Anda di halaman 1dari 20

BAB III

OBYEK PENELITIAN
III.1 S ejarah Perusahaan
Perum Perhutani sebagai Badan Usaha M ilik Negara (BUM N) telah berdiri sejak
tahun 1972 berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 15 Tahun 1972 dan telah mengalami
beberapa kali perubahan dasar hukum. Di awal pendirian, wilayah kerja Perum
Perhutani meliputi Kawasan Hutan Negara Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pada
tahun 1978 wilayah kerjanya diperluas mencakup Kaasan Hutan Negara Provinsi Jawa
Barat dan Banten, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 2 Tahun 1978. Dasar
Pengelolaan hutan Jawa dan M adura oleh Perum Perhutani mengalami perubahan pada
tahun 1986 sebagaimana Peraturan Pemerintah No.36 Tahun 1986 tentang Perusahaan
Umum Kehutanan Negara (Perum Perhutani). Pada tahun 1998 disempurnakan kembali
melalui Peraturan Pemerintah No.53 Tahun 1999. Pada tahun 2001 Pemerintah
menetapkan Perhutani sebagai BUM N Perseroan Terbatas (PT) berdasarkan Peraturan
Pemerintah No.14 Tahun 2001. Namun berdasarkan desakan dari berbagai pihak atas
keberadaan Perhutani sebagai Perseroan, maka pemerintah mengembalikan bentuk
badan hukum Perum Perhutani menjadi Perum sebagaimana Peraturan Pemerintah
No.30 Tahun 2003 tentang Perusahaan Umum Kehutanan Negara (Perum Perhutani).
Terakhir berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 30 Tahun 2003 mengemban
tugas dan tanggung jawab dalam pengelolaan hutan di Pulau Jawa, dengan wilayah
hutan yang dikelola seluas 2,426 juta hektar, terdiri atas hutan produksi seluas 1,767 juta

37

hektar dan sisanya sebagai hutan lindung. Secara struktural Perum Perhutani di bawah
Kementrian BUM N dengan pembinaan teknis Departemen Keutanan.
III.2 Wilayah dan Unit Kerja Perum Perhutani
Wilayah kerja Perum Perhutani meliputi kawasan hutan negara yang terdapat di
wilayah Provinsi Jawa Tengah, Provinsi Jawa Timur dan Provinsi Jawa Barat dan
Banten, kecuali kawasan hutan konservasi seluas 2.426.206 hektar, terdiri dari hutan
produksi (HP) 1.767.304 hektar (73%) dan hutan lindung 658.902 hektar (27%).
Wilayah kerja Perum Perhutani dibagi dalam unit-unit yaitu :
1. Wilayah kerja kawasan hutan negara Propinsi Jawa Tengah yang disebut Unit I
Jawa Tengah
2. Wilayah kerja kawasan hutan negara Propinsi Jawa Timur yang disebut Unit II
Jawa Timur
3. Wilayah kerja kawasan hutan negara Propinsi Jawa Barat dan Banten yang
disebut Unit III Jawa Barat dan Banten

Tiap-tiap unit kerja memiliki luas Hutan Produksi (HP) dan Hutan Lindung (HL)
yang berbeda. Berikut ini merupakan tabel yang menunjukan luas HP dan HL di
masing-masing unit.
Tabel III.1 Luas Hutan Produksi dan Hutan Lindung di setiap Unit
Unit Kerja

Provinsi

Hutan
Produksi

Hutan
Lindung

(Ha)

(Ha)

Total Luas
(Ha)

Unit I

Jawa Tengah

546.290

84.430

630.720

38

Unit II

Jawa Timur

809.959

326.520

1.136.479

Unit III

Jawa Barat

349.649

230.708

580.357

Banten

61.406

17.244

78.650

Jumlah

1.767.304

658.902

2.426.206

III.3 Bidang Kegiatan Perusahaan


Perum Perhutani sebagai badan Usaha M ilik Negara (BUM N) menemban tugas
dan tanggung jawab dalam pengelolaan hutan di Pulau Jawa, mulai dari kegiatan
perencanaan hutan, reboisasi dan rehabilitasi hutan, pemeliharaan hutan, perlindungan
hutan, pemungutan hasil hutan, pemasaran hasil hutan, pemberdayaan masyarakat
melalui PHBM

(Pengelolaan

Hutan

Bersama

M asyarakat)

dan

perencanaan

pengembangan sumber daya manusia. Dalam mengemban tugas dan tanggung jawab
tersebut, Perum Perhutani berupaya menjaga keseimbangan fungsi sumber daya hutan
baik ekologis, sosial, dan ekonomi.

