Anda di halaman 1dari 10

PEMBAHASAN

Bertani artinya bercocok tanam atau menanam tumbuh-tumbuhan, dengan


maksud agar tumbuh-tumbuhan dapat berkembang biak menjadi lebih banyak sehingga
nantinya dapat dipungut hasilnya. Tujuan pokok menanam tumbuh-tumbuhan untuk
memenuhi kebutuhan hidup. Petanilah yang mengusahakan pertanian, petanilah yang
mengerjakan tanah, petanilah yang menanam dan hasil yang diperoleh dari penanaman
itu semata-mata tidak ditujukan untuk kepentingan sendiri, melainkan untuk mencukupi
kebutuhan umum, baik dari lapisan atas maupun dari lapisan yang terbawah, semua
hidup dan makan dari hasil pertanian. Dengan bertambahnya penduduk dan semakin
tingginya kebutuhan akan pangan, maka perlulah dilakukan budidaya.
Tanah adalah bahagian permukaan bumi yang terdiri daripada mineral dan
bahan organik. Tanah sangat penting peranannya bagi semua kehidupan di bumi, karena
tanah mampu mendukung kehidupan tumbuhan di mana tumbuhan menyediakan
makanan dan oksigen kemudian menyerap karbon dioksida dan nitrogen. Tanah
mempunyai arti penting bagi tanaman. Dalam mendukung kehidupan tanaman, tanah
memiliki fungsi untuk memberikan unsur hara dan sebagai media perakaran,
menyediakan air dan sebagai tempat penampungan (reservoar) air, menyediakan udara
untuk respirasi akar dan sebagai tempat bertumpunya tanaman. Tanah yang dikehendaki
tanaman adalah tanah yang subur. Tanah yang subur adalah tanah yang mampu untuk
menyediakan unsur hara yang cocok, dalam jumlah yang cukup serta dalam
keseimbangan yang tepat dan lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan suatu spesies
tanaman.

Pemahaman fungsi tanah sebagai media tumbuh dimulai sejak peradaban


manusia mulai beralih dari manusia pengumpul pangan yang tidak menetap menjadi
manusia pemukim yang mulai melakukan pemindah tanaman pangan/nonpangan ke
areal dekat mereka tinggal. Pada tahap berikutnya, mulai berkembang pemahaman
fungsi tanah sebagai penyedia nutrisi bagi tanaman tersebut, sehingga produksi yang
dicapai tanaman tergantung pada kemampuan tanah dalam penyediaan nutrisi ini
(kesuburan tanah).
Dengan berkembangnya areal pemukiman/perkotaan, terjadi benturan kepentingan
antara kebutuhan lahan untuk sarana transportasi dan pendirian bangunan dengan
kebutuhan lahan pertanian, yang seringkali menyebabkan tergusurnya lahan pertanian
yang produktif semata-mata karena alasan finansial.

Pada mulanya, tanah dipandang sebagai lapisan permukaan bumi (natural body)
yang berasal dari bebatuan (natural material) yang telah mengalami serangkaian
pelapukan oleh gaya-gaya alam (natural force), sehingga membentuk regolith (lapisan
berpartikel halus). Konsep ini dikembangkan oleh para geologis pada akhir abad XIX.
Pandangan revolusioner menegenai tanah dikembangkan oleh Dokuchaev di Rusia pada
sekitar tahun 1870, berdasarkan hasil pengamatannya terhadap :
1. Perbedeaan-perbedaan berbagai jenis tanah dijumpai suatu jenis tanah yang sama jika
kondisinya relatif sama,
2. Masing-masing jenis tanah mempunyai morfologi yang khas sebagai konsekuensi
keterpaduan pengaruh spesifik dari iklim, jasad hidup (tanaman dan ternak), bahan
induk, topografi dan umur tanah
3. Tanah merupakan hasil evolusi alam yang bersifat dinamis sepanjang masa.

Jadi dapat disimpulkan bahwa terjadinya tanah dari batuan induk, menjadi bahan
induk tanah, berangsur-angsur menjadi lapisan tanah bahwa yang akhirnya membentuk
tanah atas memerlukan waktu lama sekali sampai berabad-abad. Adapun yang
menyebabkan batu-batuan induk itu menjadi lapisan tanah dan menjadi tanah yang baik
karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi, yakni sinar matahari, air, hawa,
tumbuh-tumbuhan, makhluk hidup dan jasat hidup yang lain di dalam tanah.
Pemahaman tanah sebagai media tumbuh tanaman pertama kali dikemukakan
oleh Dr. H. L. Jones dari Cornell University Inggris (Darmawijaya, 1990), yang
mengkaji hubungan tanah pada tanaman tingkat tinggi untuk mendapatkan produksi
pertanian yang seekonomis mungkin. Kajian tanah dari aspek ini disebut edaphologi
(edhapos = bahan tanah subur), namun pada realitasnya kedua definisi selalu
terintegrasi.
Kajian Edhapologi ini antara lain meliputi :
Kesuburan tanah, Konservasi Tanah dan Air, Agrohidrologi,Pupuk dan Pemupukan,
Ekologi Tanah dan Bioteknologi Tanah,
sedangkan yang merangkum kajian Pedologi dan Edhapologi atara lain meliputi :
Pengolahan Tanah dan Air, Evaluasi Kesesuaian Lahan dan Tata Guna Lahan,
Pengelolaan Tanah Rawa, Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan.

