Anda di halaman 1dari 17

PENGKAJIAN MANAGEMEN

LAPORAN PERTANGGUNGJAWAB KEPALA DAERAH


I.

PENDAHULUAN
Sejalan dengan amanat UU No. 22 Tahun 1999, kebijakan otonomi daerah
diberikan dengan memberikan otonomi yang luas, nyata dan bertanggung jawab
kepada Daerah, disamping prinsip-prinsip demokrasi, peran serta masyarakat serta
pengembangan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). 1
Wewenang merupakan faktor penting dan mendasar dalam hal pembentukan
regulasi dan atau keputusan tata usaha negara (KTUN). Dalam kepustakaan hukum
administrasi, soal wewenang selalu menjadi bagian penting dan bagian awal hukum
administrasi, karena obyek hukum administrasi adalah wewenang pemerintahan
(bestuursbevoegdheid).2 Dalam konsep hukum publik, wewenang merupakan konsep
inti dalam hukum tata negara dan hukum administrasi.3 Dalam hukum tata negara,
wewenang (bevoegdheid) dideskripsikan sebagai kekuasaan hukum (rechtsmacht).
Dengan demikian dalam konsep hukum publik, wewenang berkaitan erat dengan
kekuasaan.4
Sebagai suatu konsep hukum publik, wewenang terdiri atas sekurangkurangnya tiga komponen, yaitu :
a.
Pengaruh;
b.
Dasar Hukum;
c.
Konformitas Hukum.5
Komponen pengaruh bermakna bahwa penggunaan wewenang dimaksudkan
untuk mengendalikan perilaku subyek hukum. Komponen dasar hukum bermakna
bahwa wewenang itu harus selalu dapat ditunjuk dasar hukumnya dan komponen
konformitas hukum, bermakna adanya standar wewenang yakni standar umum (untuk
semua jenis wewenang) dan adanya standar khusus (untuk jenis wewenang tertentu). 6
Ruang lingkup wewenang pemerintahan, tidak hanya meliputi wewenang untuk
membuat keputusan pemerintahan (besluit), tetapi juga semua wewenang dalam
rangka melaksanakan tugasnya.7 Wewenang pemerintahan perolehannya dapat terjadi
dengan : atribusi, delegasi, mandat dan atau karena kerja sama.8
Suatu produk hukum yang tidak didasarkan atas wewenang secara tepat dan
benar, dapat berakibat produk hukum yang bersangkutan cacat hukum, yang nota bene
dapat berakibat batal, baik batal mutlak, batal demi hukum maupun dapat dibatalkan.
Penggunaan wewenang secara tidak tepat dan tidak benar tersebut dapat terjadi
antara lain karena :
a. Tidak bersendikan wewenang (on bevoegdheid);
b. Sewenang-wenang (willekeur);
c. Menyalahgunakan wewenang (detournement de pavoir);
d. Melampui batas wewenang (ultra vires)
Salah satu bentuk pengembangan peran dan fungsi DPRD adalah dengan cara
pemilihan dan penetapan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah melalui proses
yang seluruhnya dilaksanakan oleh DPRD, serta melalui pertanggungjawaban Kepala
Daerah kepada DPRD.9
Pada prinsipnya pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada DPRD
merupakan kewajiban Pemerintah Daerah untuk menjelaskan kinerja penyelenggaraan
pemerintahan kepada masyarakat.10
Untuk menjaga kesinambungan penyelenggaraan pemerintahan daerah, pada
prinsipya masa jabatan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah adalah 5 (lima)
1

tahun. Pertanggungjawaban akhir tahun anggaran Kepala Daerah kepada DPRD


bersifat sebagai laporan pelaksanaan tugas (progress report). Oleh karena itu
pertanggungjawaban akhir tahun anggaran Kepala Daerah kepada DPRD bukanlah
merupakan wahana untuk menjatuhkan Kepala Daerah, akan tetapi lebih merupakan
wahana untuk penilaian dan perbaikan kinerja penyelenggaraan pemerintahan
Daerah.11
Pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada DPRD tidak semata-mata
dimaksudkan sebagai upaya untuk menemukan kelemahan pelaksanaan pemerintahan
daerah, melainkan juga untuk meningkatkan efisiensi, efektifitas, produktifitas dan
akuntabilitas penyelenggaraan pemerintahan dan fungsi pengawasan DPRD terhadap
jalannya pemerintahan.12
Pertanggungjawaban
Kepala
Daerah
kepada
DPRD
meliputi
pertanggungjawaban akhir tahun anggaran, akhir masa jabatan dan hal tertentu.
Pertanggungjawaban akhir tahun anggaran merupakan pertanggungjawaban
pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), pertanggungjawaban
akhir masa jabatan merupakan pertanggungjawaban selama masa jabatan Kepala
Daerah, sedangkan pertanggunjawaban hal tertentu merupakan pertanggungjawaban
atas dugaan tindak pidana.13
Untuk menjamin kesungguhan Kepala Daerah dan perangkat daerah dalam
melaksanakan tugas dan kewenangan yang dibebankan, Kepala Darah harus membuat
Rencana Strategi (Renstra) atau Dokumen Perencanaan lainnya yang disepakati
bersama dengan DPRD sebagai tolok ukur penilaian pertanggungjawaban Kepala
Daerah.14
II.

DEMOKRATISASI PEMERINTAHAN
Kepustakaan yang membahas tentang demokratisasi pemerintahan
memaparkan bahwa keterbukaan sebagai salah satu syarat minimum demokrasi
pemerintahan yang merupakan suatu conditio sine qua non. Salah satu diantaranya
adalah buku yang berjudul : Beginselen van de democratische rechtsstaat yang
ditulis Prof. M.C. Burkens, et al. Dalam tulisannya tersebut dipaparkan tentang syarat
minimum untuk adanya demokrasi dua persyaratan penting diantaranya adalah :
a.
Badan Perwakilan Rakyat mempengaruhi pengambilan keputusan melalui sarana
(mede) beslissings recht (hak untuk ikut memutuskan) dan atau melalui
wewenang pengawasan;
b.
Asas keterbukaan dalam pengambilan keputusan dan sifat keputusan yang
terbuka.15
Tanpa keterbukaan tidak mungkin ada peran serta masyarakat. Berbagai
peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang peran serta masyarakat antara
lain :
UU No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, UU No. 24 Tahun
1992 Tentang Penataan Ruang, UU No. 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi.
Untuk dapat memahami dan mempertajam konsep keterbukaan dan peran serta
masyarakat dalam pembentukan regulasi dan keputusan tata usaha negara (KTUN) dan
praktek penyelenggaraan pemerintahan, kiranya dipandang perlu untuk dilakukan
pendekatan perbandingan (comparative approach) dengan hukum tata negara dan
hukum administrasi Belanda.
Keterbukaan baik openheid maupun openbaarheid (openheid adalah
suatu sikap mental berupa kesediaan untuk memberi informasi dan kesediaan untuk
2