Visi Dari Perum Perhutani adalah M enjadi pengelola hutan lestari untuk sebesarbesarnya kemakmuran rakyat. Sedangkan misi dari Perum Perhutani adalah sebagai
berikut :

1. M engelola sumberdaya hutan dengan prinsip Pengelolaan Hutan Lestari


berdasarkan karakteristik wilayah dan Daya Dukung Daerah Aliran Sungai
(DAS) serta meningkatkan manfaat hasil hutan kayu dan bukan kayu, ekowisata,
jasa lingkungan, agroforestri serta potensi usaha berbasis kehutanan lainnya guna

39

menghasilkan keuntungan untuk menjamin pertumbuhan perusahaan secara


berkelanjutan.
2. M embangun dan mengembangkan perusahaan, organisasi serta sumberdaya
manusia perusahaan yang modern, profesional dan handal serta memberdayakan
masyarakat desa hutan melalui pengembangan lembaga perekonomian koperasi
masyarakat desa hutan atau koperasi petani hutan.
3. M endukung dan turut berperan serta dalam pembangunan wilayah secara
regional dan nasional, serta memberikan kontribusi secara aktif dalam
penyelesaian masalah lingkungan regional, nasional dan internasional.

III.3.1 Perencanaan Hutan


Pengelolaan hutan diawali dengan kegiatan perencanaan hutan, yang meliputi :

1. Rencana Umum Perusahaan (RUP) yang merupakan rencana jangka panjang


bersifat menyeluruh yang memuat kebijakan dan strategi optimalisasi sumber
daya guna mencapai tujuan perusahaan.
2. Rencana Pengaturan Kelestarian Hutan (RPKH) yang merupakan rencana untuk
mewujudkan pengelolaan hutan secara lestari untuk masing-masing kelas
perusahaan sebagai acuan penyusunan rencana guna terjaminnya kelestarian
hutan. Guna penyusunan RKPH perlu dilakukan penataan hutan, meliputi tata
batas, pembagian hutan, risalah (inventarisasi) hutan, pembuatan/perbaikan alur,
pengukuran dan perpetaan.

40

3. Rencana Lima Tahun Perusahaan (RLTP) adalah rencana yang memuat


kebijakan

operasional dan

pelaksanaan

upaya-upaya mencapai sasaran

perusahaan dalam 5 tahun.


4. Rencana Kerja Tahunan Perusahaan (RKTP) adalah rencana kegiatan secara rinci
dalam satu rtahun sebagai dasar penyusunan Rencana Anggaran Kerja
Perusahaan (RAKP).
5. Rencana Teknik Tahunan (RTT) adalah rencana tahunan yang disusun mengacu
pada RPKH.

III.3.2 Reboisasi dan Rehabilitasi Hutan


Reboisasi dan rehabilitasi hutan dilaksanakan di lokasi bekas tebangan maupun
kawasan tidak produktif. Pelaksanaan reboisasi melibatkan partisipasi aktif masyarakat
dengan Sistem Pengelolaan Hutan Bersama M asyarakat (PHBM ) baik dengan tanam
tumpangsari atau banjarharian, penetapan pola tanam, optimalisasi ruang, maupun
pengembangan usaha produktif lainnya.

III.3.3 Pemeliharaan Hutan


Pemeliharaan hutan bertujuan untuk mendapatkan tegakan yang berkualitas dan
bernilai ekonomi tinggi pada akhir daur. Kegiatan pemeliharaan hutan meliputi
penyiangan, wiwil/pembersihan tunas air, pruning/pemangkasan cabang, penjarangan,
pencegahan terhadap hama dan penyakit, pencegahan gangguan pengembalaan dan
perlindungan hutan lainnya.

