Anda di halaman 1dari 12

STUDI MODEL HIDRAULIK PELIMPAH SAMPING

(SIDE CHANNEL SPILLWAY) WADUK GONDANG KABUPATEN


KARANGANYAR DENGAN SKALA 1:50
Acyta Syntia Bhellani, Very Dermawan, Suwanto Marsudi.

Jurusan Pengairan
Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Email : aci_tasyntia@yahoo.com, veryderma@yahoo.com, suwantomarsudi@yahoo.co.id.

ABSTRAK
Kabupaten Karanganyar merupakan salah satu daerah di Jawa Tengah yang perekonomian dan
pertumbuhan penduduknya berkembang dengan pesat. Hal ini menyebabkan peningkatan kebutuhan air
bersih. Untuk menyelesaikan permasalahan ini pemerintah merencanakan pembangunan sebuah waduk, yaitu
Waduk Gondang.
Dalam rangka untuk mendapatkan desain yang baik untuk Waduk Gondang diperlukan adanya
pengujian hidraulika model. Hidraulika model tes ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kondisi
hidraulika pada bangunan pelimpah samping Waduk Gondang dengan hasil perhitungan. Ada beberapa
modifikasi desain berdasarkan kriteria keamanan bendungan. Pada analisa model tes ini dilakukan dengan 4
penelitian, Seri 0, Seri 1,Seri 2 dan Seri 3.
Dalam kajian hidrolika pada model fisik ini, analisa hidraulika pelimpah saluran samping
menggunakan persamaan Hinds. Saluran transisi dan saluran peluncur menggunakan persamaan energi
dengan perhitungan tahapan standar. Sedangkan untuk perhitungan kedalaman gerusan lokal menggunakan
persamaan Schotlisch dan Veronise.
Menurut hasil perhitungan dan hasil pengujian, pada desain pelimpah dan saluran peluncur aman
terhadap bahaya kavitasi dan aliran getar. Hasil dari model tes menunjukkan bahwa desain paling baik adalah
seri 3 sebagai desain akhir.
Kata kunci : side channel spillway, model fisik hidraulik

ABSTRAK
Karanganyar is one of area in Central Java that the economic and population were increasing. It cause
to increase the water demand in Karanganyar. In the aim of solving the problem, government plan to build a
dam.
In order to get the best design for Gondang dam, it is necessary to test by Hydraulic model. Hydraulic
model test aims to compare of hydraulic conditions on the side channel spillway model with the calculation
results. There are some modifications on the design based on analysis of dam safety criteria. The model test
were carried out with 4 series, Serie 0, Serie 1, Serie 2, and Serie 3.
In this study, analysis of hydraulic side channel spillway is using Hind's equation. On the transitions
channel and chuteway channel using the energy equation with standard step method. Local scouring depth
calculated by using Schotlisch and Veronise equation.
According to the results of the calculation and test, on the spillway and chuteway channel design were
safe from impact of cavitation and pulsating flow, and it showed that the best design was based serie 3 as
the final design.
Key word: side channel spillway, physical model hidraulic.

1.

PENDAHULUAN
Proyek Lokasi Waduk Gondang yang di
laksanakan ini secara administratif berada di
Kabupaten Karanganyar yang terletak
dibagian tenggara Propinsi Jawa Tengah.
Waduk Gondang ini juga berada di
daerah Aliran Sungai Bengawan Solo.
Secara umum wilayah Sungai Bengawan
Solo terletak pada 11018 sampai 11245

Bujur Timur dan 649 sampai 808


Lintang Selatan. Sungai Bengawan Solo
dengan panjang sekitar 600 km terdiri dari
luas DAS 16.100 km2 yang melalui wilayah
Jawa Tengah dan Jawa Timur
Perencanaan bangunan pelimpah dari
Waduk Gondang mempunyai tingkat resiko
dan biaya investasi yang tinggi, sehingga

