Anda di halaman 1dari 11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

PRINSIP LUKA BAKAR


A. Insiden
- Tingkat insidensi di U.S. sebanyak 1,5 2 juta luka bakar per tahun.
- Populasi paling tinggi : infant, anak, lansia, tingkat sosioekonomi yang
-

rendah.
Tingkat insindensi lebih tinggi saat musim dingin.
75% kasus kematian terkait luka bakar terkait dengan kebakaran rumah.

B. Kriteria Rawat Menurut American Burn Association


- Luka bakar derajat 2 atau 3 dengan luas lebih dari 10% permukaan tubuh
-

pada pasien berusia kurang dari 10 tahun atau lebih dari 50 tahun.
Luka bakar derajat 2 atau 3 dengan luas lebih dari 20% permukaan tubuh

pada pasien berusia 10 50 tahun.


Luka bakar pada wajah, telapak tangan, telapak kaki, daerah genital,

perineum atau permukaan kulit pada sendi-sendi besar.


Luka bakar ketebalan penuh (full thickness burns) dengan luas lebih dari

5% pada pasien dengan usia berapapun.


Significant electrical injury (termasuk luka tersengat petir).
Signifcant chemical injury.
Luka bakar terkait trauma inhalasi atau kondisi medis sebelumnya.
Luka bakar pada pasien dengan kebutuhan khusus sosial, emosional atau
rehabilitasi (kekerasan pada anak atau pada orang tua).

PRINSIP PENILAIAN LUKA BAKAR


A. Di Lokasi Kejadian
- Jauhkan pasien dari sumber panas, hantaran listrik atau substansi kimia
-

(tanpa melakukan kontak dengan sumber).


Buka baju pasien.

Lakukan survey primer (ABC), pasang intubasi jika diperlukan.


Apabila dicurigai adanya inhalasi karbonmonoksida, berikan oksigen
100% dengan masker non-rebreathing.

B. Di UGD
- Evaluasi tindakan penilaian awal luka bakar di lokasi kejadian.
- Berikan kain basah air saline dingin untuk memberikan efek analgetik
pada luka bakar dengan luas kurang dari 25% permukaan tubuh (hati-hati
-

hipotermia).
Tutupi luka bakar dengan kain bersih, kemudian selimut hangat.
Bila memungkinkan, daerah luka bakar diposisikan lebih tinggi untuk

meminimalisir edema.
Pemeriksaan laboratorium dasar : analisa gas darah, hematologi rutin,

hitung jenis, elektrolit, carboxyhemoglobin.


Timbang berat badan pasien.
Mulai resusitasi cairan.
Masukkan cateter Foley pada pasien yang membutuhkan resustiasi cairan

atau pasien dengan luka bakar di daerah perineal.


Elektrokardiogram (EKG).
Observasi tanda vital (pasien dengan trauma elektrik voltase tinggi
membutuhkan monitor jantung dan pemasangan intubasi bila keadaan
umum tak stabil).

C. Penilaian Luas dan Derajat Luka Bakar


Tingdkatercbljus mkarihedupbnyjsltmaSehguprknybidalmeutnkopgrsibadutme ncirakgbepwtLusrmnahyglkdeiporwasnmgutebil,y jadn-gusprmkteli9%(Gba1).
- Persentase luas luka bakar yang diperhitungkan hanya luka bakar derajat 2
-

dan 3.
Perkiraan luas luka bakar dapat menggunakan rule of nine
Permukaan telapak tangan setara dengan 1% luas permukaan luka bakar.
Persentase luas permukaan luka bakar digunakan untuk menentukan

resusitasi cairan.
Pasien yang tidak termasuk kriteria rawat inap harus mendapatkan
perawatan luka yang layak dan harus dilakukan follow up, termasuk
pembersihan luka bakar, debridement, pemakaian salep antimikroba.

Gambar 1. Persentase luas luka bakar pada pasien dewasa.

Gambar 2. Persentase luas luka bakar pada pasien anak

Berdasarkan kedalamannya, penilaian derajat luka bakar dapat dilihat seperti


pada Gambar 3.
Gambar 3. Derajat kedalaman luka bakar.

10

D. Kriteria Rawat Jalan


- Luka bakar derajat 1.
- Luka bakar derajat 2a dan 2b dengan luas kurang dari 10% permukaan
tubuh (tidak termasuk luka bakar pada wajah, mata, telapak tangan dan
-

perineum).
Pasien dengan keadaan sosial dan lingkungan yang aman di rumah.

RESUSITASI CAIRAN
A. Prinsip Dasar
- Diperlukan cairan lebih dari cairan maintenance pada pasien dengan luka
bakar dengan luas 15% permukaan tubuh (resusitasi oral sebaiknya
dihindari pada pasien luka bakar oleh karena terdapat kecenderungan
-

terjadinya ileus).
Kebutuhan cairan dapat bertambah pada pasien yang disertai demam dan
yang menggunakan intubasi.

