Anda di halaman 1dari 4

1.

Balok direncanakan untuk menahan tegangan tekan dan tegangan tarik yang diakibatkan
oleh beban lentur yang diakibatkan oleh balok tersebut. Nilai kuat tekan dan tarik balok
berbanding terbalik, di mana nilai kuat tekan beton tinggi sedangkan nilai kuat tarik beton
rendah. Sehingga beton diperkuat dengan memasang tulangan baja pada daerah
terjadinya tegangan tarik.
Ada tiga keadaan penulangan, yaitu :
a. Penampang beton bertulangan seimbang (Balance), yaitu suatu keadaan penampang
di mana letak garis netral sedemikian sehingga tegangan ijin tekan beton maupun
tegangan ijin tarik baja tercapai pada saat bersamaan. Dengan demikian daya guna bahan
beton dan baja pada komposisi tersebut mencapai keadaan paling ekonomis.
b. Penampang beton bertulangan kurang (Under reinforced), yaitu suatu penampang yang
mengandung jumlah luas batang tulangan tarik kurang daripada penampang bertulangan
ideal sehingga letak garis netral naik ke atas lebih dekat ke serat tepi tekan dan tekan
maksimum mengakibatkan tercapainya tegangan ijin tarik baja terlebih dahulu daripada
tegangan ijin tekan beton.
c. Penampang bertulangan lebih (Over reinforced), yaitu suatu penampang yang
mengandung jumlah luas batang tulangan tarik lebih daripada penampang bertulangan
ideal sehingga letak garis netral turun ke bawah lebih dekat ke serat tepi tarik dan beban
maksimum mengakibatkan tercapainya tegangan ijin tekan beton terlebih dahulu daripada
tegangan ijin tarik baja.
Balok direncanakan untuk dapat menahan tegangan tekan dan tegangan tarik yang
diakibatkan oleh beban lentur yang bekerja pada balok tersebut. Mengingat karakteristik
yang dimiliki oleh beton, dimana beton kuat terhadap tegangan tekan tetapi kurang
mampu menahan tegangan tarik, maka beton diperkuat dengan tulangan baja pada daerah
terjadinya tegangan tarik. Penulangan balok beton harus dilakukan dengan cermat, agar
balok mempunyai kemampuan yang baik untuk menahan gaya lentur yang bekerja. Selain

gaya lentur hal-hal yang harus diperhatikan dalam perencanaan balok beton adalah
kapasitas geser, defleks , retak dan panjang penyaluran sesuai dengan persyaratan.
2. Balok T adalah balok yang di cor monolit dengan pelat lantai. Balok T dapat berupa
balok T tunggal atau balok T majemuk.

Balok T Majemuk

Balok T Tunggal

Untuk tujuan perencanaan balok T majemuk di bagi-bagi atas penampang T individual.


Untuk momen lentur negatif flens berada dalam keadaan tarik. Sehingga dalam
perhitungan penampang berlaku sebagai penampang persegi. Untuk momen lentur positif
flens menyediakan luas tekan yang jauh lebih besar ketimbang luas tekan pada
penampang persegi.

3. Rangkak dan Susut


Setelah beton mengeras, maka beton akan mengalami pembebanan. Pada kondisi ini
maka terbentuk suatu hubungan tegangan dan regangan yang merupakan fungsi dari
waktu pembebanan. Beton akan menunjukan sifat elastisitas murni jika mengalami waktu
pembebanan singkat, jika tidak maka beton akan mengalami regangan dan tegangan
sesuai lama pembebanannya. Rangkak (creep) adalah penambahan regangan terhadap
waktu akibat adanya beban yang bekerja. Rangkak timbul dengan intensitas yang
semakin berkurang setelah selang waktu tertentu dan kemudian berakhir setelah beberapa
tahun. Nilai rangkak untuk beton mutu tinggi akan lebih kecil dibandingkan dengan beton
mutu rendah. Umumnya, rangkak tidak mengakibatkan dampak langsung terhadap
kekuatan struktur, tetapi akan mengakibatkan redistribusi tegangan pada beban yang
bekerja dan kemudian mengakibatkan terjadinya lendutan (deflection).

Susut adalah perubahan volume yang tidak berhubungan dengan beban. Proses susut pada
beton akan menimbulkan deformasi yang umumnya akan bersifat menambah deformasi
rangkak.
Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya rangkak dan susut:
Sifat bahan dasar beton (komposisi dan kehalusan semen, kualitas adukan, dan

kandungan mineral dalam agregat)


Rasio air terhadap jumlah semen
Suhu pada saat pengerasan
Kelembaban nisbi pada saat proses penggunaan
Umur beton pada saat beban bekerja
Nilai slump
Lama pembebanan
Nilai tegangan
Nilai rasio permukaan komponen struktur

4. Nilai Slump Pada Beton

Nilai slump adalah nilai yang diperoleh dari hasil uji slump dengan cara beton segar
diisikan ke dalam suatu corong baja berupa kerucut terpancung, kemudian bejana ditarik
ke atas sehingga beton segar meleleh ke bawah.
Besar penurunan permukaan beton segar diukur, dan disebut nilai 'slump'. Makin besar
nilaislump, maka beton segar makin encer dan ini berarti semakin mudah untuk
dikerjakan.
Penetapan nilai slump dilakukan dengan mempertimbangkan faktor-faktor berikut :
1. Cara pengangkutan adukan beton.
2. Cara penuangan adukan beton.
3. Cara pemadatan beton segar.
4. Jenis struktur yang dibuat.

Cara pengangkutan adukan beton dengan aliran dalam pipa yang dipompa dengan
tekanan membutuhkan nilai slump yang besar, adapun pemadatan adukan dengan alat
getar (triller) dapat dilakukan dengan nilai slump yang sedikit lebih kecil.
Sebagai petunjuk awal penetapan nilai slump, dapat mengacu pada tabel penetapan
nilaislump adukan beton berikut :
Pemakaian Beton (Berdasarkan jenis struktur yang dibuat)

Maks (cm) Min (cm)

Dinding, Plat Pondasi dan Pondasi telapak bertulang

12,5

5,0

Pondasi telapak tidak bertulang, Caison, dan struktur di bawah tanah

9,0

2,5

Pelat, Balok, Kolom dan dinding

15,0

7,5

Pengerasan jalan

7,5

5,0

Pembetonan masal (beton massa)

7,5

2,5