Anda di halaman 1dari 5

EFEKTIFITAS METODE PENANGANAN NYERI PADA PASIEN POST OP

CA MAMMAE DI RUANG PERAWATAN RUMAH SAKIT


UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR
Muhammad Ilyas1, Hamzah Tasak2, Yusran Haskas3
1STIKES

Nani Hasanuddin Makassar


Nani Hasanuddin Makassar
3STIKES Nani Hasanuddin Makassar
2STIKES

ABSTRAK
Kanker merupakan suatu penyakit yang ditandai oleh perkembangan populasi sel yang lolos
pada pertumbuhan regulasi normal, replikasi, dan diferensiasi dan yang menyerang jaringan di
sekitarnya. Salah satu gejalanya adalah nyeri yang dapat terjadi akibat tumor yang meluas menekan
syaraf dan pembuluh darah disekitarnya, reaksi kekebalan dan peradangan terhadap kanker yang
sedang tumbuh, terputusnya jaringan pasca operasi, dan nyeri juga disebabkan karena ketakutan
atau kecemasan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas metode penanganan nyeri
pada pasien post op Ca Mammae. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasy
experiment. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien post operasi Ca Mammae di ruang
perawatan rumah sakit pendidikan Universitas Hasanuddin Makassar. Total sampel berjumlah 7
responden yang masuk dalam kriteria inklusi. Penelitian ini dilaksanakan selama 1 bulan dari tanggal
1 Februari sampai dengan Maret 2013. Data Hasil penelitian dengan uji statistic paired t-test pada
intervensi relaksasi, hasil kolerasi didapatkan significancy 0,014 yang berarti bahwa teknik relaksasi
efektif dalam menurunkan nyeri post op Ca. Mammae. Sedangkan pada intervensi dengan metode
distraksi didapatkan significancy 0,000 yang berarti bahwa teknik distraksi efektif dalam menurunkan
nyeri post op Ca. Mammae. Dan pada intervensi guide kontrol, hasil kolerasi didapatkan significancy
0,034 yang berarti bahwa teknik guide kontrol efektif dalam menurunkan nyeri post op Ca. Mammae
Kata Kunci : Nyeri, Ca. Mammae, Metode Penanganan Nyeri.

PENDAHULUAN
Indonesia sebagai salah satu negara
berkembang mengalami perubahan pola
penyakit yang dikenal dengan transisi
epidemiologi, yaitu perubahan pola penyakit
dan penyebab kematian. Pada awalnya
penyebab kematian didominasi oleh penyakit
infeksi, namun kemudian bergeser ke penyakit
non infeksi dan penyakit degeneratif, salah
satunya adalah penyakit kanker. Prevalensi
tumor/kanker di Indonesia mencapai 4,3 per
1000 penduduk dan merupakan penyebab
kematian nomor 7 (5,7%) setelah stroke, TB,
hipertensi, cedera, perinatal, dan DM
(Riskesdas, 2007). Sedangkan menurut
insiden ratenya kanker payudara mengalami
peningkatan dari tahun ke tahunnya (data
Profil Kesehatan Indonesia tahun 2008).
Penderita kanker payudara di Indonesia pada
tahun 2004 sebanyak 5.207 kasus. Setahun
kemudian pada 2005, jumlah penderita kanker
payudara meningkat menjadi 7.850 kasus.
Tahun 2006, penderita kanker payudara
meningkat menjadi 8.328 kasus dan pada
tahun 2007 sebanyak 8.277 kasus.

Kanker merupakan suatu kondisi


dimana sel telah kehilangan pengendalian dan
mekanisme normalnya, sehingga mengalami
pertumbuhan yang tidak normal, cepat dan
tidak terkendali, serta mengancam nyawa
individu penderitanya. Olehnya itu, kanker
memerlukan penanganan yang tepat untuk
menyelamatkan penderitanya, salah satunya
dengan cara pembedahan.
Pasca pembedahan pasien merasakan
nyeri hebat dan 75% penderita mempunyai
pengalaman yang kurang menyenangkan
akibat pengelolaan nyeri yang tidak adekuat.
Hal tersebut merupakan stressor bagi pasien
dan akan menambah kecemasan serta
keteganggan yang berarti pula menambah
rasa nyeri karena rasa nyeri menjadi pusat
perhatiannya. Bila pasien mengeluh nyeri
maka hanya satu yang mereka inginkan yaitu
mengurangi rasa nyeri. Hal itu wajar, karena
nyeri dapat menjadi pengalaman yang kurang
menyenangkan akibat pengelolaan nyeri yang
tidak adekuat.
Secara garis besar ada dua manajemen
untuk mengatasi nyeri yaitu manajemen
farmakologi dan manajemen non farmakologi.

