Anda di halaman 1dari 27

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat-Nya, makalah ini dapat
diselesaikan tepat waktu.
Ucapan terima kasih dan penghargaan kami sebagai penyusun ucapkan kepada dr.
Aida Fithrie, Sp.S sebagai pembimbing di Departemen Neurologi RSUP. Haji Adam Malik
Medan Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan waktunya dalam membimbing
dan membantu selama pelaksanaan makalah ini.
Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu,
segala kritik dan saran yang membangun atas makalah ini dengan senang hati penyusun
terima. Penyusun memohon maaf atas segala kekurangan yang diperbuat dan semoga
penyusun dapat membuat makalah lain yang lebih baik di kemudian hari.
Akhir kata, penyusun berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca.

Medan, 25 Maret 2015

Penyusun

DAFTAR ISI
Kata Pengantar..................................................................................................................... ii
Daftar Isi.............................................................................................................................. iii
Bab I

Pendahuluan........................................................................................................ 1

Bab II

Tinjauan Pustaka................................................................................................. 2
2.1. Anatomi........................................................................................................ 2
2.2. Definisi......................................................................................................... 3
2.3.Etiologi.......................................................................................................... 3
2.4. Patofisiologi ................................................................................................ 4
2.5. Gambaran Klinis.......................................................................................... 5
2.6. Pemeriksaan Penunjang .............................................................................. 7
2.7. Gambaran Radiologis................................................................................... 8
2.8. Staging......................................................................................................... 18
2.9. Penatalaksanaan........................................................................................... 20
2.10. Komplikasi ................................................................................................ 21
2.11. Pencegahan................................................................................................. 21
2.12. Prognosis ................................................................................................... 22

BAB III Kesimpulan ........................................................................................................ 23


Daftar Pustaka ..................................................................................................................... 24

BAB I
PENDAHULUAN
I. PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Tuberkulosis masih menjadi salah satu penyakit paling mematikan di seluruh dunia. World
Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa setiap tahun terdapat lebih dari 8 juta
kasus baru tuberkulosa dan lebih kurang 3 juta orang meninggal akibat penyakit ini. 1

Tuberkulosis sering dijumpai di daerah dengan penduduk yang padat, sanitasi yang buruk dan
malnutrisi.2 Walaupun manifestasi tuberkulosis biasanya terbatas pada paru, penyakit ini
dapat mengenai organ apapun, seperti tulang,traktus genitourinarius dan sistem saraf pusat.3
Tuberkulosa tulang dan sendi merupakan 35% dari seluruh kasus tuberkulosa ekstrapulmonal
dan paling sering melibatkan tulang belakang4, yaitu sekitar 50% dari seluruh kasus
tuberkulosa tulang.5 Keterlibatan spinal biasanya merupakan akibat dari penyebaran
hematogen dari lesi pulmonal ataupun dari infeksi pada sistem genitourinarius.6
Percival Pott pertama kali menguraikan tentang tuberkulosa pada kolumna
spinalis pada tahun 1779. Destruksi pada diskus dan korpus vertebra yang berdekatan,
kolapsnya elemen spinal dan kifosis berat dan progresif kemudian dikenal sebagai
Potts disease.6 Walaupun begitu tuberkulosa spinal telah diidentifikasi pada mumi di
Mesir sejak 3000 tahun sebelum masehi dengan lesi skeletal tipikal dan analisis
DNA.7
Spondilitis tuberkulosa memiliki distribusi di seluruh dunia dengan prevalensi yang lebih
besar pada negara berkembang. Tulang belakang adalah tempat keterlibatan tulang yang
paling sering, yaitu 5-15% dari seluruh pasien dengan tuberkulosis.8
Spondilitis tuberkulosa merupakan penyakit yang dianggap paling berbahaya karena
keterlibatan medula spinalis dapat menyebabkan gangguan neurologis. Daerah lumbal dan
torakal merupakan daerah yang paling sering terlibat, sedangkan insidensi keterlibatan daerah
servikal adalah 2-3%.9
Defisit neurologis pada spondilitis tuberkulosa terjadi akibat pembentukan abses dingin,
jaringan granulasi, jaringan nekrotik dan sequestra dari tulang atau jaringan diskus
intervertebralis, dan kadang-kadang trombosis vaskular dari arteri spinalis.10
Spondilitis tuberkulosa merupakan penyakit kronik dan lambat berkembang dengan gejala
yang telah berlangsung lama. Riwayat penyakit dan gejala klinis pasien adalah hal yang
penting, namun tidak selalu dapat diandalkan untuk diagnosis dini. Nyeri adalah gejala utama
yang paling sering. Gejala sistemik muncul seiring dengan perkembangan penyakit. Nyeri
punggung persisten dan lokal, keterbatasan mobilitas tulang belakang, demam dan
komplikasi neurologis dapat muncul saat destruksi berlanjut. Gejala lainnya menggambarkan
penyakit kronis, mencakup malaise, penurunan berat badan dan fatigue. Diagnosis biasanya
6,10
tidak dicurigai pada pasien tanpa bukti tuberkulosa ekstraspinal.
Penatalaksanaan spondilitis tuberkulosa masih kontroversial; beberapa penulis
menganjurkan pemberian obat-obatan saja, sementara yang lainnya merekomendasikan obat-