41

III.3.4 Perlindungan Hutan


Perlindungan hutan merupakan upaya untuk mencegah kerusakan dari gangguan
keamanan hutan, kawasan hutan dan hasil hutan meliputi pencurian pohon, okupasi
lahan/bibrikan, penggembalaan liar, kebakaran hutan dan bencana alam.

III.3.5 Pemungutan Hasil Hutan


Pemungutan hasil hutan kayu meliputi kegiatan teresan, penebangan, pembagian
batang, pengangkutan dan penumpukan di TPK (Tempat Pengumpulan Kayu), meliputi
jenis kayu jati, pinus, mahoni, dammar, mangium, sengon dan rimba lainnya. Sedangkan
untuk pemungutan hasil hutan non kayu berupa getah pinus, getah damar, minyak kayu
putih, madu, seedlak dan murbei untuk pakan ulat sutera, kopi, minyak atsiri (ilanngilang, mimbo), penangkaran buaya, dan sebagainya.

III.3.6 Industri Hasil Hutan


Perum Perhutani memiliki Industri hasil hutan yakni Industri Pengolahan Kayu
di Cepu, Brumbung, Gresik, dan 12 Unit Penggergajian dengan produk antara lain
garden furniture, (GF), Housing Component, veener sayat, TOP, paket block, flooring.
Selain itu Perum Perhutani juga memiliki 8 pabrik pengolahan Gondorukem dan
Terpentin, 12 Pabrik M inyak Kayu Putih, Pabrik Seedlak, dan Pabrik Pemintalan
Benang Sutera.

III.3.7 Pemasaran Hasil Hutan


Sasaran pasar produk Perum Perhutani untuk pasar dalam negeri umumnya
berupa kayu bulat, untuk pasar luar negeri berupa kayu gergajian, produk jadi,

42

gondorukem dan terpantin. M ekanisme pemasaran berupa kontrak, penjualan langsung


dan lelang.

Perum Perhutani bekerja sama dengan World Wide Fund (WWF) dan Tropical
Forest Trust (TFT) untuk mendapatkan sertifikasi Sustainable Forest M anagement
(SFM ) dan Chain of Custody (CoC), yang merupakan standar pengelolaan hutan,
industry perkayuan dan perdagangan kayu yang disyaratkan para pembeli dari Eropa dan
Amerika.

III.4 S truktur Organisasi dan Uraian Tugas


Secara umum dapat dikatakan bahwa suatu perusahaan tidak dapat menjalankan
usahanya tanpa dibentuk struktur organisasi yang jelas. Setiap perusahaan mempunyai
struktur organisasinya sendiri, disesuaikan dengan kebutuhan yang ada dalam
perusahaan tersebut. Oleh karena itu penting bagi perusahaan untuk memiliki bagan
organisasi yang baik agar aktivitas dalam perusahaan dapat berjalan dengan lancar.
Hendaknya struktur organisasi bersifat fleksibel sehingga jika sewaktu-waktu terjadi
perubahan dapat diadakan penyesuaian tanpa mengalami perubahan secara total.

Organisasi merupakan bentuk persekutuan antar dua orang atau lebih yang
bekerja secara terkoordinir dan rasional dalam rangka mencapai tujuan yang telah
direncanakan sebelumnya, yang mana dalam persekutuan tersebut selalu terdapat
hubungan antara atasan dan bawahan. Organisasi yang baik harus terlihat adanya
pembagian tugas dan wewenang. Untuk itulah diperlukan suatu rancangan yang matang
sehingga akan memberikan suatu manfaat bagi perusahaan dalam menjalankan

43

kegiatannya. Hal ini sangat penting karena baik dan buruknya organisasi dalam suatu
perusahaan akan mempengaruhi kesuksesan dalam sebuah manajemen untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan.