I-1

menuntut ketelitian dan kajian yang


mendalam.
Oleh karena itu, perencanaan Waduk ini
dipandang perlu mengadakan pengujian
terhadap dimensidimensi bangunan yang
telah direncanakan dalam bentuk uji model
fisik untuk peninjauan bangunan dari segi
hidrolika, sehingga didapatkan keyakinan
akan keberhasilan, dan keamananan desain.
Maksud dari uji model fisik hidrolika
ini adalah untuk mempelajari perilaku
hidrolika pada bangunan pelimpah tipe
pelimpah samping yang ditunjang dengan
beberapa bangunan yang terdiri atas 3
bagian bangunan yaitu saluran transisi,
saluran peluncur dan bangunan peredam
energi (stilling basin).
Tujuan dari model fisik ini adalah untuk
memberikan saran berupa penyempurnaan
dari aspek hidrolika yang berupa alternatif
desain berdasarkan perencanaan yang sudah
ada. Bila dari hasil percobaan diketahui
bahwa desain yang ada kurang memuaskan.
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Kavitasi
Kavitasi adalah suatu kejadian yang
timbul dalam aliran dengan kecepatan begitu
besar, sehigga tekanan air menjadi lebih
kecil dari pada tekanan uap air maksimum di
temperatur itu. Proses ini menimbulkan
gelembung-gelembung uap air yang dapat
berpotensi
menimbulkan erosi
pada
konstruksi. (Patty,1995:99)

Cp =

Pg Po

(2-2)
2
V0

2
Jika P Pv, maka 1 = -Cp
dengan:

= indeks kavitasi
Po = ambient pressure (kPa)
1kPa = 1000 N/m2
= Pa + Pg
Pa = tekanan atmosfir (=101 kPa)
Pg = tekanan setempat (kPa)
=.g.h
h
= tinggi muka air (m)
Pv = tekanan uap (kPa)

= massa jenis cairan (kg/m3)


Vo = kecepatan aliran (m/dt)
Cp = koefisien kavitasi
1 = angka batas kavitasi
Kriteria kavitasi:
> 1 : tidak terjadi kavitasi
1 : terjadi kavitasi
Untuk menghitung besarnya angka
kavitasi, harus diketahui besarnya massa
jenis air dan tekanan uap yang mana kedua
hal tersebut dipengaruhi oleh suhu pada saat
penelitian berlangsung. Adapun besarnya
nilai massa jenis air dan tekanan uap
berdasarkan suhu dapat dilihat pada Tabel 1.

2.1.2

Indeks Kavitasi
Suatu bentuk persamaan untuk
memperkirakan kavitasi berupa parameter
tak berdimensi, merupakan hubungan antara
gaya pelindung terhadap kavitasi (ambient
pressure) dan penyebab kavitasi (dynamic
pressure) yang disebut indeks kavitasi.
Perhitungan kavitasi dengan persamaan
berikut (Roberson dkk, 1998:386):
Po Pv
(2-1)
=
2
V0

I-2

(t)
C

Massa
jenis
()
kg/m3

Tekanan
Uap Air
(Pv)
kPa

Kekentalan
Kinematis
()
2
m /dt.106

0
5
10
15
20
25
30
35
40
45
50
60
70
80
90
100

999,868
999,992
999,726
999,125
998,228
997,069
995,671
994,055
992,238
990,233
998,052
983,200
977,770
971,800
965,310
958,360

0,61
0,87
1,23
1,70
2,33
3,16
4,23
5,62
7,58
9,58
12,30
19,90
31,10
47,30
70,10
101,30

7,787
1,519
1,307
1,140
1,004
0,893
0,801
0,724
0,658
0,602
0,553
0,475
0,413
0,365
0,326
0,294

Temperatur
o

Sumber: Falvey, 1990:3

2.2

Aliran Getar
Aliran getar merupakan fenomena
hidraulika yang harus diperhatikan dalam
bangunan saluran peluncur.
Pada suatu saluran peluncur yang
panjang terdapat bahaya ketidak stabilan
dalam aliran yang disebut sebagai aliran
getar (slug/pulsating flow). Apabila panjang
saluran tersebut lebih dari 30 meter, maka
harus dikontrol dengan cara menghitung
bilangan Vendernikov(V) dan bilangan
Montuori (M) (Anonim, 1986:95).