obatan dengan intervensi bedah. Dekompresi agresif, pemberian obat anti tuberkulosis selama
9-12 bulan dan stabilisasi spinal dapat memaksimalkan terjaganya fungsi neurologis.9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Anatomi
Paru-paru adalah sepasang organ berbentuk kerucut di rongga toraks. Kedua
paru dipisahkan oleh jantung dan struktur-struktur lain di mediastinum, yang
membagi rongga toraks menjadi dua bilik secara anatomi. Setiap paru dilindungi oleh
dua lapis membrane serosa yang disebut membrane pleura. Bagian superfisial, disebut
pleura parietal, melapisi dinding dari rongga toraks; bagian dalam, pleura viseralis,
melapisi dan melindungi organ paru-paru (Tortora & Derrickson, 2009).
Paru-paru berlokasi di atas diafragma, sedikit superior dari klavikula dan
berada di antara iga anterior dan iga posterior. Bagian inferior yang luas dari paru, the
base, berbentuk konkaf dan berada di atas diafragma. Permukaan sempit di bagian
atas dari paru disebut apeks. Permukaan lain dari paru berada di rongga toraks, pada
permukaan kosta, berbentuk sama dengan permukaan kurvatura melengkung kosta.
Permukan medial dari paru, mediastinum, terdapat hilum, melalui masing-masing
bronkus, pembuluh limfa, perjalanan saraf masuk dan keluar. Struktur ini melekat
dengan pleura dan jaringan ikat (Tortora & Derrickson, 2009).

Gambar 2.1.1. Paru-paru tampak dari anterior (Netter, 2006)


2

Gambar 2.1.2. Paru-paru tampak dari posterior (Netter, 2006)


2.2.

Definisi
Tumor jinak paru adalah perubahan pertama dari sel paru berupa metaplasia
skuamosa yang ditandai dengan perubahan bentuk epitel dan menghilangnya silia.
Keadaan ini disebut masa pra kanker(Sylvia, 2004).
Kanker paru adalah tumor ganas paru primer yang berasal dari saluran napas
atau epitel bronkus. Terjadinya kanker ditandai dengan pertumbuhan sel yang tidak
normal, tidak terbatas, dan merusak sel-sel jaringan yang normal. Proses keganasan

2.3.

pada epitel bronkus didahului oleh masa pra kanker(Sylvia, 2004).


Etiologi
Menurut Amin (2009), seperti umumnya kanker yang lain, penyebab yang
pasti dari kanker paru belum diketahui, tapi paparan atau inhalasi berkepanjangan
suatu zat yang bersifat karsinogenik merupakan faktor penyebab utama disamping
adanya faktor lain seperti kekebalan tubuh, genetik, dan lain-lain.
Dari berbagai kepustakaan telah dilaporkan bahwa etiologi kanker paru sangat
berhubungan dengan kebiasaan merokok. Dikatakan bahwa 1 dari 9 perokok berat
akan menderita kanker paru. Diperkirakan terdapat metabolit dalam asap rokok yang
bersifat karsinogen terhadap organ tubuh tersebut (Amin, 2009).
Etiologi lain dari kanker paru yang pernah dilaporkan menurut Amin (2009)
adalah:

1. Yang berhubungan dengan paparan zat karsinogen, seperti: abestos, radiasi ion pada
pekerja tambang uranium, radon, arsen, kromium, nikel, polisiklik, hidrokarbon, vinil
klorida.
2. Polusi udara
3. Genetik
Terdapat perubahan mutasi gen yang berperan dalam kanker paru, yakni: Proto
oncogen, Tumor supressor gene, Gene encoding enzyme
4. Teori onkogenesis
Gen supresor tumor mengalami delesi/insersis yang dibantu oleh predisposisi
inisiator, kemudian menjadi tumor yang dibantu oleh promotor. Akhirnya dari
tumor/otonomi menjadi ekspansi/metastasis akibat adanya progresor. Rokok selain
sebagai inisiator juga merupakan promotor progresor, dan rokok diketahui sangat
berkaitan (terbesar) dengan terjadinya kanker paru.
5. Diet
Beberapa penelitian menunjukkan, rendahnya konsumsi betakaroten, selenium, dan
vitamin A meningkatkan resiko terkena kanker paru.
2.4.

Patofisiologi
Dari etiologi yang menyerang percabangan segmen/sub-bronkus menyebabkan
cilia hilang dari deskuamasi sehingga terjadi pengendapan karsinogen. Dengan
adanya pengendapan karsinogen maka menyebabkan metaplasia, hiperplasia, dan
displasia. Bila lesi perifer yang disebabkan yang disebabkan oleh metaplasia,
hiperplasia, dan displasia menembus ruang pleura, biasanya dapat timbul efusi pleura,
dan bisa diikuti invasi langsung pada kosta dan korpus vertebra Lesi yang letaknya
sentral berasal dari salah satu cabang bronkus yang terbesar. Lesi ini menyebabkan
obstuksi dan ulserasi bronkus dengan diikuti dengan supurasi di bagian distal. Gejala
gejala yang timbul dapat berupa batuk, hemoptysis, dispneu, demam, dan
dingin.Wheezing unilateral dapat terdengan pada auskultasi(Sylvia, 2004).
Pada stadium lanjut, penurunan berat badan biasanya menunjukkan adanya
metastase, khususnya pada hati. Kanker paru dapat bermetastase ke struktur-struktur
terdekat seperti

kelenjar limfe, dinding esofagus, dinding esofagus, pericardium,

otak, dan tulang rangka.

