Anda di halaman 1dari 11

JP2F, Volume 2 Nomor 2 September 2011

Pengaruh Model Pembelajaran

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NHT (NUMBERED HEADS TOGETHER) MENGGUNAKAN PETA KONSEP DAN PETA PIKIRAN TERHADAP PENALARAN FORMAL SISWA 1

Joko Siswanto 2 dan Siti Rechana 3

Abstrak

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah

ada perbedaan pengaruh penggunaan model pembelajaran

kooperatif tipe NHT menggunakan peta konsep dan peta pikiran terhadap penalaran formal siswa pada pokok bahasan tekanan kelas VIII semester 2 SMP Futuhiyyah Mranggen Demak tahun ajaran 2010/2011. Populasi dalam penelitian ini adalah kelas VIII A, VIII B,

VIII C dan VIII D SMP Futuhiyyah Mranggen Demak tahun

ajaran 2010/2011. Dengan teknik cluster random sampling terpilih 2 kelas sebagai sampel yaitu kelas VIII A sebagai kelas

eksperimen yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe

NHT menggunakan peta pikiran dan kelas VIII B sebagai kelas

kontrol yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT menggunakan peta konsep. Pada akhir pembelajaran kedua kelas sampel diberi tes penalaran formal. Berdasarkan hasil perhitungan anava satu jalur diperoleh F hitung = 3,994 dan F tabel = 3,958. Dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe NHT menggunakan peta pikiran lebih berpengaruh terhadap penalaran formal siswa. Untuk itu Pembelajaran kooperatif NHT menggunakan peta

pikiran perlu terus diterapkan dan dikembangkan pada materi

yang lain agar siswa lebih memahami materi.

Kata kunci: Pembelajaran Kooperatif, NHT, Peta konsep, peta pikiran, Penalaran Formal.

1 Ringkasan hasil penelitian tahun 2011 2 Pogram Studi Pendidikan Fisika IKIP PGRI Semarang email : jokosis@ikippgrismg.ac.id 3 Pogram Studi Pendidikan Fisika IKIP PGRI Semarang,

178

JP2F, Volume 2 Nomor 2 September 2011

A.

Pendahuluan

Pengaruh Model Pembelajaran

Pelajaran Fisika hingga saat ini masih dianggap sebagai pelajaran yang paling sulit untuk dipahami diantara pelajaran IPA lainnya, pernyataan ini sering dilontarkan oleh siswa SMP pada umumnya, dan siswa SMP Futuhiyyah Mranggen Demak pada khususnya. Hal ini dikarenakan mereka merasa selain dituntut untuk memahami konsep-konsep yang ada, juga dituntut untuk mampu menggunakan rumus-rumus fisika. Selain alasan tersebut, siswa juga sering merasa jenuh dan bosan dengan cara-cara mengajar guru yang cenderung lebih memilih cara praktis dengan metode ceramah, sehingga mereka hanya bisa menulis dan mencatat apa yang didengar dan dijelaskan oleh gurunya, tanpa pernah dilibatkan langsung dalam proses menemukan pengetahuan ataupun mengembangkan pengetahuan sesuai dengan kemampuannya sendiri. Padahal setiap siswa adalah subjek (pelaku) dalam proses belajar mengajar yang memiliki keunikan satu sama lain. Ada anak yang cepat tanggap, mudah mengerti, ada pula yang lambat menerima. Untuk itu guru perlu mengubah filosofi pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi pembelajaran berpusat pada siswa yang berlandaskan filosofi konstruktifisme dimana siswa dapat menyusun sendiri konsep-konsep yang dipelajarinya (Susilo, 2004). Untuk dapat mempelajari fisika dengan baik diperlukan struktur kognitif yang baik. Struktur kognitif adalah organisasi informasi yang meliputi fakta- fakta, konsep-konsep dan generalisasi-generalisasi yang telah dipelajari dan diingat oleh siswa (Dahar, 1989). Struktur kognitif yang baik akan mendukung peristiwa belajar dan memudahkan mengingat apa yang telah dipelajari, karena struktur kognitif yang baik akan memudahkan seseorang belajar dengan jalan membantu pebelajar untuk memasukkan sejumlah informasi dan konsep. Untuk membangun kerangka kerja konseptual yang diorganisir dengan baik, memerlukan komitmen dari siswa untuk memilih belajar bermakna daripada dengan hafalan. Menurut Ausubel (1963) agar pemahaman materi pelajaran dapat lebih mudah dipelajari hendaknya setiap orang belajar secara bermakna yaitu dengan mengaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah diketahui sebelumnya. Kemampuan seperti ini berhubungan erat dengan kemampuan penalaran formal. Novak (1980) mengemukakan belajar bermakna sebagaimana dikemukakan Ausubel diatas dapat dilakukan