308
Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 5 Nomor 3 Tahun 2014 ISSN : 2302-1721

Teknik farmakologi adalah cara yang paling


efektif untuk menghilangkan nyeri terutama
untuk nyeri yang sangat hebat yang
berlangsung selama berjam-jam atau bahkan
berhari-hari. Metode pereda nyeri non
farmakologis biasanya mempunyai resiko
yang sangat rendah. Meskipun tindakan
tersebut bukan merupakan pengganti untuk
obatobatan,
tindakan
tesebut
mugkin
diperlukan atau sesuai untuk mempersingkat
episode nyeri yang berlangsung hanya
beberapa detik atau menit. Keahlian perawat
dalam berbagai strategi penanganan rasa
nyeri adalah hal yang sangat penting, tapi
tidak
semua
perawat
meyakini
atau
menggunakan pendekatan non farmakologis
untuk menghilangkan rasa nyeri ketika
merawat pasien post operasi karena
kurangnya
pengenalan
teknik
non
farmakologis,
maka
perawat
harus
mengembangkan keahlian dalam berbagai
strategi penanganan rasa nyeri.
Menurut WHO 8-9% wanita akan
mengalami kanker payudara. Ini menjadikan
kanker payudara sebagai jenis kanker yang
paling banyak ditemui para wanita. Setiap
tahun lebih dari 250.000 kasus baru kanker
payudara terdiagnosa di Eropa dan kurang
lebih 175.000 di Amerika Serikat. Kanker
payudara merupakan penyebab utama
kematian pada wanita akibat kanker. Setiap
tahunnya, di Amerika Serikat 44.000 pasien
meninggal karena penyakit ini sedangkan di
Eropa lebih dari 165.000 setelah perawatan,
sekitar 50% akhir dan hanya bertahan hidup
18-30 bulan. Insiden tertinggi ditemukan pada
beberapa daerah di Amerika Serikat mencapai
diatas 100 penderita dari 100.000 orang.
Kemudian diikuti dengan beberapa negara
Eropa Barat, tertinggi Swiss 73,5/100.000.
Untuk Asia masih berkisar antara 1020/100.000 seperti daerah tertentu di Jepang
17,6/100.000, Kuwait 17,2/100.000, dan Cina
9.5/100.000 (Endang Purwoastuti. 2009)
Di
Indonesia,
kanker
payudara
menduduki posisi kedua penyebab kematian
tertinggi pada perempuan,setelah kanker
serviks. Data Sistem Informasi Rumah Sakit
(SIRS) 2007 menunjukan, kejadian kanker
payudara sebanyak 8.227 kasus atau 16.85%
dari total kanker. Dan diperkirakan mempunyai
angka kejadian minimal 20 ribu kasus baru
pertahun, dengan kenyataan 50% kasus baru
ditemukan pada keadaan stadium lanjut.
Angka kematian penderita Ca Mammae
mencapai 27 orang dari 100 ribu penderita.
Data
Dinas
Kesehatan
Provinsi
Sulawesi Selatan menyebutkan kanker yang
paling banyak menyerang masyarakat adalah
kanker payudara. Dari kasus kanker payudara