Menurut Kemas Ali Hanafiah, tanah pada masa kini sebagai media tumbuh
tanaman didefinisikan sebagai lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi
sebagai tempat tumbuh-berkembangnya perakaran penompang tegak tumbuhnya
tanaman dan penyuplai kebutuhan air dan udara secara kimiawi berfungsi sebagai
gudang dan penyuplai hara atau nutrisi (senyawa organik dan anorganik sederhana dan

unsur-unsur esensial seperti N, P, K, Ca, Mg, S, Cu, Zn, Fe, Mn, B, Cl, dan lain-lain)
dan secara biologis berfungsi sebagai habitat biota (organisme) yang berpartisipasi aktif
dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif (pemacu tumbuh, proteksi) bagi
tanaman, yang ketiganya secara integral mampu menunjang produktivitas tanah untuk
menghasilkan biomass dan produksi baik tanaman pangan, obat-obatan, industri
perkebunan, maupun kehutanan (Dasar-dasar ilmu tanah, 2009:4).

Atas dasar definisi ini maka tanah sebagai media tumbuh mempunyai empat fungsi
utama, yaitu :
1. Tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran yang mempunyai dua peran utama,
yaitu :
Penyokong tegak tumbuhnya trubus (bagian atas) tanaman
Sebagai penyerap zat-zat yang dibutuhkan tetanaman
2. Penyedia kebutuhan primer tanaman untuk melaksanakan aktivitas metabolismenya,
baik selama pertumbuhan maupun untuk berproduksi, meliputi air, udara dan unsurunsur hara
3. Penyedia kebutuhan sekunder tanaman yang berfungsi dalam menunjang aktivitasnya
supaya berlangsung optimum, meliputi zat-zat aditif yang diproduksi oleh biota
terutama mikroflora tanah seperti :
Zat-zat pemacu tumbuh (hormone, vitamin dan asam-asam organic khas)
Antibiotik dan toksin yang berfungsi sebagai anti hama-penyakit tanaman di dalam
tanah
Senyawa-senyawa atau enzim yang berfungsi dalam penyediaan kebutuhan primer
tersebut atau transformasi zat-zat toksik eksternal seperti pestisida dan limbah industry
berbahaya

4. Habitat biota tanah, baik yang berdampak positif karena terlibat langsung atau tak
langsung dalam penyediaan kebutuhan primer dan sekunder tanaman tersebut, maupun
yang berdampak negative karena merupakan hama-penyakit tanaman.
Fungsi-fungsi tanah yang sedemikian vitalnya dalam penyediaan bahan pangan,
papan dan sandang bagi manusia (juga bagi hewan) ini membawa konsekuensi bahwa
seorang ahli tanah tidak saja dituntut untuk berpengetahuan tantang tanah sebagai
tempat tumbuh dan penyedia kebutuhan tanaman, tetapi juga harus memahami fungsi
tanah sebagai pelindung tanaman dari serangan hama-penyakit dan dampak negatif
pestisida maupun limbah industri berbahaya.
Tanah yang subur memiliki sifat fisik kimia dan biologi yang baik untuk
pertumbuhan tanaman, antara lain:
1. Struktur Tanah
Struktur tanah memang ada bermacam-macam. Akan tetapi, yang dikehendaki
ialah struktur tanah yang remah. Keuntungan struktur tanah demikian ialah udara dan
air tanah berjalan lancar, temperaturnya stabil. Keadaan tersebut sangat memacu
pertumbuhan jasad renik tanah yang memegang peranan penting dalam proses
pelapukan bahan organik di dalam tanah. Oleh karena itu, untuk memperbaiki strutur
tanah ini dianjurkan untuk diberi pupuk organik (pupuk kandang, kompos, atau pupuk
hijau ).
2. pH Tanah
Ada 3 alasan pH tanah sangat penting untuk diketahui:
a. Menentukan mudah tidaknya unsur-unsur hara diserap oleh tanaman. Umumnya
unsur hara yang diserap oleh akar pada pH 6-7, karena pada pH tersebut sebagian besar
unsur hara mudah larut dalam air.