menerima pendapat pihak lain; dan openbaarheid menunjukkan suatu keadaan)


sangat penting artinya bagi pembentukan regulasi dan KTUN serta pelaksanaannya
yang baik dan demokratis. Dengan demikian keterbukaan dipandang sebagai suatu
asas ketatanegaraan mengenai pelaksanaan wewenang secara layak (staatsrechtelijk
beginsel van behoorlijke bevoegdheidsuitoefening).16
Dalam hukum tata negara dan hukum administrasi, keterbukaan merupakan
asas penyelenggaraan pemerintahan yang bertumpu atas asas demokrasi (partisipasi).
Demokrasi perwakilan telah lama dirasakan tidak memadai. Dalam konsep demokrasi
partisipasi rakyat mempunyai hak untuk ikut memutuskan (medebeslissingsreht)
dalam proses pengambilan keputusan pemerintahan (besluitvormingsproces).17
Dalam praktek pemerintahan di Belanda sebagai pelaksanaan asas keterbukaan
mula-mula melalui asas fair play sebagai salah satu apa yang disebut algemene
beginselen van behoorlijk bestuur (asas-asas umum pemerintahan yang baik).
Dengan lahirnya Wet Openbaarheid van Bestuur (WOB) yang efektif sejak tanggal 1
Mei 1980, asas fair play dimasukkan dalam WOB tersebut. Dalam WOB dibedakan
adanya dua macam keterbukaan pemerintahan, yakni keterbukaan aktif dilaksanakan
oleh atau atas prakarsa pemerintah, sedangkan keterbukaan pasif dilaksanakan atas
prakarsa warga masyarakat.18
Dalam WOB Belanda hanya diatur mengenai keterbukaan informasi sebagai
landasan atau dasar hubungan antara pemerintah dan rakyat, sedangkan pada dasarnya
keterbukaan pemerintahan tidak hanya menyangkut keterbukaan informasi saja,
melainkan juga meliputi keterbukaan sidang-sidang badan perwakilan rakyat,
keterbukaan prosedur dan keterbukaan register.19
Keterbukaan dalam sidang-sidang badan perwakilan rakyat berkaitan dengan
fungsi pengawasan yang dimiliki badan perwakilan rakyat. Keterbukaan dalam
pengambilan keputusan-keputusan politik memungkinkan pengawasan dan bagi
pembuat keputusan akan mendorong sikap berhati-hati dalam pengambilan
keputusan.20
Peraturan tata tertib DPR RI mengatur asas keterbukaan sidang DPR
sebagaimana tertuang dalam Keputusan DPR RI No. 10/DPR-RI/III/82-83, dalam
pasal 96 ayat (1) disebutkan :
Rapat Paripurna, Rapat Paripurna Luar Biasa, Rapat Komisi, Rapat Gabungan
Komisi, dan Rapat Panitia Khusus pada dasarnya bersifat terbuka, kecuali apabila
rapat yang bersangkutan atau Badan Musyawarah memutuskan rapat tersebut
bersifat tertutup.
Disamping itu hal yang penting ialah adanya saluran bagi rakyat untuk
menyalurkan aspirasinya melalui DPR. Demikian pula ketentuan tentang dengar
pendapat umum (vide Pasal 59 ayat (4) c) merupakan sarana yang patut untuk
dioptimalkan, sehingga pembentukan peraturan perundang-undangan dan perumusan
kebijakan publik lainnya betul-betul mengikut sertakan masyarakat.21
Keterbukaan informasi yang dibedakan atas keterbukaan aktif dan keterbukaan
pasif berkaitan dengan dokumen-dokumen pemerintahan. Keterbukaan informasi
memungkinkan dalam batas-batas tertentu bagi masyarakat untuk mengetahui
dokumen-dokumen pemerintahan. Fiksi hukum yang menyatakan bahwa : setiap
orang dianggap mengetahui undang-undang, tidaklah ada artinya apabila undangundang tidak di publikasikan secara luas.22
Keterbukaan prosedur berkaitan dengan besluitvormingsprocedures dan
salah satu dari besluit yang sangat penting adalah beschikking atau keputusan tata
usaha negara.23
3

Keterbukaan prosedur memungkinkan masyarakat melakukan : ikut


mengetahui (meewetten), ikut bermusyawarah (meespreken), ikut memikirkan
(meedenken), ikut memutuskan dalam rangka pelaksanaan (meebeslissen) dan berhak
ikut memutus (medebeslissingsrecht).24
Asas-asas tersebut harus dituangkan dalam prosedur pengambilan keputusan
pemerintahan, baik yang menyangkut perencanaan, kebijakan, maupun pembentukan
peraturan perundang-undangan.25
Keterbukaan register di Indonesia dikenal antara lain dalam hukum kadaster,
yakni keterbukaan buku tanah. Keterbukaan seperti itu disatu pihak memang
memberikan informasi kepada masyarakat mengenai hak atas tanah yang sudah
didaftarkan, dan disamping itu memberikan jaminan perlindungan hukum terhadap
hak-hak tanah yang sudah didaftarkan.26
Keterbukaan merupakan pelaksanaan asas demokrasi bahkan merupakan
conditio sine qua non asas demokrasi. Keterbukaan memungkinkan partisipasi
masyarakat secara aktif dalam menilai dan mengkritisi pertanggungjawaban Bupati.27
Keterbukaan dalam hubungan antara pemerintah dan rakyat, kiranya
merupakan prioritas pemikiran untuk mendapatkan perhatian khusus, agar dapat
diujudkan segera dalam proses hubungan antara pemerintah dan rakyat. Pembangunan
yang hanya menempatkan posisi hukum sebagai sarana, diragukan kemampuannya
untuk mewujudkan negara hukum RI, karena perwujudan negara hukum yang hakiki
adalah usaha mewujudkan cita hukum (recht idee).28, oleh karenanya layak kiranya
hukum diperankan sebagai panglima.
Dengan demikian prinsip keterbukaan dapat dijadikan tolok ukur terhadap
berbagai perbuatan pemerintahan, dalam hal ini dapat digunakan untuk menilai dan
mengkritisi kinerja pemerintahan daerah. Dengan tidak diterapkannya prinsip
keterbukaan terhadap kebijakan dan kinerja pemerintahan, maka kondisi tersebut
menunjukkan adanya indikasi KKN, karena tidak memberikan kesempatan kepada
publik untuk berperan serta melakukan fungsi pengawasan, agar kegiatan dan kinerja
pemerintahan yang bersangkutan dapat berdaya guna dan berhasil guna.
III.

PERAN SERTA MASYARAKAT


PEMERINTAHAN DAERAH

DALAM

MENGKRITISI

KINERJA

Pada prinsipnya peran serta masyarakat berkaitan dengan asas keterbukaan.