pada tahun 2008 yang tercatat sebanyak 203


kasus di Rumah Sakit, dan 316 di
Puskesmas. Sedangkan pada tahun 2009
jumlah kasus kanker payudara meningkat
yaitu 252 di Rumah Sakit dan 600 di
Puskesmas. (Data dinkes 2008 dan 2009)
Data yang di peroleh dari rekam medik
Rumah
Sakit
Pendidikan
Universitas
Hasanuddin Makassar antara bulan April
sampai dengan November 2012 terdapat 68
orang pasien post op Ca Mammae.
Dengan kecenderungan meningkatnya
jumlah penderita Ca Mammae dan mengingat
pentingnya peran perawat dalam melakukan
metode penanganan nyeri non farmakologis
yang tepat pada pasien Ca Mammae seperti
yang dijabarkan di atas maka penulis tertarik
untuk melakukan penelitian dengan judul
Efektifitas Metode Penanganan Nyeri Pada
Pasien Post Op Ca. Mammae di Ruang
Perawatan
Rumah
Sakit
Pendidikan
Universitas Hasanuddin
BAHAN DAN METODE
Lokasi, populasi, dan sampel penelitian
Lokasi penelitian ini dilaksanakan di
ruang perawatan rumah sakit pendidikan
Universitas Hasanuddin Makassar. Penelitian
ini dilaksanakan selama 1 bulan dari tanggal 1
Februari sampai dengan Maret 2013.
Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh pasien post operasi Ca Mammae di
ruang perawatan rumah sakit pendidikan
Universitas Hasanuddin Makassar. Sampel
dalam penelitian ini semua pasien post
operasi ca mammae di ruang perawatan
rumah
sakit
pendidikan
Universitas
Hasanuddin selama penelitian berlangsung
yang memenuhi kriteria inklusi. Teknik
pengambilan sampel dalam penelitian ini
adalah total sampling. Total sampling adalah
teknik pengambilan sampel dimana jumlah
sampel sama dengan populasi.
Pengumpulan Data
Penelitian
ini
dilakukan
setelah
mendapat rekomendasi dari Program Studi
Ilmu Keperawatan Stikes Nani Hasanuddin
Makassar dan seijin direktur rumah sakit
pendidikan Universitas Hasanuddin Makassar.
Sampel yang telah diinventarisir sebagai
kriteria inklusi sebelum dilakukan intervensi
akan dilakukan observasi. Pada tahap
obervasi ini, sampel akan dikaji terlebih dahulu
tentang riwayat nyeri dan terapi obat-obatan
yang telah diberikan. Selanjutnya diberikan
teknik relaksasi napas dalam, teknik distraksi
dan gate kontrol. Setelah itu dilakukan
observasi ulang.

309
Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 5 Nomor 3 Tahun 2014 ISSN : 2302-1721

Pengolahan Data
1. Editing
Editing dilakukan untuk meneliti setiap item
penilaian. Editing meliputi kelengkapan
pengisian, kesalahan pengisian dan
konsistensi dari setiap pelaksanaan
indikator yang diteliti.
2. Coding
Pertama-tama memberi kode dikanan
lembar observasi. Pengisian berdasarkan
pelaksanaan setiap indikator yang diamati
pada responden tersebut.
3. Skoring
Skoring yaitu memberi skor data yang telah
dikumpulkan, bila tidak ada nyeri (0), nyeri
ringan (skor 1-3) , nyeri sedang (skor 4-6)
dan nyeri berat (skor 7- 9), dan nyeri
sangat berat (skor 10).
4. Tabulasi data
Sebelum data dimasukkan dalam komputer
terlebih dahulu dibuatkan programnya.
Untuk penelitian ini dipakai SPSS versi 18
setelah itu kemudian data ditabulasi sesuai
dengan variabel yang diteliti.
HASIL PENELITIAN
Tabel 1. Distribusi data skala nyeri pre test
dan post test dengan metode reaksasi,
distraksi, dan gate kontrol pada pasien post
op. Ca. Mammae di ruang perawatan Rumah
Sakit Universitas Hasanuddin
Metode
Metode
Responden Relaksasi Distraksi
Pre Post Pre Post
1
2
1
3
1
2
2
1
2
0
3
3
2
4
2
4
3
2
3
1
5
3
2
3
2
6
4
2
4
1
7
4
2
4
2
Rata-rata
3
1,7 3,2 1,2
Rata-rata = Rata-rata =
1,3
2
Korelasi = Korelasi =
Paired t test
0,84
0,71
Significancy Significancy
= 0,014
= 0,000

Metode Gate
Kontrol
Pre Post
2
1
3
1
3
3
3
2
3
1
3
2
3
2
2,6
1,7
Rata-rata =
0,9
Korelasi =
0,6
Significancy
= 0,034

