Anda di halaman 1dari 15

EVALUASI SUMBER DAYA LAHAN

Pertumbuhan penduduk Indonesia yang besar mendorong peralihan fungsi


lahan pertanian menjadi lahan non pertanian. Hal ini akan mengakibatkan tejadinya
penyempitan lahan untuk pertanian dan semakin meningkatkan tekanan terhadap
penggunaan lahan. Di lain pihak terjadi peningkatan konsumsi pangan, yang seiring
dengan meningkatnya jumlah penduduk, yang harus diimbangi peningkatan produksi
tanaman pertanian. Peningkatan produksi dan produktifitas tanaman pangan dan
non pangan yang produksinya dapat meningkatkan pendapatan penduduk untuk
dapat memenuhi standar hidup yang layak, khususnya kepada petani. Untuk
memenuhi keinginan tersebut petani seharusnya berusaha untuk memanfaatkan
sumberdaya hayati maupun non hayati yang diharapkan sesuai dengan peruntukan
lahannya. Untuk itu, sangat perlu dilakukan suatu kegiatan evaluasi lahan.
A. Pengertian Evaluasi Lahan
Evaluasi lahan adalah suatu pendekatan untuk menilai potensi sumberdaya
lahan. Evaluasi lahan adalah tahap lebih lanjut dari kegiatan survey dan pemetaan
sumberdaya lahan masih sulit untuk dipakai untuk suatu perencanaan tanpa
dilakukan interpretasi bagi keperluan tertentu.
Dasar interpretasi dalam evaluasi lahan, bahwa areal dengan keseragaman
sifat-sifat tanah, vegetasi, geologi, dan lereng merupakan kesatuan habitat yang
dianggap memberikan kesempatan pemakaian yang seragam pula. Keadaan lahan
disuatu daerah pada umumnya memilki kondisi yang bervariasi karena adanya
perbedaan fisik (lereng, drainase,pH, toksisitas, suhu dan sebagainya) kondisi yang
beragam ini berakibat pada perbedaan kualitas lahan yang menyebabkan
kesesuaian usaha tanaman pertanian berbeda. Di dalam memanfaatkan kondisi
lahan yang bervariasi ini apabila tidak sesuai dengan peruntukkannya, maka
harapan produksi tidak akan terpenuhi.
Perencanaan penggunaan lahan untuk jenis tanaman tertentu, khususnya
pada upaya peningkatan produksi pertanian harus didasarkan dengan perencanaan
yang baik. Untuk penyusun perencanaan tersebut dibutuhkan informasi dasar
sumberdaya lahan yang meliputi tentang masalah kemampuan lahan dan
kesesuaian lahan, karena kemampuan lahan merupakan sifat dakhil lahan yang
menyatakan daya dukungnya untuk memberikan hasil pertanian pada tingkat
tertentu.

Evaluasi kesesuaian lahan berupaya mengestimasi daya dukung lahan untuk


penggunaan tertentu.sedangkan kesesuaian lahan menitikberatkan pada tingkat
kecocokan sebidang lahan untuk satu penggunaan tertentu klasifikasi kesesuaian
lahan merupakan suatu proses penilaian dan pengelompokan lahan dalam arti
kesesuaian relative lahan atau kesesuaian absulut lahan bagi suatu penggunaan
tertentu.
B. Batasan dan Ruang Lingkup Evaluasi Lahan
Informasi tanah merupakan salah satu bagian sumberdaya alam yang
mempunyai pengaruh langsung dan kelanjutan bagi pengguna pertanian. Informasi
bentuk lahan, topografi dan formasi geologi secara tidak langsung mempengaruhi
bentuk penggunaan lahan dan jenis tanah tanaman yang diusahakan (Sitorus,
1995), factor-faktor topografi (ketinggian, panjang dan derajat lereng, posisi pada
bentang lahan) dapat berpengaruh tidak langsung pada penggunaan lahan bagi
usaha pertanian.
Evaluasi lahan mempertimbangkan kemugkinan penggunaan dan faktor
pembatasan tersebut dan berusaha menerjemahakan informasi-informasi yang
cukup banyak dari lahan tersebut kedalam bntuk-bentuk yang dapat di gunakan para
praktisi seperti petani, para ilmuwan yang mempertanyakan kemungkinan untuk
menanam jenis tanaman tertentu, atau pertanyaan yang berhubungan dengan
pekerjaan keteknisan (Worosuprojdo.S. 1989).
Kemampuan lahan yang tinggi diharapkan berpotensi besar dalam berbagai
penggunaan, yang memungkinkan penggunan ynag intensif yang berbagai macam
kegiatan. Sistem tersebut mengelompokkan lahan kedalam sejumlah kecil kategori
yang diurutkan menurut faktor penghambat dan sejumlah cirri-ciri tanah serta
lingkungan lainnya.
Kesesuaian lahan adalah bentuk penggambaran tingkat kecocokan sebidang
lahan untuk suatu penggunaan tertentu (FAO, 1976) kelas kesesuian lahan suatu
arela dapat saja berbeda tergantung pada tipe penggunaan lahan yang sedang
dipertimbangkan. Evaluasi kesesuaian lahan pada dasarnya berhubungan dengan
evaluasi untuk suatu penggunaan tertentu, seperti untuk budidaya padi, palawija,
jagung dan sebagainya, sedangkan evaluasi kemampuan lahan umumnya ditujukan

untuk penggunaan yang lebih umum seperti penggunaan untuk pertanian,


pemungkinan, industri, perkotaan, jasa, peruntukan dan sebagainya.
USDA mengelompkkan system kalsifikasi lahan melalui interpretasi yang
dibuat terutama untuk pertanian. Pengelompokan lahan yang dapat digarap menurut
potensi dan penghambatnya untuk dapat berproduksi secara lestari, yang
mendasarkan pada faktor-faktor penghambat dan potensi bahaya lainang masih
dapat di terima dalam klasifikasi lahan (Bibby dan Mackney dalam Sitorus, 1995).