(Sylvia, 2004)

Sebab-sebab keganasan tumor masih belum jelas, tetapi virus, faktor


lingkungan, faktor hormonal dan faktor genetik semuanya berkaitan dengan resiko
terjadinya tumor. Permulaan terjadinya tumor dimulai dengan adanya zat yang
bersifat intiation yang

merangsang permulaan terjadinya perubahan sel.

Diperlukan perangsangan yang lama dan berkesinambungan untuk memicu timbulnya


4

penyakit tumor (Sylvia, 2004).


Initiasi agen biasanya bisa berupa unsur kimia, fisik atau biologis yang mampu
bereaksi langsung dan merubah struktur dasar dari komponen genetik ( DNA ).
Keadaan selanjutnya diakibatkan keterpaparan yang lama ditandai dengan
berkembangnya neoplasma dengan terbentuknya tumor, hal ini berlangsung lama
mingguan sampai tahunan(Slamet, 2001).
Kanker paru bervariasi sesuai tipe sel daerah asal dan kecepatan pertumbuhan.
Empat tipe sel primer pada kanker paru adalah (Slamet, 2001):
1. Karsinoma epidermoid (sel skuamosa)
Sel skuamosa umumnya terbentuk di jalan napas utama bronkial.
2. Karsinoma sel kecil (sel oat)
Karsinoma sel kecil umumnya terbentuk dijalan napas utama bronkial.
3. Karsinoma sel besar (tak terdeferensiasi)
Karsinoma sel besar dan adenokarsinoma umumnya tumbuh dicabang bronkus perifer
dan alveoli. Karsinoma sel besar dan karsinoma sel oat tumbuh sangat cepat sehigga
mempunyai progrosis buruk.
4. Adenokarsinoma
Sedangkan pada sel skuamosa dan adenokarsinoma, paru merupakan organ yang
elastis, berbentuk kerucut dan letaknya di dalam rongga dada atau toraksinoma
prognosis baik karena pertumbuhan sel ini lambat.
2.5.

Gambaran Klinis
Pada fase awal kebanyakan kanker paru tidak menunjukkan gejala-gejala
klinis. Bila sudah menampakkan gejala berarti pasien dalam stadium lanjut. Gejalagejala dapat bersifat (Amin, 2009):

1. Lokal (tumor tumbuh setempat):


a. Batuk baru atau lebih hebat pada batuk kronis
b. Hemoptisis
c. Mengi (wheezing, stridor) karena ada obstruksi saluran napas
d. Kadang terdapat kavitas seperti pada abses paru
e. Atelektasis
2. Invasi lokal:
a. Nyeri dada
b. Dispnea karena efusi pleura
c. Invasi ke perikardium : terjadi tamponade atau aritmia
d. Sindrom vena cava superior
e. Sindrom Horner (facial anhidrosis, ptosis, miosis)
f. Suara serak, karena penekanan pada nervus laryngeal reccurent
5

g. Sindrom Pancoast, karena invasi pada pleksus brakialis dan saraf simpatis
servikalis
3. Gejala penyakit metastasis
a. Pada otak, tulang, hati, adrenal
b. Limfadenopati servikal dan supraklavikula (sering menyertai metastasis)
4. Sindrom Paraneoplastik, terdapat pada 10% kanker paru, dengan gejala:
a. Sistemik: penurunan berat badan, anoreksia, demam
b. Hematologi: leukositosis, anemia, hiperkoagulasi
c. Hipertropi osteoartropati
d. Neurologik: dementia, ataksia, tremor, neuropati perifer
e. Neuromiopati
f. Endokrin: sekresi berlebihan hormon paratiroid (hiperkalsemia)
g. Dermatologik: eritema multiform, hiperkeratosis, jari tabuh
h. Renal : syndrome of inappropriate andiuretic hormone (SIADH)
5. Asimtomatik dengan kelainan radiologis
a. Sering terdapat pada perokok dengan PPOK/COPD yang terdeteksi secara
radiologis
b. Kelainan berupa nodul soliter

2.6.

Pemeriksaan Penunjang
Selain itu, diperlukan pula pemeriksaan penunjang untuk dignosis dari tumor
paru, yaitu(Sylvia, 2004):

1.

Radiologi.

a.

Foto thorax posterior anterior (PA) dan lateral serta Tomografi dada.
Merupakan pemeriksaan awal sederhana yang dapat mendeteksi adanya
kanker paru. Menggambarkan bentuk, ukuran dan lokasi lesi. Dapat
menyatakan massa udara pada bagian hilus, effuse pleural, atelektasis erosi
tulang rusuk atau vertebra.

b.

Bronkhografi
Untuk melihat tumor di percabangan bronkus.

2.

Laboratorium.
a. Sitologi (sputum, pleural, atau nodus limfe).
Dilakukan untuk mengkaji adanya/ tahap karsinoma.
b. Pemeriksaan fungsi paru dan GDA
Dapat dilakukan untuk mengkaji kapasitas untuk memenuhi kebutuhan
ventilasi.
6

c. Tes kulit, jumlah absolute limfosit.