Tabel diatas menunjukkan bahwa


pasien pre test dengan metode relaksasi ratarata mengalami nyeri tingkat ringan dengan
skala 3. Setelah dilakukan intervensi berupa
latihan relaksasi napas dalam pasien
mengalami penurunan nyeri menjadi nyeri
ringan dengan skala rata-rata 1,7 sehingga
rata-rata penurunan skala nyeri sebesar 1,3
skala. Hasil uji statistik paired t test pada
intervensi relaksasi didapatkan hasil kolerasi
dengan significancy 0,014 yang berarti bahwa

teknik relaksasi efektif dalam menurunkan


nyeri post op Ca. Mammae.
Pasien pre test dengan metode distraksi
rata-rata mengalami nyeri tingkat sedang
dengan skala 3,2. Setelah dilakukan intervensi
dengan mengalihkan perhatiannya, pasien
mengalami penurunan nyeri menjadi nyeri
ringan dengan skala rata-rata 1,2, sehingga
rata-rata penurunan skala nyeri sebesar 3
skala. Hasil uji statistik paired t test pada
intervensi distraksi didapatkan hasil kolerasi
dengan significancy 0,000 yang berarti bahwa
teknik distraksi efektif dalam menurunkan
nyeri post op Ca. Mammae.
Data pada metode gate control
menunjukkan
bahwa
seluruh
pasien
mengalami nyeri ringan dengan skala rata-rata
2,6. Setelah dilakukan intervensi dengan
membayangkan hal-hal indah dan menarik
bagi pasien terjadi penurunan tingkat nyeri
menjadi nyeri ringan dengan skala rata-rata
1,7, sehingga rata-rata penurunan skala nyeri
dengan metode gate kontrol adalah 0,9. Hasil
uji statistik paired t test pada intervensi gate
control didapatkan hasil kolerasi dengan
significancy 0,034 yang berarti bahwa teknik
gate kontrol efektif dalam menurunkan nyeri
post op Ca. Mammae
PEMBAHASAN
1. Penurunan skala nyeri dengan metode
relaksasi
Hasil penelitian yang telah dilakukan
didapatkan bahwa rata-rata penurunan
skala nyeri dengan teknik relaksasi adalah
1,3. Uji statistic paired t test pada
pemberian intervensi relaksasi, hasil
korelasi antara pre dan post didapatkan
significancy 0.014, yang berarti bahwa
korelasi penurunan skala nyeri sebelum
dan sesudah dilakukan intervensi teknik
relaksasi tersebut efektif.
Beberapa penelitian sebelumnya
juga menunjukkan bahwa relaksasi efektif
menurunkan
nyeri
pasca
operasi.
Penelitian yang dilakukan oleh Jacobson
dan Wolpe menunjukkan bahwa relaksasi
dapat
mengurangi
ketegangan
dan
kecemasan. Studi yang dilakukan oleh
National Birthday Trust terhadap 1000
wanita menunjukkan bahwa 90% wanita
merasakan mamfaat relaksasi untuk
meredakan nyeri (Schott dan Priest, 2002).
Teknik relaksasi dengan menarik
nafas dalam dengan lambat pasien akan
merasakan energi penyembuhan mengalir
ke area yang tidak nyaman dan saat
menghembuskan nafas lambat klien akan
merasakan
tegangan
otot
dan
ketidaknyamanan dikeluarkan sehingga

310
Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 5 Nomor 3 Tahun 2014 ISSN : 2302-1721

tubuh menjadi relaks dan nyaman.