Tanpa keterbukaan tidak mungkin ada peran serta masyarakat. Seperti telah
dipaparkan bahwa dalam hukum tata negara dan hukum administrasi, keterbukaan
merupakan asas penyelenggaraan pemerintahan yang bertumpu atas asas demokrasi
(partisipasi). Tanpa mengurangi makna demokrasi perwakilan yang dewasa ini masih
merupakan fiksi hukum sebagai lembaga penyalur aspirasi rakyat, namun dalam
realitasnya telah lama dirasakan tidak memadai. Dalam konsep demokrasi partisipasi,
rakyat mempunyai hak untuk memutuskan (medebeslessingrecht) dalam proses
pengambilan keputusan pemerintahan (besluitvormingsproces), termasuk di dalamnya
proses pengambilan keputusan mengenai laporan pertanggungjawaban Bupati.
Dalam suatu sistem pemerintahan yang demokratis, keterbukaan prosedur
berkaitan dengan besluitvormingsprocedures, dan salah satu dari besluit yang sangat
penting adalah beschikking atau keputusan tata usaha negara (KTUN).
Keterbukaan prosedur memungkinkan masyarakat melakukan partisipasi dalam
bentuk : ikut mengetahui (meewetten), ikut bermusyawarah (meespreken), ikut
memikirkan (meedenken), ikut memutuskan dalam rangka pelaksanaan (meebeslissen),
4

dan berhak ikut memutuskan (medebeslissingsrect) atas suatu regulasi atau KTUN,
termasuk penilaian terhadap pertanggungjawaban Bupati.
Dalam bidang hukum pidana, peran serta masyarakat telah diatur secara
konkret sebagai berikut :
(1) Masyarakat dapat berperan serta membantu upaya pencegahan dan pemberantasan
tindak pidana korupsi;
(2) Peran serta masyarakat dapat diwujudkan dalam bentuk :
a. Hak mencari, memperoleh dan memberikan informasi adanya dugaan telah
terjadi tindak pidana korupsi;
b. Hak untuk memperoleh pelayanan dalam mencari, memperoleh dan
memberikan informasi adanya dugaan telah terjadi tindak pidana korupsi
kepada penegak hukum yang menangani perkara tindak pidana korupsi;
c. Hak menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggung jawab kepada
penegak hukum yang menangani perkara tindak pidana korupsi;
d. Hak untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan tentang laporannya yang
diberikan kepada penegak hukum dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh)
hari;
e. Hak untuk memperoleh perlindungan hukum dalam hal :
1)
melaksanakan haknya sebagaimana dimaksud dalam huruf a, b, c tersebut
diatas;
2)
diminta hadir dalam proses penyelidikan, penyidikan dan disidang pengadilan
sebagai saksi pelapor, saksi, atau saksi ahli, sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.29
IV.

MEKANISME PENILAIAN LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN KEPALA


DAERAH
1. Beberapa Pengertian
a.

b.

c.

d.

e.

f.

g.

Menilai berarti menimbang, yakni sesuatu kegiatan untuk menghubungkan


sesuatu dengan sesuatu yang lain, yang kemudian dilanjutkan dengan
memberikan keputusan.30
Kepala Daerah dalam hal ini Bupati / Walikota dan atau Gubernur dalam
menjalankan tugas dan kewajibannya bertanggungjawab kepada DPRD.
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) adalah DPRD Kabupaten / Kota
dan atau Propinsi.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) adalah suatu perkiraan
(rencana) keuangan tahunan daerah yang ditetapkan berdasarkan Peraturan
Daerah (Perda) tentang APBD.
Rencana Strategik (Renstra) atau Dokumen Daerah lainnya yang disahkan
oleh DPRD dan Kepala Daerah, adalah rencana lima tahunan yang
menggambarkan visi, misi, tujuan, strategi, program dan kegiatan daerah.
Laporan Pertanggungjawaban Akhir Tahun Anggaran (LP-ATA) adalah
laporan pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada DPRD atas
penyelenggaraan pemerintahan daerah selama satu tahun anggaran, yang
merupakan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD berdasarkan tolok ukur
Renstra;
Laporan Pertanggungjawaban Akhir Masa Jabatan (LP-AMJ) adalah laporan
Kepala Daerah kepada DPRD atas penyelenggaraan pemerintahan daerah
selama masa jabatan Kepala daerah berdasarkan tolok ukur Renstra;
5

h.

i.

Laporan Pertanggungjawaban untuk Hal Tertentu (LP-HT) adalah laporan atau


perbuatan pribadi Kepala Daerah atau Wakil Kepala Daerah yang diduga
mengandung unsur tindak pidana sewaktu-waktu selama masa jabatan;
Komisi Penyelidik Independen (KPI) adalah suatu Komisi atau Panitia
independen yang dibentuk oleh Gubernur atas nama Menteri Dalam Negeri
dan atau yang dibentuk Oleh Mendagri dan Otda atas nama Presiden, yang
bertugas menyelidiki alasan dan penyebab penolakan pertanggungjawaban
Kepala Daerah.31

2. Pertanggungjawaban Bupati (Ilustrasi Pertanggungjawaban Kepala Daerah)


Dalam menjalankan tugas dan kewajiban sebagai Kepala Daerah, Bupati
bertanggungjawab kepada DPRD. Pertanggung jawaban Bupati disampaikan
dalam bentuk :
a. Laporan Pertanggungjawaban Akhir Tahun Anggaran (LP-ATA);
b. Laporan Pertanggungjawaban Akhir Masa Jabatan (LP-AMJ);
c. Laporan Pertanggungjawaban untuk Hal Tertentu (LP-HT).
Pertanggungjawaban Bupati dinilai berdasarkan tolok ukur Renstra. Setiap daerah
wajib membuat Renstra dalam bentuk Perda, dalam tempo satu bulan setelah
Kepala Daerah dilantik.32
2.1. Laporan Pertanggungjawaban Akhir Tahun Anggaran (LP-ATA)
LP-ATA merupakan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD dalam
bentuk perhitungan APBD berikut penilaian kinerja berdasarkan tolak ukur
Renstra. LP-ATA dibacakan oleh Bupati didepan Sidang Paripurna DPRD,
paling lambat 3(tiga) bulan setelah berakhirnya tahun anggaran. Dokumen
LP-ATA setelah dbacakan oleh Bupati, kemudian diserahkan kepada DPRD,
kemudian dilakukan penilaian oleh DPRD sesuai dengan mekanisme dan
ketentuan yang berlaku dan dalam tempo paling lambat 1 (satu) bulan setelah
dokumen LP-ATA diserahkan, penilaian tersebut harus selesai. Apabila
sampai dengan 1 (satu) bulan sejak penyerahan dokumen, penilaian DPRD
ternyata belum selesai, maka LP-ATA tersebut dianggap diterima.33
Ada dua kemungkinan hasil penilaian DPRD terhadap LP-ATA yang
diajukan oleh Bupati, yakni LP-ATA diterima atau kemungkinkan yang kedua
LP-ATA ditolak.
LP-ATA dapat ditolak apabila terdapat perbedaan yang nyata antara
rencana dengan realisasi APBD, yang merupakan penyimpangan yang
alasannya tidak dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan tolok ukur
Renstra. Penilaian LP-ATA dilaksanakan dalam Rapat Paripurna DPRD yang
dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota
DPRD, dan harus mendapat persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 (dua
pertiga) dari jumlah anggota DPRD yang hadir dan mencakup seluruh
Fraksi.34
2.1.1. Revisi Laporan Pertanggungjawaban Akhir Tahun Anggaran
Apabila LP-ATA ditolak oleh DPRD, maka Bupati wajib
melengkapi dan atau menyempurnakan LP-ATA yang bersangkutan
dalam tempo paling lambat 30 (tiga puluh) hari. Apabila Bupati tidak
6