179

JP2F, Volume 2 Nomor 2 September 2011

Pengaruh Model Pembelajaran

dengan pertolongan peta konsep. Peta konsep adalah suatu alat yang dapat membantu para siswa melihat dan memahami keterkaitan antar konsep yang telah dikuasainya. Begitu juga sama halnya dengan menggunakan peta pikiran. Agar peta konsep dan peta pikiran lebih lengkap maka perlu disusun secara bersama antar siswa dalam suatu kelompok. Di dalam kelas atau di luar kelas siswa dapat diberi kesempatan kerja secara kooperatif untuk memecahkan atau menyelesaikan masalah secara bersama. Para siswa juga diberi kesempatan untuk mendiskusikan masalah, menentukan strategi pemecahannya, dan menghubungkan masalah tersebut dengan masalah-masalah lain yang telah diselesaikan sebelumnya.

Mengacu pada latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah ada perbedaan pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe NHT menggunakan peta konsep dan peta pikiran terhadap penalaran formal siswa pada pokok bahasan tekanan kelas VIII semester 2 SMP Futuhiyyah Mranggen Demak tahun ajaran 2010/2011?” Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada perbedaan pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe NHT menggunakan peta konsep dan peta pikiran terhadap penalaran formal siswa pada pokok bahasan tekanan kelas VIII SMP Futuhiyyah Mranggen Demak tahun ajaran 2010/2011. Belajar merupakan suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan diri individu. Hudoyo (1988:1) mengemukakan bahwa pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, kegemaran dan sikap seseorang terbentuk, dimodifikasi dan berkembang akibat aktivitas belajar. Karena itu, seseorang dikatakan belajar bila dapat diasumsikan bahwa dalam diri orang itu terjadi suatu proses yang mengakibatkan perubahan perilaku. Sudjana (1996:2) mengemukakan bahwa belajar suatu perubahan yang relatif permanen dalam suatu kecenderungan tingkah laku sebagai hasil dari praktik atau latihan. Sedang menurut Slameto (1991:2) bahwa belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sabagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

180

JP2F, Volume 2 Nomor 2 September 2011

Pengaruh Model Pembelajaran

Dari beberapa definisi tentang belajar seperti yang telah dikemukakan, maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses yang dilakukan secara sadar oleh individu untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap yang sifatnya relatif permanen. Dengan demikian, perubahan tingkah laku yang berlaku dalam waktu yang relatif lama itu disertai usaha, sehingga orang itu dari tidak mampu mengerjakan sesuatu menjadi mampu mengerjakannya. Misalnya setelah belajar fisika siswa mampu mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan fisika, di mana sebelumnya tidak mampu melakukannya. Kegiatan dan usaha untuk mencapai perubahan tingkah laku itu merupakan proses belajar, sedang perubahan tingkah laku itu sendiri merupakan hasil belajar. Pembelajaran kooperatif (cooperatif learning) adalah model pembelajaran di mana siswa dibiarkan belajar dalam kelompok, saling menguatkan, mendalami, dan bekerjasama untuk semakin menguasai bahan/ materi pelajaran (Suparno, 2007: 134). Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran dengan membentuk siswa belajar dalam kelompok- kelompok kecil. Dalam kelompok ini siswa yang dipilih memiliki tingkat kemampuan berbeda dari segi budaya, jenis kelamin dan kemampuan akademiknya. Sebagai anggota kelompok, siswa bekerjasama untuk membantu dan memahami suatu bahan pelajaran serta tugas-tugas yang diberikan oleh guru, seperti yang dinyatakan oleh Ibrahim (2000:3) bahwa pembelajaran kooperatif menuntut kerjasama siswa dan saling ketergantungan dalam struktur tugas dan tujuan.