Berdasarkan SK Direksi Nomor 554/Kpts/Dir/2005 yang telah disempurnakan


dengan SK Nomor 489/Kpts/Dir/2006 tentang Struktur Organisasi Perum Perhutani,
ditegaskan pemisahaan kelola Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) dan Kesatuan Bisnis
M andiri (KBM ). Wilayah kerja Perum Perhutanidibagi menjadi 3 unit dan masing-,asing
unit dipimpin oleh Kepala Unit dan di bantu oleh Wakil Kepala Unit dengan di bantu
Kepala Biro. M aing-masing unit membawahi beberapa Kesatuan Pemangkuan Hutan
(KPH) yang dipimpin oleh seorang Administrator dan Kesatuan Bisnis M andiri (KBM )
dipimpin oleh General M anager, dengan rincian sebagai berikut :

1. Unit I Jawa Tengah

: 20 KPH dan 6 KBM

2. Unit I Jawa Timur

: 24 KPH dan 6 KBM

3. Unit I Jawa Barat dan Banten

: 13 KPH dan 3 KBM

Struktur Organisasi Perum Perhutani yang terbaru diatur dalam Surat Keputusan
Direksi Perum Perhutani Nomor 019/Kpts/Dir/2009 yang mulai berlaku pada tanggal 19
Januari 2009. Struktur Organisasi Perum Perhutani dilampirkan dalam Lampiran 1.

Di dalam struktur organisasi Perum Perhutani, jabatan tertinggi dipegang oleh


bagian Direksi yang dipimpin oleh Direktur Utama. Selain itu di bagian Direksi terdapat
empat Direktur lainnya yang terdiri dari :

44

1. Direktur Industri dan Pemasaran


Direktur bagian ini memimpin dua bagian indusri dan pemasaran, yaitu :

a. Industri dan Pemasaran kayu, getah dan minyak


b. Industri dan Pemasaran A groforestry, ekowisata, dan jasa
lingkungan

2. Direktur Keuangan
Direktur keuangan mengepalai tiga bagian keuangan, yang terdiri dari :
a. Bagian Anggaran dan Akuntansi
b. Bagian Pembelanjaan dan Perpajakan
c. Bagian M anajemen Resiko dan Pembinaan Anak Perusahaan

3. Direktur Sumber Daya M anusia dan Umum


Direktur bagian ini mengepalai dua bagian, yaitu :
a. Bagian Sumber Daya M anusia
b. Bagian Umum

4. Direktur Perencanaan dan Pengelolaan Hutan


Direktur ini mengepalai dua bagian, yaitu :
a. Bagian Perencanaan Sumber Daya Hutan (SDH)
b. Bagian Pengelolaan dan Perlindungan Sumber Daya Hutan
Lindung (SDHL)

45

Penelitian ini dilakukan pada Bagian Keuangan yang terdiri dari tiga bagian,
yaitu bagian Anggaran dan Akuntansi, Bagian Pembelanjaan dan Perpajakan, Bagian
M anajemen Resiko dan Pembinaan Anak Perusahaan. Tiap-tiap bagian tersebut
memiliki tugas dan wewenang masing-masing sebagaimana telah ditetapkan dalam Surat
Keputusan Direksi Perum Perhutani Nomor 19/Kpts/Dir/2009. Adapun uraian tugas dari
masing-masing bagian adalah sebagai berikut :

1. Kepala Biro Akuntansi M anajemen dan Anggaran


(Karo Akuntansi M anajemen dan Anggaran)
a. Karo Akuntansi M anajemen dan Anggaran bertanggung jawab kepada
Asdir Keuangan.
b. Karo Akuntansi M anajemen dan Anggaran menerima laporan dari:

Kepala Seksi Akuntansi M anajemen.

Kepala Seksi Anggaran.

c. Karo Akuntansi M anajemen dan Anggaran bertanggung jawab atas:

Tersedianya bahan kajian

untuk menyusun, dan merumuskan

strategi dan kebijakan kegiatan akuntansi manajemen dan anggaran.

Terlaksananya proses akuntansi manajemen Perusahaan

Tersusunnya RKAP

Tersusunnya laporan kegiatan akuntansi manajemen dan anggaran

d. Karo Akuntansi M anajemen dan Anggaran mempunyai tugas:

46

M embantu menyiapkan, menyusun dan merumuskan strategi dan


kebijakan akuntansi manajemen Perusahaan dan anggaran.

