Anda di halaman 1dari 8

Judul Buku : Menggagas Pendidikan Islami

Penulis : Muhammad Ismail Yusanto


Penerbit : Al Azhar Press Bogor 2004

Sistem pendidikan yang ada di indonesia saat ini adalah sistem


pendidikan sekular-materialistik. Sekulerisme dapat diartikan sebagai
strukutur kehidupan yang dibangun di atas ladasan selain agama
(Islam). Sistem semacam ini terbukti telah gagal menghantarkan
manusia menjadi sosok pribadi yang utuh, yakni seorang hamba yang
sholeh, yang muslih, generasi yang cerdas, peduli bangsa dan kelak
mampu menjadi pemimpin yang ideal. Hal-hal tersebut diatasdapat
disebabkan oleh dua hal yaitu
A. Paradigma pendidikan yang keliru, dimana dalam sistem
sekuler, asas penyelenggara pendidikan juga sekuler, yakni
sekedar membentuk manusia-manusia ang berpaham
matrealistik dan serba individulistik.
B. Kelemahan fungsional pada tiga unsur pelaksanaan pendidikan,
yaitu (1) kelemahan pada lembaga pendidikan formal yang
tercermin dari kacaunya kurikulum serta tidak berfungsinya guru
dan lingkungan sekolah/kampus sebagai medium pendidikan
sebagaimana mestinya, (2) kehidupan keluarga yang tidak
mendukung, dan (3) keadaan masyarakat yang tidak kondusif.
Oleh karena itu, secara paradigmanatik. Penyelesaian problem
pendidikan secara Islami dapat diwujudkan dengan melakukan
perbaikan secara menyeluruh melalui perubahan paradigma
pendidikan sekuler menjadi Islami. Sementara pada tataran derivatnya,
kelemahan ketiga faktor diatas diselesaikan dengan cara memperbaiki
strategi fungsional sesuai dengan arahan Islam.
Secara paradigmatik, pendidika harus dikembalikan pada asas
Islam. Dalam pendidikan Islam, aqidah Islam menjadi dasar penentuan
arah dan tuiuan pendidikan, penyusunan kurikulum, dan standar nilai
ilmu pengetahuan serta proses belajar mengajar, termasuk penentuan
kualifikasi guru serta budaya sekolah.
Secara Fungsional, solusi pendidika adal;ah denag membangun
pendidikan unggulan dengan semua komponen cercasis Islai yakni (1)
kuriukulum paradigmatic, (2) guru yang amanah dan kafaah,(3) Proses
belajar mengajar secara Islami, dan (4) Lingkungan dan budaya
sekolah yang kondusif bagi terwujudnya pendidikan unggulan itu.

PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM

1. Asas Pendidikan Islam


Asas pendidikan Islam adalah aqidah Islam. Asa ini berpengaruh
dalam penyusunan kurikulum pendidikan, sitem belajar menhajar,
kualifikasi guru, budaya yang dikembangkan dan interaksi diantara
semua kompnen penyelenggara pendidikan.
2. Tujuan Pendidikan Islam
Tujuan Pendidikan Islam adalah suatu kondisi ideal dari obyek
didik yang akan dicapai, kemana seluruh kegiatan dalam sistem
pendidikan diarahkan. Maka sebagaimana pengertiannya, pendidikan
Islam yang merupakan upaya sadar yang terstruktur, terprogram dan
sistematis bertujuan untuk membentuk manusia yang (1)
berkepribadian Islam, (2) menguasai tsaqofah Islamiyah, (3)
menguasai ilmu kehidupan (sainsteknologi dan keahlian) yang
memadai.
a. Membentuk Kepribadian Islam (Syakhsiyyah
Aslamiyyah)
Tujuan pertama ini merupakan konsekuensi keimanan
seorang muslim, yakni sebagai seorang muslim ia harus
memegang erat identitas kemuslimannya dalam seluruh
aktivitas hidupnya. Identitas ini menjadikan kepribadian yang
tampak pada pola berpikir (aqliyah) pada pola bersikapnya
(nafsiyah) yang dilandaskan pada ajaran Islam.
Pada prinsipnya terdapat tiga langkah dalam diri
seseorang sebagaimana yang pernah diterapkan Rasululah SAW.
Pertama, menanamkan aqidah Islam kepada yang bersangkutan
dengan metode yang tepat, yakni yang sesuai dengan kategori
aqidah sebagai aqidah aqliyah (aqidah yang keyakinannya
dicapai dengan melalui proses berpikir). Kedua, mengajaknya
bertekad bulat untuk senantiasa menegakkan bangunan cara
berpikir dan berprilaku diatas fondasi ajaran Islam semata.
Ketiga, mengembangkan kepribadiannya dengan cara
membakar semangatnya untuk bersungguh-sungguh dalam
mengisi pemikirannya dengan Tsaqofah Islamiyyah dan
mengamalkannya dan memperjuangkannya dalam seluruh
aspek kehidupannya sebagai wujud ketaatan kepada Allah SWT.
Pendidikan, melalui berbagai pendekatan, harus menjadi
media untuk membentuk dasar pembentukan, peningkatan,
pemantapan dan pematangan kepribadian peserta didik. Semua
komponen yang terlibat dalam kegiatan pendidikan termasuk
semua kegiatan yang dilakukan maupun interaksi diantara
komponen diatas harus diarahkan bagi tercapainya tujuan yang
pertama ini.
b. Menguasai Tsaqofah Islamiyah
Tujuan kedua ini menjadi konsekuensi (lanjutan)
kemusliman seseorang. Islam mendorong setiap muslim untuk
menjadi manusia yang berilmu dengan cara men-taklif-nya
(memberi beban hukum) kewajiban menuntut ilmu. Imam al-
Ghazali alam Ihya Ulumuddin, membagi ilmu dalam dua kategori
dilihat dari segi kewajiban menuntutnya. Pertama, ilmu yang
dikategorikan sebagai fardlu ‘ain, yakni ilmu yang wajib
dipelajari oleh setiap individu muslim. Ilmu yang termasuk
dalam golongan ini adalah ilmu-ilmu tsaqofah Islam, yakni
pemikiran, ide dan hukum-hukum (fiqih) Islam, Bahasa Arab,
Sirah Nabawiyah, Al-Qur’an, Al-Hadits dan sebagainya. Kedua,
adalah ilmu-ilmu yang dikategorikan sebagai fardlu kifayah,
yaitu ilmu yang wajib dipelajari oleh sebagian umat Islam. Ilmu
yang termasuk dalam golongan iniadalah sains dan teknologi
serta berbagai keahlian, seperti kedokteran, pertanian, teknik
dan sebagainya yang sangat diperlukan bagi kemaujuan
material masyarakat.
Berkaitan dengan Bahasa Arab sebagai bagian dari
tsaqofah Islam, Rasulullah SAW telah menjadikan bahasa ini
sebagai bahasa umat Islam yang dipakai dalam kehidupan
sehari-hari, termasuk dalam pendidikan. Karenanya, setiap
muslim, termasuk yang bukan Arab sekalipun, wajib
mempelajari Bahasa Arab. Imam Syafi’I dalam kitab Al-Risalah Fi
‘Ilmi Ushul menyatakan “Allah SWT mewajibkan seluruh umat
untuk mempelajari lisan arab dengan tekun dan sungguh-
sungguh agar dapat memahami kandungan Al-Qur’an dan untuk
beribadah”.
Dorongan kuat agar setiap muslim mempelajari tsaqofah
Islamiyyah disamping sains dan teknologi, membuktikan bahwa
Islam membentengi manusia dengan menjadikan aqidah Islam
sebagai satu-satunya asas bagi kehidupan seorang muslim,
termasuk dalam tata cara berpikir, berkehendak, sehingga
setiap tindakannya terlebih dulu diukurnya dengan standar
ajaran Islam. Hanya dengan itu setiap muslim memiliki pijakan
yang sangat kuat untuk maju sesuai dengan arahan Islam.
c. Menguasai Ilmu Kehidupan (Iptek dan Keahlian)
Pada hakikatnya ilmu pengetahuan terdiri atas dua hal,
yakni pengetahuan yang dapat mengembangkan akal pikiran
manusia sehingga dapat menentukan suatu tindakan (aksi)
tertentu dan pengetahuan mengenai perbuatan itu sendiri.
Berkaitan dengan akal, Allah telah memuliakan manusia dengan
akalnya. Akal akan membimbing manusia ke jalan yang benar.
Sementara, dalam banyak ayat Allah SWT juga
menyerukan untuk menggunakan akalnya dan
memanfaatkannya supaya dapat memikirkan dan merenungkan
ciptaan Allah sehingga bisa didapat sains dan aplikasinya berupa
teknologi. Dari situlah akan membuahkan tambahan keimanan
kepada Allah SWT, terhadap keesanNya, kekuasaanNya, dan
keagunganNya. Disinilah pentingnya akal manusia, dimana
melalui proses berpikirnya akan mampu menghantarkan
manusia kepada keimanan.