Model NHT merupakan tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri atas empat tahap yang digunakan untuk mereview fakta-fakta dan informasi dasar yang berfungsi untuk mengatur interaksi siswa. Model pembelajaran ini juga dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang tingkat kesulitannya terbatas. Menurut Muhammad Nur (2005:78), dengan cara tersebut akan menjamin keterlibatan total semua siswa dan merupakan upaya yang sangat baik untuk meningkatkan tanggung jawab individual dalam diskusi kelompok. Selain itu model pembelajaran NHT memberi kesempatan kepada siswa untuk membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. NHT sebagai model pembelajaran pada dasarnya merupakan sebuah variasi diskusi kelompok. Adapun ciri khas dari NHT adalah

181

JP2F, Volume 2 Nomor 2 September 2011

Pengaruh Model Pembelajaran

guru hanya menunjuk seorang siswa yang mewakili kelompoknya. Dalam menujuk siswa tersebut, guru tanpa memberi tahu terlebih dahulu siapa yang akan mewakili kelompok tersebut.

Adapun langkah dalam pembelajan NHT antara lain yaitu penomoran, mengajukan pertanyaan, berfikir bersama, dan menjawab (Ibrahim, 2000:28).

1. Langkah 1: Penomoran Guru membagi siswa ke dalam kelompok beranggotakan 3-5 orang dan setiap anggota kelompok diberi nomor 1-5.

2. Langkah 2: Mengajukan pertanyaan Guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan dapat bervariasi. Pertanyaan dapat spesifik dan dalam bentuk kalimat tanya atau bentuk arahan.

3. Langkah 3: Berpikir bersama Siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan itu dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban itu.

4. Langkah 4: Menjawab

Guru memanggil siswa dengan nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya dan mencoba untuk menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas. Peta konsep adalah suatu gambaran skematis untuk mempresentasikan suatu rangkaian konsep dan kaitan antar konsep- konsep. Peta ini mengungkapkan hubungan-hubungan yang berarti antara konsep-konsep dan menekankan gagasan-gagasan pokok (Novak & Gowin, 1984). Peta konsep disusun hirarkis, konsep yang lebih umum berada diatas dalam peta itu, sedangkan yang khusus dibawah. Dalam peta konsep, konsep-konsep disusun hirarkis dan relasi antar konsep diletakkan di antara konsep-konsep dengan anak panah. Mind Mapping atau peta pikiran adalah metode mempelajari konsep yang ditemukan oleh Tony Buzan. Konsep ini didasarkan pada cara kerja otak kita menyimpan informasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otak kita tidak menyimpan informasi dalam kotak-kotak sel saraf yang terjejer rapi melainkan dikumpulkan pada sel-sel saraf yang berbercabang-cabang yang apabila dilihat sekilas akan tampak seperti cabang-cabang pohon.

182

JP2F, Volume 2 Nomor 2 September 2011

Pengaruh Model Pembelajaran

Volume 2 Nomor 2 September 2011 Pengaruh Model Pembelajaran Gbr 1. Contoh peta pikiran Penalaran (

Gbr 1. Contoh peta pikiran Penalaran (reasoning) merupakan suatu konsep umum yang menunjuk pada salah satu proses berpikir untuk sampai kepada suatu kesimpulan sebagai pernyataan baru dari beberapa pernyataan lain yang telah diketahui.

