Anda di halaman 1dari 6

STUDI ARUS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT MENGGUNAKAN PEMODELAN

ATP/EMTP PADA JARINGAN TRANSMISI 150 KV


DI SULAWESI SELATAN
Franky Dwi Setyaatmoko 2207100616
Bidang Studi Teknik Sistem Tenaga
Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh November
Kampus ITS Gedung B dan C Sukolilo Surabaya 6011
Abstrak: Hubung singkat sebagai salah satu gangguan
dalam sistem tenaga listrik yangmempunyai
karakteristik transient yang harus dapat diatasi oleh
peralatan pengaman. Terjadinya
hubung
singkat mengakibatkan
timbulnya
lonjakan
arus
dengan magnitude
lebih tinggi dari keadaan normal dan tegangan
di tempat tersebut menjadi sangat rendah. Pada
tugas
akhir
ini
akan
membahas
simulasi
gangguan hubung singkat pada sistem transmisi
150 kV. Metode yang digunakan adalah melakukan
simulasi dengan bantuan software
ATP/EMTP (Electromagnetic
Transient
Program) untuk mendapatkan karakteristik arus dan
tegangan pada sistem jaringan transmisi 150 kv di
Sulawesi Selatan. Pembahasan ini bertujuan untuk
meneliti perubahan
arus dan tegangan selama terjadinya gangguan hubung
singkat dengan impedansi maupun tanpa impedansi
gangguan. Pada kasus ini akan diambil contoh hubung
singkat di lokasi saluran udara antara GI BONE
dengan GI BLKMB yaitu; hubung singkat tanpa
impedansi terjadi
pada gangguan tiga phasa
menghasilkan arus transient sebesar 8.882,1 A dan arus
minimum pada gangguan satu phasa ke tanah sebesar
2.487,7 A, sedangkan untuk hubung singkat
menggunakan impedansi 5 Ohm terjadi pada gangguan
tiga phasa menghasilkan arus transient sebesar
6.530,1 A dan arus minimum pada gangguan satu phasa
ke tanah sebesar 2.260,0 A.

yang sangat rendah di lokasi gangguan, sehingga


diperlukan suatu simulasi dengan menggunakan
software ATP/EMTP (Electromagnetic Transients
Program) untuk meneliti perubahan arus dan tegangan
selama terjadinya gangguan hubung singkat. Studi
gangguan hubung singkat ini menggunakan sistem
jaringan transmisi 150 kV di Provinsi Sulawesi Selatan.
II. GANGGUAN HUBUNG SINGKAT
Gangguan Hubung Singkat
Hubung singkat sebagai salah satu gangguan
dalam sistem tenaga listrik yang mempunyai
karakteristik transient yang harus dapat diatasi oleh
peralatan pengaman. Terjadinya hubung singkat
mengakibatkan timbulnya lonjakan arus dengan
magnitude lebih tinggi dari keadaan normal dan
tegangan di tempat tersebut menjadi sangat rendah yang
dapat mengakibatkan kerusakan pada isolasi, kerusakan
mekanis pada konduktor, bunga api listrik, dan keadaan
terburuk yaitu kegagalan operasi sistem secara
keseluruhan.
Ada beberapa jenis gangguan hubung singkat
atau short circuit pada sistem tenaga listrik
(Ditunjukkan pada Gambar 2.1), yaitu:
1. Simetri atau seimbang
a. Tiga phasa (LLL)
b. Tiga phasa ke tanah (LLLG)
2. Tidak simetri atau tidak seimbang
a. Satu phasa ke tanah (LG)
b. Dua phasa ke tanah (LLG)
c. Antar phasa (LL)
2.1

I. PENDAHULUAN
Gangguan pada peralatan ketenagalistrikan sudah
menjadi bagian dari pengoperasian peralatan tenaga
listrik. Mulai dari pembangkit, transmisi hingga pusatpusat beban tidak pernah lepas dari berbagai macam
gangguan. Bagian dari peralatan tenaga listrik yang
sering mengalami gangguan adalah kawat transmisinya.
Hal ini disebabkan luas dan panjang kawat transmisi
yang terbentang dan beroperasi pada kondisi udara yang
berbeda-beda, dimana pada umumnya yang lewat udara
(diatas tanah) lebih rentan terhadap gangguan dari pada
yang ditaruh dalam tanah (underground). Gangguan
dalam sistem tenaga listrik merupakan keadaan yang
tidak normal dimana keadaan ini dapat mengakibatkan
kerusakan atau mempengaruhi sistem.
Gangguan hubung singkat akan menimbulkan
arus hubung singkat yang cukup besar dan tegangan

a)

c)

b)

d)

e)