Dapat dilakukan untuk mengevaluasi kompetensi imun (umum pada kanker
paru).
3. Histopatologi.
a. Bronkoskopi
Memungkinkan visualisasi, pencucian bagian,dan pembersihan sitologi lesi
(besarnya karsinoma bronkogenik dapat diketahui).
b. Biopsi Trans Torakal (TTB)
Biopsi dengan TTB terutama untuk lesi yang letaknya perifer dengan ukuran <
2 cm, sensitivitasnya mencapai 90 95 %.
c. Torakoskopi.
Biopsi tumor didaerah pleura memberikan hasil yang lebih baik dengan cara
torakoskopi
d. Mediastinosopi
Untuk mendapatkan tumor metastasis atau kelenjar getah bening yang terlibat
e. Torakotomi
Torakotomi untuk diagnostic kanker paru dikerjakan bila bermacam macam
prosedur non invasif dan dan invasif sebelumnya gagal mendapatkan sel
tumor.
4. Pencitraan.
a. CT-Scanning, untuk mengevaluasi jaringan parenkim paru dan pleura.
b. MRI, untuk menunjukkan keadaan mediastinum.
2.7. Gambaran Radiologis
2.7.1. Pemeriksaan X-Ray
a.

Tumor jinak
Tumor jinak paru jarang dijumpai, hanya sekitar 2% dari seluruh tumor paru,
biasanya ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan rutin, karena tumor jinak
jarang memberikan keluhandan tumbuh lambat sekali. Tumor jinak paru yang paling
sering

dijumpai

adalah

hamartoma.

Yang

lebih

jarang

adalah

fibroma,kondroma,lipoma, hemangioma, dan lain-lain (Kusumawidjaja, 2013).

Hamartoma
Pertambahan besar dari tumor jinak berlangsung dengan sangat lambat, 90%
ditemukan di perifer paru dan sering terdapat di beberapa bagian paru
7

(multiple).Bentuk tumor bulat atau bergelombang dengan batas tegas.Biasanya ukuran


kurang dari 4cm dan sering mengandung kalsifikasi berbentuk bercak-bercak garis
atau gambaran pop corn.

Kondroma Perihilar Kanan


Ukuran tumor < 3cm, mempunyai batas yang tegas dan bentuk yang regular.
Kalsifikasi bisa terlihat pada tumor jinak (Odonovan, 2007).

b.

Tumor ganas paru


Pada pemeriksaan foto toraks, kelainan dapat dilihat apabila masa tumor berukuran

> 1cm.Meskipun kadang-kadang tumor itu sendiri tidak terlihat tetapi kelainan sebagai akibat
adanya tumor akan sangat dicurgai ke arah keganasan, misalnya kelainan emfisema setempat,
atelektasis, peradangan sebagai komplikasi tumor atau akibat bronkus terjepit dan
pembesaran kelenjar hilus yang unilateral (Kusumawidjaja, 2005).
Pada pemeriksaan foto toraks, tumor ganas mempunyai ukuran yang lebih
besar yaitu > 3cm, batas yang tidak tegas dan bentuk yang irregular dan bisa bersifat

difus. Kalsifikasi biasanya tidak terjadi dan adanya pleural reaction seperti pleural
effusion (Odonovan, 2007).

Karsinoma Bronkial Sentral


Gambaran foto PA dan lateral dengan karsinoma bronkial sentral pada
lapangan paru kanan(Odonovan, 2007).

Karsinoma bronkial dengan Limfadenopati


Gambaran foto toraks dengan karsinoma bronkial pada lobus atas kiri (tanda
panah) disertai pembesaran kelenjar getah bening parahilar kiri (panah berwarna
hitam), sumber:

Odonovan, 2007).

Perkembangan dari Karsinoma Bronkial


Terdapat masa pada suprahilar kanan pada gambar pertama, 2 bulan kemudian
dilakukan foto ulang. Pada foto kedua terdapat peningkatan ukuran dari karsinoma
yang didapati sebelumnya di foto pertama (Odonovan, 2007).
9

Adenokarsinoma dengan Infiltrat Bilateral


Adenokarsinoma yang memproduksi mukus dengan infiltrat bilateral yang
difus (Odonovan, 2007).

Non-Small Cell Lung Cancer


Efusi pleura pada paru kiri (Odonovan, 2007).

Canon Ball Metastases


10

Metastasis yang pada umumnya berasal dari karsinoma sel ginjal,


endometrium, dan

prostat menunujukkan gambaran canon ball metastases

(Odonovan, 2007).