Inhelder dan Piaget membuat suatu inventory untuk mengukur tingkat operasional formal. Inventory ini mengacu pada skemata yang disesuaikan dengan tingkat operasional formal seseorang. Terkait dengan pengetahuan ilmiah yang harus dimiliki seseorang pada tingkat operasional formal ini, Inhelder dan Piaget memberikan beberapa ciri ( Travers, 1982 : 294 ).

a. Operasi Kombinasi (Combinatorial Operation) Pencapaian menuju tingkat operasional formal harus mencakup kombinasi terhadap suatu proposisi. Sebagai contoh masalah bandul, anak-anak akan mencoba menemukan faktor yang mempengaruhi cepat lambatnya ayunan suatu bandul. Hipotesis yang mungkin muncul adalah (a) frekuensi ayunan bandul tergantung dari panjang tali dan berat beban, (b) frekuensi ayunan bandul tergantung dari berat beban dan tidak tergantung dari panjang tali, dan (c) frekuensi bandul tidak tergantung kedua-duanya. Anak-anak akan mencoba memecahkan masalah terkait dengan hipotesis yang diberikan dengan nalarnya guna melihat faktor-faktor yang berpengaruh terhadap frekuensi bandul.

b. Perbandingan (Proportions) Pada tahap operasional konkret anak belum memahami sepenuhnya tentang persamaan dari dua buah perbandingan a/b = x/y. Anak pada umur 9 tahun sampai 11 tahun akan mencoba memecahkan masalah perbandingan ini dengan menggunakan jari-jarinya. Pada tahap operasional konkret anak tidak mampu dan belum memahami sepenuhnya tentang konsep

183

JP2F, Volume 2 Nomor 2 September 2011

Pengaruh Model Pembelajaran

perbandingan ini. Untuk menghindari konsep yang bersifat numerik, konsep perbandingan dapat dilihat dari analogi. c. Koordinasi Terhadap Dua Sistem Acuan (The Coordination of Two System of Refference) Studi Piaget tentang konsep koordinasi ini dapat ditinjau dari pengertian terhadap kecepatan dan gerak. Satu masalah unik yang dikemukakan Piaget berkaitan dengan konsep koordinasi ini adalah gerakan seekor keong dalam sebuah papan luncur. Dalam hal ini keong dapat bergerak maju dan mundur, begitu pula papan luncur. Ketika papan luncur dan keong tersebut bergerak, maka kecepatan keong terhadap titik acuan luar adalah merupakan penjumlahan kecepatan dari keong dan papan luncur. Anak yang berada pada tahap operasional konkret tidak memungkinkan untuk memecahkan masalah ini sebab mereka belum memiliki kemampuan untuk mengoperasikan perhitungan secara simultan untuk kerangka acuan yang berbeda ( satu sisi adalah keong di atas papan luncur dan di satu sisi papan luncur yang ada di atas meja). Siswa yang berada pada tahap operasional formal akan mampu memecahkan masalah semacam ini dan memiliki kemampuan untuk membuat ramalan-ramalan. Pada umur 15 tahun anak sudah mampu membandingkan 2 obyek secara simultan. d. Proses Keseimbangan Mekanik (The Process of Mechanical Equilibrium ) Pada tahap operasional konkret anak yang berumur 8 tahun sampai 11 sudah memahami tentang keseimbangan mekanis bila fakta yang disajikan sangat jelas. Dalam kasus tekanan piston dalam suatu fluda, siswa mengalami kesulitan untuk memahami takanan oleh dinding-dinding silender terhadap fluida yang mendesaknya.

e. Probabilitas (Probability) Piaget percaya bahwa konsep probabilitas membutuhkan pemahaman yang baik. Probabilitas adalah konsep sulit karena bersifat abstrak. Pada tahap operasional konkret anak berpikir bahwa munculnya bagian depan pada pelemparan uang logam memiliki kemungkinan yang berbeda dengan munculnya bagian belakangnya. Pada tingkat operasional konkret kejadian akan munculnya satu sisi mata uang akan menghilangkan peluang munculnya satu sisi yang lain pada kejadian yang lain.