V=

2bv
3P gd cos

V2
M =
gIL cos

= panjang saluran (m)


Nilai perhitungan kedua persamaan
tersebut selanjutnya diplotkan pada Gambar
1, untuk menetahui timbul tidaknya aliran
getar. (Anonim,1986:97).
9
8

Bilangan Vendernikov (V)

Tabel 1 Sifat Fisik Air Pada Tekanan Atmosfer


(Satuan SI)

Daerah aliran getar

7
6
5
4
3

Daerah tanpa aliran getar


2
1
0
0

0,1

0,2

0,3

0,4

0,5

0,6

0,7

0,8

0,9

2
Bilangan M ontouri (M )

Gambar 1 Grafik Aliran Getar


Sumber: Anonim, 1986:97

Adapun cara untuk mengurangi


kemungkinan terjadinya aliran getar pada
suatu saluran yang berpotensi untuk terjadi
aliran getar, yaitu sebagai berikut:
1. Dengan merubah desain penampang
saluran, yaitu mengurangi lebar saluran.
2. Memperlandai dasar saluran dengan
mengurangi slope, sehingga kecepatan
aliran dapat diminimalkan.
3. Dengan jeram (cascades), yaitu
mekanisme untuk transportasi aliran.
Stricklen (1984) mengusulkan Cascades
digunakan pada kemiringan dasar antara
5% 65% dengan kecepatan di atas 10
m/dtk. Salah satu tipe cascade yang
dapat digunakan adalah cascade
receiving sump, dapat dilihat pada
Gambar 2 berikut ini:

dengan :
b
= lebar dasar saluran (m)
v
= kecepatan aliran (m/dt)
g
= percepatan gravitasi
( = 9,81 m/dt2)
P
= keliling basah (m)
d
= kedalaman hidraulik (m)
I
= kemiringan rerata gradien energi
(= tan)

= sudut gradien energi

Gambar 2 Cascade receiving sump.


Sumber: Anonim, 2012:6.55

I-3

3.

BAHAN DAN METODE


Pelaksanaan pekerjaan untuk model test
hidrolika ini didukung oleh fasilitas dari
Laboratorium Hidrolika Terapan Fakultas
Teknik Universitas Brawijaya Malang.
Alat-alat pendukung percobaan model yang
digunakan terdiri dari:
1. Empat buah pompa listrik masing-masing
berkapasitas 25 l/dt, 45 l/dt, 30 l/dt dan
30 l/dt.
2. Kolam penampung air sebagai sistem
distribusi air di model disajikan pada
Gambar 3. Bangunan ukur debit Rechbox
yang terbuat dari fiberglass tebal 5 mm
dengan ukuran yang disesuaikan dengan
standar.
3. Alat pengukur tinggi muka air berupa
meteran taraf (point gauge), pengukuran
kecepatan berupa tabung pitot dan small
current meter.
4. Model bangunan pelimpah, transisi,
peluncur, peredam energi sesuai dengan
skala yang digunakan.
5. Rencana bangunan yang dimodelkan.
Tahapan pelaksanaan uji model test ini
disajikan dalam Gambar 1.
Rancangan Percobaan
Sesuai dengan investigasi dari lapangan dan
berdasarkan desain konstruksi konsultan
perencanaan, pengujian perilaku hidrolika
aliran di bangunan pelimpah diuji dengan
beberapa tahapan dan kondisi model.
Kalibrasi
Kalibrasi adalah tahapan dari mencocokan
parameter model dan prototype agar diperoleh suatu fenomena yang menyerupai.
Verifikasi
Merupakan tahapan pembuktian kebenaraan
parameter model dan prototype sehingga
diperoleh validasi sesuai dengan ketelitian
yang diharapkan.
Development Test
Merupakan tahapan pengujian model yang
bertujuan untuk mengetahui perkembangan
perilaku hidrolika aliran sehubungan dengan
upaya meminimalkan kondisi aliran yang
kurang baik, dan untuk juga mengetahui
gejala - gejala lain yang berpotensi timbul
seperti gejala kavitasi dan aliran getar.

Model Seri 0
Model Seri 0 merupakan model yang dibuat
berdasarkan original desain konsultan.
Model Seri 1, 2 dst.
Model Seri ini merupakan alternatif desain
(modifikasi), bila hasil Model Seri 0 kurang
baik.
Final Design
Merupakan usulan penyempurnaan yang
terbaik di antara model seri.
Masing-masing model test tersebut diuji
dengan beberapa variasi debit banjir
Q2,Q50, Q100, Q1000, dan QPMF.

I-4

Mulai

Data Perlakuan Hidraulik


Debit Operasi
Tinggi Muka air

Data Teknis
Sistem Bangunan
Pelimpah

Perencanaan Model Fisik Hidrolika

Studi literatur

Ketersediaan Fasilitas Laboratorium

Penetapan Skala Model

Kalibrasi
Debit
Dimensi
Verifikasi
Tinggi Muka Air

Pelaksanaan Model Fisik Seri 0


Pelaksanaan Seri Alternatif

Tidak
Sesuai
kriteria

Modifikasi / Alternatif

Ya
Kesimpulan dan Rekomendasi

Selesai

Gambar 3 Tahapan Pelaksanaan Pekerjaan Pengujian Model fisik Hidraulika

I-5

4.