11

B. Formula Parkland
Pada 24 jam pertama :
- Ringer Laktat (RL) dengan rumus 4 mL / kg / % luas permukaan luka.
- Berikan setengah dari total kebutuhan cairan resusitasi pada 8 jam pertama

sejak terjadinya luka bakar dan sisanya pada 16 jam setelahnya.


Pada 24 jam kedua :
Ganti cairan dengan D5 NS dan berikan album bila kadar albumin < 1,5
atau < 3,0 dan pasien hipotensi.

C. Pemilihan Jenis Cairan


Koloid versus Kristaloid
- Gunakan cairan kristaloid sesuai formula Parkland kecuali kebutuhan
cairan berdasarkan urine output lebih dari 2x lipat pada 12 jam pertama,
-

kemudian gunakan cairan koloid.


Dalam 48 jam, keduanya sama-sama efektif untuk mengembalikan volume
intravaskular dan cardiac output. Cairan koloid berhubungan dengan

komplikasi pulmonal dan tingkat mortalitas yang lebih tinggi.


Gula dan Selain Gula
Respon endokrin terhadap luka bakar adalah hiperglikemia, sehingga
pasien euglikemik tidak membutuhkan cairan gula.

D. Resustiasi pada Pasien Pediatri


Pada 24 jam pertama :
- Pasien usia kurang dari 15 tahun, perkiraan kebutuhan cairan RL adalah 3
ml / kg / % luas permukaan tubuh dan diberikan dengan tatacara
-

pemberian resusitasi pada orang dewasa.


Kebutuhan cairan tambahan sebaiknya diberikan menggunakan cairan

bebas elektrolit.
Pada 24 jam kedua :
Penggunakan koloid pada orang dewasa, kecuali pada anak boleh
diberikan D5 NS.

12

Kebutuhan cairan tambahan menggunakan D5 W.

E. Pemantauan Status Cairan


- Resusitasi dinyatakan adekuat apabila urine output 30 50 cc/jam pada
-

dewasa dan 1 cc/kg/jam pada anak <30 kg.


Swan-Ganz cateter mungkin dibutuhkan untuk menilai fungsi kardiak.
Gunakan inotropic bila dibutuhkan untuk menjaga tekanan darah.
Observasi berat badan harian.
Oliguria biasanya terjadi akibat kekurangan resusitasi cairan.
Pertimbangkan pemberian diuretik apabila dicurigai myoglobinuria (pada
trauma elektrik voltase tinggi, berhubungan dengan trauma mekanik
jaringan lunak, luka bakar dalam yang mengenai otot, luka bakar luas dan

tetap oliguria).
Jika menggunakan manitol dibutuhkan central venous pressure (CVP)
line.

F. Variasi Perubahan Kebutuhan Cairan


Meningkat
- Trauma elektrik voltase tinggi
- Trauma inhalasi
- Resusitasi yang terlambat
- Intoksikasi saat terjadi trauma
Menurun
- Pasien usia lebih dari 50 tahun
- Pasien kurang dari 2 tahun
- Pasien dengan penyakit cardio atau pumonal

PERAWATAN LUKA BAKAR


A. Perawatan Harian
- Survey primer ABC, resusitasi fisiologis
- Bersihkan luka, buang jaringan mati
- Bila memungkinkan cuci luka di kamar mandi bila memungkinkan, bila
tidak memungkinkan dapat dilakukan di kasur

13

B. Terapi Definitif
- Untuk terapi noneksisional, dibutuhkan perawatan harian yang kontinu
dan debridemen sampai jaringan granulasi timbul dengan debris yang
-

minimal.
Operatif.

EFEK FISIOLOGIS SISTEMIK TERHADAP LUKA BAKAR


KARDIOVASKULAR
A. Pre-resusitasi
- Peningkatan permeabilitas mikrovaskular akibat melepasan materi
vasoaktif (melalui jalur asam arakidonat, substansi P, IL-1, IL-6, IL-8 dan
-

histamin).
Penurunan cardiac output.
Peningkatan hematokrit akibat penurunan volume darah dan peningkatan

viskositas darah.
Peningkatan resistensi vaskular perifer.
Oliguria akibat penurunan volume darah dan cardiac output diikuti dengan
penurunan aliran darah ginjal dan penurunan laju filtrasi glomerulus
(LFG).

B. Setelah resusitasi
Terjadi suatu keadaan hiperdinamik persisten, ditandai dengan :
- Peningkatan cardiac output yang diikuti peningkatan aliran darah renal
dan peningkatan laju filtrasi glomerulus.
- Peningkatan kebutuhan metabolik.
- Meningkatan katekolamin dan glukagon.
- Penurunan tingkat insulin dan tiroksin.
Dapat terjadi edema (8 12 jam) karena kehilangan cairan dari kompartemen
intravaskular.

14

RESPIRASI
-

Pada luka bakar daerah thoraks atau trauma inhalasi dapat terjadi

hipovolemia yang ditandai dengan nafas yang cepat dan dalam.