Pemeriksaan untuk mendeteksi tumor paru dengan X-ray tidak


direkomendasikan lagi karena telah dibuktikan tidak menurunkan angka kematian
kanker paru. Hal ini karena rontgen dada tidak memadai untuk mendiagnosa kanker
paru-paru pada tahap awal ketika masih lebih bisa diobati. Namun, pemeriksaan Xray bisa digunakan untuk memantau hasil pengobatan kanker(Odonovan, 2007).
2.7.2. Pemeriksaan CT-Scan
Kelebihan CT scan dalam mendiagnosis tumor paru adalah dapat secara akurat
menggambarkan karakteristik suatu nodul baik bentuk luarnya maupun bagian dalam
sampai lesi yang berukuran kecil kurang dari 1 cm. CT scan lebih sensitif daripada
pemeriksaan sputum dan foto toraks. Peranan CT scan dalam mendeteksi tumor paru
yang dini serta menganalisis morfologi jinak dan ganas sangatlah besar. CT scan
terbukti dapat mendeteksi tiga kali lebih tinggi stadium I kanker paru dibandingkan
foto toraks (Mark, 2000).
Kekurangan pemeriksaan CT scan adalah paparan radiasi yang tinggi, adanya
kemungkinan positif palsu dalam penegakan diagnosa tumor paru, harga pemeriksaan
yang relatif mahal (Mark, 2000).
Tumor paru dapat berbentuk nodul ataupun massa. Dikatakan nodul jika
diameternya kurang dari 3 cm, sedangkan yang lebih dari 3 cm disebut massa. Nodul

11

yang berukuran lebih dari 2 cm biasanya maligna, hanya sekitar 50% nodul yang
berukuran kurang dari 2 cm adalah maligna.
Menurut Mark S (2000), tipikal gambaran CT pada lesi yang ganas adalah:
1. ukurannya lebih dari 20 mm
2. spiculated
3. adanya kalsifikasi punctuate yang eksentrik
4. dinding kavitasnya tebal > 10mm
5. lesinya cepat tumbuh
6. dengan kontras, enhancement lebih dari 15 HU
Kavitas sering dijumpai pada nodul yang maligna tapi suatu lesi yang jinak
dan fokal seperti abses dapat juga membentuk kavitas.Karakteristik gambaran lesi
jinak meliputi (SS Mark, 2000):
1. ukuran lesi yang stabill selama paling sedikit 2 tahun dilihat dari foto toraks
2. ukuran lesi kurang dari 20 mm
3.tepinya halus/rata
4. nodul dengan kalsifikasi di sentral, difus, lakunar
5. tebal dinding kavitas < 10 mm
6. dengan kontras, enhancement antara 10-15 HU

CT scan dengan kontras tampak paru kiri membesar dengan adanya massa dan hilus
melebar.

12

CT scan axial thorax tampak tumor hilus pada paru kanan

Pada paru kanan tampak adanya nodul dengan ukuran 5mm

13

2.7.3. Pemeriksaan USG


Pemeriksaan ultrasonografi paru memiliki beberapa keuntungan yaitu bebas
dari bahaya radiasi, portable, bersifat non-invasif dan biaya pemeriksaannya relatif
murah. Kekurangan pemeriksaan ultrasonografi adalah hanya dapat mendeteksi tumor
paru yang letaknya perifer dan kelainan di pleura. Tumor paru perifer dapat tampak
pada pemeriksaan USG apabila tumor melekat pada pleura (Rumende, Martin C,
2012).
Cara pemeriksaan USG adalah dengan melakukan penentuan frekuensi
transduser sesuai dengan organ yang ingin divisualisasikan. Frekuensi rendah untuk
melihat organ yang lebih dalam seperti rongga dada sedangkan untuk frekuensi tinggi
untuk melihat pleura dan menggunakan transduser linear dengan frekuensi 7,5-10
MHz. Saat diperiksa, pasien dipersiapkan dalam posisi duduk dengan kedua tangan
diletakkan pada kontralateral bahu atau diletakkan di belakang kepala. Untuk
menjalankan pemeriksaan secara terperinci, pemeriksa, pasien, dan transduser dapat
diposisikan secara fleksibel. Transduser dapat diletakkan pada beberapa lokasi di
sekitar dinding dada tergantung abnormalitas pada lokasi yang ingin dievaluasi
(Rumende, Martin C, 2012).
Tumor pada pemeriksaan USG akan tampak hipoekoik dengan posterior
acoustic enhancement dan ateletaksis parenkim paru. Invasi tumor paru pada pleura
viseral dan rongga dada dapat tampak pada pemeriksaan pemeriksaan USG dengan
resolusi tinggi dan lebih jelas tampak dibandingkan dengan pemeriksaan CT-scan.

14

Apabila tumor tidak bergerak pada saat respirasi menandakan tumor telah menyebar
sampai di luar pleura parietal (Rumende, Martin C, 2012).

Tampak massa jaringan lunak berbentuk bulat di bawah diafragma yang terkompresi
akibat tekanan dari lobus kanan hati. Pemeriksaan ultrasonografi ini menunjukkan
massa pada pleura atau paru kanan, kemungkinan maligna.