HASIL UJI MODEL TEST

Untuk memperoleh unjuk hasil


(performance) dari desain bangunan, di
lakukan uji pengembangan (development
test). Dalam pengujian ini sekaligus
untuk mengetahui kebenaran model yang
dibuat terhadap skala yang digunakan.
Mengacu pada penetapan skala
dengan tingkat ketelitian sampai dengan
4,8%, terlihat bahwa hasil model secara
keseluruhan telah memenuhi persyaratan
(Tabel 2. Sehingga dengan skala 1 : 50
hasil model tidak menimbulkan efek
skala pada prototype.
Tabel 2 Tingkat Kesalahan Relatif Hasil
Pengujian
Kala
ulang
(Tahun)

Hd
Pengukuran
(m)

Hd
USBR
(m)

Kr
USBR

0,950

0,971

2,151

50

1,850

1,792

3,221

100

2,007

1,937

3,610

1000

2,600

2,578

3,875

PMF

3,7

3,551

4,188

(%)

Sumber: Hasil Perhitungan

Pengujian Seri Model


A. Perubahan Desain
Model Seri 0
Untuk memperoleh desain yang
memenuhi kondisi hidraulik, dilakukan
pengujian terhadap original design
sebagai model seri 0 yaitu yang dibuat
sesuai desain dari konsultan perencanaan.
Model seri 0 dimaksudkan untuk
mengetahui fenomena hidraulik pada
bangunan dengan berbagai kondisi debit
operasi, Berikut penjelasan untuk hasil
beberapa aspek hidraulik yang terkait
dengan pengujian model fisik ini,
- Kecepatan aliran masih relatif besar
(5,526 m/det pada Q100 = 396,93
m3/dt) dan menyebabkan scouring
pada escape channel,

Lokasi olakan air masih terdapat di


dalam stilling basin (Q100=253,16
m3/dt)
Kondisi aliran di apron hilir dari
stilling basin, kondisi aliran tidak
tenang karena fungsi peredam yang
tidak berfungsi optimal (Q1000 =
396,93 m3/dt)
Loncatan hidraulik setelah stilling
basin pada Q1000 masih tinggi dan
pada QPMF sangat tinggi.

Model Alternatif Design


Berdasarkan perilaku aliran yang
terjadi pada Model seri 0 yang telah
dilakukan kondisi aliran pada kolam
tampungan waduk sudah baik. Akan
tetapi pola aliran yang terjadi pada
bangunan sistem pelimpah belum baik.
Maka perlu dilakukan modifikasi
pada bangunan model agar perilaku aliran
yang dapat lebih baik secara hidrolik.
Berdasarkan hasil uji model seri 0
terdapat hasil yang kurang baik, maka
perlu dilakukan model alternatif design,
Adapun alternatif design sebagai berikut:
Model Seri 1
Berdasarkan perilaku aliran yang
terjadi pada Model seri Hasil pengujian
yang telah dilakukan:
- Mengubah inlet saluran pengarah ke
pelimpah dengan membuat jari-jari
tertentu serta menambah panjang
pilar. Hal ini untuk meminimalkan
gangguan pada inlet/ujung tebing
terhadap aliran di saluran pengarah
sehingga aliran menjadi semakin
baik.
- Membuat ambang tambahan pada
saluran transisi untuk mendapatkan
aliran yang tenang sebelum masuk
ke peluncur.

I-6

R inlet

R pelimpah
R

Gambar 4. Mengubah inlet saluran pengarah


ke pelimpah

ambang

Gambar 5. Menambah ambang tambahan


pada saluran

Model Seri 2
Hasil perubahan design yang telah
dilakukan pada Model seri 2 adalah:
1. Menghilangkan ambang tambahan,
pada saluran transisi, agar aliran
yang didapatkan tenang sebelum
masuk ke peluncur,
2. Memberi baffle block pada hilir
pintu saluran samping hal ini untuk
menghilangkan pusaran air pada
dasar saluran samping pada dasar
saluran samping pada hilir pintu,
3. Memberi baffle block dan ujung
saluran transisi untuk menciptakan
aliran yang lebih tenang ketika
memasuki saluran transisi