melengkapi dan atau menyempurnakan dokumen LP-ATA dalam


jangka waktu 30 (tiga puluh) hari, DPRD dapat mengusulkan
pemberhentian Bupati kepada Menteri Dalam Negeri dan Otonomi
Daerah melalui Gubernur.35
DPRD melakukan penilaian atas LP-ATA yang telah
disempurnakan paling lambat 1 (satu) bulan setelah LP-ATA tersebut
diserahkan kepada DPRD. Ada kemungkinan juga LP-ATA yang telah
disempurnakan dapat ditolak oleh DPRD, apabila dalam LP-ATA yang
telah disempurnakan itu masih tidak dapat dipertanggungjawabkan
berdasarkan tolok ukur Renstra. Penilaian DPRD atas LP-ATA yang
telah disempurnakan, dilaksanakan dalam rapat paripurna DPRD yang
dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah
anggota DPRD. Penolakan DPRD atas LP-ATA yang telah
disempurnakan hanya dapat diputuskan atas persetujuan sekurangkurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah yang hadir dan mecakup
seluruh fraksi.36
Apabila LP-ATA Bupati ditolak untuk keduakalinya, DPRD
mengusulkan pemberhentian Bupati kepada Menteri Dalam Negeri
dan Otonomi Daerah melalui Gubernur.37
2.1.2. Komisi Penyelidik Independen
Dalam hal LP-ATA ditolak untuk kedua kalinya Gubernur
membentuk Komisi Penyelidik Independen untuk Kabupaten, yang
terdiri dari para ahli yang berkompeten, independen, non partisan
yang kredibilitasnya diakui oleh masyarakat, dan berdomisili di
wilayah Propinsi setempat, dengan jumlah anggota Komisi paling
banyak 7 (tujuh) orang.38 Komisi tersebut bertugas membantu
Pemerintah untuk menilai kesesuaian keputusan penolakan DPRD
terhadap LP-ATA yang dbuat oleh Bupati dengan peraturan
perundangan yang berlaku. Hasil penilaian atas LP-ATA Bupati oleh
Komisi disampaikan kepada Gubernur dengan tembusan kepada
Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah. Masa tugas Komisi
berakhir setelah proses pertanggungjawaban Bupati dinyatakan
selesai. Apabila Komisi menilai keputusan DPRD atas penolakan LPATA Bupati telah sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku,
usul pemberhentian Bupati yang bersangkutan diteruskan kepada
Menteri Dalam negeri dan Otnomi Daerah untuk disahkan.39
Apabila Komisi menilai keputusan DPRD atas penolakan LPATA Bupati ternyata tidak sesuai dengan peraturan perundangan yang
berlaku, Menteri Dalam negeri dan Otonomi Daerah membatalkan
keputusan DPRD tersebut. Dengan dibatalkannya keputusan DPRD
atas penolakan LP-ATA Bupati, maka :
a.
Usul pemberhentian Bupati yang bersangkutan dinyatakan
ditolak;
b.
DPRD merehabilitasi nama baik Bupati yang bersangkutan.40
2.2. Laporan Pertanggungjawaban Akhir Masa Jabatan (LP-AMJ)

LP-AMJ merupakan pertanggungjawaban atas pelaksanaan tugastugas umum pemerintahan dan pembangunan yang merupakan kinerja
Bupati selama masa jabatan Bupati, berdasarkan tolok ukur Renstra. LPAMJ dibacakan oleh Bupati di depan sidang Paripurna DPRD, paling
lambat 2 (dua) bulan sebelum berakhirnya masa jabatan Bupati. Setelah
dibacakan oleh Bupati, dokumen LP-AMJ diserahkan kepada DPRD, untuk
selanjutnya dilakukan penilaian sesuai dengan mekanisme dan peraturan
perundangan yang berlaku. Penilaian DPRD atas LP-AMJ Bupati
disampaikan paling lambat selesai 1 (satu) bulan setelah dokumen LP-AMJ
diterima oleh DPRD. Apabila sampai dengan 1 (satu) bulan setelah
diterimanya dokumen LP-AMJ oleh DPRD, ternyata DPRD belum dapat
memutuskan penilaiannya, maka LP-AMJ yang bersangkutan dianggap
diterima.41
LP-AMJ Bupati dapat ditolak, apabila terdapat perbedaan yang nyata
antara pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang merupakan
penyimpangan yang alasannya tidak dapat dipertanggungjawabkan
berdasarkan tolok ukur Renstra. Penilaian atas LP-AMJ Bupati dilaksanakan
dalam Rapat Parpurna DPRD yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3
(dua pertiga) dari jumlah anggota DPRD. Penolakan DPRD dilakukan
dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah
anggota DPRD yang hadir, yang terdiri dari seluruh Fraksi. Apabila LPAMJ Bupati ditolak, maka Bupati dan Wakil Bupati yang bersangkutan
tidak dapat dicalonkan kembali sebagai calon Bupati dan calon Wakil
Bupati untuk masa jabatan berikutnya. 42
2.3. Laporan Pertanggungjawaban untuk Hal Tertentu (LP-HT)
LP-HT merupakan keterangan sebagai wujud pertanggungjawaban
Bupati yang berkaitan dengan dugaan atas perbuatan pidana Bupati dan atau
Wakil Bupati yang oleh DPRD dinilai dapat menimbulkan krisis kepercayaan
publik yang luas. Bupati atau Wakil Bupati dapat dipanggil oleh DPRD atau
dengan inisiatif sendiri untuk memberikan keterangan atas dugaan perbuatan
pidana. Pemanggilan Bupati dalam hal ada dugaan melakukan perbuatan
pidana, dilakukan atas permintaan sekurang-kurangnya 1/3 (sepertiga) dari
seluruh anggota.43
DPRD mengadakan Sidang Paripurna untuk membahas keterangan
yang disampaikan Bupati dan atau Wakil bupati atas dugaan telah melakukan
perbuatan pidana, paling lambat 1 (satu) bulan sejak Bupati dan atau Wakil
Bupati memberikan keterangan. DPRD dapat membentuk Panitia Khusus
(PANSUS) untuk menyelidiki kebenaran keterangan yang disampaikan
Bupati dan atau Wakil Bupati. Berdasarkan hasil penyelidikan PANSUS,
DPRD dapat mengambil kebuputusan untuk menerima atau menolak
keterangan Bupati atau Wakil Bupati untuk hal tertentu.44
Apabila DPRD menolak keterangan Bupati dan atau Wakil Bupati
sehubungan dengan adanya dugaan telah melakukan perbuatan pidana, DPRD
menyerahkan penyelesaiannya kepada pihak yang berwenang sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penyelidikan dapat dilakukan
setelah mendapat izin dari Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah bagi
Bupati. Apabila Bupati dan atau Wakil Bupati berstatus sebagai terdakwa,
Menteri Dalam Negeri dan otonomi Daerah memberhentikan sementara
8