C. Persyaratan Tumbuh Tanaman


Tanaman untuk dapat tumbuh dan berproduksi memerlukan persyaratan
tertentu, persyaratnya tersebut terutama energy radiasi, temperatur yang cocok
untuk pertumbuhan, kelembaban, oksien, dan unsur hara. Persyaratan temperatur
dan kelembaban sering digabungkan disebut periode pertumbuhan (FAO, 1076).
Persyaratan tumbuh tanaman lainnya adalah yang tergolong sebagai kualitas
lahan media perakaran. Media perakaran terdiri dari : drainase, tekstur, struktur,
konsistensi dan kedalaman efektif tanah. Ada tanaman yang memerlukan drainase
terhambat seperti dari jenis tanaman air termasuk padi sawah, tetapi pada umumnya
tanaman menghendaki drainase yang baik, yang pada kondisi demikian aerasi tanah
cukup baik artinya di dalam tanah cukup tersedia oksigen, dan akar tanaman dapat
berkembang dengan baik, sehingga dapat menyerap unsur hara secara optimal.
Kualitas lahan yang optimum bagi kebutuhan tanaman merupakan batasan bagi
kelas kesesuaian, kelas kesesuaian yang paling baik (S1) yang tidak memiliki
pembatas serius, sedangkan kualitas lahan yang di bawah optimum merupakan
batasan kelas kesesuaian lahan antara kelas yang cukup sesuai (S2) dengan
pembatas agak berat untuk suatu penggunaan yang lestari, dan sesuai marginal
(S3) adalah lahan yang mempunyai pembatas yang sangat berat untuk suatu
penggunaan yang lestari di luar batasan tersebut di atas merupakan lahan yang
tergolong tidak sesuai (N1) saat ini, dengan pembatas yang sangat berat, tetapi
masih memungkinkan untuk diatasi hanya tidak dapat diperbaiki dengan tingkat
pengetahuan saat ini, kelas tidak sesuai untuk selamanya (N2) merupakan lahan
yang memiliki pembatas yang sangat berat, sehingga tidak mungkin unuk digunakan
bagi suatu penggunaan yang berkelanjutan.

D. Evaluasi Kesesuaian Lahan


Kesesuaian lahan adalah suatu jenis penggunaan tertentu oleh kondisi
karakteristik lahannya yang bertujuan untuk menetapkan atau memilih penggunaan
lahan tertentu secara berkelanjutan yang berwawasan lingkungan. Karakteristik
lahan meliputi semua faktor lahan yang dapat diukur atau ditaksir (diestimasi) seperti
: tekstur tanah, struktur tanah, kemiringan lereng, batuan di permukaan, iklim dan
sebagainya.(FAO,1976; Anonim, 1983; Sys, 1991).
Evaluasi kesesuaian lahan pada dasarnya merupakan evaluasi potensi lahan
bagi penggunaan berbagai system pertanian secara luas dan tidak membicarakan
peruntukan jenis tanaman tertentu ataupun tindakan-tindakan pengelolaannya. Oleh
sebab itu sifatnya merupakan evaluasi yang lebih umum dibandingkan dengan
evaluasi kesesuaian lahan yang bersifat lebih khusus (Sitorus, 1995).
Penilaian kesesuaian lahan mempunyai arti penting mencakup peniaian
kesesuaian setiap jenis lahan untuk tanaman tertentu sangat membantu dalam
mendesain jenis penggunaan lahan sebagai pedoman bagi perencana dalam
memilih tanaman dan daerah bagi tanaman tertentu yang memerlukan persyaratan
khusus, selain itu penilaian kesesuaian lahan merupakan sarana untuk menaksir
produktifitas usahatani yang dijalankan secara khas (Soetarto dan Taylor, 1993).

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT berkat rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga laporan ini dapat terselesaikan.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini tidak akan berhasil dengan baik tanpa adanya
bimbingan dan sumbangan pemikiran dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima
kasih kepada:
1.

Dosen mata kuliah Bersangkutan, yang telah memberi ilmu dan pengarahan dalam makalah ini.

2.

Bapak dan Ibu yang telah memberikan doa sehingga makalah ini dapat terselesaikan.

3.

Sahabat- sahabat yang membantu dalam penyelesaian makalah ini.

Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sebagai balasan atas amal baik dari semua
pihak yang telah disebutkan di atas. Penulis mengharap saran dan kritik membangun guna kesempurnaan
makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang membacanya.
Garut, 1 Juli 2013

Penulis
DAFTAR ISI
Hal
KATAPENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Identifikasi Masalah 1
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Evaluasi lahan

2.2 Tujuan evaluasi lahan


2.3 Fungsi evaluasi lahan

2
2

2.4 Manfaat evaluasi lahan


2.5 Tahapan evaluasi lahan

3
3

2.6 Asumsi-asumsi dalam Evaluasi Lahan 5


2.7 Tata Cara dan Pengembangan Evaluasi Lahan 7
2.8. Evaluasi Kesesuaian Lahan 9
2.9 Metode Pendekatan Dalam Evaluasi Lahan
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan 18
DAFTAR PUSTAKA 19

BAB I
PENDAHULUAN

11

1.1 Latar belakang


Evaluasi lahan merupakan proses penilaian potensi lahan untuk bermacam-macam alternatif penggunaan.
Evaluasi kesesuaian lahan sangat fleksibel, tergantung pada keperluan kondisi wilayah yang hendak dievaluasi.
Usaha-usaha perbaikan yang dilakukan terhadap lahan akan memberikan gambaran tentang penggunaan lahan
secara optimal guna meningkatkan produktivitas lahan khususnya evaluasi lahan terhadap pembudidayaan
tanaman duku (Abdullah, 1993).
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang penelitian tersebut di atas, maka permasalahan pokok yang dapat
dirumuskan dan menjadi kajian dalam penulisan makalah ini adalah: Hal-hal apa saja yang berhubungan
dengan toksikologi pada tanaman teh.
Permasalahan yang muncul diantaranya yaitu:
1. Bahgaimanakah kondisi lahan dari tiap-tiap tempan yang diteliti?
2. Apa fungsi dari survey lahan ini?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Evaluasi lahan
Evaluasi lahan merupakan proses penilaian potensi lahan untuk bermacam-macam alternatif penggunaan.
Evaluasi kesesuaian lahan sangat fleksibel, tergantung pada keperluan kondisi wilayah yang hendak dievaluasi.
Usaha-usaha perbaikan yang dilakukan terhadap lahan akan memberikan gambaran tentang penggunaan lahan
secara optimal guna meningkatkan produktivitas lahan khususnya evaluasi lahan terhadap pembudidayaan
tanaman duku (Abdullah, 1993).
Evaluasi lahan umumnya merupakan kegiatan lanjutan dari survei dan pemetaan tanah atau sumber daya
lahan lainnya, melalui pendekatan interpretasi data tanah serta fisik lingkungan untuk suatu tujuan
penggunaan tertentu.Sejalan dengan dibedakannya macam dan tingkat pemetaan tanah, maka dalam evaluasi
lahan juga dibedakan menurut ketersediaan data hasil survei dan pemetaan tanah atau survei sumber daya
lahan lainnya, sesuai dengan tingkat dan skala pemetaannya.
2.2 Tujuan evaluasi lahan
Tujuan dari evaluasi lahan adalah untuk menentukan nilai suatu lahan untuk tujuan tertentu.Usaha ini dapat
dikatakan melakukan usaha klasifikasi teknis suatu daerah (Sinulingga, 2003).
2.3 Fungsi evaluasi lahan
Fungsi evaluasi sumberdaya lahan adalah memberikan pengertian tentang hubungan-hubungan antara kondisi
lahan dan penggunaannya serta memberikan kepada perencana berbagai perbandingan dan alternatif pilihan
penggunaan yang dapat diharapkan berhasil.
2.4 Manfaat evaluasi lahan