Setelah dilakukan resusitasi, hiperventilasi terjadi dengan atau tanpa

disfungsi parenkimal yang diikuti dengan alkalosis respiratorik ringan.


Peningkatan resistensi vaskular pulmonal tanpa diikuti perubahan

permeabilitas kapiler pulmonal.


Dapat terjadi defek restriktif pada luka bakar sirkumferential thorax yang
membutuhkan tindakan escharotomy.

HEMATOLOGI
-

Kebocoran plasma
Destruksi sel darah merah akibat lisis nya sel karena panas dan terjadi

trombosis mikrovaskular pada jaringan yang mengalami kerusakkan.


Efek hematologi awal pada luka bakar adalah penurunan jumlah platelet,

penurunan fibrinogen dan peningkatan produk degradasi fibrin.


Selanjutnya platelet, fibrinogen dan produk degradasi fibrin akan kembali
ke nilai normal dan meningkat kembali akibat penurunan Antitrhombin III
(AT III) dan Protein C.

GASTROINTESTINAL
-

Kebanyakan pasien dengan luas luka bakar lebih dari 25% permukaan

tubuh akan terjadi ileus yang akan kembali normal dalam 3-5 hari.
Peningkatan permeabilitas gastrointestinal dengan peningkatan translokasi

bakteri.
Pasien secara umum membutuhkan pipa nasogastrik dan profilaksis
gastrointestinal menggunakan H2 bloker.

ENDOKRIN
-

Peningkatan kadar glukagon, kortisol dan katekolamin.


15

Penurunan kadar insulin dan triodotironin T3.

IMUNOLOGI
-

Hilangnya fungsi barier kulit.


Pada luka bakar dengan luas luka bakar lebih dari 20% permukaan tubuh

terjadi penurunan imunitas selular.


Terjadi penurunan awal white-blood count terutama limfosit, kemudian

granulosit dan b-limfositosis dengan aktivasi sel T.


Penurunan IL-2, imunoglobulin G (IgG) dan sel natural killer (NK).
Peningkatan IL-6 dan TNF-.
Terjadi disfungsi PMN (polymorphonuclear neutrophil), imunosupresis,
peningkatan kemungkinan terjadinya infeksi, penurunan kemotaksis yang
berbanding lurus dengan ukuran luka bakar.

METABOLISME DAN NUTRISI


-

Terjadi suatu kondisi hipermetabolisme seperti peningkatan konsumsi


oksigen, penurunan kadar CO, peningkatan volume respirasi per menit,

peningkatan temperatur tubuh dan peningkatan kadar nitrogen dalam urin.


Peningkatan aliran darah ke daerah luka bakar.
Pelepasa katekolamin terutama norepinefrin.
Peningkatan kebutuhan kalori dan protein.
Mulai suplementasi per oral dengan pipa nasogastrik pada hari ke 3 dan 4

bila tidak ada intake oral.


Bila dibutuhkan berikan pemerian nutrisi total per parenteral.

TINDAKAN OPERATIF PADA LUKA BAKAR


A. Escharatomy
Escharatomy perlu dipertimbangkan pada luka bakar sirkumferential di
ekstremitas (termasuk penis) atau thoraks. Indikasi dari tindakan operatif ini
adalah :

16

Gangguan atau kegagalan sirkulasi perifer atau perubahan ventilasi yang

ditandai dengan sianosis.


Gangguan refill capiler.
Parestesia.
Nyeri.
Peningkatan tekanan kompartemen lebih dari 30 mmHg

Tindakan ini dilakukan tanpa membutuhkan anestesi. Pada escharatomy


dilakukan insisi melalui eschar dan fasia superfisial sehingga sudut dari eschar
dapat dipisahkan. Inisisi ini dilakukan di daerah mid-lateral atau mid-medial dari
batas proksimal atau distal luka bakar dan melewati sendi yang terlibat. Sisi yang
berlawanan biasanya juga perlu dilakukan insisi.

B. Fasciotomy
Escharatomy dapat gagal dilakukan terutama pada luka bakar akibat trauma
elektrik voltase tinggi, atau kerusakkan yang terjadi meliputi jaringan lunak,
tulang atau vaskular. Apabila sindrom kompartemen tetap berlangsung setelah
dilakukan escharatomy, maka perlu dilakukan insisi pada fascia. Tindakan ini
membutuhkan anestesi umum.

C. Debridement dan Skin Grafting


Tindakan eksisi diindikasikan pada luka bakar derajat 2b dan derajat 3 setelah
pasien stabil. Keuntungan dari dilakukannya tindakan eksisi adalah dapat
menurunkan lama rawat, dapat mempercepat kemampuan pasien untuk kembali
beraktivitas seperti biasa, penurunan insidensi infeksi dan penurunan terjadinya
komplikasi.

17

Luka bakar dalam (full-thickness) membutuhkan debridemen pada lapisan


fascia yang terkena menggunakan scalpel dan bovie. Eksisi tangential dapat
dilakukan pada luka bakar parsial yang dalam dengan luas luka bakar kurang dari
20% permukaan tubuh.

18