184

JP2F, Volume 2 Nomor 2 September 2011

Pengaruh Model Pembelajaran

f. Korelasi (Correlation) Pada tahap operasional formal anak dapat menjelaskan dua pengukuran dan mampu mengkorelasikan antar variabel- variabelnya. Dalam tingakat operasional konkret anak mampu menggunakan intuisinya untuk memahami hubungan- hubungan tersebut tetapi mereka belum mampu menjelaskan konsep kovarian dari dua variabel. Pada Tahap operasional formal meskipun belum memahami konsep dan rumus tentang statistik korelasi, tetapi mereka sudah memegang konsep variasi variabel. Variasi ini menimbulkan hubungan antara variabel-variabel.

g. Kompensasi (Compensation) Ide dasar menyertakan konsep kompensasi adalah adanya penurunan dimensisatu akan ditutupi oleh kenaikan pada dimensi yang lain. Meskipun pada tahap permulaan, anak mengerti bahwa cairan yang dituangkan dari tempat yang lebar ke tempat yang sempit tidak berubah volumenya. Tetapi mereka tidak sepenunya mengetahui adanya kompensasi bentuk (dimensi) dari lebar ke dalam bentuk yang tinggi. Hal ini sama halnya dengan berat seseorang berhubungan dengan tinggi dan gemuk-kurusnya seseorang. Bila orangnya pendek dan dibarengi dengan kenaikan berat badan maka secara otomatis berat seseorang akan tetap. Inhelder dan Piaget sangat menekankan konsep ini, seperti halnya konsep korelasi yang tanpa penalaran matematika dan mereka tidak sadar telah mengaitkannya dengan konsep proporsi.

h. Konsep Kekekalan (Concepts of Conservation) Pemahaman tehadap konsep kekekalan dapat dicermati dari konsep kekekalan momentum. Benda yang bergerak secara seragam maka tidak ada gaya yang bekerja padanya. Sedangkan benda yang tidak bergerak seragam maka akan mengalami kecendrungan untuk bergerak lebih lambat yang pada akhirnya akan berhenti. Gaya yang menghentikannya tidaklah merupakan sesuatu yang dapat diamati. Konsep kekekalan momentum ini diturunkan secara tidak langsung dari data yang ada. Oleh sebab itu konsep ini bersifat abstrak sulit dimengerti. Konsep ilmiah tentang kekekalan momentum ini dapat dibentuk setelah peristiwanya berlalu. (Wilantara,

2003).

185

JP2F, Volume 2 Nomor 2 September 2011

B. Metode Penelitian

Pengaruh Model Pembelajaran

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMP Futuhiyyah Mranggen Demak kelas VIII semester 2 tahun ajaran 2010/2011 yang berjumlah empat kelas yaitu kelas VIII A dengan jumlah siswa 42 orang, kelas VIII B dengan jumlah 42 orang, kelas

VIII C dengan jumlah 38 orang, dan kelas VIII D dengan jumlah 42

orang. Sedangkan sampel penelitiannya adalah kelas VIIIB sebagai kelas kontrol dengan jumlah siswa 42 orang dan kelas VIIIA sebagai kelas eksperimen dengan jumlah siswa 42 orang yang dipilih dengan teknik cluster random. Sedangkan untuk kelas uji coba yang digunakan adalah kelas VIIIC dengan jumlah siswa 38 orang. Variabel dalam penelitian ini adalah Variabel bebas yaitu Model pembelajaran kooperatif tipe NHT menggunakan peta konsep

dan peta pikiran sedangkan variabel terikatnya adalah penalaran

formal. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah (1) dokumentasi yang digunakan untuk mengetahui daftar nama siswa

yang menjadi sampel dalam penelitian serta nilai fisika pada semester

I. Nilai ini digunakan untuk mengetahui normalitas dan matching/ keadaan sepadan sampel. (2) tes penalaran formal. Tes ini digunakan untuk memperoleh data nilai siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol. Tes ini merupakan tes akhir yang diadakan secara terpisah terhadap masing-masing kelas dalam bentuk soal yang sama yang

telah diuji validitas, reliabilitas, taraf kesukaran dan daya pembeda.

Data

ini digunakan untuk menjawab hipotesis penelitian.

C.