Gambar 2.1. Gangguan Hubung Singkat: a) LLL b) LLLG


c) LL d) LLG e) LG

2.2

Gangguan di Saluran Transmisi


Keadaan peralihan didapatkan dari penggunaan
tegangan arus bolak balik pada suatu rangkaian yang
mempunyai nilai resistansi dan induktansi, dimana
tegangan ini [6] adalah:
e = E s i n ( t + )
2.1
E adalah tegangan maksimum (Vmaks) dan Arus
i merupakan penjumlahan dari 2 komponen yaitu :
i = ia + i d c
2.2
dimana:
ia adalah arus bolak balik
ia = I sin ( t + ), nilainya berubah menurut
sinusoida dengan waktu
I = arus maksimum =

)t

idc = - I sin e L
Nilai awalnya tergantung pada dan
menyusut secara eksponensial menurut konstanta
walau R/L.
)

[ sin ( t + ) ) sin ( ) e

Z = [R

R
L

)t

] 2.4

2
+ (L) ]

-1

= tan ( L / R)
Dari persamaan 2.4. didapat Dimana arus ini
merupakan arus puncak maksimum pertama ip,
sehingga ip harus dihitung untuk menentukan kapasitas
teruji (making capacity) dan pemutus daya yang
diperlukan dan menentukan ketahanan elektrodinamik.
Hal ini dapat ditunjukkan pada Gambar 2.3. Nilai ip
dapat diambil dari nilai rms arus hubung singkat yang
seimbang ia dengan persamaan:
2.5
III.

idc adalah komponen arus searah


R

dimana:

ip= K 2 ia

Zsc

= perbedaan sudut antara tegangan awal gangguan


dan tegangan nol.

I=

ATP/EMTP

(ELECTROMAGNETIC TRANSIENT PROGRAM)

ATPDraw adalah preprosesor versi ATP dari


Electromagnetic Transient Program (EMTP) pada
sistem operasi windows. Program ini ditulis dengan
bahasa Borland Delphi 2.0 dan dapat berjalan normal
dengan perangkat lunak Windows 9x/NT/2000/XP [10].
ATPDraw memiliki kemampuan membuat dan
menyusun rangkaian listrik dan memilih komponen dari
menu yang tersedia.
Data pada sistem jaringan transmisi 150 kV
di Sulawesi Selatan berupa Generator, transformator,
penghantar, dan beban dimasukkan pada pemodelan
ATP/EMTP yang kemudian akan disimulasikan untuk
mengetahui arus dan tegangan hubung singkat pada
salah satu saluran transmisi tersebut.
IV. SIMULASI DAN ANALISA

Gambar 2.2. Bentuk Arus dari penjumlahan 2 komponen [6]

4.1 Simulasi Sistem


Simulasi ini adalah simulasi sistem yang
dilakukan pada saat terjadi gangguan hubung singkat
pada sistem transmisi tegangan tinggi 150 kV dapat
ditunjukkan seperti pada Gambar 4.1. Dengan
mengambil saluran transmisi antara GI Bone dan
GI BLKMB. Karakteristik arus dan tegangan yang
ditampilkan adalah gangguan hubung singkat dengan
impedansi 5 Ohm.
4.2 Gangguan Hubung Singkat Dengan Impedansi
Gangguan 5

Gambar 2.3 Arus Hubung Singkat pada Saluran Transmisi [7]

Jika tegangan sesaat bernilai nol dan meningkat


dengan arah positif saat saklar ditutup, = 0. Jika
tegangan sesaat maksimumnya positif, = /2. Hal ini
dapat dilihat pada Gambar 2.2 Bentuk Arus dari
penjumlahan 2
komponen, maka
persamaan
diferensialnya adalah:
di
2.3
E sin ( t + ) Ri + L
dt

Gangguan hubung singkat yang ditampilkan


karakteristik arus dan tegangan adalah gangguan
hubung singkat satu phasa ke tanah (hubung singkat
minimum) dan gangguan hubung singkat tiga phasa
(hubung singkat maksimum). Untuk gangguan yang lain
hasilnya di tunjukkan pada Tabel 4.2.
4.2.1 Gangguan hubung singkat satu phasa
Gangguan hubung singkat satu phasa ke tanah
yang terjadi sepanjang saluran transmisi GI BLKMB GI Bone diasumsikan pada phasa A.