ambang

Baffle block

Gambar 6. Menambah ambang tambahan


pada saluran transisi dan menambah baffle
block

Maka perlu dilakukan beberapa


modifikasi pada bangunan model untuk
mendapatkan perilaku aliran yang lebih
baik secara hidraulik sehingga didapatkan
final design. Beberapa perubahan desain
pada final design adalah:
5. Menyamakan elevasi hilir saluran
transisi dengan elevasi pada hulu
saluran samping atau hilir pintu
(+509,00). Hal ini diperlukan
untuk mendapatkan aliran yang
lebih tenang sebelum masuk ke
peluncur.
6. Memberi tambahan baffle block,
satu baris pada hulu saluran
transisi sehingga menciptakan
aliran yang lebih tenang ketika
memasuki saluran transisi.
Pada final design ini telah didapatkan kondisi aliran yang cukup baik.
Khusus pada final design dilakukan
pengamatan pada pola gerusan pada
saluran dihilir peredaman energi. Secara
keseluruhan perubahan design yang
dilakukan pada original design sampai
mendapatkan final design adalah sebagai
berikut:
1. Mengubah inlet saluran pengarah ke
pelimpah, dengan membuat ujung
bulat dengan jari-jari tertentu
2. Memperpanjang pilar
3. Memberi baffleblock pada hilir pintu
dasar saluran samping
4. Memberi baffle block dan ujung hulu
saluran transisi
5. Menyamakan elevasi hilir saluran
transisi dengan elevasi hulu saluran
samping atau hilir pintu (+509,00)

+509,00

Model Seri 3 (Final design)


Berdasarkan perilaku aliran yang
terjadi pada model seri 2 yang telah
dilakukan kondisi aliran kurang baik
hanya terjadi pada saluran samping,
saluran transisi dan saluran peluncur.

Gambar 7. Perubahan design pada final


design dengan menaikkan elevasi dihilir
transisi.

I-7

+Baffle block

+Baffle block

Gambar 8. Perubahan design pada final


design dengan menambah baffle block pada
saluran transisi dan pada hilir pintu.

5. PEMBAHASAN
5.1 Hasil Analisa Kavitasi Uji Model
Perhitungan dari analisa kavitasi
digunakan untuk mengetahui terjadinya
potensi kavitasi pada bangunan pelimpah,
saluran transisi dan saluran peluncur.
Kavitasi dapat mengakibatkan perusakan
terhadap lantai dasar saluran dikarenakan
adanya penghisapan akibat kecepatan
yang tinggi.
Syarat terjadi kavitasi bila < 1
sehingga, berdasarkan hasil analisa
kavitasi untuk pengukuran pada bacaan
pizometer uji model pada debit Q2, Q50,
Q100, Q1000, dan QPMF terjadi kavitasi
pada bangunan pelimpah di beberapa
section. Sedangkan pada saluran transisi
dan peluncur tidak terjadi kavitasi.
Hasil perhitungan analitik kavitasi
tidak terjadi. Akan tetapi potensi kavitasi
yang terjadi dari bacaan pizometer >-4
sehingga potensi kavitasi tersebut kecil
dan masih dianggap aman terhadap
bahaya kavitasi yang terjadi dalam
pelaksaanaannya di lapangan.
Untuk menghindari bahaya dari
kavitasi lokal, tekanan minimum pada
mercu bendung harus dibatasi sampai
dengan -4 m tekanan air, jika bangunan
tersebut dari beton. Untuk konstruksi
pasangan batu, tekanan sub atmosfer
sebaiknya dibatasi sampai dengan -1 m
tekanan air.

5.2 Hasil Analisa Aliran Getar Uji


Model
Perhitungan Aliran getar pada
saluran peluncur dilakukan dengan
menggunakan bilangan mountori dan
bilangan vandernikov, dan dilakukan
dikoreksi dengan menggunakan grafik
untuk mengetahui kriteria aliran getar
untuk menentukan batas terjadinya aliran
getar. Bilangan montouri dan verdernikov
diplotkan pada Gambar 8. sehingga dapat
di ketahui daerah aliran bergetar dan
daerah tanpa aliran getar.
Berdasarkan hasil evaluasi aliran
getar berdasarkan perhitungan tidak
mengalami aliran getar/pulsating flow ,
sedangkan pada hasil pengukuran melalui
uji model di dapatkan aliran getar tidak
terjadi. Sehingga hasil evaluasi aliran
getar pada final design dianggap aman
terhadap bahaya aliran getar/pulsating
flow.