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Setelah dilakukan perhitungan uji normalitas dan uji homogenitas ternyata kedua kelas sampel dalam keadaan yang sama

atau

homogen. Berdasarkan perhitungan analisis varian dengan satu

jalur

diperoleh F hitung = 3,994 dan F tabel = 3,958, hal itu menunjukkan

F hitung >F tabel pada taraf nyata 5 %, hal ini bararti bahwa Ho ditolak artinya ada perbedaan pengaruh yang signifikan antara siswa yang

dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT menggunakan peta pikiran dibandingkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe

186

JP2F, Volume 2 Nomor 2 September 2011

Pengaruh Model Pembelajaran

NHT menggunakan peta konsep terhadap penalaran formal siswa pada pokok bahasan tekanan kelas VIII semester 2 SMP Futuhiyyah Mranggen Demak tahun ajaran 2010/2011.

D.

Penutup

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa nilai rata-rata hasil tes penalaran formal siswa pada pembelajaran kooperatif tipe NHT menggunakan peta pikiran lebih baik daripada nilai rata-rata hasil tes penalaran formal pada pembelajaran kooperatif tipe NHT menggunakan peta konsep. 1. Pembelajaran kooperatif NHT menggunakan peta pikiran perlu disosialisasikan agar dapat digunakan sebagai alternatif dalam pembelajaran fisika pokok bahasan tekanan. 2. Pembelajaran kooperatif NHT menggunakan peta pikiran perlu terus diterapkan dan dikembangkan pada materi yang lain agar siswa lebih memahami materi. 3. Dalam proses pembelajaran masih memerlukan adanya perbaikan yaitu guru dapat lebih memotivasi siswa untuk aktif sehingga terjalin komunikasi yang baik antar siswa ataupun guru dengan siswa. 4. Perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk menentukan model pembelajaran yang tepat untuk digunakan pada pokok bahasan tertentu.

Daftar Pustaka

Ausubel, D. P. 1963. The Psychology of Meaningful Verbal Learning. New York. Grune & Stratton. Dahar, R.W. 1989. Teori-Teori Belajar. Bandung: Erlangga. Hudoyo, Herman. 1988. Pengembangan Kurikulum Matematika dan Pelaksanaannya di depan Kelas. Surabaya : Usaha Nasional. Ibrahim, dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya. Nur, Muhammad. 2005. Pembelajaran Kooperatif. Jawa Timur:

Depdiknas Dirjen Dikwen LPMP. Novak & Gowin. 1984. Learning How to Learn. Cambridge University Press.

187

JP2F, Volume 2 Nomor 2 September 2011

Pengaruh Model Pembelajaran

Novak, Joseph D. 1980. Meaningful Reception Laerning as a Basis for Rational Thinking. Science Education Information Report. MSA: Clearinghouse for Science, Matematic, and Environmental Education. The Ohiostate University. Slameto. 1991. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhuinya. Jakarta: Rineka Cipta. Sudjana. 1996. Metode Statitsik . Bandung: Tarsito. Susilo, H. 2004a. Implementasi KBK dalam Kurikulum 2004. Makalah disajikan dalam Lokakarya Implementasi KBK dalam Kurikulum 2004 di SMAN 3 Malang. Susilo, H. 2004b. Pembelajaran Mengembangkan Kecakapan Hidup Siswa SMP Melalui Pembelajaran Sains. Makalah disampaikan Pelatihan PBMP pada Pembelajaran Para Guru Sains Biologi. Universitas Negeri Malang. Tawil, Muh dkk. 2007. Formal Common Sense Ability, And Area Of Education Of Family Related To Result Of Student Physics Learning Class X SMA Negeri 1 Sungguminasa Kabupaten Gowa. Proceeding Of The Third International Seminar On Science Education, halaman 223-232. ISBN: 978-602-8171-14-1 Travers, R.M. 1982. Essentials of Learning. The New Cognitive Learning for Students of Education. New York : Macmillan Publishing Co. Inc. Wilantara, I. P. Eka. 2003. Implementasi Model Belajar Konstruktivis Dalam Pembelajaran Fisika Untuk Mengubah Miskonsepsi Ditinjau Dari Penalaran Formal Siswa. Tesis Magister tidak dipublikasikan. Institut Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Negeri Singaraja Program Pascasarjana.

188