Gambar 4.1 Single Line Diargram Jaringan Transmisi 150 kV di Sulawesi Selatan dengan Menggunakan ATP/EMTP
2500
[A]
1875

1250
625

-625

-1250

-1875

-2500
0.00

0.04

0.08

0.12

0.16

[s]

0.20

Gambar 4.2 Bentuk Arus Gangguan Hubung Singkat Satu Phasa


ke Tanah pada Saluran Transmisi antara GI BLKMB - GI Bone.
200
[kV]
150
100
50
0
-50
-100
-150
-200
0.00

0.04

0.08

0.12

0.16

[s]

0.20

Gambar 4.3 Bentuk Tegangan Gangguan Hubung Singkat Satu


Phasa ke Tanah pada Saluran Transmisi antara GI BLKMB
- GI Bone.

Pada saat terjadinya hubung singkat satu phasa ke


tanah, Arus puncak pada saluran transmisi yang
sebelumnya sebesar 50,525 A pada phasa A mengalami
kenaikan sebesar 2.260 A. Sedangkan pada phasa B
dan phasa C mengalami penurunan drastis sebesar
1,75 mA dan 1,83 mA. Karakteristik arus lebih yang
terjadi pada phasa A, phasa B, dan phasa C ditunjukkan
pada Gambar 4.2.
Pada saat terjadinya hubung singkat satu phasa ke
tanah tegangan puncak pada saluran transmisi yang
sebelumnya sebesar 123.860 V pada phasa A mengalami
penurunan drastis sebesar 11.298 V. Sedangkan pada
phasa B dan phasa C mengalami kenaikan sebesar
174.820 V dan 182.880 V Karakteristik tegangan
hubung singkat satu phasa ke tanah yang terjadi pada
phasa A, phasa B, dan phasa C ditunjukkan pada
Gambar 4.3.
4.2.2 Gangguan Hubung Singkat 3 Phasa
Gangguan hubung singkat tiga phasa yang terjadi
sepanjang saluran transmisi GI BLKMB - GI Bone
diasumsikan pada phasa A, phasa B, dan phasa C. Pada
saat terjadinya hubung singkat tiga phasa arus puncak
pada saluran transmisi yang sebelumnya sebesar
50.507 A mengalami kenaikan sebesar 6.528,3 A,
5.909,5 A, dan 6.050,5 A. Karakteristik arus lebih yang
terjadi pada phasa A, B, dan C pada Gambar 4.4.

Tabel 4.3 Hasil Test Arus Hubung Singkat Menggunakan


Impedansi Gangguan 25

7000
[A]
5250

Lokasi

3500

Fault
R
1.654,2
2.816,4
2.708,6
3.117,2
3.176,3

LG
BONE
LLG
ke
LL
BLKMB
150 KV LLLG
LLL

1750
0
-1750

Arus Gangguan (Ampere)


25 Ohm
% Perubahan
S
T
R
S
T
0,00159
0,00165 32,7
31.776,7 30.621,2
2.705,9
0,00164 55,7
53,6 30.807,9
2.708,6
0,00125 53,6
53,6 40.420,0
3.010,3
3.061,5 61,7
59,6
60,6
3.009,8
3.055,9 62,9
59,6
60,5

Tabel 4.4 Hasil Test Tegangan Hubung Singkat Tanpa


Impedansi Gangguan

-3500
-5250

Lokasi

-7000
0.00

0.04

0.08

0.12

0.16

[s]

Tegangan Gangguan (A)

Fault

0.20

Gambar 4.4 Bentuk Arus Gangguan Hubung Singkat Tiga Phasa


pada Saluran Transmisi antara GI BLKMB - GI Bone.

R
LG
BONE
LLG
ke
LL
BLKMB
150 KV LLLG
LLL

0
0
61.596
0
0

S
181.000
0
61.596
0
0

T
190.000
178.110
127.640
0
0

% Perubahan
R
S
123.860
1,5
123.860
0,0
2,0
2,0
123.860 123.860
123.860 123.860

T
1,5
1,4
1,0
123.860
123.860

120

Tabel 4.5 Hasil Test Tegangan Hubung Singkat Dengan


Impedansi Gangguan 5

[kV]
80

40

-40

Fault

BONE
ke
BLKMB
150 KV

LG
LLG
LL
LLLG
LLL

R
11.290
28.240
74.133
32.589
31.239

Tegangan Hubung Singkat (Voltage)