Bupati dan atau Wakil Bupati dari jabatannya. Apabila keputusan pengadilan
telah mempunyai kekuatan hukum tetap dan menyatakan Bupati dan atau
Wakil Bupati tidak bersalah, Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah
mencabut pemberhentian sementara serta merehabilitasi nama baik Bupati
dan atau Wakil Bupati.45
3. Beberapa Aspek Pertanggungjawaban Kepala Daerah
Sesuai dengan UU No. 22 Tahun 1999, kebijakan otonomi daerah
dilaksanakan dengan memberikan kewenangan yang luas, nyata dan bertanggung
jawab kepada daerah, disamping prinsip-prinsip demokrasi, peran serta masyarakat
serta pengembangan peran dan fungsi DPRD. Salah satu bentuk pengembangan
peran dan fungsi DPRD adalah melalui pertanggungjawaban Kepala Daerah
kepada DPRD.
Pada dasarnya pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada DPRD
merupakan kewajiban Pemerintah Daerah (Pemda) untuk menjelaskan kinerja
penyelenggaraan pemerintahan kepada masyarakat.
Khusus mengenai laporan pertanggungjawaban akhir tahun anggaran (LPATA) Kepala Daerah terdiri atas :
a. Laporan Perhitungan APBD;
b. Nota Perhitungan APBD;
c. Laporan Aliran Kas;
d. Neraca Daerah.
Keempat aspek tersebut dilengkapi dengan penilaian kinerja berdasarkan tolok
ukur Renstra, yang didasarkan pada indikator :
a.
Dampak : bagaimana dampaknya terhadap kondisi makro yang ingin dicapai
berdasarkan manfaat yang dihasilkan.
b.
Manfaat : bagaimana tingkat kemanfaatan yang dapat dirasakan sebagai
nilai tambah masyarakat, maupun pemerintah.
c.
Hasil
: bagaimana tingkat pencapaian kinerja yang diharapkan terwujud
berdasarkan keluaran (output) kebijakan atau program yang sudah
dilaksanakan.
d.
Keluaran : bagaimana bentuk produk yang dihasilkan langsung oleh
kebijakan atau program berdasarkan masukan (input) yang
digunakan.
e.
Masukan : bagaimana tingkat atau besaran sumber-sumber yang digunakan
sumber daya manusia, dana, material, waktu, teknologi dan
sebagainya.46
V.

MANAJEMEN LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN KEPALA DAERAH


1. Manajemen Strategis Laporan Pertanggungjawaban
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) disusun dengan
menggunakan kinerja. Hal ini berarti bahwa penyusunan APBD didasarkan atas
prinsip-prinsip manajemen strategis.47
Tata cara pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada DPRD, pada
prinsipnya adalah sebagai berikut :
9

a.

Pertanggungjawaban Kepala Daerah dinilai berdasarkan Renstra;


Setiap daerah wajib menetapkan Renstra dalam jangka waktu 1 (satu) bulan
setelah Kepala Daerah dilantik;
c.
Renstra ditetapkan dengan Peraturan Daerah (Perda).48
Dengan demikian dapat diketahui urgensi dipergunakannya Renstra dalam
penyelenggaraan pemerintahan daerah. Dalam manajemen strategis dikenal adanya
dua varian utama, yakni :
a. Penyusunan Rencana Strategis;
b. Penyusunan Manajemen Kinerja.
Dasar pengukuran kinerja pelayanan yang diberikan oleh Pemda adalah
adanya perencanaan strategis (Renstra) yang menjadi dasar bagi kegiatan Pemda.
Perencanaan strategis merupakan bagian dari manajemen strategis. Evaluasi dari
pelaksanaan manajemen strategis adalah Manajemen Kinerja. Konsep
manajemen kinerja adalah sebagai dasar dalam mengukur atau mengevaluasi
kinerja pelaksanaan Pemda.49
Perencanaan strategis meliputi tahapan-tahapan, yakni : visi, misi, nilai,
asumsi, analisis strategis dan pilihan, faktor kunci keberhasilan, tujuan organisasi,
sasaran organisasi, strategi organisasi (kebijakan program dan kegiatan),
perencanaan strategis pertama, kedua dan seterusnya.50
Manajemen kinerja meliputi tahapan-tahapan, yakni : perencanaan
pengukuran dan evaluasi kinerja, penentuan akuntabilitas publik, pemantauan dan
balikan (feed back).51
b.

2. Orientasi Manajemen Strategis Pemda


Manajemen strategis mempunyai 3 (tiga) tujuan utama, yakni :
Menginginkan tumbuhnya perubahan di berbagai bidang secara terus menerus;
b.
Menekankan pada pencapaian hasil kegiatan (outcome) dan keluaran (output);
c.
Meningkatnya kemampuan pengukuran kinerja (performance).52
Dengan demikian dapat diketahui bahwa manajemen strategis lebih
berorientasi pada hasil kegiatan (outcome) dan keluaran (output), yang meliputi
pengertian-pengertian sebagai berikut :
a.
Pelayanan yang benar;
b.
Mutu pelayanan yang baik;
c.
Kenyamanan terhadap masyarakat yang dilayani;
d.
Akuntabilitas.53
a.