b. Derajat keasaman atau pH tanah juga menunjukkan keberadaan unsur-unsur yang


bersifat racun bagi tanaman. Pada tanah masam. Banyak ditemukan unsur aluminiun
yang selain bersifat racun juga mengikat phosphor, sehingga tidak dapat diserap oleh
tanaman. Pada tanah masam unsur-unsur mikro menjadi mudah larut sehingga
ditemukan unsur mikro, seperti Fe, Zn, Mn, Cu dalam jumlah yang terlalu besar.
Akibatnya juga menjadi racun bagi tanaman.
c.

Derajat

keasaman

atau

pH

tanah

sangat

mempengaruhi

perkembangan

mikroorganisme di dalam tanah. Pada pH 5,5-7 bakteri dan jamur pengurai bahan
organik dapat berkembang dengan baik.
Dapat disimpulkan, secara umum pH yang ideal bagi pertumbuhan tanaman
adalah mendekati netral (6,5-7). Namun, kenyataannya setiap jenis tanaman memiliki
kesesuaian pH yang berbeda-beda seperti yang tertera. Tindakan pemupukan tidak akan
efektif apabila pH tanah diluar batas optimum. Pupuk yang telah ditebarkan tidak akan
mampu diserap tanaman dalam jumlah yang diharapkan. Karenanya, pH tanah sangat
penting diketahui jika efisiensi pemupukan ingin dicapai. Pemilihan jenis pupuk tanpa
mempertimbangkan pH tanah juga dapat memperburuk pH tanah.
Tanah mineral yang dapat berfungsi sebagai media tumbuh ideal secara material
tersusun oleh 4 komponen, yaitu bahan padatan (mineral dan bahan organik), air dan
udara. Berdasarkan volumenya, maka tanah secara rerata terdiri dari :
1. 50 % padatan, berupa 45 % bahan mineral dan 5 % bahan organik, dan
2. 50 % ruang pori, berisi 25 % air dan 25 % udara, seperti tertera pada gambar berikut.
Gambar 1. Sketsa proporsi komponen-komponen tanah mineral
Secara alamiah proporsi komponen-komponen tanah sangat tergantung pada :

1. Ukuran partikel penyusun tanah, makin halus berarti makin padat tanah, sehingga
ruang porinya juga akan menyempit, sebaliknya jika makin kasar
2. Sumber bahan organik tanah, tanah bervegetasi akan mempunyai proporsi BOT
(bahan organic tanah) tinggi, sebalinya pada tanah gundul (tanpa vegetasi)
3. Iklim terutama curah hujan dan temperatur, saat hujan dan evaporasi (penguapan)
rendah proporsi air meningkat (dan proporsi udara menurun), sebaliknya pada saat tidak
hujan dan evaporasi tinggi, dan
4. Sumber air, tanah yang berdekatan dengan sungai akan lebih banyak mengandung air
ketimbang yang jauh dari sungai.
Masing-masing komponen tanah tersebut berperan penting dalam menunjang
fungsi tanah sebagai media tumbuh, sehingga variabilitas keempat komponen tanah ini
akan berdampak terhadap variabilitas fungsi tanah sebagai media tumbuh.
Udara tanah misalnya berfungsi sebagai gudang dan sumber gas :
O2 yang dibutuhkan oleh sel-sel perakaran tanaman untuk melaksanakan respirasi, yang
melepasakan CO2 dan untuk oksidasi enzimatik oleh mikrobia autotrofik (mampu
menggunakan senyawa anorganik sebagai sumber energinya),
CO2 bagi mikrobia fotosintetik, dan
N2 bagi mikrobia pengikat N.
1. Fungsi Tanah bagi Tanaman
Istilah tanah mempunyai pengertian yang luas dan arti yang berbeda sesuai dengan
peruntukannya. Pada umumnya pembahasan tanah dalam bidang pertanian dibatasi pada
kedalaman 2,0m. Lapisan tanah bagian atas pada umunya mengandung bahan organik
yang lebih tinggi dibandingkan lapisantanah di bawahnya. Karena akumulasi bahan
organik maka lapisan tanah tersebut berwarna gelap dan subur sehingga merupakan