5 Ohm
% Perubahan
S
T
R
S
174.820 182.880 11,0
1,4
1,5
26.924
174.080 4,4
4,6
1,4
57.850
126.430 1,7
2,1
1,0
29.447
30.248
3,8
4,2
4,1
29.667
31.872
4,0
4,2
3,9

Tabel 4.6 Hasil Test Tegangan Hubung Singkat Dengan


Impedansi Gangguan 25

-80

-120
0.00

0.04

0.08

0.12

0.16

[s]

0.20

Gambar 4.5 Bentuk Tegangan Gangguan Hubung Singkat Tiga


Phasa pada Saluran Transmisi antara GI BLKMB - GI Bone.

Sedangkan untuk tegangan hubung singkat, pada


saat terjadinya hubung singkat tiga phasa tegangan
puncak phasa A, phasa B, dan phasa C pada saluran
transmisi yang sebelumnya sebesar 123.820 V
mengalami penurunan sebesar 31.344 V, 29.702 V, dan
31.706 V. Karakteristik penurunan tegangan yang
terjadi pada phasa A, B, dan C ditunjukkan pada
Gambar 4.5.
4.3

Lokasi

Analisa Sistem Gangguan Hubung Singkat


pada Jaringan Sistem Transmisi Tegangan
Tinggi 150 kV

Tabel 4.1 Hasil Test Arus Hubung Singkat Tanpa Impedansi


Gangguan
Lokasi

Fault

LG
BONE
LLG
ke
LL
BLKMB
150 KV LLLG
LLL

Arus Gangguan (A)


R
2.487,7
7.646,7
7.423,3
8.867,4
8.882,1

S
0,00181
7.270,9
7.423,3
7.780,6
7.719,2

T
0,00190
0,00178
0,00127
8.056,2
8.039,3

% Perubahan
R
49,2
151,3
146,9
175,5
175,8

S
27914,4
143,9
146,9
154,0
152,8

T
26592,1
28384,8
39783,5
159,4
159,1

Tabel 4.2 Hasil Test Arus Hubung Singkat Menggunakan


Impedansi Gangguan 5
Lokasi
BONE
ke
BLKMB
150 KV

Fault
LG
LLG
LL
LLLG
LLL

R
2.260,0
5.666,3
5.509,2
6.519,0
6.530,1

Arus Gangguan (Ampere)


5 Ohm
% Perubahan
S
T
R
S
T
0,00175
0,00183
44,7 2.8871,4 2.7609,3
5.355,2
0,00174
112,1
106,0
2.9037,4
5.509,2
0,00126
109,0
109,0
4.0099,2
5.909,4
6.054,1
129,0
117,0
119,8
5.907,1
6.040,6
129,2
116,9
119,6

Lokasi

Fault

LG
BONE
LLG
ke
LL
BLKMB
150 KV LLLG
LLL

R
41.343
70.350
97.506
79.290
78.780

Tegangan Hubung Singkat (Voltage)


25 Ohm
% Perubahan
S
T
R
S
T
159.120 164.520 3,0
1,3
1,3
67.648
164.070 1,8
1,8
1,3
80.742
124.900 1,3
1,5
1,0
75.277
76.524
1,6
1,6
1,6
75.302
77.187
1,6
1,6
1,6

Dari hasil simulasi dapat dianalisa, karakteristik


arus dan tegangan pada titik A dan B yaitu pada saluran
transmisi antara GI Bone dan GI BLKMB sebelum
terjadi gangguan memiliki bentuk grafik sinusoida
dengan nilai puncak sebesar 123.860 V dan 50,525 A.
Ketika terjadi gangguan hubung singkat baik itu
satu phasa ke tanah, dua phasa ke tanah, dua phasa, tiga
phasa, dan tiga phasa ke tanah di saluran transmisi
tersebut dengan impedansi ataupun tanpa impedansi
gangguan, maka terjadi perubahan arus dan tegangan
yang sangat berbeda dengan karakteristik awal sebelum
terjadi gangguan. Umumnya dari hasil simulasi dari
seluruh jenis gangguan dan beberapa impedansi
gangguan, karakteristik arus mengalami perubahan
yaitu pada selang waktu 0 sampai 0,2 s. Setelah itu
akan terjadi kestabilan yang berturut-turut, yang biasa
disebut kondisi steady state. Perubahan secara tiba-tiba
tersebut dikarenakan adanya gangguan hubung singkat
dengan arus yang sangat besar dan memiliki komponen
DC sehingga menimbulkan karakteristik kurva
melengkung ke bawah sampai menuju steady state.
Nilai arus sesaat yang sangat besar tadi biasa disebut
dengan doubling effects. Untuk karakteristik tegangan,
secara umum mengalami perubahan terutama pada
phasa yang terkena hubung singkat baik itu antar phasa
maupun ke ground, yaitu; penurunan tegangan diphasa
yang terjadi gangguan, sedangkan phasa yang lain