3. Orientasi Manajemen Kinerja Pemda


Manajemen kinerja beorientasi pada perumusan dan penetapan pengukuran
kinerja terhadap implementasi perencanaan strategis guna akuntabilitas serta
memonitor hasilnya guna evaluasi maupun balikan (feed back).54
4. Urgensi Dan Aspek Akuntabilitas Pemda
Urgensi dari suatu akuntabilitas yakni bahwa menjadi kewajiban
seseorang / badan hukum atau pimpinan kolektif suatu organisasi untuk
mempertanggungjawabkan dan menjelaskan kinerja dan atau tindakannya, kepada
pihak-pihak yang mempunyai hak untuk meminta jawaban serta penjelasan atas
seluruh tindakannya.55
10

Keberhasilan atau kegagalan penyelenggaraan misi organisasi dapat diukur


melalui evaluasi terhadap kinerja yang dihasilkan.56
Kinerja bermakna sebagai hasil kerja suatu organisasi dalam rangka
mewujudkan tujuan strategis, kepuasan pihak yang dilayani serta kontribusinya
terhadap lingkungan strategis.57
Akuntabilitas mengandung 3 (tiga) aspek utama, yakni :
a.
Aspek akuntabilitas manajerial yang berfokus pada efisiensi dalam
mengalokasikan sumber daya manajemen, antara lain : tenaga kerja, dana,
aset, dan sumber daya lainnya;
b.
Aspek akuntabilitas proses yang fokus pertanggungjawabannya pada strategi
dan kebijakan yang digunakan untuk mendukung kegiatan-kegiatan yang
ditempuh, mulai dari proses perencanaan, penganggaran, pengorganisasian,
sampai dengan evaluasi serta tindakan-tindakan koreksinya untuk dicocokkan
sesuai tidaknya dengan misi organisasi.
c.
Aspek akuntabilitas program, yang fokusnya adalah pada pencapaian hasil
kegiatan instansi, sudah atau belum memberikan kepuasan / kenyamanan
kepada pihak yang dilayani, dan pihak-pihak lain yang berkepentingan serta
memberikan dampak positif kepada kemajuan masyarakat.58
5. Kebijakan Dan Strategi Organisasi Pemda
Kebijakan adalah kumpulan keputusan mengenai :
Pedoman pelaksanaan tindakan atau kegiatan tertentu;
b.
Pengaturan mekanisme tindakan untuk mencapai tujuan atau sasaran;
c.
Penciptaan situasi yang mengarah kepada kondisi-kondisi untuk menciptakan
dukungan dalam implementasi.59
Untuk melaksanakan strategi diperlukan kebijakan dari pimpinan
organisasi.
Tujuan dan sasaran merupakan sesuatu yang esensial yang ingin dicapai
oleh organisasi. Cara untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut dinamakan
strategi organisasi, yang merupakan suatu proses keputusan untuk memilih
alternatif cara terbaik dalam upaya pencapaian tujuan dan sasaran tersebut.60
a.

6. Rencana Operasional Kebijakan Pemda


Penetapan kebijakan suatu organisasi termasuk didalamnya Pemda,
umumnya dituangkan dalam bentuk rencana operasional.
Kebijakan tersebut bervariasi, antara lain berupa :
a.
Kebijakan publik yang berdampak pada masyarakat;
b.
Kebijakan alokasi sumber daya organisasi;
c.
Kebijakan teknis sesuai dengan kewenangan organisasi yang bersangkutan;
d.
Kebijakan pelayanan masyarakat.61
7. Indikator Kinerja Pemda
Yang dimaksud dengan indikator kinerja yaitu ukuran kuantitatif maupun
kualitatif yang dapat menggambarkan tingkat pencapaian sasaran dan tujuan
organisasi (Pemda), baik pada tahap perencanaan (ex-ante), tahap pelaksanaan (on
going), maupun tahap setelah kegiatan selesai (ex-post).62
11

Indikator kinerja organisasi (Pemda), berkaitan dengan persyaratan sebagai


berikut :
a.
Spesifik dan jelas, hal ini bermanfaat untuk menghindari kesalahan
interpretasi;
b.
Terukur secara obyektif, baik secara kuantitatif maupun kualitatif;
c.
Relevan, dalam arti dapat digunakan untuk menangani aspek-aspek yang
urgen;
d.
Dapat menunjukkan keberhasilan, baik masukan (input), keluaran (output),
hasil (outcome), manfaat, maupun dampak;
e.
Fleksibel dan sensitif terhadap perubahan pelaksanaan;
f.
Efektif, dalam arti bahwa datanya mudah diperoleh, diolah, dianalisis dengan
biaya yang tersedia.63
Indikator kinerja organisasi (Pemda) bervariasi, antara lain :
a.
Indikator kinerja masukan (input), yakni segala sesuatu yang dibutuhkan agar
pelaksanaan kegiatan dapat menghasilkan keluaran yang ditentukan, misalnya :
dana, informasi, SDM, kebijakan dan lain sebagainya;
b.
Indikator kinerja proses, yakni segala besaran yang menunjukkan upaya untuk
mengolah masukan (input) menjadi keluaran (output);
c.
Indikator kinerja hasil (outcome), yakni segala sesuatu yang mencerminkan
berfungsinya keluaran (output) kegiatan pada jangka menengah (efek
langsung);
d.
Indikator kinerja manfaat, yakni segala sesuatu yang terkait dengan tujuan
akhir dari pelaksanaan kegiatan;
e.
Indikator kinerja dampak, yakni pengaruh yang ditimbulkan baik positif
maupun negatif pada setiap tingkatan indikator, berdasarkan asumsi yang telah
ditetapkan.64
Standar kinerja merupakan ukuran tingkat kinerja yang diharapkan tercapai
dan yang dinyatakan dalam suatu pernyataan kuantitatif. Penetapan standar kinerja
organisasi (Pemda) dapat bersumber dari peraturan perundang-undangan yang
berlaku, keputusan manajemen, pendapat para ahli, atau atas dasar pengalaman
dari pekerjaan yang sama tahun-tahun sebelumnya. 65
Standar kinerja yang baik harus memenuhi persyaratan, antara lain : dapat
dicapai (attainable) dalam kondisi yang ada, ekonomis, mudah diterapkan,
konsisten, menyeluruh meliputi seluruh aktivitas yang terkait, mudah dimengerti
(understandable), terukur (measureable) dan presisi, stabil dalam kurun waktu
yang cukup lama, dapat diadaptasi dalam berbagai keadaan, didukung peraturan
yang berlaku (legitimate), fokus kepada pihak yang dilayani, dapat diterima
sebagai pembanding oleh pihak-pihak terkait.66
8. Pengukuran Kinerja Pemda
Dalam mengukur kinerja organisasi (Pemda) perlu diperhatikan unsurunsur kunci, antara lain :
a.
Perencanaan strategis yang menetapkan tujuan, sasaran, dan strategi
pencapaiannya;
b.
Pengembangan sistem pengukuran yang relevan;
c.
Pelaporan hasil secara formal;
d.
Penggunaan informasi.67
Pengukuran kinerja organisasi (Pemda) dapat dilakukan dengan langkahlangkah :
12

a.