bagian tanah yang sangat penting dalam mendukung pertumbuhan tanaman. Untuk
pertumbuhannya, tanaman memerlukan unsur hara, air, udara dan cahaya. Unsur hara
dan air diperlukan untuk bahan pembentuk tubuh tanaman, udara dalam hal ini CO2 dan
air dengan sumber cahaya menhghasilkan karbohidrat yang merupakan sumber energi
untuk pertumbuhan tanaman. Dalam hubungannya dengna kebutuhan hidup tanaman
tanah berfungsi sebagai:
1. tunjangan mekanis sebagai tempat tanamn tegak dan tumbuh
2. penyedia unsur hara dan air
3. lingkungan tempat akar atau batang dalam tanah melakukan aktivitas fisiologi.
2. Konsep Kesuburan dan Produktivitas Tanah
Tanaman dapat tumbuh serta mampu memberi hasil yang baik jika tumbuh pada tanah
yang cukup kuat menunjang tegaknya tanaman, tidak mempunyai lapisan penghambat
perkembangan akar, aerasi baik, kemasaman disekitar netral, tidak mempunyai
kelarutan garam yang tinggi, cukup tersedia unsur hara dan air dalam kondisi yang
seimbang. Kesuburan tanah dapat diberi batasan sebagai kualitas tanah dalam hal
kemampuannya unutuk menyediakan unsur hara yang cocok, dalam jumlah yang cukup
serta dalam keseimbangan yang tepat dan lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan
suatu spesies tanaman. Secara umum produktivitas tanah dapat diberi batasan sebagai
kemampuan tanah untuk memproduksi sesuatu spesies tanaman atau suatu sistem
pertanaman pada suatu sisitem pengolahan tertentu. Aspek yang dimaksud misalnya
pengaturan jarak tanaman, pemupukan, penhgairan, pemberantasan hama dan penyakit

dsb. Jadi untuk dpaat produktif tanah harus subur, tetapi sebaliknya tanah yang subur
belum tentu produktif.
Tanah sebagai penentu produksi memiliki 3 sifat yaitu diantaranya :
1. Sifat fisik
2. Sifat kimia
3. Sifat biologi

: warna, struktur, dan tekstur


: nutrisi, hara, dan pH
: mikroorganisme yg berhubungan dg profil tanah.

Tanah terdiri dari 3 fase atau dapat dikatakan sebagai tanah yang
berdimensi 3. Menurut Scoeder, 1972 bahwa tanah terdiri dari B),
air ,mineral, dan udara.
Dalam kaitannya dengan budidaya pertanian, tanah adalah tempat
atau media dimana akar tanaman tumbuh dan menyerap air juga
unsur hara. Tanah tersusun dari 4 komponen utama yang antara lain
bahan mineral, bahan organik, air, dan udara. Ke-empat bahan
tersebut bersatu untuk kemudian membentuk agregat tanah yang
merupakan bagian dari `struktur tanah. Struktur tanah tersebut
diantaranya adalah :
1.

Pengamatan dan bentuk susunan agregat tanah tipe struktur

( lempeng, tiang ,dll)


2. Besarnya agregat tanah ( sangat halus, halus, sedang, dan kasar)
3. Kuat lemahnya agregat derajat struktur ( lemah, sedang, kuat)
Agregat yang terbentuk didalamnya pastilah terdapat ruang pori yang
dapat ditempati oleh air dan udara. Ruang pori (porositas) merupakan
perbandingan udara dan air dalam tanah. Pori tanah yang berukuran
kecil disebut pori mikro, sedangkan yang berukuran besar disebut pori
makro. Porositas tanah dipengaruhi oleh bahan organik, struktur
tanah, dan tekstur tanah. Apabila porositas tanah tinggi makan tanah

tersebut mengandung bahan organik yang tinggi, kebalikannya,


apabila porositas rendah, berarti tanah tersebut mengandung bahan
organik yang juga rendah. Apabila bahan organik rendah, maka
hubungannya dengan tanah adalah tingkat kesuburan tanah tersebut
cenderung kurang subur. Biasanya tanah yang kurang subur berwarna
kelabu. Bahan organik juga berpengaruh terhadap warna tanah dan
kondisi drainase (kecepatan air) dan aerasi (respirasi tanah).`
Air

dan

tanaman,

udara

di

karena

dalam tanah sangat membantu


seperti

kita

ketahui

bahwa

pertumbuhan

tanaman

dalam

berfotosintesis memerlukan ke dua dzat tersebut. Dengan demikian,


keberadaan air dan udara didalam tanah saling bersifat komplemen
dan sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Tanah yang
mengandung banyak air memiliki kandungan udara yang sangat
sedikit karena hampir semua pori tanah diisi oleh air. Begitupun
sebaliknya, tanah yang mengandung banyak udara akan memiliki
kandungan air yang sedikit pula. Komposisi air dan udara dalam
menempati pori tanah haruslah berimbang sesuai dengan kebutuhan
jenis tanaman yang ditanam.