M embantu tugas pengendalian pelaksanaan strategi dan kebijakan


akuntansi manajemen Perusahaan dan anggaran.

M embantu melakukan analisa biaya atas produk barang dan jasa


yang

dihasilkan

Perusahaan,

sebagai

bahan

pertimbangan

pengambilan keputusan oleh Direksi.

M embantu merumuskan sistem akuntansi manajemen atas produkproduk yang dihasilkan Perusahaan.

M embantu melaksanakan proses akuntansi atas seluruh biaya yang


dikeluarkan oleh Perusahaan.

M embantu menghimpun bahan, data dan informasi kebutuhan


anggaran perusa-haan dan investasi dari seluruh unit kerja terkait di
lingkungan Perusahaan.

M embantu penyusunan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja


(RAPB) Perusahaan.

M embantu penyusunan laporan kegiatan Asdir Keuangan.

M elaksanakan tugas-tugas lain yang relevan dari pimpinan.

2. Kepala Biro Pembelanjaan dan Perpajakan


(Karo Pembelanjaan dan Perpajakan)

47

a. Karo Pembelanjaan dan Perpajakan bertanggung jawab kepada Asdir


Keuangan.
b. Karo Pembelanjaan dan Perpajakan menerima laporan dari:

Kepala Seksi PKBL.

Kepala Seksi Pembelanjaan.

Kepala Seksi Perpajakan.

c. Karo Pembelanjaan dan Perpajakan bertanggung jawab atas:

Tersedianya bahan kajian

untuk menyusun, dan merumuskan

strategi dan kebijakan kegiatan pembelanjaan dan perpajakan.

Tersusunnya RKAP.

Tersusunnya laporan kegiatan pembelanjaan dan perpajakan.

d. Karo Pembelanjaan dan Perpajakan mempunyai tugas:

M embantu menyiapkan, menyusun dan merumuskan strategi dan


kebijakan pembelanjaan Perusahaan dan perpajakan.

M embantu tugas pengendalian pelaksanaan strategi dan kebijakan


pembelanjaan Perusahaan dan perpajakan.

M embantu penyusunan Rencana Anggaran Pendapatan dan


Belanja (RAPB) Perusahaan.

M embantu menyelenggarakan dan mengatur proses pembelanjaan


Perusahaan.

48

M embantu proses dan penyelesaian hal-hal yang berhubungan


dengan perpajakan.

M embantu penyusunan laporan kegiatan Asdir Keuangan.

M elaksanakan tugas-tugas lain yang relevan dari pimpinan.

3. Kepala Biro Akuntansi Keuangan, Verifikasi dan Investasi


(Karo Akuntansi Keuangan, Verifikasi dan Investasi)
1. Karo Akuntansi Keuangan, Verifikasi dan Investasi bertanggung jawab
kepada Asdir Keuangan.
2. Karo Akuntansi Keuangan, Verifikasi dan Investasi menerima laporan
dari:

Kepala Seksi Akuntansi Keuangan.

Kepala Seksi Verifikasi.

Kepala Seksi Investasi.

3. Karo Akuntansi Keuangan, Verifikasi dan Investasi bertanggung jawab


atas:

Tersedianya bahan kajian

untuk menyusun, dan merumuskan

strategi dan kebijakan kegiatan akuntansi keuangan, verifikasi dan


investasi.

Terlaksananya proses kegiatan verifikasi, kegiatan penerimaan dan


pengeluaran keuangan Perusahaan.

49

Tersusunnya perencanaan anggaran investasi.

Tersusunnya laporan kegiatan akuntansi keuangan, verifikasi dan


investasi.

4. Karo Akuntansi Keuangan, Verifikasi dan Investasi mempunyai tugas:

M embantu menyiapkan, menyusun dan merumuskan strategi dan


kebijakan akuntansi keuangan, verifikasi dan investasi.

M embantu tugas pengendalian pelaksanaan strategi dan kebijakan


akuntansi keuangan, verifikasi dan investasi.

M embantu

melaksanakan

verifikasi

atas

seluruh

kegiatan

penerimaan dan pengeluaran keuangan Perusahaan.

