Anda di halaman 1dari 10

STRES DAN

DERMATITIS ATOPIK
Maria Bethamia . R (030.04.147)
Teguh Setiawan(0810221098)

PENDAHULUAN
Atopi adalah kelainan genetik yang
ditandai dengan suatu peningkatan untuk
membentuk antibodi IgE (reagins) dan
peningkatan kerentanan terhadap penyakit
tertentu, terutama asma ekstrinsik, rinitis
alergi, konjungtivitis alergi, dan beberapa
jenis alergi makanan, jenis klinis utama
dermatitis yang biasanya berhubungan
dengan atopi adalah dermatitis atopik.

Penyebab utama dermatitis atopik tetap


tidak diketahui.
Manifestasi klinis tampaknya tergantung
pada kompleks interaksi antara faktor
genetika, konstitusional, dan lingkungan.

Tanda-Tanda Yang Tampak


Pruritus,
Morfologi lesi kulit bervariasi dan terus berubah,
Peningkatan kadar serum IgE dalam sebagian
besar pasien,
Peningkatan kerentanan terhadap infeksi virus
dan bakteri kulit
Kelainan berfluktuasi dalam kekebalan yang
dimediasi sel dan respon beta-adrenergik.
Stres tampaknya menjadi pemicu penting untuk
dermatitis atopik juga terlibat dalam
memperburuk dan pemeliharaan penyakit.

Pasien dan Metode


Penelitian ini dilakukan di antara 240 pasien
dengan dermatitis atopik yang dirujuk untuk
penilaian allergi dan tindak lanjut ke Unit Alergi
Dermato-venereologi Pusat Bucharest.
Pasien dikelompokkan berdasarkan usia:
dibawah 2 tahun (22 kasus; 9,2%), 2-5 tahun (35
kasus; 14,6%), 6-10 tahun (54 kasus; 22,5%),
11-20 tahun (60 kasus; 25%) dan lebih dari 20
tahun (69 kasus; 28,8%).

Pasien dan Metode


Hubungan antara stres dan perkembangan
(pemicu, memperburuk, pemeliharaan)
dermatitis atopik dievaluasi secara sistematis.
Stres dievaluasi menggunakan 'Life Events
Scale', mengingat skor lebih dari 200/tahun
berisiko untuk penyakit psikosomatis. Seorang
psikolog juga mengevaluasi 50 pasien dari
semua kelompok umur terdaftar dalam studi
mencoba untuk mencari sebuah 'tipe
kepribadian atopik', tidak ada kelompok kontrol
dievaluasi.

Hasil
Usia pasien berkisar dari kurang dari 2 sampai 67 (usia
rata-rata
17.2) tahun. 151 pasien (62,9%) memiliki ringan, 64
(26,7%) sedang, dan 25 (10,4%) dermatitis atopik parah.
Stres mempercepat perkembangan lesi dermatitis atopik
pada 14 kasus (5,83%). Faktor pemicu lain adalah
infeksi dalam 41 kasus (17,08%), iritasi tidak spesifik
dalam 17 kasus (7.08%), prurigo pada 16 kasus
(6,66%), paparan dengan aeroalergen dalam 7 kasus
(2,92%), alergen dari makanan dalam 6 kasus (2,50%),
trauma lokal pada 4 kasus (1,66%), vaksinasi dalam 3
kasus (1,25%) dan terbakar matahari dalam 3 kasus
(1,25%).

Dermatitis atopi adalah penyakit yang menggambarkan


bagaimana stres itu sendiri berpengaruh pada tahap
psikososial dari pasien dan cara untuk menjaga dari
adanya lesi. Terdapat kemungkinan bahwa sistem saraf
peripheral hubungannya dengan sistem imun berperan
dalam mengatur dan mengungkap tentang macammacam penyakit kulit . Hubungan yang dekat antara
epithelium , sel imun dan sistem saraf telah diperlihatkan
, sehingga terbentuk konsep baru dari sistem saraf imun
cutaneous. Hubungan antara sistem saraf terminasi
yang bebas dan sel resident (keratonosit , Langerhans
cells, mast cells) dari kulit yang sudah keluar,

KESIMPULAN
Stres terlibat sebagai pencetus dalam dermatitis atopik,
dan penyakit itu sendiri dapat menjadi psikososial stres,
yang mempertahankan penyakit. Fakta ini penting dalam
pengelolaan pasien dengan dermatitis atopik:
psikotropika, antipsikotik, dan obat-obatan ansiolitik,
antidepresan, dan psikoterapi yang direkomendasikan
sebagai tambahan
strategi pengobatan. Sangat penting dalam pengobatan
dermatitis atopi juga obat psikotropika dengan
antihistaminic efek (doxepine, hidroksizin, amitriptyline).

TERIMA KASIH