Manfaat dari evaluasi sumberdaya lahan adalah untuk menilai kesesuaian lahan bagi suatu penggunaan
tertentu serta memprediksi konsekuensi-konsekuensi dari perubahan penggunaan lahan yang akan dilakukan.
Hal ini penting terutama apabila perubahan penggunaan lahan tersebut diharapkan akan menyebabkan
perubahan-perubahan besar terhadap keadaan lingkungannya.
2.5 Tahapan evaluasi lahan
2.5.1 Pendekatan
Dalam evaluasi lahan ada 2 macam pendekatan yang dapat ditempuh mulai dari tahap konsultasi awal (initial
consultation) sampai kepada klasifikasi kesesuaian lahan (FAO, 1976). Kedua pendekatan itu adalah: 1)
pendekatan dua tahapan (two stage approach); dan 2) pendekatan paralel (parallel approach).
a. Pendekatan dua tahapan
Pendekatan dua tahap terdiri atas tahap pertama adalah evaluasi lahan secara fisik, dan tahap kedua evaluasi
lahan secara ekonomi. Pendekatan tersebut biasanya digunakan dalam inventarisasi sumber daya lahan baik
untuk tujuan perencanaan makro, maupun untuk studi pengujian potensi produksi (FAO, 1976).
Klasifikasi kesesuaian tahap pertama didasarkan pada kesesuaian lahan untuk jenis penggunaan yang telah
diseleksi sejak awal kegiatan survei, seperti untuk tegalan (arable land) atau sawah dan
perkebunan.Konstribusi dari analisis sosial ekonomi terhadap tahap pertama terbatas hanya untuk mencek
jenis penggunaan lahan yang relevan. Hasil dari kegiatan tahap pertama ini disajikan dalam bentuk laporan
dan peta yang kemudian dijadikan subjek pada tahap kedua untuk segera ditindak lanjuti dengan analisis aspek
ekonomi dan sosialnya
b. Pendekatan parallel
Dalam pendekatan paralel kegiatan evaluasi lahan secara fisik dan ekonomi dilakukan bersamaan (paralel),
atau dengan kata lain analisis ekonomi dan sosial dari jenis penggunaan lahan dilakukan secara serempak
bersamaan dengan pengujian faktor-faktor fisik. Cara seperti ini umumnya menguntungkan untuk suatu acuan
yang spesifik dalam kaitannya dengan proyek pengembangan lahan pada tingkat semi detil dan detil. Melalui
pendekatan paralel ini diharapkan dapat memberi hasil yang lebih pasti dalam waktu yang singkat.
2.5.2. Penyiapan Data
Untuk melakukan evaluasi lahan baik dengan menggunakan pendekatan dua tahapan maupun pendekatan
paralel perlu didahului dengan konsultasi awal. Konsultasi awal ini untuk menentukan tujuan dari evaluasi yang
akan dilakukan, data apa yang diperlukan dan asumsi-asumsinya yang akan dipergunakan sebagai dasar dalam
penilaian. Evaluasi lahan yang akan dilakukan tergantung dari tujuannya yang harus didukung oleh
ketersediaan
data
dan
informasi
sumber
daya
lahan.
Urutan kegiatan dalam melaksanakan evaluasi lahan dapat dilihat pada Gambar 1.
Pelaksanaan Evaluasi lahan dibedakan ke dalam tiga tingkatan, yaitu: tingkat tinjau skala 1:250.000 atau lebih
kecil; semi detil skala 1:25.000 sampai 50.000; dan detil skala 10.000 sampai 25.000 atau lebih besar. Jenis,
jumlah, dan kualitas data yang dihasilkan dari ketiga tingkat pemetaan tersebut bervariasi, sehingga penyajian
hasil evaluasi lahan ditetapkan sebagai berikut: pada tingkat tinjau dinyatakan dalam ordo, tingkat semi detil
dalam kelas/subkelas, dan pada tingkat detil dinyatakan dalam subkelas/subunit. Petunjuk Teknis ini
disarankan
dipakai
terutama
untuk
tingkat
pemetaan
semi
detil.
Pada prinsipnya penilaian kesesuaian lahan dilaksanakan dengan cara mencocokkan (matching) data tanah
dan fisik lingkungan dengan tabel rating kesesuaian lahan yang telah disusun berdasarkan persyaratan
penggunaan lahan mencakup persyaratan tumbuh/hidup komoditas pertanian yang bersangkutan, pengelolaan

dan konservasi. Kriteria kelas kesuaian lahan untuk 112 jenis komoditas pertanian yang berbasis lahan
disajikan pada Lampiran 16. Pada proses matching hukum minimum dipakai untuk menentukan faktor
pembatas yang akan menentukan kelas dan subkelas kesesuaian lahannya. Dalam penilaian kesesuaian lahan
perlu ditetapkan dalam keadaan aktual (kesesuaian lahan aktual) atau keadaan potensial (kesesuaian lahan
potensial). Keadaan potensial dicapai setelah dilaksanakan usaha-usaha perbaikan (Improvement = I) terhadap
masing-masing faktor pembatas untuk mencapai keadaan potensial.

Gambar 1. Urutan kegiatan dalam evaluasi lahan (FAO, 1983)


2.6 Asumsi-asumsi dalam Evaluasi Lahan
Sebelum melaksanakan evaluasi lahan, terlebih dahulu harus ditetapkan asumsi-asumsi yang akan diterapkan.
Dalam hal ini apakah evaluasi lahan akan dilakukan dengan asumsi pada kondisi tingkat manajemen rendah
(sederhana),
sedang,
atau
tinggi.
Evaluasi lahan untuk tujuan perencanaan pembangunan pertanian perkebunan besar dengan masukan teknologi
tinggi, tentu berbeda asumsinya jika tujuan evaluasi lahan hanya untuk perkebunan rakyat yang cukup dengan
masukan teknologi menengah.Demikian pula dalam hal penggunaan alat-alat pengolahan tanah dalam
pembukaan lahan pertanian. Jika lahan akan diolah secara manual (cangkul atau bajak) maka asumsi yang
dapat digunakan dalam menilai kualitas dan karakteristik lahan berbeda dengan penggunaan alat-alat berat
(mekanik). Sebagai contoh penilaian terhadap tekstur tanah yang liat dan/atau berkerikil untuk pengolahan
tanah secara manual tidak terlalu bermasalah dibandingkan jika menggunakan alat mekanik.Kasus serupa
dalam menghadapi kualitas lahan terrain dalam hal ini lereng.Pada lereng lebih besar dari 8% jika tanah diolah
dengan menggunakan traktor merupakan masalah, tetapi tidak demikian kalau diteras dengan menggunakan
alat
pengolah
tanah
yang
sederhana.
Asumsi dapat dibedakan terutama atas dua hal: (1) yang menyangkut areal proyek; dan (2) yang menyangkut
pelaksanaan
evaluasi/interpretasi
serta
waktu
berlakunya
dari
hasil
evaluasi
lahan.
Beberapa contoh asumsi yang ditetapkan untuk evaluasi lahan secara kuantitatif fisik adalah sebagai berikut:
- Data tanah yang digunakan hanya terbatas pada informasi atau data dari satuan lahan atau satuan peta
tanah.
Reliabilitas
data
yang
tersedia:
rendah,
sedang,
tinggi
Lokasi
penelitian
atau
daerah
survei
Kependudukan
tidak
dipertimbangkan
dalam
evaluasi
- Infrastruktur dan aksesibilitas serta fasilitas pemerintah tidak dipertimbangkan dalam evaluasi.
- Tingkat pengelolaan atau manajemen dibedakan atas 3 tingkatan yaitu rendah, sedang, dan tinggi.
Pemilikan
tanah
tidak
dipertimbangkan
dalam
evaluasi.
Pemasaran
hasil
produksi
serta
harga
jual
tidak
dipertimbangkan
dalam
evaluasi.
- Evaluasi lahan dilaksanakan secara kualitatif, kuantitatif fisik atau kuantitatif ekonomi.
- Usaha perbaikan lahan untuk mendapatkan kondisi potensial dipertimbangkan dan disesuaikan dengan tingkat
pengelolaannya.
- Aspek ekonomi hanya dipertimbangkan secara garis besar.
2.7. Tata Cara dan Pengembangan Evaluasi Lahan
Evaluasi lahan dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu; (1) secara langsung, dan (2) secara tidak langsung.
Evaluasi lahan secara langsung dapat dilakukan melalui percobaan-percobaan dengan cara menanam tanaman,
atau membangun jalan, untuk melihat apa perubahan yang terjadi. evaluasi lahan secara langsung bersifat
sangat terbatas jika tidak disertai dengan pengumpulan data yang cukup. Oleh karena itu sebagian besar
evaluasi lahan dilakukan secara tidak langsung.Melalui evaluasi lahan secara tidak langsung, diasumsikan