M embantu menyelenggarakan proses akuntansi atas seluruh


kegiatan penerimaan dan pengeluaran keuangan Perusahaan, baik
penerimaan pendapatan maupun pengeluaraan pembelanjaan serta
perpajakan Perusahaan.

M embantu penyusunan perencanaan anggaran investasi Perusahaan.

M embantu menyusun Laporan Keuangan Perusahaan.

M embantu penyusunan laporan kegiatan Asdir Keuangan.

M elaksanakan tugas-tugas lain yang relevan dari pimpinan.

50

III.5 Gambaran S istem yang Berjalan

III.5.1 Prosedur Perpajakan

Selama tahun 2006, 2007, dan 2008, kewajiban perpajakan yang dilakukan oleh
Perum Perhutani diantaranya :

1. Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21


Sesuai dengan Pasal 21 Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000 tentang
Pajak Penghasilan, diwajibkan untuk memotong Pajak Penghasilan atas gaji
yang dibayarkan perusahaan kepada karyawannya. Pajak Penghasilan Pasal
21 seluruhnya ditanggung oleh perusahaan.

2. Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25

Pembayaran PPh pasal 25 (angsuran pembayaran pajak yang dilakukan


setiap bulan oleh perusahaan berdasarkab ketentuan Pasal 25 Undangundang Nomor 17 Tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan) merupakan
pembayaran di muka terhadap Pajak Penghasilan yang akan dihitung sendiri
(self assessment) oleh perusahaan pada akhir tahun pajak.

3. Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Pajak Pertambahan Nilai diterapkan Perum Perhutani dalam hal penyerahan


atau perolehan Barang Kena Pajak dan pemanfaatan Jasa Kena Pajak dengan
cara mengalikan dasar pengenaan pajak dengan tarif. Faktur Pajak Standar

51

dibuat oleh Perum Perhutani sebagai bukti pungutan pajak dalam melakukan
penyerahan Barang Kena Pajak dan Jasa Kena Pajak. Pelaporan Pajak
Pertambahan Nilai dilakukan setiap masa pajak dengan menggunakan SPT
PPN.

Sistem perpajakan Perum Perhutani dilakukan dengan prosedur sebagai berikut :

1. M embuat SPT M asa atau Tahunan untuk setiap jenis pajak sesuai dengan
petunjuk pengisian SPT oleh Direktorat Jenderal Pajak berikut pengisian SSP.
2. M elaporkan penyetoran Pajak Terutang sesuai dengan SPT dan SSP dengan
mendatangi secara langsung Kantor Pelayanan Pajak (KPP) tempat Wajib
Pajak terdaftar dan atau Kantor Pos dan tempat lain yang telah ditunjuk oleh
Direktorat Jenderal Pajak.
3. M enyetorkan pajak terutangnya tepat waktu di Bank DKI dan atau Bank lain
yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pajak.
4. Setiap dokumen pajak yang ditebitkan perusahaan dan diterima oleh pihak
luar beserta SPT dan dokumen pendukungnya dikelompokkan per periode dan
dimasukan ke dalam arsip tetap tahunan.
5. M elakukan koreksi jika terjadi kekeliruan penyetoran pajak sesuai tata cara
perpajakan yang berlaku.

52

III.6 Mekanisme dan Prosedur Pajak Pertambahan Nilai Perum Perhutani


III.6.1 Mekanisme Pemungutan Pajak Pertambahan Nilai

M ekanisme Pemungutan Pajak Pertambahan Nilai tidak terlepas dari penerapan


Pajak Pertambahan Nilai, terutama penerapannya pada Perum Perhutani. Pengusaha
Kena Pajak dalam hal ini Perum Perhutani memperhatikan hal-hal penting yang terdapat
dalam penerapan Pajak Pertambahan Nilai, yaitu sebagai berikut :

1.

Pemungutan PPN sebesar 10% (sepuluh persen) atas penyerahan Barang


Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak.

2.

M embuat faktur pajak untuk setiap penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa
Kena Pajak.

3.

M enyampaikan laporan perhitungan pajak dengan Surat Pemberitahuat


(SPT) M asa Pertambahan Nilai selambat-lambatnya pada hari ke 20 (dua
puluh) setelah akhir M asa Pajak.