Penurunan rasa nyeri ini mempengaruhi
simpato adrenal, sehingga hipotalamus
tidak mengkatifkan mekanisme saraf
simpatis dan medulla adrenal untuk
menghasilkan hormon epineprin dan non
epineprin. Maka terjadi penurunan tekanan
darah, n nafas, nadi dan keringat. (Brunner
dan Suddarth, 2002)
Berdasarkan hasil pembahasan dan
beberapa hasil penelitian sebelumnya
dapat disimpulkan bahwa teknik distraksi
efektif untuk mengurangi nyeri dengan
memberi respom melawan mass discharge
(pelepasan impuls secara massal) saat
otot-otot dalam keadaan rileks.
2. Penurunan skala nyeri dengan teknik
distraksi
Pemberian intervensi teknik distraksi
terjadi penurunan skala nyeri sebesar 2
skala dimana hasil uji statistik paired t test
menunjukkan bahwa hasil kolerasi pre dan
post intervensi didapatkan nilai significancy
0,000. Hal tersebut membuktikan bahwa
metode penanganan nyeri dengan teknik
ditraksi efektif menurunkan nyeri post op
Ca. Mammae.
Hasil penelitian Endah Estria di
Rumah Sakit Muhammadiyah Gombong
tahun 2011 juga membuktikan bahwa
teknik distraksi efektif dalam menurunkan
intensitas nyeri post op. laparatomi. Teknik
distraksi juga efektif untuk menurunkan
nyeri pada pasien luka bakar berdasarkan
hasil penelitian di Rumah Sakit Universitas
Assiut, Mesir.
Teknik distraksi merupakan metode
untuk menghilangkan nyeri dengan cara
menghilangkan
nyeri
dengan
cara
mengalihkan perhatian pasien pada hal-hal
lain sehingga pasien akan lupa terhadap
nyeri yang dialami. Teori ini menjelaskan
bahwa pada spinal cord, sel-sel reseptor
yang menerima stimulasi nyeri perifer
dihambat oleh stimulasi dari serabutserabut syaraf yang lain. Jika seseorang
menerima input sensori yang berlebihan
dapat menyebabkan terhambatnya impuls
nyeri ke otak (nyeri berkurang atau
diarahkan oleh klien). Stimulasi yang
menyenangkan dari luar juga dapat
merangsang sekresi endorfin, sehingga
stimulasi nyeri yang dirasakan oleh klien
menjadi berkurang (Priharjo, 2003).
Berdasarkan pembahasan diatas,
dapat disimpulkan bahwa teknik distraksi
efektif untuk penanganan nyeri karena
adanya pengalihan stimulus reseptor yang
menghantarkan nyeri pada spinal cord.

3. Penurunan skala nyeri dengan teknik gate


control
Hasil penelitian dengan metode gate
control menunjukkan penurunan skala
nyeri sebesar 0,9 skala. Dimana hasil uji
statistik paired t test menunjukkan bahwa
hasil kolerasi pre dan post intervensi
didapatkan nilai significancy 0,034. Hal
tersebut membuktikan bahwa metode
penanganan nyeri dengan teknik gate
kontrol efektif menurunkan nyeri post op
Ca. Mammae.
Menurut teori gate kontrol, nyeri
tergantung dari kerja serat saraf besar dan
kecil yang keduanya berada dalam akar
ganglion dorsalis. Rangsangan pada serat
saraf besar akan meningkatkan aktivitas
subtansia gelatinosa yang mengakibatkan
tertutupnya pintu mekanisme sehingga
aktivitas sel T terhambat dan menyebabkan
hantaran rangsangan ikut terhambat.
Substansi gelatinosa (SG) yang ada pada
bagian ujung dorsal serabut saraf spinal
cord mempunyai peran sebagai pintu
gerbang (gating Mechanism), mekanisme
gate control ini dapat memodifikasi dan
merubah sensasi nyeri yang datang
sebelum mereka sampai di korteks serebri
dan menimbulkan nyeri. Rangsangan serat
besar dapat langsung merangsang korteks
serebri. Hasil persepsi ini dikembalikan ke
dalam medulla spinalis melalui serat eferen
dan reaksinya memengaruhi aktivitas sel T.
Rangsangan pada serat kecil akan
menghambat aktivitas subtansia gelatinosa
dan membuka pintu mekanisme, sehingga
merangsang
aktivitas
sel
T
yang
selanjutnya
akan
menghantarkan
rangsangan nyeri.
4. Perbandingan penurunan skala nyeri
antara metode relaksasi, distraksi, dan gate
kontrol.
Pembahasan sebelumnya dijelaskan
bahwa rata-rata penurunan skala nyeri
dengan teknik distraksi lebih besar
dibandingkan dengan teknik relaksasi dan
gate kontrol. Perbedaan dimungkinkan
karena penerapan metode distraksi ini bisa
dilakukan pasien secara mandiri sesuai
dengan jenis distraksi yang disenangi
pasien. Sedangkan teknik relaksasi harus
dilakukan secara berulang-ulang sehingga
pada akhirnya bisa membuat pasien
merasa letih. Sedangkan metode gate
kontrol, selain memerlukan keterampilan
khusus dari perawat, teknik ini harus
dilakukan dalam kondisi tenang. Sehingga
sering kali terjadi kendala khususnya pada
pasien yang dirawat di bangsal.