Membandingkan realisasi kinerja dengan yang direncanakan dikalikan 100 %;


Menetapkan bobot setiap indikator kinerja yang menyangkut masukan, proses,
keluaran, hasil, jumlah, keuntungan, dan dampak dalam %;
c.
Menghitung nilai capaian indikator kinerja dengan cara : capaian indikator
kinerja dalam % dikalikan dengan bobot indikator kinerja dalam % dibagi 100
%. Hasil perhitungan adalah besarnya nilai capaian indikator kinerja dalam
%.68
Dengan demikian secara konkret dapat diketahui bahwa penetapan capaian
indikator kinerja organisasi (Pemda) dapat digambarkan sebagai berikut :
a.
Rencana dibagi dengan realisasi = capaian indikator kinerja (%);
b.
Capaian indikator kinerja dikalikan dengan bobot indikator kinerja = nilai
capaian indikator kinerja.69
Pengukuran kinerja dapat dilakukan dengan cara membandingkan : kinerja
nyata dengan kinerja yang direncanakan, kinerja nyata dengan hasil yang
diharapkan kinerja tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya, kinerja nyata dengan
standar kinerja.70
b.

9. Manajemen Pelaporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah


Laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah merupakan salah satu
kewajiban Kepala Daerah untuk dilaksanakan, baik karena kedudukannya sebagai
pimpinan pemerintahan dalam sistem administrasi negara kesatuan Republik
Indonesia. Pengaturan mengenai pelaporan tersebut tidak hanya dalam rangka
desentralisasi, tetapi juga sekaligus mengatur laporan dalam rangka dekonsentrasi
dan tugas pembantuan, yang bertujuan untuk mengetahui perkembangannya dan
sebagai bahan untuk pembinaan, pengawasan, dan pengendalian penyelenggaraan
pemerintahan di daerah.71
Substansi dari pelaporan penyelenggaraan pemerintahan daerah
menyangkut seluruh proses manajemen pemerintahan dan pembangunan daerah
yang meliputi : perencanaan, penetapan kebijakan, pelaksanaan, pengendalian,
pembiayaan, koordinasi, pelestarian, penyempurnaan dan pengembangannya. 72
Gubernur, Bupati dan Walikota wajib menyampaikan atas penyelenggaraan
pemerintahan daerah kepada Presiden melalui Mendagri. Untuk pelaporan
pemerintahan Kabupaten dan Kota tembusannya disampaikan kepada Gubernur.
Laporan Gubernur meliputi pelaksanaan desentralisasi, dekonsentrasi dan tugas
pembantuan, sedangkan laporan Bupati / Walikota meliputi pelaksanaan
desentralisasi, tugas pembantuan dan kebijakan penyelenggaraan pemerintahan
desa atau keseluruhan.73
Laporan disampaikan secara berkala sekali dalam setahun, atau setiap saat,
terutama dalam keadaan force majeur, apabila diperlukan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan dan apabila diminta oleh Presiden.74
Dalam laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah sekurang-kurangnya
menggambarkan hal-hal sebagai berikut :
a.
Dasar hukum;
b.
Kebijakan umum pemerintah daerah;
c.
Rencana kegiatan / program kerja dalam rangka pelaksanaan;
d.
Sasaran yang ditetapkan;
e.
Uraian pelaksanaan;
f.
Hasil yang telah dicapai;
g.
Dampak dan pelaksanaan kegiatan;
13

h.

Hambatan dan permasalahan dalam pelaksanaan;


Jumlah dan sumber dana yang digunakan.75
Berkaitan dengan adanya laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah
tersebut, Mendagri membentuk Tim Evaluasi Laporan Kepala Daerah untuk
melakukan penilaian terhadap laporan Gubernur dan Bupati / Walikota. Hasil
evaluasi disampaikan kepada Presiden dengan tembusan kepada departemen atau
lembaga pemerintah non departemen technis terkait.76
Pelaksanaan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah tersebut
melalui sistem informasi pelaporan, yang dapat dilakukan secara manual dan atau
menggunakan teknologi informasi. Berkaitan dengan itu maka pemerintah
berkewajiban membangun sistem informasi pelaporan dan sistem evaluasi secara
khusus, yang kemudian diikuti oleh Pemda dengan membangun sub-sistem
informasi pelaporan yang terintegrasi dengan sistem pelaporan yang dibangun oleh
Pemerintah.77
i.

VI.

PENUTUP
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)

Dari berbagai uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa :


Dalam konsep hukum publik, wewenang diartikan sebagai kekuasaan hukum.
Visi dan misi wewenang DPRD dalam penilaian laporan pertanggungjawaban
Kepala Daerah adalah dalam rangka kontrol dan mengukur keberhasilan kinerja
pemerintah daerah, dikaitkan dengan APBD dan Renstra.
Keterbukaan merupakan prasarat utama untuk terwujudnya peran serta masyarakat
dalam rangka pengawasan dan penilaian terhadap kinerja dan pertanggungjawaban
Kepala Daerah;
Manajemen strategis dan manajemen kinerja merupakan konsep dasar dalam
penilaian laporan pertanggungjawaban Kepala Daerah;
Laporan pertanggungjawaban Kepala Daerah mengenai penyelenggaraan
pemerintahan daerah, minimal memuat : dasar hukum, kebijakan umum, program
kerja, sasaran, uraian pelaksanaan, hasil, dampak, hambatan, permasalahan, jumlah
dan sumber dana yang digunakan.