terpengaruh dari hubung singkat di phasa tersebut,


dikarenakan terjadi ketidakstabilan dari sistem
tiga phasa ketika terjadi gangguan hubung singkat
pada phasa lain.
Hubung singkat tanpa impedansi gangguan
(Di tunjukkan pada Tabel 4.1 dan 4.4), pada gangguan
3 phasa menghasilkan arus transient sebesar 8.882,1 A
dengan kenaikan 175,8 % dari nilai arus sebelumnya
dan arus minimum pada gangguan satu phasa ke tanah
sebesar 2.487,7A dengan kenaikan 49,2 % dari nilai
arus sebelumnya. Sedangkan
untuk tegangan
maksimum dan minimum terletak pada gangguan
hubung singkat satu phasa ke tanah sebesar 190.000 V
dengan kenaikan 1,5 % dari tegangan sebelumnya dan
tegangan minimum 0 V mengalami penurunan sebesar
123.820 % dari tegangan sebelumnya.
Hubung singkat menggunakan impedansi
gangguan 5 Ohm (Di tunjukkan pada Tabel 4.2 dan 4.5),
pada gangguan 3 phasa menghasilkan arus transient
sebesar 6.530,1A dengan kenaikan 129,2 % dari nilai
arus sebelumnya dan arus minimum pada gangguan satu
phasa ke tanah sebesar 2.260,0 A dengan kenaikan 44,7
% dari nilai arus sebelumnya. Sedangkan untuk
tegangan maksimum dan minimum terletak pada
gangguan hubung singkat satu phasa ke tanah sebesar
182.880V dengan kenaikan 1,5 % dari tegangan
sebelumnya dan tegangan minimum 11.290 V
mengalami penurunan sebesar 11 % dari tegangan
sebelumnya.
Hubung singkat menggunakan impedansi
gangguan 25 Ohm (Di tunjukkan pada Tabel 4.3 dan
4.6), pada gangguan 3 phasa menghasilkan arus
transient sebesar 3.176,3 A dengan kenaikan 62,9 %
dari nilai arus sebelumnya dan arus minimum pada
gangguan satu phasa ke tanah sebesar 1.654,2 A dengan
kenaikan 32,7 % dari nilai arus sebelumnya. Sedangkan
untuk tegangan maksimum dan minimum terletak pada
gangguan hubung singkat satu phasa ke tanah sebesar
164.520 V dengan kenaikan 1,3 % dari tegangan
sebelumnya dan tegangan minimum 41.343 V
mengalami penurunan sebesar 3 % dari tegangan
sebelumnya.
Perbandingan hubung singkat dengan impedansi
maupun tanpa impedansi sangat mempengaruhi
karakterstik arus dan tegangan. Hubung singkat tanpa
impedansi gangguan cenderung arusnya lebih tinggi dari
pada hubung singkat yang menggunakan impedansi
gangguan 5 Ohm dan 25 Ohm. Hal ini disebabkan tidak
ada resistansi yang menghambat arus gangguan hubung
singkat tersebut. Sedangkan untuk tegangan, nilai
tegangan pada impedansi 25 Ohm cenderung lebih besar
dari pada tegangan hubung singkat dengan impedansi
gangguan 5 Ohm dan hubung singkat tanpa impedansi
gangguan. Karena dengan resistansi yang cukup besar
menyebabkan arus yang mengalir sangat kecil sehingga
tegangan di saluran tersebut semakin besar.

1.

2.

