erlangga
Widayati, 2008.
Pengaruh Meditasi
Relaksasi Dalam Gerak Terhadap
Penurunan Tingkat Stres Dan Kadar
Gula Darah Pada Penderita
Diabetes Mellitus Tipe 2. Skripsi
tidak dipublikasikan Universitas
Airlangga, Surabaya
Widyanti, (2009). Gambaran Kebahagiaan
dan Karakteristik Positif pada
Wanita Dewasa Madya yang
Menjadi Caregiver Informal
Penderita Skizofrenia. Skripsi
Publikasi
diakses dari
http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/
126563-155.2%20RIM%20g%20%20Gambaran%20kebahagiaan%20%20Literatur.pdf pada 30 Juli 2013
pukul 14.00.
Wijayanti, W, 2006. Hubungan Antara
Stres Psikologik Dengan Kadar Gula
Darah Pada Penderita Diabetes
Mellitus Tipe 2.
Skripsi tidak