14

Catatan :
1

PP No. 108 Tahun 2000 tentang Tata Cara Pertanggungjawaban Kepala Daerah,
Penjelasan Umum
2
Philipus M. Hadjon, Tentang Wewenang, dalam Yuridika No. 5 dan 6 Tahun XII, SepDes 1997, Fakultas Hukum Universitas Airlangga, Surabaya, 1997, hal. 1
3
F.A.M. Stroink-J.G. Steenbeek, Inleiding in het Staats-Administratiefrecht, Samson,
1983, hal. 26, Philipus M. Hadjon, ibid., hal. 1
4
Henc van Maarseven, Bevoegdheid, dalam P.W.C. Akkormans et al., Algemene
Begrippen van Staatsrecht, Tjeenk Willink, Zwolle, 1985, hal. 47, Philipus M. Hadjon, ibid.,
hal. 1
5
Henc van Maarseven, ibid., hal. 49, Philipus M. Hadjon, ibid., hal. 1
6
Philipus M. Hadjon, ibid., hal. 1-2
7
ibid., hal. 2
8
ibid., hal. 2
9
PP No. 108 Tahun 2000, Penjelasan Umum, op. cit.,
10
ibid.,
11
ibid.,
12
ibid.,
13
ibid.,
14
ibid.,
15
M.C. Burkens, et al., Beginselen van de democratische rechtsstaat, W.E.J. Tjeenk
Willink, Zwolle in samenwerking met het Nederlands Institut voor Sociale en Economisch
Recht, NISER, 1990, hal. 82, Philipus M. Hadjon, Keterbukaan Pemerintahan dan Tanggung
Gugat Pemerintah, makalah disampaikan pada seminar Hukum Nasional ke-VI dengan thema
Reformasi Hukum Menuju Masyarakat Madani, Badan Pembinaan Hukum Nasional
Departemen Kehakiman Republik Indonesia, Jakarta, 12-15 Oktober 1999, hal. 3
16
P. De Haan, et al., Bestuursrecht in Sociale Rechtsstaat, deel 2 Bestuurshandelingen
en waarborgen, Kluwer Deventer, 1986, hal. 122, Philipus M. Hadjon, 1999, op. cit., hal. 4
17
P. De Haan, et al., ibid., hal. 140, Philipus M. Hadjon, 1999, ibid., hal. 6
18
Van Wijk-Konijnenbelt, Hofstukken van administratiefrecht, vijfde druk, Vuga, 1984,
S-Gravenhage, 1984, hal. 42, Philipus M. Hadjon, 1999, ibid., hal. 6
19
P. De Haan, et al., op. cit., hal. 124, Philipus M. Hadjon, 1999, ibid., hal. 6
20
M.C. Burkens, et al., op. cit., hal. 94, Philipus M. Hadjon, 1999, ibid., hal. 6-7
21
Philipus M. Hadjon, 1999, ibid., hal. 7
22
Duk-Loeb-Nicolai, Bestuursrecht, Bowar-boek, 1981, hal. 157, Philipus M. Hadjon,
1999, ibid., hal. 7
23
Philipus M. Hadjon, 1999, ibid., hal. 9
24
P. De Haan, et al., op. cit., hal. 138, Philipus M. Hadjon, 1999, ibid., hal. 8
25
Philipus M. Hadjon, 1999, ibid., hal. 8
26
P. De Haan, et al., op. cit., hal. 137, Philipus M. Hadjon, 1999, ibid., hal. 9
27
Philipus M. Hadjon, 1999, ibid., hal. 9
28
ibid.,
29
UU No. 31 Tahun 1999, op. cit., Pasal 41
30
Darji Darmodiharjo dan Sidharta, 1995, Pokok-Pokok Filsafat Hukum, Apa dan
Bagaimana Filsafat Indonesia, PT. Gramedia Utama, Jakarta, hal. 210
31
PP No. 108 Tahun 2000, op. cit., Pasal 1
32
ibid., Pasal 2 jis. Pasal 3 jis. Pasal 4
33
ibid., Pasal 5 jo. Pasal 6
34
ibid., Pasal 7
15

35

ibid., Pasal 8
ibid., Pasal 9
37
ibid., Pasal 10
38
ibid., Pasal 11 jo. Pasal 12
39
ibid., Pasal 13 jo. Pasal 14
40
ibid., Pasal 15 jo. Pasal 16
41
ibid., Pasal 17 jo. Pasal 18
42
ibid., Pasal 19 jo. Pasal 20
43
ibid., Pasal 21 jo. Pasal 22
44
ibid., Pasal 23 jo. Pasal 24
45
ibid., Pasal 25 dan Pasal 26
46
ibid., Penjelasan Pasal 5
47
PP No. 105 Tahun 2000 Tentang Pengolahan dan Pertanggungjawaban Keuangan
Daerah, Pasal 8
48
PP No. 108 Tahun 2000, op. cit., Pasal 4
49
I Made Suwandi, 2001, Sistem Dan Mekanisme Pelaporan Pertanggung Jawaban
Kepala Daerah (Sebagai Implikasi dari UU 22 / 1999, PP 108 / 2000, PP 105 / 2000 dan PP
56 / 201), makalah, Jakarta, hal. 8
50
ibid.,
51
ibid.,
52
ibid.,
53
ibid., hal. 8-9
54
ibid., hal. 9
55
ibid.,
56
ibid.,
57
ibid., hal. 10
58
ibid., hal. 9-10
59
ibid., hal. 10
60
ibid.,
61
ibid.,
62
ibid.,
63
ibid., hal. 11
64
ibid., hal. 11-12
65
ibid., hal. 12
66
ibid.,
67
ibid.,
68
ibid., hal. Hal. 13
69
ibid.,
70
ibid.,
71
PP No. 56 Tahun 2001 Tentang Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah, Penjelasan
Umum
72
I Made Suwandi, op. cit., hal. 14
73
PP No. 56 Tahun 2001, op. cit., Pasal 2 dan Pasal 3
74
ibid., Pasal 4
75
ibid., Pasal 6
76
ibid., Pasal 7
77
ibid., Pasal 9 dan Pasal 10
36

16

Daftar Pustaka :
Akkormans, P.W.C., et al., 1983, Algemene Begrippen van Staatsrecht, Tjeenk Willing,
Zwolle
Burkens, M.C., et al., 1990 Beginselen van de democratische rechtsstaat, W.E.C. Tjeenk
Willing, Zwolle
Darji Darmodiharjo dan Sidharta, 1995, Pokok-Pokok Filsafat Hukum, Apa dan Bagaimana
Filsafat Indonesia, PT. Gramedia Persada Utama, Jakarta.
De Haan, P. et al., 1986Bestuursrecht in Sociale Rechtsstaat, deel 2 Bestuurshandelingen en
waarborgen, Kluwer Deventer
Hadjon, Philipus M., 1999, Keterbukaan Pemerintahan dan Tanggung Gugat Pemerintah,
makalah disampaikan pada seminar Hukum Nasional ke-VI dengan thema Reformasi
Hukum Menuju Masyarakat Madani, Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen
Kehakiman Republik Indonesia, 12-15 Oktober 1999, Jakarta
Konijnenbelt, Van Wijk, 1984, Hofstukken van administratiefrecht, vijfde druk, Vuga.
Nicolai-Duk-Loeb, 1981, Bestuursrecht, Bowar-boek
Stroink, F.A.M-Steenbeek, J.G., 1983, Inleiding in het Staats-Administratiefrecht, Samson
Suwandi, I Made, 2001, Sistem Dan Mekanisme Pelaporan Pertanggungjawaban Kepala
Daerah (Sebagai Implikasi UU 22 / 1999, PP 108 / 2000, PP 105 / 2000 dan PP 56 /
2001, Jakarta.
Jurnal/Majalah
Indonesian Law and Administration Review, vol. 1 1995, No. I
Rapport v.d. Commissie inzake algemene bepalingen van administratiefrecht 1984, Algemene
Bepalingen van Administratiefrecht, Samson.
Yuridika, 1997, No. 5 dan 6 Tahun XII, Sep-Des 1997, Fakultas Hukum Universitas
Airlangga, Surabaya
Peraturan Perundang-Undangan
UU No. 24 Tahun 1992 Tentang Penataan Ruang
UU No. 23 Rahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
UU No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
UU No. 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah
PP No. 105 Tahun 2000 Tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah
PP No. 108 Tahun 2000 Tentang Tata Cara Pertanggungjawaban Kepala Daerah
PP No. 56 Tahun 2001 Tentang Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah
Keputusan DPR RI No. 10/DPR-RI/III/82-3 Tentang Tata Tertib DPR RI

17