311
Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 5 Nomor 3 Tahun 2014 ISSN : 2302-1721

Haisl uji statistik didapatkan hasil


yang sama, bahwa significancy pre test
dan post test dengan metode distraksi
adalah 0,000, lebih efektif daripada teknik
distraksi dengan signifancy 0,014 dan
teknik gate kontrol dengan signifancy
0,034. Hal ini dikuatkan oleh teori Gill
(1990) bahwa tingkat nyeri seseorang juga
dipengaruhi oleh tingkat perhatiannya
terhadap nyeri tersebut.
Meskipun
pada
penelitian
ini
didapatkan bahwa metode distraksi lebih
efektif daripada teknik relaksasi dan gate
kontrol, hal ini juga masih bisa dipengaruhi
oleh beberapa hal, seperti tingkat
pendidikan responden yang berbeda,
lingkungan (kelas ruang rawat inap) yang
berbeda, serta pengalaman masa lalu
pasien tentang nyeri. Beberapa faktor
tersebut
merupakan
keterbatasanketerbatasan dari penelitian ini.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan
pembahasan yang telah diuraikan dapat ditarik
beberapa kesimpulan yakni:
1. Metode penanganan nyeri dengan teknik
relaksasi efektif menurunkan nyeri pada

pasien post Ca. Mammae di ruang rawat


inap rumah sakit Universitas Hasanuddin
2. Metode penanganan nyeri dengan teknik
distraksi efektif menurunkan nyeri pada
pasien post Ca. Mammae di ruang
perawatan
rumah
sakit
Universitas
Hasanuddin.
3. Metode penanganan nyeri dengan teknik
gate kontrol efektif menurunkan nyeri pada
pasien post Ca. Mammae di ruang rawat
inap rumah sakit Universitas Hasanuddin.
4. Metode
penanganan
nyeri
non
farmakologis yang paling efektif dalam
menurunkan nyeri pada pasien post op ca.
mammae adalah teknik distraksi.
SARAN
1. Diharapkan kepada perawat untuk tetap
melakukan tindakan dependent dengan
menerapkan metode penanganan nyeri
non farmakologis, khususnya pada pasien
post op ca. mammae.
2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
tentang keefektifan metode penanganan
nyeri nonfarmakologis pada kasus nyeri
lain yang sering dialami pasien.

DAFTAR PUSTAKA
Brunner dan Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Volume 2. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran
EGC .
Davis, Martha. 1995. Panduan Relaksi dan Reduksi Stress. Jakarta : EGC.
Dharmais Cancer Hospital National Cancer Center, diakses melalui http://www.dharmais.co.id
Dinas Kesehatan Nasional. Data penderita kanker payudara di Indonesia. Diakses pada tanggal 31 Oktober
2012 dari http://www.depkes.go.id/
Herawati. 2005. Gambaran body image pada wanita penderita kanker payudara yang sudah menjalani operasi.
Jurnal keperawatan. Dikutip dari http://library.gunadarma.ac.id
Kardinah. 2002. Penatalaksanaan Kanker Payudara Terkini oleh Penanggulangan & Pelayanan Kanker
Payudara Terpadu Paripurna R.S. Kanker Dharmais. Jakarta: Pustaka Populer Obor.
Mangan, Y., 2009, Solusi Sehat Mencegah & Mengatasi Kanker, Agromedia : Jakarta.
Mansjoer, Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid 1. Jakarta : Media Aesculapius
Mintian, Y dan Yi,W., 2008, Tumor Regio Toraks, dalam: Desen, Wan, Tiehua, Rong, Yixin, Zen, Zongyuan, Zen,
Jingqing, Li, Yilong, Wu, Zhuming, Guo. Buku Ajar Onkologi Klinis, edisi 2. alih bahasa oleh: Willie
Japaries, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.
Purwantaka, R. I. 2011. [Tugas Akhir] Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Resiko Penyebab Penderita Kanker
Payudara Dengan Menggunakan Pendekatan Regresi Logistik. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh
Nopember Surabaya.
WHO. 2012. Data penderita kanker payudara di dunia. Diakses pada tanggal 3 November 2012 dari
http://www.who.int/cancer/detection

312
Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 5 Nomor 3 Tahun 2014 ISSN : 2302-1721