15

2.7.4. Pemeriksaan MRI


PencitraanMagnetic Resonance Image (MRI) merupakan salah satu cara
pemeriksaan diagnostik dalam ilmu kedokteran, khusunya radiologi, yang
menghasilkan gambaran potongan tubuh manusia dengan menggunakan medan
magnit tanpa menggunakan sinar X (Abdullah, 2013).
Pemeriksaan ini menghasilkan gambar yang memungkinkan pemeriksa untuk
melihat ukuran dan lokasi dari tumor paru-paru dan atau metastasis kanker paru-paru.
MRI menggunakan medan magnet, bukan x-ray, untuk menghasilkan gambar detil
dari tubuh. Sebuah media kontras dapat disuntikkan ke dalam vena pasien atau
diberikan secara oral untuk memberikan detil yang lebih baik (American Society of
Clinical Oncology, 2013).
Scan MRI tidak bekerja dengan baik untuk mengambil gambar dari bagian
tubuh yang bergerak seperti paru-paru, yang bergerak dengan setiap napas yang
diambil. Oleh karena itu, scan MRI jarang digunakan untuk melihat paru-paru
(American Society of Clinical Oncology, 2013). Selain itu pemeriksaan MRI juga
mahal, waktu pemeriksaan cukup lama, pasien yang mengandung metal tak dapat
diperiksa, serta pasien dengan claustrofobi perlu dianestesi umum (Abdullah, 2013).
Namun, mungkin akan membantu untuk menemukan kanker paru-paru yang telah
menyebar ke otak (American Society of Clinical Oncology, 2013).
Berikut adalah istilah pada MRI menurut Hiroshi et. al. (2003):
TR : repetition time (waktu antara dua pulsa berturut-turut yang diterapkan pada slice
yang sama). TR mengontrol karakteristik kontras gambar.
TE : echo time (pulsa awal dan puncak sinyal echo)
T1 : waktu yang konstan bahwa magnetisasi longitudinal kembali menuju
keseimbangan setelah RF eksitasi.
T2 : waktu yang konstan bahwa magnetisasi transversal meluruh menuju nol setelah
RF eksitasi.
T1 weighted image: mewakili citra kontras karena perbedaan waktu relaksasi T1. T1
weighted image dibuat dengan menggunakan TR dan TE pendek.
T2 weighted image: mewakili citra kontras karena perbedaan waktu relaksasi T2. T2
weighted image dibuat dengan menggunakan TR dan TE panjang.

16

Berikut massa yang mungkin tampak pada pemeriksaan Magnetic Resonance


Image (MRI) pada tumor paru:

Tampak massa di potongan koronal T2-weighted MRI pada paru kanan menunjukkan
tumor dengan intensitas signal rendah dan atelektasis dengan intensitas signal tinggi
pada lobus kanan bawah dari paru (a). Pada potongan aksial T2-weighted MRI
menunjukkan penebalan pleura pada tanda panah (b). Pada potongan axial diffusionMRI menunjukkan tumor (tanda panah) dan penebalan pleura (c). sumber: Hochheger,
2012.

Perbandingan antara CT-scan dan MRI. CT-scan aksial menunjukkan nodul paru,
dengan batas lobulated, pada lobur bawah kiri paru (a). T2-weighted MRI pada level
yang sama menunjukkan sinyal intensitas tinggi pada lesi (b). sumber: Hochheger,
2012.

17

2.7.5. Pemeriksaan Bone Scanning


Pemeriksaan ini diperlukan bila diduga ada tanda-tanda metastasis ke tulang.
Insiden tumor Non Small Cell Lung Cancer (NSCLC) ke tulang dilaporkan sebesar
15% (Amin, 2009).

2.8.

Staging Tumor Paru


StagingTumor Paru diadaptasi dari guideline terbaru, yaitu 7th Edition of TNM in

Lung Cancer of The International Association for The Study of Lung Cancer (IASLC)
Staging Comitee pada tahun 2009. Berikut ini komponen klasifikasi dari klasifikasi TNM
kanker paru (Zijistra, I., et. al., 2010):
Komponen Klasifikasi
T

Tumor T1
o T1a: 2 cm
o T1b: > 2 cm tetapi 3 cm
Tumor T2
o T2a: > 3 cm tetapi 5 cm
o T2b: > 5 cm tetapi 7 cm
Tumor T3
tumor > 7 cm atau:
o invasi langsung ke: dinding dada, difragma, nervus
frenikus, pleura mediastinal, perikardium parietal,
bronkus

utama

atelektasis

atau

penumonitis

obstruktif keseluruhan paru.


18

o nodul tumor yang terpisah pada lobus yang sama


Tumor T4
tumor dengan ukuran apapun yang menginvasi mediastinum,
jantung, pembuluh darah vena besar, nervus laringeal rekuren,
esofagus, korpus vertebra, carina, atau dengan nodul tumor

terpisah pada lobus berlawanan.


N1
nodus peribronkial ipsilateral dan/atau nodus limfa hilum
ipisilateral dan nodus intrapulmonal
N2
nodus mediastinum ipsilateral dan/atau nodus limfa subcarina
N3
nodus limfa mediastinum kontralateral, hilum kontralateral atau
supraklavikular kontralateral
M1a
nodul paru kontralateral dan diseminasi pleura
M1b
metastasis dekat

Berikut adalah klasifikasi TNM kanker paru (Zijistra, I., et. al., 2010):
T1a
N0
N1
N2
N3

T1b
IA
IIA
IIIA
IIIA

T2a
IB
IIA

T2b
IIA
IIB
IIIA
IIIA

T3
IIB
IIIA
IIIA
IIIA

T4
IIIA
IIIA
IIIB
IIIB

2.9.
Penatalaksanaan
2.9.1. Pembedahan
Pembedahan pada tumor paru bertujuan untuk mengangkat tumor secara total
beserta kelenjar getah bening disekitarnya. Hal ini biasanya dilakukan pada kanker
paru yang tumbuh terbatas pada paru yaitu stadium I (T1 N0 M0 atau T2 N0 M0),
kecuali pada kanker paru jenis SCLC. Luas reseksi atau pembedahan tergantung pada
luasnya pertumbuhan tumor di paru. Pembedahan dapat juga dilakukan pada stadium
lanjut, akan tetapi lebih bersifat paliatif. Pembedahan paliatif mereduksi tumor agar
radioterapi dan kemoterapi lebih efektif, dengan demikian kualitas hidup penderita
tumor ataupun kanker paru dapat menjadi lebih baik.
Pembedahan untuk mengobati tumor paru dapat dilakukan dengan cara :
1.