bahwa tanah tertentu dengan sifat-sifat lain yang terdapat pada suatu lokasi akan mempengaruhi keberhasilan
jenis penggunaan lahan tertentu. Keadaan ini dapat diprediksi, karena kualitas lahan dapat dideduksi dari hasil
pengamatan ciri lahan tersebut. Untuk lebih jelasnya tahapan evaluasi lahan secara tidak langsung dapat
dilihat pada diagram berikut ini.

Pada tahapan tersebut dilakukan penentuan ciri lahan atau karakteristik lahan (land characteristics) yang
meliputi pengumpulan data mengenai keadaan tanah, topografi, iklim dan sifat-sifat lain yang berhubungan
dengan ekologi.Pengaruh karakteristik lahan pada sistem penggunaan lahan jarang yang bersifat langsung
(contoh, pertumbuhan tanaman tidak secara langsung dipengaruhi oleh curah hujan atau tekstur tanah, tetapi
dipengaruhi oleh ketersediaan air, unsur hara serta serasi tanah).Kualitas lahan merupakan sifat kompleks atau
sifat komposit yang sesuai untuk suatu penggunaan, yang ditentukan oleh seperangkat karakteristik lahan yang
berinteraksi.
Penggunaan lahan berdasarkan FAO (1976) dapat dianalisis melalui tiga aspek, sebagai berikut.
1. Kesesuaian lahan, berhubungan dengan satu penggunaan lahan tertentu (contoh, kesesuaian lahan untuk
perkebunan tebu, padi, sagu, dan lain sebagainya);
2. Kemampuan lahan, berhubungan dengan serangkaian atau sejumlah penggunaan, dimana ruang lingkupnya
lebih luas (contoh, untuk pertanian, kehutanan, perkebunan);
3. Nilai lahan, merupakan konsep nilai yang didasarkan pada pertimbangan ekonomi yang dinyatakan dalam
bentuk biaya per tahun (contoh, sewa).
Pengembangan sistem evaluasi lahan secara tidak langsung pada dasarnya meliputi identifikasi ciri serta sifat
lokasi yang mempengaruhi keberhasilan penggunaan lahan tersebut.Sistem kemudian dibangun dengan
menggunakan nilai-nilai dari sifat-sifat tersebut, baik sebagai kategori-kategori yang ditentukan atau sistem