I-8

12.000

10.000

8.000

batas daerah aliran getar


Q2

Daerah Tanpa Aliran Getar

Q 50

6.000

Q 100
Q 1000
Q PMF

4.000

2.000

0.000
0.000

5.000

M2

10.000

15.000

Gambar 9. Grafik Aliran Getar

I-6

5.3 Hasil Analisa Local Scouring


Perhitungan Analisa Local Scouring
dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Hasil Perhitungan dan
Pengukuran Kedalaman Gerusan Lokal
Kala
Ulang
Q2
Q50
Q100
Q1000
QPMF

Q
(m3/dt)
82,75
218,26
253,16
396,93
683,3

Hasil Perhitungan
Schoklitsch
(m)
1,567
2,686
3,062
3,936
5,593

Veronise
(m)
4,082
7,632
8,927
11,854
17,912

Hasil
Pengukuran
(m)
2,131
3,722
5,164
5,075
6,149

Sumber: Hasil Perhitungan


Gerusan lokal pada hilir peredam
energi terjadi gerakan material dasar
sungai pada debit Q2, Q50 , Q100,, Q1000 ,
dan QPMF terjadi pergerakan material
dasar sungai.
Untuk kedalam gerusan pendekatan
hitungan yang mendekati dengan hasil
pengujian adalah perhitungan dengan
menggunakan metode Schoklitsch.
KESIMPULAN
Berdasarkan analisa perhitungan
dan pengujian pada model tes Waduk
Gondang dengan skala 1:50 yang
dilakukan ini sesuai dengan rumusan
masalah yang ada di model test, maka
dapat disimpulkan beberapa hal sebagai
berikut:
1. Pendekatan hitungan terhadap kondisi
aliran yang terjadi adalah sebagai
berikut:
a. Pelimpah
Pada semua debit rancangan
mempunyai kondisi aliran yang
baik, dimana pada pelimpah
mempunyai aliran merata. Tinggi
tekan air di atas pelimpah (Hd)
pada hasil perhitungan dan hasil
pengujian mempunyai perbedaan
dengan hasil perhitungan yaitu
pada Q2 = 2,151%, Q50 = 3,221%,

Q100= 3,610%, Q1000 = 3,875%,


QPMF = 4,188%.
b. Saluran pelimpah samping
Pada original design sampai
dengan seri 2 kondisi aliran
subkritis dari hulu saluran sampai
hilir saluran pelimpah samping,
pada hasil pengujian model tes
dengan Q2 , Q50, dan Q100 terjadi
kondisi aliran yang kurang merata
pada saluran samping.
Kondisi aliran kurang merata itu
disebabkan oleh perlakuan pada
bukaan pintu dan pelimpah.
Kondisi itu dapat diminimalkan
dengan endsill dan baffeblock
pada saluran transisi sehingga
aliran cukup merata dan baik, hal
ini dapat dilaksanakan pada final
design/seri 3.
c. Saluran transisi
Pendekatan hitungan pada saluran
transisi menggunakan tahapan
standar dengan titik kontrol pada
ujung hilir saluran transisi dengan
kondisi kritis atau bilangan
Froude sama dengan 1 (satu).
Pada original design sampai
dengan seri 2 kondisi aliran
subkritis dari hulu saluran sampai
hilir saluran pelimpah samping,
pada hasil pengujian model tes
dengan Q2 , Q50, dan Q100 terjadi
kondisi aliran silang pada saluran
samping di pengamatan model.
Kondisi itu dapat diminimalkan
dengan endsill dan baffeblock
pada saluran transisi sehingga
crossflow/aliran silang mulai tidak
terlihat pada model, hal ini di
laksanakan pada final design/seri
3.
d. Saluran peluncur
Pada debit rancangan Q2, Q100,
Q1000 dan QPMF mempunyai
kondisi aliran cukup baik dan
merata pada uji model final
I-10