Wedge Resection, yaitu melakukan pengangkatan bagian paru yang berisi tumor,
bersamaan dengan margin jaringan normal.
19

2.

Lobectomy, yaitu pengangkatan keseluruhan lobus dari satu paru.

3.

Pneumonectomy, yaitu pengangkatan paru secara keseluruhan. Hal ini dilakukan jika
diperlukan dan jika pasien memang sanggup bernafas dengan satu paru.
Para ahli medis memperkirakan bahwa antara 10% dan 35% dari semua
kanker paru-paru dapat diangkat melalui pembedahan.

2.9.2. Radioterapi
Radioterapi dapat digunakan untuk tujuan pengobatan pada kanker paru
dengan tumor yang tumbuh terbatas pada paru. Radioterapi dapat dilakukan pada non
small cell lung cancer (NSCLC) stadium awal atau karena kondisi tertentu tidak dapat
dilakukan pembedahan, misalnya tumor terletak pada bronkus utama sehingga teknik
pembedahan sulit dilakukan dan keadaan umum pasien tidak mendukung untuk
dilakukan pembedahan.
Terapi radiasi dilakukan dengan menggunakan sinar X untuk membunuh sel
kanker. Pada beberapa kasus, radiasi diberikan dari luar tubuh (eksternal). Tetapi ada
juga radiasi yang diberikan secara internal dengan cara meletakkan senyawa
radioaktif di dalam jarum, dengan menggunakan kateter dimasukkan ke dalam atau
dekat paru-paru. Terapi radiasi banyak dipergunakan sebagai kombinasi dengan
pembedahan atau kemoterapi.
2.9.3. Kemoterapi
Kemoterapi pada kanker paru merupakan terapi yang paling umum diberikan
pada small cell lung cancer (SCLC) atau pada kanker paru stadium lanjut yang telah
bermetastasis ke luar paru seperti otak, ginjal, dan hati. Kemoterapi dapat digunakan
untuk memperkecil sel kanker, memperlambat pertumbuhan, dan mencegah
penyebaran sel kanker ke organ lain. Kadang-kadang kemoterapi diberikan sebagai
kombinasi pada terapi pembedahan atau radioterapi.
Penatalaksanaan ini menggunakan obat-obatan (sitostatika) untuk membunuh
sel kanker. Kombinasi pengobatan ini biasanya diberikan dalam satu seri pengobatan,
dalam periode yang memakan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan agar
kondisi tubuh penderita dapat pulih.
Efek samping dari pengobatan ini biasanya mual, muntah, sariawan, rambut
rontok dan kehilangan nafsu makan.

20

2.10.

Komplikasi
Komplikasi yang umum terjadi pada tumor paru antara lain:
hiperkalsemia (tingginya kadar kalsium).
perdarahan setelah dilakukan biopsi
terkadang terjadi penekanan pada korda spinalis. Jika terjadi hal ini, maka segera
berikan kortikosteroid.
Selain itu semua, komplikasi lain yang terjadi bisa akibat dari kemoterapi,

misalnya:
neutropenia (kekurangan neutrofil)
gagal ginjal akibat dampak dari cisplatin
kekurangan magnesium, juga efek samping dari cisplatin.
Komplikasi yang tidak jarang terjadi adalah kematian sebagai akibat sesudah
terapi pembedahan.

2.11.

Pencegahan
Karena merokok merupakan penyebab utama kanker paru maka pencegahan
utama yang dapat dilakukan adalah tidak merokok. Bagi anda yang mungkin sudah
terlanjur merokok ataupun perokok aktif, ada baiknya jika anda segera menghentikan
kebiasaan anda.
Peran pemerintah juga sangat dibutuhkan disini. Misalnya tentang edukasi
publik mengenai bahaya merokok, membuat larangan merokok pada area-area
tertentu, dan meningkatkan pajak tembakau.

2.12.

Prognosis
Menurut IASLC (Rami-Porta, R., et.al., 2009), klasifikasi TNM kanker paru
menjadi penentu prognosis dari kanker paru. Five-year survival rates menurut stage
klinis edisi ke-7 adalah IA 50%, IB 47%, IIA 36%, IIB 26%, IIIA 19%, IIIB7%, dan
IV 2%.