kategori ataupun sebagai kombinasi matematik. Hasil kombinasi tersebut kemudian akan menghasilkan indeks
yang dapat ditempatkan pada suatu alat berupa skala yang dapat digeser-geser.
2.8.Evaluasi Kesesuaian Lahan
Evaluasi kesesuian lahan adalah penggambaran tingkat kecocokan sebidang lahan untuk penggunaan tertentu
(Sitorus, 1998). Menurut Husein (1981), evaluasi lahan adalah usaha untuk mengelompokkan tanah-tanah
tertentu sesuai dengan kebutuhan tanaman. Kelas kesesuian lahan untuk suatu areal dapat berbeda
tergantung dari penggunaan lahan yang sedang dipertimbangkan.
Selanjutnya Sitorus (1998) menyatakan bahwa evaluasi lahan pada hakekatnya merupakan proses pendugaan
potensi sumber daya lahan untuk berbagai kegunaan dengan cara membandingkan persyaratan yang diperlukan
untuk suatu penggunaan lahan dengan sifat sumber daya yang ada pada lahan tersebut. Fungsi kegiatan
evaluasi lahan adalah memberikan pengertian tentang hubungan antara kondisi lahan dengan penggunaannya
serta memberikan kepada perencana berbagai perbandingan dan alternatif pilihan penggunaan yang dapat
diharapkan berhasil.
FAO (1976) dalam Djaenuddin dkk (1994) menyatakan bahwa evaluasi lahan dapat dibedakan atas a)
pendekatan dua tahap yaitu tahapan pertama berdasarkan evaluasi lahan secara fisik atau bersifat kualitatif
kemudian diikuti dengan tahapan kedua berdasarkan analisis ekonomi dan sosial, b) pendekatan paralel
dimana evaluasi lahan baik secara fisik maupun ekonomi dilaksanakan secara bersamaan.
Tanah
Menurut Arsyad (1985), tanah mempunyai dua fungsi utama yaitu (1) sebagai sumber unsur hara bagi tumbuhan
dan (2) sebagai matriks tempat akar tumbuhan berjangkar, air tanah tersimpan dan tempat unsur-unsur hara
dan air ditambahkan. Kedua fungsi tersebut akan habis atau hilang disebabkan kerusakan tanah. Hilangnya
fungsi pertama dapat diperbaharui dengan mengadakan pemupukan, tetapi hilangnya fungsi kedua tidak
mudah diperbaharui.
Iklim
Iklim sangat berpengaruh terhadap usaha pertanian dan kadang-kadang merupakan faktor penghambat utama
disamping faktor-faktor lainnya. Iklim dapat berpengaruh terhadap tanah, tanaman dan terhadap hama dan
penyakit tanaman (Kartasapoetra dan Sutedjo, 1985).
Sandy (1977) menyatakan bahwa unsur-unsur iklim yang berpengaruh terhadap penggunaan tanah adalah suhu
dan curah hujan. Suhu (tenperatur) sangat ditentukan oleh perbedaan tinggi tempat, sedangkan curah hujan
sangat ditentukan oleh intensitas dan distribusinya.
Topografi
Ketinggian di atas permukaan laut, panjang dan derajat kemiringan lereng, posisi bentang lahan mudah diukur
dan dinilai sangat penting dalam evaluasi lahan. Faktor-faktor topografi berpengaruh langsung dan tidak
langsung terhadap kualitas tanah. Faktor ini berpengaruh berpengaruh terhadap kemungkinan bahaya erosi
atau mudah tidaknya diusahakan demikian pula didalam program mekanisme pertanian (Sitorus, 1989).
Vegetasi
Salah satu unsur lahan yang dapat berkembang secara alami atau sebagai hasil dari aktifitas manusia adalah
vegetasi baik pada masa lalu atau masa kini. Vegetasi dapat digunakan sebagai petunjuk untuk mengetahui

potensi lahan atau kesesuaian lahan bagi suatu penggunaan tertentu melalui adanya tanaman-tanaman sebagai
indikator (Sitorus, 1989).
Sosial Ekonomi
Menurut Sitorus (1989), ada 3 masalah utama dalam menggunakan data sosial ekonomi utnuk evaluasi lahan
yaitu : (1) pengevaluasian mungkin tidak mengetahui secara tepat nomenklatur dan konsep ekonomi, (2) data
ekonomi yang tersedia pada umumnya didasarkan atas kerangka yang berbeda dari informasi-informasi lainnya,
(3) faktor-faktor ekonomi yang selalu berubah-ubah. Dengan alasan-alasan di atas sebagian besar sistem
evaluasi lahan mencoba menghindari pertimbangan faktor sosial dalam pengevaluasian lahan.
2.9. Metode Pendekatan Dalam Evaluasi Lahan
Ada tiga metode pendekatan yang digunakan dalam evaluasi kesesuaian lahan yaitu dengan pendekatan
pembatas, parametrik dan kombinasi pendekatan pembatas dan parametrik.
2.9.1. Pendekatan Pembatas
Pendekatan pembatas adalah suatu cara untuk menyatakan kondisi lahan atau karakteristik lahan pada tingkat
kelas, dimana metode inimembagi lahan berdasarkan jumlah dan intensitas pembatas lahan. Pembatas lahan
adalah penyimpangan dari kondisi optimal karakteristik dan kualitas lahan yang memberikan pengaruh buruk
untuk berbagai penggunaan lahan (Sys et al., 1991).
Metode ini membagi tingkat pembatas suatu lahan ke dalam empat tingkatan, sebagai berikut :
a. 0 (tanpa pembatas), digolongkan ke dalam S1
b. 1 (pembatas ringan), digolongkan ke dalam S1
c. 2 (pembatas sedang), digolongkan ke dalam S2
d. 3 (pembatas berat), digolongkan ke dalam S3
e. 4 (pembatas sangat berat), digolongkan ke dalam kelas N1 dan N2
2.9.2. Pendekatan Parametrik
Pendekatan parametrik dalam evaluasi kesesuaian lahan adalah pemberian nilai pada tingkat pembatas yang
berbeda pada sifat lahan, dalam skala normal diberi nilai maksimum 100 hingga nilai minimum 0. Nilai 100
diberikan jika sifat lahan optimal untuk tipe penggunaan lahan yang dipertimbangkan (Sys et al., 1991).
Pendekatan parametrik mempunyai berbagai keuntungan yaitu kriteria yang dapat dikuantifikasikan dan dapat
dipilih sehingga memungkinkan data yang obyektif; keandalan, kemampuan untuk direproduksikan dan
ketepatannya tinggi. Masalah yang mungkin timbul dalam pendekatan parametrik ialah dalam hal pemilihan
sifat, penarikan batas-batas kelas, waktu yang diperlukan untuk mengkuantifikasikan sifat serta kenyataan
bahwa masing-masing klasifikasi hanya diperuntukkan bagi penggunaan lahan tertentu (Sitorus, 1998).
Sistem klasifikasi lahan dengan pendekatan parametric di dalam menyusun system-sisstem klasifikasi
kemampuannya biasanya berbeda beda dalam memilih dan menggunakan factor-faktor yang diikutsertakan
dalam pertimbangan serta manipulasi matematik yang digunakan. Paling tidak, ada tiga jenis manipulasi
matematik yang sering digunakan dalam mengkombinasi factor-faktor tersebut (FAO, 1974) yaitu :