4.

M enyimpan Faktur Pajak dengan rapih dan tertib.

5.

M enyelenggarakan pencatatan dan pembukuan perusahaan mengenai


perolehan atau penyerahan Barang Kena Pajak dan Jasa Kena Pajak.

6.

M elampirkan daftar ringkasan penjualan dan pembelian pada SPT M asa


Pajak Pertambahan Nilai bila diminta.

III.6.2 Prosedur Pajak Pertambahan Nilai

Perum Perhutani dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) dengan


Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)

01.001.652.5.051.000 untuk pengusahaan hutan

53

tanaman. Dalam sistem perpajakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), informasi yang
diperlukan oleh manajemen perusahaan antara lain :

1. Nama, alamat, Nomor Pokok wajib Pajak (NPWP) pemasok dan pembeli.
2. Jumlah kuantitas dan nilai nominal penjualan menurut jenis produk dan atau
jasanya.
3. Jumlah kuantitas dan nilai nominal pembelian menurut jenis produk dan atau
jasanya.
4. Besarnya Pajak M asukan yang di pungut perusahaan dan Pajak Keluaran yang
dibayar perusahaan.
5. Otorisasi pejabat yang berwenang

Dokumen-dokumen yang digunakan perusahaan untuk mendukung system


perpajakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) antara lain :

1. SPT M asa Pajak Pertambahan Nilai (PPN)


SPT M asa PPN adalah dokumen yang digunakan oleh Perum
Perhutani sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan
pengkreditan Pajak M asukan terhadap Pajak Keluaran untuk suatu masa
pajak ke Kantor Pelayanan Pajak, yang disampaikan paling lambat tanggal 20
bulan berikutnya.

2. Faktur Pajak Standar


Faktur Pajak Standar ini merupakan bukti pungutan pajak untuk
mengetahui jumlah Pajak M asukan dan Pajak Keluaran, identitas penjual

54

atau pembeli, jenis BKP atau JKP yang dijual atau dibeli, selain itu dapat
digunakan juga sebagai sarana untuk mengkreditkan pajak masukan.

3. Faktur Pajak Sederhana


Faktur Pajak Sederhana adalah Faktur Pajak yang digunakan untuk
transaksi penjualan yang dilakukan kepada pihak yang bukan Pengusaha
Kena Pajak (PKP). Faktur Pajak Sederhana ini merupakan bukti pungutan
pajak untuk mengetahui jumlah Pajak Keluaran atas penyerahan Barang
Kena Pajak (BKP) atau Jasa Kena Pajak (JKP) dan jenis Barang Kena Pajak
(BKP) atau Jasa Kena Pajak (JKP) yang dijual.

4. Surat Setoran Pajak


M erupakan dokumen yang digunakan oleh Perum Perhutani untuk
melakukan pembayaran atau penyetoran Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
terutang ke Kas Negara melalui Bank DKI atau bank-bank lainnya yang telah
ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pajak atau melalui kantor pos.

5. Bukti Penerimaan Surat


M erupakan dokumen yang diterima dari Kantor Pelayanan Pajak
sebagai bukti bahwa Perum Perhutani telah menyampaikan SPT masa ke
kantor Pelayanan Pajak tempat WP terdaftar.

III.7 Proses Pengumpulan Data


Dalam proses pengumpulan data, penulis melakukan pengamatan dan wawancara
untuk membantu proses penelitian yang dilakukan. Pertanyaan yang diajukan penulis

55

adalah tentang aspek perpajakan dan penetapan Pajak Pertambahan Nilai yang dipakai
oleh

perusahaan.

Dalam

menganalisis

data-data yang dikumpulkan,

peneliti

menggunakan metode-metode sebagai berikut :

1. Observasi
Yaitu penulis memperoleh informasi melalui observasi. Penulis melakukan
pengamatan langsung ke kantor Perum Perhutani.
2. Wawancara
Yaitu penulis melakukan wawancara langsung kepada Kepala Biro Pembelanjaan
dan Perpajakan Perum Perhutani untuk mendapatkan informasi perpajakan
khususnya penerapan dan pelaporan Pajak Pertambahan Nilai.

56