V. KESIMPULAN
Studi tentang arus gangguan hubung singkat pada
sistem transmisi tegangan tinggi 150 kV
menggunakan ATP-EMTP di Sulawesi Selatan
yang disebabkan adanya beberapa jenis gangguan
hubung singkat di lokasi saluran udara antara GI
Bone dengan GI BLKMB, yaitu; pada gangguan
3 phasa menghasilkan arus transient sebesar
8.882,1 A dengan kenaikan 175,8 % dari nilai arus
sebelumnya dan arus minimum pada gangguan satu
phasa ke tanah sebesar 1.654,2 A dengan kenaikan
32,7 % dari nilai arus sebelumnya. Sedangkan
untuk tegangan maksimum dan minimum terletak
pada gangguan hubung singkat satu phasa ke tanah
sebesar 190.000 V dengan kenaikan 1,5 % dari
tegangan sebelumnya dan tegangan minimum 0 V
mengalami penurunan sebesar 123.860 % dari
tegangan sebelumnya.
Besarnya arus dan tegangan yang terjadi pada
saluran transmisi tegangan tinggi 150 kV
di Sulawesi Selatan dengan impedansi gangguan
yang lebih kecil yaitu tanpa impedansi akan
menghasilkan arus yang sangat besar dan tegangan
yang rendah. Sebaliknya, semakin besar nilai
impedansi gangguan, maka semakin kecil arus
hubung singkat yang dihasilkan.

3. Dari hasil gangguan hubung singkat di seluruh titik


pada saluran transmisi Sulawesi Selatan, maka
diperoleh karakteristik arus dengan perubahan
kenaikan sangat besar untuk semua jenis gangguan,
terutama pada waktu 0 sampai 0,2 s. Perubahan
secara tiba-tiba tersebut dikarenakan adanya
gangguan hubung singkat dengan arus yang sangat
besar dan memiliki komponen DC sehingga
menimbulkan karakteristik kurva melengkung
ke bawah sampai menuju steady state.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Marsudi Djiteng, Operasi Sistem Tenaga
Listrik, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2006
[2] Sulasno, Analisa Sistem Tenaga Listrik,
Satya Wacana, Semarang, 1993
[3] Marsudi Djiteng, Pembangkitan Energi
Listrik, Erlangga, Jakarta, 2005
[4] Stevenson, D, William. Element of Power
System Analysis, McGraw-Hill, Inc.,
Amerika, 1994
[5] Gonen, Turan, Electric Power Transmission
System Engineering, John Wiley dan Sons,
Inc., Kanada, 1988
[6] Noblat
M, Dumas F, dan Poulain C,
Calculation of short-circuit currents <URL:
http://www.schneider-electric.com>,September, 2010

[7] IEC 60904, Short-Circuit Currents In ThreePhase AC Systems, IEC, 2000


[8] T.K Nagsarkar dan M.S. Sukhija, Power
Sistem Analysis, Oxford University Press,
NewYork, 2007.
[9] Penangsang, Ontoseno, Handout Kuliah
Analisa Sistem Tenaga Listrik, Teknik
Elektro ITS, Surabaya, 2007
[10] Prikler, Laszlo, Hoidalen, Hans Kr, ATPDraw
for Windows 3.1x/95/NT version 1.0 : Users
Manual, Norway : SINTEF Energy Research,
1998
[11] PT. PLN (Persero) Sulawesi Selatan, Data
Sistem Jaringan Transmisi 150 KV, Sulawesi
Selatan, 2008
[12] SPLN 64,
Petunjuk Pemilihan
dan
Penggunaan Pelebur, PLN, 1985 [13]
Mutakher, Arus Peralihan Gangguan Hubung
Singkat Jaringan Transmisi 150 Kv Sumatera
Barat Riau, Seminar Nasional Teknik
Ketenagalistrikan di UNDIP, Semarang, 2005
[14] Su, Sheng dan Zeng, Xiangjun ATP Based
Automated Fault Simulation, jurnal IEE, 2006
BIOGRAFI
Franky Dwi Setyaatmoko
dilahirkan di kota Tulungagung,21 September 1985. Penulis adalah
putra kedua dari dua bersaudara
pasangan Mugiyono, S.Pd dan
Sukarwati, S.Pd.
Penulis memulai jenjang
pendidikannya di TK Tunas Muda
Widoro, dan SDN Widoro hingga
lulus tahun 1998. Setelah itu
Penulis melanjutkan studinya di SLTP Negeri 1 Pacitan.
Tahun 2001, Penulis diterima sebagai murid SMA
Negeri 1 Pacitan hingga lulus tahun 2004. Pada tahun
yang sama penulis masuk ke Jurusan D3 Teknik Elektro
Universitas Negeri Malang lewat jalur PMDK hingga
lulus tahun 2007, kemudian Penulis melanjutkan studi
Program Sarjana di Institut Teknologi Sepuluh
Nopember Surabaya lewat program Lintas Jalur dengan
NRP. 2207100616 dan mengambil bidang studi Teknik
Sistem Tenaga.