1. penjumlahan (additive) dan atau pengurangan (subtractive) ; misalnya : P = A+B-C


2.Perkalian (multyiplicative) ; misalnya : P = A * B * C
3. Persamaan parametric kompleks, misalnya : P = A (B* C * D)
P adalah indeks atau nilai parametric yang berhubungan dengan produksi (kg/h,dan A,B,C dan D adalh ciri
tanah dan lokasi seperti kedalaman tanah,tekstur dan sebagainya).
a. Menentukan kelas lahan daerah Batu Tumpang berdasarkan Srorie Index Rating (SIR)
Faktor A : Nilai pada karakter fisik Profil 40 80 % = 60%
Faktor B : Nilai atas dasar tekstur lapisan atas yaitu liat berdebu 60 70 % = 65%
Faktor C : Nilai Atas dasar Lereng yaitu 33% berada dikisaran 30 50 % = 40%
Faktor X : Nilai Atas dasar Kondisi Kondisi selain dari Faktor A,B dan C
Drainase : 100% , Kesuburan : 80% (sedang), Erosi : 45% (Erosi Parit), pH = 6,8 (86,8%), Relief : bukit kecil
(80%).X = 78,36%
SIR = A * B * C * X = 0,6 * 0,65 * 0,4 * 0,78 = 0,122 ( 12,22% )
b. Menentukan kelas lahan daerah Badega berdasarkan Srorie Index Rating (SIR)
Faktor A : Nilai pada karakter fisik Profil 40 80 % = 60%
Faktor B : Nilai atas dasar tekstur lapisan atas yaitu liat berdebu 60 70 % = 65%
Faktor C :Nilai Atas dasar Lereng yaitu 55% berada dikisaran 5 30 % = 17,5%
Faktor X : Nilai Atas dasar Kondisi Kondisi selain dari Faktor A,B dan C
Drainase : 100% , Kesuburan : 80% (sedang), Erosi : 45% (Erosi Parit), pH = 6,8 (86,8%), Relief : bukit kecil
(80%). X = 78,36%
SIR = 0,6 * 0,65 * 0,175 * 0,783 = 0,053 (5,34%)
c. Menentukan kelas lahan daerah Gunung Gelap berdasarkan Srorie Index Rating (SIR)
Faktor A : Nilai pada karakter fisik Profil 40 80 % = 60%
Faktor B : Nilai atas dasar tekstur lapisan atas yaitu Lempung berliat = 85%
Faktor C :Nilai Atas dasar Lereng yaitu 25,5% berada dikisaran 70 80 % = 75%
Faktor X : Nilai Atas dasar Kondisi Kondisi selain dari Faktor A,B dan C

Drainase :kurang baik 40-80% = 60% , Kesuburan : 80% (sedang), Erosi : 10 - 40% = 25% (Sangat Hebat), pH
= 6,2 (86,2%), Relief : Gunung 20 60 % = 40%. X = 58,24%
SIR = 0,6 * 0,85 * 0,75 * 0,582 = 0,22 ( 22,26%)
2.9.3. Kombinasi Pendekatan Pembatas dan Parametrik
Kombinasi pendekatan parametrik dan pendekatan pembatas sering digunakan untuk menentukan kelas
kesesuaian lahan untuk penggunaan tertentu. Penentuan kelas kesesuaiannya dilakukan dengan cara memberi
bobot atau harkat berdasarkan nilai kesetaraan tertentu dan menentukan tingkat pembatas lahan yang
dicirikan oleh bobot terkecil (Sys et al., 1991).
Kriteria Penilaian Kelas Kesesuain Lahan

Indeks Lahan

Nilai

Tingkat

Kelas Kesesuaian

atau Iklim

Ekivalensi

Pembatas

Lahan

> 75

100 85

Tidak ada

S1

50 75

85 60

Ringan

S2

25 50

60 40

Sedang

S3

12 25

40 25

Berat

N1

< 12

< 25

Sangat Berat

N2

Sumber : Sys et al. (1991)


2.10. Klasifikasi Kesesuaian Lahan
Kesesuaian lahan merupakan penggambaran tingkat kecocokan sebidang lahan untuk penggunaan tertentu.
Klasifikasi kesesuaian lahan merupakan penilaian pengelompokan suatu kawasan tertentu. Klasifikasi
kesesuaian lahan merupakan penilaian dan pengelompokan suatu kawasan tertentu dari lahan dalam
hubungannya dengan penggunaan yang dipertimbangkan (FAO, 1976) dalam Sitorus (1998).Struktur dari
kesesuaian lahan menurut metode FAO (1976) yang terdiri dari empat kategori yaitu :
(1) Ordo : menunjukkan jenis/macam kesesuaian atau keadaan kesesuaian secara umum.
(2) Kelas : menunjukkan tingkat kesesuaian dalam ordo.
(3) Sub-kelas : menunjukkan jenis pembatas atau macam perbaikan yang diperlukan di dalam kelas.
(4) Unit : menunjukkan perbedaan-perbedaan kecil yang diperlukan dalam pengelolaan di dalam sub-kelas.
Ordo