1. Unsur Pelaksanaan Pendidikan


Berdasarkan pengorganisasian, proses pendidikan bisa dibagi
menjadi dua, yakni secara formal di sekolah dan secara
nonformal di luar sekolah atau lingkungan, yakni keluarga dan
masyarakat.
a. Pendidikan di sekolah
Pendidikan di sekolah pada dasarnya merupakan proses
pendidikan yang diorganisasikan secara formal berdasarkan
struktur hearikis dan kronologis, dari jenjang taman kanak-kanak
hingga perguruan tinggi.
Selain mengacu pada tujuan pendidikan yang diterpkan
secara berjenjang, berlangsungnya proses pendidikan di sekolah
sangat bergantung pada keberadaan subsistem-subsistem lain
yang terdiri atas: peserta didik; manajemen penyelenggaraan
sekolah; struktur dan jadwal waktu kegiatan belajar-mengajar;
materi bahan pengajaran yang diatur dalam seperangkat sistem
yang sistemis atau yang disebut sebagai kurikulum; tenaga
pendidikan; alat bantu belajar (buku tes, papan tulis, laboratium,
dan audiovisual); teknologi yang terdiri dari perangkat lunak
(strategi dan taktik pengajaran) serta peranglat keras (peralatan
pendidikan); fasilitas atau kampus beserta perlengkapannya;
kendali mutu yang bersumber atas terget pencapaian tujuan;
penelitian untuk pengembangan kegiatan pendidikan; dan biaya
pendidikan guna melancarkan kelangsungan proses prndidikan.
Berdasarkan Sirah Rasul dan Tarikh Daulah Khalifah,
pendidikan formal dapat dideskripsikan sebagai berikut:
• Kurikulum pendidikan, mata ajaran, dan metodologi
pendidikan disusun berdasarkan pada Aqidah Islam.
• Tujuan penyelenggara pendidikan Islam merupakan
penjabaran dari tujuan pendidikan Islam yang disesuaikan
dengan jenjang pendidikan.
• Sejalan dengan tujuan pendidikannya, waktu nelajar
untuk ilmu-ilmu Islam (tsaqofah Islamiyyah) diberikan
dengan proporsi yang disesuaikan dengan pengajaran
ilmu-ilmu kehidupan (iptek dan keahlian).
• Pelajaran ilmu-ilmu kehidupan (iptek dan keahlian)
dibedakan dari pelajaran guna membentuk syakhsiyyah
Islamiyyah dan tsaqofah Islamiyyah. Materi untuk
membentuk syakhsiyyah Islamiyyah mulai diberikan di
tingkat dasar sebagai materi pengenalan dan kemudian
meningkat pada pembentukan dan peningkatan setelah
usia peserta didik menginjak baligh (dewasa). Sementara
materi tsaqofah Islamiyyah dan pelajaran ilmu-ilmu
kehidupan diajarkan secara bertingkat dari mulai tingkat
dasar hingga pendidika tinggi.
• Bahasa Arab menjadi bahasa pengantar di seluruh jenjang
pendidikan, baik negri maupun swasta.
• Materi pelajaran yang bermuatan pemikiran, ide dan
hukum yang bertentangan dengan Islam, seperti ideologi
sosialis/komunis atau liberal/kapitalis, aqidah ahli kitab
dan lainnya termasuk sejarah asing, bahasa maupun
sastra asing dan lainnya, hanya diberikan pada tingkat
pendidikan tinggi yang tujuannya hanya untuk
pengetahuan, bukan untuk diyakini dan diamalkan.
• Pendidikan di sekoah tidak membatasi usia. Yang ada
hanyalah batas usia wajib belajar bagi anak-anak, yakni
mulai umur 7 tahun berdasarkan pada hadits:
“Perintahkanlah anak-anak mengerjakan shalat di kala
mereka berusia 7 tahun dan pukullah mereka apabila
meninggalkan shalat pada usia 10 tahun, dan pisahkanlah
tempat tidur mereka (pada usia tersebut pula)”. (HR. Al-
Hakim dan Abu Daud dari Abdullah bin Amr bin Ash).
• Penyelenggara kegiatan olah raga dilangsungkan secara
terpisah bagi murid laki-laki dan perempuan.
• Pendidikan diselenggarakan oleh negara secara gratis
atau murah. Swasta bisa menyelenggarakan pendidikan
asal visi, misi dan sistem pendidikan yang dikembangkan
tidak keluar dari ajaran Islam.
a. Pendidikan di keluarga
Keluarga merupakan tempat pendidikan yang pertama dan
utama. Pembinaan kepribadian, penguasaan dasar-dasar
tsaqofah Islam dilakukan melalui pendidikan dan pengalaman
hidup sehari-hari dan dipengaruhi oleh sumber belajar yang ada
di keluarga, utamanya orang tua. Keluarga ideal berperan
menjadi wadah pertama pembinaan keislaman dan sekaligus
membentengi dari pengaruh-pengaruh negatif yang berasal dari
luar. Dalam dakwahpun, sebelum kepada masyarakat luas,
seorang muslim diperintahkan untuk berdakwah terlebih dahulu
kepada anggota keluarga dan kerabat dekatnya.
b. Pendidikan di tengah masyarakat
Hampir sama dengan pendidikan di keluarga, pendidikan di
tengah masyarakat juga merupakan proses pendidikan
sepanjang hayat, khususnya berkenaan dengan praktek
kehidupan sehari-hari yang dipengaruhi oleh sumber belajar
yang ada di masyarakat, yakni tetangga, teman pergaulan,
lingkungan serta sistem nilai yang berjalan.
Dalam sistem Islam, masyarakat merupakan salah satu
elemen penting penyangga tegaknya sistem selain ketaqwaan
individu serta keberadaan negara sebagai pelaksana syari’at
Islam. Masyarakat berperan mengawasi anggota masyarakat
lain dan penguasa dalam pelaksanaan syari’at Islam.
Masyarakat Islam terbentuk dari individu-individu yang
dipengaruhi oleh perasaan, pemikiran, dan peraturan yang
mengikat mereka sehingga menjadi masyarakat yang solid.
Lebih dari itu, masyarakat Islam memiliki kepekaan indera.
Tubuh yang hidup akan turut merasakan sakit saat anggota
tubuh lain terluka. Dari sinilah maka amar ma’ruf nahi munkar
menjadi bagian yang paling esensial yang sekaligus
membedakan masyarakat Islam dengan masyarakat lainnya.
Ketaqwaan individu masyarakat disamping ditentukan oleh
upaya pribadi, juga sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan
anggota masyarakat lain dan nilai-nilai yang berkembang di
tengah masyarakat. Dalam masyarakat Islam, seseorang yang
berbuat tidak akan berani melakukan secara terang-terangan,
atau bahkan tidak berani melakukan sama sekali. Kalaupun ada
yang tergoda untuk berbuat maksiat, ia akan terdorong segera
bertaubat atas kekhilafannya dan kembali pada kebenaran.
Kisah Ma’iz aslami dan Al Ghomidiyah RA yang langsung
menghadap Rasulullah SAW untuk meminta hhukuman sesaat
setelah berzina, merupakan cotoh nyata gambaran dari
ketinggian ketaqwaan dalam masyarakat islam.