21

BAB III
KESIMPULAN
Tumor jinak paru adalah perubahan pertama dari sel paru berupa metaplasia
skuamosa yang ditandai dengan perubahan bentuk epitel dan menghilangnya silia.
Kanker paru adalah tumor ganas paru primer yang berasal dari saluran napas atau
epitel bronkus. Terjadinya kanker ditandai dengan pertumbuhan sel yang tidak
normal, tidak terbatas, dan merusak sel-sel jaringan yang normal. Penyebab yang pasti
dari kanker paru belum diketahui, tapi paparan atau inhalasi berkepanjangan suatu zat
yang bersifat karsinogenik merupakan faktor penyebab utama disamping adanya
faktor lain seperti kekebalan tubuh, genetik, dan lain-lain. Pada fase awal kebanyakan
kanker paru tidak menunjukkan gejala-gejala klinis. Bila sudah menampakkan gejala
berarti pasien dalam stadium lanjut. Pemeriksaan awal sederhana yang mendeteksi
adanya kanker paru dapat diperoleh dari foto toraks posterior anterior (PA) dan
lateral serta Tomografi dada (CT-scan).Pada pemeriksaan foto toraks, tumor jinak
paru yang paling sering dijumpai adalah hamartoma.Yang lebih jarang
fibroma,kondroma,lipoma,

hemangioma,

dan

lain-lain.Tumor

ganas

adalah
paru

22

menunjukkan gambaran pemeriksaan foto toraks berupa atelektasis, nodul, dan


perselubungan dengan destruksi tulang sekitarnya. Pada pemeriksaan CT-scan
digunakan untuk menilai nodul paru dengan ukuran lesi, tepi lesi, serta tebalnya
kavitas dengan menggunakan kontras. Pemeriksaan ultrasonografi sangat membantu
dalam upaya diagnosis berbagai kelainan pleura dan paru yang letaknya perifer. Scan
MRI tidak bekerja dengan baik untuk mengambil gambar dari bagian tubuh yang
bergerak seperti paru-paru. Pemeriksaan bone scanning diperlukan bila diduga ada
tanda-tanda metastasis ke tulang.Selain itu dilakukan pula pemeriksaan non-radiologis
untuk menegakkan diagnosa tumor paru dan staging tumor.StagingTumor Paru
diadaptasi dari guideline terbaru, yaitu 7th Edition of TNM in Lung Cancer of The
International Association for The Study of Lung Cancer (IASLC) Staging Comitee
pada tahun 2009. Penatalaksanaan tumor paru yang dilakukan adalah pembedahan,
kemoterapi, dan radioterapi berdasarkan stage dan jenis dari tumor paru. Pencegahan
utama yang dapat dilakukan adalah tidak merokok dikarenakan merokok merupakan
penyebab utama kanker paru. Prognosis kanker paru ditentukan berdasarkan stage
TNM kanker paru.

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, A.A., 2013. Pencitraan Resonansi Magnetik, dalam: Rasad, Sjahriar,2013.
Radiologi Diagnostik, Jakarta: Badan Penerbit FK UI, 591-611.

American Society of Clinical Oncology, 2013. Lung Cancer. di unduh dari: www.cancer.net
(Diakses pada tanggal 3 Juni 2014)

Amin. 2009. Kanker Paru, dalam: Sudoyo, A.W., dkk.,Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.
Jakarta: Interna Publishing.

Hiroshi Y, Philipp M, Schletweg, Katsumi K, 2003. Magnetic Resonance Imaging. Elsevier


health, h 46.
23

Hochheger Bruno. Magnetic resonance of the lung: a step forward in the study of lung
disease. J Bras Pneumol 2012; 38 (1): 45-48.

Kusumawidjaja, K., 2013. Tumor Jinak Paru, dalam: Rasad, Sjahriar, 2013. Radiologi
Diagnostik, Jakarta: Badan Penerbit FK UI, 145-147.

Kusumawidjaja, K., 2013. Tumor Ganas Paru, dalam: Rasad, Sjahriar, 2013. Radiologi
Diagnostik, Jakarta: Badan Penerbit FK UI, 148-159.

Netter, F, 2006. Color Netter Atlas of Human Anatomy. USA: Elsevier.

Peter B.Odonovan, MD, The Radiologic Appearance of Lung Cancer; Oncology, September
01, 2007.di unduh dari:http://www.lung.org/lung-disease/lung-cancer/learning-moreabout-lung-cancer/diagnosing-lung-cancer/screening-for-lung-cancer.html(Diakses
pada tanggal 3 Juni 2014)

Price, Sylvia, 2004. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta:EGC.

Rami-Porta, R., Crowley, J.J., Goldstraw, P., 2009. The Revised TNM Staging System for
Lung Cancer. Ann Thorac Cardiovasc Surg; 15(1): No. 4-9

Rumende, Martin C. The role of ultrasonography in the management of lung and pleural
disease. Acta Med Indones 2012; 44(2): 175-180.

24

Suyono, Slamet, 2001.Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, Edisi 3. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI.

SS Mark. 2000.Early lung cancer detection-screening and diagnostic work up by multisicle


spiral chest CT. Jakarta: Radiology Medical Group.

Tortora, G.J, Derrickson, B, 2009. Principles of Anatomy and Physiology, Twelfth Edition.
USA: John Wiley & Sons, Inc.

Zijistra, I., Delden, O., Schaefer-Prokop, C. Smithuis, R., 2010. Lung Cancer New TNM. di
unduh

dari:

http://www.radiologyassistant.nl/en/p42459cff38f02/lung-cancer-new-

tnm.html (Diakses pada tanggal 3 Juni 2014).

25