Tingkat ini menunjukkan apakah lahan sesuai atau tidak sesuai untuk penggunaan tertentu. Oleh karena itu
ordo kesesuaian lahan dibagi dua, yaitu :
a. Ordo S : Sesuai
Lahan yang termasuk ordo ini adalah lahan yang dapat digunakan untuk suatu penggunaan tertentu secara
lestari, tanpa atau dengan sedikit resiko kerusakan terhadap sumber daya lahannya. Keuntungan yang
diharapkan dari hasil pemanfaatan lahan ini akan melebihi masukan yang diberikan.
b. Ordo N : Tidak Sesuai
Lahan yang termasuk ordo ini mempunyai pembatas sedemikian rupa sehingga mencegah suatu penggunaan
secara lestari.
Kelas
Ada tiga kelas dari ordo tanah yang sesuai dan dua kelas untuk ordo tidak sesuai, yaitu :
Kelas S1 : Sangat Sesuai
Lahan tidak mempunyai pembatas yang berat untuk suatu penggunaan secara lestari atau hanya mempunyai
pembatas yang tidak berarti dan tidak berpengaruh secara nyata terhadap produksinya serta tidak akan
menaikkan masukan dari apa yang telah biasa diberikan.
Kelas S2 : Cukup Sesuai
Lahan yang mempunyai pembatas-pembatas agak berat untuk suatu penggunaan yang lestari. Pembatas akan
mengurangi produktivitas dan keuntungan sehingga akan meningkatkan masukan yang diperlukan.
Kelas S3 : Sesuai Marjinal
Lahan yang mempunyai pembatas-pembatas yang sangat berat untuk suatu penggunaan yang lestari.
Pembatas akan mengurangi produktivitas atau keuntungan dan perlu menaikkan masukan yang diperlukan.
Kelas N1 : Tidak Sesuai pada saat ini
Lahan yang mempunyai pembatas yang lebih berat, tetapi masih mungkin diatasi.
Kelas N2 : Tidak Sesuai selamanya
Lahan yang mempunyai pembatas yang permanen, mencegah segala kemungkinan penggunaan lahan.
Sub Kelas
Sub kelas kesesuaian lahan menggambatkan jenis faktor pembatas. Sub kelas ditunjukkan oleh huruf jenis
pembatas yang ditempatkan sesudah simbol S2, S3, atau N sedangkan S1 tidak mempunyai sub kelas karena
tidak mempunyai faktor pembatas.
Beberapa jenis pembatas yang menentukan sub kelas kesesuaian lahan, yaitu :

a. Pembatas iklim (c)


b. Pembatas topografi (t)
c. Pembatas kebasahan (w)
d. Pembatas faktor fisik tanah (s)
e. Pembatas faktor kesuburan tanah (f)
f. Pembatas salinitas dan alkalinitas (n)
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Evaluasi lahan merupakan proses penilaian potensi lahan untuk bermacam-macam alternatif penggunaan.
Evaluasi kesesuaian lahan sangat fleksibel, tergantung pada keperluan kondisi wilayah yang hendak dievaluasi.
Usaha-usaha perbaikan yang dilakukan terhadap lahan akan memberikan gambaran tentang penggunaan lahan
secara optimal guna meningkatkan produktivitas lahan khususnya evaluasi lahan terhadap pembudidayaan
tanaman duku (Abdullah, 1993).
Tujuan dari evaluasi lahan adalah untuk menentukan nilai suatu lahan untuk tujuan tertentu.Usaha ini dapat
dikatakan melakukan usaha klasifikasi teknis suatu daerah (Sinulingga, 2003).
Fungsi evaluasi sumberdaya lahan adalah memberikan pengertian tentang hubungan-hubungan antara kondisi
lahan dan penggunaannya serta memberikan kepada perencana berbagai perbandingan dan alternatif pilihan
penggunaan yang dapat diharapkan berhasil.
Manfaat dari evaluasi sumberdaya lahan adalah untuk menilai kesesuaian lahan bagi suatu penggunaan
tertentu serta memprediksi konsekuensi-konsekuensi dari perubahan penggunaan lahan yang akan dilakukan.
Hal ini penting terutama apabila perubahan penggunaan lahan tersebut diharapkan akan menyebabkan
perubahan-perubahan besar terhadap keadaan lingkungannya.
Evaluasi kesesuian lahan adalah penggambaran tingkat kecocokan sebidang lahan untuk penggunaan tertentu
(Sitorus, 1998). Menurut Husein (1981), evaluasi lahan adalah usaha untuk mengelompokkan tanah-tanah
tertentu sesuai dengan kebutuhan tanaman. Kelas kesesuian lahan untuk suatu areal dapat berbeda
tergantung dari penggunaan lahan yang sedang dipertimbangkan.
Ada tiga metode pendekatan yang digunakan dalam evaluasi kesesuaian lahan yaitu dengan pendekatan
pembatas, parametrik dan kombinasi pendekatan pembatas dan parametrik.
DAFTAR PUSTAKA