design sedangkan pada kondisi uji


model seri original, seri 1, dan
seri 2 masih terdapat aliran
crossflow.
Pendekatan hitungan pada saluran
peluncur menggunakan metode
tahapan standart. Pendekatan
hitungan tersebut dapat mendekati
dengan hasil pengujian sehingga
dapat dijadikan referensi untuk
memprediksi tinggi muka air dan
kecepatan aliran pada saluran
peluncur. Nilai kesalahan relatif
pada saluran peluncur di titik 6
untuk debit rancangan Q2, Q50,
Q100, dan Q1000 adalah Q2 =
1,157%, Q50 = 5,3823%, Q100 =
35,1887%, Q1000 = 0,1667%, Qpmf
= 18,37%,
e. Peredam energi
Peredam energi yang dipakai pada
uji model ini adalah Tipe
Kolam/Bak Tenggelam dengan
panjang stilling basin 50 m, lebar
20,00 m dan tinggi end sill 1,50
m. Kondisi aliran subkritis , tetapi
masih berpotensi terjadi gerusan
dikarenakan adanya penyempitan
saluran dihilir dan topografi yang
kurang memungkinkan.
2. Pada saluran peluncur terdapat dua
jenis analisa untuk keamanan saluran
yaitu kavitasi dan aliran getar:
- Hasil analisa kavitasi untuk
pengukuran hasil uji model pada
bacaan pizometer pada debit Q2,
Q50, Q100, Q1000, dan QPMF terjadi
kavitasi pada bangunan pelimpah
dan peluncur dibeberapa section.
Pada hasil perhitungan analitik
potensi kavitasi tidak terjadi.
Nilai potensi kavitasi maksimal
yang terjadi dengan h = 0,1603,
= 0,0006 dengan 1 = 0,0006
Sedangkan pada pembacaan
pizometer hasil uji model,
kavitasi maksimal yang terjadi h
= -0,26 m pada debit QPMF

3.

section 0 dengan = 0,0599


dengan 1 = 0,0629.
- Pada debit rancangan Q2, Q50,
Q100, Q1000 dan QPMF aliran getar
tidak terjadi. Aliran getar dari
semua debit bila di plot terhadap
grafik bilangan Mountori dan
bilangan Vandernikov masih
dalam kondisi aman. Q2 V =
0,303 M = 2,971 , Q50 V =
0,4524 M = 13,3739, Q100 V =
0,203 M = 2,971 Q1000 V =
0,2918 M = 5,566 , dan QPMF V
= 0,3491 M = 8,74581.
Sehingga model dan prototipe
aman terhadap aliran getar dari
bahaya gerakan hidrodinamik.
Gerusan lokal pada hilir peredam
energi terjadi gerakan material dasar
sungai pada debit Q2, Q50 , Q100,,
Q1000, dan Qpmf terjadi pergerakan
material dasar sungai.
Untuk kedalam gerusan pendekatan
hitungan yang mendekati dengan
hasil pengujian adalah metode
Schoklitsch. Untuk hasil perhitungan
analitik, kedalaman gerusan pada Q2
= 1,567 m, Q50 = 2,686 m, Q100 =
3,062 m, Q1000 = 3,9636 m, dan QPMF
= 5,593 m. Sedangkan kedalaman
dari hasil pengujian model test pada
seri Q2 = 2,911 m, Q50 = 3,375 m,
Q100 = 4,837 m, Q1000 = 1,973 m, dan
QPMF = 4,800 m.

DAFTAR PUSTAKA
Syntia B.,Acyta.2013. Studi Model
Hidraulik Pelimpah Samping (Side
Channel Spillway) Waduk Gondang
Kabupaten Karanganyar Dengan
Skala 1:50. Malang: Universitas
Brawijaya.
(Skripsi Tidak dipublikasikan)
Roberson Cassidy dan Chaudry. 1997.
Hidraulic Enginering, New York.
Chisester,Weiham,
Brisbane,Singapore,Toronto : Jhon
Willey dan Sons,Inc.

I-11

United States Department of The Interior:


Bureau of Reclamation. 1987.
Design of Small Dams. Oxford &
IBH Publishing CO. New Delhi
Bombay Calcutta.
Falvey, Henry T. 1990. Cavitation in
Chutes and Spillways. United
States Department Of The Interior
: Bureau of Reclamation.
Anonim, 1986. Standar Perencanaan
Irigasi - Kriteria Perencanaan 04.
Badan
Penerbit
Departemen
Pekerjaan Umum, Jakarta 1986.
Anonim, 2012. Slurry flow in Open
Channel. Developed for Fluor
Daniel Wright Engineers. Internal
report.
Patty,O.1995.TenagaAir.Jakarta:Erlangga

I-12